Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 82

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 82 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 81

Kalian koplak, pergilah, kembali berkumpul 2-3 hari lagi. Jika kalian berada didalam rumah, lakukan aktifitas seperti biasanya. Aku tidak ingin kalian diinterogasi berlebihan, dan kalian semua beristirahatlah selama 2-3 hari ini. biar aku yang menangani mereka semua…. okay bisa? ucap anton

ya, tapi jangan katakan kalau kami yang berada disini ucap tugiyo

ya jelaslah tidak, bisa-bisa kalian malah di tahan… ucap anton

yeee takut nih takut habis bunuh orang ya he he he ejek udin

gundulmu kamu saja sudah bunuh banyak… ucap tugiyo

kan terpaksa ha ha ha ucap udin

sudah… sudah… sebentar lagi mereka datang, kalian pergilah sampai aku mengabari kalian semua.. ucap anton

tapi nton… eeee… ucapku

sudah, tenang saja dian akan baik-baik saja… ucap anton

baiklah terima kasih…ucapku

Sayup-sayup terdengar suara sirine, anton kemudian menyuruh kami segera pergi. Aku dekati dian…

Mas pergi dulu, 2-3 hari lagi mas temui ade… ucapku

heem hati-hati, jangan macem-macem… ucapnya, aku mengangguk

tante… tolong jagain dian ya… ucapku kepada tante wardani

iya, ar… pasti… ucapnya

nenek ifah, nenek laila, mbak alya dan mbak alsa… arya pergi dulu, 2-3 hari lagi kita akan bertemu. Anton akan mengurus semuanyaucapku

iya ar, kamu hati-hati ya… ucap nenek laila

jaga diri kamu… ucap nenek ifah

terima kasih keponakanku yang cengeng… cup… ucap mbak alya dan mbak alsa sambil mengecup pipiku

Sekali lagi aku dekati dian dan kukecup bibirnya, dian tersenyum dan aku kemudian berlari keluar gedung bersama-sama dengan koplak. Berlari menyusuri kebun yang rimbun hingga akhirnya menemukan motor-motor kami sendiri-sendiri. aku dan wongso, aris dan dewo sedangkan yang lainnya diparkir ditempat yang berbeda.

Aris dan Dewo melaju terlebih dahulu diikuti aku dan wongso. Setelah aris dan dewo menghilang dari pandangan kami, tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam melaju disamping kami lalu mendahului kami.

mobil itu tiba-tiba berhenti didepan kami, aku dan wongso tampak terkejut. Kami pun bersiap-siap jika saja ada sebuah hambatan lagi. Ketika pintu mobil itu terbuka…

Arya, ayo pulang… ucap wanita itu, Ibu

eh…Ibu… aku terkejut ketika melihat ibu

huft… ternyata tante to… owalah tak kira siapa, tapi bukannya tante… ucap wongso

sudah, nanti kamu dengar cerita dari arya saja ya, arya ayo masuk… ucap ibu

wong, aku bareng sama ibu ya… ucapku

yoi bro, malah enak kalau gini, aku bisa langsung ke rumah menemui bidadariku… ucap wongso

Aku dan wongso akhirnya berpisah, wongso langsung mendahului kami ketika aku masuk ke dalam mobil.

kenapa ibu bisa sampai disini, bukannya ibu mmmm… ucapku tersumbat oleh bibir indahnya

sayang… ibu kangen, sekarang kamu ikut ibu sayang ? ucap ibu

eh… bu tapi dian… ucapku

dian akan baik-baik saja percaya sama ibu, Tante asih juga ikut dalam datang ke gedung saat ini, jadi kamu tenang saja sayang, okay? ucap ibu, sambil mengalihkan pandangannya kedepan

ibu ingin kita berpisah… dan menjadi seorang ibu dan anak lagi… dan ini yang terakhir sebelum kamu bersama dian… ucap ibu, kupandangi wajah ibu dari samping. Kudekatkan wajahku ke wajah ibu..

cup…

jika memang begitu seharusnya… ucapku, ibu memandangku dan kami kemudian saling melumat bibir kami

Sebuah rombongan mobil kepolisian dan juga mobil intelejen Negara beserta 3 mobil ambulance datang ke gedung. Bersamaan dengan kedatangan mereka, koplak telah menghilang.

Disana hanya ada anton, anak buah mahesa dan nico serta dua orang bandar. Wardani, dian (Arda), dan juga keluarga arya juga berada disitu. Ketika semua datang masuk, serbuan polisi dan IN tampak tak berarti apa-apa karena mereka hanya menemukan anton yang duduk dengan sebatang dunhill mild di tangannya juga senapan laras panjang di pangkuannya.

Anton, apa kamu yang? ucap seorang lelaki yang tidak lain adalah komandan anton

buka ndan, yang melakukannya adalah orang-orang gila ucap anton dengan senyuman

Tanpa memperpanjang pembicaraan, IN kemudian membantu kepolisian untuk mengevakuasi para tersangka. Namun tiba-tiba saja dua orang polisi yang merupakan pimpinan kepolisian yandatang ke tempat itu langsung ditubruk dan di borgol oleh anak buahnya sendiri.

Apa-apaan kalian ini? ucap pimpinan 1

Maaf pak, saya tidak bisa membiarkan anda menolong mereka, anda salah satu dari mereka ucap anak buahnya

kalian tidak punya bukti untuk itu semua ucap pimpinan2

Kemudian seorang IN memperlihatkan rekaman video dan suara dihadapan dua pimpinan itu. kedua pimpinan kepolisian tertunduk dan tak bisa berkutik lagi.

terima kasih untuk kerjanya IN, setelah ini pasti mereka akan masuk penjara dan menjadi orang biasa kembali ucap seorang yang menangkap pimpinan 1

sama-sama ucap anggota IN

masukan mereka kedalam mobil tahanan semua… ucap seorang yang menangkap pimpinan 1

Mereka berdua kemudian berjalan menghampiri anton. Ternyata mereka berdua adalah anggota kepolisian yang diberi tugas untuk mengawasi pergerakan kedua pimpinan kepolisian tersebut. Mereka ditugaskan oleh kepolisian pusat setelah kepolisian pusat mendapat laporan dari IN.

Setelah para tersangka dievakuasi, begitu pula dengan Mahesa dan Nico yang ditandu masuk ke dalam ambulan. tampak asih berjalan mengahampiri dian. ifah, laila beserta anaknya di evakuasi oleh perawat lain. Walau berpapasan dengan asih, asih masih tidak sadar kalau itu adalah keluarganya, wajar karena asih tahu dari diah kalau dian ada didalam gedung itu. sehingga asih hanya fokus kepada dian.

kamu ndak papa yan? ucap asih

ndak apa tan… ucap dian

apakah anak saya bisa sembuh lagi mbak? ucap wardani kepada asih

eh, anda ibu dian? ucap asih

iya, ini anak saya Warda nicolaswati… ucap wardani

mama… mulai sekaranng dan seterusnya namaku Dian, Dian Rahmawati.. ucap dian kepada Ibunya

eh, iya… Dian Rahmawati Sukoco… ucap wardani dengan senyuman, dian tampak terkejut mendengar nama itu

terserah mama, yang penting mama harus bawa papa ke dian, biar dian tahu papa dian ucap dian dengan senyuman karena mengetahui nama dibelakangnya. Jelas itu adalah nama seorang laki-laki yang di cintai oleh ibunya

Asih tampak berada diantara percakapan mereka tapi asih tahu dengan jelas jika yang dibicarakan oleh dua perempuan dihadapannya mengenai keluarga dan cinta. Selepas percakapan, kemudian dian dibawa asih beserta wardani menuju ke ambulan.

Dian ditandu dan dimasukan ke dalam ambulan beserta wardani, asih masih berada diluar. Keramaian dan suara sirine polisi menghiasi malam ini. Asih bersyukur karena dian baik-baik saja. Asih berdiri masih berada di lokasi melihat ambulan yang membaawa dian pergi, ketika melihat kesekelilingnya asih tampak terkejut.

TANTE!… teriak asih ke laila dan ifah. Laila dan ifah memandang asih, tampak asing bagi mereka berdua. Asih lalu menghampiri laila dan ifah, mereka berdua masih sedikit bingung dengan kehadiran asih yang datang menghampiri mereka.

tante laila, tante ifah? Ini asih… keponakan om tian ucap asih dengan mata berkaca-kaca, tiba-tiba saja ingatan mereka berdua, laila dan ifah, kembali ke masa dimana suami mereka masih hidup

Asiiiiiiih… teriak mereka berdua, laila dan ifah, yang langsung memeluk asih

tante bersykur masih bisa lihat kamu lagi… ucap laila yang memeluk asih dengan sangat erat, diikuti ifah yang memeluk asih

tante kemana saja? ucap asih mencoba mencari tahu tentang tantenya yang tiba-tiba saja berada di tempat ini

panjang sih, oh iya ini alsa dan alya… tapi lebih cocok jadi keponakan kamu ucap ifah

eh… tante asih… ucap alsa sedikit ragu

eh, manggilnya mbak kan kalian anak dari om-ku ucap asih tersenyum dengan air mata mengalir dipipinya

heem mbak… ucap alya

Mereka berpelukan , saling melepas rindu satu sama lain. Tawa riang mereka berdua senantiasa menghiasi bibir mereka. laila dan ifah tampak begitu gembira bertemu dengan keluarganya lagi setelah sekian lama terpenjara didalam sebuah rumah bersama anak-anaknya.

Masih beruntung kedua anaknya keluar untuk sekolah dan kuliah. Namun tetap saja alya dan alsa ketika sekolah hingga kuliah selalu mendapatkan penjagaan ketat. Alsa dan alya sengaja dikuliahkan di luar daerah agar tidak bertemu dengan keluarga dari pak warno kakek arya.

nanti tante ceritakan sih, tadi itu ar… ucap ifah

sssst… asih sudah tahu, jangan ngomong disini hmmm… ucap asih

jadi mbak sudah tahu ya? ucap alya

jelas, 12 anak laki-laki, tapi yang satu tidak jelas itu laki apa cewek hi hi hi ucap asih, mereka berempat tampak bingung karena asih mengetahui semuanya

lho kok bisa tahu? ucap laila

sudah nanti asih ceritakan, asih akan hubungi om warno dan tante ayu… ucap asih, mereka sedikit terhenyak ketika mendengar nama yang disebutkan asih

eh bagaimana kabar mereka sih? ucap laila dengan sedikit sedih

baik kok, nanti asih ceritakan semua… oh ya ayah dan ibu juga bareng dengan mereka kok ucap asih

Mas wardi dan mbak Umi? ucap ifah

heem pokoknya nanti asih ceritakan semua dan asih mau ngabari ke mereka kalau tante ifah dan tante laila sama alsa dan alya sudah kembali , pasti mereka senang… ucap asih

tapi sih, om kamu sudah tiada. Kami bukan… ucap laila terpotong

masih… bukan berarti om tiada, tante bukan keluarga kami lagi, tante dan adik-adikku ini masih, masih keluarga sampai kapanpun… ucap asih

Air mata mengalir di pipi ifah dan laila, begitu pula alsa dan alya tak mampu menahan haru lagi. Sekali lagi mereka menagis untuk kedua kalinya, menangis bersama karena kebahagiaan yang sempat tertunda bertahun-tahun lamanya.

Dalam tangisnya ifah dan laila teringat akan suaminya. Seandainya saja tian masih berada disini mungkin saja mereka akan merasakan kelengkapan dalam kebahagiaannya. Berlima mereka kemudian memasuki sebuah ambulan menuju ke rumah sakit daerah.

Didalam sebuah ambulan yang terlebih dahulu berangkat…

Arda… ucap wardani yang duduk disamping dian yang telah mendapat pertolongan pertama

Dian ma, aku lebih suka dian… ucap dian memandang ibunya

eh, iya dian… hening sesaat setelah wardani menjawab.

Kedua mata itu bertatapan senyum mereka saling mengembang namun wardani tampak sedikit kikuk dihadapan dian. sesaat kemudian wardani menundukan kepalanya, merasa malu terhadap anaknya sendiri.

Maafkan mama… ucap wardani

Sudah ma, itu semua sudah berlalu… Arya juga sudah cerita semuanya kepada dian… ucap dian

Namun wardani tetap saja tak mampu memandang anaknya…

Ma… panggil dian

Maafkan mama hiks hiks hiks mama tidak tahu kalau arya adalah… hiks hika hiks… ucap wardani terisak didalam mobil ambulan bersama dua orang perawat. Kedua orang perawat itu memilih untuk diam ketika mereka tahu pembicaraan antara kedua wanita itu sangat serius.

Mama jangan nangis…

Ma… apapun yang terjadi mama adalah Ibu dian, sewaktu mama cerita ditelepon mengenai seorang lelaki yang datang kerumah mama dan mama… sebenarnya dian saat itu mengira jika lelaki itu adalah arya namun pikiran itu dian hilangkan. Tetapi setelah arya cerita semuanya kepada dian…

Sebenarnya, ya ada sedikit rasa sakit didalam hati tapi jika dian mengingat bagaimana kondisi mama dirumah itu. itu bukan kesalahan, secara psikologis mama memang membutuhkannya.

Mama sendiri pernah cerita kan kalau disana mama tidak pernah mmm… ucap dian yang selalu melanjutkan kata-katanya dengan pandangan mata ketika mengatakan tentnag sesutu yang tabu, dikarenakan ada perawat disana.

iya, yan maafin mama ya sayang… mama janji ndak akan melakukan lagi, ndak akan. Mama harap kamu tetap sama Arya ya sayang… ucap wardani mendekati dian dan memeluknya

Dian juga minta maaf ma… ucap dian, wardani kemudian melepaskan pelukan

Minta maaf apa? ucap wardani

selama ini, dian berada didaerah ini tidak pernah diluar kota… ucap dian

eh, ndak papa sayang…ndak papa… ucap wardani

setelah mama meminta bajingan itu untuk membawa dian pergi, pada awalnya dian berada diluar daerah tapi dian kangen dengan daerah ini. walaupun itu bukan alasan utama, alasan utama dian adalah dian ingin membawa mama dan yang kedua karena bocah itu… ucap dian terhenti

bocah? ucap wardani bingung

ya bocah tu, ketika itu dian nekat ke daerah ini lagi, tapi malah dapat masalah dan bocah itu menyelamatkan dian. maka dari itu setelah bertemu dengan bocah itu, keinginan dian untuk kembali ke daerah itu semakin kuat ucap dian

bocah? Bocah siapa?? ucap wardani tampak penasaran

Yang tadi… ucap dian dengan wajah sedikit memerah

oooo… jadi kamu sudah pernah ketemu dengan bocah itu sebelumnya sayang? ucap wardani, dian hanya mengangguk

Pantesan saja tadi mama lihat kamu, hmmm… kayanya cinta banget? ucap wardani tampak sedikit menggoda dian

iih mama apaan sih? ucap dian

Ada tawa di dalam wajah mereka, ada senyum di dalam pikiran mereka berdua…

setelah itu, dian memaksa dia (nico) itu untuk membawa dian kembali ke daerah ini. kuliah hingga S2 dan itu tanpa sepengetahuan mama. Semakin hari dia semakin menginginkan dian, karena dian berbeda dengan dian yang dulu.

Tapi dian selalu menolaknya dengan ancaman akan bunuh diri dan lain sebagainya. Entah kenapa dia sedikit takut dengan ancaman itu… ucap dian

karena dia ingin menjadikan kamu sebagai pengganti mama… ucap wardani membuat dian sedikit terkejut

mama tahu itu ketika dia dan orang itu (mahesa) berbincang-bincang dirumah, ketika mama sudah tidak mampu lagi kamulah pengganti mama. Tapi sudahlah semua telah berakhir dan kita selamat, itu juga karena bocah itu… ucap wardani

iya ma, mungkin karena ada bocah itu semuanya telah berubah. karena bocah itu semuanya semuany menjadi baik-baik saja… ucap dian

Ya begitulah mbak, bu… namanya saja koplak. Walau koplak dia tetap baik… ucap perempuan disamping dian yang memakai baju perawat

Eh… dian dan wardani tampak terkejut

kenapa mbak? Terkejut ya saya tahu? Hi hi hi… Koplak itu memang seeperti itu, walau brutal tapi baik, dan ndak terus jadi preman gitu… mbak pacarnya kan? Waktu itu didepan warung yang teriak-teriak itu kan mas arya kan? Hi hi hi… ucap perawat perempuan

Eh… wajah dian semakin memerah

teriak bagaimana mbak? tanya wardani heran

ya, gimana waktu itu… pokoknya gini dian i love you hi hi hi hi didepan warung-warung lho bu… ucap perawat

oh… pantesan saja anak saya tergila-gila hi hi hi canda wardani

ih mama apaan sih… ucap dian

Semua tertawa dalam ambulan tersebut, dan dian dengan wajah erahnya terus saja di bully oleh orang-orang yang berada didalam mobil ambulan tersebut. Selang beberapa saat, rasa lelah menghinggapi mereka dalam perjalanan pulang ke rumah sakit. Hingga hening karena lelah tertawa.

Mas, aku memang merasakan sakit ketika aku tahu bahwa lelaki itu adalah kamu. Sekalipun itu bukan keinginanmu tapi keinginan ibu, aku juga tidak bisa menyalahkan ibuku karena kondisi ibu yang hanya dijadikan mainan oleh mahesa dan nico.

Ibu juga butuh kepuasan mungkin itu jawabannya… ah… Arya, arya banyak sekali wanita yang telah kamu tidur sayang. Bahkan ibumu juga, sangat sakit dan aneh ketika melihat itu semua bahkan aku sempat tidak percaya jika kamu memang melakukannya.

Tapi ketika aku adtang kerumahmu, berbicara dengan ibumu. Sesaat itu aku benar-benar tidak menyangka jika kamu benar-benar melakukannya. Dari cara ibumu berbicara, memandangku semuanya mengatakan bahwa kamu melakukannya…

Aku sakit, merasa lebih sakit dari siapapun… tapi itu semua juga karena mahesa dan nico… siapa yang salah entah, tapi jika aku harus berpisah denganmu. Aku memilih mati, pandanganmu saat itulah yang mengembalikan kepercayaanku, keyakinanku.

Setelah ini, setelah kita bertemu kembali… akan aku jadikan kamu sebagai rajaku dan aku hanya satu-satunya ratuku… aku akan membuatmu lebih jauh lagi dan lebih dalam lagi tersesat dalam hatiku, agar kamu tidak bisa keluar lagi.

Akan aku buat sebuah labirin tanpa pintu kleuar didalam hatiku… akulah ratumu dan akulah wanitamu, akan kujaga pandanganmu setelah bersamaku… bathin dian

Eh, ngalamun saja… ucap wardani menyadarkan dian

ih, mama bikin kaget saja… ucap dian

Lucu sih kamu… akhirnya kamu dapat cowok yang sip buat kamu ucap wardani dengan senyuman, wajah dian semakin memerah

eh, ma… ucap dian

iya.. balas wardani

lelaki yang namanya mama tambahkan dibelakangku….? ucap dian, sesaat itu wajah wardani langsung tertunduk

mama tidak tahu nak, apa papamu itu masih mau menerima mama… ucap wardani

cobalah mama temui… bujuk dian

tidak nak, mama tidak sanggup mama merasa sangat bersalah pada papa kamu… ucap wardani

tidak ada salahnya mencoba… ucap dian

eh… wardani diam sesaat

Mobil ambulan telah sampai di rumah sakit…

ya nak, nanti mama akan temui setelah mama yakin kamu baik-baik saja ucap wardani

heem… ucap dian sambil mengangguk

Disebuah mobil dibelakang mobli tahanan yang berjalan…

Untung kamu selamat ton.. ucap seorang lelaki

iya ndan, berkat mereka… ucap anton

seharusnya kamu tidak bergerak sendiri seperti ini ucap komandan

kalau aku bergerak bersama IN, aku akan kehilangan mereka ucap anton

ha ha ha ha… dasar! Beruntung aku menemukanmu saat itu…

oia, tadi di Smartphone kamu yang ketinggalan dikantor ada telepon dari cewek namanya Anti lanjut komandan

eh… anton tampak terkejut

Setelah ini, kamu suruh pulang cepat. Kangen katanya ucap komandan, sesaat kemudian anton tersadar jika dia tidak membawa alat komunikasinya tapi…

komandan jangan bohong, tadi waktu berangkat saya bawa ndan. Paling tadi pas mau masuk ke mobil komandan yang ngambil kan? ucap anton

Ha ha ha ha ketahuan juga ternyata… setelah ini mu cepatlah pulang, biar kami yang menangani dan saya pastikan semuanya beres! ucap komandan

yaelah ndan, saya itu anak buahnya. Kok malah komandan yang mau mengrusi semuanya ucap anton

Ndan ijin menyela ucap seorang

ya silahkan ucap komandan

sudah nton, istirahat! Biarkan sekali-kali kami semua yang begadang, okay? ucap teman anton

Eh… baiklah ucap anton

oh iya, tapi kamu tetap saya hukum ya nton… ucap komandan

Eh… anton terkejut

karena kamu tidak menginformasikan semuanya, jadi kamu saya hukum… liburan satu minggu setelah kasus ini selsai, okay? ucap komandan

terima kasih ndan… ucap anton tertawa lebar

Didalam mobil ambulan yang berisi mahesa dan nico, tampak mereka hanya bisa merintih kesakitan. Tampak sekali mereka tidak menyangka yang telah terjadi pada mereka. pilihan mati hanya ada didalam otak mereka, namun ketika mengingat apa yang diperlihatkan oleh Arya tampaknya matipun tak akan pernah bisa dicapai oleh mereka. Mereka berdua teringat sebuah memori dimasa yang lalu…

Seorang wanita tua dan lelaki tersungkur dijalanan, disaksikan oleh semua warga disana. Tak ada satupun yang menolong karena ketakutan mereka. bagaimana menolongnya dengan dua orang membawa senjata berpeluru?

Setelah sepasang kekasih itu tersugngkur, dan kemudian dimaki-maki oleh dua orang pria. Mereka ditinggalkan begitu saja oleh dua pria tersebut dijalanan, dengan tawa yang sangat keras dua pria itu berjalan menuju ke mobilnya.

MAHESA! NICO! Suatu saat nanti akan ada seorang lelaki yang akan mengjancurkanmu, dan membuatmu menderita! LEBIH MENDERITA DARI KAMI, BAHKAN UNTUK MATI SAJA KAMU TIDAK AKAN PERNAH BISA! KAMU AKAN MENDERITA! ucap seorang perempuan sambil menunjuk-menunjuk ke arah dua pria itu, mahesa dan nico, dengan jari telunjuk kanannya sedang tangan kirinya mengangkat kepala seorang lelaki tua untuk disandarkan pada pahanya.

HA HA HA HA HA OH ya??? HA HA HA HA teriak mahesa

PASTI KAMU AKAN LEBIH MENDERITA! SANGAT MENDERITA! teriak wanita setengah baya itu lagi, yang tak lain adalah mahesawati. Di pergelangan tangannya menggantung sebuah batu giok.

Disaat itu mahesa memang memperhatikan sekilas batu giok itu tapi dia malah tertawa dan meninggalkan sepasang kekasih itu. bahkan nico pun malah menyumpahi sepasang kekasih itu. mereka akhirnya pergi dengan sebuah mobil dengan sebuah kata-kata yang membuntuti mereka dibelakang mobil itu. ya kata-kata dari mahesawati yang suatu saat akan menubruk mereka dan membalikan jalan hidup mereka.

Menyesal ya, mereka sekarang menyesal namun perkataan dari perempuan itu adalah sebuah kejadian yang tertunda sangat lama. Walau tertunda tapi sekarang telah menjadi kenyataan, menderita, sangat menderita itulah yang akan terjadi pada mereka berdua.

***

Ah, untung saja tadi arya dijemput oleh Ibunya… bathin wongso

Setelah mendahului mobil sedan hitam itu, wongso tampak menancap gas dengan sangat dalam. Jalan-jalan yang sepi di laluinya dengan sangat cepat. Suara deru motornya menghiasi malam ini, ya malam dimana dia akan kembali kerumah untuk melepas lelah setelah pertempuran malam ini.

sesampainya di rumah tersebut, diparkirnya motornya dan turun dari motor. Gerakannya terhenti ketika melihat seorang perempuan berdiri dari duduknya dan wajahnya hampir menangis.

Asmi, kok belum bobo… ucap wongso

hiks… ndak bisa bobo… ucap asmi yang berdiri tak jauh dari wongso

nunggui mas ya? ucap wongso sambil menggaruk-garuk kepala belakangnya. Dilihatnya asmi tampak mengangguk ke arahnya, wongso kemudian berjalan cepat dan langsung memeluknya. Bibri mereka berpagutan, tak ada kata-kata kecuali mendesah.

Kleeek….

ning kamar dhuwur, ojo ning ngisor adimu wes turu… (di kamar atas, jangan dibawah, adikmu sudah tidur) ucap ibu wongso yang keluar dari warung kemudian berlalu melewati mereka berdua tanpa melihat mereka

eh, gih mak (iya bu) ucap wongso, melihat ibunya masuk rumah. Dipandanginya asmi.

kok ndak bilang kalau ibu masih diwarung… ucap wongso

iih, mas tadi asal nubruk saja… dinda kan jadi bingung… ya dinda pilih nubruk juga, enak sih.. ucap asmi

ih nakal deh dinda… ucap wongso, sambil membetet hidung asmi

mas ndak papa, kok ada darah? ucap asmi

Sudah ndak papa hanya luka kecil kok ucap wongso, mereka masih berpelukan

bener ndak papa? ucap asmi, dan wongso mengangguk

sudah ndak merah… bisik asmi tiba-tiba

Eh… wajah wongso menjadi sangat riang, langsung dibopongnya asmi ke dalam rumah. Ketika sampai di ruang TV.

aku wegah nek mantuku dudu asmi, kudu asmi (aku tidak mau kalau mantuku bukan asmi, harus asmi) ucap ibu wongso yang ternyata duduk di depan TV yang tidak menyala

EH, mak kok masih … ucap

ngenteni (nunggu) bapakmu, make kan juga kangen bapakmu, memang asmi saja yang kangen kamu! ucap ibu wogso

Ojo berisik! (jangan berisik!) ucap ibu wongso

gih mak… ucap wongso yang langsung membawa asmi ke lantai atas

Asmi direbahkan perlahan, pintu kemudian dikunci. Tanpa menunggu lama, wongso langsung memelorotkan celana panjang kolor asmi. Dilihatnya gundukan yang masih terbungkus celana dalam.

tempe memang makanan khas daerah kita, dan paling lezat diantara makanan yang lain… ucap wongso lirih, asmi bangun dan kemudian memgang dagu wongso

tapi tempe ini saja, awas kalau ada tempe lain. Tak potong itu terong! ucap asmi

woooo…. ini tempe AS pasangan terong WONG! Boleh mas mencicipinya dinda? ucap wongso

jangan mencicipi, dimakan juga boleh kok… tapi nanti tempenya disausi ya kang mas wongso… ucap asmi

Aduh, adanya mayones, ndak papa ya? ucap wongso

oh iya, mayones… heem… yang banyak ya mas, kan mayonesnya satu minggu ndak dikeluarkan… ucap asmi

aw…. jerit asmi ketika lidah wongso mulai menjilati tempe yang masih terbungkus itu

Dengan sangat cepat wongso melepas celana dalam asmi, dijilatinya tempe itu. ah, rasa harum dirasakan oleh wongso. Tempe aroma melati, ya karena sedikit cipratan minyak melati di tempe milik asmi. Wongso tampak sangat ganas, jilatanya menyapu semua sudut tempe asmi.

Asmi hanya bisa mengerang kenikmatan, desahan dan rintihan kenikmatan yang tertahan berasal dari mulut asmi. Jari wonsgo mencoba masuk…

jangan mas, terong… asmmau terong… ndak kacang panjang, emooooh… ucap asmi manja

oh ya sayang, ini ya? ucap wongso yang berdiri dan melepas celananya

aaaaa… kangen mmmmm slurppp… emmmmm slurrrp…. asmi dengan sigap langsung memegang terong itu dan dijilati, dikulumnya

oh dinda, ouwh… bibir kamu adalah tempathhh owh terindah untuk terong kang mas… erghhh terus dinda oughhh yah…. rintih kenikmatan wongso

ough dinda sudah… nanti mayonesnya keluar sayang… ucap wongso mengehntikan kuluman asmi setelah beberapa saat asmi megulum terongnya

Sini, mas tempenya masih hangat… ucap asmi yang langsung menunggi

siap sayang… jangan sedih ya sayang, sayang kan tahu kalau pertama habis puasa mas keluarnya cepet.. ucap wongso

iiih mau cepet mau lama, yang penting CEPET MASUKAN! ucap asmi diakhiri bentakan, wongso terkejut dan langsung memasukannya perlahan

Arghhh… ouwh mas… besar panjang, asmi suka… ini buat asmi ouwhhh… yah pelan mas… mmmmhhh.. arhhh mas… aduh mas pelannnhhhhh erghhhh…. rintih asmi

EGHHH!… mentok mashhhhh asmi terkejut ketika terong wongso masuk sangat dalam dan menyentuh rahimnya

ouwh dinda… tempemu hangat… ucap wongso yang kemudian memeluk asmi

Susu mas, ehhhhhh susunya juga masih hangat mas… erghhh mmmhhh ucap asmi

oh iya, mas kok lupa…. besar dan kenyal, ini milik mas arghhh ah tempemu luar biasa! Ah sempit, selalu sempit…. selalu nyedothhhh oughhh… ucap wongso

terus mas goyang terus…. arghhh… remas yang kuathhh oughhh terus mashhhh terussss enak banget, terong mas enak bangethhh owhhh…. rintih kenikmatan asmi

Wongso terus menggoyang pinggulnya dan terus meremas kuat susu asmi. Kepala asmi menoleh kebelakang dan bibirnya kemudian disambut oleh bibir wongso. Tak lama dalam posisi gaya anjing, wongso langsung membalikan tubuh asmi.

Dimasukan kembali terong perkasanya kedalam tempe asmi, sambil menggyang kepalanya menunduk dan melumat bibir asmi. Lumatan tidak lama, setelahnya bibirnya turun ke susu asmi dan menyedotnya dengan sangat keras.

Aduh… owhhh… emmmhhh mashh… kontol owk kontol mas, asmi suka kontol mas, suka terong mas… ah tempik asmi suka kontol mas yah terus mash terushhhh… ergh….. terushhhh… racau asmi, namun wongso tidak membalas karena sibuk menjamah susu dan menggoyang pinggulnya

Setelah beberapa saat…

oh dinda… pejuhku mau keluar.. mayonesnya mau keluar… tempik kamu ini bikin kontolku nyut-nyutan sayang owhh….arghhh susumu naik turun sayang indah sekali argh argh argh …. racau wongso

itu susu mas, kontol mas… argh mas, dinda mau keluar,… arghhh racau asmi

iya sayang mas juga… ucap wongso

Goyangan semakin cepat, tubuh asmi sedikit menegang… dan …

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Bersamaan keluarnya wongso, tubuh asmi juga ikut melengking dan kemudian megejang. Mereka saling berpelukan sangat erat, hingga nafas mereka kembali teratur.

hangat banget pejuh mas… ucap asmi

punya dinda juga… balas wongso

tresno karo mas (cinta sama mas) ucap asmi

I LOVE YOU balas wongso, mereka kemudian berciuman

Masih banyak ndak mas mayonesnya… ucap asmi

pasti banyak kok tenanng saja… ucap asmi

kalau banyak, sampai pagi ya mas… kalau bisa besok juga… seharian… ucap asmi

waduh… ucap wongso

tenang, besok warung tutup ibu, bapak, sama adik mas mau jalan-jalan katanya ucap asmi

lho mas kok ndak diajak… ucap wongso

asmi yang minta… ucap asmi kembali, wongso tersenyum lebar karena mulai detik ini hingga kepulangan keluarganya dia akan berolah raga seharian.

waduh… mati aku, lusa aku harus rongten pinggul ini… bathin wongso

Setelah itu mereka melepas semua pakaian mereka. Tubuh asmi yang rebah di kasur, tubuh yang langsing dihiasi dengan payudara besar menjadi pemandangan indah untuk wongso yang berlutut diatas asmi sedangkan terong yang kembali menegang seakan akan siap memasuki tempe asmi.

Wongso mengambil sesuatu dari celananya, digenggamnya agar asmi tidak melihatnya dan kemudian diletakan diantara payudara asmi. Ketika genggaman tangan wongso terbuka, mata asmi berbinar-binar.

mas… ajak asmi, yang melebarkan kedua tangannya dan…

Bersambung