Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 93

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 93 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 92

Hmmm dasar… uugh cewek manja! Judes! Galak! Tapi kamulah yang terindah sekarang sayang. Maafkan aku sebelumnya jika perjalananku ke tempatmu terlalu lama. Aku ingin kamu sekarang yang menemanikku…

judeees… judes… kamu itu, hmmmm… lebih dewasa dariku tapi mau tidur saja harus seperti ini. tapi aku suka, tandanya kamu ndak bakal mau tidur kalau aku tidak disampingmu. Mulai saat ini hingga akhir dari usia kita…

Love You Dian…

Love you Too Arya…

eh,suara dari mana itu? dia sudah tidur? Apa dia punya telepati denganku ya? ah masa bodohlah, bobo…

massss… aku bangkit dan menggoyang tubuhnya tangannya terlepas dari payudaraku

eh ugh… hoaaam….

iya ade… ucapnya bangkit sambil mengucek matanya

sudah sore… ucapku

heem sudah sore… balasnya

papung (mandi) ucapku

ya sudah ade mandi dulu mas mau tidur seben… ucapnya

eng… kupukul dengan tangan kiriku

dimandiin, tangan kanan ade kan masih sakit… mas jahat banget sih… ucapku

eh… lho lha… nanti kalau ada yang tahu, mas bisa di… ucapnya

ya dikunci dulu, biasanya perawat datang nanti.. cepetaaaan… ucapku

Dia langsung berdiri dan menutup pintu, ditutupnya korden jendela. aku kemudian mengangkat kedua tanganku, didekatinya aku dan ditariknya kaos yang menutupi tubuhku. Aku tahu kalau dia meliriknya, karena aku hanya mengenakan kaos saja jelaskan kalau dia melihatnya.

iiih… kaya ndak pernah lihat punya ade saja, tutup mata, ndak boleh lihat! candaku sambil menutupi payudaraku dengan tangan kiriku

iya ndak boleh lihat, berarti mandi sendiri…ucapnya

aaaaa… dimandiin… langsung saja kedua tanganku terbuka kearahnya, minta digendong

iiih… gede banget… candanya

kalau ndak suka besok ade operasi saja biar kecil ucapku ngambek

yang bilang tidak suka itu juga siapa… ugh berat, ini celananya sekalian dilepas tidak? ucapnya

heem… tapi mas juga ikut mandi… ucapku

yaaah… oke ucapnya tersenyum lebar

iiih pikirannya jorok pasti ucapku

hmmm… gimana ya… ucapnya, sambil matanya melirik kearahku yang sudah berdiri diatas ranjang

cepeeeeeet manjaku

Akhirnya kami berdua telanjang, aku seperti seorang bayi, hi hi hi, tapi dia masih pakai celana dalam. Dia kemudian mengangkat tubuhku, menggendongku ke dalam kamar mandi. Di sana ada sebuah kursi kecil, dan aku duduk di kursi kecil. Rambutku digelungnya, dinyalakannya kran dengan mode air hangat. Tubuhku diguyur oleh air yang hangat beberapa kali dengan tidak menyiram pada luka di bahuku. Tubuhku kembali disiram oleh lumuran sabun, sabun itu diratakan oleh kedua tangnnya. Di punggung, pundak dengan menghindari luka, perut kemudian naik ke payudaraku.

yang lama… ucapku lirih

Tubuhnya kemudian mendekat dan menempel di punggungku, remasan pada payudaraku memang yang aku inginkan. Lama sekali mas berada di payudaraku, kurasakan nafasnya mulai tidak teratur. Dasar cowok kalau sudah megang pengennya megang terus.

kelamaan mas, yang lain belum ucapku lirih

eh.. iya, maaf ucapnya

Tanganya meraih handuk kecil yang ada di pinggir bak mandi, kemudian dengan dibasahi air hangat kemudian digunakan untuk melap tubuhku. Dari punggung, payudara, hingga perut dan pada bagian sensitifku. Kurasakan bukan lagi handuk basah itu yang mengelus tapi jari-jarinya mulai nakal.

mas… jangan bahu ade masih sakit, ntar kalau gitu kan harus keramas… jangan dulu gih. Di cuci saja ucapku yang tahu akan dirinya

eh… maaf kebawa suasan de he he he… ucapnya

Kemudian dengan hati-hati diguyurnya tubuhku dengan air. Lengkap sudah sekarang aku mandi, bersih dan juga cantik. Tangan kiriku kebelakang dan mengelus pahanya menuju ke itu nya. Aku takut, malu tapi kaishan dia, pasti lagi tinggi-tingginya tapi kalau ndak gini. Aaaa, aku kan pengen dimanja pokoknya.

mas bangun? Mau diboboin ndak? ucapku yang duduk tegak dan sedikit menengok kebelakang

eh, ndak usah de… katanya ndak mau keramas. Habis ade mandi mas mau mandi kok ucapnya

ade bantu tapi ndak usah gitu ya mas? ucapku, iiih pasti serem ini yang aku pegang iiih gede banget

ndak usah adeeee, ntar itu anu… ucapnya bingung

ndak papa mas, ade juga yang bikin itu berdiri ucapku

mas sekarang berdiri, ade bantu tapi jangan sampai kena rambut ya ucapku

eh.. mmm… de, ade yakin? ucapnya

iya, sudah mas lepas saja, ade di bawah. mas berdiri ya ucapku

Laki-laki tercintaku ini kemudian berdiri, kulihat dia melepas celana dalamnya ketika tubuhku berbalik ke arahnya. Sejenak aku melihat kembali kalung yang menggantung di leherku, hati berbunga-bunga. Tapi… iiih itu apa? Ahhh… atuuuut… kangeeen… hi hi hi. Wajahku memerah, kuraih penisnya dengan tangan kiriku dan aku mulai mengocok secara perlahan. Aku masih malu untuk melihat penisnya yang iii atuuut. Lama aku mengocok dengan tangan kirku dia hanya melenguh kecil saja. aku kemudian berlutut dihadapannya. Kuapit penisnya dengan susuku, tapi tangan kananku belum sekuat tangan kiriku.

mas, di pegangin susu ade… ucapku

eh… iya.. ucapnya dengan wajah memerah, jelaslah sudah lama kita ndak melakukan, apalagi dia kan mahasiswa aku. Dan dia kemudian memegangi payudara kananku, penisnya terapit tidak sempurna. Perlahan aku mulai menaik turunkan tubuhku, setiap kali penis itu muncul dari payudaraku ada perasaan ingin melahapnya.

slurp…. mmmhhh…. aku langsung melahapnya setiap kali penis itu muncul daripayudaraku

eh… enak banget de… eghhh… rintihnya pelan

Aku lepaskan pegangan pada pyudaraku dan langsung mengulumnya. Kujilati penis itu seperti yang pernah aku lakukan. Kumasukan secara perlahan, semua batang besar ini aku masukan ke dalam mulutku sedalam-dalamnya hingga terasa ditenggorokanku. Ingin rasanya aku muntah tapi yang aku tahu hanya dia senang. Setelah beberapa saat semua masuk kedalam mulutku, aku segera mengeluarkannya.

hah hah hah hah… aku bernafas tersengal-sengal

ade.. ade ndak papa? Sudah jangan lagi dimasukan semua ucapnya

sudah mas ndak papa, yang penting mas suka. ade bakal lakuin apa saja hah hah hah ucapku

ade bareng sama mas saja, mas sudah sen… ughhh… sayang… mmmh… sud aaahhhh… yah terush yang terushh… ucapnya terhenti ketika bibirku mulai mengulum dan langsung maju mundur

Aku puas, dengan semua yang aku lakukan. Aku akan membuatnya bertahan disampingku selamanya. Seperti sikat gigi yang aku gunakan, aku memasuk dan mengeluarkan penisnya didalam mulutku. Entah dari mana aku belajar, atau mungkin karena video yang aku lihat sebelumnya. Aku mencoba belajar, karena dia? Ya mungkin salah satunya karena dia.

ughhh… ade mas mau keluarhhh…. racaunya

mmm… mmualkn haja (keluarkan saja) ucapku dengan bibir yang sih sibuk mengulum penisnya

Selang beberapa saat aku rasakan satu tembakan dari penisnya. Aku kemudian menghentikan kulumanku dan ku diamkan penis itu didalam mulutku. Cairan hangat terasa didalam mulutku, setelah aku yakin sudah tak ada lagi yang keluar. Aku keluarkan penisnya dari mulutku dengan tetap menjaga cairan itu tidak tumpah. Setelah terlepas, kututup mulutku, kulihat dia memandangku dengan pandangan kepuasan. Senyumnya lebar… dan glek… glekk..

eh… ade telan? tanyanya

glek… ah… heem… ucapku dengan pandangan manjaku, rasanya gimana gitu, ikut-ikutan di video hi hi hi

eh… mas kok masih berdiri saja? tanyaku heran

kan mas sudah bilang, tipe fighter he he he ucapnya

atuuuuut…. manjaku

Tubuhnya beringsut turun dan memelukku. tubuhnya terasa sangat hangat lebih hangat daripada air yang aku kugunakan untuk mandi. Dibantunya aku kembali membersihkan diriku, setelah tubuhku kembali bersih dan juga mulutku, aku lalu mencuci itu iih ngeri deh kalau lihatnya. Seperti anak kecil, tubuhku dikeringkan dengan handuk besar. Aku hanya tersenyum kecil mengingat ak lebih dewasa darinya tapi aku diperlakukan seperti anak kecil dihadapannya, hi hi hi aku suka. dengan telaten dia memakaikan kembali pakaianku. Setelahnya, aku menunggu dia memakai pakaiannya, di bopong kembali tubuhku dan direbahkan di kasur. Kali ini dia berada disamping kiriku, aku menyadarkan tubuh kiriku di tengah-tengah tubuhnya. Tangannya mengelus lembut kepalaku, berlanjut dengan ujung jari-jarinya menyapu pipi, hidung, wajahku. Aku merasa nyaman, ingin tidur tapi tak mau melewatkan rasanya dimanja olehnya.

biasanya ada makan ndak? Ade belum makan kan? tanyanya

paling sebentar lagi ucapku sambil memjamkan mata

jangan berhenti…. terus… lanjutku ketika jari-jari itu berhenti sejenak

iya sayang…jawabnya lebut

Selang beberapa saat perawat masuk membawakan makan. Dia tampak kebingungan dan hampir melompat dari tempat tidu tapi aku tarik kaosnya dengan tangan kiriku. Perawat hanya senyum-senyum saja, masa bodoh dengan perawat itu weeek. Diletakan makan di meja yang berada di kiri tempat tidurku, sambil senyum-senyum perawat itu keluar dari kamar.

iih malu tadi ade, kan ndak enak sama perawatnya… ucapnya

maem, aaa… ucapku tanpa mempedulikan kata-katanya

hadeeeh…. kalau sudah manja, ndak mau deh dengerin mas ucapnya

aaaa… aku tetap tidak peduli dengan kata-katanya

Dengan telaten dia menyuapiku, senang… senang… kamu harus manjain aku setiap hari hi hi hi. Perlahan aku yang pada dasarnya malas makan bisa menghabiskan makananku kali ini. detik berganti, setelah acar mnyuapi mas kemudian keluar sebentar mencari makan. Aku sendirian didalam kamar, takut padahal sebelumya aku juga sendiri ditinggal ibu. tidak lama, dia datang lagi.

ugh… bau rokok! ngambek

eh… maaf… ucapnya

sudah dirokok masih saja ngrokok!balasku

eh maaf maaf… iya mas gosok gigi ucapnya,

Kulihat dia sedang menggosok giginya di kemar mandi. Aku tersenyum melihatnya, dengan pipi yang aku sandarkan pada lutut kakiku yang aku tekuk. Sambil memeluk kakiku, aku terus mlihatnya, manis, ganteng. Aku tidak ingin bercanda dengannya, aku tidak ingin bergurau dengannya saat ini. yang aku inginkan hanya, dipeluk dan dimanjakan olehnya. Hingga malam menjelang, biasanya erlina datang tapi kali ini yang membawakan aku obat perawat lain. Mungkin dia tahu arya sudah datang dan tidak ingin menggangguku.

Tangannya yang sedari tadi mengelus wajahku, kini berisitirahat sesaat sedari sore tadi. Aku tahu kamu capek, tapi aku lebih capek tahu nungguin kamu, huh!.

sudah malam, mau bobo? ucapnya, setelah meminumkan aku obat

heem… mas didepan ade manjaku

iya, adeku sayang… ucapnya

Kepalanya tepat di depanku, aku bisa merasakan nafasnya dan bibir kami bersentuhan. Bibirnya hangat, licin, manis aku ingin selalu merasakan ini terus. Posisinya sekarnag berada diatasku, Dia tak pernah melepaskan bibirku, walau sesaat hingga mataku mula ngantuk.

ngantuk? ucapnya dengan ujung jarinya megelus pipiku. Aku mengangguk pelan…

Didekapnya kepalaku didadanya, mengelus rambutku dan menyanyikan sebuah lagu yang entah aku tidak pernah tahu lagu itu tapi aku pernah mendngarnya. Mataku mulai terpejam…

mas pengen? ucapku tiba-tiba

eh… ndak, ade itu ngagetin saja. mas kira sudah bobo.. ucapnya, ya memang aku sudah tidur tapi aku merasakan sesuatu yang keras diantar dada dan perutku

itu, bangun.. ucapku

sudah , jangan dihiraukan. Kita masih punya banyak waktu. Aku kesini bukan untuk itu, aku kesini untuk kamu ucapnya membuatku tersenyum lebar

Nyanyia itu aku dengar kembali, dan aku mulai terlelap dalam tidurku. Kalung ini, kalung yang kamu minta dariku dan akan aku jaga karena dulu kamu pernah berjanji akan mengembalikannya dengan tambahan satu cincin di kalung yang kamu minta. Terima kasih kau telah mengebalikannya, terima kasih kau sudah hadir untukku…

Dasar cewek judes, hmmm…. ikut bobo aaaah…. bathinku mengucapkannya ketika aku melihat kekasihku tertidur dengan wajah polosnya.

eh… eh… malah masih pada tidur! teriakku ketika membuka pintu ruang VVIP yang memang sedari pagi banyak perawat yang lapor tidak bisa dibuka pintunya

tante asih… ughhh hoaaaaam…. ucap seorang yang sudah aku kenal dan sat aku kenal

ugh tante, maaf kecapekan, hooam habis enak tidurnya… setelahnya seorang wanita yang bangun setelah laki-lakinya terbangun

enak?! habis ngapain kalian ucapku dengan tangan berpinggang

yee… ndak ngapa-ngapain Cuma bobo bareng, ya kan yang? belanya dengan meminta persetujuan pada kekasihnya itu

heeh… hah, dasar wanita kalau sudah cinta pasti bilang iya iya dan iya

pantes dari tadi pintu ndak bisa dibuka, tadi perawat bilang ke tante pas tante datang, owalah ternyata si preman sudah datang! Pantes! Malah mesra-mesraan hmmmm… ucapku

iya maaf tante… ucapnya, dan kekasihnya bersembunyi di balik punggungnya dan memeluktubuhnya. Kulihat wajah tak bersalah dari lelaki ini

kalian berdua itu memang hugh! Kalau ndak ngapa-ngapain, kenapa harus dikunci segala? ucapku keras

kan Cuma tidur, malu saja tan kalau nanti tiba-tiba ada yang masuk belanya

kan juga ndak perlu dikunci kan? Malah bikin pikiran jadi negatif ucapku

tante galak bener sih… ucapnya

lha kamu itu ar, hmmm…. ya sudah, ya sudah terserah kalian, tapi ndak usah neko-neko. Ini makan paginya, kalian besok bisa pulang tapi kerumah kakek kamu dulu ar. Kamu sudah ditunggu ucapku

beneran tan bole pulang? Oke nanti mampir kerumah kakek dan nenek. Mau kan yang? ucap arya keponakanku

heem… ucap dian kekasihnya

nih, makan paginya buat kalian berdua dan ini obatnya tanyaku, sembari meletakan makan pagi di meja dian

weee… tante tahu saja kalau aku lapar ucap arya

tante sudah dugakalau kamu kesini. Yan kamu sudah mandi apa belum? ucapku

sudah tan, kemarin sehabis ibu keluar ups… ucapnya terhenti

kok ups? ucapku mendelik dan melihat kearah mereka berdua

Oooooo… jadi kemarin mandi bareng gitu iya? tebakku

mandi bareng? Iiih tante pikirannya negatif… ucap arya

lha terus itu kenapa dian bilang ups? selidikku

ups, maksudnya pups, buang ari besar. Benar ya yang? bela arya

hmmm… ya sudahlah tante ndak mau ikut-ikutan yang jelas, kalian harus bersih hari ini, okay? Ajak dian jalan-jalan keluar di taman ar ucap tante

ndak mau tan, disini saja, ya yang? ucap dian

huh… iya iya… tante mau kerja lagi, kalian mandi terus makan ucapku, kucium kening mereka berdua dan kemudian aku keluar.

Aku tutup pintu kamar VVIP ini, dan bersandar sebentar di pintu itu. melihat mereka seperti melihat aku dimasa muda yang lalu, hi hi. Dulu budhe ayu yang mengetahuinya secara tidak sengaja. Mas askha dulu kecelakaan dan aku merawat mas askha di rumah sakit ini juga sebelum aku menjadi perawat tetap disini. aaaah… aku tahu yang mereka lakukan karena aku dulu pernah muda, tapi terima kasih ya budhe, ndak dikasih tahu sama ayah dan ibuku. padahal budhe dulu hanya berniat menjenguk tunanganku itu hi hi hi.

Aku bangkit dari sandaranku dan kupandang sebentar pintu itu. Aku tersenyum jika mengingat kejadian dulu waktu berada didalam. Di kamar yang sama dengan yang digunakan oleh arya dan juga dian, di kamar ini aku dulu merawat masku.

Nton bisa minta tolong sebentar? ucapku kepada anton

eh, lho… tante diah kok disini? mau ngapain? ucap anton kepadaku

aku ingin menemuinya untuk terakhir kali bisa, tapi tolong selain aku dilarang ada yang masuk ucapku kepada anton yang sedang merokok diluar rumah sakit

eh… mmmm… okay tan, langsung saja. mari anton antar ucapnya

Anton seorang anak yang menjadi sahab arya sejak SMA. Karena dia juga keluargaku selamat. Aku diantarya menuju ruangan dimana orang yang aan menjadi mantan suamiku berbaring.

disini tan… ucapnya kepadaku

bro, biar aku yang jaga sebentar… urusan keluarga ucap anton kepada penjaga didepan pintu

okay bro… ucap mereka

silahkan tante, saya jaga diluar… ucapnya

Aku mengangguk pelan dan kemudian masuk ke dalam ruangan, kulihat seorang yang dulu pernah aku coba taklukan hatinya agar berubah berada ditempat pembaringan, kukunci pintu kamar. Wajahnya sedikit terkejut ketika melihatku, aku dengan dandanan yang sopan menggunakan kaos lengan panjang longgar bewarna hitam. Serta rok dibawah lutut yang sedikit ketat. Kudekati lelaki itu.

hai apa kabar? ucapku sembari duduk disamping, tak kuhiraukan satu lelaki di sana

nimas… ucapnya masih saja memanggilku dengan sebutan itu

ada apa hes? Kalah? ucapku tersenyum

eh… kamu tahu semuanya? ucapnya dengan tubuh lemasnya itu entah kenapa aku jadi kasihan tapi tak sudi aku mengasihaninya

aku tahu semuanya dari anakku, anak yang lahir karena kebrutalanmu saat itu. masih ingat kan? ucapku

apa kamu kesini untuk membalas denndam kepadaku? Kau adalah wanita yang aku sayang yah ucapnya merayuku

devi bagaimana? Masih ingat teman kuliahku yang kamu setubuhi dirumah saat itu? ada banyak lho… arya juga cerita tentang wardani, dan semuanya ucapku

tolonglah aku yah, aku sangat mencintaimu, maafkan aku dan aku akan… ucapnya aku potong

akan membantai keluargaku ya setelah semua yang diberikan keluargaku padamu? Aku tahu semuanya hes, tahu semuanya, seandainya saja arya tidak mengakhiri kiprahmu mungkin saja kamu akan membantai keluarga setelah itu…

cinta? Jangan bicara tentang cinta! kamu tidak pernah tahu mengenai arti cinta hes ucapku

terserah apa katamu yah, aku tetap mencintaimu. Aku khilaf karena om-kamu, maafkan aku. Aku ingin memperbaiki semuanya ucapnya

kenapa tidak dari dulu? ucapku

kamu tahu hes… dulu ketika kamu mengambil mahkotaku, rasanya aku ingin mati. Walau pada akhirnya aku harus tunduk padamu hingga anak itu lahir. Kamu tahu ketika aku melihat bayi itu, rasanya aku ingin membunuhnya karena setiap kali melihatnya aku melihatmu. Tapi untung saja, rasa keibuanku datang dan aku membesakannya… huffftttthhh… eh nico, gimana kabar ima? Tahu ima kan? Karima yang sama-sama kamu renggut di hotel bersamaan dengan temanmu ini ucapku

eh… aku khilaf yah ucapnya

kenapa sih kalian itu? setiap kali kalah, sudah melakukan kesalahan selalu bilang khilaf, khilaf, khilaf terus. Ndak ada kata-kata lain? ucapku, mereka diam. Aku memandang mereka berdua, kini pandanganku terhenti pada mahesa

oh, ya hes lupa…

setelahnya aku mencoba hadir sebagai istrimu. Merawat tubuhku, kecantikanku, untuk menarik perhatianmu agar tetap berada di rumah. Tapi ternyata kamu malah melalang buana di dunia perlendiran. Oh iya dan kata arya yang diberitahu sama wardani, katanya aku kurang variasi ya? ucapku

eh… bukan yah, bukan tidak ada yang salah, aku hanya… ucapnya terpotong

khilaf? Hi hi iiiih lucu deh kamu itu sayang hi hi hi ucapku

yah, tolonglah beri aku kesempatan untuk memperbaikinya ucapnya

bilang pada arya, ibu mahesawati dan juga bapak wicak… seandainya kamu kembali, tak akan ada satupun orang di daerah ini yang akan menerimamu hes ucapku.

Hening sesaat…

oh iya… tubuhku bagus ndak hes? godaku, tapi dia diam

ayo dong… ngomong… masa diam, sariawan ya? lihat hes… ucapku berdiri menghadapnya dan membelakangi nico

Kutarik kaos yang aku masukan dalam rok, dan kubuka hingga kedua payudaraku muncul. Kutarik keatas bra yang menopang payudaraku.

bagus ndak hes? Kenceng lho ini? ini kemarin yang kamu rasakan, tapi sayang kamu muncrat duluan. Aku ndak puas… dan ini hes… ucapku mengangkat rokku dan menurunkan celana dalamku

ini yang kemarin kamu masuki, dan kamu sempat bilang oh sempit sekali, kamu perek jalanan, lonthe, kamu pantas jadi lonthe dan kamu kemudian mengerang aarrrghhh… hi hi hi ucapku

eh, nico ndak boleh lihat ya, nanti dihukum lho… ucapku

Aku kembali merapikan pakaianku, aku dekati mahesa dan kurebahkan seagian tubuhku disampingnya. Kumainkan hidungnya yang jelek itu.

Bersambung