Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 23

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat

Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 23 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 22

Pesmol lagi​

rey-

Udah satu mingguan gue santai sambil yakinin diri gue sendiri buat bisa bantu se optimal mungkin om roni,

Dan hari ini om roni undang gue ke kantornya, atau rasanya seperti hari pertama gue masuk kerja, padahal gue gak ikutan kerja.

Gue kesana sendiri, karena doni ada kerjaan lain, di rumah juga sering kosong, karena mereka tinggal di apartement yang gak jauh dari kantor.

“Tiap hari macet seperti ini ya pa?” tanya gue ke supir yang jemput gue.

“iah, pak” gue tau alasannya sekarang donny jarang ke rumahnya sendiri.

Sekarang udah jam mau jam Sembilan pagi, gue berangkat dari rumahnya donny jam tujuh pas, dan satu jam lebih gue kejebak macet tanpa sebab.

“Reyy” panggil om ronii yang ternyata tunggu di lobi,

“Maaf om, telat, macet parah tadi” Kata gue dengan wajah bersalah.

“Iah harap maklum aja, hari senin, Yuk ikut om”

“Kemana?”

“ikut aja,”

“Donny gak ikut?”

“dia ada kerjaan lain, “ om roni langsung ajak ke salah satu ruangan yang satu lantai dengan ruangannya. Dengan jalan perlahan di samping om roni, ada beberapa orang yang udah tunggu, hampir Sembilan orang udah ada di mejanya masing-masing dengan pakaian formal, termasuk gue juga.

“Selamat pagi semua” om roni membuka pembicaraan, gue gak tau om roni mau apa,tampang mereka semua sedikit tegang.

“Hari ini, saya mau perkenalkan seseorang yang akan membantu sementara di perusahaan ini”

“Namanya Reynold Anggara Wijaya” mereka tampak terkejut dengar nama gue, pastilah karena nama gue terkenal beberapa tahun lalu soal negatifnya di banding positifnya untuk sekarang,

“Mohon kerja samanya” gue berdiri sambil membungkukan diri sebagai tanda salam kenal. Dan om roni perkenalkan satu persatu orang penting di perusahaannya.

Gue tau mereka semua ngerasa gak nyaman dengan adanya gue, mereka tunjukin hal itu tanpa sadar mereka pas tatap sekaligus jabat tangan,

“William, “

“saya ingin bicara sama kamu” kata om roni, padahal gue udah siap-siap mau keluar ruangan, tapi gak jadi. Tunggu om roni keluar.

“Saya dapat laporan, kamu membuat suasana gaduh kemarin dengan seseorang?”

“Iah pak”

“Ada masalah apa?”

“Itu… Karena masalah kecil saja pak, jujur saya kurang suka ada orang luar selain karyawan masuk begitu aja ke divisi lainnya tanpa pengawasan” ucapnnya, bikin gue keinget kejadian keributan kemarin.

“maksud kamu kurir makanan itu?”

“Iah pak”

“Kamu belum beradaptasi, saya memang izinin masuk buat dia. Karena saya suka orang yang bertanggung jawab dan energik,”

“saya tahu pak”

“Lagi pula dia cuman sekedar kirim dan langsung pergi gak buat masalah selain itu kan?”

“Iah pak, saya paham, saya gak akan mengulanginya lagi” gue senyum sedikit, kalau om roni tau masalahnya karena kecil, pasti kena semprot.

“Silahkan keluar,”

“saya permisi pak”

“Boleh tanya om?” tanya gue pas jalan keluar ruangan, jalan di sampingnya. Kalau jalan seperti inget jalan bareng papa, tapi udah jarang gue lakuin itu.

“boleh”

“Emang si kurir itu lakuin apa sampai om izinin masuk?” gue pensaran karena cuman disini aja ada orang luar sampai boleh masuk ke dalam dengan leluasa.

“Oh dia, tiga tahun lalu tepatnya, dia gak sengaja tumpahin semua makanan pesanannya ke mobil om yang terpakir.”

“Dia naik motor?”

“iah, sepertinya baru bisa naik motor, “ ketawa tipis om roni mengingatnya.

“Habis itu?”

“Dia tunggu di depan mobil dengan satpam gedung sampai om datang,”

“saaat tau pemilik mobilnya adalah punya om, dia minta maaf, dan berjanji langsung bersihin makanan yang tumpah di cap mobil”

“Memang awalnya om kesal, kenapa orang macam dia bisa masuk ke dalam sini”

“Tapi, yang membuat om kagum, dia pegang ucapannya. Di saat itu juga dia langsung cuci mobilnya dengan peralatan seadanya.”

“Itu namanya tanggung jawab kan?” tanya om, buat gue kagum sama ceritanya. Gue cuman angguk-angguk.

“Gak sampai situ, dia suruh om ke rumah makan apa ya om lupa”

“Selera segar?” sambung gue.

“Nah iah, kok kamu tau?”

“Donny kasih tau kalau om pernah makan disana”

“Makannya enak, om akuin, dari situ om izinin dia masuk kalau ada pesanan ke sini” cerita nya pendek tapi gak terasa udah di lantai bawah.

“rey masih banyak belajar sama om,”

“Harus, masih muda dan punya harapan. “ ucap om roni bikin gue kembali teringat sedikit.

“Makan, siang kita kesana, berdua. Kamu harus cicipin, pasti kamu suka” lanjut om tepuk pundak gue sambil sedikit remas.

“boleh om”

“kalau gitu om balik ke kantor dulu okeh”,

Gue balik ke ruangan donny, yang sekarang jadi tempat gue sementara di kantor ini, luas dan disana terpampang foto keluarga donny, istri dan kedua anaknya.

Bisa apa ngak gue punya keluarga kecil yang bahagia?, kalau kondisi seperti ini terus gue gak akan bisa. Satu tahun maupun sampai lima tahun sekalipun.

Gue iri sama donny yang sekarang, walau awalnya gue kira dia akan susah dapat cewek. Tapi takdir berkata lain, dengan sedikit kecelakaan, dia menjadi seperti ini. Semakin berkembang.

Tapi gue semakin layu, dan tinggal tunggu kering, lalu hancur terbang terbawa angin.

***​

Seketaris om roni bilang kalau gue tunggu di lantai bawah, sekilas seketarisnya cantik sekaligus langsing. Tapi gue gak terlalu focus kea rah wajahnya, atau tepatnya gue sekarang gak terlalu perhatiin wajah cewek yang cuman sepintas.

“Dean kamu ikut ?” tanya om roni, tanya kearahnya.

“gak usah pak, saya makan siang di kantor aja” jawabnya, dan kali ini gue perhatiin wajahnya sesaat.

Cantik, seyum tipisnya membuatnya lebih anggun. Gue bisa baca raut wajahnya, dia tipe orang terbuka dan pekerja keras.

“Cantik gak seketaris om?, Masih single dia” ledeknya tertawa.

“cantik kok om, kalau ganteng, nanti kayak si donny”: jawab gue dengan tawa pelan.

“bisa aja, kamu masih kepikiran yah sama cewek itu?”

“iah om”

“Huft, andai aja kita punya foto lengkapnya alamatnya juga kan, bisa cari dengan cepat” om roni mengingat kembali kejadian lima tahun kemarin, walau sudah lama tapi rasanya seperti kemarin saat gue kepikiran.

“pasti ini kerjaan thalita, termasuk berkas di kampusnya juga lenyap begitu aja,” gue akuin, foto yang tersisa cuman foto dia yang canggung di foto. tak tersisa foto lainnya.

“Ya sudah, sekarang kita makan, udah sampai” kata om doni ajak gue masauk ke dalam rumah makan, masih sepi daripada kemarin. Gue lihat masih jam sebelas, pantas aja belum ramai.

“Silahakan” ucap salah satu wanita paruh baya, gue tebak usianya masih empat puluh tahunan.

Menunya gak jauh beda sama restoran Chinese food, tapi ada yang beda ada menu baru, namanya Pesmol ikan, pepes ikan, sama ikan bakar.

“disini enaknya kwetiawnya rey, kamu mau coba?”

“gak om, rey mau coba pesmol ikan mujair” gue langsung pesan, tapi wanita pemilik rumah makan sedikit terkejut pesanan gue.

“Bentar ya, saya tanya dulu masih ada apa ngak”,

“Okeh, memangnya udah mau habis ikannya?”

“Ngak, kebetulan ini masih promo, jadinya gak stok banyak” jawabnya,

“Nah itu dia, baru pulang”

“Tiiii… ikan pesmol masih ada gak?” tanyanya sedikit keras ke cewek yang baru datang membawa anak kecil di gendongannya.

“Adaaa satu lagi” jawabnya kejar anak kecil yang lari kea rah dalam.

Dan gak lama pesanan gue udah datang, “masih hangat silahkan” ucap wanita itu. Dari baunya enak udah kecium harum,

Satu lahapan penuh masuk mulut gue, rasa masakannya membuat gue sedikit tertegun. Gue pernah makan seperti kayak gini sebelumnya.

“Kamu kenapa rey?” tanpa sadar gue tundukin kepala sambil pegang kedua mata gue, karena gak langsung gue nahan sesuatu yang mau keluar dari sela-sela mata gue.

“Ngak om, rey cuman keinget aja,”

“soalnya makanan ini mirip dengan masakan dia om, “

“Cewek itu? Apa mungkin dia?” tanya om bikin gue gak mau pikir macam-macam.

“Ini efek gak pernah makan masakan kayak gitu selama ini om, “ senyum gue ambil tissue buat lap mata gue yang agak basah.

Yang jelas, gue kangen sama shanty, termasuk masakannya. Wajar aja kalau kita kangen sama seseorang masakan yang berbeda pun akan terasa sama.

Entah kenapa gue lebih suka makan dengan tangan kalau masakannya seperti ini, karena saat itu gue makan juga pakai tangan,

Benar-benar rasanya yang mirip, sampai gue memejamkan mata untuk menikmati setiap suapan. Tapi semakin lama terasa kembali ke masa itu.

Dimana shanty memperhatikan gue saat makan, dan rasa itu seperti datang lagi saat ini, tanpa sadar gue habisin sampai bersih termasuk bumbunya.

***​

“Om mau tanya ke kamu rey” tanya om roni pas kita udah selesai makan, dan sekarang perjalan balik ke kantor lagi.

“Kamu benar-benar sayang sama cewek itu ya? Sampai makanan pun kamu kerasa seperti dia”gue cuman senyum aja.

“emang nama cewek itu siapa om?”

“Hmm.. kalau gak salah titi”

“beda orang sepertinya om, rey rasa dia udah punya kekasih lainnya, dan mungkin saja udah menikah.” Walau di hati gue berharap gue bisa bertemu suatu saat, dengan kondisi apapun.

“Yang om dengar, dia janda” gue langsung noleh.

“Oh ya?”

“om gak tau suaminya kemana, yang jelas dia pria yang tak bertanggung jawab dan bodoh” gumam om dengan semangat,

“Bearti cuman mau enaknya ya itu orang,” senyum gue ikutan kesal lihat sikap pria seperti iu secara tak langsung.

“iah, kalau dia cuman mau tubuhnya lebih baik sama pelacur, ya kan rey?” gue angguk aja, tapi

Selama perjalan, gue baru sadar ada papan reklame yang isinya adalah produk kosmetik yang gue langsung kenal, yaitu logo kosmetik yang gue rintis.

Walau sekarang namanya beda, tapi thalita gak menganti logonya, dan gue dengar produk kosmetiknya menjadi barang brand di kota-kota besar di Indonesia.

Ingatan gue kembali ke thalita secara gak langsung, andai thalita benar – benar mengandung anak gue. Akankan perceraian akan terjadi. Dan secara perlahan gue bisa lupain shanty.

Apa gue termasuk masih beruntung karena gue sekarang kehilangan keduanya, bukan bearti gue menyesal melepas thalita untuk shanty, walau akhirnya nihil.

Kali ini pikiran ini selalu berkecamuk dalam otak gue, apa keputusan gue salah untuk itu. Dan sekarang gue menerima koskuensinya atas semua itu.

Tapi yang jelas gue gak akan menyesali semuanya, gue masih percaya tuhan. Karena ia tak pernah meninggalkan umatnya karena tak mampu mejalani cobaan darinya.

Kalau memang ini jalan kehidupan gue sampai akhir usia, gue akan mulai menerima dengan penyesalan seumur gue.

Dan gue gak menyesal karena mencintai shanty.

Bersambung