Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 18

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat

Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 18 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 17

Pembohong​

Shanty-

Pasti ada urusan penting, sampai rey suruh gue temuin di pinggiran pantai, walau udah malam masih banyak bule yang duduk disini gak pakai baju juga, kalau gue jadi itu bule pasti udah masuk angin,

Sedikit aneh gue rasa, kalau rey nginap di hotel yang pertama dia datang, kenapa gak ketemuan disana. Atau mungkin dia lagi meeting lagi, sampai donny jemput gue dari villa.

Yang jelas sikap donny juga berubah dari villa sampai sini, seolah dia merasa bersalah soal kejadian semalam.

Gue juga merasa gak enak, entah kenapa soal semalam itu semua di luar control gue dan mereka juga sangat begitu nafsu.

Belum lama, rasa mual itu datang lagi, gue langsung cari tempat sampah terdekat. Tapi sama seperti tadi pagi, muntahan tapi tak ada yang keluar sama sekali.

Gue pilih di pinggir jalan, dari sini masih bisa dengar deburan ombak sambil beli air mineral. Dan berharap rasa mualnya cepat hilang.

“kamu dimana shan?” chat dari rey,

“lagi di pinggir jalan beli air, kamu dimana?”

“Kamu lihat ada yang lagi jualan pinggiran pantai?” lanjut gue.

“iah aku ada di sekitar situ”

“Ohh, kamu bisa ke tempat beberapa meja yang di pinggir pantai?” gue langsung bisa lihat, di situ ada meja bundar dan di tengahnya ada payung.

“Aku lihat, kamu disana?”

“belum, limat menit lagi aku kesana, okeh lagi jalan sebentar lagi sampai” gue langsung menuju meja itu, gue duduk tapi jalan mondar mandir karena masih terasa mual.

***​

Dari kejauhan ada seorang cewek arah kesini, gue gak salah lihat dia benar arah kesini. Rambutnya terurai kena angin pantai, dan terlihat elegent saat berjalan. Mirip model dari jauh.

Apa mungkin dia turis kesasar, terus tanya gue. Kalau ia gue harus jawab apa, masa ia Bahasa inggris.

Sekarang dia berdiri di hadapan gue, benar tingginya melebihi gue, tapi masih tinggian rey daripada ini cewek.

“Lo yang namanya shanty?” tanyanya pakai Bahasa Indonesia bukan Bahasa inggris.

“Iah, betul, siapa ya?” jawab gue lihatin dari ujung kaki ke ujung kepala, gue gak kenal sama dia sama sekali.

“Rey belum kasih tau ya?” senyumnya

“apa dia udah kasih tau?” ucapnya lagi, ini yang buat gue sedikit bingung.

“Kalau belum, gue perkenalin diri lagi, gue thalita tunangan Reynold” senyumnya ke arah gue, dan rasanya nafas gue langsung sesak mendengarnya.

Sekarang gue ingat dengan nama itu, dia cewek pertama yang rey tidurin saat di tempat berendam. “ia gue inget”

“tapi rey bilang. Kalian gak ada hubungan apa-apa” kata gue pelan.

“itu mendadak memang, kita sama-sama cewek shan, wajarkan gue minta tanggung jawab ke cowoknya kalau udah di hamilin?”

“hamiil???” Nafas gue benar-benar sesak mendengar ucapnnya, walau gak langsung dari mulut rey tapi ini rasanya sesak.

“dan gampangnya dia cari cewek lagi, buatt jauhin gue” lanjutnya.

“rey bukan orang kayak gitu, dia gak suka sama lo”

“Gak selamanya manusia itu baik, termasuk rey dan donny” dia langsung kasih ponselnya dan suruh gue lihat.

“Baca chat dari donny, gue gak edit atau kok,” dari bawah ada foto gue dari pas awal jalan sama rey,

“Donny yang foto diam-diam, termasuk video lo” ucapnya langsung tunjukin bagian gue sama rey ML, gue gak paham kenapa rey sama donny lakuin itu.

“jahat yah mereka,”

“Hapuss, hapus yang itu” pekik gue malu lihatnya.

“eitss.. masih banyak kok, lo baca chat donny ke rey” dia kasih ponsel satunya, gue bisa tau ini ponselnya rey, dan baca bagian yang di tunjukin thalita. Donny bilang ke rey kalau dia harus udahanin permainannya ke gue, karena udah terlalu dalam.

“rey cuman manfaatin lo, buat gue jauh dari dia,,” bisiknya lagi.. pas gue udah lihat semua foto yang donny kirim ke thalita.

Rasanya dengkul gue lemas baca chat, harusnya gue gak begitu yakin soal ini, tapi hati gue berbicara rey lakuin itu tulus.

“gue gak percaya sebelum rey bilang langsung”

“Yang jelas lo cuman pecun bagi rey” bisiknya, bikin gue mau tampar pipinya tapi gak jadi.

“kenapa marah? Gue bilang pecun??”

“lo cuman kelas rendahan di mata rey, lo tau rey itu siapa?”

“Dia manager!!” jawab gue yakin sambil Tarik nafas dalam-dalam. Thalita cuman ketawa mendengarnya.

“Shanty,,,, terlalu bodoh “ ucapnya sambil tertawa lagi.

“Gue kasih tau, dia anak dari pemilik Perusahaan ternama yaitu Tirta Graha Mandiri”

“dan gue yakin lo gak tau nama panjangnya kan?”

“ituuu” gue benar-benar gak tau nama panjangnya, cuman tau reynold.

“Udah gue duga, lo searching dengan nama Reynold anggara wijaya” tangan gue seolah gemetar langsung searching namanya.

Dan benar muncul namanya dengan foto sekaligus berita digital, 10 pengusaha termuda. Dan rey salah satunya.

Saat itu air mata gue langsung mengalir keluar, gue merasa di bohongin oleh rey. Gue gak ngerti kenapa dia harus berbohong.. dada gue juga langsung kerasa sesak.

***​

Gue langsung duduk dengan pandangan kosong, masih gak percaya soal ini. Thalia seperti mengangkat telepon, terdengar jelas telepon dari seseorang mirip rey.

“Thalita!!, Aku pasti nikahin kamu, tapi jangan sentuh shanty, jangan ganggu dia, dia gak ada urusan sama ini!!” suara rey bikin air mata gue yang udah berhenti kembali mengalir.

“okeh, shanty udah dengar kok” jawab thalita langsung tutup teleponnya.

“Menyedihkan yah, tapi kenyaatannya harus begitu”

“SHANTYYYY!!” teriak seseorang sambil berlari ke arah sini, semakin dekat semakin jelas, itu rey sama donny.

“Selesai, tanya keorangnya langsung yah”thalita jalan menjauh pas rey dekatin arah gue.

“Kamu gak apa-apa shanty?” tanyanya langsung buat gue tatap dia tajam.

“Kamu ngomong apa ke shanty??”

“aku gak ngomong apa-apa kok, cuman dengarin kamu nikahin aku ke dia” dan lagi mendengar kata-kata itu bikin air mata gue mengalir lagi.

“aku bisa jelasin,,.. tapi bukan untuk sekarang”

“CUKUPPPP!!!!!!!” teriak gue sambil nangis,

“Shannnn, please, sekali percaya sama akuu “

“GUE GAK MAU LIHAT LO LAGIIIII!!!!!” jerit gue histeris.

“KENAPA LO BOHONGIN GUE??? SALAH GUE APA KE LOOOO??” jerit gue sekeras-kerasnya. Gue gak perduli ada orang yang lihatin kea rah sini.

“LO ANGGAP GUE BEGOO?? IAH GUE BEGOOOO… BEGOOO KARENA PERCAYA UCAPAN LO!!!”

“shan.. please. “

“KENAPA LO GAK JUJUR?? LO TAKUT GUE MAU DUIT LO DOANG??”

“GUE GAK BUTUH DUIT LOOOOOO!” gak terasa gue pukul tubuhnya berkali-kali cukup keras.

“shanty..” bisiknya lirih.

“Lepasinnn!!!” jerit gue sekuat tenaga pas rey coba peluk gue.

“Cukup sampai disini aja, lebih baik lo pergi!!!” kata gue terengah karena efek teriak sekuat-kuatnya. Gue langsung jalan tinggalin tempat itu.

“reyy.. !!” jeritny gue dalam hati buat air mata gue kini mengalir deras, pas dia hanya berdiri lihat gue jauh.

***​

Entah dimana gue jalan, yang jelas gue rasa udah jauh. Sesekali noleh ke belakang, gue masih berharap dia kejar gue. Tapi gue harus menelan pahit-pahit. dia pembohog besar, dan begitu gampangnya tinggalin seperti itu

Tatapan kembali kosong duduk melihat arah pantai, gue harap ini mimpi. Suara ponsel buat gue sadar dari lamunan.

“mama?” telepon dari mama, gue langsung lap wajah gue sambil tarik nafas dalam-dalam dan cari tempat agak sepi.

“iah ma?”

“kamu dimana?”

“di pantai, sambil santai sejenak ma, heehe”

“tangan mama kamu kena pisau baru aja shan” suara papa dari kejauhan.

“ha?? Teruss?”

“gak apa-apa, papa kamu lebay hehe, tadi mama potong manga dan keinget kamu aja,”

“heeiksss” entah kenapa gue mau coba ketawa tapi malah nangis..

“SHann? Kamu kenapa?” gue gak bisa jawab dan cuman terisak.

“Tenangin diri kamu shan… “ kata mama, gue langsung coba tapi hasilnya masih gak bisa tahan air mata

“cerita ke papa mama,” gue belum siap, yang ada gue mau nangis lagi.

“Tenangin dulu okeh.. kalau tutup telepon dulu, kalau gak bisa cerita lewat telepon, chat papa sama mama”

“okeh?” tanya papa.

“iaah” gue jawab serak. Dan lanjutin permbicaraan lewat chatiing.Dan papa mama tanya gue kenapa, gue gak berani ketik.

“ini karena rey?” pertanyaan pertama.

“iah” jawab gue singkat.

“kenapa? Dia selingkuh, atau kamu…” chattnya terpotong.

“shanty putus sama rey!!” balas gue sebelum mereka mikir macam-macam ke yang lainnya.

“kok bisa?” dengan air mata yang keluar lagi, gue ceritain apa yang terjadi tadi, dari siapa thalita dan siapa rey sebenarnya. Gue gak ceritain detail karena semakin perih gue rasain.

Berselang beberapa menit gak ada jawaban dari papa dan mama, tapi mereka kembali telepon gue pas gue masih menangis pelan.

“jangan lakuin hal yang nekat yang sayang” kata mama kwahtir,

“Papa perlu datang kesana?”

“gak gak.. gak usah.. besok.. shanty. Cari tiket buat pulang ajah”

“tapi pengumuman hasil test kamu?”

“gak tau.. hikss.. shanty mau pulang ajahhh” kata gue benar-benar gak bisa berpikir jernih, satu hal gue mau pulang secpatnya.

“ya udah, papa kirimin uang buat tiket”

“gak usah, ekhkkh” gue benar-benar gak bisa stop airmata.

“masih ada kok pa ma.. “

“inget kamau gak boleh berpikiran pendek, yahh.. “ kata papa lagi,

“iah” jawab gue pelan gak sampai berpikiran sampai situ. Papa sama mama terus mendengar tangisan gue sampai air mata gue berhenti.

“Shann…”suara mama pelan, pas tangisan gue udah mereda,

“Kamu masih disana?”

“Iahh” jawab gue pelan.

Masih antar percaya gak percaya, ini bukan mimpi tapi rasanya sangat lelah buat hari ini. Tubuh gue sempoyongan dan mata mulai gelap seketika.

Bersambung

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat