Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 81

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 81 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 80

(sudut pandang orang ketiga)

Wo, ris, lompat dari sana itu tempat terendah dan tidak membahayakan ucap anton kepada aris dan dewo bebarengan dengan arya yang keluar dan berteriak…

Bajingan hentikan! teriak arya keluar dari persembunyiannya

Arya… ucap mahesa terkejut melihat anaknya berada ditempat ini

Arya berlari sambil melemparkan sebuah belati ke arah nico, belati itu tidak melukai nico tapi aling tidak menghentikan tarikan pelatuk pada pistol yang kemudian terjatuh. Sesaat itu juga anton, membidikan senapan laras panjangnya ke arah anak buah ayah dan om nico.

Dewo dan ari melompat ke sebuah atap dan langsung menjatuhkan diri ke arah dua orang yang mencoba menghadang arya. arya berlari ke arah nico yang sedang mencoba mengambil kembali pistolnya seadangkan mahesa pun melakukan hal yang sama.

Arya kemudian melompat dan berhasil menjejakan telapak kakinya ke kepala nico yang sedang tertunduk. Mahesa yang sudah berhasil mengambil pistol tapi joko dengan cepat melemparkan kayu hingga mahesa terdorng ke depan.

Dhreb… dhreb… dhreb… tiga tembakan anton berhasil menjatuhkan tiga orang. 3 gugur. karyo dengan tubuh besarnya menarik seorang lelaki dihadapannya yang tidak sadar kalau dibelakang mereka ada koplak.

Ditarik dan kemudian dengan gaya kayang dibantingnya kebelakang, karyo kemudian bangkit dengan cepat lututnya dihantamkan pada leher lelaki tersebut. 4 gugur. Arya yang berhasil menendang nico, melihat ayahnya maju langsung didaratkannya sebuah pukulan telak di wajah ayahnya hingga terjungkal kebelakang.

Nico yang bangkit mencoba memukul arya, tapi wongso dari belakang yang berlari setelah arya keluar melompat. Sebuah tendangan mendarat di kepala nico untuk kedua kalinya.

akan aku bayar kalian dengan mahal, asalkan lepaskan aku sekarang ucap bandar 2 kepada mantan anak buahnya

aku sudah tahu kebusukanmu, lebih baik aku menghajar mereka ucap anak buahnya

dasar pengkhianat ucap bandar 3

Bugh… sebuah pukulan mendarat di wajah kedua bandar besar ini. empat orang mulai bergerak maju ke dalam kerumunan. Dewo yang sebelumnya mendarat tepat di atas tubuh seorang lelaki, langsung memberikan pukulan bertubi-tubi ke wajah orang tersebut begitu pula dengan aris. Tak sadar sebuah pukulan kayu mendarat dipunggung dewo membuat aris terkejut melihat dewo terseungkur.

Tapi tak lama kemudian aris mendapatkan pukulan dipunggungnya. Joko dan hermawan yang keluar langsung berlari ke arah aris dan dewo melompat ke arah dua orang lelaki yang memukul aris dan dewo. Jleb, jelb sebuah belati tetanam di punggung dua orang lelaki tersebut.

Ditariknya kepala kedua lelaki tersebut oleh joko dan herman kebelakang hingga terjatuh dan belati itu pun menancap dengan sempurna. 6 gugur. Joko dan hermawan kemudian berlari kembali meninggalkan dewo dan aris untuk menghadapi musuh kembali.

Dewo dan aris bangkit adn meraih kepala dari dua orang lelaki yang ditubruknya tadi. Diplintir kepala mereka hingga tak bergerak. 8 gugur.

Melihat ayahnya terjatuh dan juga nico, arya bergerak ke arah dian. tangan dian masih terikat dan wardani mencoba untuk melepaskan ikatan itu. arya, mendekati dian dan menutup kembali pakian yang dikenakan oleh dian.

ini milikku… ucap arya pelan kepada dian, dian mengangguk an kemudian tertunduk

nenek laila, nenek ifah, mbak alsa dan mbak alya cepat lari cari perlindungan. Tante wardani juga…

ade juga ucap arya membantu dian berdiri dan kemudian berbalik menuju medan pertempuran

hati-hati ucap dian

pasti ucap arya

kamu?????… ucap laila seakan terngat akan wajah seorang anak kecil

arya jawab arya sembari tersenyum dan langsung menghantam wajah seorang lelaki yang menghampirinya

Dhreb… dhreb… dhreb tiga tembakan keluar dari senapan anton dan tepat mengenai kening tiga lelaki. 11 gugur.

diatas, tembak ucap seorang mantan anak buah bandar, kemudian dua orang mengarahkan pistol ke arah anton

hei sayangkyu… ucap dira

hah… ucap mereka berdua kaget

Dhuar… Dhuar…dua orang tersebut sedikit terpental karena tembakan dari dira yang memegang dua pistol. 13 gugur. Tak sadar akan dibelakangnya ada orang, ketika karyo membalikan badan setelah menjatuhkan lutunya di leher anak buah ayah sebuah pisau mengarah ke dirinya.

Tapi dengan sigap karyo danpat bergerak walau akhirnya pisau itu memberika luka pada dadanya. Seperti sebuah sabetan samurai.

yo, kayang! teriak parjo yang berada disamping karyo

Karyo kemudian melakukan gerakan menjatuhka dirinya kebelakang, parjo kemudian mengayunkan kayu ke arah lelaki yang pertahannya terbuka. Tepat di wajah lelaki itu sebuah kayu menghantam keras hingga kayu tersebut patah menjadi dua.

Patahan kayu yang masih dipegang parjo langsung ditusukan ke perut lelaki tersebut kuat-kuat. 14 gugur. Arya dan wongso kembali pada perkelahian yang sangat keras. Dian beserta yang lainnya mencoba untuk mencari tempat yang aman, bersembunyi di sebuah merapat ke esbuah dinding gedung.

Tampak empat orang mendekati arya dan wongso dari belakang ketika perkelahian semakin brutal.

Dhuar… dhuar… dhuar… dhuar… udin dan tugiyo masuk dan langsung menembakan pistol ke arah empat orang tadi. Tampak sekali dua koplak ini tak bisa menggunakan pistol seperti halnya dira yang kelihatan sedikit mahir. 18 gugur. Dua orang didepan wongso dan arya nampak terkejut, situasi ini dimanfaatkan arya dan wongso untuk menghabisi mereka. 20 gugur.

asu… ternyata susah, mending pakai pisau saja tadi ucap udin

benar bro balas tugiyo

Disisi lain, mahesa yang melihat berkurangnya jumlah anak buahnya. Matanya tampak takpercaya akan yang terjadi pada malam ini. semua rencananya berantakan karena seorang lelaki. Seorang lelaki yang lahir karena ulahnya sendiri dan mencoba menghentikan semua perjalanannya. Dimatanya tampak sebuah kelompok yang dia kenal dulu, kelompok ketika masa merek SMA sering membuat ulah.

Sering pula mahesa melihat mereka menerima hukuman dari salah satu keluarganya. Sekarang kelompok itu sedang mencoba menghentikan semua karir busuknya, semua rencana yang telah dia susun dengan sangat matang. Ketakutan, kegelisahan dan kekhawatiran mulai menyelimuti dirinya sendiri.

tatapannya kembali menyapu tempat dimana ia akan melakuukan pesta besar-besaran. Dilihatnya bagaiamana lelaki-lelaki yang selalu menaruh hormat ketika masa SMA mereka sedang menghajar anak buahnya, dilihatnya anak buahnya tewas satu persatu.

Ya, keringatnya muali bercucuran melihat bagaimana mayat-mayat mulai berjatuhan dihadapannya. Dalam benaknya menghitung hampir sebagian bahkan lebih dari sebagian anak buahnya tewas ditangan anak-anak ini. mereka kalang kabut, bahkan beberapa hendak mencoba berlari untuk menyelamatkan diri mereka namun selalu saja terhenti oleh anak-anak ini.

Dlihatnya salah satu sahabatnya yang tersisa, nico. Mahesa kemudian mengambil pistol yang berada dilantai dan kemudian bergerak ke arah nico. Mahesa menarik nico untuk segera melarikan diri.

Kita harus lari, setelah kita selamat kita bisa hancurkan mereka setelahnya, ayo cepat! ucap mahesa ke nico

baiklah kita tinggalkan mereka saja ucap nico

Dua orang sahabat ini kemudian berlari menuju pintu yang menghubungkan bagian 1 gedung dengan jalur 2. Sesaat kemudian mahesa berbalik dan mengarahkan pistolnya ke arah arya yang tak sadar akan nyawanya yang terancam. Dengan penuh kemarahan terhadap darah dagingnya sendiri, mahesa berteriak.

Dasar anak kurang ajar! Rasakan ini teriak mahesa dengan moncong pistol ke arah arya.

Seketika itu arya menoleh ke arah ayahnya, seakan semua waktu terhenti ketika itu. koplak terkejut karena mereka melupakan pimpinan mereka yang harus dilumpuhkan. Tak ada yang bisa menghentikan jari itu menarik pelatuk pada pistol yang digenggam mahesa.

Tak ada satupun dari koplak yang bisa menghambat pergerakan jari iitu. Semua dalam posisi yang tidak mungkin bergerak ke arahnya. Dira, tugiyo, dan udin mereka terlambat mengarahkan senjata mereka ke mahesa.

Anton, tak bisa mengarahkan senjatanya karena mahesa tepat berada dibawahnya. Arya tersudut, karena baru tersadar akan posisinya sekarang yang tidak bisa menghindar. Dan …

Dhuar …

Sebuah peluru keluar dari pistol mahesa dan terbang menuju ke arah arya. Tapi sesosok tubuh berlari kemudian terbang melayang tak jauh di depan mata arya. mata aya terbelalak terkejut, seakan tak percaya atas apa yang dilihatnya. Tubuh itu adalah tubuh yang dia kenal, tubuh itu adalah tubuh yang pernah bersatu dengannya. Bersatu penuh dengan kehangatan akan cinta …

… Jangan, tidak …
… Aku mohon …
… Jangan …
… Jangan dia …
… Jangan dia, aku mohon …
…aku masih mempunyai mimpi bersamanya …
… tidak ..
… jangan dia …​

DIAAAAAAN! teriak arya

***

Sebuah pemandangan yang sebenarnya tidak ingin dilihat arya. sebuah pemandangan yang sebenarnya tidak ingin dilihat oleh koplak. Namun sosok tubuh itu melayang dihadapanku menghalangi sebuah peluru yang terbang ke arahku.

Sesosok tubuh itu adalah tubuh yang entah dari mana datangnya. Aku mengenal tubuh itu, aku mengenal setiap nano meter tubuh itu. Tubuh itu terjatuh dihadapanku. Aku berlari mencoba menangkap tubuh itu, tapi terlambat tubuh itu telah jatuh ke lantai gedung.

Bebarengan dengan aku berlari ke arah tubuh yang tergeletak di lantai, kulihat dira mengarahkan pistolnya ke arah ayah.

Dhuar …

Walau aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, tangan ayah melepaskan pistol itu dan mengaduh kesakitan. Kuraih tubuh perempuan yang berada di lantai, Kubalikan tubuhnya dan Kuangkat tubuhnya kepangkuanku, dia tetap tersenyum memandangku.

cepat kejar dia mas ucap dian yang masih aku dengar jelas

ta.. ta.. pi ucapku dengan air mata menetes, melihat darah disebagian dada dian

cepat! Jika dia lolos banyak yang akan menderita ergh… ucap dian

argh… geramku. Seketika itu aku mengarahkan pandanganku ke ayah.

sialan kamu banci! ucap ayah kepada Dira

ayo cepa mahesa ucap om nico yang menarik ayah untuk segera kabur dari gedung ini.

Ayah dan om nico kemudian berlari menuju ke pintu yang menghubungkan bagian 1 gedung dengan jalur 2. Aku letakan tubuh dian.

Aku mohon bertahanlah… ucapku dengan mata sedikit berkaca-kaca

heem… ucap dian sambil menganggukan kepalanya

Aku kemudian bangkit dan berlari mengejar dua bajingan yang sudah menghilang dari pandanganku. Berlari ke mengejar mereka berdua dengan penuh kemarahan, penuh dengan emosi. Penuh dengan dendam yang ingin aku luapkan kepada mereka.

***

KALIAN SEMUA JANGAN ADA YANG BERGERAK! ATAU MATI! teriak anton dari lantai 2 dengan mengarahkan senapan laras panjangnya menyapu ke kanan dan kiri membuat semua anak buah ayah arya mengangkat tangan mereka semua. Ya, mereka sadar tak akan menang sekalipun berkelahi kembali tetap saja mereka akan mati oleh penembak jitu di atas gedung.

Hei kamu jangan bergerak! Berlutut! teriak tugiyo dan udin yang mengarah pistolnya ke arah beberapa lelaki yang masih tersisa

Delapan orang telah menyerah kepada koplak, mereka semua berlutut dengan kedua tangan mereka berada dibelakang kepala masing-masing. Dengan sangat kasar dan buas, koplak mengikat mereka sesekali menjejak kepala mereka satu per satu.

Anton kemudian turun dari lantai 2 dan berlari ke arah dian, begitupula dengan dira. Didekat dian sudah ada wardani yang memangku kepala dian. Koplak yang lain tampak tak berani mendekati dian. Kondisi gedung kini sudah aman.

***

Aku berlari menyusuri jalan dijalur dua ini, sendiri tanpa satu pun koplak yang menemaniku. Aku yakin bisa menghentikan mereka. aku mengira mereka akan sedikit tertatih dengan kondisi mereka tetapi ternyata tidak, mereka berlari lebih cepat dari yang aku kira. Hingga aku berbelok tepat ketika di jalur utama untuk keluar gedung ini, kulihat mereka sedang berlari.

Bajingan berhenti! teriakku

Ayah dan om nico hanya menoleh dan tetap terus berlari menuju pintu keluar. Hingga akhirnya mereka dapat keluar dari gedung dan hilang dari hadapan mataku. Pintu itu masih terbuka terakhir aku melihat mereka dari dalam gedung ini, mereka berlari ke arah mobil mereka yang diparkir. Aku terus berlari mengejar mereka, pintu yang hendak tertutup dengan sendirinya ku tendang. Diluar gedung aku melihat mereka menaiki mobilnya.

Segera aku berlari kembali ke arah mereka yang sudah menyalakan mesin mobil. Ketika mobil itu berjalan aku kemudian melompat terbang. Tepat ketika mobil itu berjalan aku berhasil menarik kawat yang telah aku hubungkan dengan penyumbat pada lubang tangki bensin mobil itu.

ya, sebelum aku masuk aku melubangi tangki bensin mobil ayahku, aku sudah persiapkan semuanya sebelum berangkat ke gedung ini. mencoba mempelajari mobil yang dikendarai ayah dan letak tangki bensin mobilnya.

Aku melubangi tangki tersebut dan kemudian menyumbatnya. Sumbat kemudian aku hubungkan dengan sebuah kawat yang aku ikatkan pada sebuah paku dibelakang mobil. Kelemahannya hanya pada kawat tersebut, kawat terlalu pendek jika tidak aku pegang pasti tidak akan melepaskan penyumbat bensin tersebut.

Kawat yang aku tarik juga ikut menarik penyumbat karet hingga terlepas. Aku yang berada dibelakang mobil dalam kondisi tengkurap tersenyum. Aku berdiri melihat mobil yang mengalirkan bensin tersebut berjalan.

HEI! teriakku dengan senyum sembari mengeluarkan sebatang dunhill mild dan korek api

Mungkin aneh bagi mereka melihat orang yang mengejarnya berhenti mengejar. Mobil tersebut sempat berhenti dan tampak ayah mengacungkan jari tengah ke arahku.

this is my theater… ucapku lirih, setelah aku menyulut dunhill mild, aku dekatkan korek api itu ke arah bensin yang tercecer

Whugggg…. sebuah kobaran api langsung menyala dan berlari ke arah mobil ayah yang hendak kembali berjalan …

Wherever you will go, fire always love you ucapku sembari mengeluarkan asap melihat api yang semakin mendekat ke arah mobil itu

Mobil bergerak namun baru beberapa meter mobil tersebut berhenti. tampak dua pintu depan mobil terbuka, ayah dan om nico sudah berada diluar dan berusaha menjauhi mobil yang ditungganginya. Baru saja mereka berlari kurang lebih 5 meter dari mobil tapi sayang api terlalu mencintai mereka.

Avra ka davra… ucapku lirih dan …

DHUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAR …

Sebuah ledakan besar tak jauh dari hadapanku mungkin sekitar 15 meter dari tempatku berdiri. Dua tanganku menutupi wajahku, tubuhku sedikit terhempas kebelakang. Dari sela-sela kedua tanganku aku melihat bayangan dua orang terpental.

Satu orang terpental ke arah kanan dan seorang lagi terpental ke arah kiri. Mereka berdua terpental jauh, yang aku harapkan hanya satu mereka masih hidup. Beberapa saat setelah ledakan pertama masih terjadi ledakan kedua dan ketiga namun ledakan kedua dan ketiga hanya ledakan kecil dari mobil tersebut.

Walau tubuhku terhempas kebelakang aku masih bisa menjaga keseimbanganku. Aku buka kedua tanganku yang menutupi pandanganku ini, dengan sebatang dunhill mild masih terselip diantara kedua jari tangakan kiriku.

Aku melihat api itu tampak tersenyum, berkobar-kobar mencoba menggapai langit malam. Walau terangnya api ini tidak seterang mentari yang bersinar kala siang tapi cukup membuat sekitar tempat itu terlihat sangat jelas.

Panasnya lebih panas dari terik matahai di siang hari, karena api yang berkobar lebih dekat dari mentari. Aku langkahkan kakiku mendekati mobil itu, sebuah pintu depan mobil terlihat sudah tidak tergeletak tak jauh dari mobil tersebut.

ughh… tolonghhh….. sayup-sayup rintih seorang lelaki, aku mendengarnya, sedikit rasa iba tapi aku tak mempedulikan rasa iba itu.

Aku kemudian berjalan ke kiri mobil tak jauh dari mobil tersebut ku temukan seorang lelaki yang sering aku sebut sebagai om nico. Tampak dia mengaduh kesakitan tapi aku tidak mempedulikannya. Aku tarik kerah bagian belakang lehernya, kutarik dengan kasar.

Kuseret tubuhnya ke arah satu orang lagi yang sebelumnya aku lihat mencoba untuk bergerak. Dengan langkah sedikit berat sisi batinku merasa sedikit lebih senang malam ini. rasa senang karena telah mengakhiri perjalanan dari seorang maestro kejahatan di daerahku.

Berjalan melewat belakang mobil yang terbakar dengan rintihan minta tlong dari om nico. kebenaran adalah akhir dari sebuah kekejaman, tapi entahlah apakah yang aku lakukan ini benar atau salah.

Yang jelas aku hanya ingin mengakhiri perjalanan dari para maestro kejahatan ini. kulihat tubuh ayah yang mencoba menyeret tubuhnya dari tempat dia terjatuh. Aku menghempaskan tubuh om nico didekat tubu ayah. Suatu pemandangan yang aneh emang ketika aku melihat itu semua.

Dua orang lelaki yang kesehariannya hanya menebar ancaman kesana-kesini. Sekarang sedang tergolek lemas dan hancur dihadapanku.

Arya tolonghhhh ayah… ughh… ayo nak tolonghhh ayah nak… ucap ayahku

kenapa? kamu takut ya? tenang saja aku tidak akan membunuhmu… ucapku sembari melangkah dan mendekati mereka berdua

Tanganku masuk kedalam saku rompi yang aku pakai. Dengan posisi setengah berjongkok ditengah-tengah mereka, aku tersenyum.

Kalian bunuh KS, kepala pembantu di Rumah Eri, kalian juga kan yang membunuh kakek Tian… ucapku dengan pandangan penuh amarah

aghh… tolonglah nakhhh ayah khilaf… ucap ayahku

Khilaf? Itu juga kan yang kalian katakan kepada Ibu dan tante ima ketika kalian memperkosa mereka di hotel? Dan tanpa kalian sadari, salah satu dari kalian telah menghadirkan seorang lelaki yang menghentikan langkah kalian sekarang ini bukan? ucapku

erghh… dasar kamu bajingan! ucap ayah

bunuh saja kami! erghhh… ucap om nico

Ha ha ha ha ha biasanya kalian tertawa seperti itu kan? Kenapa sekarang menyerah pada kematian?

membunuh kalian ya? hmmm…. tidak, aku tidak ingin membunuh kalian… terlalu dini membunuh kalian sedangkan banyak yang kalian buat menderita hingga bertahun-tahun lamanya ucapku

apa maumu sebenarnya? Segera habisi kami! ucap ayah

Ayah… ayah… masih ingat ini? ucapku sambil memegang kalung berbandul giok dengan seekor kerbau didalamnya

Mata mereka berdua terkejut ketika melihat benda itu. ketakutan mereka terpancar dari wajah mereka yang dihiasi ileh karbon-karbon dan juga darah.

erghh.. itu… ucap ayah

ya, ini milik nenekku dan kakekku, kakek Wicaksono dan nenek mahesawati. Kalian pasti terkejut karena aku mendapatkan ini kan? Kalian tahu apa yang telah kalian perbuat kepada mereka? hingga mereka harus tinggal di gubuk tua tanpa ada yang merawat?

KALIAN HARUS MERASAKAN HAL YANG SAMA DAN HARUS LEBIH SAKIT LAGI DARI MEREKA! uacpku diakhiri dengan bentakan, air mataku mengalir dipipiku mengingat bagaimana kakek dan nenekku meninggal dipelukanku

kalian kan hiks yang membuat mereka menderita, ini belum seberapa dibandingkan apa yang mereka rasakan karena ulah kalian! ucapku

oh ya ayah… aku akan tetap memanggilmu ayah tenang saja, aku hanya ingin mengatakan satu hal. Di daerah ini hanya akan ada satu kerbau dan itu adalah aku! Ingat baik-baik! Ha ha ha ha…ucapku sambil tertawa

kalian membuat semua orang menderita ibu, tante ima, KS, mbak erlina, eri, rani, kakek, nenek dan dian.. ah dian… ucapku tiba-tiba teringat kembali dengan dian

Kalung yang aku genggam langsung aku pakai leherku, aku tarik baju mereka dan aku seret. Langkahku semakin cepat menuju ke dalam gedung, dian… aku mohon jangan sampai dia pergi. Dian, tunggu dian…

Argh… lepaskan kamihhh…. ucap ayah

bunuh saja kami… ucap om nico

DASAR BAJINGAN! KALIAN DIAM! bentakku

Semakin cepat langkahku ketika berada didalam gedung, ingin segera menemui dian. tapi jika mereka aku tinggalkan, bisa saja ada orang yang membawa mereka. aku harus cepat dan cepat. Jantungku berdebar, pikiran kacau tak kupedulikan rasa sakit yang mereka terima ketika aku menyeret mereka.

melewati jalur 2, hingga akhirnya aku berdiri melihat tante wardani memangku kepala dian. aku melihat seluruh koplak, tapi mereka menggelengkan kepala denga wajah ng sedih. Kulihat nenek dan tanteku juga sam memandangku dengan perasaan sedih.

Matanya tidak terbuka, kenapa? Jantungku berdetak dengan kencang. Kulempar tubuh om nico adn juga ayah kelantai. Aku segera berlari, air mataku teruurai. Koplak menyaksikan itu semua tampak terdiam.

Aku berlari dan mendekati tante wardani, dan langsung duduk bersimpuh dihadapan tante wardani. Kulihat matanya terpejam, aku menangis, air mataku semakin deras lebih deras dari air hujan badai. Tangan kananku meraih lehernya sedangkan tangan kananku meraih tubuhnya. Terlihat darah yang menempel pada tubuh itu. Kupeluk tubuh dian…

Ade… hiks hiks hiks bangun… bangun… maafkan mas dek hiks hiks hiks hiks..

AYO BANGUN!… hiks hiks hiks hiks… aku mohon bangun!

Jangan pergi hiks hiks hiks hiks hiks… aku mohon hiks hiks hiks jangan pergi hiks hiks…

bangun sayang… bangun… hiks hiks hiks… aku mencintaimu, aku mohon bangun hiks hiks… tangisku meledak

DIAN BANGUN! Hiks hiks hiks hiks… ucapku dengan kepala terbenam diantara leher dan pundak kanannya

Semua hening…

Tak ada suara sedikitpun…

Hanya tangisku yang terdengar masih menderu…

Dan semuanya telah…

iiih… cengeng! ucap dian

Aku terkejut… dan mengangkat wajahku…

Eh… ade… ade?! ucapku terkejut melihat wajah dian yang tersenyum kepadaku, aku pun tersenyum kepadanya

HA HA HA HA HA HA…. Woi ada preman cengeng! Ha ha ha ha ha teriak wongso diikuti tawa semua koplak yang ada didalam gedung, tapi aku tidak mempedulikannya

Apa?! ucapnya kembali, judesnya tetap saja tidak hilang dalam situasi seperti ini

mas kira ade… ah hiks hiks hiks ucapku dan kembali memeluknya

aduh mas, mas, aduh sakiiiit pelan… pundak kanan ade itu tadi yang kena peluru… ucapnya sambil tangan kirinya memukul pelan punggungku

Ade… sih…. hiks hiks hiks… ucapku, menganngkat wajahku dan memandang wajahnya

I Love you… ucapku lirih tepat di depan wajahnya

I Love you too… ucapnya

Wajahku semakin dekat, bibir kami bersentuhan dan …

E… e… e…. e….. main cium anak orang saja! ucap tante wardani yang kelihatan habis menangis

Eh tante, he he he…

mmm.. tan jadi, dian itu anak… ucapku dan tante wardani mengangguk. Terkejut aku mendengarnya walau sebenarnya aku sudah tahu sejak dian memasuki gedung ini. jelas aku terkejut mengingat aku pernah…

Auch…. aku mengaduh, tangan kiri dian masuk dan menari kuping kiriku. Matanya melotot tajam ke arahku

eh.. itu anu de, eh… aduh… ucapku mengingat aku pernah bersetubuh dengan ibunya

Ndak boleh lagi, awas! ucapnya pelan

Maaf… ucapku kembali menyentuhkan keningku ke keningnya

Arda, maafkan mama ya… mama tidak tahu… ucap tante wardani

heem ma, sekarang mama bisa kumpul lagi bareng papa kan? ucap dian, dan tante wardani mengangguk

Bugh…

Gila kamu benar-benar gila, aku jadi ikut nangis dasar sialan lu cat hiks hiks hiks… ucap dewo

romatis bener sih kamu cat, dasar kampret! ucap wongso

iiiih arya romantis bangeeeeeeet…. ucap sudira

niatnya mau ngerjain kamu, malah bikin orang nangis kamu, asu! (Anjing) ucap karyo

Aku tersenyum…

koplak, terima kasih… ucapku memandang semua koplak

celeng, gawe nangis… rokoke su! (babi hutan, buat nangis… rokoknya njing) ucap aris meminta rokok kepada anton

Kulihat semua koplak menitikan air mata…

Arya… panggil seorang wanita

Eh… iya nek… ucapku menengok ke arah nenek laila

sebentar… ucapku mengembalikan dian ke tante wardani, dian mengangguk pelan

Aku melangkah mendekati nenek laila dan nenek ifah yang memeluk mbak alya dan mbak alsa. Kudekati mereka berempat tepat ditengah-tengah nenek laila dan nenek ifah.

Apa kamu benar, arya anaknya mahesa? ucap nenek ifah

bukan… ucapku sambil tersenyum dan membuat mereka terkejut

aku arya, anak dari diah ayu pitaloka ucapku, mereka berdua kembali tersenyum dan memelukku

Arya… hiks terima kasih nak, kamu memang anak yang baik hiks hiks hiks terima kasih… ucap nenek laila

nenek senang kamu ada disini hiks hiks hiks ucap nenek ifah yang terisak

Kupeluk erat tubuh mereka berdua…

mbak alya, mbak alsa… panggilku kepada mereka berdua yang nampak masih asing denganku. Kulepaskan pelukanku dan menarik tangan mereka berdua

nanti beli es krim bareng-bareng lagi yuk… ucapku tersenyum, tiba-tiba saja air mata mereka keluar sangat deras. Mereka melompat memelukku, hingga aku jatuh kebelakang

dasar kamu cengeng! Hiks hiks hiks ucap mbak alsa

cengeng, cowok cengeng! ucap mbak alya

Ha ha ha ha… ternyata kita sama-sama cengeng ya mbak hiks hiks… ucapku

heem… terima kasih ar… ucap mbak alsa dan mbak alya bebarengan

iya mbak sama-sama… ucapku

Tak berlama-lama, koplak kemudian melepas semua pakaian dari anak buah ayah. Dipakaikannya ke nenek alya, nenek ifah, mbak alya dan mbak alsa. Kulihat dian duduk bersandar pada tante wardani, sesekali kami melempar senyum ketika aku dan koplak mengumpulkan para anak buah ayah dalam satu tempat.

Nenek dan tanteku juga duduk bersebelahan dengan tante wardani dan dian. Tampak ayah serta om nico tak bisa berdiri dan hanya bisa merintih kesakitan dengan tubuh hancurnya itu.

Aku bayar berapapun, lepaskan aku… ucap bandar 2

iya, kalian minta berapapun aku pasti.. ucap bandar 3 yang terhenti

Dhuar… dhuar….

Arghh….. teriak dua bandar

dasar bajingan! tuh makan uang kalian, kalau akyu sih ndak mau uang, mau kontol saja deh… ucap dira sambil berjalan melenggak lenggok bak seorang pragawati mendekati dian

ssst… mbak… mbak… nanti dira diajarin ya biar susunya tambah gedhe hi hi hi… ucap dira pelan tapi terdengar oleh kami

Dasar koplak! ucap koplak

lho sudah gedhe lho mbak masa mau lebih gedhe lagi… ucap nenek ifah

iiih nenek gitu deh, kan dira pengen lebih seksi lagi… ucap dira menyahut

yaelah nenek jangan percaya tuh sama mbaknya, itu mah luarnya aja yang mbak, dalamnya mas ha ha ha.. ucap dewo

iiih dewo nakal deh, nanti dira sedot baru tahu rasa… ucap dira menimpali dewo

iya ngeri banget… terdengar suara lirih dari gerombolan anak buah ayah

WOI BILANG APA KAMU! MAU MATI KAMU! ucap dira dengan suara cowoknya

Kami semua tertawa dan nenek beserta tanteku juga tersadar kalau dira bukanlah cewek. Satu persatu koplak duduk dan melempar sebungkus rokok. Ketika bungkus rokok itu dilempar kearahku, kulihat dian sejenak. Dia mengangguk dengan senyumannya, aku tersenyum dan kusulut sebatang dunhill mild.

Okay semuanya… dengarkan… ucap anton lantang

Kami semua menoleh ke arah anton…

Bersambung