Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 87

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 87 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 86

Aku segera masuk kedalam kamar mandi, segera aku meraih gayung dan membasuh tubuhku. Ah, kebaya dengan lipatan susu yang terlihat sangat jelas. Susunya begitu membusung, lebih membusung daripada hari kemarin. Wajahnya ayu, rambutnya disanggul kebelakang. Tapi kenapa tadi ibu jaim sekali? Masa bodohlah, aku harus segera menemuinya. Kupakai kaos dan celana kolorku. Sematponku menyala, dan segera aku raih. Wongso.

“hai wong, ada apa?”

“ndak papa, Cuma mau ngabari motor kamu aku titipkan ke warung langgananmu. Dekat rumahmu itu lho”

“owalah, lha mbok biar di rumahmu saja”

“aku sibuk, nanti kamu ganggu aku, makanya aku titipkan ke warung langganannmu”

“sibuk apa? Ada masalah lagi?”

“sibuk…. sibuk kenthu mas bro, dah ya ni mau tancap gas lagi, sori yo”

“matamu, ya ojo sampe meteng lho ndes (jangan sampai hamil lho ndes)”

Klek, aku matikan telepon, segera aku keluar dari kamar dan aku dapati ibu di meja makan dengan senyum khasnya yang indah. Aku dan ibu kemudian makan bersama di meja makan, kupandangi wajah ibu yang ayu tersebut. Ah perasaanku berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Ibu tampak lebih menjaga dirinya dibanding hari-hari sebelumnya. Setelah selesai makan, aku melihat ibu merapikan piring dan meja makan, benar-benar ughh…

“Bu, tumben pakai kebaya?” ucapku

“kan suah biasa nak” ucap ibu

Aku tersenyum melihat sikap ibu yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Kulihat lebih tajam lagi, kutelanjangi tubuh ibu dengan dua bola mataku. Benar-benar tidak mempelihatkan umur yang dia sandang sekarang. Tiba-tiba saja dedek arya mulai berdiri lagi, perlahan mengacung ke atas. aku juga sudah mulai tidak tahan lagi. Darahku berdesir ketika melihat wanita berpakaian kebaya ini. aku dekati ibu yang sedang mencuci piring, kedua tanganku melingkar di perut ibu.

“eh… kamu itu bikin kaget saja? malu-maluin tahu gak, sudah gede kok nempel ibunya terus” ucap ibu. ku jatuhkan daguku di bahu kanan ibu, perlahan aku dekatkan bibirku ke leher jenjangnya.

“eehhh… nak kamu ngapain?” ucap ibu pelan

“kangen sama ibu” ucapku

“kan setiap erghhh hari ketemu sama ibu…” ucap ibu, aku langung mencium leher jenengannya

“nak… ndak boleh kaya git” ucap ibu sambil memandangku tapi tidak ada pandangan melarang walaupun maksud sebenarnya adalah melarangku. Sedetik kemudian kepalaku maju dan mencium bibir ibu

“nak ndak bolehmmmm… aku ini ibumu… mmmmmmm….” ucap ibu yang langsung mencoba mendorongku dengan lembut menggunakan tangan kanannya, tapi dorongan itu tak ada tenaga sama sekali

Aku terus maju mencoba melumat bibir indah ibu, namu ibu terus menutup bibirnya. Kutarik tubuhnya dan kupeluk dengan erat. kedua tanganku langsung meremas susu yang berbalut kebaya ini. kepalaku terus maju dan menjiilati bibirnya yang tertutup.

“nak,ndak boleh, ini ibu nak mmmm… nak, nanti dilihat orang mmmm… ndak bolmmmmleh nakmmmm” ucap ibu mencoba melawan, tapi perlawanan yang tidak ada tenaganya sama sekali

Tanganku terus meremas susu berbalut kebaya ini, terasa benar-benar nikmat susu ibu yang masih terbungkus ini. seakan ada sensasi tersendiri, ah aku ingin semuanya, aku ingin segera tersalurkan. Aku harus bisa membuka semua isi dari kebaya ini, walaupun aku suda sering melihatnya.

Ibu terus meronta lemah seakan menolakku, tapi aku menarik tubuhnya, membalik tubuh kami berdua dan kini dihadapan ibu adalah meja makan. Aku dorong ibu hingga bagian pinggangnya bersentuhan dengan meja makan. Aku meremas dan terus meremas susunya, lehernya aku ciumi hingga ibu meronta lemah dan mengeluarkan kata-kata larangan kepadaku. Kudorong tubuh ibu dengan tubuhku hingga tubuh atasnya tegkurap diatas meja makan.

“ah, nak jangan nak erghhh…. jangan nanti dimarahi ayah kamu nak” ucap ibu

“aku ingin ibu…. aku cinta ibu…” ucapku, sembari tanganku meraba-raba pantatnya

“egh jangan.. ini ndak boleh nak, jangan ugh…” ucap ibu

Tangan kiriku menahan tubuh ibu agar tetap rebah diatas meja dapur. Dengan sedikit membungkuk tangan kananku meraih ujung jarik ibu, kutarik dengan sedikit memaksa karena memang sulit terangkat hingga keatas. Setelah jarik itu terangkat hingga keatas, pemandangan indah kembali aku lihat. Pantat besarnya dan juga celana dalam tipisnya membuatku semakin bergairah.

“nak… jangan ibu moh… arghhh… ibu mohon janganhhhh erghhh…” ucap ibu yang merintih ketika tanganku memainkan vagina yang masih terbungkus celana dalam

“ah… ibu sudah basah, ibu juga kepingin kan? Arya mohon bu sekali saja bu…” pintaku, sambil menciumi leher jenjangnya

“nak jangan ndak boleh aku ini ibumu, kamu bisa melakukannya dengan wanita lain” ucap ibu

“tapi bu, ibu mau kalau aku melakukannya dengan pelacur dan aku terkena penyakit?” ucapku yang masih menciumi lehernya

“tidak, tapi ibu mohon jangan dengan arghhhh….” ucap ibu tercekik ketika jariku bermain-main

Aku tarik celana dalamnya hingga ke bawah pahanya, kumainkan kembali vagina ibu dengan mengelus-elusnya. Tak tahan aku turun kebawah dengan tangan kiriku berada di pinggang ibu untuk menahan ibu tidak bangkit.

“Arghhh nak jorok itu jorok jangan nakhhhh akhhhh itu ndak ahhh…. jangaaaaan…” ucap ibu

Lidahku beramin-main di vaginanya, tangan kananku mencari-cari klitorisnya. Ibu terpekik keras hingga kepalanya bangkit terangkat keatas, vaginanya sudah basah sebelum aku menyentuhnya tadi. Menandakan keinginan ibu untuk aku setubuhi. Terus aku melakukan serangan di vaginanya, kini lidahku masuk ke dalam vagina indahnya. Jika dibandingkan dengan pertama kali ketika aku memainkannya memang sudah tampak beda, mungkin karena sering aku coblos.

“argh… sayang hentikan… tolonghhh hentikkkhannnn arghhh…. aaaaaaahhhh” teriak ibu, terasa cairan hangat keluar dari vaginanya

Aku langsung berdiri, tangan kiriku menahan tubuh ibu untuk tetap berada diatas punggungnya sedang tangan kananku melepas celana kolorku. Dedek arya keluar dengan tatapan tajam ke vagina ibu. tubuh ibu masih sedikit mengejang, ibu membalikan kepalanya.

“ah… sayang jangan sayang… ibu mohon…” ucap ibu

“ah bu, arya mohon bu sekali saja bu….arrrrggggghhhh” ucapku sembari mencancapkan dedek arya ke dalam vagina ibu, mudah masuk tapi tetap saja terasa sempit

“arghhh…. nak kamu masukan batang kamu, kamu jahat nak, arghhh kamu jahat sama ibu…” ucap ibu tapi tak ada air mata kali ini. aku peluk tubuh ibu, kuangkat sedikit tubuhnya dan kuremas payudaranya

“Arghh bu… aku cinta ibu, sayang ibu. aku ingin menyetubuhimu bu, aku ingin ngethu ibu, aku ingin ngentot ibu… yah aku ingin bersatu dengan ibu…” racauku

“Arghhh nak janganhhhh ah ah ah aha…” ucap ibu

Aku menggoyang pinggulku, memasukan dan mengeluarkan dedek arya dari vagina ibu. kuremas payudaranya, kuelus-elus lipatan paydaranya itu. dengan kedua tanganku kupegang dan kutarik kebawah kebayanya. Mudah sangat mudah, tak seperti sebelum-sebelumnya bahkan suara sobeknya pun hampir tidak terdengar.

Susunya menyembul keluar langsung aku remas sembari aku menggoyang pinggulku. Ibu mengerang tertahan, mencoba menyembunyikan desahan kenikmatannya. Aku terus memeluknya, pinggulku terus bergoyang. Remasan di susunya, sensasi dari pemeerkosaan yang lembut ini membuat aku kalang kabut. Jujur saja, sensasinya berbeda.

“argh nak… ergh…. ah ah ah ah aaaaaaaaaaaaaa….” teriaknya

“oh bu, tempikmu, vaginamu nikmat sekali, kontolku keenakan didalam sana….” ucapku

“naaakkkhh hentikan, ahhhh ibu mau kkeluarrrhhhh…. aryahhhhh ibu mohon berhentiiiiihhlaaahhh…” rintih ibu

“tidak bisa bu…. arghhh terlalu nikmat didala sanahhh aku juga ingi keluarhhhh yah… ayo bu, ibu juga menikmatinya kan? Arya suka ngenthu ibu owhhhh… yaaahhhh” ucapku

“erghhh….. henti…. aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh” ucap ibu, yanng diikuti tubuhnya mengejang. Aku yang sedikit lagi keluar, akhirnya terus memompa dan pada akhirnya aku keluar.

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot…

Aku peluk tubuh ibu, kami mengejang bersama. kucium tengkuknya dan ibu tengkurap tak berdaya diatas meja dapur. Pagi yang indah, sarapan sudah enak ditambah lauk tempe milik ibu. setelah nafasku teratur, aku bangkit dengan dedek arya yang masih tegak ingin merasakan nikmat. Ibu berbalik dan memandangku

“kamu sudah setubuhi ibu kamu sendiri, kamu benar-benar anak nakal hash hash…” ucap ibu dengan tatapan mata tajam

“maafkan arya bu, ini karena arya terlalu sayang sama ibu” ucapku, maju dan memeluknya. Bibirku bertemu dengan bibirnya sekali lagi, dan kali ini ibu melayani ciumanku

“hash hash… jujur saja ibu juga merasa kenikmatan daripada dengan ayahmu nak, hari ini karena kamu sudah perkosa ibu. ibu akan melayanimu, cukup hari ini saja hingga malam nanti” ucap ibu

“terima kasih bu, arya suka ibu kalau pakai kebaya” ucapku kembali menciumnya

“iya… sebentar ya nak, ibu capek sekali. Kamu tadi kasar sekali” ucap ibu, padahal jika dibandingkan hari-hari seelumnya lebih kasar lagi

“bu, pakai kebaya lagi ya bu.yang seksi” ucapku bangkit memberi ruang ibu bangkit

“iya, ini apa masih saja bangun dasar anak muda” ucap ibu

Aku duduk dikursi memandang akting ibu yang sangat membuatku bergairah. Ibu kembali kekamar, aku hanya menunggu dengan dedek arya yang masih “ngaceng” tapi nganggur. Aku berjalan dan berpindah ke sofa. sku duduk menunggu ibu, menunggu kejutan darinya. Setelah beberapa saat ibu keluar dengan dandanan dan rias yang lebih seksi. Lipatan susunya seakan-akan memang ditunjukan kepadaku, agar aku lebih bernafsu lagi. Ibu kemudian berdiri didepanku, kutarik tubuhnya hingga jatuh kepangkuanku. Bibir kami bersatu kembali, tangan ibu langsung meraih batang dedek arya yang sudah bangun. Dikocoknya perlahan…

“Bu, Arya pengen batang arya dikulum” ucapku

“iiih… ndak mau, kan jorok nak” ucap ibu

“plis bu, yah…” ucapku

“iya, pasti kepengen lihat ini dari atas ya?” ucap ibu sambil salah satu tangannya menunjukan lipatan susunya

Aku yang ditunjukan kembali padahal aku sudah melihatnya langsung menarik ibu. wajahku aku benamkan di lipatan payudara ibu, lidahku menjulur dan masuk ke dalam lipatan susunya. ibu hanya mengelus-elus kepalaku sembari menikmati permainanku.

Setelah puas, ibu kemudian turun kebawah selangkanganku. Dengan sedikit menungging, ujung dedek arya dipaksanya masuk kedalam lipatan susu itu. dicobanya berulang-ulang sembari meludahi dan mengocok seentar dedek arya. kembali dicoba, tetap saja tidak bisa tapi itu sudah membuatku on fire.

“ibuku yang cantik, dikulum bu… arya pengen bangeeethhh…” ucapku

Ibu tersenyum kepadaku dan langsung menjilati dari anus hingga ujung dedek arya. Aku tak karuan menerima perlakuan ini, lama kelamaan ibu menjadi sangat liar. Bibirnya terbuka dan kemudian…

“mmm… tunggu sayang…” ucap ibu, yang kemudian bangkit dan menuai kentang

“ah, bu, ibu mau kemana?” protesku, ibu menole sebentar dan kemudian melanjutkan langkahnya ke dalam kamar.

Sekembalinya dalam kamar ibu membawa sematponnya dan kemudian seth… seth… seth sebuah sematpon mengarah ke arahku tak jauh dari tempatku duduk. Aku masih bisa meraih sematpon itu. Aku tak mengerti maksud dari keinginan ibu, tapi mau bagaimana lagi aku juga tak tahu akan digunakan untuk apa.

“bu, kok direkam?” tanyaku

“tenang nak, itu hanya untuk kenang-kenangan setelah ibu menggunakannya. Ibu akan langsung buang sematpon ibu” ucap ibu, yang kembali berlutut di bawahku

“kamu suka ini kan nak? Dasar anak nakal, sudah perkosa ibumu sekarang ibumu kamu suruh meayani nafsumu…” ucap ibu, tangan ibu memegang batang dedek arya dan memeprlihatkan kepadaku bagaimana liarnya ibu.

Ibu memperlihatkan wajahnya yang sedang menjilati batang kemaluanku dengan ganas. Sampai pada ujungnya lidahnya menari-nari, berdansa dengan helm dedek arya. dan sleb.. batang itu masuk perlahan ke dalam mulutnya, perlahan batang dedek arya kembali masuk lebih dalam… lebih dalam dan lebih dalam lagi. Hingga terasa batang dedek arya masuk sampai kedalam tenggorokannya dan lidahnya bergerak-gerak menyapu batang dedek arya.

“Arghhh….” desahku

Ibu kemudian melepas kulumannya dan terengah-engah. Dengan isyarat tangannya ibu menyuruhku merekam dari jarak dekat. Benar-benar berbeda dari sebelumnya, kurekam ibu yang melakukannya seperti di awal. Memperlihatkan wajah liarnya menjilati batangku, aku mendesah tertahan.

Dilakukannya lagi kuluman hingga tenggorokannya, ah nikmat sekali. Tangannya kemudian mengocok batang dedek arya, mulutnya mengulum sebagian dedek arya. kepalanya maju mundur, bibirnya manyun, dan juga matanya melirik ke arah kamera. Dengan tersenyum ibu kemudian menjilati ujung kepala dedek arya.

“arghh… enak bu, owhhh… aku sudah tidak tahan bu, arya pengen masukke tempik ibu” racauku

“suda tidak tahan? Mau masuk ke tempik ibu yang sempit ya nak?” ucap ibu, dan aku mengangguk sembari mengelus pipinya

Aku mearuh sematpon yang masih merekam adegan panas ini disampingku. Ya merekam ibu yang kemudian berdiri dan mengangkangi batang dedek arya. dedek arya masuk, kepalanya mendongak ke atas seakan benar-benar menikmati permainan ini secara liar. Wanita yang sebelumnya terlilhatanggun kini berubahmenjadi liar sekali. Tubuhnya naik turun, memompa batang dedek arya dengan sangat ganas.

“Awhhh awhhh awhhh awhhh awhhh awh kontolmu enak sekali aku suka, ah besar lebih besar dibandingn suamiku yah aku suka sekali aaarghhh masuk sangat dalammm owhhhh kontol suamiku tidak ada apa-apanya dibanding dengan ini… tempikkku keeenakan yah arghhh tempikku penuh dengan kontolmu yahhhh enak sekali owhhh…” racaunya semakin liar, tangan kanannya yang berada dipundakku kemudian menutup mulutku agar tidak mendesah. Apakah agar tidak terekam? Pikiranku malah kembali ke kamera itu, untuk apa sebenarnya?

“ini susuku, remas susuku owhhhh remas susuku ini yah terussshhhh arhhhhh… remas hisap yang kuathhh owhhhh…” ucap ibu yang sambil naik turun kemudian membuka sendiri kebayanya mengeluarkan susunya, dan langsung aku remas, aku hisap dengan kuat. Kelihatannya ibu udah memodif kebayanya sehingga bisa dengan mudah di buka.

“yahhhh enakkkkhhhh uuugghhhhh mmmmhhhh kontolmu manteb aarghhhhh… aku mau keluar, tempikku mau muncrat owhhh muncrat… kontol ini bikin tempikku muncrathhhh arhhhhhhhhhhh” racau ibu

Ibu langsung ambruk dalam pelukanku, bibirnya dengan ganas langsung melahap bibirku. Permainannya sangat panas, terbakar oleh nafsunya sendiri. sambil mengejang bibirnya melumat bibirku, cairan hangat meleleh di batang kemaluanku. Tapi ibu masih terus memburu bibirku, tanganku malah lebih keras meremas susu besarnya itu.

“ah, ibu lliar sekali…” ucapku

“arghhh… jelas nak, kontolmu bikin ibu keenakan sayang, lihat saja kontol kamu itu selalu berdiri” ucap ibu

“itu karena ibu yang bikin berdiri terus…” ucapku

“lagi ya nak, ibu masih ingin melepas semuanya bersama kamu” ucap ibu kemudian bangkit dan megambil sematponnya diletakan didepan kami berdua.

Dengan cepat ibu langsung megangkangi dedek arya kembali dengan posisi membelakangiku. Kebayanyayang sudah awut-awutan, tapi susunya sudah tertangkap oleh kedua tanganku. Ibu kembali memompa, kedua tangannya memegang lengan tanganku. Tubuhnya kembali naik dan turun.

“Awhhh awhhh awhhh awhhh awhhh awh kontolmu enak sekali, ah besar dibandingn suamiku yah kontol suamiku tidak ada apa-apanya dibanding kontol kamu… arghhh aku suka sekali aaarghhh masuk sangat dalammm owhhhh kontol suamiku kecil tidak bisa memuaskanku, Cuma kontol ini yang bisa arghhhhhhh… tempikkku keeenakan yah arghhh tempikku penuh dengan kontolmu yahhhh enak sekali owhhh…” racaunya lebih liar dengan menyebut-nyebut ayah

Aku tidak tahan menarik tubuh ibu ke ara sofa. Di sofa ibu yang tahu langsung menungging dan mengarahkan pantatnya ke arah dedek arya. aku masukan dedek arya ke dalam vaginanya lagi, aku mulai menggoyang pinggulku keluar masuk ke dalam vaginanya. Terasa lebih sempit dan nikmat, aku terus menggoyang dan menggoyangnya.

“aarhhhh yah terushhhh kontolmu enak sekali owhhhh enak bangethhh yah terus masukan kontolmu lebih dalam lagi ke tempikkku…. tempikku yang tidak pernah dijamah oleh suamiku yang bodoh itu yah terushhh lebih dalam… lebih nikmaaaaathhhh arghhhh…arhhhh enak sekali…. enaaaaaaaaaaaaaaakkkkkk argghhhhh nikmaaaaaaaaaaat ayh ayh ayh aaaaaaaaaarhhhhh” teriaknya keras, aku hanya bisa mendesah pelan menikmati sensasi liar ibuku sendiri.

Kupercepat goyangan pinggulku dan hentakan semakin keras, ibu semakin menggila dan menggila. Kuhentikan dan dengan sedikit kasar aku membalik tubuh ibu, kubuka pahanya dan langsung aku tancapkan kembali dedek arya. aku menggoyang lebih gila lagi. Racaunya semaki terdengar sangat liar sekali, bola matanya keatas bibirnya menganga, lidahnya sedikit keluar. Aku benar-benar takjub dengan sensasi liar ini.

“arhhh… ibu liar sekali… arghhh aku mau keluar… keluar yahhh… tempikmuu nikmatthhhh owhhh…. yahhhh enak sekali owhhh….” racauku

“ah…. ahhh ahhhh ahhhh… nikmat anakku nikmat sekali ayo sayang lebi kerrrrrrrassshhhhhh ah ah ah pejuhi wajah ibumu naaaaakkkkhhh….” racaunya

Kugoyang semakin keras, vaginanya menjadi menggenggam dedek arya, susunya aku remas dengan sangat kuat. Ibu hampir keluar, aku juga, dan kuhentakan lebih keras. Tubuh ibu melengking keatas, mengejang sesaat. Kutarik dedek arya dengan Sperma yang sudah diujung.

Langsung aku kangkangi kepala ibu dan kusemprotkan semua spermaku di wajah ibuku. mulut ibu terbuka dan matanya memejam, sperma keluar dengan sangat belepotan di wajahnya. Setelah yakin, sudah tidak ada lagi sperma yang keluar, ibu membuka matanya dan menyuruhku mengambil sematponnya. Ku ambil dan kukangangi lagi wajahnya, bibirnya mengulum dedek arya membersihkan semua yang tersisa disana.

“ohh… pejuh, enak sekali… nyammmmmmmmm hash hash hash….” ucap ibuku

Setelah semua bersih, ibu dengan jarinya membersihkan sisa-sisa sperma di wajahnya. Kumatikan sematpon kemudian duduk berhadapan dengan ibu yang masih rebah. Kami beristirahat sebentar, setelah yakin semua kembali kuat.

Ibu bangkit dan kembali masuk kedalam kamar, dibawanya sesuatu ditangannya sekembalinya dari dalam kamar. aku duduk bersandar dihadapan ibu, terlihat ibu melepas kebayanya dan mulai memakai satu persatu pakaiannya. Tapi kemudian berhenti dan memakainya lagi, ib memberiku isyarat untuk merekam adegan ini. aku merekamnya, semua degan itu aku rekam.

“bagaimana nak? Kamu suka?” ucap ibu sambil memutar tubuhnya dihadapanku

Bersambung