Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 21

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat

Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 20

Rasa Bersalah​

Rey-

Satu batang,

Dua batang…

Tiga batang..

Sampai satu bungkus rokok gak terasa gue habisin dalam waktu beberapa menit,

Itu yang gue lakuin seharian ini, kalau orang bilang kayak orang bodoh seharian cuman di habiskan buat merekok, pantas aja donny suka namanya rokok.

“ kak Rey… ini kantor, bukan smoking room oke!” omel tresya, dia adik gue paling kecil. Ada adik gue satunya, bernad. Tapi dia udah nikah dan pindah keluar negeri.

Beberapa bulan lagi, tresya menikah, karena memang udah di usianya menikah, karena gue sama adik – adik gue selisih empat tahun.

“Ada apa?”

“Papa tunggu di ruangannya, “

“pasti soal perusahaan, yah, “ satu hisapan panjang rokok.

“Entalah, yang jelas aku gak suka bau rokok!!!,”

“iah, lain kali di luar” langkah gue langsung ke gedung satunya tempat papa berada, tresya ikutin di samping gue sambil kasih permen buat bau mulut.

“Siang pak”

“Siang pak”

“Siang pak” ucap karyawan yang berpapasan dengan diri gue, padahal gue udah gak pantas jadi pemimpin disini. Karena kemampuan gue menurut drastic.

Langkah gue berhenti di ruangan tempat papa berada, tarikan nafas sambil cek mulut gue bau rokok atau ngak.

“Kamu juga masuk?” tanya gue pas tresya buka pintu.

“iahlah… aku kan anak papa juga!!” ucapnya sambil kerutin dahinya,

“yah kali aja, papa cuman mau ngomong empat mata” senyum tipis gue.

“Siang pa…” kata gue langkah masuk ke dalam, ternyata gak papa aja, tapi mama.

“Duduk” pinta papa,

“ada apa?” tanya gue minta permen ke tresya lagi.

“Perusahaan yang kamu pegang, semakin bulan semakin merosot tajam, kalau begini terus papa akan lepas saham di perusahaan kamu”jelas papa.

“Iah, rey gak konsen pa,”

“Kalau begini caranya, tresya pegang jabatan kamu sementara sampai kamu merasa lebih baik” gue langsung noleh ke tresya yang senyum lebar,

“tapi pa, dia belum tau seluk beluknya?”

“Udah kok kak, dari kak Donny!!!”

“masih rese juga itu anak!!” desis gue mau ketawa. Gue sama donny gak pernah ketemu langsung, karena dia udah menikah.

“Kamu setuju, sebagai gantinya kamu refreshing ke perushaan Om roni,.” gue langsung noleh ke papa.

“di Jakarta?”

“iah,kamu disana sekalian bantu monitoring, dan kamu boleh kembali kalau percaya diri kamu sudah pulih ” kalau gue kesana pasti ketemu donny, karena om roni adalah papanya.

“gimana?”

“rey setuju, “ senyum tipis gue, gue gak mau perusahaan ini hancur di pegang gue. Banyak karyawan yang tergantung di perusahaan ini. Cukup gue aja yang mengalami kehancuran.

“okeh, papa hubungin om roni”

***

Besok paginya gue langsung terbang ke Jakarta, yang memakan waktu dua jam kurang lebih. Gue gak kwahtir tresya yang pegang, karena dia punya kelebihan mempelajari sesuatu dengan cepat

Jalan ke pintu luar Bandara Soekarno Hatta, tapi belum ada tanda-tanda ada seseorang jemput gue, padahal papa bilang udah ada yan siap jemput.

“Reyyyyyy” teriak seseorang dari kejuhan, tepat dari sebelah kiri,

“Donny?” gumam gue bisa lihat jelas, orang yang panggil gue itu si donny. Tubuhnya makin ketahun semakin membesar, terbalikan sama gue sekarang.

“Apa kabar?” tanyanya julurin tangan

“baik don, lo?” gue jabat tangannya sambil peluk dia sebentar.

“yah begini adanya, haha”

“terus lo ngapain disini?”

“jemput tamu penting”

“Siapa?”

“Lo…”

“Gue di suruh bokap suruh jemput lo di bandara” donny tepuk pundak gue langsung ke mobilnya gak jauh dari pintu keluar,

“Silahkan pak “ kata supirnya, padahal gue kira donny yang jadi supirnya, yang jelas gue baru dua kali ke Jakarta, termasuk ini kedua kalinya.

“Kabar keluarga lo gimana don?”

“Sehat semua, stella udah punya adik hahaa”

“oh ya?, cewek cowok?”

“Cowok, baru satu tahun empat bulan,”

“selamat kalau gitu, gue ikut seneng don” karena anak pertama donny lahir sekitar lima tahun lalu, menikah karena kecelakaan saat pesta dan mabuk meniduri sahabatnya yang juga mabuk, mirip kayak gue sama thalita.

“Ada gebetan gak?” gue gelengin kepala,

“Lo masih kepikiran…” donny memelankan suaranya.

“Shanty?” ucapnya pelan. gue cuman senyum pelan dengar nama itu.

“Kalau di ingat, thalita memang kejam yah, hamilnya ternyata settingan rumah sakit”

“dan andai kita gak ceroboh, kita gak mungkin kehilangan kontaknya kan?” helaan nafas gue pas ingat lima tahun silam, atau tepatnya empat bulan setelah gue tinggalin shanty.

Thalita mengahpus semua konta gue sama donny, dan dia bilang, “Aku gak bisa milikan hati kamu, dia juga gak akan bisa!”

Ucapan thalita menjadi kenyataan, gue benar-benar lost kontak sama shanty selama ini. Semua usaha udah gue lakuin, termasuk datang lagi ke tempat dia kuliah.

Sayang, shanty gak kuliah, alamatnya rumahnya pun seadanya tak sedetail biasanya, Kalimantan lebih luas dari gue duga.

“Apa kabarnya dirinya sekarang” lamunan gue menatap kemacetan Jakarta,

“Lo harus bisa lupain dia, siapa tau dia udah nikah atau kuliah tempat tinggalnya”

“Gak semudah itu don, rasa bersalah gue yang buat gue kayak gini” desis gue menghela nafas, rasanya gue mau marah sama diri gue sendiri.

“terus? Lo mau gini terus sampai lo tua?”

“Kalau itu bisa hilangin rasa bersalah gue, gue gak masalah. Gue gak akan cari cewek lain, walau bertemu shanty sekarang mustahil.”

“Semua akan berlalu rey, kesenangan, kesedihan, saat ini, sayangin diri lo sendiri, demi orang-orang lo sayangin “

“RASA BERSALAH GUE KE SHANTY, KARENA GUE SAYANG KE DIA!!!!” teriak gue spontan, membuat supir dan donny langsung terkejut.

“Sorry, emosi gue kadang gak bagus” senyum tipis gue ke donny. Gue milih dia sambil lihatin ke luar jendela menangkan

***

Gak lama sampai juga di kantornya, gak jauh beda sama disana. Bedanya setiap gedung ke gedung lumayan padat.

“Yuk turun rey” kata donny, dari kejauhan gue udah bisa lihat om roni udah tunggu depan lobi.

“Reynold” ucapnya langsung jabat tangan,

“Apa kabar?” tanya

“Begitu aja om” senyum gue, pasti om roni juga tau kondisi gue, tapi itu buat hibur gue semata.

“ayo masuk-masuk” ajaknya langsung ke ruangannya paling atas,

“Papa udah bilang kan om?” tanya gue pas di dalam ruangan cuman bertiga, termasuk donny.

“yups, kamu gak usah repot-repot, kamu refreshing aja di kota ini, masih kepegang kok sama donny” ucap om roni.

“Iah, lo tinggal di rumah gue aja, ada kamar kosong kok”

“tapi om minta bantuan yah, “ kata om roni di sela-sela gue sama donny lagi ngobrol.

“apa om?”

“om minta bantuan kamu buat test karyawan om, apa mereka semakin meningkat apa menurun” jelas singaktnya.

“Ituu.. rey gak terlalu yakin om, soalnya udah lama banget rey gak lakuin itu” jawab gue pelan, memang sih dulu gue paling jago soal seleksi karyawan, tapi itu gak bisa gue lakuin lagi.

“Pasti kamu bisa, om minta tolong yah”

“rey coba kalau begitu”

“ok rey, terima kasih banyak, lebih baik kamu langsung istirahat aja, donny bisa antar kamu”

“dan maaf ya kamu harusnya gak kesini, tapi ini om yang minta kok” langjutnya pas gue beridir di depan pintu.

“iah om, rey paham kok”

Pintu lift berhenti di lantai dua, kejadian yang bikin gue penasaran, karena ada perdebatan disana. “ rey lo mau kemana?”

“Bentar” kata gue keluar dari lift.

“Mau gak mau harus bayarlah, itu sesuai pesanan!” ucap cewek itu ke salah satu karyawan.

“Gak mau, gak mau bayar. Bawa pulang aja.”

“heeeee?? Cuman ada daun bawang doing gak mau bayar? Tinggal di pinggirin aja males banget, kayakc ewek” ucap cewek itu kesal. Dan di ikuti beberapa karawan ketawa mendengarnya,

“okeh gue bayar, kembalian ambil aja”

“Gak butuh!!!”

“Gue balikin kembaliannya” ucapnya langsung serahin kembali dua puluh ribuan ke tangannya.

“dan terima kasih” lanjutnya pergi dari situ

“Itu bukan karyawan lo don?” tanya gue pas dia lewatin gue.

“bukan, yang gue tau dia kurir makanan aja, udah tiga tahun dia delivery ke kantor ini, gue jarang lihat juga sih” katanya.

“bisa masuk ke kantor?”

“ho.oh, bokap juga izinin kok, gue aja gak tau ceritanya dia bisa masuk seolah karyawan” kalau di kantor gue gak bisa seperti itu, selain karyawan kantor di larang keluar masuk dengan bebas.

Tapi kembali ke kebijakan perusahaan masing-masing,

Mobil udah siap tunggu di lobby, dan sekilas cewek itu berdiri di belakang satpam, seolah tak boleh pergi dulu. Dan benar setelah gue masuk, dia di perbolehkan pergi.

“Makannya enak kok, gak kalah makanan bintang lima,” kata donny pas gue noleh ke bekalang.

“oh ya? Sering kesana?”

“Lumayan, gak jauh dari sini juga, nanti kita lewatin rumah makannya”

“Tuhhh Rumah makan selera Segar,” tunjuknya ke sebuah ruko tiga tingkat,

“kapan-kapan gue ajak kesana, jam segini males juga rey. Rame banget,” memang benar sih dari kejauhan juga udah kelihatan banyak orang.

“boleh, kalau sempat” kata gue tertarik buat cicipin masakannya,

Sekarang arah mobil kea rah Pantai Indah kapuk, gue baca dari papan petunjuk. “rumah lo dekat pantai jadinya?”

“ho.oh, bisa lihat pantai juga. Tapi gak kayak pantai di bali, ada juga yang punya kapal persiar disini” jelasnya singkat.

Dari masuk aja udah kelihat ini perumah orang elite, lebih besar rumah disini di banding perumahan di medan.

Sepertinya gue bakalan betah tinggal disini, tapi lihat kedepannya..

Bersambung…

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat