Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 90

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 90 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 89

Malam hari (hari 1)

Setelah aku dibawa oleh ambulan aku dimasukan kedalam ruang perawatan. Aku hanya ditemani ibuku saja, mbak asih mmm tante asih juga terlihat disini bersama dengan kedua nenek arya beserta kedua tantenya yang lebih muda dariku. Tapi hanya sebentar saja mereka bersamaku dan langsung pamitan untuk pulang kerumah. Kini hanya aku dan ibuku saja diruangan ini.

Ibu sudah mendapatkan perawatan seharusnya juga berbaring di tempat tidur, tapi ibu bersikeras untuk bersamaku. Wajarlah aku jarang sekali bertemu dengan ibu, walau tubuhku banyak berubah ibu tetap saja mengenaliku. Aku berbaring dikasur dengan tanganku dibalut oleh perban, untung saja ndak di infus.

ma… ucapku melihat ibu sedang menyiapkan minuman untukku

iya ada apa dha ucapnya

kok dha, dian maaaaa… ucapku

eh maaf, kan kebiasaan sayang ucap ibu

mama kok tahu kalau aku anak mama, secara aku kan dah ndak dekil kaya dulu lagi? ucapku

hmmm… kamu mau operasi plastikpun mama bakalan tahu. Suatu saat nanti kamu akan tahu ketika kamu menjadi seorang ibu ucap ibuku

hmmm… mama so sweet deh, sini mah tidur sama dian. anak mama yang cantik ini ucapku

bukan cantik tapi manis dan cantik sekali… ucap ibu

iya mama juga cantik hi hi hi ucapku

Mama kemudian duduk disebalhku…

ma, tidur sama dian ya… dian lma banget ndak bobo sama mama ucapku

iya sayang, iya tapi nanti kalau sudah ndak ada perawat yang datang yah ucap ibuku

Kleek…

hai yan.. ucap seorang perempuan, aku sedikit terkejut tapi kemudian tersenyum kepadanya. Ibu langsung turun dari tempat tidurku dan berdiri disampingku.

hai er mmm mbak erlina… ucapku

ih pakai mbak segala, wong umurnya juga hampir sama kok ucap erlina

ndak papalah secara kan kamu… ucapku tersenyum dan erlina mengerti itu

iya deh, tapi kamu ndak papa kalau… ucapku

ndak papa, malahan seneng kan punya saudara lagi… ucapku

lho kalian sudah saling kenal? ucap ibuku

sudah, ini kan kakak angkatnya ary… ucapku

ooowalah… tante ndak tahu… ucap ibuku

erlina tante… ucap erlina

iya, ini tante ibunya dian, panggil saja tante war, lengkapnya wardani ucap ibuku

tante cantik ya sama kaya anaknya… ucap erlina

bisa saja kamu mbak, mbak kan juga cantik ucapku memuji erlina, kami semua tertawa bersama

ini obat diminum ya yan, biar lukamu cepet kering dan juga cepet sembuhnya ucap erlina

heem, tapi kan lukanya ndak dalem-dalem banget kan? ucapku

ndak, kamu tertembak pada bagian bahu untungnya saja anton cepat mengelurakan peluru kamu jadi ndak perlu operasi. Sebenarnya ya ndak boleh, pasti sakit banget. Tapi kalau dilihat dari robekannya kelihatannya anton sudah ahli dalam membedah, robekannya teratur dan bagus ucap erlina, tidak mungkin aku mengatakan kepada erlina siapa anton

ndak tahu juga mbak… tapi terima kasih sudah merawatku ucapku

iya sama-sama, dah istirahat ya biar lekas sembuh ucap erlina

Erlina pun berpamitan kepada ibuku, dan keluar dari kamar. ibu kemudian berbaring disamping kirkuku. Aku memiringkan tubuhku ke kiri agar aku bisa berhadapan dengan ibu, tahu sendiri kan kalau bahu kananku tertembak jadi tidak mungkin aku tindih dengan tubuhku.

Ibu mengelus wajahku, elusan yang sangt aku rindukan selama ini. Elusan-elusan lembut ibu membuatku mengantuk, tiba-tiba dalam khayalanku, membuat susuku mengeras sendiri ketika teringat seorang lelaki yang selalu aku minta untuk selalu mengelus susuku ketika hendak tidur. Aku tersenyum sendiri dalam tidurku…

Hari-2

Aku bangun siang sekali, kulihat matahari dari jendela tampak sudah menyala-menyala. Kulihat jam dinding dalam kamar ini menunjukan pukul 10 pagi. Tak kudapati ibu disampingku, kulihat sekeliling juga tak ada ibu. beberapa saat kemudian ibu masuk dengan membawa handuk kecil.

mama dari mana? ucapku

tadi minta handuk kecil buat mambasuh tubuh kamu. jadi kamu ndak usah mandi dulu ya ucap ibuku

nanti kan bau, apa mama ndak kangen mandiin aku? godaku

yeee kangen sih kangen tapi… ucap ibuku

tapi apa ma? aku heran

tapi nanti arya ndak ada kerjaan kalau kamu sudah mandi ucap ibuku

iiih masa aku disuruh mandi bareng sama arya ucapku, ibu melihatku dengan pandangan yang bagaiman gitu…

iiih mama lihatnya gitu deh… iya, dian sudah sama arya… tapi jangan di omongin, dian kan malu ucapku

siapa yang maksud ke situ? Maksudnya arya yang ngater ke kamar mandi, terus kamu dimandiin sama susternya gitu. Ketahuan ya… ucap ibuku, membuatku malu sendiri sudah mengakuinya dihadapan ibu

huh paling ibu juga sudah tahu… ucapku, sembari pipi kanan dan kiriku menggelembung

sudah ndak usah dibahas lagi, masalah tahu atau tidak… ya mama kan tahu, secara mama kan ibu kamu… terserah kamu sayang yang penting kamu bahagia, ibu senang ucap ibuku, langsung aku peluk

Aku bercanda dengan mama, dan kemudian tubuhku dibasuhnya. Lucu juga ya, bagaimana nanti kalau mas mandiin aku pasti hiiii… digituin. Tapi itunya gede banget, kemarin saja sakit banget. Aaaaaa… aduh gimana ini… tapi tapi… aaaaaaaaa…. kangeeeeeeennn….

lagi mikirin apa? Wajahnya kok memerah gitu hayoooo ucap ibuku

rahasia weeeeek… ucapku, ibu hanya tersenyum kepadaku

kemarin kamu olesi apa sayang kok orangnya langsung K.O ucap ibu

Aku kemudian menceritakan pertemuanku dengan ibu diah, ibu arya. dari situ aku cerita panjang lear mengenai pertemuanku. Dan disitulah ibu arya mengolesi bagian-bagian sensitifku agar aku tetap terjaga. Ibu Diah juga telah memberitahukan kepadaku kalau cukup dbasuh dengan air saja sudah hilang. Setelah cerita itu, ibu menjutkan membersihkan semua bagian tubuhku hingga benar-benar bersih. Teringat ketika aku masih kecil.

Setelah semua bersih, ibu memakaikan pakaianku kembali. Pakaian lengan panjang yang longgar, membuatku teringat akan kaos panjang yang aku minta paksa dari mahasiswaku. Kalau dulu aku ngebet banget dapat kaos darinya, tapi aneh juga ya kenapa aku harus ngebet banget? Jadi tambah maluuu… apalagi huh! Memang mahasiswa nyebelin masa sama dosennya sendiri mengkritik pakaian yang dikenakannya, pikirannya mesum banget! Tapi benar juga… aaaa pokoknya kamu salah, salah, salah dasar cowok nyebelin!

Setelah bergulat dengan perasaanku sendiri, perasaanku kembali menjadi tenang, entah apakah karena esok aku akan bertemu dengannya. Sudah terlalu rindu aku dibuatnya. Pokoknya kalau besok ketemu, mau aku… erghhh… kangen bangeeeeeeeet. Cepetan datang, eh jangan aku belum mandi, datang saja nanti mandiin aku, eh tapi aku maluuuuuu… dasar cowok nyebeliiiiin!….

kangen nih yeee ucap ibuku, menggugah lamunanku

uh apaa sih mama, godain dian terus ucapku, setelah membalas ibu, pandanganku menjadi sedikit kososng melamun lagi

ngalamun lagi dah kangen berat ya? berapa kilo? canda ibu kembali

eh… mama! Jangan godain dian terus kenapa sih uuuuh ucapku sembari nganmbek

hmm… ternyata anak mama ini kalau ngambek cantik juga ya? pantesan, si bocah SMP itu terseret-seret…goda ibuku

mamaaaaaaa…. ucapku semakin ngambek

secara kan dah berapa hari ndak ketemu sama ehem ehemnya ucap ibu, mendekatiku dan mencubit kedua pipiku

heem… banget ma… ucapku

iiih wajahnya merah banget… ucap ibuk sembari memelukku dari samping. Aku tersipu malu sekali dihadapan ibu, bagaimana ya kabar cowok nyebelin itu!

ma… ucapku, tiba-tiba teringat akan papa

ya… balas ibuku

ndak pengen ketemu sama papa? ucapku

Ibu menghelas nafas panjang dan memandangku…

iya nanti sayang kalau arya sudah datang ya ucapnya aku tersenyum

iya ma, temui saja. papa pasti bahagia ketemu sama mama lagi.. bujukku

mama ndak yakin nak, setelah semua yang terjadi. Walau sebenarnya itu semua… ahh… tidak usah dilanjutkan saja mama, tidak kuat kalau harus mengingat masa lalu… biarkan besok ketika bertemu, papamu mau menerima mama atau tidak ucap ibuku

yakin deh ma, pasti mau ketemu kok kembali aku meyakinkan ibuku

Hari ini aku lalui dengan bercanda bareng ibuku, mengenang masa-masa indah ketika kami tinggal bersama. ya indah, kalau bajingan itu pas ndak datang kerumah tapi kalau pas datang seperti neraka. Untung dia sekarang sudah tertangkap. Hingga malam hari, erlina datang kemudian erlina meminta waktu kepada ibu agar bisa berbicara kepadaku.

ada apa mbak? ucapku, yang duduk diatas tempat tidurku

sebenarnya ndak papa sih Cuma pengen ngobrol saja… ucapnya

wajahnya jangan gitu dong mbak, ada yang mbak pikirkan? ucapku

eh… anu itu… gimana ya yan ngomongnya, susah ucapnya, aku wanita dia juga wanita. Wanita memiliki perasaan yang mungkin seorang lelaki tidak pernah mengetahuinya. Aku merasa dia ingin mengakui sesuatu tetapi takut mengungkapkannya, mungkin aku harus memulainya terlebih dahulu agar suasana tidak canggung seperti ini.

mbak… arya sudah cerita semuanya, yang terpenting harapanku cuma satu mbak. Biarkan aku yang menjadi satu-satunya untuk dia ucapku, membuatnya sedikit terkejut dengan ucapanku

haaaaaasssssh… erlina menghela nafas panjang

ternyata dia sudah cerita ya? padahal aku dulu memintanya merahasiakannya, maaf yan… sebenarnya aku ingin mengakui semuanya disini bukan untuk merusak hubungan kalian hanya saja aku merasa bersalah kepadamu, hanya itu… kita sama-sama wanita, dan aku juga pasti akan merasakan sakit jika pasanganku melakukan hal yang sama, maka dari itu disini aku hanya ingin minta maaf dan aku pastikan aku akan menjadi kakak perempuannya seperti kakak kandungnya sendiri. aku tidak ingin ketika kelak kamu mengetahuinya kamu akan membencinya, karena semua adalah kesalahanku ucap erlina berdiri di depan ranjangku

sudah mbak… harapanku ya itu tadi, tak masalah mbak tetap menjad kakak perempuannya. Hanya itu tadi mbak… ucapku

iya yan, pasti… ucapnya tersenyum dan mendekatiku dari samping. Dengan hati-hati aku dipeluknya.

maafkan aku yan, maaf aku tidak akan lagi memperlakukannya seperti dulu. Aku tidak tahu yan sungguh aku tidak tahu jika kamu sangat mengharapkannya, aku juga telah menghianati pacarku sendiri. mulai sekarang dan seterusnya aku akan membahagiakan alan kekasihku, aku harap kamu uga membahagiakan adikku. Hiks hiks…. ucapnya menangis

iya mbak… hiks… akupun ikut menangis, dia melepaskan pelukanku

kalau dia sampai menyakitimu, bilang aku ya… biar aku hajar dia ucapnya, sembari memngusap air matanya

iya… ucapku yang ikut menangis

Kami berpelukan kembali…

oh iya, jadi mau kan jadi kakak iparku ucapku

heem… punya adik ipar cantik seneng juga ucap erlina

Kami kemudian berpisah dan selang beberap saat ibu kembali. Ibu tersenyum kepadaku, dan mengatakan kepadaku kalau aku lebih kuat darinya. Aku membalas ibuku, kalau dia lebih kuat dariku. Canda tawa kami bersama, hingga mengantuk dan ibu tidur bersamaku kembali.

hati kamu besar juga ya nak ucap ibu sayup-sayup aku dengar

itu semua ibu yang mengajari… ucapku yang kemudian tertidur dalam pelukannya

Hari-3

mama, datangilah papa ucapku sekembalinya ibu dari luar kamarku

tapi arya belum datang sayang ucapnya

sudahlah bu, hari ini dia pasti datang ucapku

kamu yakin? ucapnya

heem ibu tenang saja, arya tidak pernah ingkar janji ucapku

baiklah kalau begitu, ibu mandi dulu ya ucapnya

oia bu, nanti kalau ada taksi diluar rumah sakit bilang sama supir taksinya untuk memanggilkan pak wan, gitu ya bu. Itu langganan taksiku sama arya ucapku, ibu mengangguk

Setelah beberapa saat ibu mandi, kemudian aku dan ibu mengobrol sejenak. Aku kuatkan hati ibuku agar mau bertemu dengan ayah. Ya, bertemu dengan suaminya walau dia bukan ayahku secara biologis aku akan menganggapnya sebagai ayah kandungku.

Setelah lama mengobrol kesana kemari ibu akhirnya meninggalkanku, peluk dan cium darinya membuatku kembali tegar menunggunya. Selepas ibu pergi, aku sendirian didalam kamar. Sejenak aku merasakan rindu yang sulit diobati, ugh jengkel banget sama cowok nyebelin itu huh!

Selang beberapa saat aku merasakan akan kehadiran seseorang didepan pintu kamar rawatku…
Entah kenapa hati ini tiba-tiba saja mengatakan kepadaku ada seseorang diluar sana…
Apakah seseorang yang aku tunggu…
Mataku terus tertuju pada pintu itu…
Dadaku berdegup dengan kencang…
Kenapa seperti ini rasanya?…
Ah…

Aku berjalan keluar dari kamar anakku, menuju lift untuk segera berangkat menuju tempatku dulu. Saat masuk lift aku melihat arya yang memanggilku, aku menunjuk-nunjuk ke arah jalan menuju kamar anakku. Karena pintu tertutup aku segera berteriak ke arahnya, agak sedikit ndeso sebenarnya aku ini jadi ketika didalam lift aku masih sedikit bingung ketika harus membuka pintu itu kembali. Maklum, dari dulu setiap naik lift selalu suamiku yang mencet-mencet. Ketika aku sering dibawa kehotel pun juga sama, mereka yang mencet-mencet. Hingga diluar rumah sakit, aku mendekati sebuah taksi dan kutanyakan kepada supir taksi tersebut mengenai pak wan.

saya sendiri bu ucapnya

benar anda pak wan langganan anak saya dian? ucapku ragu

owh dian, pacarnya den arya? ucap lelaki tersebut

eh den arya? aku heran

iya dia anak majikan saya didesa bu, silahkan masuk nanti akan saya ceritakan. Dari kemarin saya mangkal disini bu, karena ya tahu mbak dian itu disini jadi ya saya berada disini terus ucapnya sembari aku masuk kedalam taksi, setelah itu lelaki yang disebut pak wan masuk

bapak tidak narik? ucapku

ndak bu, saya disini hanya mengawasi cucu majikan saya saja. saya ndak butuh uang, uang sudah ada Cuma tinggal balas jasa saja sama majikan saya ucap pak wan

kakek nenek arya ya pak? ucapku, mobil taksi kemudian berjalan

iya, ayah dan ibunya si mahesa itu ucapnya membuaku terkaget

jadi bapak disini untuk… ucapku ketakutan

ibu tenang saja… jangan takut… makanya saya mau cerita ke ibu biar ibu ndak takut. Ini mau kemana bu? ucapnya

eh, ke… ucapku kemudian mengatakan tujuanku, hotel dimana tempat suamiku bekerja

Pak wan kemudian menceritakan semua cerita tentang ayah dan ibu mahesa. Dari kebaikan kepada warga dan lain sebagainya. Aku kemudian percaya kepada dia, ditambah lagi aku sedikit terkejut ketika dia mengatakan kepadku kalau dia yang mengantar arya ke rumah dimana aku selalu berada didalamnya.

Dia mengatakan kepadaku, jika dia disini adalah melayani cucu dari tuannya. Bahkan bukan Cuma dia, semua orang dari desanya yang berada disini semuanya selalu memberikan informasi kepadanya tentang arya. aku kemudian menceritakan tenang aku adalah ibu dian dan bagaimana aku harus menjadi tahanan mahesa dan nico tanpa membicarakan seks tentunya. Aku ceritakan juga tujuanku untuk menemui suamiku.

pasti dia masih ada buat ibu, tenang saja bu. Saya yakin kok ucap pak wan menenangkan aku. Hingga akhirnya taksi berhenti di depan sebuah hotel dimana aku bertemu dengan suamiku dulu, sudah berubah total karena aku sudah tidak pernah lagi datang kemari semenjak aku ditahan oleh mereka berdua.

hotel ini bu? ucap pak wan

iya… tapi apa suamiku masih ada disitu ya? ucapku

sudah ibu disini saja. biar saya yang tanya ucap pak wan yang keluar dari taksi kemudian menuju tempat satpam

Akhirnya pak wan kembali tapi satpam tidak tahu menahu mengenai suamiku. Tapi pak wan diberitahu mengenai beberapa orang yang mungkin tahu keberadaan suamiku. Hingga sore hari pak wan membantuku menemukan suamiku, akhirnya ketemu.

Ibu saya tinggal bu, ini nomor saya jadi kalau butuh apa-apa hubungi saya lagsung ucap pak wan

berapa pak? ucapku

mertua den arya gratis, sudah ya bu saya jalan dulu ucapnya

eh pak jangan… ucapku terlambat karena pak wan langsung memacu taksinya

Aku memasuki gang, pakaianku sopan. Longga dengan rok hingga menutupi lututku. Aku berjala menuju sebuah rumah yang pak wan ceritakan. Semua mata memandangku tapi aku tidak pedulikan. aku sadar aku menjadi perhatian mereka yang melihatku, tak kupungkiri kalau aku masih terlihat cantiku apalagi kaos longgarku tidak bisa menutupi dadaku yang memang besar.

Masa bodoh setelahnya terus berjalan hingga aku menemukan sebuah rumah kecil. Ah… inikah rumahnya, aku takut sekali jika dia tidak mau menerimaku setelah waktu itu. jika aku mengingatnya air mataku menetes dengan sendirinya.

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Iya sebentar… ucap seorang lelaki yang aku kenal

Lama aku menunggu diluar… tapi tak kunjung pintu itu terbuka…

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Tok… tok… tok..

Kembali aku mengetuk pintu itu kembali…

Pergi saja kamu! ndak usah kesini! Aku tidak sedang mau menerima tamu! teriaknya dari dalam, apakah dia tahu kalau itu aku. Aku terisak menangis… segera aku hapus air mataku dan kembali mengetuk pintu

Arghhhh siapa sih ini! dasar! Aku sedanga tidak mener…. ucap lelaki, dia marah-marah membuka pintu matanya memandangku terbelalak

Tubuhnya kurus, rambutnya kumal. Kulitnya tampak lusuh, tak terawat sama sekali. Matanya seperti mata ada noda hitam meligkar disekitar matanya. Berbanding terbalikd denganku. Matanya terbelalak, melihatku entah terkejut atau marah aku tidak tahu.

Dia melepaskan ganggang pintu itu, dan berdiri mematung memandangku. Melihatku seperti melihat hantu. Aku ingin memeluknya sekarang, aku tidak peduli dengan penampilannya sekarang. Dia suamiku, dia pujaan hatiku dia yang selalu bisa memanjakanku. Dia yang selalu membuat marahku menjadi tawa, aku ingin memeluknya, aku inginmenyentuhnya. Aku ingin dimanja olehnya, aku ingin… aku ingin… aku ingin… dia…

mas… ucapku pelan

war… war… da… ucapnya, tapi respon yang aku dapat berbeda dari yang aku harapkan. Dia menjulurkan tangannya kepadaku. Hanya tangannya saja, ingin aku menangis tapi aku tahan. Inikah yang aku dapatkan setelah aku menantinya selama ini. aku menajabat tangannya, tangannya kasar tapi itulah yang aku inginkan selama ini. kenapa mas? Kenapa kamu tidak memelukku? aku istrimu mas…. hatiku menangis…

boleh aku masuk… ucapku pelan, dengan suara sedikit parau

eh si… si…lahkan…. aku dipersilahkan

maaf berantakan, rumahnya memang kumuh sekali… maaf da… maaf sekali kotor sekali ya… ucapnya

Aku berdiri melihatnya memunguti sampah-sampah berserakan di ruang tamu yang kecil ini. membersihkannya, memeluk sampah sembari memutar-mutar keseluruh ruangan yang kotor ini. aku tidak butuh bersih, aku cuma butuh kamu mas. Kenapa kamu malah mengurusi sampah, aku kangen mas kangen sama kamu. aku tutup pintu dan kudekati dia yang sedang memunguti sampah dari belakang tubuhnya. Aku langsung memeluk tubuhnya dari belakag.

mas… hiks ini warda mas hiks… kenapa mas? hiks Bencikah mas sama warda? Hiks hiks hiks ucapku, tubuhnya tegak melepas semua sampah yang ada ditangannya. Kedua tangannya meremas tanganku

warda hiks hiks hiks hiks hiks… isak tangisnya membuatku menangis

aku kangen banget sama mas hiks hiks… mas… koco… hiks hiks… isak tangisku, tubuhnya berlik tangaku pelukanku melonggar. Dihadapanku berdiri lelakiku… yang langsung memelukku dengan sangat erat.

mas kangen… mas rindu… mas… mas hiks hiks hiks mas bener-bener kanget berat… mas kangen sama senyum kamu, kangen sama manja kamu hiks hiks… mas mas mas… hiks hiks cinta sama warda hiks hiks hiks… maafkan masmu ini yang hiks hiks ndak bisa njaga kamu hiks hiks hiks hiks… isak tangisnya pecah, pelukannya erat sekali. Inilah yang aku inginkan, inilah yang aku rindukan. Tubuhnya tidak seberisi dulu, tapi tubuh inilah yang terindah bagiku.

warda juga kangen banget hiks hiks hiks sama mas… hiks hiks… ucapku yang sudah tak sanggup lagi aku berkata-kata

Kami berpelukan sangat lama… inilah yang aku inginkan… lelaki ini yang aku inginkan… lelaki ini… aku angkat wajahku dan memandangnya…

masihkan aku istrimu mas? Hiks… tanyaku

kamu masih cantik sayang, aku tua keriput dan jelek… dan… ucapnya kupotong

masihkah aku istrimu mas? Aku tidak butuh keadaanmu, aku butuh jawabanmu ucapku memandangnya

YA KAMU ISTRIKU SELAMANYA KAMU ISTRIKU, TAK AKAN AKU BIARKAN KAMU PERGI LAGI! KAMU ISTRIKU, ISTRIKU, WANITA YANG PALING AKU CINTAI! teriaknya sembari memelukku sangat erat, sangat erat sekali

Terima kasih mas, terima kasih… aku akan jadi isrtri yang baik buatmu, sekarang hingga akhir hayat kita mas… hiks hiks hiks ucapku terisak

Aku lepas pelukanku, aku pandang lagi wajah lelaki yang memang sudah menua ini tapi bagiku dialah yang terganteng dan termuah dihatiku. Kuusap wajahnya keriput diwajahnya sudah mulai terlihat sangat jelas, rambut putihnya juga sudah mulai menjajah kepalanya, kusapu lembut bibirnya yang kering itu.

jelek ya? aku sudah tua kan ndut… ucapnya

ulangi lagi mas… ucapku

jelek ya? aku sudah tua kan ndut… ucapnya

bukan… yang terakhir… ucapku

ndut… ucapnya

lagi mas… ucapnya, air mataku keluar seperti air terjun

ndut.. ndutku sayang, ndut cintaku… ndut… ndut… ndut.. ucapnya

lagiiiii… ucapku manja,

ndut.. ndutku sayang, ndut cintaku… ndut… ndut… ndut.. ucapnya

Bersambung