Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 29

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat

Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 29 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 28

Perbaiki Semua

​rey

Gue gak nyangka kehadiran gue membuat max begitu bahagia, padahal gue sendiri gak tau sebenarnya dia anak gue sendiri.

Papa sama mama harus tau soal ini, penantian gue selama ini gak sia-sia. Atau nanti setelah gue bisa dekatin shanty.

Ucapannya benar, ini demi Maxwell. Sikapnya masih begitu dingin terhadap gue dan pura-pura tak terjadi apa-apa selama ini di depan maxwell.

“Maxwell kemana?” tanya gue setelah shanty antar ke ruangan kelas cukup lama.

“Lihat aja sendiri” jawabnya tanpa noleh ke gue, gue cuman menghela nafas ikutin dia duduk di barisan orang tua siswa.

“Kali ini kita akan menyaksikan sebuah lagi yang di bawakan perwakilan TK” suara salah satu guru, di ikuti beberapa anak kecil masuk ke panggung dengan menggunakan pakaian polisi, TNI, dokter, perawat, dan lainnya.

“Itukan Maxwell, pakai pakaian dokter” kata gue senang, tanpa kerasa tepuk pundak shanty sambil tunjuk-tunjuk. Dia noleh tanpa ekpresi, buat gue terdiam lagi.

“Stelaa juga” tunjuk gue lagi, tapi gak lihat Amanda sama donny,

Suara khas anak-anak pas nyanyi, suara cemprengnya membuat gue tersenyum, apa lagi Maxwell pas nyanyi dia lirik kanan kiri, seolah takut salah.

Para orang tua siswa menepuk tangan perlahan dengan iringan music, termasuk gue. Sontak mereka semua menjadi kompak saat bernyanyi,

“Maxwell” teriak gue kegirangan pas nyanyian selesai, gue noleh ke kiri kekanan gak ada yang berdiri cuman gue doang. Dan langsung duduk lagi dengan perasaan malu.

Itu cukup membuat gue ada semangat baru, dan seperti inikah perasaan seorang orang tua melihat anaknya di atas panggung.

“Mau kemana?” tanya gue saat shanty langsung berdiri, dia gak jawab. Gue ikutin dari belakang, shanty ke salah satu kelas, dimana Maxwell berada disana.

“Papa!!” pekiknya pas lihat gue, gue cuman lambaian tangan kecil pas shanty lirik gue tajam, seolah gue akan mengambil Maxwell dari dirinya, setelah kedekatan gue sama max bisa sedekat ini dengan waktu singkat.

“Good Job!” gue kasih dua jempol pas max di hadapan gue,

“Sini maxwell, ganti pakaiannya,” max langsung lari kecil ke shanty, gue pilih di luar sampai mereka keluar.

Acara udah mau selesai, mungkin memang di buat tidak lama karena ini hanya kelulusan TK, dan acara terakhir foto bersama.

Gue ragu untuk foto bersama, gue cuman bisa lempar senyum ke max saat antri, tangannya begitu erat pegang tangan gue,

“ayo pa, ma” tarik max dengan semangat ke stand foto yang udah di sediain.

“Ayo bu, pak, berdiri di belakangannya” pinta fotografernya, gue nurut aja bersampingan dengan shanty. Saat itu juga tangan gue pegangan karena harus sedekat mungkin

“Ucap Cisss” kataya, dua sampai tiga kali foto, sampai giliran max foto sendiri.

“Ciss max” ucap gue bersamaan sama shanty pas max gak mau senyum ke arah kamera. Hal itu gue sama shanty langsung sama-sama salah tinggkah.

Selesainya max langsung lari ke arah gue sama shanty, max langsung kembali ke kelas buat ganti pakaian biasa, karena acara sudah selesai. Gue tunggu lagi di depan kelas.

***​

Lambaian tangan donny saat gue masih berdiri depan kelas, donny bersama Amanda dan stella. Donny kasih kode agar dia telepon setelah urusan ini selesai.

“Yuk pulang max” angguknya minta gendong sama gue, shanty bawa tasnya ikutin dari belakang.

“Di belakang apa di depan?” tanya pas udah di depan mobil.

“Depan,”

“mama di belakang aja yah” shanty buka pintu tengah,

“Di depan mah, sama aku” rengeknya. Mau gak mau shanty di kursi depan.

“Berangkat”

Rasanya gue mau seperti ini, keluarga sungguhan. Dalam arti sebagai keluarga bahagia, bukan karena alasan di baliknya. Andai gue bisa sama shanty seperti ini terus, impian punya keluarga kecil yang bahagia akan terwujud.

Shanty gak pernah berubah, dia ketiduran seperti dulu tapi bedanya kini bersama Maxwell, tangannya gengam erat tangan max.

Sudah sampai di rumah, gue bergegas keluar mobil buat angkat max yang masih tertidur. Shanty langsung terbangun.

“Aku aja” kata gue pelan bopong max ke dalam.

Suasana rumah makan gak terlalu ramai, disana ada om dan tantenya, seolah mau cegat langkah gue. Tapi hanya pikiran gue.

“Lantai tiga, kamar kanan” ucap om nya pas gue lewat, ekpresinya berbeda saat satu minggu kemarin, termasuk juga tantenya.

Awalnya lantai dua tak terasa capek, tetapi memasuki lantai tiga. Kaki gue mulai terasa sangat pegal dan juga punggung gue terasa mau copot. Shanty langsungg buka kamarnya.

“Haaa” tarik nafas gue setelah taruh max di tempat tidurnya.

“Capek?” tanya shanty

“Gak” jawab gue, tapi dia cuman senyum sinis.

“Kalau max ketiduran seperti ini, kamu ya gendong kah?”

“Iah, “ shanty rapihin posisi max yang tertidur pulas,

Kamarnya gak terlalu luas, tapi cukup untuk mereka berdua, gak bisa bayanggin kalau shanty tiap hari naik turun.

Mata gue tertuju ke pergelangan tangan shanty saat dia membuka gelangnya, “ihh apaan sih? Lepasin” gumamnya pas gue penasaran.

“Ini luka apa?” tanya gue pas lihat bekas jahitan di lengannya.

“kena penggorengan.!”

“gak mungkin, “ gue tarik tubuhnya sampai saling behadapan.

“Apa kamu coba buat akhirin hidup?” gue yakin ini lukanya di urat nadinya. Shanty langsung buang muka dan terdiam. Gue langsung genggam dan cium tangannya, sontak shanty lansung tatap wajah gue dengan mata yang memerah.

Bibir gue tepat mendarat di bibirnya, dan tak ada penolakan walaupun shanty menutup rapat bibirnya. Pelukan erat tanpa lepasin ciuman di bibirnya itu cukup, karena masih ada harapan.

Sekali lagi ciuman di bibirnya, kali ini tak sekaku tadi. Shanty memejamkan matanya dan gak lama dia dorong tubuh gue.

“aku gak akan tinggalin kamu mulai hari ini,” bisik gue pas shanty cuman nunduk tanpa berani noleh ke wajah gue.

“Please, kita mulai dari bawah lagi. ini demi max, bukan demi aku” kata-kata shanty gue ucap ulang,

“Bagaimana max tau kalau kita pura-pura baik-baik aja?”

“Memang sulit bagi kamu, tapi kamu sekarang gak berjuang sendirian shan”

“ada aku sekarang, aku akan bertanggung jawab atas semuanya, aku gak perduli sama orang tentang kamu.”

“karena yang jalanin sekarang kita, aku kamu, dan maxwell”

“Jadi aku mohon, kita mulai lagi dari awal” shanty tak menjawab, dia hanya duduk sambil menoleh ke max yang masih tertidur pulas.mengelus dahi max.

“cukup disini, maxwell mau istirahat, “ lanjutnya dengan ekpresi sebelumnya dan memaksa gue keluar dari kamarnya.

“Aku akan kembali besok”

“aku akan terus datang” kata gue dari luar pintunya

***​

Gue langsung turun ke lantai bawah, suasan rumah makan sudah sepi. Ada om dan tantenya yang lagi rapihin meja makan. Awalnya ragu buat melangkah tapi mau gak mau gue akan hadapin apa pun itu.

“Saya liat apa yang lakuin ke shanty” ucap omnya pas gue mau pamit.

“Dia masih punya perasaan ke kamu, itu yang saya rasain sebagai wanita” lanjut tantenya dari samping.

“kamu udah tau semuanya termasuk luka di lengannya, kami mohon kepada kamu jangan buat dia kecewa lagi, “ ucap omnya tepuk pundak gue, tantenya juga langsung pergi ke dalam.

“Oh ia, shanty akan pulang besok siang, dia belum bilang kan?”

“Ini sebuah kesempatan yang kami kasih ke kamu untuk perbaiki semuanya, jadi gunakan kesempatan itu” lanjutnya.

“Pesawat berangkat jam Sembilan pagi” sambung omnya yang lansung pergi,

Senyum gue merekah, karena ini benar-benar kesempatan emas yang di berikan om dan tantenya, ini sebuah kesempatan yang gak akan gue sia-siain.

“terima kasih banyak, saya akan lakuin sebisa mungkin”

Gue langsung minta bantuan donny buat pesan pesawat ke Kalimantan buat besok, gue udah punya rencana akan jemput dia tanpa sepengetahuannya.

Besok paginya gue langsung ke rumah makan lagi, mobil udah terparkir di depan ruma makannya. Gue udah pesan tiga tiket, dan tepat jam Sembilan juga waktu berangkatnya.

Shanty dan max keluar bersama om tantenya, gue langsung dekatin mobil tepat di depan mereka. Bersamaan gue turun sambil buka pintu.

“papa, ikuttttt?” tanya max pas gue ada di depannya.

“Yup papa ikut, ini tiketnya” gue tunjukin tiga tiket

“Tapi mama bilang papa lagi sibuk,” lanjut max lihat kearah gue dan sesekali kea rah shanty.

“Ngak kok,” shanty terdiam karena terkejeut gue bisa tahu dia akan pulang hari ini.

“Pamit dulu max,” kata shanty, max langsung cium pipii om dan tantenya, dan gue langsung angkat koper serta tas kecil milik max.

“Saya pergi dulu,” kata gue pamit ke om tantenya.

“Kita ketemu opa oma ya” kata max di pangukan shanty,

“iah,” jawab shany sambil buka kotak nasi,

Suasana langsung hening, karena max lagi sarapan pagi. Begitu juga shanty taka da sepatah katapun keluar dari bibirnya kecuali jawwab pertanyaan max.

“Tiketnya, udah aku beliin, tujuannya sama kalimantan, yang itu jangan pakai” kata gue saat gue selesai titip mobil di bandara, memang udah pesan dari kemarin, dan donny akan ambil mobil yang gue udah titip..

Shanty terdiam saat lihat tiket pesawatnya, dan sesekali lirik max yang gue gendong. Mau gak mau dia ikut pesawat yang sama.

“pa, tukar posisi, aku mau lihat awan” pinta max, gue tukar posisi di samping shanty lagi. senyuman kecil pas dia tatap wajah gue, tapi gak lama.

Shanty kembali terlelap kali ini bersandar di pundak gue, dan tangannya pegang tangan gue, “love you” bisik gue gengam erat tangannya.

***​

Sesampainya gue pesan taksi, shanty sebutin tempat tujuannya. Kata supirnya kurang lebih memakan waktu empat jam dari sini.

Perjalanan yang sangat panjang memang, tak terasa empat jam berlalu. Mobil sudah sampai di kota yang cukup besar, yaitu sambas.

“belok sana pak” ucap shanty kesebuah gang dari jalan raya, mobil kembali masuk ke jalan yang tak ada aspal. Karena masih terbuat dari batu dan tanah.

Sepuluh menit, sampai di rumah yang sederhana, jauh dari rumah lainnya. Jantung gue berdebar kencang karena ini pertama kalinya gue ketemu orang tua shanty dengan masalah besar.

Gue gak tau apa yang terjadi disini, mungkin gue akan di usir atau perlakuannya sama dengan om tantenya.

“Opaaaa.. Omaaaaaa” teriak max pas keluar mobil,

“Masuk aja, aku yang bawa” kata gue di bantu sopir taksi angkat koper ke halaman rumahnya.

Satu yang jelas, rumahnya tak ada ubin, lantainya terbuat dari semen. Begitu juga bagnunannya, campuran tembok dan triplek.

Rumah yang sangat sederhana, gue baru ketemu rumah seperti ini. Dan gue tau sekarang kondisi keluarga shanty sepenuhnya.

Gak lama muncul dua orang paruh baya, gue yakin itu papa sama mamanya. Gue cuman tunggu di halaman rumah.

“Itu siapa shan?” tanya papanya, gue yakin papanya.

“ituu”

“itu papa aku opaaaa,, omaa” ucap max keluar dari rumah. Sontak mereka berdua langsung menatap tajam ke arah gue.

Sekarang yang akan gue lakuin adalah berjalan kea rah mereka, raut wajahnya begitu kesaal melihat gue. Tapi mau bagaimana lagi, gue akan terima resikonya.

Tak banyak bicara, gue langsung berlutut di hadapan mereka, dan bersujud. “Maaf, membuat kalian, shanty , Maxwell menderita selama ini” ucap gue dengan posisi bersujud. Ini pertama kali gue lakuin hal begini, karena pantas gue melakukannya sesuai masalah yang gue perbuat.

“Bangun” ucap lirih mamanya pegang lengan gue agar gue berdiri.

“Kalian boleh maki-maki saya sepuasnya. Saya sudah siap menerima apapun “ kata gue masih berlutut,

“Buat?

“buat masa lalu?” tanya papanya.

“Bangun, kalau kamu lelaki bangun!” ucap papanya dengan nada serak, gue langsung berdiri lagi.

“Kamu minta maaf buat masa lalu?”

“Bodoh namanya!” lanjutnya. Gue cuman bisa terdiam.

“Memang terlambat semuanya, sangat terlambat. Tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali”

“Saya siap perbaiki semuanya, maka dari itu saya meminta maaf” papanya cuman menghela nafas sambil melangkah ke bangku kayu. Dia duduk memandang halaman rumah yang kosong,

“Kamu harus tau, saya sebagai papanya sudah memaafkan kamu setelah tau shanty bertemu kembali sama kamu, shanty cerita semuanya” gue ikut berdiri dan ikut memandang halaman, sedikit lega memang tapi rasanya masih menganjal.

“Jujur, saya menaruh harapan besar ke kamu, karena kamu satu-satunya yang bisa membuatnya bahagia” lanjutnya.

“Tapi dia masih benci sama saya,”

“Itu bukan benci, shanty belum bisa mengutarakan perasaannya karena pintu hatinya sudah tertutup dan kuncinya sudah rusak”

“Dan kamu mulai perbaiki kunci itu buat membukanya perlahan”

“Butuh waktu, tapi saya dukung kamu perbaiki dengan shanty” lanjutnya kembali ke dalam,

Gue gak benar-benar gak nyangka, gak seburuk yang gue pikirin. Dan ini membuat gue semakin merasa bersalah membuat keluarga yang baik-baik saja menjadi semakin susah.

Atau mereka sengaja tinggal jauh dari rumah lainny, agar tak menjadi omongan. Gue rasa begitu, gue janji perbaiki semuanya mulai hari ini.

Bersambung

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat