Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 88

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 88 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 87

Aku letakan sematponku agar tetap bisa merekam semua kejadian ini. Aku berdiri sambil tersenyum lebar mendekati ibu, ibu ternyata sudah mempersiapkan semua. Aku langsung peluk ibu yang rambutnya terurai dibelakang tubunhya.

Tanganku kemudian menarik celana dalam bagian belakang ibu ke atas, kugoyang-goyang ibu merintih entah nikmat atau sakit. Kepalanya mendongak keatas, mulutnya menganga menunjukan nikmat yang dia rasakan.

“ibu mau kamu pejuhi lagi nak… kamu pejuhi dihadapan kamera lagi ya nak…” ucapnya

“eh, iya bu pasti semua keinginan ibu akan arya penuhi sekarang” ucapku

Ibu berser kesamping agar ibu terlihat di kamera, tanganku menarik kebawah penutup susunya. kuhisap dan kumainkan puting susu sebelahnya lagi. Tangan kiriku memainkan celana dalamnya terus. Tanpa berlama-lama, aku geser celana dalam itu, kunaikan salah satu pahanya di pundakku. Kuhisap vagina ibu lagi ah, masih terasa bau-bau kenikmatannya. Jilatanku semakin liar, semakin ganas.

“arghhh… yah… nak terus hisap tempi ibu akhhh nikmat sekali nakhhh owhhh….” racaunya

Jari-jariku kembali menyodok-nyodok vaginanya kembali, mungkin karena sudah beberapa kali orgasme ibu kembali mendapatkannya. Tubuhnya mengejang cairan kenikmatanya aku hisap aku telan. Ibu kemudian menahan pundakku untuk tetap berlutut, dia turun dan posisinya merangkak kedua tangannya masih menahan tubuhnya hanya mulutnya saja yang menggapai dedek arya. aku memegang kepalanya, karena tidak tahan dengan sensasinya tanganku dengan sedikit kasar memaju mundurkan kepala ibu untuk mengulum dedek arya

“Ahhh nikmat seklai mulutmu bu yeah….” racauku, sembari memejamkan mata dan tersenyum

Sesaat kemudian ibu aku balik kan dan menunggingkan pantatnya ke arahku. Dengan segera aku memasukan batang dedek arya kedalam vaginanya. Tidak sesulit seperti sebelum-sebelumnya karena memang sudah licin dan basah. Aku memaju mundurkan pinggulku…

“arghhh anakku kamu masuk lagi di tempik ibu owhhh enak sekali nakhhhh enak sekali owhhh yah terus goyang… terushhh sayang goyang lebih dalam lagi lebih keras lagi sayang owhhh… nikmat sekali sayangkuwhhh yeah tersuhhh terushhh enak sekali sayanghhhh…. mmmhhh….” racaunya

“iya bu tempik walau basah tetap nikmat, masih terasa sempitnya…” racauku

“jebol tempik ibumu nak… jebol buat lebar, buat tidak rapat lagihhhh owhhh nikmat sekali sayanghhhh oh nikmathhhhh dalam sekali kontolmu mansukkkhhhh…”racau ibuku

Aku sudah begitu lemas begitu pula dengan ibu, tak ada lagi teriakan-teriakan seperti sebelumnya. Kami sudah hampir kehabisan tenaga, tapi pinggul ini seakan tak mau berhenti, seakan ingin terus memompa. Ibu yang sudah tidak kuat langsung tengkuran ketika aku memajukan pinggulku.

Aku ikut menindihnya dan terus memompanya. Ibu mendesah dan terus mendesah tak karuan. Hanya suara desahan-desahan nikmat dari mulut ibu keluar. Hingga akhirnya aku ambruk dan mengeluarkan spermaku, tubuh ibu mengejang untuk kedua kalinya.

“ah sayang… ibu puas sekali, ibu ingin lagihhh…” ucapnya

“arya jugah bu owh… tempikmu mengedut-ngedut bu” ucapku

“sudah siang, sayang… kita isirahat sebentar setelah itu kita lanjutkan lagi” ucap ibu

Aku bangkit dan mengambil sematpon, kumatikan dan aku kembali disamping ibu yang sudah membalikan tubuhnya. Aku dan ibu tidur di karpet depan sofa, berpelukan, dan berciuman saling melumat bibir hingga kantuk menyerang kami berdua.

Setelah kami terbangun di sore hari…

“bagaimana nak, kalau ini?” ucap ibu yang memakai pakaian renanng ala baywatch

“seksi dan liar bu…” ucapku tersenyum

“ayo sayang, ada kolam renang disana… ibu ingin menikmati kontolmu lagi” ucap ibu, aku mengangguk.

Sembari membawa sematpon, aku meremas pantat ibu. aku letakan sematpon menghadap ke arah kolam renang. Ibu berdiri disana sambil memutar-mutar didepan sematpon memamerkan tubuh yang masih indah tersebut. Aku dekati ibu dan langsung aku peluk, aku lumt bibirnya.

Ku dudukan ibu, kubuka pahanya dan kumainkan vaginanya dengan pakaian kolam renang yang ketat itu. iu kemudian mendorongku dengan posisi 69, ibu memainkan dedek arya degan ganas. Sedangkan aku menggeser penutup vaginanya itu dan memainkan klitorisnya.

“erghhh… sayang ughhh enak sekali nak… mmmmmhhhh arhhh…. ” ucap ibu yang semula mengulum dedek arya tetapi tertahan karena kenikmatan yang dia dapatkan di vaginanya.

Lama degan posisi 69, ibu kemudian berbalik dan mengangkangi dedek arya, dgesernya penutup vaginanya dan dimasukan kembali dedek arya kedalam vagina ibu. kutarik pakaian renang ibu hingga susunya menyembul. Ibu tampak kesakitan lalau kugeser ke samping dari bahu hingga pakaiannya terlepas dan menutupi perutnya. Kedua tangannya berada diatas dadaku, kepalanya menunduk merasakan nikmat disetiap pompaan yang dilakukannya.

“aarhhhh yah kontol enak sekali owhhhh enak bangethhh yah kontolmu dalam sekali masuk ke tempikkkkkhhh ibu sayangku, anakku sendiri arghhh kamu kenthu sama ibumu,arghhh enak sekali kenthu dengan anakkuh yahh owhh…. tempikku terasa nikmaaaaathhhh arghhhh…arhhhh enak sekali…. enaaaaaaaaaaaaaaakkkkkk argghhhhh nikmaaaaaaaaaaat ash ash ash aaaaaaaaaarhhhhh” sangat liar

“iya bu aku ngenthu ibuku sendiri, nikmat seklai buhhh owhhh yah nikmat tempikmu bu, enak sekali tempiku, ayo goyang bu, goyang lebih liar lagi ibuku… owh kontolku keenakan didalam tempikmu owh enaaaaakkkhhh….” racauku

“kontol anakku arghhhh… buat aku keluar terusshhhhh arhhhh yahhhhh enak sekali… arhhhh sayangku, anakku, kekasihku, ibu keluaaaaaaaaaaaarhhhhh…” teriaknya di samping kolam renang yang terbuka, teriakannya keras dan sangat keras. Tubuhnya ambruk dan mengejang beberapa kali hingga suasana hening.

Tanpa berlama-lama aku dan ibu, merubah posisi kami berdua. Ibu berada dibawah tetapi dengan posisi kedua tangannya tertekuk ke menahan tubuhnya sedang aku seakarang berada diatasnya. Aku kembali menggoyang ibu, hingga kepala ibu mendongak ke atas. matanya terpejam menikmati setiap sodokan yang aku hujamkan ke vaginanya.

Lama sekali aku berada diposisi ini, dan susu ibu nampak lebih kencang dan berayun ke naik turun. Mulut ibu menganga, matanya tetap terpejam membuatku semakin bernafsu. Aku terus memompa hingga ibu mengejang mencapai orgasmenya.

“Arghh ibu sudah keluar nak owhhh… terus egh egh egh egh pompa jalan lahirmu robek tempik ibumu owh egh egh egh…” racaunya sembari mengejang tanpa berhenti memberinya istirahat aku terus memompa

“ah bu aku mau keluar… aeghhh…. aku hampir keluar… aku pengen pejuhin wajah ibu lagi owhhhh…” racauku, memompa dan merasakan cairan hangat berada di dalam vaginanya

“pejuhi wajah ibu nak… ahhh ahhh ahhh ahhh terus goyang kenthu tempik ibumu… owhh… pejuhi wajah ibu owhhh yah teruss…” racaunya

Aku menggoyang dan akhirnya aku menghentakan keras pinggulku. Tubuh ibu melengking dan aku langsung mencabut dedek arya dan aku beralih kewajah ibu. ibu memejamkan mata, dan semua spermaku aku keluarkan di wajahnya hingga belepotan. Sebentar ibu kemudian membersihkan dedek arya dengan mulutnya, batang dedek arya keluar masuk secara teratur.

“iBu seksi sekali kalau ada pejuh diwajah ibu” ucapku, ibu tersenyum dengan jari-jarinya menyapu sperma diwajahnya dimasukan ke dalam mulutnya

“kemarilah nak… mendekatlah, ibu ingin menikmati dadamu ini… ibu suka sekali dadamu, biarkan ibu menikmatinya…” ucap ibu

“iya bu, nikmatilah…” ucapku

Ibu menjilati dadaku, putingku… kadang mengelusnya… menggesek-gesekan wajahnya didadaku… seperti seorang anak kecil yang sudah menemukan mainan kesayangannya…

Sematpon aku matikan dan kemudian aku dan ibu kembali ke kamar. sebelumnya aku dan ibu memebersihkan diri kami lalu beristirahat. Berpelukan dan berciuman, tapi tak ada permainan seks. Hingga sore hari aku dan ibu bangun, ibu memintaku untuk mengedti video yang baru saja direkam dengan menghilangkan suaraku, juga suara ibu yang hmmm…. serta me”blur”kan wajaku. Memang agak sedikit lama tapi anggap saja sudah semua video aku edit. Aku dan kemudian ibu menngemasi barang-barang kami semua, pulang kerumah, menuju rumah dimana kami tinggal.

Malam hari setelah sampai dirumah, aku diberi minuman oleh ibu dan….

“oh… sayang terush goyang, masukan kontolmu ke dalam tempik ibu owh yah terush sayang… goyang terushhh, arghhh masuki lubang kencing ibumu, masuki vagina ibumu, tempik ibumu ayo sayang… jangan berhenti hingga esok hari… terushhhh terussshhhh sayang ibu sukan kontolmu owh…..” racau ibu yang telanjang dan terletang dengan kedua paha terbuka lebar. Vaginannya menjadi santapan dedek arya

“iya bu, aku akan sirami janinmu hingga pagi owh yah bu, aku akan kenthu kamu hingga robek tempikmu, hingga layu kontolku didalam tempikmu… owh tempik sempitmu akan aku robek agar adikku bisa keluar dengan bebas… owhhh… ibu nikmat sekali tempikmu” racauku

“yah sayang lakukan semaumu… hingga pagi jangan berhenti memompa tempik ibumu owh yah terush akhhhh ibu merasakan nikmat tiada tara nikmathhhh sayanghhh nikmathhh sekaliihhh owhh… yah terusshhh terushhh sayangkuhhh owh…. buat ibu pingsan dengan kontolmu” racaunya

“ah… ah… ahhh sayang ibu keluarhhhh arghhhhh…” teriak ibu

Tubuhnya mengejang, matanya terpejam, mulutnya terbuka. Aku berhenti sejenak, sudah beberapa kali ibu mengalami puncak kenikmatannya. Malam ini hingga pagi, aku akan terus memompanya. Ibu memintaku untuk berposisi konvesional, MOT. Terus memompa hingga ibu terkapar, minuman yang diberika ibu memberiku tenaga lebih, kekuatan yang lebih untuk memuaskannya.

Pompaan dedek arya di vagina ibu membuat ibu hanya mampu berteriak dan mendesah, aku hanya bisa memompa sembari meremas susunya. susu besarnya yang selalu naik turun dimataku. Susu yang selalu menjadi sasaran utamaku. Hingga akhirnya tubuh ibu benar-benar layu, tangannya sudah tidak mampu lagi meraba dada kesayangannya. Hanya bisa pasrah, kedua tangannya tergeletak diatas samping kepalanya. Mulutnya hanya bisa terbuka dan matanya hanya bisa terpejam.

“ibu haus…. ibu haus… owhhh…. anakku berika ludahmu nak… ibu benar-benar haus….” rintihnya

Aku mendekatkan bibirku di bibirnya… Juh… ludahku aku masukan kedalam bibirnya…

“lagi sayang… lagi owhh… ibu ingin ludahmu, ibu ingin semua cairan dari tubuhmu masuk kedalam tubuh ibu…” rintihnya kembali sembari memandangku, tatapan memohon kepadaku

Kembali aku memasukan ludahku, kembali aku terus menggoyangwalau pegal pinggulku. Berkali-kali ibu keluar hingga tubuhnya sudah tidak mampu lagi sadar akan keberadaanya. Ibu matanya kemudian terpejam perlahan, hingga akhirnya aku menggoyang pinggulku didalam vagina ibu yang sekarang sudah tak sadarkan diri.

Aku terus memompa dan memompanya, hinnga akhirnya aku mengeluarkan spermaku kedalam vagina ibu. sudah tak kurasakan lagi rintihan dan desahan ibu, kupeluk tubuhnya dan aku tetap berada diatasnya. Hingga pagi menjelang…

Pagi hari, hari terakhir… aku ambil air putih dan kuberikan kepada ibu yang masih terlentang. Namun ibu ingin meminumnya dari mulutku…

“arghhh… sayang terus lagi… anakku kenthu ibumu nakhh terushhh kenthu wanita yang kamu cintai ini, wanita yang selalu menggodamu dengan kebayanya nakkhhhh owhhh nikmat sekali kontolmu didalam tempik ibu nakhhh owhhh yah terushhh sayang terushhhh owhhh… yah…. terushhh” racau ibu, sesekali aku meminum air dari botol ku teguk sedikit dan aku pindahkan ke mulut ibu sisanya

“ah, jika kita belum keluar bersama-sama, kamuhhhh ahhh harus ngenthu ibu terushhhhhh….” racaunya

“iya bu, aku akan kenthu ibu hingga kita bisa keluar bersama-sama…” ucapku sembari memompa tubuhku

Lama sekali aku memompa, ibu mendesarh merintih menjadi suara khas dikamar ibu. Dikamar, Dimana ibu selalu melayani ayahku. Tak ada suara selain rintihan kenikmatan dari bibir indahnya. Da akhrnya kami bisa mengeluarkan keikmatan kami bersama. tubuhnya mengejang dan akhirnya aku peluk ibu. kami berciuman hingga kami merasakan kenikmatan yang terakhir dari kami berdua. Seperti biasa ibu langsung memainkan dadaku…

“ah… ini yang terakhir, jangan ada lagi wanita lain dihidupmu selain Dian… dan ini terakhir kalinya kamu melihat ibu tak berpakaian, terahirkalinya kami melihat ibu memakai kebaya, terakhir kalinya kamu melihat ibu menjadi istri, kekasih dan juga lonthemu… yang terakhir, dan tak akan ada lagi… dan kamu harus berjanji pada ibu” ucap ibu

“baik bu, arya akan menepati janji arya kepada ibu, dan ini adalah terakhir kalinya bu, aku menjadi yang kamu inginkan…” ucapku

Bibir kami berpagutan dan air mata kami mulai menetes membasahi pipiku. Lama kami berciuman dan saling mengusap air mata kami. aku dan ibu kemudian bangkit dengan tubuh telanjang. Ku cium untuk terakhir kalinya dibibirnya.

“ini yang terakhir… setelah kita bertemu lagi di ruang makan, ibu adalah ibu kamu, dan arya adalah anakku. Ibu dan anak yang tidak akan pernah lagi menyelam di cinta liar kita sayang… berjanjila pada ibu” ucap ibu

“aku berjanji bu, setelah ini aku hiks akan menjadi anak ibu seperti dulu lagi, asalh hiks ibu jangan menjauhiku saja, arya janji hiks ndak akan ngrayu ibu lagi untuk bertualang dalam cinta liar kita lagi… janji ya bu, jadi ibu yang lembut, galak dan suka jewer arya lagi ya…” isak tangisku

“iya sayang pasti…” ucapku kuihat air matanya mengalir

Aku keluar dari kamar ibu dan mandi membersihkan tubuhku. Aku kemudian kembali ke kamar yang telah lama aku tinggalkan, mengganti bajuku dan berpenampilan seperti arya yang biasanya. Terdengar suara gemericik air dilantai bawah, pertanda ibu sedang mandi. Lama aku menunggu akhirya aku mendapatkan BBM singkat dari ibu.

Tepat jam 9 pagi aku turun, dan melihat ibu berdiri dengan pakaian longgarnya, sopan dan sama sekali tidak memperlihatkan keseksiannya. Aku berdiri dihadapan ibu.

“sudah… semua sudah berakhir…” ucap ibu

“iya bu…” aku tersenyum, air mataku mengalir

“kemarilah peluk ibu” ucap ibu, aku langsung memeluknya hanya sebentar saja

“kita sekarang ibu dan anak, dan satu hal lagi… jika suatu saat nanti terjadi lagi, ibu tidak akan memaafkanmu… karena ibu sangat sayang dengan dian, jika terjadi lagi… jangan panggil aku ibu dan pasti kamu hanya akan melihat ibu dan adikmu terbaring kaku…” ucap ibu

“Ssssttt… ini yang terakhir, dan arya yakin kita bisa kembali normal lagi, pasti… diluar sana kita akan menjadi ibu dan anak lagi bu, arya janji…” ucapku kembali menangis

PLAKKKKK!

“eh… ke kenapa ibu menam…” ucapku terhenti

“kalau diawali dengan tamparan harus diakhri dengan tamparan” ucap ibu tersenyum, air matanya mengalir di pipinya. Aku tersenyum dan menunduk.

“cepatlah datang ke dian…” ucap ibu

“tapi ibu?” ucapku

“Ibu sudah menjual rumah ini, rumah kenangan kita dan ibu akan tinggal bersama kakek dan nenek sampai adikmu lahir, dan mungkin akan tetap bersama mereka ketika membesarkan adikmu. Mungkin bulan depan baru akan kita bersihkan rumah ini…” ucap ibu

“tapi apa ibu tidak berencana me mmmmm….” ucapku

“Ibu tidak tahu, tapi kelihatannya tidak…” ucap ibu

“sudah… nanti nangisnya tidak berhenti-henti… cepatlah temui dian” ucap ibu sembari mengusap air mata di pipinya

“iya bu…” aku mengangguk dan kemudian berjalan melewati ibu

“eee eee dasar anak bandel!” ucap ibu, aku berbalik melihat ibu menyodorkan tangannya

“he he he lupa bu” ucapku, langsung kuraih tangannya dan mencium punggung tangannya

“hati-hati, bahagiakan dian…” ucap ibu

“aku juga akan membahagiakan ibu….”

“Dengan menjadi anak nakal ibu seperti dulu lagi” lanjutku tersenyum

“he’em…” ucap ibu

“arya…” ucap ibu ketika aku berbalik melangkah

“ini…” ucap ibu, menyerahkan cincin yang pernah aku pakaikan kepadanya

“eh… tapi…” ucapku

“berikan pada dian, dialah yang akan menjadi pendampingmu…” ucap ibu, aku tersenyum dan ibu pun juga walau air mata jatuh dipipi kami lagi. Aku raih cincin itu…

Aku berlalu berpisah, berjalan keluar dari rumah ini. setelah ini sudah tidak ada lagi kisah cinta ibu dan anak. Yang ada hanya ibu dan anak yang saling mencintai seperti seharusnya. Air mataku tak kunjung berhenti mengalir, aku berjalan ke warung langgananku mengambil motorku. Sedikit di ejek oleh ibu penjaga warung, tapi aku tetap tersenyum. Aku jalankan motorku menuju ke tempat dimana kekasihku yang sebenarnya menunggu.

Bersambung