Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 20

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat

Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 20 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 19

Balas Budi​

Shanty

Mimpi itu beberapa kali dalam bulan ini, rasanya masih begitu terasa sampai saat ini. Karena malam itu adalah malam titik terendah dalam hidup gue.

Atau boleh bilang, hidup gue hancur di malam itu. Tapi untungnya ada papa mama, dan juga om tante juga yang perduli sama gue.

Mereka semua memberi semangat untuk kesempatan gue bangkit perlahan, dan perjuangan lima tahun tak singkat, sungguh lama sampai saat ini.

Siang yang cerah di kota yang penuh orang bermuka dua, yaitu kota yang sangat banggakan. Kota dimana yang mengadu nasib untuk bertahan hidup. Yaitu kota Jakarta,

Tapi gue bertahan hidup di tempat om derry sama tante anna, disini gue bantu sekaligus kerja sebagai apa aja di restoran, atau tepatnya rumah makan.

Rumah makan yang tepat di kelilingi gedung-gedung menjulang tinggi, “Shan.. pesanan ke Gedung A Pancar semesta,” panggil tante anna dari dalam dapur.

“Iah tante, sebentar” gue rapihin rambut pendek gue, karena sekarang lebih suka rambut pendek.

“Berapa orang?”

“Empat, satu lantai semua” ucap tante kasih empat bungkus nasi goreng special,

“oke”, gue langsung naik motor ke gedung yang tante anna kasih tau, yang jelas ini gedung para karyawan banyak yang pesan kalau malas keluar gedung, gak terlalu jauh hanya 10 menit dari sini.

Dan kalau mau jam dua belas siang, pasti rumah makannya hampir penuh, gue harus kejar waktu kalau gak kasihan tante sama om pasti kerepotan.

Gue lakuin ini karena berhutang budi ke meraka, karena merakah yang membuat gue punya harapan baru. Oleh karena itu apapun gue lakuin demi hal itu.

“eitss, periksa dulu” kata satpam cegat gue,

“Hehehe ia pak aris,,” itu nama satpam yang jaga ini gedung sebelum gue masuk ke dalam, dan dia udah kenal gue hamper dua tahun, oleh karena itu gue di bolehin masuk kedalam buat antar makanan.

Ada satu lagi, namanya pak deri, dia juga kenal lama, tapi kali ini dia shift malam. Yang jelas gue dengan santai keluar masuk ini gedung.

Kalau ada tamu atau pemilik perusahan datang, gue gak boleh masuk sama sekali, tapi di titip sama mereka berdua. Tapi kebanyakn sih di perbolehin masuk.

“Ke lantai berapa kali ini?” tanyanya sebelum gue masuk.

“Lantai dua, ini namanya ada” gue tunjukin nama-nama orang yang pesan,

“oke, masuk aja, seperti biasa jangan terlalu lama” katanya,

“siappp” gue langsung hormat, sedikit tergesa-gesa karena udah mau jam dua belas.

“Yang namanya, Anggi, Tery, Nanang, Sama novi? Pesanannya sudah datang” suara gue pas udah sampai, dan orang- orang langsung noleh kearah gue seolah ke ganggu sama suara gue, padahal gue rasa udah pelan banget.

“Saya,” mereka anggkat tangan, gue langsung kasih ke meja mereka satu persatu, sekaligus minta pembayarannya.

Bisa aja gue titip pak aris atau pak deri, tapi ini kelebihan gue pelayanan terbaik agar orang gak bosen makan di rumah makan selera segar. Selesai gue langsung balik lagi,

***

Nah kan, dugaan gue benar. Meja makan di luar udah penuh. Seperti biasanya langsung siap siaga buat antar.

Karena disini gak ada karyawan, cuman mereka berdua, karena kedua anaknya kuliah di luar kota. “sinii shanty ajaa, meja nomor berapa?”

“nomor dua yang sana” angguk gue antar, dari meja ke meja.

Bisa aja om sama tante, cari karyawan. Tapi mereka gak mau, karena masih kepegang atau bahasanya belum terlalu butuh.

Gue akuin usia mereka baru kepala empat, masih terliha muda dan energik usia segitu. Dan gue terimpirasi dari semangat mereka, di sisi lain mereka kompak dalam beberapa hal.

“istirahat dulu, minum” kata tante, pas gue bersandar sejenak, karena belum duduk setelah pulang dari antar pesanan.

“iah, “

“mandi dulu ih, dari pagi belum mandi yah?”

“ih tante, tau aja, tanggung ahh, kalau udah sepi” kata gue antar pesanan terakir, dan akhirnya bisa duduk berselonjor di lantai.

Sebelum mandi gue pilih bantuin cuci piring, sambil buatin makan siang buat Maxwell, sebentar lagi dia pulang sekolah, memang telat dari biasanya. Karena Maxwell hari ini lagi tamasya sama teman-teman sekelasnya.

“selesai” nasi goreng sudah selesai di buat, tinggal limat menit lagi dia sampai. Itu kata gurunya, tapi tempat Maxwell sekolah selalu tepat waktu.

“mmaaaaaaaa…..” nasi goreng sudah selesai di buat, tinggal limat menit lagi dia sampai. Itu kata gurunya, tapi tempat Maxwell sekolah selalu tepat waktu.

“mmaaaaaaaa…..” suaranya dari kejauhan, Maxwell berlari dengan tas yang lebih besar dari tubuhnya, tapi isi tas itu tak ada apa-apa, karena Maxwell masih kelas TK, dan mungkin tahun depan sudah SD.Lihatnya ceria seperti ini, membuat gue selalu punya harapan.

“Udah mamam max?” dia cuman geleng-geleng,

“Makannya gak enak, enakan buatan mama” jawabnya pegang perut, pertanda dia lapar.

“okeehh, kita makan!!” porsi cukup besar, karena setengah porsi orang dewasa. Maxwell langsung masukin sendok penuh mulutnya.

“Pelan-pelan” angguknya kembali masukin satu sendok penuh. Gue cuman senyum aja lihat tingkahnya. Gak terasa dia sudah tumbuh besar.

“mama udah makan?”

“Udah kok, habisin yah”

“iah” angguknya lagi, langsung habisin sampai bersih tanpa sisa sedikit pun.

“Yuk mandi”

Emang sengaja gue sering mandi bareng sama Maxwell, karena sejak dini harus di ajarkan sex education, agar dia kelak jadi cowok yang bajingan.

“Ma.. kok teman aku itu mama gak bisa besar?” tanya Maxwell tunjuk kea rah buah dada gue,

“Belum saatnya, karena teman kamu masih belum dewasa,”

“ohh.. terus.. ini apa namnya ma?” tanyanya lagi pegang burungnya yang masih kecil.

“Itu namanya alat vital pria, di gunakan untuk buangg air kecil, dan kalau sudah besar atau dewasa jadi alat repoduksi” dia angguk-angguk seperti paham,

“Jadinya kamu gak sembarang untuk masukan ke lawan jenis kamu sebelum nikah,”

“masih lama ya?”

“lama banget!!, 20 tahun lagi” kata gue langsung bersihin tubuhnya, termasuk gue juga sekalian mandi.

***

Gue sama Maxwell tinggal di ruko lantai paling atas, karena om sama tante tinggal di lantai duanya, tempatin kamar anak mereka, dan misalnya pada pulang, tidur di kamar satunya.

Tapi mereka sekeluarga gak terlalu terganggu karena ada gue sama Maxwell, gue beruntung banget.

Dan satu tahun sekali bisa pulang kampung ketemu mama sama papa, walau kadang mereka yang datang kesini.

Malam juga om sama tante buka tapi sampai jam 10 aja, pengunjung juga lebih banyak siang di banding malam.

Kadang gue juga jual minuman hangat di depannya jual kue seperti bolu, yang gue buat sendiri. Gak banyak, satu sampai dua Loyang,

Kalau masih ada sisa, Maxwell yang habisi, atau juga kasih tante sama om.

“maaa… ngantuk” suara Maxwell pas gue lagi rapihin dagangan masukin ke dalam,

“Iah, habis masukin ini ya” kata gue tunjukin Loyang kue yang udah kosong, ia cuman angguk pelan ikutin gue ke dapur.

Maxwell duduk sambil tunggu gue cuci sampai dia ketiduran di meja, pasti lelah karena di sekolah, dengna perlahan gue gendong k eke lantai atas,

“Om aja shan,,, “ ucap om pas gue bopong Maxwell di punggung.

“Gak usah om, bisa kok enteng” kata gue bohong,

Berat memang angkatnya, tapi gue masih bisa bopongnya. Gue udah bisa lakuin apa yang gak biasa lakuin para perempuan kebanyakan.

“Tiap hari gini, beneran encok” semampunya gue tetap aja kerasa pinggang,

“selamat bobo” bisik gue selimutin, dan langsung kebawah buat bantu beresin yang lainnya.

“Istirahat aja, kamu udah seharian loh,”

“hehe, iah tante, kejar setoran, beberapa bulan lagi kan Maxwell udah SD lagi, kan butuh biaya, lagi pula sekolah.

“Itu lagi, kenapa kamu kerasa kepala sih” tarikan nafas tante.

“Heheh, shanty gak mau ketergantungan aja tante, shanty disini kan udah repotin banget..” senyum gue.

“tante sama om gak mau tau, kamu focus aja ke pendidikan Maxwell okeh, “

“tapi, biaya sekolah itu kan mahal banget, shanty mampu kok bayar bulanannya” kata gue sedikit protes,

“terus biaya yang lain?, asal kamu tahu, om sama tante gak keberatan kamu tinggal sini, karena udah angap anak sendiri “ lanjut tante dekatin gue sambil pegang kedua pundak, seolah gue hidup gak sendiri.

Sebenarnya kalau gue boleh jujur, gue gak bisa balas budi atau tepatnya gak tau cara balas budi mereka. Gak lama tante peluk gue sambil elus punggung,

“Kamu jangan kwahtirin itu oke, “ bisik tante buat gue menghela nafas panjang.

Selesainya gue langsung mandi dan beresin pakaian Maxwell, gak ada rasa lelah kalau lihat dia, gue bakal berikan yang terbaik untuknya, termasuk sekolah terbaik.

***

Pagi-pagi seperti hari biasanya, sarapan buat Maxwell. Karena katanya makanan di sana mahal, jadinya setiap pagi gue selalu buatin dia makan siang,

“itu jemputannya datang, sini mama bawain” gue langsung bawa tasnya ke mobil jemputan Maxwell, setidaknya gue gak perlu kwahtir dia pulang sama siapa, walau pulangnya sektiar jam dua belasan.

Sebelum tante dan om bangun, gue langsung pel lantai bawah termasuk buang sampah yang lumayan banyak.

Karena dulu om sama tante buka selalu jam sepuluh pagi, karena paginya siapin bahan makanan di lantai dua. Dan setelahnya baru rapihin lantai bawah. Oleh karena itu tanpa sepengetahuan mereka gue rapihin pagi, walau ujung-ujungnya pasti tau. Setidaknya mereka gak larang gue.

Gak biasanya jam delapan lewat mereka belum turun, biasanya jam segini udah turun bawa bahan makanan.

“eehh” pekik gue pelan pas dengar suara erangan dari arah kamar tante, gue cuman senyum pelan pas lihat dari celah pintu yang gak ke tutup rapat.

Dari sini gue bisa liha tante lagi naik di atas tubuhnya om dan lagi naik turun, di usianya udah kepala empat gue akuin tubuh tante masih ideal tertawat, termasuk om juga.

Kata papa sama mama, mereka berdua mantan alti. Jadi wajar tubuh mereka masih kencang di usia segitu.

Gak sekali dua kali gue lihat mereka main pagi-pagi, hampi satu minggu tiga kali mereka lakuin itu pagi-pagi. Dan tante termasuk perempuan agresif, karena selama gak sengaja lihat mereka main, tante selalu dominan.

Hentakan pelan dan dalam, gue bisa rasain hal itu, dan sekarang gue gak boleh ganggu mereka. Gue juga kurang berminat untuk menjadi horny.

Bisa di hitung gue manstrubasi bisa sebulan ssatu kali, selama tiga tahun ini. Hal ini karena gue terlalu focus ke Maxwell seorang.

Daripada terus lihatin mereka, gue milih mandi.

Semakin hari. Gue ngerasa gue semakin membulat, terutama buah dada gue bisa lebih besar sebelum gue lahirin Maxwell, dan semakin agak besar saat menyusui Maxwell selama dua tahun.

Tante bilang lebih bagus gitu, lebih berisi atau tepatnya semok, gue mau ketawa lihat diri gue sendiri. Dan gue benar-benar ngerasa seperti itu, apa lagi model rambut gue pendek, ini muka jadi agak bulat.

Selesai mandi, tante sama om bersamaan keluar kamar juga. “tumben shan mandi pagi-pagi” tanya tante gak sadar gue sering intip mereka karena gak sengajaan.

“hehe, tugas udah selesai tante, jadinya bisa pagi-pagi” gue ketawa pelan langsung ke dapur bantuin tante keluarin sayuran dari kulkas buat di pilih yang bagus.

Seperti ini kerjaan gue setiap hari, tapi udah biasa lakuin ini. Jadi gak ada beban di pikiran gue karena capek.

***

“shan sinii” panggil tante pas gue lagi siram tanaman di depan ruko, sambil pelanggang datang, tapi kebanyakn datangnya jam dua belas ke atas.

“ada pesanan?”

“bukan”

“ini, hasil kamu sebulan, tante sama om putusin buat kasih kamu ini” kata tante,

“Ha?? Maksudnya gajian?” angguk tante pelan.

“tapi tante”

“jangan protes yah, ini buat kebutuhan Maxwell, bukan buat kamu kalau kamu gak mau terima” tante selalu cari alasan supaya gue terima semua pemberiannya. Gue gak bisa berkata apa-apa dan langsung peluk erat tante.

Kalau seperti ini di kepala gue isinya cumans satu, balas budinya kebaikan mereka harus bagaimana. Ke papa mama gue aja belum bisa.

Atau gue disini sampai Maxwell udah dewasa, mungkin itu yang bisa gue lakuin sekarang, biar gue yang menelan pahitnya asal jangan Maxwell.

Bersambung

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat