Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 80

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 80 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 79

Akhirnya 7 orang ini bergerak dengan cepat dan hati-hati. Dengan langkah mengendap-endap, terlihat didepan mereka sebuah jalan bercabang. Terdengar suara dentuman dari gedung bagian satu semakin terdengar jelas da KERAS!. Tapi tanpa diduga ketika sudah dekat dengan jalan bercabang itu, tiba-tiba ada satu orang muncul.

siapa kalian! ucap lelaki tersebut

hei ada penyusup! ucap lelaki kemudian, tapi setelahnya dira berlari dan melompat menendang kepala lelaki tersebut hingga terjatuh tersungkur

8 orang kemudian berlari ke arah temannya yang ditendang oleh dira, beruntungnya bagi kelompok pada jalur 2 dan 1 ini dikarenakan suara dentuman keras dari gedung bagian 1. 8 orang tersebut datang diikuti oleh 7 orang dibelakang mereka.

2 orang lelaki mencoba menyerenga dira tapi dengan santainya dira, melorotkan penutup dadanya. Kedua laki-laki itu tercengang dengan kedua kepala merunduk melihat payudara indah dira.

Kedua tangan dira langsung memegang kepala mereka dan wajah mereka dihadiahi oleh lutut dira. Tapi tak disangka satu orang dibelakang memberi bogem mentah ke wajah dira. Wongso langsung maju dan memberikan pukulan dipelipis kiri lelaki tersebut hingga terjatuh.

Akhirnya terjadi perkelahian yang sedikitnya ramai, 4 orang dari lawan telah terjatuh. Tapi masih ada 12 orang lagi. Karyo langsug meraih salah satu tubuh dari lawa dan dibanting berulang-ulang hingga nyawa lelaki tersebut tidak bisa ditolong lagi.

1 gugur. Wongso mendapatkan tendangan setelah menendang orang yang memukul sudira. Arya muncul dan langsung menghajar orang tersebut, diikuti parjo yang melompati tubuh karyo setelah membanting dan menendang lawan yang akan menghujamkan pisau ke arah karyo.

Beberapa lawan juga menyerang joko dan hermawan, nampak sekali lawan-lawan mereka bukan ahli beladiri namun bisa berkelahi. Joko tertendang ke belakang dan menghantam ke tembok, sedangkan hermawan bisa menghindari tendangan dari seorang lelaki yang terbang.

Setelah berhasil menghindari lawan, hermawan maju dan memberikan pukulan telak pada lelaki yang ada didepannya hingga terjatuh. Lelaki yang sebelumnya melompat menendang hermawan akhirnya bisa memberikan sedikit rasa sakit pada punggung hermawan dengan pukulannya.

Joko yang sebelumnya terhantam ke tembok, langsung bangkit dan maju menghampiri lelaki yang menendangnya. Pukulan melayang ke arah joko namun joko menghindar dengan merunduk dan memberikan uppercut pada lelaki tersebut tepat didagunya. Setelah memberikan uppercut, Diambil sebuah belati dari perlengkapannya dan ditancapkan ke arah lelaki yang memukul hermawan dari belakang. 2 gugur.

Arya, setelah berhasil memukul terkena pukulan kayu dari seorang yang datang lagi hingga dia tubuhnya kehilangan keseimbangan tapi tak jatuh. Ditahanya tubuh arya oleh wongso, wongso kemudian bergerak maju dan memberikan sodokan pada alat kelamin lelaki tersebut hingga tubuhnya membungkuk memegang kemaluannya dan kayunya pun terjatuh. Kayu tersebut diraih oleh wongso, dan dipukulkan keras ke arah kepala lelaki tersebut hingga dara terciprat dari kepalanya. 3 gugur.

Lelaki yang sebelumnya di lutut oleh sudira, hendak memberikan tendangan ke arah sudira yang duduk bersimpuh dan menangis karena wajahnya terkena pukul tapi karyo dengan tubuh besarnya langsung bergerak dengan sedikit melompat menubruk dua orang tersebut.

Lelaki yang sebelumnya ditendang dira, bangkit dan hendak menyerang sudira juga tapi arya bergerak terlebih dahulu mengambil belati dari perlengkapannya dan ditusukan ke perut sebelah kiri lelaki tersebut. 4 gugur.

Joko kemudian berbalik lagi menghampiri lelaki yang baru saja mendapatkan upper cutnya, belum sempat berdiri joko menancapkan belatinya tepat pada perut bagian belakang dari lelaki tersebut. 5 gugur. Hermawan yang terpukul ada bagian punggungnya tersungkur kedepan dan langsung melancarkan bogem mentah pada lelaki yang baru saja dipukulnya sekaligus untuk menghindari pukulan dari lelaki lainnya lagi. Hermawan ikut jatuh diatas lelaki tersebut.

Sambil berguling diraihnya belati pada perlengkapannya dan ditusukan di dada lelaki yang baru saja (6 gugur) lalu kedua tangannya menyilang menangkis tendangan dari lelaki yang baru saja dihindari pukulannya.

Joko dengan cepat melihat pertahanan lelaki yang menendang hermawan terbuka, langsung di tusuk dengan belati yang baru saja membunuh seorang dari mereka. 7 gugur. Lelaki yang ditusuk joko terjatuh dengan lututnya muncul dua orang dari belakang melompat dan tepat mengenai dada joko.

Joko terdorong kebelakang dan untuk kedua kalinya terhantam ke tembok. Hermawan bangkit dan menarik belati, dua lelaki yang baru saja menendang joko tidak sadar akan keberadaan hermawan. Ditusuk satu orang lelaki, dan ditendang satu orang lagi ke arah joko. Tepat ketika lelaki yang ditendang ke arah joko maju, dan jleb… pisau sudah menusuk ke perut lelaki tersebut. 9 gugur.

Dua orang dibawah karyo, kepalanya dijambak dan dibentur-benturkan kelantai dengan sangat keras hingga darat keluar dari kepala mereka. 11 gugur. Wongso dengan kayu keras ditangannya melihat dua orang lelaki terbang ke arahnya, terlambat untuk menghindar ataupun menangkis wongso terkena tendangan mereka berdua hingga hampir terjatuh dan ditahan oleh arya. arya, yang tadi sudah menusuk satu orang mencabut belatinya dan menahan tubuh wongso.

Dilemparkan belati itu ke arah satu orang lelaki dan menancap pada leher lelaki. 12 gugur. Satu orang menendang wongso tampak kaget, wongso yang kemudian bergerak mengayunkan kayu keras itu ke arah kepala lelaki yang meendangnya barusan.

Dengan sigap lelaki tersebut menahannya dengan tangannya, tapi rasa sakit setelah menahan membuatnya membuka pertahanan. Diayunkan untuk ke dua kalinya kayu tersebut kekepala sang lelaki dan bugh… jatuh ke arah lelaki yang lehernya terkena belati arya.

arya maju dan di raihnya belatinya kembali dan ditusukannya beberapa kali ketubuh lelaki yang dihantam kayu oleh wongso. 13 gugur. 3 orang dibelakang melihat teman-temannya gugur, melangkah mundur dan berteriak minta tolong. Tapi apa mau dikata, suara dentuman musik terlalu keras dan tak ada satu pun yang mendengar.

Dhreb… dhreb… dhreb….

Tiga orang langsung terjatuh tanpa nyawa, pas 16 gugur. Semua orang menoleh kearas asal tembakan tersebut. Sudira.

tidak boleh ada yang menyentuh wajah dira, kecuali yayang eko hiks… eko maafin dira, wajah dira lebam huuuuu ucap dira sambil memegang pistol

mbak, dapat dari mana pistol? ucap arya

****** saja mereka, tahu ada musuh malah miih berantem. Tuh dari yang kamu tusuk tadi… ih sebel deh masa wajah dira jadi jelek? Kan sayang operasinya hiks ucap dira

hasyuuuuu (anjing)… nanti di permak lagi mbak yang cantik ucap karyo

iiih… mas karyo, makasih nanti dira kasih anus deh… ucap dira

gundulmu, kariati masih enak ketimbang kamu dir! ucap karyo

ssssssttt…. sudah… sudah, kita keposisi masing-masing ucap wongso

Siap! ucap mereka bersamaan

Kembali Ke arya

Benar-benar membahayakan malam ini, tapi aku lihat mereka sudah mulai terbiasa dengan istilah membunuh. Aku sendiri masih merasa jijik dan bersalah ketika harus melakukan ini semua. Tapi bajingan itu harus dihentikan.

Ar, ayo ke jalur 1 ucap wongso mengajakku

oke, kalian hati-hati ucapku kepada teman-teman

siap! ucap mereka berlima

Aku kemudian ke jalur 1 bersama wongso, kulihat ruangan disamping bagian satu tak ada kaca hanya sebuah kusen-kusen yang masih terpasang dan juga sebuah kusen pintu tanpa pintu yang terpasang. Ruangan tersebut berada agak sedikit naik dari lantai pada bagian satu. Dentuman keras suara musik menggelegar di tempat ini.

tampak sekali mereka sedang berpesta, tapi ada beberapa perempuan yang sedang menari erotis disana. Aku dan wongso mengendap-endap agar tidak terlihat dan setiap kali melewati kusen pintu kami selalu menunggu saat yang tepat.

Dan hap… yap… jap… akhirnya kami berdua bisa berada disebuah ruangan yang langsung lurus ke tempat kejadian perkara. Aku bersandar dibelakang tembok tepatnya tembok disamping pintu yang mengarah langsung ke lantai bagian satu, sedangkan wongso berada disampingku.

kalian sudah ada diposisi? ucap anton

sudah balas kami semua bersamaan

bagus, tunggu aba-aba ucap anton kembali

okay bro balas kami semua

Nafas kami bersatu dengan ketakutan kami, entah apa yang akan terjadi. Kegelisahan kami bersatu dengan dentuman musik yang keras, namun tiba-tiba suara musik kembali berhenti. kami semua terdiam, mengatur nafas kami sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh mereka. walau ebenarnya tidak mungkin mereka mendengar nafas kami.

Well.. well buat para kawan-kawanku, aku persembahkan mainan untuk kalian ucap om nico

wah… wah… secepatnya! ucap seorang lelaki yang menurut anton itu adalah bandar (bandar 1)

kayaknya ada yang bagus ini, aku mau yang hasil operasi saja kelihatanya bodinya bagus, ayo cepat keluarkan ucap bandar 2

aku yang masih muda saja, katanya ada 2 atau tiga. Okelah kalau begitu ucap bandar 3

ha ha ha ha… semua kebagian ucap ayah

ayo… cepat suruh mereka semua masuk, seret saja anjing-anjing itu! ha ha ha ha ucap ayah dengan suara sangat keras

cepat! Dasar lonte! teriak seorang lelaki yang tengah menyeret seorang perempuan

Aku dalam keadaan tidak mengintip apa yang terjadi, tapi hanya bersandar dan mendengarkan suara mereka. perlahan terdengar suara perempuan meminta ampun, seakan aku mengenal suara itu tapi entah kapan aku pernah mendengarnya.

Kucoba sedikit mengintip dari kusen pintu tersebut kulihat empat orang wanita yang dilempar dan jatuh bersimpuh didepan ayah dan…

itu kan… ah sial, aku tahu siapa dia tapi aku lupa, siapa dia sebenarnya… bathinku

Bathinku semakin berkcamuk melihat empat orang wanita, dua diantaranya aku mengenal mereka tapi dua orang wanita setengah baya itu, argh… entah siapa dia aku tidak pernah mengetahuinya tapi aku pernah melihatnya.

Wajah wanita setengah baya itu seakan membawaku kembali ke masa lalu tapi aku tidak ingat siapa mereka, wanita sangat ayu dan putih kulitnya. Dua orang wanita lagi kelihatanya dia seumuran denganku lebih tua sedikit, wajahnya ayu, muda dan dari wajahnya seakan aku pernah melihatnya.

Argh, siapa mereka berempat kenapa otakku tidak bisa mengingat terutama dua wanita setengah baya itu.

Ar… ucap anton

eh, ya… balasku

itu nenekmu, dua wanita itu adalah istri dari kakekmu, kakek tian. Pak media bercerita kepadaku dan aku juga sudah mencari biodatanya ucap anton

apa? Nenek?… bathinku, kucoba menengok lagi dan melihat kembali keempat perempuan itu, mereka semua mengenakan pakian ketat tanpa pakian dalam

itu nenek iya, itu istri dari kakek tian, sekarang aku ingat… nenek laila dan nenek ifah. Tapi kenapa… benar aku sekaran ingat pak media pernah bercerita kalau setelah kematian kakek tian, tak ada kabar dari mereka tapi siapa dua orang perempuan muda itu… bathinku, aku kembali bersandar

Ar, tenang jangan gegabah okay? ucap anton

eh iya nton… ucapku, tangan wongso kemudian menepuk pundakku pelan, aku menengok kearah wongso dan mengangguk

ibuuu hiks hiks aku takut bu… hiks…. ucap seorang perempuan

Aku terkejut ketika mendengar kata-kata perempuan itu. aku menengok kembali ke arah dan mengintip kembali. Seorang perempuan muda memeluk nenek laila dan seorang perempuan lagi memeluk nenek ifah. Sebuah memori kembali terulang, mataku mendelik tajam. Dimataku tergambar sebuah bayangan masa lalu.

nenek laila hiks mbak alsa jahat, es krimku di makan mbak alsa huuuu huuuu huuu… rengekku ketika aku masih kecil (dipanggil mbak bukan tante, karena umur yang sama itu sering terjadi di keluarga, ketika seorang keponakan memiliki om/tante yang seumuran)

iiih…. kamu cowok kok cengeng banget! ucap mbak alsa

sudah, alya kamu ndak boleh begitu dong ucap nenek laila

alsa, jangan dimarahin dong adik kamu itu. sudah jangan nangis nanti nenek belikan es krim lagi ucap nenek ifah

sudah… jangan nangis lagi arya, nanti kita akan makan es krim lagi semuanya okay ucap kakek tian

horeee… terima kasih kakek ucapku

yeee… dasar cengeng huuu… ucap mbak alya

bener, cowok kok cengeng weeeekkk ucap mbak alsa

yeee biarin, weeeeek… candaku saat itu

Tiba-tiba saja air mataku menetes jatuh dipipiku, tak mengira aku akan bertemu dengan mereka lagi setelah sekian lama tak berjumpa. Aku kembali lagi dan bersandar di tembok bersama wongso, wogso mencoba menenangkan aku.

itu tante-tanteku, anak dari kakek tian hiks ucapku di mikropon, yang didengar oleh semua koplak

eh… aku tidak mendapatkan data untuk itu, ar kamu jangan gegabah. Tenang ar… ucap anton

iya ton… ucapku

Hei mana yang dua lagi, seret saja! ucap om nico

lepaskan, dasar bajingan kamu! lepaskan! Dasar kalian bajingan semua! teriak seorang perempuan

Deg… deg…

ah… lepaskan dasar kalian semua bajingan! teriak seorang perempuan itu lagi

lepaskan dia, jangan sentuh dia ucap seorang wanita

aaaw…. teriak kesakitan seorang perempuan yang dihempaskan kelantai

Sedari awal aku mendengar suara wanita itu, hatiku berdetak sangat kencang. Sedari awal aku mendengar rintih kesakitan perempuan itu membuatku semakin tersayat. Aku kembali menengok ke arah mereka semua dan…

Nico, lepaskan Arda! teriak wanita itu, tante wardani

Plaaaaak…

diam dasar lonthe! teriak om nico yang menghempaskan tamparan ke pipi perempuan tersebut

Wardaaaaa! teriak tante wardani dan melepaskan pegangan seorang lelaki. Tante wardani berlari kemudian memeluk perempuan yang dia panggil Arda. Mataku terbelalak tak mungkin salah mata ini memandang, tak mungkin salah kalau hati ini berkata jika wanita itu adalah…

DIAN!

***

aku sudah datang, aku sudah menepati janjiku ucap seorang perempuan kepada seorang lelaki yang berada didalam sebuah rumah di perumahan SAE

kau datang sendiri? ucap lelaki tersebut

Ya, aku datang sendiri. kau bisa lihat sendiri kan? Orang-orangmu juga sudah memeriksa mobilku ucap perempuan tersebut

bagus, ha ha ha ha… ucap lelaki tersebut dan diakhiri dengan tawa yang sangat keras

sekarang tepati janjimu, lepaskan ibuku! bentak perempuan tersebut

Sejenak lelaki itu diam dan melihat perempuan yang berdiri tak jauh didepannya.

he he he Ha ha ha ha ha ha ha ha tawa lelaki itu semakin keras

melepaskan ibumu? Ha ha ha ha ucap lelaki tersebut dengan tawa yang keras membuat perempuan tersebut terkejut, sedikit rasa takut mulai menyelimuti udara disekitarnya

Hei ikat dia! teriak lelaki tersebut kepada anak buahnya, kedua anak buahnya langsung mendekati perempuan itu, dengan sangat kasar para anak buah lelaki tersebut memiting dan mengikat pergelangan tangan perempuan tersebut

LEPASKAN! DASAR KAMU BAJINGAN! KAMU INGKAR! teriak perempuan tersebut yang meronta mencoba melepaskan ikatan hingga dia jatuh duduk bersimpuh

Lelaki itu kemudian bangkit dari duduknya dan mendekati perempuan tersebut. Dengan sedikit berlutut lelaki tersebut memgang dagu perempuan yang berada dihadapannya. Dipandanganginya dengan senyum setan berada di bibirnya.

kamu semakin lama semakin cantik, sayang sekali kalau aku melepaskanmu ha ha ha ha ucap lelaki tersebut

cuih… dasar kamu bajingan ucap perempuan tersebut sembari meludahi wajah lelaki yang dihadapannya

Plak… sebuah tamparan mendarat di pipi, tiba-tiba seorang wanita berlari dari dbagian dalam rumah menghampiri perempuan tersebut.

ARDAAA! ucap wanita setengah baya tersebut dan memeluk perempuan yang aru saja ditampar oleh lelaki tersebut

Sembari membersihkan ludah di pipinya lelaki tersebut kembali duduk dan menyulut rokok dihdapan perempuan tersebut. Dipandanganginya kedua wanita dihadapan dengan senyum setan yang menawan.

melepaskan kalian ha ha ha ha aku tidak akan sebodoh itu arda…

atau perlu aku panggil Dian Rahmawati? Ha ha ha ha ha… ucap dan tawa lelaki tersebut

Nico, sudah lepaskan arda dia tidak ada kaitannya dengan semua ini. aku akan menuruti semua keinginanmu dan aku layani semuanya. Aku akan menjadi budak kalian, tapi aku mohon lepaskan arda hiks hiks hiks… ucap wanita setengah baya yang mendekap Arda atau yang dikenal dengan nama Dian

Hei wardani, aku tidak sebodoh itu. banyak sekali yang telah hilang karena gerombolan-gerombolan bajingan yang membunuh aspa dan tukang. Jadi kalian berdualah yang akan menjadi tema hari ini, ibu dan anak ha ha ha ha oh ya aku beritahu lagi, kalian juga punya teman tenang saja, mereka juga sama seperti kalian ibu dan anak yang montok…. dan lonthe! Ha ha ha ha ucap nico

dasar bajingan, semoga kalian semua akan mati secepatnya! teriak arda

Hei hei hei… kamu tidak boleh seperti itu sayang, kamu adalah anak papa yang paling cantik ha ha ha ha tidak rugi aku menikmati tubuh ibumu dan melahirkan kamu ha ha ha ha ucap dan tawa nico, dihadapan wardani dan arda.

kamu tahu untung saja kamu tidak tomboi, kamu mau mempercantik diri kamu. coba saja kalaukamu masih lusuh, ndak bakal ada yang mau sama lonthe kaya kamu, ndak bakal laku ha ha ha ha ucap dan tawa nico

maafkan mama sayang hiks hiks kamu tidak seharusnya berada disini, kamu seharusnya lari kehidupanmu masih panjang, maafkan ibumu nak hiks hiks hiks… ucap warda kepada anaknya warda nicolaswati (Dian) yang berada dalam pelukannya

Mama… mama ndak salah hiks hiks… Cuma mama yang aku punya, arda ndak bakal meninggalkan mama sendirian hiks hiks ucap arda kepada ibunya

maafkan ibu nak maafkan… hiks hiks hiks… ucap warda terisak sambil memeluk anaknya

ha ha ha ibu dan anak memang indah ha ha ha ha lonthe-lontheku ha ha ha, hei kalian semua juga akan menikmati tubuh ini, nanti malam kita akan bersenang-senang ha ha ha ha teriak nico dihadapan mereka, diikuti anak buahnya juga ikut tertawa

Dua orang wanita, ibu dan anak, sang ibu memeluk anaknya yang tangannya terikat dibelakang tubuhnya. Air arda, keluar dengan seribu penyesalan karena janji nico yang secara garis biologis adalah ayahnya telah diingkarinya. Maksud hati menyelamatkan ibunya namun yang terjadi malah sebaliknya dia dan ibunya menjadi tahanan.

maafkan aku, arya… hiks hiks hiks… mungkin setelah ini kamu akan melihatku dalam keadaan yang tidak kamu inginkan. Aku harap kamu akan menemukan wanita yang benar-benar bisa mendampingimu. Ini sudah keputusanku untuk menyerahkan diriku dan aku tidak tahu kalau semuanya akan berakhir bertambah buruk… sekali lagi maafkan aku, aku harap jika aku hidup dan kamu hidup kamu mau memaafkan aku walau kau tidak menginginkanku lagi… maafkan aku hiks hiks hiks… bathin arda

***

Ar… itu… ucap anton mencoba menyadarkanku dari lamunan akan kemarahanku terhadap dua bajingan yang telah menangkap dian, entah apa yang sebenarnya terjadi kenapa dian bisa berada disini.

Semua benang terikat dengan sendirinya, dan membuat sebuah rangkuman dalam perjalanan hidupku. Setiap kata-kata dian yang keluar saat itu membuatku tersadar akan keinginannya lari bersamaku membangun kehidupan bersamaku.

Ucapannya setiap kali diucapkan kepadaku membuat semua terlihat jelas bagaimana perasaan dia yang sebenarnya ingin selalu bersamaku. Dia tidak ingin aku berangkat ke tempat ini agar dia bisa lari bersamaku.

Tapi aku yang keras kepala tetap saja pergi, dan aku tidak tahu mengapa. Ah, aku teringat akan kata-kata tante wardani tentang anaknya bernama arda nicolaswati yang berganti nama. Tapi kenapa aku tidak pernah menyadarinya kalau dian adalah warda nicolaswati, wajahnya padahal mirip tetapi kenapa aku tidak bisa menyadarinya.

Bodoh, aku bodoh seandainya sedari awal aku menyadarinya mungkin aku bisa mengambil tante wardani terlebih dahulu agar dian bisa selamat. Bodoh, kenapa bisa seperti ini? nenek-nenekku dan tante-tanteku juga berada disana. Kenapa hidupku seperti ini? kenapa?!

Arya! ucap anton sedikit keras

ya ton… ucapku dengan suara sedikit parau yang kembali bersandar pada dinding, kulihat wongso sedikit bergerak ke depanku dan mengintip keadaan disana. Setelahnya dipandangi wajahku oleh wongso, malu rasanya ketika ada air mata di pipiku

keep calm, we can kill them all, okay, jadi aku mohon jangan gegabah… ucap anton

Ar, you sacrifice your life for me, dan aku akan melakukan hal yang sama hari ini, kamu tenang saja ucap wongso tersenyum kepadaku dengan kedua tangan memgang pundakku

bukan hanya wongso, aku juga ar… ucap dewo

jangan lupakan aku dan udin ucap tugiyo yang berada didepan gedung

good time and the bad, i will… ucap aris

iiih… bikin cemburu tuh cantiknya,harus aku bawa hidup-hidup biar di ajari jadi cantik sama mbaknya… ucap dira terdengar dari mikroponku

Aku, hermawan, joko, parjo cuma butuh aba-aba saja… we are bad family but bad for good, dan kita tidak akan meninggalkan satu orang pun… we walk together, no one in front or behind! ucap karyo

ill cover you all and stand with you, life or die! ucap anton

you hear that?! We with you… ucap wongso sambil mengucek-ngucek rambutku, sedikit tersenyum tapi tidak bisa menutupi keraguan dan kebingunganku

Wongso tetap berada didepanku, aku kemudian memutar tubuhku dan mulai kembali melihat keadaan. Kini wongso dibelakangku menyiapkan sebatang belati dan senjata mainan ketika kami masih SMA.

Entah apakah senjata mainan itu akan berguna atau tidak, tapi yang jelas aku dan koplak akan berusaha semaksimal mungkin. Kini mataku semakin pedih melihat apa yang ada dihadapanku…

hei hei, yang ini cantik sekali, aku mau yang ini… ucap bandar 1 kepada ayah dan nico

okay, silahkan kalau kamu mau. Bisa disini, bisa juga di bawa ha ha ha ini lonthe masih perawan… ucap nico

cuih… dian meludahi namun ludahnya tak sampai pada nico

wo wo wo… galak juga, pasti diranjang juga galak ha ha ha ha ucap ayah

nanti aku yang kedua tidak masalah tapi ada yang masih perawan lagi? ucap bandar 2

pilih saja, mereka berdua… masih perawan tapi yang itu sama itu sudah kadaluarsa tapi masih nikmat ha ha ha ucap ayah menunjuk mbak alya dan mbak alsa, dan kemudian menunjuk nenek laila dan ifah

bajingan kamu mahesa, lepaskan anakku, aku saja yang melayani mereka bentak nenek laila

kamu sudah kendor, yang masih rapet saja ada, kamu nanti hidangan penutup ha ha ha teriak dan tawa ayah

berarti masih ada sisa perawan satu lagi, oke aku yang satunya ha ha ha ucap bandar 3

baiklah aku akan memulai, tapi kelihatannya susunya gede, aku akan menikmatinya dihadapan kalian semua tapi kalau sudah main akan aku mainkan di sana saja ha ha ha ucap bandar 1 yang kemudian menunjuk ketempatku

Tanganku mengepal, gigiku seakan ingin mengunyah semua lelaki yang ada ditempat itu. Penjagaan memang sedikit longgar didalam sini, mungkin dikarenakan beberapa sudah tewas ditangan kami.

kurang lebih ada 28 orang, 18 dari 3 bandar dan ada 10 orang tambahan didalam sini. Berarti 5 orang berada diluar gedung adalah anak buah ayah, dan juga 2 orang yang berada didepan.

Jika ditotal dengan yang kami habisi sebelumnya adalah 23 orang tapi aku tidak tahu berapa yang berada diatas yang jelas anton, dewo, aris sudah menghabisinya. Argh, nafasku sedikit keras membuat semua udara masuk kedalam paru-paruku, bahkan bau bensin yang masih tercium di tangan dan tubuhku yang aku dapatkan sebelum masuk ke gedung ini.

bibirmu indah sayang, boleh aku menciumnya? ucap bandar 1 menggoda dian

aku tidak sudi menciummu juih… ucap dian

o… o… ow… tak apa tidak dapat bibirmu, tapi nanti aku pasti dapat bibirmu sayang. Terutama bibir bawahmu ha ha ha ha ucap dan tawa bandar satu, dengan mata semakin jelalatan melihat tubuh indah dian

ah… hmmm… susunya besar sekali, ukuran berapa ini? ha ha ha ha owh… mungkin ukuran susu kaleng paling besar ya ha ha ha ha ucap bandar 1 yang meraba-raba dihadapan semua orang didalam gedung

hmm… bagaimana ya rasanya? Nyam… nyam… ucap bandar 1 yang kemudian berjongkok dan dian mencoba mundur tapi rambutnya kemudian dijambak

mau kemana sayang? Mau lari? Lari kemana? Ha ha ha ha huh! ucap bandar 1 dan menarik kaos tipis yang dikenankan dian ke atas hingga terlihat BH yang dipakainya

Semuanya tutup mata, dira kamu yang melihat!, arya, we wait for you! ucap anton

Aku sedikit tertegun dengan sikap koplak yang memang benar-benar memgang erat persahabatan kami. aku sedikit menengok kebelakang dan kulihat wongso memejamkan matanya. Aku tidak menyangka bisa sejauh ini sikap koplak.

Aku kembali melihat mereka, dengan perlahan, tangan kirinya menarik ke bawah penutup BH yang menutupi susu dian bagian kiri sedang tangan kanannya masih menjambak rambut dian.

ha ha ha indah bukan? Barang bagus ini ha ha ha ucap bandar 1 dengan penuh tawa, kluihat ayah dan om nico tampak menelan ludah

sudah hentikan! Hentikan! Jangan sentuh anakku ucap tante wardani

diam! ucap ayah dan menendang pundak tante wardani

coba aku rasakan dulu ya, ha ha ha ucap bandar 1

Kepalanya menunduk ke arah susu dian, dian hanya menangis. Kepalanya mencoba menggeleng-geleng namun bandar satu sesekali menarik rambutnya dengan keras. Bibir itu mulai mendarat di susu dian, dan dengan pelan dia mulai memainkan puting dian dengan lidahnya. Disedotnya susu dian, Dian semakin menangis dan…

ehg… ahg… juh juh… ahg… apa ini ergh…. ucap bandar 1 terduduk dan melepaskan jambakan pada rambut dian

kalian mau meracuni kami ehg… ahg… ehg…. aghh aghhh egg… bandar 1 terkapar membuat semua orang ditempat itu terkejut tak terkecuali ayah dan nico

apa yang kalian lakukan dengannya, kalian mencoba meracuni kami hah! teriak bandar 2

kalian mencoba membunuh kami! teriak bandar 3

bukan kami tapi wanita ini, dasar bajingan… plak ucap om nico dan menampar dian hingga dian tubuhnya ambruk ke samping

kalian harusnya mati! Bunuh mereka saja! ucap bandar 2

hei cepat bunuh mereka kenapa kalian diam saja?! ucap bandar 3

ha ha ha… kalian bodoh, ha ha ha hei kalian semua ikat mereka ucap ayah dan kemudian anak buah dari bandar-bandar itu memiting tubuh kedua bandar itu

bajingan kalian, aku membayar kalian kenapa kalian malah menangkapku ucap bandar 3

kalian tahu, mereka akan menjadi bos-bos dicabang kami. jadi mereka akan menjadi kesatuan dengan kami dan kalian akan MATI! Ha ha ha ha ucap ayah

hei… nico kenapa lebih baik bunuh saja anakmu itu, bisa jadi tubuhnya juga beracun! ucap ayah kepada om nico

dasar! Plak… plak… plakkk… ucap om nico yang menjambak rambut dian dan ditamparnya berulang kali

bunuh saja aku, aku yakin kalian semua pasti akan hancur suatu saat nanti ucap dian dengan darah mengalir di bibirnya, sekali lagi tamparan mengarah ke pipi dian hingga dian ambruk kembali

lebih baik kamu mati saja! bentak om nico mengeluarkan pistol dan diarahkan ke dian

jangan hentikan! teriak wardani

hei ikat dia..

dan kamu anak durhaka, mati saja ka… ucap om nico

***

aku sudah tidak peduli dengan hidupku, aku harus menyelamatkannya ucapku dimikropon

lets go! ucap koplak

***

Bersambung