Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 32

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat

Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 32 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 31

30 Hari Di Bali

Shanty-

Malu, itu yang gue rasain sekarang. Gue gak tau harus bicara apa lagi, karena gue masih belum percaya dia lakuin hal itu di hadapan mama papa, dan kedua orang tuanya juga.

Tangan gue masih gemetar kalau terus mikirin itu, gugup dan malu tepatnya yang gue rasain hari ini.

Di tambah max ajak rey mengingap disini, max bilang “kalau mau nikah kenapa gak tidur bersama satu kamar?”.

Terpaksa gue izinin rey tidur di kamar gue, rasanya gak keberatan untuk kali ini. Karena gue mulai percaya dengan perkataannya.

Rey temanin max sampai tertidur, dan gak lama dia keluar kamar. Mungkin dia mau pulang karena gak nyaman tidur disini.

Perlahan gue bangun, rey lagi berdiri dekat jendela. “Disini gak ada yang boleh rokok, ada anak kecil!” kata gue pelan langsung ambil satu batang rokok yang mau di sundut.

“sorry,” rey langsung masukin bungkusan rokoknya.

“Sejak kapan lo suka rokok?” pertanyaan yang keluar begitu aja dari bibir gue.

“sejak kehilangan kamu, cuman ini yang bisa temanin saat melewatin malam selama beberapa tahun” jawabnya senyum sambil nunduk.

Reflek gue langsung peluk erat pingangnnya sambil sandarin kepala di dadanya yang tak segemuk dulu, “Aku kangen!!!” itu kata yang paling susah gue ucapin setelah ketutup sama keegoisan gue selama bertemu dengannya.

“Aku juga,” dua kata yang gak tau gue harus berucap apa lagi,

“Kamu udah menjadi shanty yang aku kenal” bisikya tatap wajah gue, dan kembali ciuman hangat mendarat di bibir gue.

Ciuman hangat yang sama untuk pertama kalinya, rasanya hampir sama. Hangat dan nyaman, saling lumat melumat perlahan. Tangan rey langsung pegang pinggang gue dan satunya pegang pinggul.

“semakin kencang”bisiknya langsung pindahin ciumannya ke leher.

“ih, apa sih..” gumam gue. Rey cuman senyum pas gue ngomong gitu.

“Aku senang aja, “ jawabnya langsung lumat bibir gue lagi, bedanya dia angkat tubuh gue ke meja kecil dekat jendela, Gue nikmatin cumbuannya kali ini,

“Udah, max nanti cariin, “ kata gue pas tanganya pegang buah dada gue.

“Okeh, “ bisiknya sambil cium sekali lagi sebelum gue ke kamar lagi.

Berselang beberapa menit, rey masuk dan tiduran di samping gue, karena max paling suka tidur dekat tembok.

“Rasanya seperti ini, tidur bersama” ucapnya, gue pura-pura tidur dan posisi belakangi dia. Tanganya kembali peluk gue atau tepatnya dekap gue.

“Nanti udah nikah!” celetuk gue tepak tangannya yang mulai nakal menjamah buah dada gue. Itu berhasil rey cuman peluk gue dari belakang tanpa melakukan apa-apa.

***​

Hari ini gue bangun lebih siang dari biasanya, ini pertama kalinya gue tidur senyaman ini selama beberapa tahun ini.

Rey gak bilang ke gue dia pergi kemana, mama yang kasih tau dia ada urusan dan suruh tanya dia ke langsung.

Kalau ada nomornya gue mau tanya, tapi gue gak ada nomor teleponnya, gak yakin dia kesini hari ini apa ngak.

“Tante lagi gambar apa?”

“Buka lowongan kerja”

“buat apa?”

“Buat kerja disini dong, sesuai saran rey, tante buka lowongan kerja.”

“walau tante sama om, dan kamu masih sanggup, tapi kesehatan lebih penting sekarang” jelasnya singkat.

“Jadi antar makanan?”

“yups,”

“terus shanty ngapain?”

“focus urusin maxwell dan menjadi ibu rumah tangga” senyum tante, buat gue belum paham maksudnya. Setelah diam beberapa lama gue baru ttau maksudnya, Secara gak langsung gue gak akan tinggal disini lagi, rasanya sedih juga kalau gak tinggal disini.

Suara pintu kebuka, dari kejauahan rey masuk dengan pakaian yang rapih, walau lebih kurus tapi memakai pakaian itu masih elegant.

Gue terkejut ternyata rey datang gak sendiri kesini, melainkan bersama wanita yang menurut gue cantik banget, dan wajahnya gak asing.

Nafas gue terasa sesak, karena pernah lihat wanita itu, mirip wanita yang…” iah itu dia” gue lupa namanya.

“gak apa-apa kok” bisiknya, setelah mempersilahkan duduk di salah satu bangku.

“Ituu kan, kenapa kamu sama dia?” tanya gue bingung, apa rey bohong soal dia.

“Thalita datang kesini buat investasi di rumah makan om dan tante kamu, atau tepatnya rumah makan tante sama om kamu akan di jadiin franchise”.

Gue langsung tarik tangan rey ke lantai atas, gue minta penjelasnya secara detail, kenapa dia berhubungan lagi dengan thalita. Padahal dia bilang sudah gak ada hubungan apa-apa.

“Aku temuin thalita hari ini, dan hari ini juga aku pertama kalinya ketemu sama dia”, gue coba dengarin dengan kepala dingin.

Rey kasih tau soal saham perusahaan yang dia kasih sebagai hadiah perceraian, tapi perusahaan thalita yang lagi masalah, dan perusahaan rey yang membeli seluruh sahamnya.

Itu karena ia terlalu berfoya-foya dengan hasilnya, tanpa memperdulikan kualitas produknya. Dan dia mengakui semua kesalahannya di hadapannya,

“Tapi kok bisa dia jadi teman bisnis?”

“Aku hanya membeli lima puluh persen aja, dan sebagai gantinya dia bersedia membersarkan rumah makan om dan tante kamu” jelasnya.

“kenapa kamu lakuin itu?”

“aku lakuin untuk orang-orang hebat yang selalu ada di sisi kamu selama ini, termasuk om dan tante kamu”

“Uang bisa membeli segalanya, tapi gak bisa beli rasa cinta” ucapnya pegang kedua tangan gue agar gue percaya ucapannya, gue cuman senyum.

Gue keluar bawain minuman buat dia, om, tante dan rey, mereka sedang sibuk membahas sesuatu. “minumanya” kata gue.

“terima kasih” senyum thalita ke gue, dan langsung kembali ke bekalang karena gue gak mau dengar apa yang mereka omongin.

“Selamat buat pertunangan kalian” suara thalita buat gue langsung noleh ke arahnya.

“Gue minta maaf untuk semuanya yah, termasuk lima tahun lalu. Termasuk sengaja pisahin kalian berdua,” lanjutnya.

“Gue bukan thalita yang dulu kok, gue thalita yang baru karena sudah dapat pelajaran beberapa hari ini, sekali lagi gue minta maaf” lanjutnya peluk gue pelan.

Rasanya kayak ada petir di siang bolong, apa karena masalah yang rey cerita thalita berubah drastis, dan ucapannya tulus kegue. Karena gue percaya sama rey.

***​

Malam ini juga papa mama rey dan gue lagi berbincang di lantai dua, mereka diskusi soal pernikahan gue. “Gak usah di rayain gimana? Sanak saudara aja yang di undang?” tanya rey pas gue bingung mau bagaimana.

“ iah, aku ikut aja”

“Kalau papa sama mama nikah, aku bisa punya adik?” tanya max yang daritadi sibuk gambar.

“Pasti di buatin buat kamu max” ucap rey, buat papa sama mama ketawa pelan, termasuk papa dan mamanya sendiri.

“Asikk.. terus kapan buatnya?”

“secepatnya, kamu mau kapan?”

“Besok udah jadi, bisa?” tanya bikin gue mau ketawa, max kita bikin kue langsung jadi.

“Gak bisa, harus ada prosesnya dulu, paling lama Sembilan bulan”jelasnya,

“ouh lama yah, ya udah papa sama mama cepetan nikahnya biar bikin adik buat aku” lanjutnya duduk di pangkuan gue dan tunjukin hasil gambarnya.

Coretan khas anak kecil, “ini papa, ini aku, ini mama,” ucapnya tunjukin gambarnya,

“dan ini adik aku nanti” max gambar lagi di tengah-tengahnya, walau gak jelas tapi gue tau maksudnya.

Dan mala mini sepakat acara pernikahan gue hanya untuk saudara terdekat, atau tepatnya gak di rayain agar tak ada kabar burung yang tak enak. Di tambah acaranya minggu depan.

Awalnya gue kaget karena itu terlalu cepat untuk pernikahan, tapi gue tau kondisi gue berbeda karena gue udah ada anak,jadinya lebih cepat lebih bagus. Siap gak siap gue harus siap,

“Besok tresya udah siapin gaunnya, kamu pilih aja yah. “ ucap rey yang udah balik antar papa mamanya pulang ke hotel.

“Kamu gugup?” lanjutnya, gue geleng-geleng kepala.

“ya udah, tidur. Jangan sampai nanti aku tidurin” tawanya bue gue langsung cubit perutnya.

“Kalau udah resmi, baru boleh. “

“gak sabar buat bikin adiknya max,” gue cuman manyun aja, masih kebayangan aja hari Ha

“Acaranya mau dimana? Kamu udah tentuin?” gue sampai sekarang belum tau tempat acaranya.

“Bali, kita semua akan disana” jawabnya peluk gue dari belakang sambil cium kepala gue pelan, rasanya kayak anak kecil di cium seperti itu, tapi gue suka.

“Kenapa bali?”

“Nanti aku kasih taunya kenapa, yang jelas tempat favorit aku disana, di tempat pernikahannya ada pantai, aku suka itu. Memang kamu maunya dimana?”

“aku ikut ajah, hehehe” memang benar gue ikut aja acara dimana aja, mau acara cuman pakai tenda juga gak masalah.

Rey langsung ajak tidur lagi, tapi kali ini max di tengah-tengah. Gak bisanya dia mau di rangkul sama rey saat tidur, sama gue gak pernah di rangkul kayak gitu.

Satu hal max benar-benar mirip dengan rey, sepertinya dari ciri-ciri gue cuman di mata sama bibir aja, sisanya si rey.

Satu hal yang bisa tidur, pikiran yang melayang jauh untuk acara nanti. Gue memang kepikiran apa yang akan di bilang tentang gue saat hari H.

Tiba-tiba tangan rey elus kepala pelan, elusanya dari kepala atas sampe bawah. Matanya terpejam, gak mungkin di lakuin tanpa sadar.

Hasilnya gue mulai gak sadarkan diri alias ketiduran dengan perlakuan rey ke kepala gue, rasanya jadi ngantuk berat.

***​

Satu minggu sangat sebentar terasa, seperti baru kemarin. Pikiran negative tentang saudara-saudara rey tentang gue tak terbukti.

Mereka membantu acara satu sama lain, tak memperdulikan siapa gue dan darimana. Atau mungkin mereka sudah tau semuanya,

“ini shan” ucap tresya,”

“Iah makasih kak” kata gue, tresya lebih tua empat tahun dari gue. Makanya gue panggil kakak. Dan gue baru tau dia undurin satu minggu pernikahannya demi acara ini berlansung,

“Akhirnya kak rey menikah juga, “ gumamnya kasih gaun pengantin yang udah gue pilih, gue pilih gaun pengantin pendek, tak selebar pengantin biasanya. Karena lebih simple.

“Penantiannya tak sia-sia” lanjutnya

“satu hal lagi, jangan panggil aku kakak yah, panggil nama aja, lebih bersahabat” senyumnya, di bandingin kulit gue sama kulit dia, lebih mulut kulitnya, nyamuk mungkin aja gak bisa mendarat di kulitnya.

Terasa sesak pas gaun pengantin udah gue pakai, wajar sih namanya juga pinjam. “ kamu mau tau gak?” ucap tresya.

“Apa?”

“Empat gaun pengantin yang aku pilih buat kamu itu, kak rey yang beliin empat tahun silam.”

“maksudnya?”

“Iah, kak rey yakin setelah menyelesaikan masalah dengan thalita, dia akan segera ketemu kamu, habis itu dia langsung beli empat gaun pengantin ini, “

“Tapi sayang, dia kehilangan kontak dengan kamu” tresya mengigit bibirnya sendiri.

“Awalnya yang penuh semangat, menjadi bukan dirinya, dirinya yang menjadi pesimis”

“Rey udah cerita ke aku, kok. Dia sampai kurus karena itu juga,” kata gue potong pembicaraannya, karena gue mau terlalu dalam mengingat masa lalu lagi.

“Aku sebagai adiknya, cuman bisa bilang. Terima kasih mau kembali ke kak rey dan menjadi belahan hidupnya” pelukan hangat dan erat,

Tresya langsung make up gue hari ini..

Hasilnya buat gue tekesima sendiri, wajah gue lebih tirus dari biasanya. Walaupun make up gak berlebihan. “Kak rey benar” ucapnya lagi.

“Kamu kelihat natural kalau make up seperti ini,” senyumnya, gue cuman senyum aja sambil lirik jam dinding yang udah mau jam dua belas siang, karena acara di mulai jam segitu.

Papa. Mama, om dan tante, itu keluarga gue yang hadir disini, karena merekalah yang tak menganggap gue aib yang memalukan. Maka dari itu mereka aja yang hadir.

“Maxwell” gumam gue pas dia pakai pakian jenis tuxedo dengan dasi kupu-kupu. Dan gak lama dia stella keluar sama gaun pengantin kecil. Mereka berdua akan jadi pengapit gue saat masuk keruangan.

“Masih cantik natural seperti lima tahun lalu” suara lelaki di belakang stella, pria gemuk nan gendut.

“Apa kabar?” lanjutnya.

“Haaa,, gak kenalin gue yah? Besok kurusin biar kenal,” lanjutnya lagi, gue masih tatap wajahnya bingung. Yang jelas dia suaminya Amanda.

“Pa udah mulai” kata stella yang jalan terlebih dahulu,

“Gak usah di ingat, ingat aja yang pernah main bertiga sama rey” bisiknya jalan ke dalam ruangan, dan baru sadar dia adalah donny,

Papa sama mama tepuk pundak gue supaya bersiap-siap masuk ke dalam bersama, pengantin pria, dan berpapasan dengan rey yang sudah siap. Karena susunan acaranya gue sama rey keluar paling belakang.

“Papa mama, ayo udah di panggil” kata max pegang tangan gue, karena gue gugup, tarikan nafas dalam-dalam. Dan bersamaan tangan rey rangkul tangan kiri gue sambil jalan perlahan.

Gue jalan perlahan di iringi lagu “beautiful in white” membuat darah gue berdesir, sekaligus terhari. Hal itu buat langsung tegang karena yang hadir lumayan banyak. Lebih banyak yang di bilang rey sekitar 20 orang termasuk papa mama dan om tante.

Mereka semua berdiri saat gue berjalan ke arah pelaminan, menyambut hangat kehadiran gue sama rey. Itu yang gue rasain, sesekali wajah mereka yang ikut bergembira.

Gue salah, gue selalu berpikir negative soal ini. Ini karena ketakutan gue saat itu, tepuk tangan memeriahkan ruangan,

“Ananda Rey, hari ini di depanmu ada seseorang yang wanita yang akan menjadi teman hidupmu selamanya, apa kamu bersedia menerima shanty sebagai istri sah mu?,

“Bersedia”

“Mengasihi, mencintainyya dalam suka dan duka?”

“Bersedia,”

“Dan adinda shanty, di depanmu sudah ada pria yang siap menjadi teman hidupmu selamanya, apa kamu bersedia menjadi suami sah mu?”

“Bersedia” jawab gue tatap wajahnya dengan keyakinan.

“Mengasihi, mencintainya dalam suka maupun duka?”

“bersedia” dalam hitungan detik gue sama rey sudah di anggap sah menjadi suami istri. Kali ini gue sama rey saling pasang cincin di jari manis satu sama lain. Dan tatap gue tanpa berkedip.

“CIum cium cium cium” teriakan bergemuruh dari semua orang yang menyaksikannya, rey tak melakukannya, tapi dia mengambil mic.

“test”

“Sebelum itu, ada satu yang harus aku bilang ke kamu, alasan kenapa aku memilih Bali sebagai lokasi pernikahan terpenting hari ini” ucapnya pegang tagan gue erat.

“Karena” ucapnya tertahan tanpa menoleh sedikit pun,

“Hari pertama aku bertemu denganmu, terasa biasa saja,”

“Hari kedua melihatmu lagi membuatku tertarik,

“Hari ketiga, dimana aku semakin tertarik dengan kepribadianmu,

“Hari ke empat, sampai ke lima, Kamu wanita yang berbeda dari wanita lainnya, “

“Hari Ke enam, sampai hari sepuluh, aku salah menilaimu, kamu orang yang gak aku duga sebelumnya,”

“Hari ke sebelas, sampai hari Duapuluh, Aku mulai menyukaimu, sampai kejadian yang tak sengaja”

“Hari ke Duapuluh satu, sampai hari duapuluh delapan, aku semakin yakin kamu orang yang tepat”

“Hari ke tiga puluh, saat aku harus meninggalkanmu. Aku semakin yakin..” ucapnya tertahan.

“Selama 30 Days Fall in love in Bali, dengan seorang bernama Shanty”

“Itulah kenapa alasan aku memilih bali,” ciuman langsung mendarat di bibir gue, gue gak bisa berkata apa-apa karena rey benar-benar tulus mencintai gue, Ciuman yang cukup lama di iringi tepuk tangan meriah.

Mungkin gue juga merasakan hal yang sama dengan rey, 30 Days fall in love in Bali.

The End

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat