Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 97

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 97 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 96

Hingga menjelang sore dan acara mandi bersama tak berani mereka melakukan hal yang sama seperti ketika mereka bertemu pertama kali. manjanya prempuan itu membuat laki-lakinya lebih bersikap sabar kepada perempuannya. Setiap basuhan, setiap rengekan, setiap keinginan selalu dikabulkan oleh lelakinya.

Kadang sang wanita meminta untuk digendong dipunggung dan berjalan memutari ruang VVIP tersebut, hanya didalam ruangan tidak keluar kemana-mana. Aneh jika dilihat tapi itulah sayang, cinta, ah tak ada yang tahu makna sebenarnya dari cinta dan tak ada yang pernah tahu arti cinta. Banyak yang mengungkapkan arti cinta, ada banyak… seperti…

Cinta itu seperti udara,
tak terlihat.. tak berbau.. tak berasa..
tapi selalu ada disekitar kita,
hanya saja sedikit orang yang bisa merasakannya..

Cinta itu sebagian dari perasaan dan juga sebagian dari logika…
Tergantung bagaiman kita mengendalikan cinta…
Terlalu mengendalikan cinta dengan perasaan,
Kita sendiri yang akan menjadi seorang yang mudah mewek,
Selalu takut bertindak,
Selalu ragu dalam menentukan,
Terlalu mengendalikan cinta dengan logika,
Cinta bukan perhitungan, bukan rumus matematika, kimia, fisika atau bahkan ilmu perhitungan lain
Jangan gunakan logika berlebihan karena cinta bukan ilmu pasti
Bukan 1 + 1 = 2, bukan… Karena cinta bisa saja 1 + 1 = 3, 4, 5 bahkan 11, benar bukan?
Terlalu berlogika dengan cinta hanya akan membuatmu memperhitungkan semuanya
Dan membuat cinta menjadi sesuatu yang kaku…
Cinta butuh keseimbangan antara logika dan perasaan,
Perasaan karena cinta memang muncuk dari reaksi perasaan kita dengan pasangan kita,
Logika karena cinta memang butuh logika, agar kita tahu mana serius mana tidak
Semua tergantung bagaimana memperlakukan cinta

cinta itu tidak pernah berbohong, cinta akan mengangkatmu
membawamu lebih tinggi ketika tinggi saja tidak cukup
karena cinta lebih kuat dari sebuah logam yang terkuat
butuh hati dan emosi untuk menyembuhkannya
dan kebenarannya cinta memang tidak pernah berbohong
lihatlah kedalam mata yang kamu cintai
akan terlihat disana sebuah kebohongan atau sebuah kejujuran

cinta itu…
kuat dan liar,
lambat dan mudah,
hati dan jiwa,
sempurna bukan?

Cinta itu…
Tak perlu seseorang yang sempurna,
Tapi cukup temukan seseorang yang mebuatmu..
Bahagia dan berarti lebih dari siapaun…

​ugh hoaaam…. aku terbangun di tengah malam

mas… mas bangun… ucapku

egh… ngantuk adeeee… ucapnya

langitnya bagus tuh ucapku sembari melihat keluar jendela

eh… aku terkejut ketika tubuh itu memelukku, kepalanya berada di bahu kiriku

emmmh… cup kecupan medarat di pipi kiriku

Kuraih bagian belakang kepalanya dan kudorng kedapan, aku daratkan bibirku ke bibirnya. Hanya menyentuhkan saja tanpa harus melumatnya, terasa lebih romantis. Kluihat dia berdiri dan menggeser dua sofa, satu sofa menghadap ke jendela satunya tepat berada didepan sofa satunya lagi. Dia kemudan beranjak dan mematikan lampu kamar, kemudian dibopongnya aku menuju sofa itu. aku duduk menghadap ke jendela menikmati pemandangan langit malam serta cahaya rembulan, dia duduk tepat berada dibelakangku.

bagus ya mas langitnya… ucapku

mereka selalu sama, bahkan bulan itu pun sama… maafkan aku jika aku terlalu banyak berbuat kesalahan selama ini ucapnya memelukku. kuremas tangnnya dengan tangan kiriku

memang sama… aaaah… aku menyandarkan tubuhku kebelakang, kepalaku tepat didadanya

semua sama hanya nama yang berbeda, kesalahan adalah hal yang wajar. Tapi ada hal yang berbeda dalam diriku tapi entah dalam dirimu…

rasa sayangku, rasa cintaku, tidak sama seperti ketika kita bertemu mereka bertambah setiap harinya untukmu yang selalu mencoba untuk memperbaiki diri untukku… ucapku lirih sembari melihat ke wajahnya

rasa sayangku, rasa cintaku kepadamu, berada disamping rasa sayangmu, rasa cintaku kepadaku… the feeling inside you is feeling like i do ucapnya, aku tersenyum mendengarnya

Bibir kami berpagutan, saling mengecup beberapa kali dibawah sinar rembulan yang menjadi saksi kembali tentang kami berdua…

Pagi Hari…

“Ade jangan ngambek gitu to” ucapnya, aku benar-benar ngambek dengan sikapnya huh…

“ade… ayo pakai baju dulu, masa mau kerumah kakek dan nenek ndak pakai baju?” lanjutnya lagi

“Adeeeee….” sembari wajahnya mengejar untuk menatapku, aku membuang mukaku

“jangan marah dong, kan sudah ditunggu ndak enak kan, yuk pakai baju” ucapnya

“ade pakai sendiri! ndak dipakaikan jua bisa sendiri” jawabku ketus sambil merebut pakaian dalam dan pakaianku

“senyum dong adeeee, jangan marah mas kan malah jadi bingung kalau begini…” ucapnya sekali lagi

“habis mas! Ade kan mau bantu ngeluarin punya mas, mas bilangnya ndak usah ndak usah, sebel tahu ndak!” jawabku ketus sambil menyerahkan pakaianku lagi

“lha ntar kelamaan, katanya takut ma itunya mas… kan masih banyak waktu sayang” ucapnya

“iya atut tapi seneng…” ucapku kurasakan wajahku memerah

“masih banyak waktu okay, cup…” ucapnya sambil mengecup bibirku, aku tersenyum

Aneh ya kalau aku suka mainan itunya mas? Walau sebenarnya ada rasa takut ketika itu masuk. Tapi mau bagaimana lagi coba, kalau lihat ngeri kalau dimasukkan juga ngeri tapi kalau pegang kok ndak ya? hmmm…

“tangannya diangkat sayang” ucapnya, aku angkat kedua tanganku dan dipakaikan tengtop sekaligus kaos lengan panjang. Entah dari mana dia mendapatkan semua pakaianku.

“kok pakaian ade lengkap?” ucapku

“tadi pagi pak wan nganterin, katanya kemarin sebelum mengantar pulang dari RS. Ibunya ade membelikan beberapa pakaian untuk ade” ucapnya

“kok ndak jenguk ade sih mama?” ucapku sedikit jengkel

“biarkan mereka berbulan madu sayang” ucapnya membuatku tersadar kalau ibu dan ayahku memang butuh waktu untuk bersama

“tapi mama kok tahu ukurannya ya?” ucapku

“ndak tahu sebenarnya…” ucapnya

“lho lha terus kok ini bisa pas?” ucapku sembari memegang payudaraku

“tuh, ada banyak ukuran..” ucapnya

“iiih berarti mas ukuran punya ade kan? Pikiran mas jorok!” ucapku

“yeee… kan sudah pernah pegang, apalagi kalau tidur” ucapnya

“ngeres!” ucapku

“beneran? Ndak boleh pegang lagi? Ya sudah, ndak pegang lagi daripada dikira pikirannya ngeres” ucapnya

“aaaaa… boleeeeeh…. pegang cepetaaaaan” manjaku

“sudah beres semua tuh tinggal kita berangkat masa mau gituan, ndak kasihan sama kakek dan nenek?” ucapnya

“iya, tapi kalau bobo dirumah nenek… mas bobo sama ade” ucapku

“kalau boleh, yuk berangkat…” ucapnya

Dengan menenteng tas mas menggangdeng tangan kiriku dengan tangan kanannya. Aku berhenti sejenak melihat kamar ini, kamar yang menjadi tempat dimana aku selalu berdua dengan kekasihku. Dia kemuadian menyadarkan aku untuk segera berangkat karena waktu sudah menunjukan pukul 08.30 pagi. Lantai demi lantai aku peluk tangannya hingga di lantai bawah.

“mesranyaaaa…” ucap seorang wanita

“mbak erlin” ucap kami berdua, mbak erlina langsung datang dan memelukku

“semoga lekas sembuh ya, dan ingat nanti kalau adikku ini macem-macem bilang sama mbak ya” ucapnya, aku mengangguk dan cipika-cipiki sebelum berpisah

“dik, jagain dian. awas kalau diapa-apain!” ucap mbak erlina kepada kekasihku

“boleh yan?” ucapnya, aku mengangguk. Dikecupnya kening kekasihku..

Kami kemudian berpisah di lantai dasar rumah sakit. Cemburu? Mungkin iya dulu, tapi sekarang tidak dia sudah menjadi kakak perempuanku. Di tempat parkir motor, kulihat motor yang dulu pernah menemaniku bersamanya. Kini aku membonceng lagi di jok belakang, suara mesinnya masih sama dengan yang dulu.

“kok ndak jalan-jalan mas” ucapku

“motor ini butuh bensin sebagai bahan bakar, tapi kalau pengemudinya butuh pelukan sebagai bahan bakar” ucapnya

“dasar sok romantis!” ucapku yang tersenyum dan memeluknya

Kami menuju ke rumah kakek dan nenek kekasihku…

***

Ah, mereka sudah pulang. Semoga mereka menjadi pasangan yang langgeng hingga akhir hayat mereka. Sudah saatnya aku pulang karena aku mendapat shift malam. Mataku sudah mulai mengnatuk didalam Bis yang aku naiki ini. hingga akhirnya aku sudah sampai di kosku, ingin segera aku rebah didalam kamar dan menikmati tidur seharian.

“baru pulang mbak?” ucap adik kosku

“iya, ndak kuliah?” ucapku

“bentar lagi, lagi nunggu pertunjukan” ucapnya

“pertunjukan apa?” ucapk

“ada deh…” ucapnya

“iya iya, aku tidur dulu dek dah ngantuk” ucapku sambil membuka pintu kamarku

“he’e mbak” ucapnya

Setibanya aku didalam kamar aku lempar tas yang aku bawa ke kasur kosku. Aku berlari dan langsung aku terjun ke kasur sepring bed empuk ini.

Dugh… suara hantaman pada pintuku, aneh… masa bodoh ah

Dugh… suara hantaman terdengar lagi, seperti benda yang dilempar ke pintuku

Dugh… jengkel rasanya

“siapa sih ndak usah iseng kenapa?!” teriakku, aku berdiri dan berjalan ke pintu. Aku buka pintu kamar kosku…

“Erlina pujaan hatiku, maukah kau… bret!” ucapnya

Ya, itu ucap seorang lelaki yang berlutut kurang lebih 3 meter dari pintu kamarku. Bajunya dirobek dan terlihat kaos putih yang bertuliskan “Will you Marry me?”. Aku terkejut melihatnya, dadaku serasa berdetak sangat keras ketika melihat tulisan itu. aku langsung masuk kembali dan kututup pintu kamarku, aku bersandar pada pintu kamarku. Laki-laki itu..

“Erlin… erlin sayang…” ucap lelaki itu sekali lagi

“hiks hiks hiks…” aku menangis dan langsung aku buka pintu dan berlari kearahnya

Aku melompat dan memeluknya, tubuhku ditangkap oleh lelaki ini. lelaki yang selama ini menjadi kekasihku, tubuhnya terhuyung kebelakang dan jatuh terduduk. Semua penghuni kos menyaksikan itu dan bertepuk tangan serta berteriak mengucapkan selamat.

“mau kan?” ucap alan, aku hanya mengangguk pelan

“bener?” ucapnya lagi, aku mengangguk sekali lagi

Aku dibopong ke dalam kamar disertai teriakan-teriakan yang membuatku sangat malu. Ada juga yang menghadang langkah alan, mengatakan “iiih merah tuh merah hi hi”, aku hanya diam dan senyum-senyum sendiri. Hingga suasana reda, satu persatu memberiku selamat. Tapi aku tetap saja tak turun dari gendongan alan.

Didalam kamar, aku direbahkan di tempat tidur. Kutarik kepalanya dan aku melumat bibirnya. Alan mengerti akan maksudku, tubuhnya sekarang menindihku. Aku rasakan tangannya mulai meremas payudaraku, tanpa menunggu lama bajuku suah terlepas dari tubuhku.

Rokku sudah tersibak ke atas, celana dalamku sudah, dan kerudungku sudah terlepas dari kepalaku. Kudorong alan, dan kulepas celana sekaligus celana dalamnya. Aku rebah kembali di tempat tidur, alan kemudian mengakangi tubuhku, aku angkat tubuhku dan kupegang penisnya. Ya ini adalah posisi kesukaan alan, aku mengulum penisnya dalam keadaan aku dikangknginya.

“Sayang…” ucapnya ketika mulutku terbuka, hanya beberapa senti dari penisnya

“ini…” ucapnya, aku kaget dan ambruk lagi ke bantal. Kuliha tangan kiriku diraihnya dan dipasangkan cincin emas di jari manisku. Kulihat dan air mataku berlinang, kulihat senyumannya… tanpa berlama-lama lagi, aku bangkit dan langsung melahap penisnya

“argh sayang pelan sayang ugh… bibirmu seksi, nikmat sekali sayangku ough…” racaunya menikmati kulumanku, aku bersemangat entah di mana rasa kantukku yang tadi menyuruhku untuk segera tidur

“sayang sudah, aku sudah pengen sayang…” ucapnya, aku lepaskan kulumanku

“tapi nanti yang lama lho…” protesku, tubuhnya beringsut dan membuka pahaku

“iya sayang iya… ugh… sempitnya punya kekasihku ini, oueghhh enak sekali…” racaunya

“pelan sayang ugh… pelanhhhhh… ah!” rintihku, ketika hentakan keras di vaginaku. Tubuhnya turun dan memelukku

“kalau mau lama pemanasannya oke, kapanpun kamu mau sayang… sekarang aku sudah pindah kesini, tempat kerjaku sudah pindah karena aku tidak ingin jauh dari istriku yang sedang aku entot ini” ucapnya dengan penis yang bersarang di vaginaku

“eh, mas sekarang sudah disini?” ucapku, sebuah kebahagiaan karena aku tidak akan sendiri

“iya, mau sampe nanti sore? Pagi? Atau begini terus berhari-hari, oke, siapa takut… akan aku buat sayangku ini minta tambah terus… mas libur sampe besok minggu” ucapnya, aku tersenyum

“hmm… satu ronde dulu sayang, habis itu istirahat terus… mungkin harus minta libur dulu beberapa hari karena si timun naga itu kan sudah ndak dapat jatah lama sekali” godaku

“harus…” ucapnya

“aw… pelanhhh ugh… ahh ahh ahh ahhh sayang itunya mentok sayang” ucapku

“itu apa ah ah ah enak sekali didalam sayang ugh…” racaunya

“kontol, kontol sayang mentok dipintu rahim ayang, ugh sayang mmmhhhh… arghhh… terus sayang terus… kontoli, entot memek ayang ini ugh” racauku

Dengan posisi konvensional, aku dihajar habis-habisan oleh nafsu yang selama ini tidak tersalurkan. Tubuhku bermandi keringat, bersatu dengan keringat yang menetes dari tubuhnya. Tubuhku bergoyang sangat terasa ketika susuku naik turun di atas dadaku.

“arghh… sayang, ayang mau keluar oghh….” rintih nikmatku

“aku juga ayang, aku pejuhi, aku hamili kamu ugh…” racaunya

“iya sayang hamili ayangmuhhh… oughh….” racauku

Croot crooot crooot crooot crooot

Siraman hangat membasahi vaginaku, bersatu dengan cairan kenikmatanku. Walau dia sudah mencapai puncaknya… Bibirku di ciumnya, turun ke leher dan tangannya mengelus tubuhku. Pipiku dielusnya dengan ujung jari-jarinya.keningku kemudian dikecup lembut, beberapa kali kecupan terasa mengelilinigi wajahku. Sembari mengecupi wajahku, rambutku dimainkannya helai demi helai. Sangat nyaman sekali, hamil? Aku mau….

Hingga aku merasakan elusan-elusannya membuatku terbuai dan kemudian kurasakan tubuhnya bergeser di sampingku. Ditariknya tubuhk dan masuk ke dalam pelukannya. Selimut tipis ditariknya untuk menutupi ketelanjangan kami berdua.

Tangan kanannya menjadi bantalan kepalaku dan tangan kirinya terus mengelus kepala bagian belakangku hingga punggungku, kurasakan nafasnya berhembus di ubun-ubun kepalaku berbarengan dengan setiap kecupan yang dia daratkan. Aku tertidur dan hari-hari berikutnya adalah hari dimana aku akan belajar menjadi istri yang baik untuknya, untuk kekasihk, Alan…

***

“Sudah sampai” ucapku kepada kekasihku yang memelukku erat, tapi kulihat rumah kakek sepi dengan pintu rumah yang terbuka

“ini rumah kakek dan nenek mas?” ucapnya

“iya, sebentar mas buka pintu gerbang dulu. Ade diatas motor saja” ucapku

Aku membuka motor dan kemudian aku kembali lagi, kunaiki lagi motorku dan kumasukan kedalam rumah. Dian kemudian turun, segera aku tutup kembali pintu gerbang rumah kakek.

“ayo…” ucapku sembari mengulurkan tangan kananku untuk menggandenga tangan kirinya

“eh, anu mas itu..” ucapnya gugup

“Sudah tidak usah takut, mereka juga keluarga ade…” ucapku mencoba menenangkan. Wajahnya kemudian tersenyum, dihirupnya nafas dalam-dalam dan dikeluarkannya

Aku menggandenganya masuk ke dalam rumah kakek dan nenekku, tepat didepan pintu kulihat adik-adikku yang langsung mberlari kearahku. Mereka melompat dan langsung aku tangkap dan kuangkat tubuh mereka keatas, tapi khusu yang masih kecil sedangkan adik-adikku yang sudah gede-gede hanya aku peluk.

“Siapa kak?” ucap anak tante ratna paling kecil

“kakak ipar kamu” dengan pede aku menjawab, satu persatu memeluk dian dengan senyuman manisnya

“dimana yang lain?” ucapku kepada dika

“tuh dah ditunggu dari tadi” ucap anak budhe ika yang pertama

Adik-adikku berhamburan masuk dan berteriak “kak arya sudah datang”. Ah, seperti apa saja aku ini, aku langusng mengikuti mereka masuk kedalam rumah.

“Kakaaaaaaaak” ucap rani dan eri yang membuat aku terkejut, mereka langsung saja memelukku

“yeee lama banget sih…” ucap rani

“hayo ngapain aja…” ejek eri

“bangun gedung, ngaspal jalan, ngatur lalu lintas weeeek” ucapku

“kamu itu ditunggu kok lama banget”ucap ibu

“hey mblo sini…” ucap tante ratna membuka tangannya

“yeee pemain sinetron…” jawabku, langsung memeluk tante ratna

“igh igh igh… ih ih ih ih” tante ratna memnarik kedua pipiku kasar

“ew ew ew… sakit tahu tan…” ucapku

“ratna itu, sini sayang sama budhe, ini nih keponakan budhe yang paling ganteng” ucapnya langsung aku memeluk budhe

“kamu itu bisa-bisa, selalu bikin khawatir…” ucap budhe sambil mengecup pipi kanan dan kiriku

“hebat kamu… sekarang kamu ksatrianya” ucap pak dhe andi yang bergantian memelukku

“kurir cinta…” ucap om andra

“eh om…” ucapku memeluknya

“Ini nih pak dhe yang selalu bikin onar kota kita hi hi hi hi” ucap tante asih

“ah, tante apaan sih daripada tante weeeek…” ucapku sambil memeluknya

“apa?” ucapnya

“ih takut…” ucapku yang langsung saja kena jewer

“sudah to mah, gini-gini yang nyari kamu lho tul gak ar” ucap om askha yang bergantian memelukku

“Nah ini yang selalu megang daerah kita pak dhe ha ha ha” ucap om heri memelukku

“lucunya keponakanku ..” ucap tante herni memeluku

“eh bocah cengeng… huuu tantenya di lupakan!” ucap mbak alya

“sini…” ucap mbak alsa

“yeee… aku kan kemarin ndak nangis situ tuh yang hiks hiks hiks” ejekku, mereka hanya tersenyum dan memelukku

“dasar!” ucap mereka berdua menjitak kepalaku

“cucu nenek yang ganteng…” ucap nenek ifah memelukku

“manis lagi..” ucap nenek laila

“nurun dari ibu nek he he he” ucapku

“kakek wardi, nenek umi…” ucapku memeluk mereka berdua

“kakek, nenek…” bergantian aku memeluk kakek dan nenekku

Kulihat ibu sudah membuka kedua tangannya, langsung aku memeluknya. Kupeluk dengan erat ibu, dikecupnya keningku.

“kamu itu ditunggu kok ya lama banget” ucap ibu

“biasalah bu…” ucapku

“ehem… ehem…” tante asih berdehem

“tanteeeee….” ucapku memohon kepada tante agar tutup mulut

“iya… iya…” ucapku

semuanya hadir disini, tertawa riuh dan bersendau gurau sejenak.

“lho sayang, dian mana?” ucap ibu

“eh… lho, dian ada di lho… dimana? Aduh ketinggalan…” ucapku

“kamu itu anak orang lho itu” ucap tante asih

“sebentar-sebentar…” ucapku yang langsung berlari keluar

Kulihat dian hampir menangis karena ku benar-benar lupa, mungkin karena saking senengnya ketemu dengan keluarga.

“maaf… kelupaan sayang” ucapku

“gini saja sudah lupa, nanti gimana hiks…” ucapnya

“iya maaf… habis tadi adik-adik juga he he he, saking senengnya sayang” ucapku

Segera aku gandeng dian, tepat setelah ruang tamu aku berdiri dan meliha ke ruang keluarga. kulihat mereka semua tersenyum kepadaku. Dian malah bersembunyi di balik punggungku.

“yang, itu kok malah sembunyi” ucapku

“malu…” ucapnya

“siapa tuuuuh… dah ndak jomblo ya?” ucap tante ratna

“ada keluarga baru harus di plonco nih” goda bu dhe ika

“bu dhe, jangan di takut-takutin” belaku

“sayaaang… sini” ucap ibu memanggil dian

Dian kemudian beranjak dari tempat sembunyinya, muncul dengan wajah merahnya…

“nah nih… mbakku dan adikku yang cantik, nih calon mantuku” ucap ibu sambil memeluk dian

“mama… malu mah…” ucap dian, aku hanya berdiri dan tersenyum dibelakang mereka berdua

“mana, mana… iiih cantiknya” ucap tante ratna yang langsung memgang kedua pipi dian setelha dipeluk oleh ibu

“aku tantenya arya, tante ratna, oia kamu ndak mabuk kan sayang?” ucap tante ratna kepada dian

“maksud tante?” dian nampak heran, aku juga

“sadar kan?” ucap tante

“sadar dan ndak mabuk tan” ucap dian

“ndak percaya deh, pasti lagi mabuk ini. kok mau ya cewek secantik kamu jadi pacarnya arya” ucap tante ratna, dian hanya menunduk malu

“apaan sih tante… ya jelas mau lah kan aku ganteng gitu, ya kan yang?” ucapku, dian mengangguk pelan

“benar-benar jomblo yang beruntung…” ucap bu dhe ika

“huh, ini masalah lagi, jagan didengerin yang” ucapku, melihat mereka berdua berpelukan

“Dian sayang…” ucap tante asih memberikan ciuman di pipi kiri dan kanan dian

“calon mantu mbak diah nih ya” ucap tante herni. Satu persatu mereka memberika pelukan kepada dian, khusus yang cewek ya nenek ifah, nenek laila, mbak alsa, mbak alya, eri, rani. Mereka berkerumun berdiri didepanku.

“masih misteri ini kenapa dian mau sama arya hi hi hi” ucap tante ratna

“Tashika ni yakusoku shi, seijitsuna ai ni narimasu (karena yakin akan janji dan cinta yang tulus)” ucap nenek ayu tiba-tiba. Semua diam dan melihat nenek, mereka terbengong-bengong.

“Sobo?! (nenek?!)” teriak dian

Dian langsung berlari ke arah nenek yang tengah duduk disamping kakek. Aku heran kenapa dian bisa tahu tentang nenek? Kalau orang tahu karena nenek adalah istri dari kepala daerah itu wajar. Tapi kelihatannya mereka pernah bertemu.

Aku dan semua orang yang berada disana tampak kebingungan ketika melihat dian memeluk nenek dengan eratnya. Ibu langsung mendekati dian dan duduk disebelah nenek menggeser duduk kakek.

“Nōhau sobo? (bagaimana kabar nenek?) “ucap dian yang benar-benar tidak aku mengerti

“Yoku, dono yō ni anata wa watashi no chīsana tenshidesu ka? (bagaimana kabar kamu malaikat kecilku)” ucap nenek yang semakin aku bingung percakapan mereka

“Mama wa kanojo ni atta koto wa arimasen (Ibu pernah bertemu dengannya?)” ucap ibu sama sekali aku tidak mengerti

“ada, ada cerita tapi biarkan menjadi cerita antara aku dan malaikat kecilku ini” ucap nenek

“nenek masih cantik saja” ucap dian

“kamu juga tambah cantik” ucap nenek

“waaaah… kamu pintar bahasa jepang juga ya sayang?” ucap ibu

“aku belajar ma, karena dulu waktu nenek bicara pakai bahasa jepang aku ndak mudeng” ucap dian

“berarti tambah satu keluarga kita yang bisa” ucap tante ratna

“tapi dari satu keluarga ini Cuma tuh… mantan jomblo yang ndak bisa” ucap bu dhe ika, jujur saja di keluargaku hanya aku yang tidak bisa bahasa jepang

“kakak ternyata ndak bisa snediri… hiiii…” ucap eri, jelaslah dia tahu bukan anak sains dia

“malu-maluin..” ucap rani

Om dan tanteku tampak bahagia dengan kehadiran dian didalam keluarga ini. dian masih saja memeluk nenek dengan erat. aku masih berdiri di sini memandang keluargaku kembali berkumpul. adik-adikku juga tampak bahagia disni. Tak akan ada lagi cerita seram dikeluarga ini.

“bau ini, aku pernah menciumnya” bathinku, kulihat semua orang memandangku dengan tatapan terkejut

“ada apa sih? Kok lihat aku seperti lihat hantu saja?” ucapku, tapi semua terdiam

Aku melihat kakekku mengacungkan jempol ke arahku. Aku jadi bingung sendiri, tiba-tiba saja kulihat nenek ifah dan nenek laila meneteskan air matanya.

“ada apa sih?” ucapku

“arya…” kudengar suara dibelakangku

Aku membalikan badanku dan melihat kakek wicak dan juga nenek mahesawati berdiri disana. Melambaikan tangannya ke arahku, aku tahan tangisku dan kulambaikan tanganku kepada mereka. ditengah-tengah mereka muncul seorang yang sudah tidak asing lagi, kakek tian memberi salam hormat kepadaku. Sekelebat bayangan mereka datang lalu menghilang. Tiba-tiba tubuhku lemas, dan tak bisa aku gerakan hanya teriakan-teriakan memanggil namaku setelah itu aku tidak mendengarnya lagi.

Bersambung