Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 26

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat

Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 26 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 25

Apa ini rindu?

Shanty-

Rasanya sangat berat buka kedua mata gue, rasanya begitu lelah. Dengan dorongan gue bisa kedua mat ague perlahan.

“Dimana “ gumam gue lihat atap bukan seperti di kamar.

“shan.. udah bangun” Suara tante, tarikan nafas gue sebelum noleh ke samping.

“Maxwell?” mat ague terbuka lebar,

“shan… kamu masih butuh istirahat” kata tante, dan baru sadar gue ada di rranjang rumah sakit. Selang infus juga ada di tangan gue. Kenapa gue yang jadi sakit.

“Maxwell ada di kamar sebelah kok, ada rico yang jagain” kata tante, kak rico anak tante paling besar, beda empat tahun sama gue,

“aku mau lihat tante” kata gue coba cabut selang infus, tapi di cegah tante.

“Kamu kelelahan, seharian kamu tertidur. Apa benar kamu gak tidur dua hari?” tanya tante bikin gue terdiam.

“iah, “

“Kenapa gak bilang?”

“Shanty merasa bisa lakuin itu tante, maaf” kata gue pelan. Tapi benar rasanya gak enak banget. Di lain sisi gue seperti tidur di ssamping seseorang, dan itu nyaman. Ini mungkin karena efek kelelahan.

“Dan nanti soal biaya shanty ganti yah” senyum gue masih lemas.

“jangan pikirin itu, yang penting istirahat dulu, tapi kenapa kamu gak pernah bilang ke tante kalau kamu ada teman disini?”

“Teman?”

“Iah, ada teman kamu bantu biaya rumah sakit” ucap tante, buat pikiran ke satu orang, gue gak mau sebut namanya lagi.

“Siapa tante?” kalau memang benar, gue akan balikin semua biayanya.

“Amanda”

“Amanda??” angguk pelan tante.

“Dia orang tua temannya Maxwell, dia bilang Maxwell teman baik anaknya” gue senyum pelan, ternyata Maxwell punya teman dekat. Dia gak pernah cerita soal itu.

“Aku mau liat Maxwell sekarang,” gue berusaha bangun, dengan bantuan tante sedikit gue perlahan berjalan ke kamar Maxwell. lumayan terasa lemas, tapi agak pusing kepala gue.

“Sssttt” kak rico suruh tak bersuara,

“Maxwell baru tidur pulas, “ katanya pas gue berdiri di ujung tempat tidur, gue rasa ini ruangan vip, karena gak ada pasien lainnya, sama kayak kamar sebelah.

“gimana kondisinya kak?”

“Udah lebih baik, tapi masih butuh perawatan ekstra, “ gue tertuju ke alat yang di pasang di samping Maxwell, dan baru tau Maxwell pakai alat bantu pernafasan sekaligus alat yang mirip di tv, kabel-kabel kecil mseperti menempel ke dalam tubuhnya.

“Maxwell kenapa?”

“Dia kena DBD, tapi masa kritisnya udah lewat kok,” jelas pelan kak rico, tetap saja jantung gue berdebar dengar kata kritis.

“maaf.” Kata gue lirih, karena gak nyangka demamnya gara-gara DBD,

“shan… udah ah. Maxwell udah baik-baik aja kok.” Bisik tante pegang tangan gue. Wajahnya pucat dan tangannya terasa dingin. Gue duduk disini sampai gue dengar dari dokter datang periksa Maxwell.

***

“Selamat siang” ucap dokter masuk bersama suster yang membawa sesuatu,

“Ternyata ada disini, minum vitamin dulu,” ucapnya.

“Dok… anak saya kira-kira kapan bisa pulih?”

“satu minggu sampai dua minggu, tapi saat ini kondisinya menunjukan kemajuan, jangan kwahtir ya” nafas gue lega setelah dengar langsung dari dokternya.

“ini bu, vitaminnya,” angguk gue pelan, telat satu teguk di mangkuk kecil, mangkuknya mirip mangkuk sake. Dan jelas ini bukan vitamin, rasanya pahit,

Satu hal yang gak enak di rumah sakit, selain vitamin yang pahit, tetapi makan siangnya hambar taka da rasa. Tapi semua habis, termasuk cemilan buat yang jaga pasien.

Dokter juga bilang kalau besok gue udah bisa pulang, tepatnya selang infusnya bisa di cabut,

Pikiran yang menganjal sekarang, sedekatkah Maxwell sama stella. Sampai orang tuanya perduli, apa orang tuanya tau kalau gue bukan dari sekelas mereka,

“Shanty” ucap kak rico masuk ke dalam.

“ada tamu, “ lanjutnya.

