Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 19

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31

Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 18

Sungguh Cinta Dirinya​

Rey

Hampir aja tubuh shanty jatuh, gue merasa sangat bersalah. Karena ini semua karena gue, kecerobohan gue sampai shanty jadi korban.

Penyesalan memang selalu datang belakangan, tapi ini penyesalan yang gak bakalan gue lupain. Dengan sekuat tenaga gue gendong shanty ke mobil.

“Kamu ngapain bawa dia lagi?” suara thalita dalam mobil.

“don… kita ke rumah sakit terdekat”

“gak!!, aku turun kalau dia masuk ke mobil!!!”

“ya udah turun, cepet!” thalita cuman mengertak, dia akhirnya ikut juga ke rumah sakit terdekat,Gue langsung gedong ke ruang UGD, agar shanty di periksa.

Dokter jaga langsung periksa kondisi shanty yang masih belum sadarkan diri, “Kondisi tubuhnya menunjukan dia sangat kelelahan, dia baru dapat masalah besar?” gue angguk pelan.

“dia butuh istirahat saja, gak ada yang perlu di kwahtin untuk fisiknya, atau tepatnya dia mengalami tekanan batin sampai tubuhnya lemah seperti itu” jelas dokter singkat.

“rawat inap dok, sampai dia pulih, termasuk biar dia gak terlalu mengalami tekanan batin itu” kata gue.

“soal mengalami tekanan batin, saya tidak bisa bantu, tapi saya kenalan untuk masalah itu”

“berikan yang terbaik dok, saya mohon!!!. Soal biaya saya yang tanggung!” kata gue memelas, gue lakuin agar santy baik-baik saja.

Shanty langsung di bawa keruangan vip untuk di tanganin selanjutnya, “ kamu kenapa masih urusin dia?” tanya thalita pas gue lakuin pembayaran untuk semuanya.

“Untuk terakhir, puas?” jawab gue tahan emosi.

“okeh, seterah kamu, yang jelas besok kita udah pulang” gue cuman diam. Gue suruh donny antar thalita ke hotel.daripada dia disini gak gunanya juga

Dan gue tunggu disini sampai shanty siuman, walau gak terlalu parah tapi gue harus jelasin sekarang. Gak ada waktu lagi buat gue tunda.

***​

Belum ada tanda-tanda shanty sadarkan diri, gue milih rebahin kepala di pinggir kasurnya sambil pegang tangannya dan sedikit pejamin mata. Karena secara gak langsung gue lelah juga.

Terasa tangan shanty ke lepas dari tangan gue, itu buat gue kebangun. “shannn mau kemana” kata gue pas dia jalan sempoyongan pegang ke tembok.

“Kamu masih butuh istirahat” gue pegang pundaknya.

“Lepasinn” ucapnya pelan singgkirin tangan gue di pundaknya. Dan benar gak lama dia hampir jatuh, untung gue reflek pegang tubuhnya.

“Gue gak butuhhh ban tuan..” ucapnya lagi terputus, gue gak perduli langsung angkat ke Kasur lagi, sekaligus tekan tombol untuk panggil suster, shanty copoton selang infusnya.

Nafasnya sangat lemah, ini pasti karena pikirannya membuat fisik shanty juga lemah. Sambil dokter periksa gue pegang tangannya, dan suster pasang lagi selang infusnya.

“Dia masih butuh istirhat jangan sampai kejadian seperti tadi terulang, psikis dan fisiknya sangat lemah” bisik dokter yang khusus tanganin periksa shanty.

“Shan.. please, kamu benci aku boleh. Tapi kondisi kamu belum pulih” kata gue pas dia mau cabut lagi selang infusnya.

“Ya udah,, lo yang pergi, atau gue pergi” katanya buat gue serba salah.

“Okehh.. aku pergi, tapi setelah jelasin semuanya, please kasih kesempatan aku sekali ini” kata gue dengan sedikit memohon.

“Seterah” ucapnya pelan sambil buang muka.

“Aku memang bohong soal siapa aku sebenarnya, dan benar aku dekatin kamu buat jauhin thalita. Aku akui itu, dan aku minta maaf” shanty masih buang muka tapi tangan kananya mengelus matanya seolah sedang menghapus air mata.

“Tapi setelah mengenal lebih dalam, kamu berbeda dari cewek lainnya, itu yang aku mulai suka.”

“Lebih baik kita udahin aja, cukup sampai sini. Karena orang kayak gue emang gak pantas buat lo, thalita lebih pantas” suara shanty terisak.

“Aku gak cinta sama thalita, tapi aku cinta sama kamu shanty..”

“kalau benar lo cinta sama gue, lebih baik lo lupain semuanya. Gue juga akan lakuin hal yang sama, jadi seorang yang gak saling kenal~” ucap lirih pas shanty noleh kea rah gue.

“Aku gak bisa lakuin itu shan, gak akan bisa. Aku akan balik setelah urusan thalita selesai, aku janji.!!!”

“kamu jangan ganti nomor ponselnya okeh, karena aku gak kerasa hamilin thalita. Aku akan urus itu secepatnya

”Aku janji!!” gue gengam tangannya tapi shanty menepisnya.

“Cukup!!, lebih baik gak usah ketemu selamanya, gue cuman ucapin selamat buat pertunangan dan pernikahan lo” ucapnya dengan perlahan.

“Sekarang pergi!!” teriaknya buat gue kaget, shanty masih tenaga buat teriak seperti itu.

“Lo mau gue sembuh kan?? Sekarang pergi dari hidup gue selamanya!!” teriaknya lagi kali ini gue bisa lihat air matanya keluar.

“PERGII!!!” teriaknya lebih keras lagi, tapi kali ini dia terlihat muntah. sampai suster sama dokter langsung masuk.

“Gue akan kembali shan… setelah semuanya selesai, dan sekali lagi pastiin jangan ubah kontak telepon kamu. Suatu saat aku langsung hubungin kamu untuk perbaiki semua. Aku janji itu” gue berjalan mundur sambil lihat shanty mau teriak lagi, tapi tak ada suara yang keluar sama sekali.

“Lebih baik kamu pergi, saya takut kondisinya semakin menurun,” kata dokter.

“iah dokter, saya mohon jaga dia sampai sembuh, mungkin ini terakhir saya ketemu dia.” Gue salaman sama dokter sambil suster kasih sesuatu ke cairan infusnya,

Dan gak lama shanty kembali tertidur, “ saya boleh bertemu lagi sebentar aja” kata gue pas lihat shanty sudah tak teriak-teriakan lagi.

“Silahkan, udah saya kasih obat penenang, tapi kamu harus tau dia muntah karena lagi..“ gue langkah masuk gak perduliin masuk ke dalam.

Langkah gue pelan kembali di sisinya, shanty terpejam pulas. “ Bila aku gak ketemu kamu lagi, bagiamana hari-hari aku terus belanjut?”

“Aku tau aku akan bersama orang lain, tapi aku gak yakin rasanya senyaman bersamamu”

“Tidak perduli berapa lama waktu tanpa kamu, yang jelas selama waktu masih berdetak aku masih perduli sama kamu”

“Jadi kumohon kepadamu, jangan membuat kamu meninggalkanku. Tanpa dirimu aku tidak bisa merasakan rasanya di cintai”

“ I love youuu” gue cium bibirnya pelan, atau tepatnya cium pelan dengan sepenuh hati. Dan gak lama sisa air mata shanty kembali keluar membasahi pipinya. walau matanya terpejam, gue harap dia merasakan hal yang sama.

***​

Sekuat-kuatnya gue tahan, gue gak bisa tahan untuk shanty. Gue nangis, gue gak kuat tahan untuk itu. Seumur-umur gue pernah nangis walau masalah berat juga. Tapi kali ini gue nangis.

“Seorang rey bisa nangis juga” suara donny kasih tissue ke gue.

“Lo kenapa ada disini?”

“Jemput lo, karena pastiin lo balik besok.”

“terus shanty?” sambungnya.

“Dia benci gue, tapi gue udah janji kalau urusan gue sama thalita selesai gue bakalan temuin dia dimana pun dia berada”

“gak segampang itu rey, pasti bakalan lama.”

“Karena firasat gue bilang, thalita gak hamil. Gue yakin itu”

“So??”

“Gue buktiin hal itu dulu”

“Kalau beneran hamil?”

“test DNA,”

“kalau beneran thalita hamil anak lo?”

“itu urusan lain.. “ gue masih sesekali menoleh arah rumah sakit. Masih berat untuk tinggalin shanty dengan kondisi seperti itu. Tapi lebih berat lagi kalau gue gak tinggalin dia sementara.

“Yuk.. “ ajak donny tepuk bahu gue yang lagi asik berdiri di parkiran rumah sakit.

***​

Suara langkah kaki ke arah gue yang lagi duduk di balkon hotel, gue gak perduli itu siapa yang jelas gue mau sendiri hari ini.

“Kamu mirip sama papa waktu muda, bedanya kamu ceroboh” ternyata papa sambil bawa bir, gak biasa papa lakuin hal ini.

“Kita lupakan masalah sejenak antara anak sama ayah” lanjut papa.

“kita bicara sebagai teman” ini yang gue suka sama papa, secueknya papa ke gue. Tapi dia gak bakaln tinggalin anaknya dalam masalah yang butuh bantuin, seperti saat ini.

“Kamu udah bilang ke cewek itu?”

“Udah, hasilnya di usir,” jawab gue pelan.

“Semuanya?” angguk gue pelan.

“Hanya butuh waktu, yang jelas seperti ucapan papa. Selesain thalita dulu, karena urusan hati ini urusan kamu bukan papa” ucapnya buka bir kaleng,

“Kamu mau tau, dimana papa ketemu mama kamu?” gue langsung noleh dan ikut buka bir kalengnya.

“Papa ketemu mama, di tempat bakti social yang di adain oleh perusahaan kakek kamu. Dan mama kamu saat itu salah satu anggotanya”

“terus kenalannya?”

“gak langsung kenalan, tapi suatu kejadian yang buat papa kagum sama mama sekaligus kena omelan”

“omelan?”

“iah, saat itu papa baru datang dan mau ikut bergabung, tapi gak sengaja tabrak kakek-kakek yang kepisah dari rombongan, kakek itu tersungkur.”

“Dan bersamaan, mama kamu saat itu gak jauh, langsung periksa kondisinya. Dan saat bersamaan juga papa kena omelan mama kamu, karena hanya diam tak membantu”

“padahal papa bukannya gak mau membantu, tapi papa piker mama kamu paham untuk seperti itu, dan akhirnya papa suruh angkat sampai ke tempat ramai.”

“angkat sendirian?”

“iah, karena omelan mama kamu” tawa papa, jarang gue lihat papa ketawa seperti itu.

“Papa saat itu juga gak kasih tau papa siapa, seolah kejadian papa yang alamin terulang oleh kamu”

“Bedanya, papa sama mama jadian, dan rey entahlah” sahut gue lansung tenggak habis bir kalengnya.

“papa yakin kamu bisa atasin dua masalah itu” papa langsung pergi keluar kamar, sedikit lega dengar cerita singkat papa, tapi itu hanya sementara.

“dan kamu harus tau ada yang lebih berharga dari uang”

“rey tau kok apa itu setelah mendapat masalah ini, yaitu kebahagian orang-orang sekitar rey,” papa cuman senyum,

Yang jelas hari ini, gak akan gue lupain seumur hidup. Dimana hari penyesalan gue terbesar, sekaligus hari terberat dalam hidup gue. Atau tepatnya ini titik terendah dalam kehidupan gue.

Semua rencana yang mau gue susun kini hancur lebur, termasuk rencana shanty jadi dark ambassador kosmetik gue.

“Terima kasih pa” kata gue pas papa berdiri. Papa gak jawab cuman tepuk pundak gue tiga kali.

“Titip dia tuhan, jaga dia karena akan aku tebus semuanya apapun harganya, karena aku sungguh-sungguh cinta dia” gumam gue dalam hati, sekaligus berdoa sejenak.

“aku sunggu-sungguh cinta pada dirinya.” gumam gue di dalam hati.

Bersambung