Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 30

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat

Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 30 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 29

Benci Dan Cinta​

Shanty-

Kenapa mulut gue gak bisa berkata-kata setelah kejadian dia cium gue, rasanya seperti kemarin saat itu. Hangat dan begitu nyaman.

Mungkin ucapan rey benar, percuman kalau max udah tau dia adalah papanya, tapi gue sama dia gak bersatu. Penjelasan semakin ribat di usia Maxwell yang masih belia.

Dan gue gak sengaja mendengar ucapan papa, seperti biasa papa gak bisa marah besar. Karena gak ada gunanya. Semua sudah terlambat.

“Ma, “ kata gue pelan pas selesai buatin makan siang, atau tepatnya makan sore, karena udah jam tiga sore sekarang.

“Kenapa?”

“Kalau mama jadi shanty, apa harus shanty kasih tau rey, perasaan shanty sebenarnya?” kata gue ragu,karena hal it uterus mengganjal di hati gue setelah kejadian di kamar.

“Mungkin, “

“Kamu sendiri gimana? Masih cinta sama rey?” pertanyaan buat gue terdiam. Gue ragu buat jawabnya, mungkin sekarang namanya cinta dan benci,

“mama sama papa gak marah ke dia?” mama cuman gelengin kepala.

“Kenapa?”

“Karena lihat kamu dan Maxwell” jawabnya pelan, gue gak paham maksudnya mama

“Kenapa gitu?”

“Kamu udah ambil keputusan tepat, karena Maxwell tak harus kwahtir dia tak punya papa, dan yaki mempunyai keluarga kecil yang bahagia nantinya” senyum mama buatin the hangat karena lihat rey sama papa ada di ruang tamu,

“Pertama kali mama lihaht dia, ternyata kurus yah” lanjutnya

“Dia gak sekurus itu kok, dua kali lebih dari ini” jawab gue spontan. Mama cuman ketawa berjalan keluar membawa minuman, gue pilih mandiin Maxwell. Karena rasanya belum begitu terbiasa.

Selesai mandiin Maxwell, gue lihat di meja makan udah banyakn makanan, termasuk ikan pesmol. Perasaan tadi gak sebanyak ini.

“Makan shanty, tunggu mereka dari belakang rumah yah” kata mama, gue tau maksudnya mereka adalah papa sama rey.

“Lagi bakar ikan dari kolam”

“Jangan-jangan ikannya hasil dari sana?” angguk pelan mama, gak lama rey masuk dengan panggangan di tangannya.

“hee” pekik gue tertahan karena wajahnya hitam terkena arang,

“Sudah matang” katanya langsung angkat dari panggangan ke piring yang mama siapin. Dan tangannya mengelap wajahnya sampai wajahnya kembali hitam. Gue terus tahan ketawa, hampir berhasil sampai gue akhirnya senyum-senyum.

“Makan bersama sini” ajak mama,

“Sebentar cuci tangan dulu” jawabnya langsung ke bekalang rumah, karena tempat cuci piring, sama kamar mandi ada di belakang semua, berbeda dengan kebanyakan rumah yang ada sekarang.

Gak lama rey langsung ke arah gue dan langsung duduk di samping max, entah kenapa papa senyum pelan melihat ke arah gue, termasuk mama juga.

Rasanya aneh seperti ini, makan bersama dengan orang yang gue benci tapi cinta. Tapi berbeda dengan max yang makannya lahap.

“Awas banyak tulangnya” kata gue pelan pas rey mau suapin ikan ke mulutnya.

“Udah kok, “ jawabnya.

Kali ini max gak mau gue suapin, maunya sama rey. Sampai ikannya bersih, hanya tulang yang tersisa kalau boleh jujur gaya makannya sama. Hal itu buat gue tersenyum sampai gak sadar rey liatin gue beberapa saat.

***​

Sekarang gue tidur sendiri, papa mama sama max ada di kabar sebelah. Dia gak mau tidur sama gue, maunya sama mama papa.

Sedikit penasaran rey tidur dimana, karena rumah gue sebagus om dan tante. Karena papa mama pindah dari rumah sebelumnya, buat lindungin gue dari omongan tetangga.

Pengorbanan mereka berhasil melindungi gue, sampai mereka rela tak punya tetangga untuk saling tegur seperti itu dulu.

Denyit ranjang yang terbuat dari bamboo dan kasur busa udah cukup, gue gak mau protes karena lebih keras dari sebelumnya.

Gue gak bisa tidur bukan karena kasurnya, tapi nyamuk. Mau gak mau cari obat nyamuk gosok yang biasa Maxwell pakai.

Ruang depan begitu sepi, gak ada rey yang katanya tidur di bangku. Tapi pintu depan kebuka, rasa penasaran buat gue keluar sebentar.

Dan rey sedang duduk di bangku kayu panjang sambil garuk-garuk kakinya,

“Belum tidur?” tanyanya pas gue focus lihatin pakaian ia pakai,

“Lo sendiri?” gue jawab dengan pertanyaan.

“Nyamuk, hehe,” reflek gue kasih obat nyamuk gosok yang gue ambil tadi,

“Makasih,” gue agak jauh darinya, entah kenapa rasanya mau berbicara sebentar, seperti harus gue kasih tau apa yang gue rasain sekarang.

“lihat kamu seperti ini aku senang kok, tak sekaku kemarin. Tapi aku serius sama kamu, habis dari sini akum au ajak max sama kamu ke papa mama aku” ucapnya pelan tanpa noleh ke gue. Sedikit lenguhan nafas panjanga.

“Gue gak mau jadi aib keluarga lo, kalau mau tau gue senang, bukan karena gue senang sama lo, tapi senang max bisa percaya diri karena lo”

“siapa bilang aib?, kamu mutiara yang hilang”

“aku masih sayang sama kamu shan, itu yang aku rasain, dan aku gak merasa salah orang, aku hanya salah ambil keputusan” ucapnya pelan pegang tangan kiri, dan lagi gue gak nolak tangannya bersentuhan dengan tangan gue.

“Aku harus tau apa yang kamu rasain sekarang, “ lanjutnya.

“benci dan cinta” jawab gue pelan dan tanpa noleh lagi.

“Itu udah cukup, aku akan terus di samping kamu sekarang, “ rey langsung peluk erat, tangan gue puna pegang pinggangnya. Gak bohong gue nyaman dengan pelukannya, lebih nyaman dari sebelumnya. seolah pelukannya mengatakan, semua akan baik-baik saja.

“Gue ke kamar, lo tidur kamar aja, kasurnya muat kok, max tidur sama opa omanya” kata gue langsung ke kamar,

Sama seperti dulu, tempat tidur di batasi dengan bantal guling, bedanya suasananya aja. Rey langsung berbaring membelakangi gue,

Dan mencoba terlelap, hal itu berhasil, karena kalau udah ngantuk tempat seperti apapun nyaman, tapi terasa ada yang kembali peluk gue pelan,

Mau buka mata tapi sudah berat, yang ada semakin gue terlelap.

***​

Waktu seperti terulang lima tahun lalu, bangun tidur rey udah gak ada di samping. Perlahan gue keluar kamar,

“tumben bangun siang shan??” tanya mama, gue langsung noleh ke jam dindig, ternyata udah jam delapan lewat.

“gak tau ma, hehe efek capek sih,”

“rey kemana?”

“ehemm” dehem rey yang ternyata ada di pintu bersama Maxwell,

“mama cariin papa?”

“hee??, gak kok, yuk mandi” kata gue mengalihkan pembicaraan.

“aku udah mandiin sama papa ma,”

“Ya udah sana mandi, habis itu sarapan” lanjut mama, yang jelas mandi disini seru, atapnya masih langit. Sama kayak rumah yang dulu. Lebih suka seperti ini, asal jangan ada yang intip, karena pintunya gak ada cuman di halangin papan seukuran pintu.

Selesai mandi dan sarapan langsung ke ruangan depan, disana semua lagi kumpul sambil makan cemilan uli bakar sama teh hangat. Obrolan ringan seolah rey sudah lama kenal dengan papa mama.

“mama beli belanja dulu yah,”

“aku ikut, max ikut?” angguknya, gue ikut ke mama ke pasar yang deket sih kalau dari jalan raya, kalau dari rumah lumayan jauh.

Dulu biasanya gue jalan kaki, karena gak ada kendaraan. Gue sengaja ikut mama karena belum siap bicara dengan rey di hadapan papa mama.

Sesampai sekejap, orang-orang pasar seperti kenal sama gue dan berbicara berbisik. Ini yang gue takutin, mama jadi pembicaraan orang.

“belanja atau mau hutang?” tanya penjual daging ayam, pas mama berhenti,

“gak saya cuman lewat” jawab mama senyum,

“Anaknya gak dibawa?” tanyanya lagi kea rah gue, ucapannya benar. Maxwell gak ada. Tadi gue pegangin tangannya.

“Mama… “ teriaknya dari belakang, tapi dia gak sendiri melain Maxwell naik di atas bahu rey, hal itu membuat perhatian seseorang lewat.

Kalau mau tau, aib gue hampir semua orang pasar ada yang tau. Makanya ada alasan lain gue ikutin mama ke pasar, mama dulu jualan disini.

Rasanya gak nyaman seperti orang bisikin terus, “beli ikan yah, nanti buatin masakan buat papa mama aku” kata rey berbisik.

“Biarin rey aja” lanjutnya bayarin belanjaan mama,

“ITu mama mertua saya, ya, jadi saya minta hargain pembeli” ucap rey pas bayar, dia langsung lanjut lagi ke keperluan selanjutnya gue di belakangan gendong Maxwell yang lagi asik tunjuk sama sini.

Rey membawa semua belanjaannya, dan langsung sewa becak buat antar ke rumah. “Sini” panggilnya

“Naik becak aja, kasihan max jalan kaki”, Maxwell yang naik sama mama, karena gak muat. Gue sama rey jalan kaki. Ke arah rumah.

“Gendong?” tanyanya

“Ishh, masih kuat kali” jawab gue pegang kaki gue yang kerasa pegal karena nahan max yang gue gendong.

“Uang yang tadi bayar, nanti gue balikin”

“Gak usah, buat mama mertua gak usah di pikirin”

“mama mertua?”

“iah”

“Mimpi!!” jawab gue langsung melangkah cepat, belum apa-apa udah panggil mama mertua.

“Iah itu mimpi aku selama ini, dan sebentar lagi jadi kenyataan shan” teriak rey yang gue tinggal cukup jauh. Gue senyum aja dengarnya.

***​

Gak terasa memang udah satu minggu gue disini, begitu cepat gue tinggalin mama papa lagi. gue langsung rapihin pakaian max juga.

“Ma pa, kok banyak koper sih?”

“apa itu makanan semua?” tanya gue curiga karena koper gue gak sebanyak ini pas datang keisni, lagi pula kalau ada pakaian kotor gak sebanyak ini.

“Papa mama kamu ikut ke Jakarta, “ suara rey.

“haa??”

“Kita ketemu papa mama aku, dan disana kita mulai semuanya, “ kata rey santai.

“Maksudnya??”

“Mama sama papa aku mau lihat calon mantunya, karena aku mau ajak kamu nikah” ucapan rey membuat gue terdiam sambil lihat papa sama mama. Yang cuman senyum kea rah gue. Apa dalam arti mereka setuju gue sama rey.

“Apa itu nikah pah?” sambung Maxwell.

“Dua orang yang saling mencintai menjadi satu ikatan, yaitu keluarga” jawab rey.

“Jadi mama sama papa nikah lagi?”

“Iah, kamu setuju?” tanya rey ke maxwell

“Setuju!!” jawab Maxwel sambil lompat, sikap rey ke gue seperti ombak besar yang semakin lama semakin kikis batu karang di diri gue. Gue rasain itu, sikap benar-benar serius untuk kembali. Dia benar gak perdulikan kata orang-orang sekitar gue. Walau hal itu bikin namanya juga jelek secara gak langsung.

“Ayo berangkat, taksi udah siap” benar taksi udah siap, tepatnya dua taksi, yang satunya buat masuk koper. yang jelas rey udah atur semuanya, termasuk tiket.

Ketakutan gue selanjutnya akan segera tiba, yaitu orang tua rey, apa mereka akan menerima semuanya. termasuk papa mama gue.

“Gak bagus pikirin yang belum terjadi” bisiknya pelan, genggaman tangan rey pelan, sambil senyum, seolah tau apa yang gue pikiran sekarang.

Bersambung