Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 31

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat

Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 31 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 30

You Marry Me?​

Rey-

Senang bercampur bahagia, itu yang gue rasain sekarang. Keras kepalanya sudah melunak, gue yakin ini masih berlanjut sampai ketemu orang tua gue.

Gak sabar untuk besok, tempat yang udah di siapin donny yaitu rumah makan selera segar. Udah di booking sampai acara selesai.

Shanty, om, tante, mama , dan papanya gak tahu kalau mereka akan bertemu di tempat ini, sengajaa gue pilih tempat ini.

Karena semua adalah orang yang terpenting dalam shanty, dan karena mereka juga jaga shanty baik-baik saja sampai sekarang.

“reyy, di tungguin sama bokap” kata donny, pas gue baru sampai di hotel.

“Ia tau”

“okeh, semakin dekat rey, lo pasti bisa, “ ucap donny, rasanya pernah seperti ini, bedanya sekarang gak ada penganggu bernama thalita. Tarikan nafas panjang sebelum masuk.

“Malam pa ma” kata gue buka pintu,

“Kak rey!” tunjuk tresya yang ternyata ikut kesini,

“Bukannya sibuk di kantor?” kalau jadwal yang udah buat, masih satu minggu lagi gue libur.

“Ada kabar besar!!” ucap tresya semangat, gue cuman senyum. Paling dia udah tau gue udah ketemu dengan shanty.

“tres… nanti aja, bahasnya. Papa dulu yang mau bicara” ucap mama pelan, tresya lagi manyun dan kembali duduk. Gue rasa mau kasih tau soal persiapan pernikahannya beberapa minggu lagi.

“Rey ucapin terima kasih kalian mau datang”

“ini foto kakek kamu, ada apa kamu suruh treysa minta foto itu?” papa kasih langsung kasih foto vintage, warnanya gak sebagus sekarang. Foto itu kakek bersama nenek lagi gendong papa kecil.

“Karena dengan ini rey yakin, anak shanty itu anak rey. Dan mata biru itu keturunan dari kakek,” ucap gue yakin karena kakek aja yang punya mata biru, dan keturuan termasuk papa gak punya mata biru.

“Blue eyes?” tanya tresya terkejut,

“besok papa mama, termasuk kamu bisa lihat langsung, cucu pertama kalian selama lima tahun sudah terbuat” kata gue ketawa pelan.

“Kamu serius?”

“iah, selama ini rey sudah punya anak, bukan dari thalita.” Mereka saling tatap, dan gak lama senyum mereka merakah pelan.

“rey simpan foto ini yah”

“aku yang kasih tau yah pa” sambung tresya pas suasana hening.

“Ada apa?”

“Kabar baik apa buruk?”

“Buruk dulu aja..”

“okeh, buruknya, saham yang kakak kasih di thalita sepenuhnya sudah di tangan thalita.”

“itu udah lama kan? Anggap aja hadiah perpisahan dari dia” potong gue.

“kalau gitu ke kabar baik”

“Thalita lepas sahamnya ke pasar bebas, dan aku sebagai pemilik sementara membeli semua sahamnya” senyumnya.

“Apa yang terjadi, ?”

“semua kosmetiknya mengandung mercury, padahal di keterangannya tidak megandung apapun dan ini kasusnya” tresya langsung selembar kertas yang berisi surat gugatan.

Isinya kostumer menuntut balik, karena yang melapor adalah istir anggota DPR, kulit wajahnya memerah bitnik-bintik setelah memakai produknya selama tiga bulan terakhir. Hasilnya thalita terpakasa melepas sahamnya ke pasar bebas buat membayar tuntutannya.

“Gimana kak, emang itu yang harus di terima sebagai pembohong kan?”

“Dan satu lagi, besok habis pertemuan keluarga kak rey ketemu thalita buat tanda tangan.”

“Di kantornya?”

“iah, di Jakarta kok, aku gak sabar lihat wajahnya seperti apa, “

“Satu lagi”

“Udah empat kali tersya, bukan satu kali lagi” potong gue.

