Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 96

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 96 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 95

Aku benar-benar tidak menyangka jika semua terjadi begitu saja. semua kembali seperti semula lagi, semula lagi karena anak yang selalu aku caci maki dahulu kala. Sering mengambil komik dan buku-buku cerita kesayanganku. Tapi kalau bukan dia yang memegang kakiku hingga aku tidak tergantung.

buat apa rat? ucap ibu dari belakangku

Haha wa… Watashi no odoroki, koreha chokorēto no sandoitchi o tsukura rete imasu (ibu menganggetkan aku saja, ini sedang buat roti isi coklat) ucapku

makanya kalau buat roti jangan sambil melamun, tahu saja roti kesukaan arya? ucap ibu

ya tahulah bu… secara musuh bebuyutannya hi hi hi ucap mbak diah

apaan sih mbak diah itu, diem napa? Dasar jahil, coba saja kalau besok arya disini ndak bakal tuh berani lebay seperti itu ucapku

ya masihlah secara sudah ada dua anak cewek, jadi wajar kan kalau lebay ucap mbak diah

iya tante… ucap eri dan rani

eh eh eh ikut-ikutan juga?! ucapku dengan tangan berpinggang

mama takuuuuuuuuut ucap eri dan rani

kalian itu apa-apa takut, mau kekamar mandi saja harus mbangunin tante ucap asih tiba-tiba muncul

kaya kamu ndak aja sih ucap mbak ika

itu pengencualian mbak, kan waktu itu di villa sepi mbak ucap asih

Kami tertawa lagi ketika mengingat betapa takutnya adikku asih ketika hendak ke kamar mandi villa. Sejenak aku melamun lagi bagaimana bocah itu telah menyelamatkan hidupku dan menunjukan kepadaku lelaki yang pantas untuk mendapingiku, walau dalam perjalanan hidupku hingga sekarang aku selalu berantem dengan anak itu. arya…. arya… terima kasih sekali lagi.

Aku memasukan adonan yang sudah di bentuk mbak ika ke dalam oven. Kulihat sebuah gambar tempel yang menempel di kulkas tua tak jauh dari oven. IM A FIGHTER begitu tertulis disitu, sebuah gambar tempel huruf yang disusun oleh keponakanku sendiri. aku adalah seorang petarung begitu katanya. Ya, memang kamu seorang petarung yang selalu membuat rusuh. Entah kenapa kamu dan sahabat kamu bisa sangat takut denganku.

Kalau dulu salah satu dari kalian pernah bilang habis tante bawel banget daripada bawel terusan mending nurut sama tante saja ada juga dari kalian yang bilang tante kalau sudah ngomong susah berhentinya, jadi kami nurut tapi kalian serempak bilang karena tante adalah tante kami semua yang cantik, manis dan tante adalah salah satu orang yang selalu mengingatkan kami agar tidak brutal… dan yang merawat kami kalau kami terluka ha ha ha. Dasar kalian itu ada-ada saja, merepotkan saja dan membuat hari-hariku semakin indah.

mama kak arya kapan datangnya? Aku sudah pengen diajarin main game lagi sama kak arya ucap anakku arman

iya, besok datang kok ucapku

kamu sudah kangen sama kak arya man? Ndak kangen sama kakakmu yang cantik ini? ucap rani

yeee… kan sudah ketemu tiap hari, kalau kak arya kan jarang ucap arman

ih sebel ah, ntar ndak mbak buatin gambar super-man lagi ucap rani

aaaaa… buatin lagi… ucap arman sambil memeluk rani

iya adikku sayang hi hi hi ucap rani

Aku hanya mampu melihat kebahagiaan ini buah dari jerih payah keponakanku itu. tiba-tiba lenganku disenggol mbak ika, membuatku tersadar kalau hampir saja aku mengangis. Ya jelaslah, dulu kalau bukan arya yang mencariku ketika aku tersesat di hutan mana mungkin aku bisa melihat arman tumbuh. Wongso, anton, joko, parjo, karyo, hermawan, aris, tugiyo, udin, dewo dan sudira sahabat-sahabat arya yang memang benar-benar KOPLAK! Hi hi hi hi….

