Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 25

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat

Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 25 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 24

Dia Shanty​

Rey-

Apa gue salah lihat orang, cewek itu mirip shanty. Walau memang wajahnya sedikit gemuk. Tapi memang benar mirip shanty.

Jantung gue berdebar kencang dari sebelumnya, dari tinggi badannya kurang lebih mirip. Suara pintu kebuka, ternyata itu donny dan Amanda masuk ke dalam.

“Rey sorry, jadi rerpotin lo jemput stella” kata donny.

“papa” teriak stella langsung lari, tapi bukan ke donny melainkan ke mamanya.

“yahhh” lenguh pasrah donny.

“Om rey, mau ikan?, aku kurang suka ikan” katanya pas antar stella mau di ajak keluar ruangan ke ruangan om roni.

“Ikan apa?”

“Gak tau, tadi aku tukaran makanan ke Maxwell”

“oke sini, terus kamu mau makan apa?”

“kenyang, ma ke opa,” rengeknya,

“Sama papa sini”

“gak mau…!!”

“aku tinggal pa, rey..” ucap Amanda selesai kasih gue tempat makan punya stella,

“okeh, “ Gue langsung tutup pintu sekaligus tutup tirai di jendela,

“Mau ngapain lo rey? Ajak gue bercumbu??”

“Shut up,Gue masih normal, gue mau ngomong sama lo penting.” Kata gue gak mau bercanda.

“rasanya kangen liat lo ngomong serius gitu rey, ada apa? Soal perusahaan bokap?” tanya,

“bukan. Menurut lo kalau gue ketemu shanty itu sebuah kebetulan apa cuman omong kosong?” pertanyaan yang membuat donny terdiam.

“Rey rey, yah omong kosong lah, di kepala lo cuman ada shanty, shanty, makanan aja mirip dia,” donny geleng-geleng kepalanya,

Senyum gue pas lihat isi kotak makan stella itu pesmol ikan, gue yakin secara gak langsung dia yang buat.

“Lo cicipin, “

“Ikan?”

“Ingatan lo kan tajam, coba cicipin”

“pesmol ya?”

“Ia cepetan!!” satu cubitan langsung kecil masuk ke mulutnya.

“mirip gak sama masakan shanty waktu dulu?”

“mirip, lo yakin?”

“cewek yang di rumah makan itu, mirip shanty. Gak sengaja gue berpapasan sama dia pas antar temannya stella” kata gue dengan wajah serius.

“Lo gak salah liat?”

“Gak tau, wajahnya lebih gemuk. Tapi mirip sama shanty,”

“tapi yang gue dengar di janda rey, masa ia shanty janda?, kecuali dia hamil dan lo bapaknya” ucap donny sedikit bercanda. Tapi benar juga sih, kalau itu shanty dia udah menikah dan kemungkinan cerai,

“Boleh minta tolong, buat pastiin dia shanty bukan”

“Suruh cek ke rumah makan?”

“gak, minta biodata yang namanya Maxwell, dia sekelas sama stella”

“maxwell? Yang matanya biru?, oh dia anaknya yang rumah makan?” parah memang, kalau lagi kumat memang gak berubah si donny. Tapi gue baru tau kalau Maxwell matanya biru, gue gak terlalu perhatiin tadi.

“Gue ke bilang ke Amanda yah, temannya kan yang punya sekolah”

“oke, thanks”

“dan lain kali gak perlu tutup gorden, atau pun kunci pintu. Ruangan gue aman dari siapapun okeh, gue gak homo yang jelas” ucap donny acungin jari tengah sambil langsung keluar ruangan, entah dia kemana. Gue milih mau habisin ini ikan.

***​

Belum ada tanda-tanda donny kasih kabar, apa mungkin memang gue salah lihat orang. Dan semua itu hanya kebetulan.

Kalau hanya sebuah kebetulan, ucapan donny benar. Di otak gue cuman ada shanty dan shanty selama ini. Sepertinya gue harus ke psikoterapi untuk masalah ini, mencurahkan masalah gue yang terpendam.

Suara pintu kebuka, donny masuk dengan membawa sebuah kertas. Tampangnya datar, dan sepertinya benar gue cuman halusinasi.

“Gue salah orang yah don?” tanya gue pas dia di depan gue. Dia cuman senyum.

“Besok antar gue ke buat ke ahli jiwa yah” gue langsung ambil beberapa kertas.

“buat apa? Lo liat dulu, itu biodata orang tua Maxwell” pintanya duduk di pinggiran meja. Gue langsung buka dengan semangat.

“Gak ada nama ayah di biodata Maxwell,” ucapnya pas buka lembar pertama.

“Lo lihat di lembar berikutnya, kata Amanda lo yang harus lihat. Dia gak izinin gue lihat.”

“jadi lo gak tau?’

“gak, buka aja, gua tau sebatas yang gue bilang tadi” gue langsung terkejut pas lihat scan dari formulir pendaftaran, KTP termasuk berkas kurang penting.

Mata gue gak kedip pas lihat nama KTP nya, dengan nama shanty. Alamatnya benar di Kalimantan, termasuk tanggal lahir.

“Ini shanty donn” kata gue dengan mata sedikit berkaca, gue senang karena gue gak salah lihat.

“Lo lihat tahun lahirnya, kalau di tambah dua belas, itu pas sama umur gue, alamatnya juga” donny juga gak bisa berkata apa-apa, dia cuman menatap dengan pandangan kosong kea rah gue.

“Gue yakin itu dia, yakin serratus persen itu shanty don” gue gak kuasa nahan air mat ague, karena doa-doa gue selama ini di kabulkan.

“Jadi selama ini dia ada disini, “

“andai kita punya fotonya lengkap, pasti bokap gue bisa temuin dia tiga tahun lalu” gue udah dengar ceritanya, jadi gak usah di ceritain lagi.

“Gue harus temuin dia sekarang, gue mau ngomong langsung” gue gak bisa piker panjang hari ini.

“Gak bisa, pasti di tolak mentah-mentah. Dia pasti gak bakalan ketemu sama lo. Gue yakin itu” ucapan donny ada benarnya.

“Pertanyaan besar buat sekarang rey, maxwell ayahnya siapa??”

“Apa mungkin anak lo?, dari lihat tahun lahirnya. Kemungkinan Maxwell lahir di tahun sama sama stella.”

“Dan kecelekaannya pasti di tahun sama kayak gue sama Amanda?” ucapan donny sekarang bikin gue down,

“Gue yakin, tapi matanya biru. Apa mungkin dia hamil gara-gara bule?”

“Maksud lo? dia disana”

“Stopppp, gue gak mau pikir itu dulu,” gue gak mau berpikir terlalu jauh.

“lo ada rencana?”

“Belum, dan ini urusan gue sama shanty.” Senyum gue pelan, dan mulai hari ini perjuangan gue di mulai, harapan yang bermula nol persen, kini gue sedikit mulai bangkit walau berat, gue harus bisa.

***

Selama satu minggu lebih pikiran untuk awalan memulai menemuinya seolah masih belum dia adalah shanty,

Gue putusin hari ini buat makan siang, sebelum jam dua belas. Rasanya beda dari sebelumnya. rasa ragu yang sangat besar buat langkah masuk ke dalam.

Masih sepi seperti biasanya, tak ada tanda-tanda shanty, apa dia tau kalau gue kesini, dan sengaja dia gak munculin diri.

“OMMM”

“TANTEEEEEEEEE” teriakan dari lantai atas, dan suara langkah kaki cepat bersamaan dengan Shanty lagi gendong anak kecil, itu kemungkinan Maxwell.

“Maxwell, panas demam lagii” ucapnya dengan nafas terengah, gue rasa dia lari sambil gendong Maxwell ke lantai bawah”

“Aku bawa ke rumah sakit “

“Okeh om ambil mobil, “

“Bukannya lagi di bengkel?” pembicaraan yang gak langsung gue dengar,

“Aku naik taksi aja bisa kok” langkahnya agak berhenti pas dia lihat gue, dan hampir jatuh. Untungnya dia pegangan ke meja.

“Saya bantu” gue langsung coba angkat anaknya,

“Gak butuh” jawabnya dengan nafas terengah, entah kenapa gue gak perduliin karena kerasa tangannya anaknya terasa panas. Secara gak langsung gue ngerasa panic lihat kondisinya seperti ini,

“Gak usah,” ucapnya pas gue coba pegang tubuh anaknya.

“Ini demi anakmu bukan saya, jadi saya bantu” kata gue coba angkat lagi, dia gak nolak dan langsung ke mobil.

“masuk dulu” pinta gue pas buka pintu belakang mobil, dia nurut sambil gue taruh di sebalahnya.

Selama perjalanan begitu hening, tak ada suarapun. Hanya hembusan nafas yang keluar masuk dari hidung.

Sesekali gue lihat dari spion tengah, padangannya terus ke arah anaknya, sambil sesekali tanganya elus rambutnya.

***

Sesampai di rumah sakit, gue yang bopong lagi Maxwell ke UGD, shanty ikut dari belakang tanpa berkedip lihat anaknya. Tapi gue bisa lihat dari wajahnya yang terlihat sangat lelah.

“dok..” gue langsung rebahin di ranjang, untungnya ada dokter jaga di UGD.

“Panasnya tinggi, saya cek” katanya. Shanty terus mendampingi Maxwell yang terlihat lemas,

“Gimana dok?” tanya gue penasaran, atau tepatnya gue ikutan kwahtir lihat kondisinya.

“Yang jelas, anak ini harus rawat inap sambil tunggu hasil test darahnya keluar” jelasnya, saat dokter bersiap-siap ambil darahnya.

Tak ada rengekan seperti anak kecil lainnya terkenan jarum suntik, dia terlihat kuat. Atau mungkin lemas karena sampai tak merasakan sakit.

“Silahkan ke bagian adminitrasi” senyumnya, gue tau maksudnya buat bayar rawat inap atau bayar biaya untuk sekarang. Shanty langsung jalan tergesa keluar UGD, gue juga ikutin kemana dia pergi.

“Sana belok kiri” kata gue pas dia gak baca petunjuk arah, tapi dia gak dengar anggap gue angina lalu. dia ambil kanan. Dan gue ikutin dia kekanan.

Ternyata jalan itu kea rah wc, dan putar arah lagi ke tempat tadi. Gue tau di gak nyaman, itu kelihatan dari jalannya yang terburu-buru.

“Mbak, mau daftar” katanya.

“Nama orang yang tanggung jawab siapa namanya?” tanya mbaknya.

“Rey.”

“Shanty” bersamaan gue sebut nama gue sendiri, termasuk shanty,

“Saya mamanya, dia bukan, saya yang tanggu jawab “ ucapnya tanpa noleh ke gue dengan nada yang sedikit kesal. Sebenarnya gue ngomong itu reflek aja karena efek ikutan kwahtir liat kondisi anaknya.

Shanty keluarin semua isi tasnya, atau tepatnya mengeluarkan isi dompetnya dari uang terendah sampai tertinggi. Yang jelas ini buat penangan UGD bukan rawat inap,

Shanty jalan lagi ke ruang UGD, pintunya tertutup setelah beberapa suster masuk kedalam. “ Maaf bu, gak ada yang boleh masuk, dokter lagi tanganin pasien” kata suster yang bawa peralatan cukup besar, gue pernah lihat. Biasanya buat lihat detak jantung.

“Tapi itu anak saya sus” desisnya noleh ke dalam ruang UGD,

“Iah saya tahu, tapi lebih baik tunggu sampai dokter selesai”.helaan nafasnya mengintip dari pintu, gue beraniin berdiri gak jauh darinya.

“Apa kabar” ucap gue pelan, tapi shanty gak respon, menoleh pun ngak. Dan dia langsung duduk di bangku panjang.

Gue ikutan duduk, tapi jarak gue sama shanty gak jauh, hampir delapan bangku dari tempat gue duduk, kalau bisa di bilang ujung di ujung.

Kepala berandar ke tembok belakangnya, dan tak pernah noleh sedikit pun kea rah gue. Memang cocok dia perlakuin gue kayak gitu sekarang.

Kali ini kepalanya sedikit bergerak, gak lama dia kembali tegak. Gue kurang jelas tapi sekilas matanya terpejam di ikutin kepalanya miring ke kanan. Dikit demi sedikit gue pindah satu bangku sampai lebih dekat shanty,

“hampirrr” desis gue pelan pas pegang pundaknya, dan kepalanya bersandar di pundak gue. Rasanya begitu senang shanty seperti ini kalau dia tak terlelap.

Kerasa pundak gue pegal, dan tanda-tanda shanty gak terbangun, gue coba geser posisi gue lebih jauh. Meletakan kepalanya di paha gue.

Itu berhasil tanpa membuatnya ke bangun, senyum pelan pas lihat model rambut shanty. Dia potong pendek,

Kalau panjang seperti dulu, wajahnya tak akan sebulat ini. Memang dia lebih gemuk sekarang, atau tepatnya setelah punya anak.

Gue harus tahan buat elus pipinya, karena kapan lagi gue bisa sedekat ini. Dan ini moment yang paling special selama lima tahun belakangan ini. Walau shanty tak berpikir demikan.

Setidaknya ini cukup buat gue sekarang.

***

Makin lama paha gue kerasa mati rasa pas lihat dokter keluar dari ruang UGD, “Dokkk” desis gue pelan, karena shanty gak bergerak sama sekali posisinya seperti ini.

“sussss” desis gue agak keras, tapi aneh shanty gak kebangun sama sekali.

“Dokkkter,, sebentar” ucap gue seperti biasa,

“Iah kenapa?, orang tua pasien?” tanyanya

“Bukan, tapi ini yang lagi tidur. Dia gak bangun-bangun dok, apa dia pingsan?” tanya gue. Dokter pun langsung dekatin, dan gue posisi shanty terlentang. Dokter langsung periksa, sambil tersenyum pelan.

“Dia hanya kelelahan, butuh istirahat” senyumnya lagi, sekaligus nafas lega shanty gak terjadi apa-apa.

“Bisa tolong dok, sekalian rawat dia disini?, saya mau ke ruang administrasi”

“Bisa,” suster langsung bawa keranjang dorong,

Gue langsung ke administrasi buat bayar semuanya termasuk perawatan shanty yang tak sadarkan diri karena kelelahan.

“Vip room, buat dua orang termasuk pasien anak nama Maxwell, sekarang tanggung jawab saya.”

“Yang satu untuk istri bapak?”

“hee?, aminn” kata gue reflek pas focus lihat shanty yang di dorong beberapa suster.

“maksudnya pak?”

“Maksudnya pasien yang bernama shanty juga saya yang tanggung jawab” gue tau itu suster itu tahan ketawa karena ucapan gue tadi.

Selesai, gak perlu tahu biayanya berapa. Karena itu gak penting. Sekarang yang penting shanty dan anaknya sembuh. Dan kata dokter Maxwell terkena DBD.

“Pada fase ini suhu tubuh mulai turun, dan Anda tidak lagi mengalami demam tinggi. Namun, justru ini merupakan fase yang paling berbahaya. Sebab, ada kemungkinan terjadi kebocoran plasma darah yang tidak terdeteksi atau terjadi perdarahan. Keduanya berpotensi mengancam jiwa.

Fase kritis dapat terjadi pada 3-7 hari sejak mengalami demam dan berlangsung selama 24-48 jam. Pada masa ini, cairan tubuh harus dipantau ketat. Diusahakan agar pasien tidak mengalami baik kekurangan cairan maupun kelebihan cairan. Biasanya pemantauan dokter terhadap pasien yang mengalami fase kritis akan lebih ketat sampai fase ini selesai dan pasien memasuki masa penyembuhan.

Pada beberapa kasus, kondisi pasien DBD tidak segera membaik pada masa fase kritis. Jika demikian, pasien dapat mengalami syok, di mana terjadi penurunan kondisi pasien, seperti penurunan tekanan darah, denyut nadi yang cepat tapi lemah, serta perdarahan pada kulit dan atau pada rektum. Kondisi ini, apabila tidak ditangani dengan baik dan segera, dapat berujung pada kematian.”

Jelas dokter pas gue tanya kondisi anaknya shanty. Dan lebih baik shanty gak tau akan hal itu, yang jelas anaknya sekarang akan membaik karena di bawah pengawasan dokter professional.

Shanty kini di ranjang dengan selang infus menancap di tangannya, gue seperti kembali saat itu. Saat dimana gue harus tinggalin dia. Tapi kali ini gue gak akan tinggalin dia seperti dulu.

Bersambung