Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 1

Kecelakaan

“Kau sangat cantik Eve. Aro pasti akan menyukai penampilanmu,” puji Stella, Ibunya yang memegang bahu putrinya, lalu mengelus rambut panjangnya yang bergelombang akibat dicurly.1

“Kau sudah menyiapkan hadiah untuk Aro?” tanya Raymond, ayahnya yang bersandar di sisi ambang pintu.

Evelyn Blossom. Gadis berusia 22 tahun itu tampak malu-malu dan enggan untuk menjawab pertanyaan sang Ayah.

Tapi detik berikutnya, ia berkata pelan, “Aku akan memberikannya jika aku sudah bertemu dengannya, Daddy.”

Rona tersipu di pipi Evelyn spontan membuat Stella tertawa. Ia lalu melirik suaminya di pintu yang memandang datar dan tampak tidak peduli, namun samar bisa Stella tangkap ujung bibir suaminya itu sedikit tertarik sebelum menghilang, meninggalkan mereka berdua setelah berkata,

“Ya sudah. Daddy tunggu di bawah. Kita akan berangkat sebentar lagi.”

“Biar Mommy tebak hadiah apa yang akan kau berikan untuk Aro.”

Stella memicingkan mata pada Evelyn membuat Evelyn mengigit bibir dengan kepala agak tertunduk, merona.

“Aku akan memberikannya sesuatu yang tidak akan pernah dilupakannya Mom.”

Evelyn kemudian menggandeng lengan Stella, berbisik pelan, “Dan Mom tidak perlu tahu.”

Stella tertawa. “Kau akan memberikanya sebuah ciuman panas?”

“Mom!” pukul Evelyn pada lengan sang Ibu. Merengut namun rona panas di wajah sudah menjelaskan demikian bahwa itulah hadiahnya.

“Jangan lupa, Mommy melihatmu sedang mempelajari sebuah cara berciuman lewat ponselmu,” usil Stella menggoda putrinya, membuat pipi Evelyn tambah memanas.

Ia menatap Stella,”M-mom memergokiku?”

Stella tertawa lagi. Ia merengkuh putrinya dari samping, membenamkan kepala putrinya itu di dadanya. “Tentu saja.”

Evelyn mendongak ketika jemari Ibunya mengelus pipinya. “Aro pasti akan menyukai hadiahmu sayang.”

Senyum lebar tersungging di bibir Evelyn.

“Ini adalah pertama kali aku melakukannya dengannya Mom.”

Lagi, Evelyn mendekap sang Ibu erat dan bibirnya masih memamerkan senyum,

“Aro berkali-kali hampir menciumku, tapi aku selalu menghindarinya karena aku ingin menyiapkan hadiah ini di hari ulang tahunnya yang ke 26 tahun.”

***

Raymond menyalakan mesin mobilnya. Stella duduk di sebelahnya dan Evelyn duduk di kursi belakang. Setelah itu mobil mulai berjalan. Tampak salju berjatuhan dan Evelyn mendongak menatap langit malam dari kaca mobil. Tidak ada benda-benda indah di atas sana.

Lalu tak berapa lama kemudian suara panik Stella terdengar, “Ada apa sayang?!”

“Remnya tidak berfungsi Stella!”

Pembicaraan itu dan laju mobil membuat Evelyn turut merasakan kepanikan. Ia maju ke depan dan bertanya cemas, “Mom, Dad, apa yang terjadi?!”

“Sial!” umpat Raymond di sela-sela kegusarannya.

Kakinya berkali-kali menekan rem tapi tidak juga berhasil. Terlebih bola matanya membesar kemudian ketika melihat sebuah mobil hitam hendak melintas ke arah mereka.

“Raymond awas!” teriak Stella heboh beradu rasa takut. Disusul jeritan Evelyn, “Daddy!”

Lalu semua terjadi begitu saja. Hanya seperskian detik suara benturan cukup keras terdengar. Mobil Raymond sudah terbalik. Kacanya pecah. Begitu pula dengan mobil hitam. Asap mengepul di sekitar.

Darah merembes dari kepala Raymond yang tidak lagi sadar. Sedangkan Stella matanya terbelalak. Kaca mengenai sebagian wajahnya. Evelyn yang terluka berusaha keluar.
Beruntung pintu itu masih berfungsi.

Ketika tiba di luar dengan merangkak sebisa mungkin, ia berseru sarat rintihan, “To-tolong!”

“Seseorang tolong kami!”

Ia kemudian menangis histeris di tengah jalanan sepi. Begitu ketakutan melihat segalanya. Terlebih kondisi kedua orangtuanya yang tampak parah. Sudah seperti mayat segar. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi.

***

“Hentikan mobilmu, darling,” ujar Clara pada lelaki gendut yang menjadi kliennya malam ini. Lantas lelaki mesum itu memberhentikan mobilnya.

Clara menyingkirkan tangan nakal lelaki itu dari pahanya dan keluar. Ia kemudian berseru, “Oh, ya Tuhan.”

Lelaki itu ikut keluar.

Mereka memandang kedua mobil yang terbalik. Satu berwarna hitam, tampak mengenaskan. Satu berwarna silver, jauh lebih mengenaskan. Kedua mobil itu mengepulkan asap. Namun yang mencuri perhatian Clara adalah seorang gadis, kira-kira seusia dengan Putrinya. Tampak terluka parah dengan darah di sekujur tubuh. Merintih juga menangis.

Dalam hitungan detik Clara telah sampai ke depan gadis itu. “Kita harus menyelamatkannya darling.”

Lelaki gendut itu tampak tidak peduli. Ia mendekat dan merengkuh pinggang Clara dari belakang. “Kau tahu ini bukan urusan kita Clara,” bisiknya serak.

Ditambah tangannya kembali menggerayangi paha Clara yang hanya menggenakan dress ketat di atas lutut. Sangat seksi, terbuka dengan warna menyala. Merah terang.

“Kita perlu kembali ke mobil dan segera ke hotel bitch.”

Clara tidak keberatan dengan panggilan itu. Ia sudah biasa sebab itu memang pekerjaan yang selama ini menghidupi dirinya.

“Ayolah, darling,” rayu Clara seksi, menepis tangan lelaki gendut itu. Ia berbalik. Mengalungkan kedua tangannya, lalu mengelus pipi lelaki gendut itu yang tampak menikmati, matanya terpejam.

“Kumohon. Bantulah aku.”

Clara kemudian mengecup bibir lelaki itu, bermaksud menggoda. “Setelahnya, kita bisa menghabiskan malam panjang ini bersama, darling.”

Lelaki gendut itu menggeram. Ia membuka matanya, tersadar dari jemari lentik Clara yang begitu memengaruhinya.

“Oh, baiklah.” Ia kemudian mendekati Evelyn. Setengah berjongkok dan mulai menyelipkan tangannya di paha dan satu tangannya di punggung, lalu mulai mengangkat tubuh Evelyn.

“Terimakasih darling.”

Lalu tepat ketika Clara dan lelaki gendut itu telah memasukkan Evelyn ke jok belakang, tiba-tiba mata Clara agak menyipit, menyadari sebuah benda yang tertempel di mobil silver itu.

Tidak lama kemudian ia mengabaikannya. Masuk ke dalam bersama lelaki gendut itu. Tepat ketika mobil mereka telah mundur sangat jauh, detik itu suara ledakan cukup dahsyat terdengar.

“Shit!” ucap lelaki gendut itu spontan, sementara Clara terkejut.

Mobil silver itu mendadak meledak, persis di depan mata mereka.

***

Suasana pesta malam itu begitu meriah. Banyak tamu-tamu dan kolega dengan pakaian elit menghadiri. Axton Bardrolf. Lelaki itu berulangkali melonggarkan dasinya disertai dengan pandangan yang mengedar ke sekitar. Sesekali ia juga menatap jam rolex di tangan kirinya.

“Aro…” panggil Wella, Ibunya menepuk punggung Axton.

Axton lantas memandang Ibunya. “Mom bisa kita menunda acara sedikit lagi?”

Ibunya menggeleng, menepuk pipi Axton pelan. “Kau menunggu Eve?”

Axton mengerang. Kemudian ia menutup wajah frustasi. “Aku harap ia tidak lupa tentang hari ini.”

Wella tertawa. “Ia tidak akan lupa Aro. Lagipula, kita juga sudah mengundang mereka. Ia mungkin hanya sedikit lama mempersiapkan penampilannya untukmu.”

Axton menurunkan tangannya. “Ya, aku hampir melupakan tentang hal itu.” Kemudian ia tersenyum miring pada Wella. “Eve tidak pernah merias wajahnya Mom.”

“Dan jika ia melakukannya, berarti ia tidak ingin kau kecewa.”

Axton termenung beberapa saat, sebelum ujung bibirnya tertarik ke atas. Apalagi mendengar kalimat Ibunya selanjutnya.

“Eve pasti ingin matamu hanya tertuju padanya. Ia ingin menjadi gadis tercantik malam ini spesial untukmu.”

Axton tertawa rendah. “Kuharap itu benar Mom. Karena aku tidak sabar ingin bertemu dengannya malam ini.”

Wella kemudian menepuk pundak Axton sebelum berlalu karena menerima sebuah panggilan. Dan dari jauh Axton mengamati ekspresi Ibunya itu. Tampak serius juga shock secara bersamaan.

Entah siapa yang menelpon, tapi itu sukses membuat Axton diliputi rasa penasaran. Hingga ia bertanya usai Wella menyudahi percakapan.

“Mom, ada apa?”

“Aro… Mommy tahu kau sangat menunggu Eve. Tapi sepertinya gadis itu tidak akan datang.”

“Apa maksudmu Mom?”

“Eve… ia dan keluarganya…”

***

bersambung…