Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 91

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 91 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 90

Aku langsung menarik kepalanya, kudaratkan bibirku dibibirnya. aku melumat bibir keringnya itu, memang telrihat kontras jika dibandingkan denganku. Aku sudah tidak peduli lagi, hanya lelaki ini yang mengerti akan diriku. Aku melumat bibir yang sudah hampir 20 tahun lebih tak aku sentuh, aku kangen… benar-benar kangen dengannya.

Bibirnya yang semula diam, mulai membuka terasa sangat kasar di bibirku. Lidahnya mulai masuk kedalam mulutku, aku memjamkan mata hanya bisa meraskan lidahnya menari kembali didalam bibirku. Aku tutup bibirku, dan kubuka mataku kembali aku melihatnya. Aku tarik lagi kepalanya jadi aku tidak perlu berjinjit, keningnya bersatu dengan keningku.

jele banget ya aku n… ndut… ucapnya terbata

iya dari dulu memang hiks kamu cowok jelek… cowok jelek yang suka ngegombal setiap kali aku berlibur… cowok jelek yang suka kirim pesan sok perhatian… kamu jelek hiks hiks jelek bangethhh hiks hiks hiks… jelek banget… banget banget banget… hiks hiks hiks ucapku, entah apa yang sebenarnya aku katakan, tapi di hadapannya aku tidak bisa menyembunyika sifat asliku yang manja. Aku sudah tua, tap aku tetap tak bisa menyembunyikan manjaku dihadapannya. Aku bisa tegar dihadapan orang lain, tahan banting tapi dihadapannya aku, aku seorang wanita yang manja…

dan kamu cewek ndutku… ucapnya yang langsung memeluk tubuhku kembali

mas… aku sayang sekali sama mas… sayang bangethhh cinta mashhh… hiks hiks hiks ucapku sekali lagi

heem aku juga cinta kamu… hiks hiks hiks ndut hiks hiks hiks… ucapnya

Aku berpelukan lama sekali, tak ingin aku lepaskan. Mataku terpejam seakan ingin tidur dalam pelukannya. Lama sekali hingga dia melepasan pelukannya, aku merasa jengkel ketika dia melepas pelukannya.

ndut mau bobo? Ndut mau digendong dipunggung ndak? Ndut mau dipuk-puk lagi ndak kaya dulu ucapnya, kata-kata itu, kata-kata yang telah lama hilang dari dalam hidupku. Jengkelku hilang, sifat lamaku muncul seakan tidak peduli lagi dengan umur yang sudah aku sandang.

pengen… pengen digendong… cepetaaan digendooong… ucapku manja dengan kedua tangan lurus

Ah, aku benar-benar merasakan kebahagiaan yang selama ini tak pernah aku rasakan. Dirumah kecil ini, aku digendong dipunggungnya. Berputar-putar seperti dulu ketika aku baru menikah bersamanya. Tawaku, terus keluar dari bibirku, walaupun hanya memutari ruang tamu ini aku sangat bahagia. bahagia sekali, lama tak ada yang menggendongku, lama tak ada yang membuatku merasakan diriku sebagai seorang wanita.

ha ha ha ha… tawa kami bersama-sama…

Hingga akhirnya aku turun dan langsung menyuruhnya untuk bersantai, seperti dulu. Aku membersihkan rumah ini, membersihkan rumahnya, menyapu, mengepel. Aku melihat rumah ini begitu kecil dan kumuh. Kamarnya pun berantakan, hanya sebuah kasur kapuk dengan satu bantal didalam kamarnya. Penuh dengan puntung rokok, kertas dan sebuah foto seorang wanita menempel di dinding kamarnya.

hanya itu yang aku punya, hanya itu yang selalu mengingatkanku kepadamu ucap mas koco dari belakang

eh, mas… ucapku

setiap malam aku turunkan foto itu, berharap kamu selalu hadir dalam mimpiku. Berharap kamu datang ke duniaku ucapnya

mas… ucapku langsung mendekatinya dan merebahkan kepalaku di dadanya

kini kamu sudah ada disini, inilah aku sekarang. Tua, jelek, keriput dibandingkan dengan kamu yang tidak jauh berbeda dengan masa ketika kita menikah dulu yang ucapnya

aku juga sama sudah bertambah tua mas, sama seperti kamu hanya saja mereka mengoperasiku menjadikanku tetap sama. Maafkan aku mas, ini bukan aku yang sebenarnya, disana hiks.. hiks aku … ucapku

sudah jangan kamu katakan kepadaku apa yang terjadi disana, melihatmu dulu ketika itu terjadi dihadapanku sudah cukup membuatku merasakan sakit bertubi-tubi… semua beawal dari kesalahanku, maafkan aku… mungkin sekarang inilah yang aku punya… bahkan untuk menghidupi dan membahagiakanmu kembali mungki ak… ucapnya aku tutup dengan jariku

bisa, pasti bisa kita bisa… aku ingin hidup dengan apapun yang terjadi, tak peduli harus hidup di tempat ini, yang terpenting itu denganmu. Kita bisa memulai hidup baru mas dan mas… aku berbalik menghadap ke arahnya

ada satu hal yang ingin aku katakan kepada mas, kalau… ucapku terhenti

kenapa ndut? … ucap mas koco yang mendekatkan wajahnya ke wajahku

anak yang dulu pernah lahir dari m… ucapku

ssssttt… aku tidak peduli dia dari aku dari siapa, yang terpenting dia keluar dari rahimku. Yang keluar dari rahimmu berarti anakku. Aku ayahnya, dan dia harus memanggilku ayah, bapak, papa terserah dia. Jangan permasalahkan lagi mengenai anak kita, dia anak kita… ucap mas koco memelukku

Aku peluk dia lagi, ah walaupun niatnya membersihkan rumah kalau leleki jelek ini berdiri didekatku tetap saja aku ingin memeluknya. Aku lepas pelukannya dan marah-marah kepadanya, ya marah kecil karena mengganggu bersih-bersih rumahku. Senyumnya tidak jauh berbeda seperti duluyang selalu menggodaku ketika aku bersih-bersih rumah. Kutemukan surat nikah, dan foto-foto kenagan bersamanya. Ah… dasar cowok jelek!

Setelah semuanya bersih, aku mengajak mas koco untuk keluar rumah untuk mencari makan. Dengan mesra aku berjalan sambil memeluk tangannya. Berjalan menyusuri gang yang aku lalui sebelumnya.

woi co, entuk lonthe ndi? Po kuat mbayar kowe ha ha ha rene wenehke aku wae! (woi co, dapat lonthe darimana? Apa kuat kamu bayar kasihkan ke aku saja) teriak seorang lelaki dari sebuah pos, disana banyak nongkrong lelaki

jangan asal bic… ucap mas koco yang terlihat emosi, aku hentikan

sudah mas…

iya mas ku lonthenya tapi juga istrinya! bentakku

halah lonthe saja berlagak istrinya, sini mbak punyaku di emut ucap seorang lelaki berdiri

ndak! bentakku

dasar lonthe sok jual mahal! ucap seorang lelaki yang kemudian berdiri mendekatiku bersama beberapa orang lelaki

masss…. ucapku ketakutan gara-gara ulahku sendiri, mas koco langsung berdiri di depanku

jangan sentuh istriku! ucapnya

halah co co, apa kamu itu punya istri! Istrimu sudah minggat! Mending kasihkan lonthe itu ke kami biar kami rasakan rame-rame! ucap seorang lelaki

Tapi mas koco tetap membelaku, dan siap memberikan bukti kalau aku istrinya. Aku tahu mas koco tidak pandai berkelahi, tapi bagaimana ini suasan menjadi panas. mas koco terus melindungiku…

STOP! ucap seorang lelaki

hah… apa ka… eh… teriak seorang lelaki yang nongkrong tadi. Aku menengok ke depan melihat tiga orang lelaki berdiri gagah

Jika kalian beran menyentuh pak koco dan bu wardani kalian akan kami penjarakan, atau mungkinakan kami bunuh disini! ucap lelaki yang baru saja datang

eh… bro itu beneran istri koco kayaknya mending ndak usah ganggu daripada kita mati, mereka bawa pistol bro.. ucap salah satu lelaki yang nongkrong

Mereka langsung mundur dan lari…

pak koco dan bu wardani, sudah kalian tenang saja. kasus memang sudah selesai tapi kalian berdua masih dalam pengawasan kami. jadi tenang saja… ucap lelaki tersebut

eh, kalian siapa? ucapku

anda ingat anton bu? Yang bawa senapan panjang? ucapnya aku mengangguk

dia yang meminta kami untuk melindungi mertua dari sahabatnya, jadi tenang saja bu ucap mereka yang kemudian pergi menghilang dengan cepat

Mas koco terdiam berpikir, aku katakan kepadanya untuk memikirkan itu nanti saja. bak seorang pengantin baru, aku terus memeluk taangannya. Dengan gagah dia berjalan disampingku, bahkan ketika makan di warung pun aku tak sungkan untuk minta disuapi. Setelahnya aku kembali kerumah bersama mas koco…

Anton itu siapa ndut? ucapnya

dia teman calon mantu kamu mas ucapku

mantu? Siapa? ucapnya

namanya arya, dia anak mahesa tapi mas jangan marah dia yang telah menyelematkan aku dan semuanya… dia juga yang menghancurkan ayahnya sendiri, aku pernah bertemu dengannya… ucapku

ah, arya… anak itu telah menepati janjinya… ucapnya

eh, mas kenal arya? ucapku,

Setelah aku bertanya mas koco menceritakan semua tentang arya. begitupula aku bercerita tentang arya tapi tidak aku ceritakan kalau aku sudah pernah memperkosa calon mantuku sendiri. dipeluknya aku erat, dan didekap kembali bibirnya menyentuh bibirku. Aku kemudian minta digendong ke dalam kamar, aku dorong mas koco hingga rebah di kasur kecil itu. aku buka satu persatu pakaian yang menutupiku hingga tak ada sehelai benangpun menutupi tubuhku. Kulihat wajahnya terlihat takjub…

mas… maafkan aku, memang ini semua palsu… ucapku lirih, dia menarikku

tapi kamu wardani kan? ucapnya aku mengangguk

istriku kan? ucapnya kembali ,aku jawab dengan anggukan

Aku tidak peduli kamu keriput, aku tidak peduli kamu menjadi tua… yang penting kau adalah istriku, wardani ucapku

heem mas hiks… ini semua untuk mas… ucapku

Kulumat bibirnya, kupelulk kepalanya. Aku bangkit hingga susu besarku menenggelamkan wajahnya, ah… tangannya yang kasar sudah mulai memainkan jatahnya di vaginaku. Dalam sekali mengobok-obok vaginaku. Aku mendesah tak peduli dengan tetangga-tetanggaku, pinggulku bergerak maju mundur sendiri meminta perlakuan lebih dari jari-jari kasarnya itu. lidahnya sudah bermain-main di puting susuku, ah nikmat sekali. Jarinya mengocok vaginaku, satu tanganya lagi bermain-main di itilku.

arghhh mashhhh aaku keluaarhhhhhhhh…. jerit kecilku, tubuhku mengejang tak karuan. Sembari mengejang aku memanandang mas koco dan melumat bibirnya.

cairanmu hangat dek, sudah lama aku tidak merasakannya… ucapnya, membuatku bertanya-tanya

apa mas tidak pernah melakukannya dengan mmm… ucapku

tidak dek, tidak… aku pernah punya pemikiran seperti itu tapi setiap kali aku ingin melakukannya dan melihat foto kamu, aku tidak sanggup. Lebih baik aku tidak meraskanya jika tidak dengan kamu ucapnya, membuat hatiku pedih mendengarnya. Aku selalu dijadikan anjing peliharaan oleh mereka, sekalipun banyak yang keluar masuk di vaginaku tapi hanya sekali aku merasakan klimak sebenarnya selama aku menjadi tahanan mereka, dengan calon mantu.

ah, mas sekarang puaskan dirimu mas… mas ingin apapun akan aku lakukan buat kamu ucapku sembari turun kebawa berlutut dihadapanya yang duduk dikasur kecil tanpa ranjang

Ah dek… kamulah yang terseksi… ucapnya,

aku tersenyum dan mas koco kemudian sedikit bangkit dan berlutut diatas kasur seakan mengerti maksudku. Aku tarik celananya sekaligus celana dalamnya, dan…

mas… ucapku terkejut kedua tanganku aku tarik untuk menutupi kedua mulutku. Aku menengadah ke arah mas koco.

ke kenapa dek? ucapnya

kenapa jadi lebih besar mas? Dulu tidak seperti ini? ucapku

nduuuut ini masih yang dulu nduuuut… ndak berubah, ini yang dulu sering kamu mainin nduuut… ucapnya

endak mas, dulu ndak segini… ucapku masih shock melihat ukuran batangnya,

coba deh dipegang… ucapnya

Aku arahkan tanganku memegang batang kemaluan mas koco. dilihat dari manapun batang itu mengingatkan aku dengan batang calon mantuku. Setidaknya hampir sama, walau lebih pendek 1-2 cm dan besarnya hampir sama juga. Seingatku dulu tidak sebesar ini, ah…

benarkanhhhhh erhhh sama kan nduttt…. ucapnya menahan nikmat karena tanganku naik turun di batangnya

heem mas sama… maaf mas aku lupa ucapku, mas koco tidak melanjutkan percakapan itu karena mas koco tahu percakapan ini akan berlanjut ke arah masa-masa kelamku disana

ndut… aku sudah kangen ndut… boleh aku masukan ndut… ucapnya memohon

mmmm… ndak boleh, endut kan belum mainan… ucapku sedikit manja

ya udah ndut, dimainkan ndut. Ini mainan kesukaanmu ndut ucap mas koco

Aku mengulum dan menjilati batang mas koco dengan sangat buah, ah benar-benar besar dan kuat tidak seperti yang pernah masuk sebelumnya. Mahesa dan nico semuaya hanya kepuasan mereka, aku yakin batang ini akan memuaskanku. Karena batang ini adalah batang kesayanganku semenjak dulu. Aku sudah tidak tahan lagi, aku segera berdiri dan langsung melumat bibir mas koco hingga mas koco terduduk. Aku kangkangi selangkangannya, dan kumasukan.

Arghhh….. rintihku

kenapa sayang? ucap mas koco

besar banget mas… ndak bisa masuk… ucapku manja

ya sudah, kamu tiduran sayang ucap mas koco

Mas koco langsung menidurkan aku, dibuka lebar pahaku. Perlahan batang mengerikan itu diarahkan ke vaginaku. Terasa nyeri, seperti robek dan sangat penuh. Aku merasakan vaginaku seperti robek seperti ketika batang arya masuk. Ah, tapi batang ini arghhhh sungguh nikmat sekali aku tak mampu menahan semua nafsuku lagi. Mas koco yang semula perlahan memasukan terlihat sudah tidak bisa menahan nafsunya dengan paksa dia memasukannya.

ah… sayang sempit sekali sayang, ah… inikah rasanya sayang hampir 20 tahun aku tidak merasakannya ucapnya

iya mas erghhh terus goyang mas enak sekali mas… terushhh mashhh ah ah ah ah ucapku yang sebenarnya berharap batang mas koco tidak langsung menggoyang karena vaginaku terasa sakit, tapi setelah apa yang mas koco katakan kepadaku aku hanya bisa menerima

Mas koco meremas susuku, menggoyang pinggulnya perlahan-perlaha hingga pinggulnya bergoyang sangat cepat sekali. Aku mengaduh mengerang dan tak bisa aku pungkiri lagi kalau aku merasakan nikmat yang tiada tara. Pintu rahimku serasadi sodok-sodok oleh kelaminnya, membuatku merasakan sakit tapi nikmat. Owhhh… yah aku ingin semalaman di sodok oleh penisnya kontolnya.

ah mas… enak sekali memeku enak banget mas ah ah ah ah terus mas memek ndut kangen berat sama kontol mas racauku

oh ya sayng pasti akan kupuaskan dirimu ah aku akan pejuhi mememu sempitmu ini racaunya

yah mas terushhh… racauku

Mas koco terus menggoyang hingga beberapa saat tubuhku melengking sejenak mas koco mengehntikan gerakannya. Aku mengejang beberapa kali, ku atur cepat nafasku dan meminta mas koco untuk memulainya lagi. Aku benar-benar tak sanggup lagi menunggu goyangan pinggulnya.

ah mas… terusshhh yah lagi massshh terushhh sayang terusshhh ah ah ah racauku

memekmu enak sayang.. enak sekali ah ah ah racaunya

memekmu ini mas… kontoli memekmu ini mas… ayo mas, memek ndut ini memekmu mas butuh kontolmu… kontoli terusss ah ah ah kontoli terush mas… racauku

Selang beberapa saat… aku merasakan puncak yang dekat, mas koco memelukku…

kita keluar sama-sama mas…. ah ucapku

iya sayang aku pejuhi memekmu… ucapnya

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Terasa hangat sekali pejuhnya, ah untung saja pejuhnya tidak jadi batu. Ku peluk tubuhnya tubuh kami bersatu kembali setelah sekian lama berpisah. Kami berciuman, ku goda masku ini yang staminanya sebenarnya sudah tidak seperti dulu lagi. Tapi batangnya masih bisa bangkit lagi menandakan gairah mudanya belum hilang. Ya, aku melakukannya lagi hingga tubuh kami remuk karena kenikmatan ini. dan terlelap…

Pagi hari, aku dan mas koco berbincang setelah 2 ronde pagi hari…

mas… aku berbisik ditelinganya

jangan dek… ucapnya melarangku

please sekali saja, setelah itu ndak lagi… ucapku

iya tapi jangan hari ini… hari ini kita pacaran dulu ya 3 hari atau 2 hari gitu… ucapku

heem kang maaaaaaasss… manjaku

oia dek, ini di operasi juga ucapnya, memegang susuku

iya mas.. balasku

besok dilepas saja silikonnya. Mau kendur atau bagaimana itu lebih aman buat kamu dek ucapnya, aku mengangguk menyetujui agar silikon di susuku dlepas.

Jujur saja susuku sudah masuk dalam kategori besar namun megendur dengan bertambahnya usia tapi mau bagaimana lagi dua bajingan itu mengencangkannya lagi. Aku tinggalkan anakku karena aku yakin anakku aman disana.

Maaf ya ardha, eh dian… hari ini mama mau jaga papa kamu yang ganteng ini. mama juga pengen dong pacaran sama papamu lagi, apalagi papamu aw nggemesin itunya hi hi hi bathinku sembari memandang wajah mas koco

Masih, masih ada yang harus aku lakukan, aku harus mengobati lukamu mas…

Akhirnya sampai juga aku dirumah kakek dan nenek arya yang tak lain adalah ayah dan ibuku sendiri. tampak sedikit ramai didalam sana, ada apa sebenarnya? Segera aku keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah. Ramai sekali, terdengar suara kakakku andi, adiku ratna dan juga ada asih dan adiknya heri. Ketika aku memasuki ruang tamu suara yang familiar terdengar olehku, aku lanjutkan langkahku menuju ke ruang keluarga dan aku melihat sosok yang sudah tidak asing lagi bagiku.

TANTE IFAH! TANTE LAILA! teriakku langsung berlari kecil ke arah mereka. kupeluk mereka dengan erat

tante kok bisa disini? ucapku

hiiiiiii… mbak diah kuper, makanya kalau pergi jangan lama-lama… jablai lho entar ha ha ha ucap ratna

ealah… kaya kamu aja ndak jablay weeeeeek…. balasku

ih mbak diah ucap ratna ngambek

maaaaaaaasss…. aku tersenyum karena ratna langsung merajuk ke suaminya

iya… iya besok ndak pergi-pergi lagi… ucap suami ratna, andra membuat kami semua tertawa

kok belum tahu to mbak? ucap asih

ya aku ndak tahu to ya kalau tante sudah datang kesini, benar kan yah? ucapku

mereka datang sama asih barusan tadi pagi ucap ayah

Lho ini siapa? Kok kayanya kenal ya godaku kepada dua wanita cantik

anu… e…. tante… eh… mbak… aduh susah manggilnya, aku alya… ucap alya kepadaku, sebenarnya tidak susah mengenali wajah mereka berdua

alsa… ucap alsa

panggil aja mbak, kan aku masih muda ucapku

sudah tuek masih saja ngaku muda ucap mas andi yang dari dulu memang suka ngejek aku dan ratna

daripada situ… tuaan mana? ucapku

kalau itu bukan cuma tua udah keriput ha ha ha ucap asih, ratna dan herni istri heri bebarengan

HEH! Enak saja! tua-tua gini juga ganteng kaleeee bela mbak ika, sambil kedua tangannya berada dipinggangnya

Yeeee… ratunya ngebelain tuh… marah maraaaaaaaaah… ha ha ha ha ucap kami

hadeeeeeeeeh begini ini kalau rumah banyak ceweknya! keluh mas andi, Andra, Heri dan juga askha suami asih

emang situ mau kalau ndak ada ceweknya celetuk ibuku dan juga tante umi (ibu asih)

gih mboten ngoten mbah putri (ya ndak gitu)… mereka berempat kompak membela

kalian kompak benar ya, dah lama ndak kumpul masih saja kalian suka saling ejek. Ingat tuh sudah ada ekornya lho…. ucap tante ifah

iya bener, kompak benar mas anak-anak dan mantu kalian ini ucap tante laila

ya beginilah ha ha ha ucap ayahku sembari tertawa terbahak-bahak

Ruang keluarga di rumah ayahku memang yang paling besar diantara ruang keluarga dirumah anak-anaknya. Karena memang tempat berkumpul keluarga bukan, asih dengan askha suaminya beserta anak mereka, ratna dengan andra juga dengan anak mereka, Mas Andi dengan mbak Ika juga dengan anaknya, Heri dengan Herni juga dengan anak mereka. bahkan tante laila dan tante ifah juga dengan anak mereka tapi memang minus ayah dari alya dan alsa.

Aku merasa iri dengan mereka, tapi mau bagaimana lagi, keluargaku memang hancur karena mahesa. Seandainya bukan mahesa yang menjadi suamiku mungkin akan berbeda lagi tapi tak akan ada arya jika bukan mahesa. Ah, nak bagaimana kabarmu nak? Ibu ingin berkumpul bersamamu disini sebagai ibu dan anak.

Diah, anata ga omou mono wa arimasu ka? (Ada yang kamu pikirkan? Ucap ibuku tiba-tiba

Watashi wa sore o shitte imasu… (Ibu tahu saja) balasku

Haha wa anata no okāsan’nanode, haha wa subete o shitte imasu.. (Ibu adalah ibu kamu, jadi ibu tahu segalanya) ucap ibuku, aku hanya tersenyum ketika ibu seakan tahu yang ada dipikiranku

Kamu tinggal sama ibu ya sayang… ucap ibuku

Heem… ucapku

terus apa rencana mbak? ucap ratna

ya, sesuai dengan apa yang ibu katakan rat ucapku

maksudnya itu mau nikah lagi? ucap ratna

tidak, belum kepikiran aku… mau membesarkan anak dalam kandunganku saja dulu ucapku santai

HAAAA?! teriak mereka bersama-sama, ayah dan ibuku tampak terlihat santai. Mereka tersenyum juga om Wardi dan tante umi.

biasa saja kali, aku kan punya suami jadi wajar kan kalau aku hamil. Apa? Bingung? ucapku

sebentar-sebentar mbak, jadi mbak itu hamil sama si itu tuh… ucap asih yang mendekatiku dan duduk disampingku. Aku hanya mengangguk sambil menyilangkan kakiku

bentar-bentar… ada yang aneh ini… ratna mendekatiku

aneh gimana? Kamu tuh yang aneh, eits… kakak dan adikku jangan mikir macem-macem lho… ucapku sambil memandang mereka yang memandangku heran

kok bisa? Ceritain mbak?! ucap ratna

yeee kalau diceritain parno dong… ucapku

ya bukan begitu iiih mbak nyebelin deh! ratna ngambek

mbak, pas pulang sebelum jemput aku itu berarti mbak ketemuan sama… bukan sama arya? ucap asih aku menoleh ke arahku

kamu mau memperpanjang catatan si baj… eh… si dia? ucap kak andi yang sadar kalau ada anak-anaknya

benar kata mas-mu yah ucap mbak ika

okay daripada kalian mikir yang ndak jelas, waktu itu aku memutuskan untuk pulang kan? ucapku kepada semua dan mereka semua mengangguk tapi ayah dan ibu serta om wardi dan tante umi tidak, karena mereka sudah aku jelaskan sebelumnya

aku pulang, kemudian asih menghubungiku. Tapi sebelum aku menjemput asih dihari berikutnya aku menemuinya, ya bilang ini itu dan lain sebagainya, hingga akhirnya aku… itu anak-anak suruh main diatas dulu lah… ndak enak ceritanya ucapku

eh iya… dika ajak adik-adikmu semua main ke atas ya ucap mbak ika ke dika, anak tertuanya agar mengajak anak-anak dari ratna, asih dan heri juga.

yah, mama… kan asyik disini rame… ucap dika, mbak ika mendelik dan langsung dika megajak yang lain naik. Sebenarnya banyak yang malas tapi ketika mata dari ibu mereka melotot semua naik.

okay… aku lanjutkan… ucapku

setelah bertemu dengannya aku memohon kepadanya agar aku bisa medapatkan keturunan kembali. Awalnya dia tidak setuju tapi ya… gitu deh akhirnya dia mau, dan dalam keadaan setengah sadar, aku suruh dia tanda tangan ini ucapku sembari berdiri dan mengambil secarik kertas di dalam tas yang aku bawa. Ratna langsung merebutnya dan membacanya

jadi ini surat cerai mbak? ucapnya

iya, tapi tanggalnya tak suruh ngubah… ucapku

sama… ucap asih yang mendekati ratna

apa sih? ucap mbak ika yang ikut mendekat

pengacaranya ayah lah, aku suruh buat tapi tanggalnya… itu tanggal bulan depan, malaslah masih sama dia… tapi ya untungnya jadi ucapku santai sambil merebahkan punggungku di sofa

nekat kamu ya yah? ucap mbak ika

kalau ndak nekat mau bagaimana lagi? Anakku sudah menemukan tambatan hatinya dan sudah tinggal bersama beberapa hari sebelum aksinya dimulai. Jadi aku tidak bisa melarangnya, karena mungkin itu sudah jalan takdirnya… ucapku

arya ya… ucap ayahku

Semua menjadi hening tak ada suara dari siapapun ketika ayah menyebut namanya…

ini… dasar anak kamu itu memang nekat!

tapi kalau bukan dia, mungkin dulu aku sudah… ucap ratna

sudah apa mah? ucap andra

iiih papa pengen tahu aja, kan mama sudah pernah cerita ucapnya memandang ratna yang pada dasarnya dia bangga mempunyai keponakan arya.

Kira-kira 10 tahun yang lalu atau 11 tahun yang lalu ya? ratna memang selalu dibuat jengkel oleh anakku, arya selain nyebelin arya memang suka menggoda tantenya. Ratna selalu marahi anakku, karena mungkin selain jengkel ratna sangat benci terhadap suamiku.

kamu itu masih SD suka sekali godain tante! Pergi sana! Dasar anak baj… eh sudah.. pergi! teriak ratna waktu itu, tapi arya tetap tersenyum tak mengerti kenapa tantenya sangat marah sekali walau hanya direbutnya sebuah komik yang sedang dibacanya

sudah rat, namanya juga anak SD ucapku kala itu

SD sih SD sama saa seperti bapaknya, huh! ucap ratna, aku sadar kalau ratna sangat membenci ayah arya karena perlakuan ayahnya kepadaku

tapi bukan berarti kamu membencinya kan rat ucapku

alah… mbak ndak usah mbelain arya terus. Mbak sendiri juga dulu mau ngeb…nya ucap ranta yang aku mengerti maksudnya, ya aku dulu sempat ingin membunuh arya. tiba-tiba….

Tante… arya minta maaf, arya sayang tante… ucap arya kala itu yang langsung mengulurkan tangan ke arah ratna, ratna tampak jijik menerima tangan anakku. Aku sadar akan kebencian ratna, tapi mau bagaimana lagi inilah hidupku

Suatu hari ketika itu, aku tidak tahu menahu tapi tiba-tiba ratna masuk kedalam rumah dalam keadaan menangis bahkan tak mau menyapaku. Dia masuk kedalam kamar, dan aku tidak tahu juga yang terjadi didalam kamar. aku cari arya tapi tak ketemu tadi dia memang bilang kalau ingin pinjam komik ratna, apa dia didalam kamar ratna ya?

DASAR BOCAH BAJINGAN LEPASKAN! Teriak ratna dari dalam kamar, bocah? Aryakah itu?

Rat… ratna bukakan pintu kenapa dikunci? ucap

AYAHMU BAJINGAN KAMU JUGA BAJINGAN, LEPASKAN DASAR BOCAH BAJINGAN! teriak ratna tak mendengar. Apa yang dilakukan anakku?

ratna jangan hentikan rat hentikan ucapku semakin keras

ada ada dik? ucap mas andi yang datang dibelakangku

ratna mas, mas dengar kan? ucapku

eh… kenapa ratna?

RATNA BUKA PINTUNYA! ATAU MAS AKAN DOBRAK! teriak mas andi

DASAR BOCAH BAJINGAN LEPASKAN! teriak ratna

TIDAK! Teriak arya, ya itu arya. apa yang dilakuan arya kepada ratna?!

Mas andi yang terus berteriak tidak digubris, hingga akhirnya pintu di dobrak oleh mas andi. Terlihat pemandangan yang menakutkan. Leher ratna sudah terlilit sebuah selendang yang menggantung dan arya berada dibawahnya memeluk kaki ratna dengan erat. mecoba mengangkat tubuh ratna agar tidak terjatuh ke bawah.

RATNA APA-APAAN KAMU INI! teriak mas andi yang langsung membantu arya mengangkat tubuh ratna. Dengan cepat ratna bisa diselamatkan, ibu datang kemudian ayah juga datang. Ratna menangis, terisak tak karuan. Aku peluk anakku dengan erat.

hiks hiks hiks… ratna mau mati saja… ucap ratna

tante ndak boleh gitu nanti yang nemenin arya siapa? ucap arya yang tersenyum

Bodoh! Kamu ini anak seorang bajingan, ayahmu juga seorang bajingan! Aku tidak sudi main denganmu! ucap ratna kasar

Ratna jaga omonganmu! bentak ayah

ndak papa kok kek, itu tandanya tante ratna sayang sama arya ucapnya,

Bersambung