taraaaaaaaaaa…. ucapku memasuki dapur

kaya peri saja kamu her ucap mbak ika

peri cantik gitu, ini tadi aku sama ibu nyari pisang. Lumayan besok pagi bisa kita goreng sama beberapa buah-buaha ucapku

herni tadi beli banyak sekali, tuh masih ada di mobil ucap ibuku, ibu umi

oh iya sampe kelupaan, eri, rani ambilin ya? ucapku

iya tanteeee… jawab mereka serempak

kita lihat mereka saja mbak, sudah tua capek ucap ibu kepada budhe ayu

iya, kalian yang semangat ya. ini ide kalian lho… ucap budhe ayu

Iyaaaaaa… siaaaaaaaaap… ucap kami para perempuan di keluarga ini

saya bisa bantu apa ya? ucap ibu dari eri, mbak arni

sudah mbak santai saja ucapku

saya malah ndak enak.. merepotkan kalian ucap mbak arni yang seumuran dengan tante ifah dan tante laila

bantu ini saja mbak… ucap mbak diah yang mengajak membuat adonan kue

Aku mengangkat buah-buahan untuk aku masukan kedalam kulkas. Setelahnya aku bersandar pada kulkas melihat kebahagiaan dari mereka semua. Ayah dan ibuku sudah lama meninggal, tinggal mereka yang aku punya. Mas heri adik dari mbak asih, adalah suamiku yang sangat aku cintai. Aku masuk kedalam keluarga ini dalam kondisi yang buruk tapi mas heri selalu menerimaku apa adanya.

Aku sempat khawatir akan kelangsugan dari keluarga ini, tapi bocah yang selalu saja ada ketika aku dan mas heri dalam bahaya telah menyelematkan keluarga ini. aku bahagia? ya pasti karena kami berkumpul kembali, karena arya, yang selalu mengatakan mulai sekarang daerah ini daerah koplak! Kalau ada yang berani mengganggu om dan tanteku, akan aku ratakan kalian dengan tanah!.

Tapi tanggapan sahabat-sahabatnya selalu saja aneh, kalau aku ingat setelah arya mengatakan itu ada temannya yang bilang dan untuk pembayaran pajak, bayar sama negara jangan dengan kami, karena kami tidak tahu pajak!

Dasar koplak!

sini aku bantuin ucapku

eh… iya tante… ucap rani tersenyum kepadaku

eh, jangan tante kakak kamu saja kalau manggil aku mbak kok ucapku

iya santai saja ya, manggil aku juga mbak saja… ucap alya

Aku anak dari ibuku laila sedangkan alya anak dari suami kedua ayahku, mama ifah. Akur? Jelas kami aku karena kehidupan kami selalu dalam penderitaan. Tapi karena bocah cengeng itu semua telah berubah, kini aku memiliki keluarga yang lebih besar lagi. Keluarga yang sangat indah. Aku dan mereka bertiga masuk dengan membawa barang bawaan mbak herni sebenarnya lebih pantes dipanggil tante tapi ya mau bagaimana lagi urutan keluarga. kulihat kedua ibuku sudah berkumpul dengan mereka didapur.

mbak herni ini ucapku

oh iya terima kasih, yang jajan dibuka aja buat camilan sambil kerja ucap mbak herni

alsa, itu ibu kamu dibantu tuh lagi nyuci piring ucap mbak diah

iya mbak.. ucapku

aku bantu ma… ucapku kepada ibu yang sedang mencuci piring

iya… bahagia sekali? ucap ibuku laila

yeee… dari dulu aku kan selalu bahagia ucapku

bahagia tuh, sebentar lagi bisa ngambil eskrim keponakannya lagi ucap mbak ratna

yeee… paling mbak ratna nanti juga minta weeeek… ucapku

alah paling ratna nanti yang ngrebut duluan ucap mbak ika

aku dulu yang ngrebut, dulu kan aku yang ngrebut duluan weeeek… ucapku

ha ha ha iya-iya… tawa mereka semua

Aku bahagia walau tak ada ayahku disini, aku sudah tahu semuanya dari kedua ibuku. aku tidak peduli lagi apa yang akan terjadi nanti, yang jelas kehidupanku sudah berubah mulai saat ini. bersama mereka yang selalu menganggap kami sebagai keluarga walau sebenarnya harusnya hubungan ini sudah tidak ada lagi semenjak ayahku tiada. Ayah… arya yah yang telah menyelamatkan kami, bocah yang selalu menangis karena es krimnya selalu aku rebut.

sini kamu bantu ibu hias pekarangan belakang rumah ucap ibuku, ifah

iya mah… ucapku

Alya dan yang lainnya berada didapur sedangkan aku dan ibuku menghias belakang rumah. Ku lihat senyum yang lepas dari ibuku, senyum yang selama ini tak pernah aku lihat sebelumnya. Bahagia sekali aku sekarang, lebih bahagia lagi karena aku tetap berada dikeluarga ayahku.

Pahit memang masa kecilku lepas dari mereka, kenytaan pahit juga aku alami selama itu. semua hal tentang orang yang telah menghancurkan kehidupan keluarga kami sudah aku ketahui. Bocah itu yang selama ini menurut ibu tidak pernah diharapkan oleh ibunya sendiri, bahkan hampir dibunuh adalah penyelamat dari keluarga ini.

alsa coba kamu rapikan tanaman disana ya? ucap ibuku

iya mah… jawabku

Aku beranjak menata bunga-bunga ditaman kecil ini. teringat akan sebuah kenangan bersama ayahku kalian berdua adalah bungan untuk ayah sama halnya ibu-ibu kalian, lihatlah bunga-bunga itu walah mereka mengembang pada batang yang sama mereka tidak pernah iri dan tetap rukun. Ya, itu adalah kata-kata ayah agar aku dan mama laila serta alya tetap akur dan rukun. Aku bersyukur sampai saat ini aku dan mereka tetap rukun, seperti halnya keluarga ini…


(sudut pandang orang ketiga)

kenapa yah? ucap andi kepada ayahnya

kalian masih ingat ketika arya lahir? Mungkin yang tidak tahu andra dan askha ya? ucap warno kepada semua laki-laki yang masih bersantai di ruang keluarga ini

tentu saja… ucap heri dan andi

hanya dengar dari asih pak dhe ucap askha

ratna cerita ke aku kok pah ucap andra

mas itu bisa-bisanya mengingat masa lalu ucap wardi adik warno

aaaah… aku tidak tahu bagaimana ini semua bermula, mungkin memang sudah tergaris dalam catatan kehidupan keluarga ini. datang seorang yang ingin menghancurkan tapi yang datang itu telah membuat penghancurnya sendiri ucap warno

sudahlah yah, seandainya tidak ada arya dan laki-laki itu (mahesa-red)… kita belum tentu bisa melewati kehidupan kita, ada banyak hal yang telah arya lakukan untuk keluarga ini. menyelamatkan nyawa ratna, dan keluargaku ucap andi

kalau tidak ada arya, mungkin aku selalu pulang dalam keadaan babak belur pak dhe ucap heri

lihat sendiri kan mas apa kata mereka, arya datang dalam keluarga ini bukan hanya sebagai penyelamat tapi datang sebagai penyeimbang keluarga kita ucap wardi

aaaaaah…. arya… arya…. seandainya wicak masih ada, mungkin dia akan tersenyum bahagia sekarang… ucap warno

ayah selalu tersenyum… ucap diah yang tiba-tiba datang membawa minuman untuk para lelaki

kamu ngagetin saja nduk ucap warno

jelaskan, mereka pergi dalam pelukan cucu kesayangannya ucap diah tersenyum

Heing sesaat, dan diah meninggalkan mereka semua. Senyum di bibir mereka hadir mengingat satu persatu kejadian yang telah mereka lewati bersama… Arya.

mas tadi mandi kok ndak mau ade keluarin sih? ucapku

yeee… keluarin terus mas ntar lemes ucap kekasihku

kunyahin dulu baru dimasukin ke mulut adeeee… manjaku

iya bentar… nyammm nyammm nyammm… kunyahnya dan kemudian kami berciuman, makanan itu di masukan ke dalam mulutku.

benerkan belepotan lagi, sudah dibilang kunyah sendiri ucapnya

ya sudah, mana kalau ndak suka… ade makan sendiri, tidur sendiri saja ngambekku

iiih ngambek deh, tambah cantik lho godanya

ngambek tambah cantik, senyum tambah cantik, gombal! masih ngambek akunya

nyamm… nyammm…. mmm mmm ucapnya sambil menyodorkan mulutnya, langsung aku cium dan kubuka mulutku. Dengan telaten dia memasukan makanan yang berada dibibirku

enak? ucapnya, aku mengangguk dengan senyum

nanti sore pas mandi, ade keluarin ya? manjaku

ade kok seneng banget? ucapnya

ndak tahu mas, seneng saja waktu mainin punya mas… takut tapi hi hi hi seneng candaku

jangan dimasukan dulu ya mas, masih takut punya mas gede… lanjutku dengan memasang wajah takut

takut ndak sama mas? ucapnya, aku menggeleng

syukurlah kalau begitu, berarti kalau tidur tidak diruang tamu he he he ucapnya

Aku hanya tersenyum memandang wajah bloon itu. entah kenapa aku bisa semanja ini dihadapan lelakiku ini, apapun yang ingin aku lakukan harus menyuruh dia. Mandi, makan, ganti pakaian, bahkan pipis saja minta dicebokin. Tapi kalau BAB, ya ndak lah aku usaha sendiri kasihan kan.

sudah… minum obatnya dulu ya, biar cepet sembuh luka kamu ucapnya

kamu? siapa itu kamu? balasku

eh… maaf, luka ade ulangnya

heem… mimik obat ucapku

Glek.. glek… glek…

mau jalan-jalan keluar? ucapnya, aku menggeleng

kenapa? ucapnya

kalau jalan-jalan, jauh.. ucapku

deket kok, cuma ditaman jawabnya

jauh dari mas.. ucapku lagi

yeee kan sama mas balasnya, aku langsung memeluknya

jauh… jauh banget, kalau jalan-jalan pasti mas jalan disampingku… Cuma bisa meluk tangan mas saja… kalau dikamar, ade bisa peluk mas ucapku

bu doseeeeen bu dosen, manjanyaaaa…. godanya sambil mengelus-elus kepalaku

mas pasti pegen ngerokok kan? ucapku tanpa menggubris godanya tadi, aku mengangkat kepalaku memandangnya

emmm ndak kok yang, nemenin ade lebih enak ucapnya sambil tersenyum kecut karena belum ngrokok dari kemarin

kalau nanti ade bobo, mas boleh keluar tapi ndak boleh lama-lama, 15 menit. Habis itu balik lagi, kamarnya dikunci sama mas dari luar ya ucapku

mas disini saja nemenin ade.. ucapnya

ade tahu itu… nanti kalau keluar jangan lama-lama ucapku sembari memainkan pipinya

Mas AC-nya di dinginkan saja, kok panas bangetucapku

iya dia kemudian berdiri dan mengambil remote AC di kamar ini

segini cukup? sembari duduk disampingku dan menunjukan angka pada remote

heem.. jawabku, langsung aku masuk dalam pelukannya. Kedua kakinya terbuka lebar dan aku berada dalam dekapannya

mas dingin… ucapku

oh ya, mas naikan lagi ya suhunya ucapnya

peluuukk… manjaku

eh… seakan dia tahu maksudku, ditariknya selimut dan kemudian memelukku

Rasa kantuk perlahan datang menemaniku, entah karena pengaruh obat atau pengaruh dari pelukannya. Pelukan hangat membuatku tak sadar akan suasana, hangat… nyaman dan…

Akhirnya tidur juga ini ade kesayanganku bathinku

Aku segera mengangkat tubuhnya dan memposisikannya tidur. Dia butuh istirahat yang cukup karena mungkin kelelahan setelah pertempuran malam itu. kukecup keningnya dan bibirnya yang manis itu, segera aku bangkit dan keluar dari kamar. aku kemudia berjalan ke atap gedung untuk menyulut sebatang dunhill mild.

sudah ada disini nton? ucapku kepada anton yang sedang merokok menikmati pemandangan kota

kamu cat, lama banget didalam? Berapa ronde? ucap anton

gundulmu! Masih sakit dia, bisa tambah parah kalau pake ronde-ronde segala candaku

haaaaaaaayah… oh ya, tadi ibu kamu sama mertua kamu kesini. Menemui tuh ucapnya dan aku mengerti

kok ndak mampir ya? ucapku

paling tahu lah kalau kamu lagi merusak tempat tidur ucap anton

ah matamu! Ndak nton, aku ndak sampe gituan jawabku jujur, anton memandangku dengan pandangan penuh tanya

yakin nton, nggak nglakuin, suwer! ucapkku dengan dua jari aku angkat

ha ha ha ha biasa saja kaleeee… jawab anton

Hening sesaat, semburan nafas berlumuran asap keluar dari bibir kami masing-masing. Pandangan kami menyapu luas semua pemandangang di kota ini.

aku sebenarnya bingung hufffffffthh… apa saja yang mereka lakukan kepada semua orang? aku tidak tahu apakah akan ada yang datang lagi ucapnya

banyak nton… Kakekku Tian, Ibuku, Ibunya Dian, Ayahnya Mbak erlina, kakek wicak dan nenek mahesawati… warga di desa banyu abang dan biru, rani, eri ah banyak lah nton… huftttth ucapku

tadi saja perawat masuk dan melihat kondisi mereka dalam keadaan mengenaskan. Celana dalam dan juga bra tersumpal di mulut mereka, juga ada cairan… tahu sendirilah, yang terakhir masuk itu ibunya dian sama suaminya. Kalau ibumu hanya bermain kata-kata kayaknya karena aku tidak dengar apa-apa hanya suara tawa keras dari ibu kamu tapi kalau ibu dian hadeeeeeeh… bikin cepet pengen ketemu anti ucap anton

kamu ngintip? ucapku

gundulmu! Lawang ketutup rapete koyo ngono piye carane ngintik (pintu ketutup rapatnya kaya gitu bagaimana caranya ngintip) ucapnya

Kalau aku memang tidak tahu apa yang akan mereka lakukan kepada dua orang itu. tapi yang jelas motif mereka semua adalah dendam, begitupula ibuku. tapi kalau ibunya dian sampai gitu ya wajarlah ucapku

Wussssh…. hembusan angin menyapa kami berdua

memang kamu tahu perlakua mereka kepada ibunya dian? ucap anton

parah nton, lebih dari sekedar apa yang akan mereka lakukan di malam itu. 20 tahun lebih lho nton disekap ucapku

hmm… gila bener… ucap anton

Tulilit tulilit… Hp anton berbunyi

ya halo sayang

iya ini mau pulang

kangen sayang, kangen…

ini lagi ngobrol sama arya

iya , mas pulang, dadah sayang tut

anti? ucapku

pulang bro… kuda-kudaan ha ha ha ucap anton

hati-hati ucapku

oke bro… jawabnya

Setelah salam perpisahan aku sendirian di atap gedung ini. kupandangi langit yang biru ini dengan matahari yang terututup oleh awan putih. Suasan tak sepanas ketika matahari tak tertutup awan, adem. Kupandangi kota ini sekali lagi…

ah… aku hadir disini karena dia, tapi aku juga yang telah membuat mereka terbaring lemah bathinku

Kuhirup nafas dalam-dalam dan ku hembuskan nafasku sekuat-kuatnya. Mungkin memang ini adalah jalan dimana aku harus berjalan, jalan dimana aku harus mengalami semuanya. Keluarga ini telah terluka, tapi semuanya telah sembuh. Dan tak akan ada lagi yang khawatir akan kota ini, kota yang selama ini aku tinggali. Aku tidak menyangka jika laki-laki yang pernah aku temui dalam perjalanan pulangku saat tu akan menjadi sahabat-sahabatku, koplak.

Aku tersenyum, geli dengan ingatanku. Langkahku kembali menuju ke ratu hatiku, ku buka pintu dia masih terlelap dalam tidurnya. Tubuhnya miring ke kiri dan aku langsung merebahkan tubuhku di hadapannya. Kupeluk tubuh itu…

manjalah terus agar bertambah dewasa ketika menghadapimu… ucapku lirih

heem… jawabny dalam kondisi tidur

Setengah sadar ternyata…

Bersambung