Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 27

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat

Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 27 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 26

Rey.​

Dari ucapannya gue bisa rasain apa yang di rasain shanty, wajar dia sangat benci sama gue. Di matanya gue hanya seorang pembohong besar.

Dirinya sekarang seperti batu karang, berdiri kokoh walau deburan ombak terus menerpanya. Gue bukan puitis. Tapi itu nyatanya.

Rencana Amanda lumayan berjalan lancer, kalau shanty tau gue yang biayain pasti dia bakalan nolak mentah-mentah.

Termasuk gue coba dekatin anaknya, itu rencana Amanda. Kebetulan atau tidak, shanty selalu gak ada di tempat, jadi rencananya berhasil di awal, dan hasilnya seperti ambil anak singa dari induknya.

“Lo nyerah?” Suara donny pas gue lagi pikirin rencana berikutnya.

“Gak akan,”

“Seandainya dia maafin lo, tapi dia gak mau balik sama lo gimana?”

“Gue bakal ikhlas, dan mencoba hidup baru, kalau itu pilihannya.”

“Karena yang penting gue udah jelasin sebenarnya, itu udah cukup. Dan gue bakal bahagia kalau dia benar-benar punya penganti gue.”

“Hsrusnya begitu, jadi rencana selanjutnya?”

“Gue ke rumah makannya, mau hadapin tante sama omnya. Termasuk anaknya” gue udah kasih tau soal mereka semua udah tau gue lah penyebab shanty seperti itu.

“Masuk kandang macan, sama aja bunuh diri namanya rey!”

“Gak selesain masalah ini secepatnya sama juga bunuh diri don,” gue udah bulletin tekad bakal ke rumah makannya mala mini juga.

“Goodluck, gue dukung lo dari doa,”

Satu hal yang menjadi gue penasaran sama Maxwell, dia akrab sama gue cuman ketemu satu kali. Dan sepertinya begitu senang gue jengguk dia. Stella bilang kalau dia di sekolah cuman dia aja temannya,

Dan di sisi lainnya gue juga merasakan hal yang sama, atau tepatnya nyaman. Biasanya gue bukan orang yang akrab sama anak kecil kalau hanya bertemu satu dua kali.

***

Ada kabar dari donny kalau Maxwell udah masuk sekolah, tapi perginya dan pulangnya naik jemputan seperti biasanya.

Donny saranin gue ajak dia pulang bareng lagi, urusan shanty marah atau tidak urusan belakangan. Karena gue penasaran sosok ayahnya Maxwell.

Kesempatan itu datangnya juga walau harus tunggu satu minggu lebih, stella berhasil ajak Maxwell pulang bersama lagi.

“Halooooo” sapa gue pas Maxwell sama stella masuk ke dalam mobil.

“Haloo om, “

“kok om yang jemput?, papa kemana?”

“Udah tunggu di rumah, jadinya sekalian jalan jemput kamu,”

“Ouh, aku ajak Maxwell gak apa-apa yah?”

“iah, om antar kamu dulu yah, baru antar Maxwell”

“Iah om,” jawabnya senyum, gue langsung antar stella terlebih dahulu ke rumah, ini termasuk rencana donny dan Amanda buat gue ngobrol sama Maxwell, dan berhasil.

“Kamu gak di jemput papa kamu max?” panggilan gue buat dia, lebih keren seperti itu.

“ngak om, biasanya mama”

“Emang papa kamu kemana?” gue sedikit ragu tanyain soal ini, bisa aja shanty suruh max jangan sembarang bicara ke gue setelah kejadian kemarin.

“Pergi jauhh, aku gak tau kemana. Mama gak pernah bilang” suasan langsung hening pas max jawab seperti itu, ada dua jawaban, antara mereka bercerai atau meninggal dunia.

“Meninggal?” tanya gue pelan.

“ngak om, pergi aja yang jauh, entah kembali apa tidak.” Jawabnya, yang berarti mereka bercerai saat max dalam kandungan, itu dugaan gue sementara.

“Tapi aku mimpi, aku rasa di papa aku. Dia datang saat perpisahaan kelas nanti hehe” jawabnya langsung minum air dari botol yang di gantung sekitar lehernya. Gue semakin bisa rasain perjuangan shanty.

Andai tidak ada thalita, hubungan gue sama shanty tidak akan seperti ini. Atau mungkin gue sudah menikah dengan shanty lima tahun lalu. Dan punya anak sebesar max. pikiran yang tak ada gunanya sekarang.

“Terima kasih om, Aku gak bilang ke mama kalau om yang antar” ucapnya turun dari mobil sambil berlari kecil masuk ke dalam. Shanty benar-benar memproteksi anaknya berhungan sama gue.

***​

Satu jam lebih gue tunggu dalam mobil sampai memastikan rumah makannya sudah tak terlalu ramai, setidaknya gak terlalu banyak orang kalau melihat amukan om dan tantenya, atau mungkin shanty yang turun tangan sendiri,

“Tungguu” teriak gue pas tantenya lihat gue dan langsung tutup pintunya.

“Please biarkan saya jelaskan,” kata gue ketuk-ketuk pintu dengan wajah memelas, beberapa kali tatapan tantenya kearah gue.

“krek” suara pintu yang di kunci kembali buka, tantenya langsung tingggalin begitu aja. Seolah biarkan gue masuk.

“WOIII, Ngapain lo” teriak seseorang dari arah tangga, gue tau ini anaknya mereka.

“Kalau mau bertemu shanty, gak akan bisa paham!!”

“Dan kalau mau makan, udah tutup!!” gue cuman berdiri sambil jalan perlahan hampirin mereka.

“Berikan saya bicara sebentar, satu kesempatan kali ini aja” kata gue di hadapan mereka berdua, kalau suasananya seperti ini gak ada kemungkinan shanty bakal turun ke bawah.

“Tidak Ada gunannya, kamu kesini. Shanty gak akan mau bicara sama kamu” suara om nya kali ini, keluar sambil bawa pisau daging.

“Setidaknya saya udah mencoba, buat jelasin yang sebenarnya. Walau shanty gak dengar saya ingin meluruskan semuanya sebelum terlambat” gue tarik nafas dalam-dalam sebelum jelasin ke mereka.

“Saya memang tinggalkan shanty saat dia benar-benar drop, karena satu alasan saya akan menikah dengan wanita lain bernama Thalita”

“Tapi saya udah janji sama shanty saat itu juga, kalau saya akan selesaikan masalah secepat mungkin.”

“Saat semua selesai, saya kehilangan kontak dengan shanty karena mantan istri saya thalita menghapus semua kontak di ponsel saya dan donnny.”

“Saya sudah bercerai dengannya karena dia bohong karena sedang hamil, saya sudah ambil resikonya bercerai dengannya, termasuk memeberikanya harta gono gini”

“Saya gak perduli berapa yang di keluarkan demi lepas dari thalia, saya lakuin untuk shanty. Tapi takdir berkata lain.”

“Saya selama lima tahun tak bisa menemukan jejak shanty, dan selama itu juga di kepala saua cuman ada shanty, dan berdoa agar bisa menemukannya secepat mungkin” gue sedikit lega karena mereka bertiga mau mendengarkan penjelaskan gue tanpa potong sedikit pun.

“BRaakkkk!!” suara bantingan pisau daging di atas meja, membuat gue sedikit lompat.

“Kamu pikir, kamu yang menderita selama tahun ini???”

“Kamu lihat shanty sekarang sepertinya lebih kuat dari yang dulu kan??”

“Kamu bisa rasain bagaimana rasanya, hamil tetapi tak ada seseorang di sampingnya??”

“Rasanya di omongin banyak orang karena hamil tak ada suaminya???”

“Rasanya di kucilkan sebagai perempuan murahan??”

“Saya seorang lelaki, mempunyai istri dan anak, tapi saya tahu persis rasanya”

“Rasanya sakitnya bukan seperti luka yang terlihat, tapi disini!!!” Om nya memukul-mukul dadanya,

“Kamu gak akan bisa bayangin kondisi shanty saat itu, sampai dia hampirr…” ucapnya tertahan, gue cuman bisa terdiam. Membayangkan kondisi shanty.

“Saya bukan orang tua kandungnya, tapi bisa merasakan hal seperih itu, bagaimana dengan shanty sendiri??”

“Kamu minta maaf sampai berbusa pun, gak akan bisa mengubah apapun, semua terlambat. Dan hanya penyesalan yang tersisa.” Suasana langsung hening seketika, di kepala gue cuman ada kondisi shanty saat itu.

Keputusan gue tinggal dia adalah keputusan terbodoh, karena pasti seseorang sudah membuat hamil karena memanfaatkan kondisinya seperti itu. Gue cuman bisa tundukin kepala dengan penuh penyesalan yang sangat mendalam.

Atau shanty hamil karena gue, itu lintasan di pikiran gue sementara. Bayangan pada saat gue perawanin shanty malam itu, masih abu-abu gue pakai pengaman apa tidak.

Tapi mata biru ada yang Maxwell dari siapa?,

“Sekarang kamu boleh pergi, gak ada gunanya, shanty gak mau ketemu kamu” ucapnya buat gue tarik nafas dalam-dalam.

“Jangan Ucapkan Maaf, karena itu sudah tidak berguna ke shanty” suara omnya pas gue melangkah pergi keluar dari rumah makannya. Menatap ke setiap lantai, beharap shanty mendengarnya.

Selangkah demi selangkah gue seperti gak ada harapan untuk memperbaiki semuanya, dan inilah balasan yang cocok untuk gue.

***​

Semalaman sampai sekarang udah siang gue belum, gue gak tidur karena terus kepikiran tadi malam, rasanya masih mengganjal belum bilang ke shanty.

Dan gue jemput stella lagi, berharap bertemu Maxwell dan antar dia pulang lagi. dari situ semoga shanty bisa lihat. karena gue ingin bicara langsung.

“omm… help.” Kata stella pas datang ke gue.

“Ada apa?”

“Maxwell di sana” gue langsung gerak cepat gendong stella, dari jauh gue bisa lihat max berdiri tertunduk sambil di kelilingi beberapa siswa lainnya. Mereka berseru seolah meledek sesuatu,

“Gak punya papa, gak punya papa!!” dua anak lelaki terus mengelilingin max, tak ada seorang pun perduli dengannya, termasuk orang tua lainnya. Seolah ini hanya candaan yang ringan,

“Saya papanya, ada apa yah?” kata gue berdiri di samping max, kedua anak kecil itu langsung lari meninggalkannya.

“Udah yuk, jajan” max noleh ke arah gue dengan pandangan bingung.

“udah gak apa-apa, teman kamu yang jahil udah kabur” angguknya pelan, gue ajak stella sama max ke tempat jajan di depan sekolah.

“Kamu kenapa lawan aja?” kata gue pelan.

“Kata mama, aku gak usah hirauin. Nanti aku kena masalah lagi” jawabnya, bearti di sekolah stella aja yang perduli dengan max,

“sekarang kamu di jemput sama mama kamu?”

“Iah, aku suruh tunggu” jawabnya sambil kunuah sosis bakar.

“Maxwell” teriakan shanty saat turun dari motornya dari lari sampai melangkah pelan, karena sadar gue yang ada di samping Maxwell.

“Mama, “

“Sini, “ panggilnya,

“Terima kasih om!”

“Stella, aku pulang yah!bye bye” lambaian tangannya, shanty buang muka saat gak sengaja kami saling pandang. Dia tak se agresif dari biasanya, apa mungkin om dan tantenya yang menceritakannya.

“yuk, om pulang” angguk gue langsung ajak, gue langsung jemput donny sama Amanda.karena mereka sekalian pulang buat makan siang bersama opa dan omanya. Tempatnya jemputnya searah jalan pulang dan jadi gue ikutan pulang sekalian buat tidur.

***​

Padahal udah siang, jalan padat merayap. Kali ini si donny yang bawa, dia tau gue gak tidur semalam. Bisa aja gue tidur disini, tapi gak enak.

“Ma Pa, itu Maxwell” Suara stella berdiri tunjuk-tunjuk ke arah kiri. Pikiran donny sama gue satu pikiran langsung berhenti dan noleh ke arah kiri.

Stella gak bohong, shanty lagi dorong motor. Max ikut jalan di sampingnya,

“Ma, kamu yang turun, lihatin kenapa dia” pinta donny.

“iah, buka pintunya dong.”

“ehe ia lupa.”

“Maxwell” lambaian tangan stella keluar dari mobil, dan begitu juga Amanda.

“Gue turun don, lo duluan aja oke”

“Lo yakin?” angguk gue pas Amanda ajak ngobrol shanty, pasti ada kendala sama motornya. Gue lansung keluar di pintu satunya.

Shanty terlihat menolak untuk Maxwell di antar pulang, tapi Maxwell dan stella langsung masuk ke dalam mobil, tinggal mereka berdua bicara.

Dan sekarang giliran gue, Amanda langsung masuk ke dalam mobil, gue acungin jempol. Dan tutup pintu mobil.

Dari posisi berdiri, shanty langsung duduk di tortoar sambil mengurut betisnya. Gue yakin ini efek dari dia dorong Dia gak sadar gue di belakangnya.

“Aku aja” kata gue pas dia berdiri, dan ekpresi terkejut kini gak bersuara. Terasa cukup berat karena bagian depan jok ada keranjang, yang entah isinya nya apa.

“Kenapa emang motornya?” tanya gue setelah jalan beberapa meter. Gue cuman senyum pasti dia gak bakalan jawab.”

“habis bensin” senyum gue merekah, walau dia gak noleh kea rah gue, dia jalan sambil sesekali urut kaki kanannya. Sesekali dia noleh kea rah gue, gue bisa tahu dari spion motornya. Tatapannya cukup lama.

“Maaf” kata gue pas udah jalan tiga puluh menitan, tapi gak ada SPBU sama sekali.

“Gue aja kalau gak kuat” ucapnya, buat gue hentiin langkah dorong motor.

“Bukan itu, Maaf gak berada di sisi kamu selama ini” gue langsung dorong lagi motornnya lagi, shanty sedikit berdiri terdiam, dan gak lama langsung ikut jalan lagi, tapi jarangnya lebih dekat di banding tadi.

“Aku gak tau harus apa sekarang, yang jelas aku mau selesai semua ini. Walau kamu gak akan kembali di sisiku karena sudah mempunyai max”

“Tapi aku punya sesuatu, andai menemukan seseorang yang menerima kamu dan max, aku ikut senang. Dan itu bukan diriku lagi“

“Kamu tau gak pas tau itu kamu, rasanya senang. Seolah rasa rindu selema ini terbalaskan, walau tak seindah di bayangkan, itu cukup buat aku.”

“Ini kesempatan aku bicara sama kamu,”

“Aku masih sayang sama kamu, walau kamu pasti muak. “

“kalau kamu bukan untukku, tapi biarlah aku yang mencintai bayangmu selama sisa hidupku” senyum gak sadar sampai SPBU. Dugaan gue benar shanty hanya terdiam, dia memilih untuk duduk sambil meluruskan kakinya,

Selesai isi bensin, gue dorong motornya dimana dia duduk.

“selesai” gue ikut duduk, terasa baju gue udah basah, sampai terasa gue gak pakai baju. Tanpa bicara gue angkat kaki kanannya dan langsung gue urut.

“ini Sakit?” tanya gue urut betisnya pelan, shanty gak jawab cuman merintih sakit, gue gak ngerti soal urat seperti ini,

“Aku antar pulang aja, jangan protes, karena mungkin kita tak bisa ketemu dan seperti ini” senyum gue langsung pakaiin helm ke shanty yang dia taruh di sampingnya.

Perjalanan yang begitu menyenangkan walau sesaat, itu cukup buat gue. Shanty terus menoleh ke samping, tapi sekarang tangannya terasa pegang baju gue.

Itu karena gue gak bisa naik motor, perlahan tapi pasti gue berusaha bisa. Kecepatan empat puluh aja udah terasa kecepatan serratus. Untungnya ini motor matic, tapi tetap aja susah buat imbangin jalannya sampai tujuan. gue udah senang ada kesempatan seperti ini.

Bersambung

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat