Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 15

PrologPart 1Part 2Part 3Part 4
Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9
Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19
Part 20Part 21Part 22Part 23Part 24
Part 25Part 26Part 27Part 28Part 29
Part 30Part 31Part 32Tamat

Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa 30 Hari Di Bali Part 14

Pilihan

Rey​

Bersih…

Sperma gue bersih semua masuk ke mulutnya shanty, itu buat kepuasan sendiri lihat shanty berlumuran sama sperma.

Lagi pula lebih baik di mulut daripada di dalam, untuk donny kasih tau soal kondom, bahaya juga gue keluarin di dalam.

Tapi pas malam kemarin, gue seperti keluarin di luar,apa di dalam. Gue rasanya diluar di belahan vagina shanty.

Lain kali gue mau klimaks pas shanty lagi nungging, gue suka bongkahan pantatnya yang bulat padat kalau posisi seperti itu. “Nice Ass” gumam gue.

“haa? Apa?” katanya bersihin vaginanya,

“Ngak kok” shanty keluar duluan buat mandi, gue pilih berendam sebentar. Habis itu langsung mandi.

Selesainya, gue langsung ke kamar. Pemandangan bagus yang gak boleh lewatin. Shanty lagi pakai Celana Dalam yang gue beliin kemarin langsung pakai daster yang biasa pakai kalau malam.

“eheemm” dehem gue pas masuk, shanty balik badan seolah sembunyiin sesuatu.

“kenapa?”

“ehh? Ngak kok hmm. Cari baju kamu?” tanyanya balik tanya. Sambil Tarik ujunng daster ke bawah seolah tutupin sesuatu.

“bawahannya terlalu pendek?”

“Hm.. ngak kok.. “

“hee?” pekiknya kaget saat tangan gue langsung masuk ke selangkangannya. Kerasa hiasan mutiara tengahnya.

“katanya gak mau pakai?’

“ihh.. sayang kalau gak di pakai” jawabnya pelan.

“buka aja dasternya, donny udah gak ada di sini kok.” Shanty cuman senyum berjalan menjauh duduk di pinggir ranjang sambil buka perlahan dasternya sampai terisa celana dalam yang kemarin gue beli

Berjalan perlahan sambil buka handuk di depan shanty, dia mengacungkan jarinya agar lebih dekat.

“Ajak berantem lagi?” elusan di bibirnya pelan.

“Masih kuat?”

“Bisa satu round lagi, kamu?” shanty gak jawab, dan cuman rebahan sambil kangkangin kakinya.

Seperti biasa gue lakuin pemanasan, mainin vagina shanty, dia diam hanya menikmati taka da jerit perih pas gue buka bibir vaginanya buat mainin klitorisnya.

Gak lama shanty pinta gue yang berbaring, dia langsung jongkok sambil kocok penis gue sanmpai menegang dengan kedua tangannya dan mulutnya.

“aku aja, kamu suka sa,a cewek agresif kan?” katanya manyun, itu bikin gue inget pas bilang thalita agresif, bisa jadi shanty cemburu soal itu.

“Tapi aku suka apa adanya kok, gak usah di buat” bisik gue pas shanty masukin penis gue perlahan.

“Kalau suka kenapa?”

“suka apa?”

“sex hmm” jawabnya buang muka.

“really?”

“iaahhh, aku sering manstrubasi kalau bete, uhmm. Walau jarang sih. Tapi suka uhmm..” jawabnya tersipu malu.

“terus?”

“yah suka bayangin gini.. “

“hehehehe” gue senyum pelan, antara shanty terlalu polos soal sex atau memang dia suka berbau sex. Shanty langsung gerakin pinggul semampunya,

Di tambah dia minta tangan gue sambil remas, matanya terpejam, kepala mendongak ke atas sambil racau gak jelas, desah dan gumamannya menjadi satu.

Tapi racau desahnya bikin gue tambah horny, “aahahhhh “ desah panjangnya.

“Penganan ke pundak aku, terus sedikit jongkok dan gerakin pinggul kamu naik turun” pinta gue, shanty nurut, dengan begini penis gue bisa rasain dari ujung penis sampai mentok.

“awsh” desis gue pas kegesek celana dalamnya, bukan kainnya melainkan mutiaranya ke gesek di batang gue.

Kini giliran gue yang kerja, shanty gue posisi doggy tanpa lepas celana dalamnya. Bikin sensasi tersendiri.

“aaaaassshhhhh reyy” desis pas gue sengaja keluar masukin kepala penisnya di vaginanya.

“ishhh masukin!” rengeknya gerakin pinggul ke kiri ke kanan. Tepakan pelan sebelum gue masukin ke dalam.

“reyyy uhhhhhhh reeyy” racau geleng-geleng kepala ke kiri ke kanan dan gak lama lenguhan panjangnya.

“plopppp” gue cabut keluarin di belahan pantat shanty yang masih posisi menungging,

***

Wajahnya terlihat cantil kalau lagi tidur terlelap seperti ini, selain bongkahan pantatnya gue suka sama bibirnya sekarang.

Ponsel gue bergetar terus menerus, paling donny gak jauh dari dia.

“Thalita??” gumam gue panggilan tak terjawab dari dia, dan juga donny. Telepon kembali masuk, tapi kali ini dari donny.

“Reyyy, lo dimana??”

“lagi di jalan ia ya?” pertanyaan donny gak kayak biasanya dan langsung di tutup.

“THALITA ADA DISINIIII!!!” chat dari donny buat gue kaget, tapi bagimana bisa donny ketemu thalita.

“Gue lagi ajak dia cari hotel, help me!!!” chatnya lagi dengan emo orang pucat.

Dan sekarang gue gak tau harus apa, yang di pikiran gue sekarang yaitu shanty, Jangan sampai thalita ketemu sama shanty,

Gue salah duga, dia seriusan nekat ke bali cari gue.

“lo bantuin gue jauhin dia dari gue sama shanty sementara” balas gue

“oke, gue coba semampunya, mau gak mau lo harus temuin dia. Sekarang aja gue gak tahan sama suaranya”

“kita ketemuan di hotel tempat thalita nginap, “

“WHAT?”

“Gue temuin dia langsung aja, benar kata lo percuman jauhin juga”

“oke rey”

Tarikan nafas dalam-dalam, rasanya kayak ketemu orang penting. Tapi memang penting, karena thalita bisa bikin hidup gue maju sekaligus bikin berantakan.

“Aku ada urusann sebentar ya” bisik gue ke shanty lagi tertidur pulas tanpa busana.

“dan janji urusin secepatnya” sebelum berangkat gue cium bibirnya pelan.

“love you”

***

Donny chat gue dia sama thalita ada hotel tempat gue menginap di awal, memang itu hotel paling dekat.

Jam udah dua belas malam, donny ksih tau kalau thalita ada di kamar 311 termasuk dia ada di dalam.

“tok tok tok”

“donnnnn bukaa!!” pintu kebuka, yang keluar bukan donny melainkan thalita.

“reynoldd” jerit thalita senang langsung peluk gue erat. Bibirnya langsung cium pipi kiri dan kanan.

“donny mana thalita?”

“ada di balkon” tunjuknya langsung kasih ponselnya donny, thalita senyum pelan ke arah gue. Jadi yang balas chat gue adalah dia sendiri.

“Akhirnya lo datang juga reyy” donnny telanjang bulat sambil dekap tubuhnya dengan menggigil.,

“Lo ngapain?”

“Hukuman, buat orang yang udah bohong ke aku” ucap thalita dari belakang sambil lempar pakaian ke donny.

“Lo gil…” thalita tutup mulut gue dengan satu jari seolah suruh diam, ini yang paling gue gak suka sama thalita,.

“Bagus kamu punya kesadaran sendiri ketemu aku, Kalau kamu gak temuin aku, yah teman kamu mengigil seharian di disini” senyum penuh kemenangan.

“so sorry rey.. gue guee..” ucap benar-benar mengigil.

“no problem, ini urusan gue sekarang”

“Good Boy, prok prok” celetuk thalita sambil tepuk tangan.

“Get out!!” teriak thalita ke donny yang udah pakaian lengkap, thalita langsung rapihin kerah baju gue sambil mengendus bau badan gue.

“Langsung aja mau kamu apa?”

“Aku paling suka sama kamu ya gini, bisa baca suasana hati aku. Makin sayang deh” tawanya, tangan thalita langsung siap-siap rangkul lagi, tapi gue tahan.

“kamu jahat rey, aku sama kamu kurang apa?”

“sampai malam itu juga aku berikan tubuh aku juga ke kamu” bisiknya membuat gue ingat kejadian itu. Walau dengan keadaan setengah sadar.

“Walau gitu, tapi aku gak cinta sama kamu thalita” kata gue datar

“apa?”

“ selera kamu rendahan rey!, cewek macam seperti itu cocoknya jadi lalat penganggu!” raut wajah thalita berubah drastic.

“aku maunya kamu, titik!, apa pun alasannya semua aku lakukan buat dapatin kamu! Paham?”

“tapi aku gak cinta sama kamu” kata gue dengan wajah datar.

“Segampang itu kamu bicara gak cinta?, terus selama ini??”

“aku gak bakal rela kamu sama cewek itu, gak akan!!!” jeritnya histeris sampai gue terkejut thalita bisa bersikap seperti ini.

“maaf thalita, gue buat keputusan”

“apa?”

“Gue pilih cewek yang sekarang” ucap gue penuh keyakinan.

“HHAHAHAHAHAHA”

“Seperti gak bisa juga, aku bilang ke keluarga kamu kalau bulan depan kita udah tunangan, dan mereka setuju” ucapan thalita bikin gue agak shok, gak mungkin dia lakuin hal gila kayak gitu. Dan gak segampang itu kasih tau papa.

“Gak percaya?” tanyanya buka kancing baju gue satu persatu,

“Seterah kamu, yang jelas kamu harus beri kehangat malam ini” bisiknya langsung buka celana.

“Sorry,” gue cegah tangannya dan langsung keluar kamarnya.

“REYYYYYY!, “ teriak thalita, gue gak perduli. Tapi untungnya dia gak kejar gue. Sekarang tinggal cari donny, di tambah ponsel ada di gue,

***

Udah gue putar-putarin hotel, tapi gak ada donny. Sekarang tinggal halaman parker, gak mungkin si donny jauh-jauh dari sini.

“Itu dia” donny lagi duduk sambil pegang sesuatu di tangannya, seperti lagi menikmati segelas kopi.

“Masih kedinginan lo?” tanya gue duduk di sampingnya.

“Masih, Gila si thalita. Bisa buas kayak gitu ke gue”

“Terus kenapa lo bisa telanjang di balkon?”

“Gue kejebak sama dia, gue kira dia bakalan ajakin gue tidur bareng, eh taunya gue yang kena getahnya” tawanya.

“Lo ketemu thalita dimana?”

“Di bandara, niatnya gue mau balik habis antar nichole, tapi ternyata thalita lihat gue. Sampai seperti ini lah”

“dan yang balas chat bukan gue, tetapi thalita oke” gue cuman bisa diam pas donny cerita, dia lebih licik dari gue duga.

“lo gak ke dalam buat indehoy?”

“Gak mood, gue udah bilang ke dia semuanya termasuk shanty”

“Buurrrrrrr” kopi di mulutnya langsung di sembur.

“hasilnya?”

“sama, dia gak lepasin gue” helaan nafas gue panjang, kali ini pikiran gue ke shanty seorang, gue juga gak mau lepasin dia gitu aja.

“Apa gue bilang,.. harusnya lo lepasin shanty dari kemarin-kemarin,”

“Tapi gue beneran suka sama dia donn, gue sayang sama dia. Dia tulus ke gue, gue bisa rasain itu”

“nah kan, lo beneran cinta sama shanty, reyy reyy, kepala gue pusing!!” donny tepuk jidat sampai empat bungkusan jatuh dari bajunya.

“Serbuk perangsang?” tanya gue, dia cuman nyengir kuda.

“Buat kerjain thalita, tapi keduluan dia kerjain gue” jelasnya.

“niat banget sampai di bungkus dengan tulisan SUGAR”

“Ya lah, gue gitu lo” tawanya masih sempat banggain dirinya sendiri.

“rencana lo apa sekarang?” tanya donny serius

“sekarang kita pulang ke hotel, gue gak ada rencana buat besok” gue langsung bangun ke arah mobil,

“Haa? Seriusan? Gak ke villa??”

“otak gue gak bisa mikir don, pusing!” desis gue udah berpikiran jauh. Gue belum siap pulang ke villa.

Antara lawan thalita dengan argument, atau pilih salah satu dari mereka. Gak bisa pilih salah satu, gue maunya shanty bukan thalita.

Bersambung