“siapa?” kak rico geleng-geleng kepala, entah kenapa pikiran gue langung jelek,

“Cewek cowok?, kalau cowok jangan kasih masuk kak tanya dulu namanya siapa” kata gue pelan.

“Cewek, namanya Amanda” Dari jauh, langkahnya begitu anggun walau tubuhnya gak terlalu tinggi. Gue langsung berdiri pas masuk dengan anak kecil, pasti itu anaknya bernama stella.

“Hiii” sapa nya buat gue agak terkejut.. gue cuman lambaikan tangan kecil. Sikap ramahnya seolah dia pernah kenal gue.

“Mama stella, Amanda” ucapnya ulurkan tangan. Penampilan mirip sosialita kebanyakan, gue akuin cantik.

“Mamanya Maxwell, shanty” kata gue jabat tangannya,

“Udah tau kok, gimana kondisinya?”

“Masih butuh waktu, satu minggu bisa pulih” kata gue agak canggung karena jarang ada orang tua siswa seramah ini ke gue. Biasanya cuek bebek.

“good, Get well soon” ucapnya gue gak paham dari ucapannya. Gue langsung ajak duduk di salah satu sofa di ujung kamar, anaknya gak ikut dia duduk sambil liatin Maxwell.

“Saya mau bilang sesuatu” kata gue setengah berbisik.

“Untuk, biaya..” gue ragu buat bilangnya.

“Kamu gak usah pikirin, itu hal yang kecil buat saya. Lagi pula saya lakuin ini ikhlas karena stella teman baik Maxwell, saya gak keberatan kok” ucapnya pegang tangan gue, pertanda gue gak usah banyak pikiran.

“Tapi kok bisa Maxwell dekat sama stella,?”

“Stella banyak bilang ke saya, Maxwell sering bantu dia di sekolah,” senyumnya,

“terkadang, hubungan anak kecil sama temannya hanya mereka yang tahu. Karena stella berpikir kebaikan harus di balas kebaikan” lanjutnya buat gue nundukin kepala.

“jadi anggap aja ini balasan kebaikan Maxwell dari stella”

“saya pamit kalau begitu. Mau antar suami dulu, lekas sembuh buat Maxwell” Amanda jalan perlahan keluar.

Hal yang bisa petik sekarang, jangan menilai orang dari covernya. Termasuk Amanda, pasti pria yang mendapatkan dirinya begitu bahagia mempunyai sosok seperti Amanda.

***

Benar kata dokter, masa pemulihan Maxwell sudah satu minggu, dan hari ini hari ke delapan. Kalau Maxwell menunjukan kemajuan terus menerus. Tiga hari lagi dia di perbolehkan pulang.

“maxwell kemana tante?” tanya gue pas ada tante aja di dalam,

“Teman lama kamu, dia sering kesini kok pas kamu gak ada. Tapi sebentar karena gak ketemu sama kamu”

“Cewek cowok tante?” tanya gue, perasaan gue gak enak.

“Cowok,”

“sekarang kemana?”

“Taman rumah sakit, tunggu aja sebentar lagi ke sini kok” kata tante santai, gue langsung lari ke arah taman rumah sakit.

Mau apa lagi dia kesini, mau apa lagi dia muncul di hadapan gue sekarang. “ihhhh” gumam gue kesal ini taman rumah sakit besar banget.

“ituu” itu Maxwell, gue bisa lihat jelas. Dia lagi duduk di kursi roda dan di belakangannya ada orang itu. Tapi tampaknya Maxwell begitu senang, tawanya lepas pas mereka bercanda. Entah kenapa gue tersenyum lihatnya.

“Gak boleh!!” gue langsung kearah mereka.

“mama!” Maxwell lambaikan tangan,

“Anda yang sentuh anak saya, oke!” pekik gue langsung ambil alih kursi roda.

“shan..” ucapnya pelan.

“Saya gak kenal anda, jangan sok kenal ya” tunjuk gue.

“please”

“Jangan mendekat, kalau gak saya akan teriak paham?!” gue langsung buang muka, ajak Maxwell kembali ke kamarnya.

“Mama udah bilang ke kamu, jangan pernah dekat sama orang itu” kata gue pelan,

“Tapi dia baik ma, “

“Itu cuman di depan kamu, dia orang jahat.”

“Kenapa mama tau?” pertanyaan buat gue terdiam sampai ke kamarnya.

“itu karena…” gue gak bisa jawab, karena gue selalu jawab dengan jujur pertanyaan dari Maxwell.

“Itu karena,,, kita belum kenal dekat. Jadi bisa aja orang jahat berpura-pura baik”

“iah” jawabnya, gue lansung angkat Maxwell kembali berbaring di kasurnya, untuk minum obat. Mungkin karena efek obatnya Maxwell cepat terlelap.

“Tante, kenapa gak bilang kalau dia pernah kesini? Dan izinin Maxwell keluar sama itu orang?” tanya gue pas tante masuk ke kamar dan memelankan suara jangan sampai Maxwell terbangunm

“Tante gak tau, kalau kamu gak kenal. Tapi dia kenal kamu, Lagi pula Maxwell yang minta keluar karena bosan di kamar.”

“Tapi memang dia siapa shant? Kamu seperti kesal sama itu orang?” pertanyaan tante yang buat gue menghela nafas. Seperti gue harus bilang sekarang.

“Diaa…” kata gue serasa membuka luka gue yang lama, rasanya sesak di dada.

“shant” ucap tante elus rambut gue,

“Diaaaaaa” mata gue mulai memerah.

“Dia orang ituuuuu,” gue gak kuat langsung peluk tante.

“Maksud kamu?? Orang itu yang buat kamu seperti ini?”

“iahhh,” jawab gue merasakan rasa sakitnya seperti baru kemarin terjadi. Gue gak kuat tahan air mata gue yang mulai keluar.

“kenapa bisa??” gue tau tante terkejut, harusnya gue bilang dari awal. Jangan sampai dia dekatin Maxwell. Dia gak boleh tau Maxwell adalah anaknya. Itu gak boleh terjadi. Gue cuman bisa bicara dalam hati.

***

Hari ini Maxwell di izinkan pulang sehari lebih cepat dari gue duga, itu karena gue minta izin pemulihan Maxwell di rumah. Tapi haslinya gak jauh berbeda. Selama itu juga tante, om sana kak rico awasi kamar jangan sampai dia datang kesini lagi.

“please, biarkan saya ketemu shanty kali ini” suara dari luar kamar. Dan suara kak rico termasuk tante gak izinin dia masuk.

“itu siapa ma?” tanya Maxwell

“Om jahat yang kemarin,”

“Aku mau ketemu dia boleh?”

“buat apa?”

“Buaat ucapin terima kasih,”

“mama bilang dia jahat, tapi aku bilang dia baik, Ya ma” katanya pegang tangan gue.

“habis itu aku janji,” ucap Maxwell bikin gue mau turutinnya.

“Tapi ingat sebentar aja” tante termasuk kak rico kaget gue keluar dari kamar, Maxwell langsung lari dekatin dia.

“Terima kasih ya om, “ setelah bicara seperti itu Maxwell langsung lari ke arah gue, benar-benar ngomong sebentar.

Dia cuman berdiri tanpa bergerak, gue tau pandangannya gak lepas dari Maxwell sama gue. Tapi gue gak mau tatap mukanya,

“ma”

“iah?”

“Tas aku ketinggalan di kamar”

“mama ambil yah, kamu tunggu mobil” angguk pelan

“Tante temenin yah, nanti kamu ke temu dia gimana?”

“Gak usah tante, aku bisa atasin sendiri kok” andai dia coba tahan gue, tinggal teriak keras urusan selesai.

Nafas lega, ternyata dia udah gak ada. Termasuk tas kecil Maxwell yang isinya sabun mandi sama sikat gigi kesukaannya.

“cari ini?” suara orang itu dari luar kamar sambil menunjukan tas kecil Maxwell, gue langsung dekatin dan rampas tanpa sepata kata pun.

“Salah aku masih rindu sama kamu?” suaranya bikin hentiin langkah kaki.

“Aku tau kamu punya anak, tapi aku yakin tuhan kasih satu kesempatan lagi.”

“Gak ada kesempatan, karena anda yang membuat kesempatan itu hilang, “ jawabnya gue noleh.

“Saya sudah bahagia sama anak saya, dan jangan ganggu, tepatnya jangan pernah kembali di kehiduapan saya” kata gue merasakan rasa sesak pas bicara seperti ini.

Apa gue merasakan sama, merasakan rindu setelah bertemu dia, apa ini rindu?, gak mungkin. Gue udah berusaha kubur dalam-dalam persaan itu, untuk seorang pembual. Gak mungkin gue rindu seseorang seperti dia.

“Dan jangan mendekat, atau saya teriak?”.

“Jangan pernah temuin lagi, hasilnya gak akan berubah, gak ada kesempatan untuk hal yang sama” gue rasain mata gue memerah lagi, gue langsung melangkah cepat masuk ke mobil.

Gue gak yakin sama dengan ucapaan gue lagi, karena melihat dia rasanya lima tahun lalu itu terulang kembali.

Bersambung…