Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 28

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat

Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 28 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 27

Sekali lagi​

shanty-

Aneh rasanya gue gak protes kayak biasanya, apa ini karena sikapnya ke gue hari ini. Gue akuin dia banyak bantuin, andai gak ada dia gak tau nasib gue gimana.

Kaki gue keram karena paksa dorong motor kelamaan, salah gue juga karena gak cek bensin dulu. Tapi gara-gara dia juga gue jadi buru-buru sampai lupa cek.

“Sudah sampai, aku pulang,” teriak gue pas di depan pintu.

“Andai kamu beri kesempatan untuk perbaiki semua, aku tunggu kamu malam ini tepatnya setelah rumah makan tutup, di taman sana” tunjuknya ke taman kecil dengan dua ayunan kecil dan juga beberapa pohon.

“Kalau kamu gak datang, aku tau jawabannya dan mungkin kita gak akan ketemu lagi.” dia langsung parkir motor dan pergi tanpa menoleh ke gue. Gue gak tau harus apa, sseperti antara benci dan rindu. Itu yang gue rasain hari ini.

“shan.. kaki kamu kenapa?” tanya tante pas gue masuk dengan sedikit pincang.

“Ketarik kayak tante abis dorong motor tadi, sempat keram juga” jawab gue langsung selonjorin kaki di bangku. Tante langsung cek kondisi kaki gue, dengan sedikit urut sebentar.

“Tante urut yah, “

“Iah tante, tapi di dapur aja, gak enak kalau ada yang makan” gue jalan perlahan ke dapur.

“mama, kok lama banget?” tanya Maxwell habis makan,

“Iah, jauh cari pom bensinya” tante ikut duduk di bawah, Maxwell naik pangkuaan gue sambil lihatin kaki gue yang di urut.

“awhh” jerit gue terus tahan, karena urutan tante sungguh tiada tara..

“tanteee aawhh” jerit gue gak kuat pas tangan tante urut di betis.

“ini pelan kok, tuhh” tunjuknya langsung buat gue meringis lagi,

“aku ke kak rico dulu yah” Maxwell langusng naik ke lantai dua, gue dsini masih meringis kesakitan untuk beberapa menit.

“selesai, coba tekuk” perlahan tapi pasti kaki gue bisa tekuk gak sekaku tadi, dan gue lakuin itu beberapa kali. Masih terasa sakit saat di injak, tapi tak sesakit tadi.

“Terima Kasih Tante” kata gue sambil ketawa kecil dan langsung ke atas buat mandi.

***

Gue putusin buat telepon mama sama papa, gue mau bilang tentang kejadian tadi. Langkah gue cepat masuk ke kamar pas telepon gue di angkat.

“Halooo”

“pa,, maaa” kata gue jadi ragu. Gue ragu karena ini soal dia juga, kemarin aja soal gue bisa ketemu sama dia aja papa mama diam cukup lama.

“Ada apa?” gue tarik nafas pelan, langsung ceritain kejadian tadi, agak sesak rasanya. Tapi ini sangat menganjal di hati gue.

“Shanty minta saran ke papa mama”

“Apa yang harus shanty lakuin?, berikan kesempatan buat dirinya atau tutup selamanya?”

“Maxwell bilang ke shanty, dia di ledekin sama temannya, tapi dia datang mengaku kalau dia papanya,” gue masih inget jelas raut wajah Maxwell begitu senang pas cerita seperti itu.

“Menurut diri kamu sendiri?”

“Shanty ragu ma pa, shanty takut salah ambil keputusan seperti dulu.” Gue benar-benar takut ambil keputusan, atau tepatnya gue masih trauma dengan mengambil keputusan, takut terjadi seperti liam tahun silam.

“Kamu pikirkan baik-baik, sekarang yang lebih membutuhkan, kamu apa Maxwell?”

“Maxwell,”

“Jadi demi Maxwell, bukan demi kamu. Dia harus tau kalau Maxwell adalah anaknya. Kamu gak harus hidup bersama membesarkan Maxwell.”

“Setidaknya Maxwell juga tahu, dia mempunyai papa, jadi kalian berdua tak harus satu demi Maxwell”

“atau mencoba menjadi satu lebih baik” sambung papa, semakin buat gue ragu. Gue masih punya pikiran untuk itu, tapi untuk Maxwell itu berpikir dua kali.

“Jangan di paksain yah, mama sama papa doain yang terbaik.” Mata gue mulai memerah karena sesekali teringat kesabaran mereka saat tetangga rumah selalu membuat berita miring ke gue, papa sama mama seolah gak perduliin,

Tapi gue tau di dalam hati mereka, itu mereka lakuin demi gue. Sekarang gue harus buat keputusan, benar kata mama sama papa, yang membutuhkan sekarang bukan gue, tapi Maxwell.

***

Langkah gue ragu buat ke taman itu, gue gak bilang ke tante sama om soal ini. Gue rasa gue masih bisa lakuin ini. Maxwell juga lagi main sama kak rico,

“apa keputusan gue benar?”

“Andai salah buat gue, tapi berharap demi Maxwell ngak terjadi” masih teringat jelas, gue kasih kesempatan ini karena untuk Maxwell.

Langkah gue semakin ragu pas lihat seseorang duduk di ayunan, rasanya mau lari karena taka da siapapun. Ingatan dulu seolah kembali keluar, padahal gue berusaha kubur dalam-dalam.

Dia berdiri saat gue semakin dekat, gue bisa jelas wajahnya yang di terangi lampu taman. Satu hal yang bikin gue terkejut, wajahnya seperti habis di pukuli.

“Kenapa? Aku memang pantas dapatin seperti ini, karena luka fisik gak sesakit yang kamu rasain. “ senyum meringis.

“Siapa yang lakuin?” tanya gue yang keluar begitu aja dari mulut.

“Entah,” pikiran gue langsung ke kak rico, apa dia pelakunya. Tapi kenapa harus seperti ini. Dia langsung duduk di ayunan lagi, dan tanah ada bekas darah bercambur ludah.

“Terima Kasih” ucapnya pelan sambil berusaha senyum, aneh gue tatap wajahnya terus saat noleh.

“walau gak ada tanda kita bisa bersatu, setidaknya banyak hal yang harus aku selesain, termasuk sampai kamu hamil” gue langsung terkejut, apa dia tau kalau Maxwell anaknya, atau ada yang memberi tahu soal itu.

“Lo tau kalau Maxwell” ucap pelan.

“Aku bakal bantuin siapa ayah dari anak kamu, andai gak ketemu. Aku akan biayain sekolahnya sampai dia bisa mandiri, “

“anggap aja sebagai rasa bersalah aku selama ini, walau kita gak bisa bersama. Tapi max bakal aku anggap jadi anak sendiri.” Senyumnya lagi.

“ Gue bukan cewek gampangan setelah di tinggal sama lo, paham!” kata gue sedikit sensitive, karena dia anggap Maxwell dari hubungan pria lain.

“Terus kamu hamilnya?” katanya pelan sambil pegang luka lebam di pipinya.

“Sama LO!!!!!!!” jerit kesal gue, karena dia benar-benar gak sadar kalu dia udah hamilin gue secara gak langsung. Entah kenapa mata gue kerassa memerah setelah bilang seperti itu.

“Serius?” ekpresinya benar-benar terkejut,

“Seterah percaya apa ngak, cuman lo pelakunya!” lanjut gue buang muka dari wajahnya.

“Jangan dekat!!” pekik gue pas di berdiri mendekat kea rah gue, seolah dia mau peluk gue. Tapi dia gak tanggapin dan peluk gue erat,

“Maaf” bisiknya langsung dekap erat. Seketika gue gak ada tenaga untuk berontak membiarkan dia dekap gue beberapa menit.

“Aku tanggung jawab sepenuhnya, oke apapun yang terjadi” gue bisa lihat dengan jelas wajahnya kali ini, lebih tirus dari sebelumnya. dan juga terasa tubuhnya tak seperti dulu, lebih kurus atau tepatnya sangat kurus.

Tapi ada satu hal yang rasain sama, yaitu, rasa nyaman masih sama seperti dulu, itu yang gue rasain sampai gue gak tenaga buat berontak.

“Kita mulai dari nol?” tanyanya pelan.

“Lo kira Pertamina ha?” gue langsung pergi tinggalin dia,

“jangan pikir gue bisa nerima lo secepatnya?” gue melangkah jauh, jaga jarak beberapa centimeter.

“gue lakuin ini demi maxwell”

“aku paham”

“Cukup sampai disini dulu” gue langsung pergi tinggalin dia, dan sedikit kwahtir luka lebam di wajahnya. tapi itu resikonya.

***

Selama dari taman ke rumah, dia selalu ikut di belakang gue. “udah gue bilang cukup disini dulu” ucap gue tanpa noleh ke belakang.

“iah, “ dia langsung pergi pas gue buka pintu.

Suasana lantai bawah udah terasa sepi, tetapi di lantai dua mereka semua berukumpul termasuk Maxwell yang tertidur.

“Kamu ketemu siapa?” tanya tante pelan sambil kipasin Maxwell.

“Ketemu dial ah, gak ada kapoknya dia kesini” ucap geram kak rico.

“kakak yang hajar dia?”

“Iah, emang pantas dia terima itu, “

“Rico, kamu kelewatan yah, kalau dia gak senang, dan tuntut kamu gimana?”

“Gak akan ma, pa, percaya sama rico. Kalau dia merasa bersalah gak bakal dia lakuin hal lebih” gue cuman menghela nafas, karena gak ada yang bisa di salahin. Kak rico lakuin ini karena belain gue.

“Shanty temuin dia buat kasih tau, kalau Maxwell anaknya dia” kata gue pelan.

“Ini bukan bearti shanty terima dia di hidup shanty, tapi shanty lakuin ini demi Maxwell. Ssetidaknya dia gak akan di ejek karena gak punya papa” seyum gue elus rambutnya.

“Kamu udah kasih tau ini ke papa mama?” angguk gue pelan.

“Shanty di suruh ambil keputusan, dan keputusan yang shanty buat semata-mata buat Maxwell bukan buat shanty sendiri”

“Karena shanty masih sediki trauma mengambil keputusan yang salah”

“Kamu udah ambil keputusan yang benar kok, lambat laun ,Maxwell harus tau siapa papanya. Karena kamu gak bisa menjadi dua pribadi sebagai mama dan papa sekaligus.

“Betul, karena papa dengan tenaga berusaha melindungi anaknya, dan mama dengan segenap hati menyelesaikan masalah dari anaknya” celetuk kak rico, buat tante sama om tersipu malu. Termasuk gue juga tersenyum lebar.

“Terima kasih yah,” kata gue pelan.

“iah, sama-sama”

“terus apa yang bakal kamu lakuin sekarang?” tanya om tante bergantian.

“nanti shanty kasih tau Maxwell, saat perpisahaan kelas satu minggu lagi., kalau dua orangtuanya datang buat dirinya” senyumnya. Rasanya ada beban yang begitu berat di hati gue setelah ketemu dia, bukan dia. Tapi rey.

Gue panggil namanya mulai besok, karena Maxwell,

***

Hari seperti biasanya, gak ada perubahan, bedanya gue kerasa lebih kurus. Padahal berat gue masih sama seperti sebelumnya. termasuk satu minggu ini.

“nah gitu dong pakai rok” celetuk tante pas gue udah rapih buat ke acara perpisahan kelas Maxwell

“ih, jelek yah?”

“Ngak kok, cantik, serius” gue kerasa udah kayak orang kerja kantoran pakai pakian seperti ini. Dan satu tahun satu kali gue make up kayak gini.

“Ayo Maxwell berangkat” kata gue pas dia duduk,

“Gak ah” jawabnuya pelan.

“Kenapa?”

“Takut di ledekin lagi, pasti mereka semua lengkap sama papa mama” katanya buat cuman tersenyum.

“Gak akan, mama jamin. Karena ada kejutan hari buat kamu”

“kejutan apa?” Maxwell langsung berdiri,

“nanti di sekolah ada kejutannya” angguknya langsung mau ajak pergi, dan langsung pamit ke tante sama om. Kalau kak rico udah balik lagi buat kuliah.

Di lain sisi jantung gue berdebar, karena hari ini gue akan kasih tau ke Maxwell, dan rey udah tunggu depan sekolah, Dia yang saranin ketemunya disana,

“Sebentar Maxwell, mama rapihin rambut dulu” kata gue pas udah sampai,

“dimana kejutannya?” tannya,

“Iah sebentar lagi, “ selesainya gue langsung ke gerbang sekolah, dan benar rey sudah berdiri sambil membawa sesuatu.

“itu om nya stella ma” tunjuknya,

“iah, “

“Pagi max, pagi shan” senyumnya, masih terlihat bekas luka lebam di wajahnya tapi gak separah gue lihat pertama kali gue lihat.

“Buat kamu” sebatang bunga mawar putih di kasih gue dan Maxwell,

“Kejutannya mana?” tanyanya lagi.

“Papa kamu,.. “

“papa dimana?” tanyanya tarik-tarik lengah baju gue pas gue ragu ucapinnya.

“Papa kamu, ada di depan kamu sekarang” Maxwell langsung noleh kearahnya.

“Om? Papa aku?” tanyanya.

“Iah,” Maxwell langsung peluknya erat, mat ague mulai memerah melihat mereka.

“maaf,” bisik rey ke Maxwell,

“iah, ayo masuk, pa ma” ucap Maxwell buat gue tersenyum, tangannya kirinya peganng tangan rey, dan tangan kanannya pegang tangan kiri gue.

Dengan begini Maxwell pasti percaya diri melangkah ke depan, tanpa harus tau apa gue sama rey akan bisa bersatu atau tidak.

Gue senang karena gue gak salah ambil keputusan untuk ini, apa gue sama rey harus juga memulainya dari nol sekali lagi bersama rey untuk Maxwell. Membuat keluarga kecil yang bahagia. Rasanya belum siap.

Bersambung

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat