Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 79

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 79 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 78

Kulihat wanita itu sedang tertidur di sofa depan TV, aku mengambil selimut dari dalam kamar. kututupi tubuhnya dengan selimut. Kulihat wajah tenangnya ketika tertidur, wajah polosnya walau sedewasa ini dia belum begitu mengerti tentang seks.

Ya, wajar karena dian memang belum pernah melakukannya. Ku kecup keningnya lalu aku melangkah menuju dapur, membuat minuman hangat. Dengan hanya memakai kaos dan celana jeans, aku meminum teh hangat di pekarangan belakang rumah. Asap mulai bertebaran bersama kegelisahanku menuju hari esok.

“Kenapa tidak lari saja mas? Mas bisa lari tidak perlu, mengurusi ayah mas” ucap dian yang bersandar dipintu. Aku menoleh kearahnya.

“eh, ade kok bangun? Bobo saja…” ucapku mengalihkan pembicaraan

“maaas….” ucapnya dengan memandang mataku

“eh, maaf… tidak bisa… ada beberapa hal yang harus mas selesaikan. Mas janji akan menyelesaikannya dan kembali pada ade, untuk menepati janji mas ke ade” ucapku

“tapi, itu sangat berbahaya mas…” ucapnya

“aku harap kamu bisa mengerti tentang semua yang sudah mas ceritakan…” ucapku pelan

“iya aku mengerti, tapi apa tidak ada jalan lain selain mengorbankan diri sendiri?” ucapnya

“yan, kamu aku kan dari dulu… aku tidak pernah mau membiarkan hal buruk terus terjadi. Apakah kamu akan merasa bahagia jika ketika kita bersama tapi ada orang-orang yang masih menderita perasaanya, padahal….”

“padahal kita bisa menghentikannya…” ucapku pelan

“hessssssssssssh… terserah kamu ar, aku hanya mengikuti kamu. yang jelas aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk kepadamu, hanya itu saja” ucapnya disertai langkah meninggalkanku

Aku kemudian masuk kedalam, kuletakan gelas di meja dapur kemudian menuju ke kamar mandi. Kulihat dian memangku dagunya di sofa depan TV, kutinggalkan dia sejenak untuk ke kamar mandi. Sangat jelas, karena aku tahu dian tidak meyukai bau rokok.

Masih mengenakan jeans yang aku lipat bagian bawahnya hingga selutut, setelah bersih-bersih aku keluar dari kamar mandi. Dian berdiri disamping sofa sambil memandangku dengan mata berkca-kaca. Dian maju kearahku dan menarik tanganku.

Dian berjalan mundur hingga didepan sofa, aku ditariknya dan kemudian didorong hingga jatuh disofa. Dian kemudian duduk bersimpuh diatas pangkuanku. Ciuman mendarat dibibirku, tanganku ditariknya untuk meremas susu yang masih berbalut dengan tank-top.

Bibirnya melumatku tidak seperti biasanya, ini lebih dari yang biasanya. Lidahnya terlebih dahulu meyeruak masuk kedalam bibirku. Tanganku semakin meremas susu indahnya tersebut, aku terbawa nafsuku.

Ciuman kami berhenti ketika dian duduk tegak diatas pangkuanku. Tanganku masih meremas susunya, dian kemudian turun dengan senyum memandangku. Dibukanya kaosku dan hal yang aneh ketika itu melihat dian mencoba membuka celana jeansku.

Aku bisa melihat dian sebenarnya tidak terbawa nafsu namun yang kulihat entah berbeda dari sebelumnya. Aku cegah kedua tangannya untuk membuka, namun…

“sudah, jang…” ucapku terpotong ketika melihat mata itu

“jika kamu sayang aku, dan benar-benar mecintaiku biarkan aku melakukannya…” ucapnya dengan mata sedikit berkaca-kaca

Dian menarik celana jeansku dan melepasnya. Ditariknya pula celana dalamku, ketika dedek arya sudah keluar dan tegang tanpa menggunakan bantuan tangannya karena tangan dian masih sibuk melepas celana dalamku. Dian langsung mengulum dedek arya, terasa sangat ngilu dan sedikit sakit ketika giginya bersentuhan dengan kulit dedek arya.

“pelaaanhhh sayangghhh pelannnhhhh… erghhh….” ucapku

Kulumannya kemudian menjadi sangat lembut, masih terasa sakit ketika giginya bersentuhan dengan dedek arya. kepalanya maju mundur, aku hanya bisa membelai rambutnya. Kulihat matanya melihatku, kaca-kaca itu belum hilang namun aku tidak bisa mengehntikan keinginannya.

Semakin lama kuluman dian semakin lembut dan nikmat, lidahnya kadang menyapu bagian bawah dedek arya. kadang pula, dian melepas kulumannya dan menjilati kepala dedek arya. entah darimana dia bisa mengembangkan cara mengulum, ataukah dia mengingat semua yang pernah dia tonton dari Smartphone erna.

“ergh… adeeeegghh… emmmmhhh…. ufthh….” desahkuu sambil melihat kepala dian yang naik turun dibawah selangkanganku

Diawal kurasakan sedikit sakit, namun lama kelamaan, kuluman dian lebih nikmat dari yang pernah aku rasakan. Entah karena cinta atau apa, tapi yang jelas dialah yang terbaik. Membuatku terasa terbang dan membuat dedek arya semakin mengeras tegang. Dan …

“egh… egh… egh… egh… egh… egh… eggggghhhhh…” desahku ketika spermaku keluar dari dedek arya

Kuliha dian terdiam dengan sebagian batang dedek arya didalam mulutnya. terasa sedotannya kuat, ketika kepalanya mundur. Dan plup… dedek arya lepas dari mulutnya, bibrnya tertutup selang beberapa saat tenggorokannya bergerak.

“Ade telan?” ucapku, dia hanya megangguk dan kemudian melepas celana dalamnya. Dian kemudian berdiri diantara dedek arya, diarahkannya dedek arya kelubang vaginanya.

“Sayang, sudah… hentikan, ini terlalu berlebiha…” ucapku terpotong ketika jarinya menyilang di bibirku

“ini milikmu, jadi apa salahnya jika milikmu menjadi satu denganmu?” ucap dian, masih memegang dedek arya dan kepala dedek arya sudah tepat di depan vaginanya

“ta tapi, aku mohon…” ucapnya dan plak…

“kenapa dengan yang lain kamu bisa? Tapi denganku kamu tidak bisa? Kamu masih ingin bermain diluar sana kan hiks hiks hiks” ucapnya hingga terduduk dipangkuanku, dengan dedek arya tegang berdiri tepat didepan perutnya.

Tangannya memegang pundakku, matanya memandangku dengan air mata yang mengalir dipipinya. Kudekatkan wajahku ke wajahnya, kupeluk tubuhnya dan kucium bibirnya. Bibir kami bersatu kembali, kuangkat tubuhnya dan kurebahkan di sofa. aku terus menciumnya, tanganku bergreliya di susunya. kusentuh pahanya agar terbuka lebih lebar. Kusatukan keningku dengan keningnya.

“Tahan ya…” ucapku

“he’em… hiks…” ucapnya

Dengan satu tanganku meraba bagian vaginannya, ku arahkan dedek arya ke lubang vaginanya. Keningku masih bersatu dengan keningnya namun pandanganku mengarah ke bagian vagina dian.

“Pas..?” ucapku, kembali memandangnya. Dian menjawab dengan sedikit anggukan

Aku kemudian mendorong dedek arya, agar masuk secara perlahan. Kepala dedek arya kurasakan sudah memasuki pintu vagina dian. terasa sangat sakit dan ngilu, sangat sempit sekali dibandingkan dulu ketika dengan erlina dan ajeng.

Keningku masih bersatu dengannya, hanya pinggulku yang sekarang bergerak. Kulihat mata dian terpejam sangat rapat, air matanya tidak begitu mengalir dengan deras.

“tahan sayang… buka matamu sayang, lihatlah mas…” ucapku, dian kemudian membuka matanya

“aku mencintaimu… kamulh cintaku, dian…” ucapku sambil menempelkan hidungku ke hidungnya

“aku juga cinta kamu arya…” ucap, dahinya sedikit mengrenyit

Kurasakan dedek arya sedikit mudah masuk kedalam lagi, seiring dengan ucapan cinta diantara kami berdua (pengalaman : kalau bercinta dengan bumbu kata-kata cinta apalagi dengan pasangan, biasanya lebih maknyus). Terasa setengah batang dedek arya masuk dan tertahan oleh sesuatu di dalam vagina dian.

“pelan sayang… sakit…” ucapnya

“iya sayangku, aku mencintaimu” ucapku lirih sambil mengecup bibirnya

Kudorong lebih kuat lagi dedek arya agar masuk lebih kedalam lagi. Dinding tebal yang menghalangi dedek arya masuk, seakan sangat lentur mengikuti arah pergerakan dedek arya. Mata dian mulai terpejam dahinya mengrenyit. Ku tambahkan kekuatan dorongan pada pinggulku dan…

“Erghhh…..” mata dian kemuadian terbuka dengan teriakan yang tertahan

Blesss… masuk sudah tiga perempat dedek arya, dan kemudian aku tambahkan dorongan agar semua batangnya masuk. Kudiamkan sejenak didalam vagina dian.

“masih sakit…” ucapku dian mengangguk, air matanya mengalir diujung matanya

“punya ade sempit banget… punya mas ngilu…” ucapku

“hiks… ahhhh… slurpp… buat mas, semuanya buat mas… ade cinta mas…” ucapnya

“mas juga cinta ade…” ucapku sambil mencium bibirnya

Entah, tanpa mempertimbangkan rasa sakit dian. reflek seketika bibir kami berciuman pinggulku mulai memompa maju mundur. Terasa sekali vagina dian yang masih benar-benar baru dan dedek aryalah yang memakainya untuk pertama kali.

sempit, kesat, sedikit becek, jepitannya membuatku merasakan ngilu di dedek arya. aku bangkit dan memandang dian yang sedikit kesakitan, kuremas susunya dan kumainkan putingnya yang masih berbalut dengan tank-top.

“maaas… pelaaaan… masih sedikit sakit… erghh emmmhh…” ucapnya sambil memandangku

“Iya, sayang….” ucapku sambil melambatkan pompaanku

“masssshhh erghhh jangan duduk, pelllhuk ade….” ucapnya, aku kembali memeluknya dan mencium bibirnya

Kami berciuman kembali, pinggulku seakan tak bisa lagi menerima logikaku untuk memompa pelan. Pinggulku bergerak semakn cepat, dian tidak memprotesnya. Air matanya kembali berlinang, kedua tangannya memeluk leherku dengan erat. pompaanku semakin cepat, semakin ganas.

“mashhh… ade mau pipihhhhsss.. erghh….” ucapnya

“mas juga yanghhhh adeku, cintaku, sayangku oghhh… mas keluarkan diluar…” ucapku

“jangan didalam sajahhhh… adehh amannnhhh erghhh… terussshhh mas ade mau pipis bareng sama masshhh….” ucapnya

Aku semakin cepat memompa dan kulihat wajah dian semakin tidak karuan. Dahinya mengrenyit, dan…

Crooot… crooot… crooot… crooot… crooot… crooot… crooot…

Bersamaan dengan keluarnya spermaku, aku merasakan cairan hangat dari dalam vagina dian. kuelus rambutnya dan ku kecup keningnya. Kupeluk tubuhnya, kemudian aku menlumat kembali bibirnya. Sembari melumat bibirnya, aku usap air matanya. Kulepas ciumanku dan kupandang wajahnya. Dian tersenyum padaku, begitu pula aku membalas senyumnya.

“terima kasih sayang, aku mencintaimu…” ucapku

“semua untuk mas, ade cinta mas…” balasnya

Aku tarik dedek arya dari vagina dian, tampak dian sedikit mengaduh. Kulihat spermaku keluar dengan warna dominan merah, meleleh hingga jatuh kesofa bulu berrwarna putih ini. ketika hendak aku ambil celana dalamku untuk mengelapnya.

“jangan mas, tidur bersama ade di sini. Biarkan itu menjadi kenangan indah kita” ucapnya

“Eh…” aku terkejut dan kemudian tersenyum kepada dian

Aku masuk kedalam pelukan dian, dian berada di bagian dalam sofa sedangkan aku berada dipinggir sofa menghadap ke arahnya. Tak ada kata-kata selain mengutarakan isi hati kami, cinta, sayang dan lain sebagainya menghiasi malam ini hingga kami tertidur dalam lelapnya malam. Malam ini, malam dimana dian kehilangan keperawananya karenaku. Aku sangat mencintainya…

Keesokan harinya, ya hari ini, entah apakah ceritaku akan berlanjut atau berhenti. sejak pagi tak ada canda ataupun tawa diantara kami berdua. Dian, tidak sedikitpun dia melempar senyum kepadaku walaupun aku selalu mencoba tersenyum kepadanya.

Kabar dari anton datang, agar kami semua berkumpul lebih awal kurang lebih jam 1 siang. Tepat pukul 12 siang, Kupersiapkan semua yang aku butuhkan, dian hanya bersandar di pintu memandangku sejenak ketika berganti pakaian dan kemudian keluar lagi. Kulihat wajahnya yang tak begitu senang dengan apa yang akan aku lakukan. Setelah semua selesai, aku keluar dari kamar dian berdiri sedikit jauh didepan pintu kamar.

“a… aku pergi dulu…” ucapku, namun dian hanya memandangku dengan tatapan yang sangat datar. Aku mendekatinya tetapi dian membuang wajahnya.

“aku janji akan segera kembali lagi…” ucapku, seketika itu aku melihat air matanya mengalir tanpa suara isak tangis. Kucoba menghapus air matanya, tapi tangannya menepis tanganku

“tenang… aku pasti kembali…” ucapku kemudian melangkah menuju pintu rumah

Tiba-tiba saja, pakaian belakangku seperti ditarik. Kurasakan keningnya jatuh dipunggungku, kudengar sedikit isak tangis.

“aku mohon, kita bisa pergi bersama…” ucap dian

“tidak… aku harus ketempat itu…” ucapku

“kita bisa memulai kehidupan baru diluar sana…” ucapnya

“ada begitu banyak yang aku sayangi, aku tidak ingin mereka mati…” ucapku

“aku pun sama juga mempunyai orang-orang yang aku sayangi, tapi jika kamu mau pergi denganku… aku hanya ingin bersamamu…” ucapnya

“tapi aku tidak akan membiarkan semuanya hilang begitu saja” ucapku

“hiks… baiklah jika itu keputusanmu, maafkan aku, pergilah dan hati-hati…” ucapnya

“terima kasih…” balasku

Aku keluar dari pintu rumah tanpa dian menemaniku hingga keluar rumah. Ketika aku berjalan dengan REVIA, melewati depan rumah pun tak ada dian yang berada di sana. Tapi ucapannya sudah membuatku sedikit tenang. Aku percepat laju REVIA hingga di warung wongso, semua koplak telah berkumpul di rumah wongso.

“Okay, kaliah beristirahatlah dulu, menjelang jam 6 kita sudah harus sampai disana. Berarti kita berangkat dari sini jam 5 sore. Ini semua perlengkapan, sebelum kalian beristirahat aku akan menjelaskan semua perlengkapan itu. dan gunakan dengan baik-baik” ucap anton

———-

Disebuah perumahan ELITE, seorang wanita sedang berganti pakaian. Mengenakan tank-top kemudian di rangkapi dengan kaos dengan belahan dada sedikit terbuka sehingga memperlihatkan sedikit tank-top yang dipakainya. Celana jeans ketat dia pakai, sejenak dia melihat kedalam kamarnya.

“maafkan aku hiks hiks hiks… jika mas memilih untuk menyeleamtkan orang-orang yang kamu sayangi, aku juga akan memilih hal yang sama. Seandainya saja kamu mau pergi bersamaku, aku tidak akan mempedulikan semuanya karena sudah ada kamu” ucapnya memandang seisi kamarnya dengan air mata berlinang

Tangisnya pecah, sambil berjalan dia keluar dari dalam kamar. dilihatnya sofa bulu putih dengan bercak noda merah. Sempat tersenyum walau akhirnya tetap haru menangis kembali. Wanita tersebut kemudian keluar dari rumah, tepat didepan pintu rumah dia berbalik dan memandang pintu rumah.

“ini akan menjadi kenagan kita… seandainya saja kamu masih mau menerimaku, mungkin kita masih bisa bersama. dan seandainya saja kamu hilang, aku akan menyusulmu” ucapnya

Dengan mobil yang biasa dia kemudikan, wanita tersebut keluar dari rumahnya. Di injak pedal gas dan bergerak menuju kesuatu tempat, entah tempat apa itu. senyum ramahnya biasanya menghiasai semua bibirnya ketika melewati pos satpam, namun kali ini para penjaga perumahan itu tidak medapatkannya. Perjalanannya cukup dekat, namu ketika itu ada sebuah mobil sedan hitam menyalipnya.

Ciiiiiiiiitt….

Mobil tersebut menyilang dan berhenti tepat didepan mobil wanita tersebut. Membuatnya mengerem mendadak. Seketika itu ketika seseorang keluar dari pintu pengemudi mobil sedan. Mata wanita tersebut terkejut melihat yang keluar dari mobil.

—–

“Okay, jam lima kurang 15 menit. Semuanya bersiap!” teriak anton

“Siap!” teriak semua koplak

“ingat! Jangan berjalan beriringan! Ambil jalur lain….”

“and we meet in battle field!” ucap anton

——————————————————-

Malam datang, begitupula dengan dingin malam yang terbawa oleh angin malam. Layaknya seorang greliyawan, kami memakai semua peralatan komplit dari anton. Entah dimana koplak yang lain, yang jelas aku hanya bisa mendengar instruksi anton dari dalam mikropon.

Keberadaan anton pun tak ku ketahui, yang jelas dia berada dekat denganku. Koplak yang lain yang tidak berada satu lokasi denganku adalah tugiyo dan udin, mereka berada di lokasi depan gedung. Tak diketahui keberadaan mereka yang jelas, didepan geudng yang menjadi tempat pertemuan ini ada sebuah gedung tua yang dusah tidak dipakai lagi.

Ah, Berada di belakang gedung, memandang sesuatu yang membuat jenuh. Mungkin saat ini yangpaling enak adalah minum teh hangat ditambah dengan sulutan dunhill.

merokok dulu bro, ndak papa ucap anton dari dalam mikropon ke semua koplak yang sudah pada posisinya

dimana kamu? ucapku

dibelakang kalian, ditempat tinggi. Kalian dalam perlindunganku ucap anton

koyo kapten amerika kowe su! (seperti captain america kamu njing) ucap parjo

sudah tenang saja kalian, tunggu aba-aba dariku, kontol bro? ucap anton

tempiiik (siap-red) ucap kami kompak, jelas saja kami sudah merasakan tempik semua

iiih gatel deh… masa cewek cantik suruh masuk ke kebun ucap dira

cowok! teriak kami semua bersamaan

rese semua uh.. ucap dira

Waktu sudah menunjukan pukul 18:00, kami masih berada jauh dari gedung tersebut. Tapi kami belum melihat para Target kelihatan. Ada dua orang berjaga di pintu belakang gedung, terlihat mereka adalah dua orang yang menghajarku kemarin.

Sebuah tanah lapang didepan kami, tempat yang cocok untuk parkir mobil. Lebarnya hampir bisa untuk parkir 5 mobil sedangkan panjangnya? A, itu sebuah jalan yang memutari gedung. Seandainya ada mobil datang mereka tidak perlu memutar balik, tinggal lurus dan berbelok ke kanan mereka sudah bisa keluar dari gedung.

ingat, jangan bergerak sebelum aku memberi komando. Biarkan semua target masuk ke dalam gedung, setelahnya kita bisa masuk kedalam. Terlalu berbahaya jika sekarang kita masuk, bisa jadi target

roger! ucapkami semua

bro, di sini gelap bro… ngeri… kayaknya angker nih gedung ucap tugiyo

halah… setan kok takut setan ucap hermawan

sssst… ada bayi lagi bobo ucap karyo

wakakakakakaka… tawa kami bersama

Dari jam 6 sore hingga jam 8 malam, beberapa mobil berdatangan silih berganti. Yang pertama datang tepat pukul 19:00, mobil yang sudah pasti aku kenal mobil ayah dan om nico. Mereka berdua keluar dengan santainya dan berjalan menuju gedung.

Sesampainya di pejaga, ayah kemudian bercakap-cakap sebentar. Satu orang kemudian berlari ke depan gedung, entah apa yang terjadi di depan gedung sana. Setelah ayah dan om nico masuk, satu orang penjaga keluar dan memani satu orang yang ditinggal tadi.

ada mobil box masuk lewat pintu depan ucap udin

diterima, bisa kamu lihat sedang apa mobil box itu? ucap anton

tidak begitu kelihatan, mobil box itu masuk hingga ke dalam gedung ucap udin

oke… semua maju perlahan dan ingat jangan terlalu dekat, target belum semuanya datang ucap anton

Kami perlahan maju mendekat, tanpa sepengeahuan dari penjaga pintu belakang. Setelah pukul 19:00, ada 1 mobil datang lagi dengan dua mobil di belakangnya. Diikuti oleh dua mobil yang diikuti 4 mobil dibelakangnya.

kalian lihat, 3 mobil yang di jaga oleh 6 mobil ucap anton

ya.. ucapku

3 mobil terdepan adalah 3 bandar yang sudah banyak beroperasi, tetapi sulit untuk ditangkap. 6 mobil adalah penjaga mereka, setiap bandar memiliki 2 mobil penjaga. Jadi 1 orang bandar akan dijaga oleh 6 orang, 2 orang bersama si bandar dalam satu mobil. Paham? ucap anton

paham sih paham, tapi buat apa menjelaskannya ucap aris

buat menghitung lawan koplak! ucap anton

nesu… (marah) ucap aris

dasar koplak ucap anton, kami tertawa tertahan mendengar percakapan mereka berdua

Pukul 20:00 waktu setempat. Semua orag telah masuk hanya meninggalkan penjaga dibelakang gedung.

Dir, maju… ucap anton

iya sayang… ucap dira

Kami semua melihat ke arah dira, dengan gaya lari tergopoh-gopohnya menuju kearah para penjaga pintu. Melihat dira berlari, dua orang tsebut nampak bersiap-siap mengeluarkan senjata. Namun kemudian terdengar sebuah percakapan yang terdengar dari mikropon dira.

tolong mas, saya dikejar-kejar satpol PP ucap dira

oh… ya ya ya… ucap lelaki 1 sambil melihat ke arah lelaki 2

sudah, mbaknya tenang saja disini ya. nanti biar kita yanng tangani ucap lelaki 2, tampak lelaki 1 memainkan Smartphonenya.

tolongin dong mas, aku dia upmetin gitu nanti kalau ketangkep ndak bisa ngobyek akunya ucap dira

iya mbak, tenang kalau nanti satpol PP-nya sampai sini. Kita akan jelaskan kepada mereka ucap lelaki 2

Tiba-tiba pemandangan menjadi mencekam, lelaki 2 menarik kedua tangan dira kebelakang. Lelaki 1
Mengambil sebuah pistol dan mengarahkannya tepat ke kening dira. Dan munculah seorang lelaki lagi yang sudah tidak asing lagi.

nton bagaimana ini? dira tertangkap! ucap wongso

kalian tenang saja, dira bukan sembarang cewek, ingat itu. jika memang terjadi hal yang buruk, segera menyerang. Ambush! ucap anton. Kami hanya menunggu dira.

(percakapan yang terdengar dari di mikropon dira)

ini yang kemarin membuatku loyo, bunuh saja dia ucap lelaki 3 yang ternyata adalah korban dira ketika kami menggerebek rumah aspal. Tapi kenapa dia bisa lepas?

lebih baik kita pakai dulu, lumayan kan ada cewek kaya gini ucap lelaki 2

iya nih bodi sintal juga ucap lelaki 1

******, bisa saja dia membawa teman! ucap lelaki 3 yang berdiri disamping lelaki 1

benar juga ya? ucap lelaki 1 dan melihat kesekeliling

tapi dimana mereka, kita harus hati. Lha terus ini cewek mau diapain? ucap lelaki 2

Tiba-tiba saja wongso bergerak maju dan menimbulkan bunyi kresek-kresek tepat ketika lelaki 1 menoleh, menyapu sekeliling perkebunan yang rimbun ini mengamati yang terjadi. Aku tahan tubuh wongso yang bersamaku ini, Tiba-tiba saja dira menendang tangan lelaki satu yang memegang pistol.

Pistol kemudian terlempar kearah perkebunan. Dengan sedikit melompat kebelakang dengan sandaran lelaki 2, dira menendang wajah lelaki 3. Tangan dira masih dipegang oleh lelaki 2, setelah menendang jatuh lelaki 3.

Kepala dira dipukulkannya kewajah lelaki 2. Lelaki 2 mengaduh dan terlepas tangan dira, dira kemudian memutar tubuhnya melancarkan sebuah tendangan yang mendorong lelaki 2 hingga jatuh tersungkur. Sedikit merunduk dira maju, dan memberikan upper cut ke lelaki 1 hingga terjungkal. Tapi…

mati kau… ucap lelaki 3 yang menodongkan pistol, ke arah dira. Dira sudah tersudut dan tak bisa melakukan pergerakan lagi

Deg… deg… deg…

Relax… this is my job ucap anton

Jleb… lelaki 3 langsung jatuh. Tepat sebuah tembakan mengenai jidat lelaki.

Bro… TOL… ucap lelaki 1 yang mendekati lelaki 3

Berani berteriak kalian mati! ucap dira yang menodongkan dua buah pistol kearah lelaki 1 dan 2. kedua lelaki tersebut sudah tidak bisa bergerak lagi, hanya mampu melihat moncong pistol dira.

semuanya maju… ucap anton

serahkan pistol kamu ucap dira kepada lelaki 2, terdengar suara dira dari mikropon ketika kami mendekat

wong, ambil pistolnya ucap dira dengan nada lelakinya

oke bos ucap wongso

darimana kamu dapat pistol ucap dewo

Ceklek…

ini korek api mas bro… ucap dira

ikat mereka, bius atau bunuh saja mereka. lelaki yang aku tembak tadi buang mayatnya ke kebun ucap anton. Aku dengan dewo kemudian menyeret tubuh lelaki itu dan kubuang ke kebun.

ada satu pintu disamping gedung, kalian harus lumpuhkan mereka dulu setelahnya masuk ke dalam. Cepat segera ke arah samping kegedung, pandanganku terhalang dari sini ucap anton namun kami masih sibuk mengikat kedua orang ini setelah anton memberi instruksi.

BODOH! Segera kesamping gedung, kalau nanti ada yang datang ucap anton bertersiak di mikropon

eh, iya… ucap dewo yang kemudian berlari namun…

HEH SIAPA KALIAN! ucap dua orang bersamaan. Mereka terlihat setangah berlari, langsung mereka mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke kami

waduuuh… matilah kita… ucap wongso

Jleb… jleb… dua orang tersebut langsung jatuh tersungkur tak bernyawa…

tenan to su! Makane yen diandani iku manut su! (benar kan njing! Makanya kalau diberitahu itu nurut njing) ucap anton marah

ndes, anton nesu (ndes, anton marah) ucap aris

Tiba-tiba keluar seorang dari kebun yang rimbun itu, tidak lain adalah anton. Dengan menenteng sebuah senapan laras panjang, eh… itu adalah alat tembak para penembak jitu. Dengan dunhill dimulutnya dian mendekati kami semua.

ssst… kemari kalian ucap anton, Kami kemudian jongkok memutar. Setelah kedua lelaki penjaga kami ikat dengan kuat, dan dua mayat lagi sudah kami buang ke kebun.

kita sudah berada dibelakang gedung, aku akan mejelaskan sedikit mengenai gedung ini. Aku pertegas lagi, jika aku bilang kiri, kanan, depan, belakang adalah kiri, kanan, depan, belakang kalian ketika memasuki gedung dari belakang, okay paham? kami semua mengangguk

ingat, gedung ini terdiri dari dua bagian. Dengan 2 tingkat hanya pada bagian belakang gedung. Bagian belakang adalah ruangan dengan dua lantai dan itu yang akan kita masuki. Sedangkan bagian depan adalah ruangan sangat luas tanpa tingkat. Pada bagian depan terdapat ruangan berderet disamping kiri jelas anton

sssst… siksa mereka agar menunjukan dimana letak pertemuan ucap anton kepada dewo

Dewo kemudian dengan kasar, mencekik leher lelaki yang sudah dibuka penutup mulutnya. dengan sangat ketakutan lelaki itu mengatakan letak pertemuan besar. Dan…

Okay, sipz…. ikat dia kembali ucap anton, setelah mengikat dewo kembali ke kerumunan

aku lanjutkan… Bagian belakang, terdapat tiga jalur. Jalur 1 menuju ke samping kiri (ruangan berderet) pada bagian depan gedung ini. Jalur 2, ini adalah tempat tepat berada di belakang bagian depan, jadi yang akan ditugaskan menuju jalur dua harus membantu yang menuju jalur satu membereskan para bajingan. Dan jalulr 3 adalah jalur menuju tingkat atas

dan… apapun yang terjadi, frontman kita tetap dira ucap anton, dan membuat kami menengok kearah sudira

terserah, aku cewek kalau disebut cowok, ogah, aku mau narik dipinggir jalan sajahhhh ucap dira berdiri sambil menata rambutnya

tolong dong mbak dira, pleaaaaaaaaaaaaaaase… ucap kami pelan tapi kompak

gitchu dong, iya sayang nanti mbak tangani, ni mbak masuk dulu kan? ucap dira

iya mbak… ucap anton dengan wajah cengengesan walau agak geli sendiri kami

kawan semuanya… arya, wongso bagian depan kiri ucap anton

siap! ucapku dan wongso

Dewo, Aris denganku lantai 2 ucap anton kembali

Inggih ndan! ucap dewo dan aris bersamaan

Karyo, joko, parjo, Hermawan… kalian amankan jalur 2 agar arya dan wongso ke jalur 1 ucap anton

siap ndan! ucap mereka berempat kompak

din, yo, bagaimana didepan? ucap anton

beres! Kami sudah dipintu masuk, dua orang lumpuh tapi… eeee…. mati bro, gak papa ya? ucap
Tugiyo

sing mateni udin (yang membunuh udin) ucap tugiyo tedengar dari mikropon kecil di telingaku

gundulmu, kamu juga ngebnuh satu ucap udin

sudah, kalian jangan bertengkar. Yang penting jaga pintu depan. Ketika ada aba-aba dari aku, kalian langsung masuk, okay? ucap anton

Sebentar… ucapku yang kemudian berdiri dan menuju ke mobil ayahku

hei mau kemana?! ucap anton

sudah sebentar! ucapku

Selang beberapa saat kemudian…

jaga-jaga? ucap anton

kalau kita semua sekarat, aku masih bisa membuat dia mati kan? ucapku

terserah kamu, itu urusan keluargamu… ucap anton

Semuanya… masuk…! ucap anton

Karena anton yang membawa senjata, maka dia yang berada didepan pintu sedangkan kami semua berada di samping pintu masuk. Anton masuk dengan mngacungkan pistol kecil dengan peredam mungkin tapi entah itu jenis apa, maklum saja aku tidak pernah tahu mengenai jenis-jenis senjata.

Anton kemudian memberi aba-aba kepada kami untuk masuk semua, tepat sekitar 3 meter dari pintu masuk ada sebuah tangga naik keatas. Terdengar musik yang sangat keras dari bagian 1 gedung.

Dewo, aris… ikut aku ke atas, kalian berenam dan juga dira ke jalur 2 dan 1. Jalan arah lurus kedepan, lihat didepan sana ada mengarah ke kanan setelahnya akan ada belokan kekiri. Tepat ketika kalian belok kekiri didepan kalian jalan akan bercabang.

Ke kanan adalah jalur 2, kekiri adalah jalur 1. Dan ingat, kerja sama! mereka sudah tahu mengenai dira, front women memang dira tapi tidak melulu dira,okay? Dan….

jangan rame, nanti kita dibawa ke ruang BK lagi ingat! ucap anton sedikit ada canda mengingatkan kami mengenai masa SMA kami, kami hanya mengacungkan jempol saja dan beberapa saat kemudian anton, dewo dan aris menghilang naik ke atas lantai 2

Anton, Dewo,Aris
bro, aku dulu yang naik ucap anton

Okey… kalau kamu mati ntar aku pinjam pistolnya ya? ucap dewo

buat apa njing? ucap aris

ya paling tidak aku mati dengan bawa pistol, biar keren gitu ucap dewo

asu! (Anjing) ucap anton

Anton maju kedepan menaiki tangga dengan gaya yang memang benar-benar seperti seorang agen terpercaya. sebuah pistol dengan peredam dan sebuah senapan laras panjang berada di bagian punggungnya. Anton, Menaiki tangga diikuti oleh dewo dan aris dari belakang yang selalu bersiap ketika ada sebuah pertarungan didepan. Tepat disebuah pintu anton kemudian menyuruh dewo dan aris menyandarkan tubuhnya disamping pintu. Anton tepat berada didepan pintu.

sssttt… ingat setelah aku dobrak pintu tunggu aba-aba dariku, okay? ucap anton dan dewo dan aris hanya mengangguk

dan ingat jangan terlalu banyak suara ucap anton sekali lagi

Tok… tok…

Kleeeeeek…

Dherb… (suara pistol yang diberi peredam), satu orang yang membuka pintu tepat didepan anton langsung terkapar ketika keningnya terkena tembakan. Pintu kemudian terbuka sangat lebar.

Hah?! Siapa kam… ucap lelaki berikutnya tidak sempat menyelesaikan ucapannya, dan dhreb… suara tembakan dari anton kembali terdengar membuat lelaki itu terjatuh.

Anton kemudian langsung maju, tapi tanpa disangka sebuah tendangan ke tangan anton. Pistol terjatuh dan tendangan ke dua langsung menghampiri kepala anton. Anton jatuh kesamping setelah memasuki ruangan, ketika lelaki yang menendang hendak menginjak kepalanya.

Sebuah pisau belati melayang dan menancap di lehernya membuat lelaki itu jatuh, ya aris masuk dan melamparkan sebuah belati. Situasi semakin panas, seorang lelaki mencoba mengeluarkan pistol dari pinggang belakangnya.

Namun dewo terlebih dahulu melempar belatinya dan tepat mengenai sasaran di leher lelaki tersebut. Anton yang bangkit kemudian langsung menubruk seorang lelaki yang mencoba mengeluarkan pistol, aris berlari dan menendang seorang lelaki yang tampak sedikit kebingungan dengan keadaan yang terjadi.

Seorang lelaki dengan tubuh tinggi besar mengacungkan pistol ke arah anton, kemudian dengan sigap dewo melakukan sliding tekel plus hantaman pada kelamin lelaki tersebut hingga pistolnya jatuh entah kemana.

Lelaki yang ditendagng aris terjatuh, lelaki tersebut bangkit dan meraih sebuah botol congyang. Dihantamkannya ke aris namun aris dapat menangkisnya dengan tangannya hingga botol itu terpecah. Aris melancarkan sebuah tendangan ke perut lelaki tersebut hingga lelaki tersebut terjatuh ke lantai untuk kedua kalinya dan botol pecah yang digenggamnya jatuh. Lelaki itu kemudian berdiri menghadap ke aris, dan…

Taichi… sial aku tidak pernah menghadapi seni beladiri ini, sial! bathin aris

Perkelahian kembali berlanjut, gerakan lambat dari lelaki tersebut dan juga bisa menghidari semua serangan aris dengan tenang. Setiap pukulan aris bisa dihindari, bahkan sebuah serangan balik ke arah pertahanan aris yang terbuka membuat aris terjatuh. Aris berdiri kembali dan berdiri di atas kuda-kudanya.

tenang, lambat, waspada, dan counter attack… sial! Sulit sekali masuk ke dalam pertahananya bathin aris

Kembali aris mencoba melancarkan pukulannya dengan sigap si lelaki tersebut meraih tangan aris dan membanting aris. Bahkan cap sepatu jatuh diwajah aris, dipukulnya kaki lelaki tersebut hingga lelaki tersebut mundur. Aris kembali berdiri, mencoba memikirkan serangan ke arah lelaki tersebut.

catenaccio…. hmmm… total Football, masa bodoh dengan pertahanan, pasti ada titik lemah dari cara bertahannya bathin aris

Sekali lagi aris, menyerang membabi buta. Sekalipun terjatuh aris langsung bangkit dan melancarkan serangan kembali, beberapa kali tangan aris bisa diraih oleh si lelaki tersebut dan tubuhnya terkena hantaman keras dari si lelaki. Walaupun hantaman terus bersarang di tubuhnya, aris tetap menyerang an terus menyerang.

Bahkan setiap pukulan yang dilancarkannya sudah keluar dari teknik beladirinya. Setiap serangan yang dilancarkan aris membuat lelaki tersebut mundur kebelakang. Mundur, mundur dan mundur hingga si lelaki tersebut tidak memperhatikan langkahnya.

Kakinya sedikit terpeleset, pertahananya terbuka dan satu pukulan aris bisa masuk TELAK! ke wajahnya lelaki tersebut. Lelaki tersebut jatuh dan matanya terbelalak ke atas… tak bangkit lagi. Aris tampak sekali ngos-ngosan, heran akan lawannya tak bangun lagi didekatinya lawan tersebut.

Botol makan tuan… ucap aris dan duduk disebelah mayat lelaki tersebut

Anton, yang sebelumnya menubruk tubuh seorang lelaki mendapat hantaman sikut pada punggungnya. Anton langsung melepas pelukan dari tubuh lelaki tersebut, dengan sedikit pukulan ke wajah lelaki tersebut.

Kini, 2 orang telah berdiri saling berhadapan. Mereka tampak sangat berhati-hati dalam mengambil langkah. Anton tampak lebih tenang daripada lelaki tersebut, si lelaki kemudian melancarkan sebuah pukulan, dengan teknik beladirinya anton dapat menangkis serangan.

Tapi tak disangka, ketika serangan dari lelaki itu dapat ditangkis tubuh anton diraihnya dan dibanting oleh lelaki tersebut.

Judo… sama berarti, tinggal mana yang lebih kuat bathin anton ketika berdiri

Dan yup, di awal anton dan lelaki tersebut tidak memperlihatkan bahwa mereka menguasai judo. Tapi sekarang, dari kuda-kuda mereka sudah terlihat dua ahli beladiri judo akan menentukan siapa yang paling ahli. Kedua lelaki ini kembali ke medan pertempuran, masing-masing dari mereka mengeluarkan teknik yang sama.

Saling membanting, tapi setiap kali dari mereka mencoba mengunci pergerakan lawan mereka tampak sekali mereka bisamenghindar.

Sial, kalau begini terlalu lama bathin anton

Anton kembali menyerang lelaki tersebut, begitu pula dengan si lelaki. Hingga akhirnya, anton dapat mengunci lelaki tersebut walau harus melarang aturan dari seni beladirinya. Dengan gerak yang cepat, anton dapat mengunci leher lawan. Dan klek… lelaki itu sudah tidak bernyawa.

Dewo, menghadapi lelaki bertubuh besar sama dengan dirinya bahkan bisa di bilang memiliki berat badan yang sama. Sama-sama menyerang tanpa mempedulikan pertahanan mereka masing-masing, setiap pukulan bersarang di wajah mereka.

cuih… kuat juga dia ternyata, kalau begini caranya pakai cara karyo saja bathin dewo

Dewo kini mengendurkan serangan menunggu dari si lawan untuk menyerang. Tepat ketika si lawan melancarkan pukulan tangan kanannya, dewo merunduk dan bergerak kesamping tapi masih dalam posisi menghadap ke lawannya.

Dewo kemudian meraih tubuh lelaki tersebut, dipeluknya erat tepat dibelakang si lawan. Dengan sekuat tenaga dewo melakukan bantingan kebelakang ala pegulat.

Brughhh….. lawan yang tidak siap, kepalanya pada posisi tegak sehingga ketika kepalanya menyentuh lantai lehernya tidak dalam posisi menekuk. Sesaat itu hantaman keras kepala dan lantai menjadi satu membuat nyawa lelaki tersebut melayang.

Hai… ada yang punya rokok ucap aris, anton kemudian melempar sebungkus dunhill

ris… ucap dewo dan langsung aris melempar bungkus itu

kamu itu anjing tenan ton, katanya ndobrak malah mertamu (bertamu) ucap aris, dan hanya di senyumi oleh anton

Arya, Wongso, Karyo, Parjo, Hermawan, Joko, Dira
Ditikungan pertama, mereka bersandar pada tembok…

bagaimana ini? ucap wongso yang berada didepan

aku juga bingung ucap arya

sudah-sudah minggir semua… ucap dira, yang dengan santai melangkah maju dengan santai

ndak ada apa-apa kok ya pada bingung, sini sayang jalan sama akyu ucap dira, membuat semua bergetar jantungnya

sial, ini waria ndak takut mati apa? ucap karyo

alah, pikir nanti saja itu ucap parjo menarik karyo untuk maju

hati-hati dir, masih ada tikungan ke kiri dan nanti baru ada cabang ucap arya

Bersambung