“Iah, ke empat sekarang, aku gak sabar lihat wajah anak kakak hahaa, ya kan pa ma?” papa sama mama cumans senyum aja,

“Yang jelas gantengnya kayak papanya,” semoga shanty juga senang ketemu papa mama, gak ada status social saat pertemuan nanti. Semua sama.

***​

Mama, papa, gue dan termasuk tresya berangkat ke rumah makan, gue datang agak telat dari jadwal janjian.

“aku kira kita ketemu di restoran” gumam tresya.

“Rasanya kayak restoran kok, pasti suka” kata gue langsung parkir. Dari luar pintu tulisan closed, tapi pintunya gak di kunci.

“Hari ini kita tutup dulu, sore buka lagi” kata omnya yang pas lagi selesai rapihin meja,

“apa mau ketemu shanty?” lanjutnya.

“Ngak kok, saya kesini mau ketemua kalian semua, dan makan bersama hari ini” lanjut gue.

“Apa kamu yang booking?”

“iah”

“kenapa gak langsung hubungin kamu?, takut kami gak kasih?”

“bukan, karena ini kejutan”

“kejutan untuk kalian, termasuk papa mama shanty juga” lanjut gue.

“Untuk apa?”

“Ini, pa ma, mereka om dan tantenya shanty,” kata gue perkenalkan mama papa, om dan tantenya langsung terkejut.

“Dan ini, adik saya, tresya” senyum hangat menyambut kehadiran keluarga gue.

“Silahkan duduk, saya panggil shanty dan mama papanya” lanjut omnya seolah tau apa yang gue pikirin, gue mau bilang ke dia kalau jangan kasih tau kalau gue datang.

Tantenya shanty langsung menata piring, garpu sendok, seolah mirip dengan restoran berkelas lainnya. Termasuk selembar kain yang biasa di pakai saat makan.

Gak lama, muncul papa mamanya, menatap bingung ke arah gue. Dan langsung ikut duduk, “ma pa ada paan sih suruh ke bawah?”

“Bukannya ada per… temuaann~” ucap shanty dari nada tinggi sampai rendah pas lihat gue ada di meja ini. Dan jalan mundur perlahan.

Pakian yang shanty dan keluarganya pakai masih terlihat sopan, atau tepatnya pakaian santai. Mama, papa dan tersya juga sengaja gue suruh pakai pakaian santai, karena hari ini tak ada status social.

“Aku sengaja, memang ajak makan bersama keluarga kamu, dan perkenalkan. Ini mama, papa dan adik aku” papa, mama, dan tresya langsung berdiri untuk berjabat tangan, dan sambutan hangat kembali datang, mereka bersalaman.

Tapi tidak untuk shanty, tangan bergetar hebat dan tak berani menatap kea rah papa mama, tangannya benar-benar bergetar.

“Tidak apa-apa kok, gak usah gemetar” ucap mama pegang tanganya sambil menepuk pundak shanty beberapa kali, hal itu berhasil. Shanty hanya tersenyum dan langsung duduk.

“Max kemana?”

“Lagi mandi, sebentar” kata shanty bangun dari tempat duduk dan berjalan ke bekalanga, gue langsung ikutin. Dan terlihat kembali tangannya bergetar lagi.

“Kenapa?” tanya gue pegang tagannya. Shanty cuman tundukin kepala.

“Gak usah kwahtir yah, gak ada yang perlu di takutin. Aku udah di sisi kamu sekarang” bisik gue pegang kedua tangannya.

“Gue belum siap aja, itu aja. Belum pantas rasanya”

“semua akan baik-baik aja ok, “ gue cium tangannya sambil elus kepalanya. Shanty langsung ambil alih saat tantenya yang pakai bajunya.

Sudah rapih, gue gendong max dan shanty di samping gue. Max pun terlihat bingung, shanty juga cuman peganging tangannya.

“Itu opa oma max juga” tunjuk gue ke arah papa mama

“Aku punya dua opa sama oma?, eh tiga deh” lanjutnya, gue lupa tante dan om nya juga di panggil opa sama oma juga.

“Kenalin ini Maxwell, opa oma” kata gue deketin ke mereka, Max cuman terdiam karena masih terasa asing.

“Ini foto kakek aku,” kata gue tunjukin ke shanty, karena kebetulan gue duduk di sampingnya.

“Max mewarisi mata biru dari kakek aku. Itu sangat langka. Dan sebuah anugrah yang terindah, jadi gak usah kwahtir max berbeda sama anak lainnya.” Kata gue.

Yang paling kagum kali ini tresya, masih gak percaya kalau max mewarisi mata biru kakeknya. Dan max sepertinya mulai terbiasa,

Makan bersama pun berlangsung, walau terlihat biasanya, bagi gue ini sebuah hari yang luar biasa. Mempertemukan dua keluarga yang tak pernah bertemu.

Terasa hangat, karena kedua orang tua gue saling bicara satu sama lain saat makan, walau biasanya papa yang protes saat makan tidak boleh berbicara, atau papa sengaja melakukan ini untuk bantui gue mencairkan suasana,

Di tambah max betah duduk di samping tresya yang, terus di ajak foto bersama.

***​

Selesai makan, shant pamit ke belakang. Karena dari tadi dia cuman terdiam, gue tau dia masih kurang nyaman untuk ini.

Gue ikutin lagi, tak ada di belakang, maupun di dapur. Pintu sampingnya terbuka, dan shanty duduk sambil memeluk kakinya.

Pelukan pelan membuat shanty terkejut dan noleh kea rah gue, dan langsung ciuman di bibirnya pelan. “Mau kamu menikah denganku?” bisik gue tatap wajahnya, shanty juga gak berkedip kali ini, tatapannya masih kosong.

“Kamu belum bisa menjawabnya, tapi akan serius menikah denganmu, “

“Dan sekarang, kita ke dalam lagi yah, max past icariin kamu” ajak gue, shanty turutin berjalan ke meja makan lagi,

Suara ketawa beberapa kali membuat gue penasaran, dan ternyata mereka sedang bercerita kejelekan akanya masing-masing ke max secara bergantian.

Dan langsung terdiam saaat gue sama shanty kembali ke meja,

“eheemm” dehem gue membuat melihat kea rah gue dan shanty, termasuk max.

“papa kenapa?” tanyanya.

“Papa mau nikahin mama kamu, boleh?” tanya gue ke max.

“Iah, boleh, nanti aku punya opa oma baru, jadinya gak sepi deh” jawaban yang sangat polos membuat gue tersenyum, bukan gue tapi shanty juga.

“Dan shanty, you marry me?”

“haaa?” ucapnya terkejut.

“Kamu mau nikah sama aku?” lanjut gue setengah berbisik, shanty langsung noleh kea rah papa mamanya, dan mereka memberi kode hanya senyuman.

“Kalau kamu tidak menolak ciuman di bibir kamu, bearti jawaban kamu ia, begitu juga sebaliknya” rasanya pernah gue ucapin perkataan itu saat mau perawanin shanty, atau tepatnya menembak shanty. Tapi ini untuk lebih serius.

Shanty tak bergerak saat bibir gue mendekat, tubuhnya sedikit menggeser dan menahan bibir gue dengan satu jari. Lenguhan nafas gue, sedikit kecewa,

“gak usah seperti itu, gue malu di lihatin seperti itu!” ucapnya membuat gue terkejut.

“gue mau jawab aja, gue mau” lanjutnya senyum, reflek gue langsung peluk dan berusaha cium lagi bibirnya, tapi gue lupa shanty malu di lihat seperti itu. Gue cuman senyumin dia,

“terima kasih, beri kesempatan. Aku gak akan sia-siain untuk itu” pelukan erat ke tubuhnya, dan terasa celana gue di tarik-tarik.

Ternyata Max yang mau ikutan di peluk, dan ini pertama kalinya kita berpelukan bertiga. Ini hari paling terindah.

Dimana dua hati yang retak, mencoba kembali melebur menjadi satu hati. Untuk kita mulai dari awal, kita bertiga, gue, shanty dan Maxwell.

Bersambung

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat