Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 78

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 78 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 77

Kini kehidupanku bersama dian, wanita yang selama ini aku cari. Pagi menjelang, semuanya tampak indah, semuanya sudah tersedia hampir sama ketika aku berada dirumah. ketika makan bersama adalah momen yang indah bagiku dan juga memakan waktu yang lama, karena aku harus menyuapinya.

Hari ini dian berangkat ke kampus dan aku berada dirumah. Menjadi seorang pengangguran dengan kekasih yang bekerja, enak kan? Iya enak sekarang tapi kalau terus begini, pasti didepak aku sama dian. emang nasi bisa dibeli dengan cinta, aku tetap dengan logikaku.

Untuk saat ini aku menjalaninya dengan rasa sedikit sungkan karena semua kebutuhanku dicukupi oleh dian. uang saku? Hanya dari ibu dan itu pun ada di ATM, sedangkan uang hasil curian yang aku curi dari ayah masih ditempat yang aman.

Welcome to wherever you are this is your life (Bon Jovi). Ringtone. Anton

halo nton

bro, kabar buruk

heh, ada apa nton?

kemarin wanita yang bersama ayahmu, ternyata setelah aku tanyakan kembali ke anggotaku. Dia adalah ibumu

hah? (bukankah ibu seharusnya sudah berangkat liburan)

be benar itu ton?

iya, sebaiknya kamu hubungi ibu kamu dulu

okay

Segera aku tutup telepon dari anton, kulihat jam dinding menertawakanku semakin keras. Pukul 10.00 WIB, ah kenapa baru sekarang anton memberitahukan kepadaku. Kutelepon ibu namun hanya suara tut tut tut yang terdengar, tak ada jawaban.

Aku semakin gelisah dengan keadaan ini, apalagi aku belum tahu maksud ibu kembali kerumah. Mungkinkah ayah akan menggunakan ibu sebagai pengganti rani da eri yang telah menghilang?

ah, kenapa aku malah membuat posisi ibu semakin sulit seperti ini? bagaimana ini? kemana ayah membawa ibu pergi? Aku tidak tahu, aku harus keluar, harus mencarinya. Segera aku bangkit dan masuk kedalam kamar ku ganti baju dan…

Centung. BBM masuk.

From : Ibu tercinta
Sssst… teleponnya nanti saja ya
Jangan balas!
Pokoknya tunggu kabar ibu :*

Dari ibu, dan membuatku semakin panik 7 keliling. Ingin aku membalasnya tapi ibu sudah mengatakan untuk tidak membalas pesannya. Taku jika aku menghubungi ibu, dan ayah tahu.

Apakah mungkin? Argh! Aku tidak tahu, aku bingung. Aku menunggu dan menunggu, kucob telepon ibu tapi tetap hanya nada sambung yang aku dengar dari Smartphoneku. Kurang lebih sudah dua jam ibu tidak memberi kabar, tapi mau bagaimana lagi aku hanya bisa menunggu. Dan tepat pukl 12:00, ibu meneleponku.

halo, Ibu kenapa sih kok malah sama ayah? Bahaya buuuuu

ndak nanya kabar ibu dulu nih?

ibu kok bisa satai begitu?

iya dong, kemarin ada yang ketinggalan lagi. Ibu telepon ayah untuk jemput, karena belum beli tiket ya berangkatnya hari ini sayang

lha terus sekarang?

ibu nunggu bis diterminal, ayahmu sudah pergi

huft beneran kan bu?

beneran sayangku, sudah kamu tenang saja dan sebentar ibu tutup dulu teleponnya, ibu mau kirim gambar

eh, kan ndak perlu ditutup bisa bu…

ibu sudah tua nak, gimana caranya? Kamu mau mendikte ibu pelan-pelan? Malah lama lho, mending tutup dulu, ibu bisanya ditutup dulu, maklum jamannya ibu belum ada kaya gini

Iya bu iya

Setelah telepon ditutup selang beberapa lama sebuah gambar terkirim. gambar tersebut adalah gambar Smartphone ayah yang di ambil gambar oleh ibu. Gambar tersebut menunjukan lokasi dimana pertemuan akan dilagsungkan, segera gambar tersebut aku kirimkan ke anton. Belum ada balasan dari anton, ibu kemudian menelepon kembali.

Ibu kok bisa dapat informasi itu?

Ya bisa dong sayang, kan kamu tahu sendiri… coba diingat dulu waktu diatas kasur, ayahmu dikasih apa coba?

Obat tidur bu?

Heem…

fyuuuuuh…

Kok lega banget kayaknya? Ada apa?

berarti ibu ndak ngapa-ngapain kan sama ayah?

Ndak sayang… sayang bisnya sudah datang, ini ibu mau menyusul mereka dulu ya

Kok Ibu di terminal? Bukannya naik pesawat atau kereta bu?

iya tadinya juga ibu mau naik pesawat atau kereta api, tapi ibu milih naik bis saja. walaupun telat kan ndak masalah sayang, yang penting sampai ditujuan kan? Dan yang jelas, ayahmu tidak tahu kemana ibu pergi, benar kan?

iya deh percaya sama ibu, ibu hati-hati ya?

Iya sayang, kamu juga hati-hati, muach

muach juga ibuku sayang

Telepon aku tutup, dan kemudian aku memutar kembali. Kulihat seorang pedagang sayur keliling masih menjajakan dagangannya. Ku beli beberapa bahan makanan dan sayuran untuk makan hari ini.

yah, mungkin saja dian belum makan, lagipula aku sedikit mempunyai keahlian memasak yang aku dapatkan sari ibuku dan jug aibu wongso yang kadang mengajariku memasak. Aku kembali kerumah dian, melepas semua pakaian tempurku dan menuju ke dapur bersama dengan bahan makanan yang baru saja aku beli.

Sembari meracik makanan, aku membuka Smartphonekku yang ternyata ada sebuah BBM dari dian. tampaknya dia sangat marah ketika aku hendak keluar dari rumah, ku foto diriku dan ku kirim ke BBMnya.

To : Dian “Angel” Rahmawati
Percayakan sekarang kalau ndak keluar-keluar?

From : Dian “Angel” Rahmawati
Iya percaya, oia mas ni ade lagi ada rapat
jadi kemungkinan langsung pulang
ndak mampir beli makan

To : Dian “Angel” Rahmawati
Sudah, tenang saja dirumah sudah ada kok

From : Dian “Angel” Rahmawati
Iya, terima kasih sayangku muach :*

To : Dian “Angel” Rahmawati
Aku dicium dosenku, aseeeeek…

From : Dian “Angel” Rahmawati
Maaf, salah emoticon :p

To : Dian “Angel” Rahmawati
Oh, gitu ya? jadi begitu ya?

From : Dian “Angel” Rahmawati
Ndak boleh marah,
Iya tadi emoticon cium buat mas 🙂

To : Dian “Angel” Rahmawati
Terima kasih :*
Met rapat

From : Dian “Angel” Rahmawati
:*

Segera aku memasak beberapa bahan makanan untuk menyambut kedatangan dian pulang kerumah. Setelah semua selesai aku kemudian berisitirahat sejenak dengan segelas teh hangat di pekarangan rumah.

Menunggu adalah hal yang paling membosankan bagiku, apalagi harus menunggu kapan koplak bisa berkumpul lagi. Daripada pergerakanku dibaca oleh orang-orang yang kemarin menangkapku sebaiknya memang aku mengikuti apa kata anton.

Terlebih diluar juga sangat berbahaya jika melihat semakin dekatnya waktu mereka berkumpul. Mandi, dan segera berganti baju karena mungkin dian sebentar lagi akan pulang, bisa berbahaya jika dian tahu aku merokok. Selesai mandi aku mendengar mobil datang dan aku tahu itu dian.

“Baru pulang sayang?” ucapku menyambutnya diruang tamu ketika dian masuk ke dalam rumah

“iya, tadi rapat jurusan lama banget yang” ucapnya dengan wajah sedikit jengkel

“kenapa?” ucapku mendekatinya

“kangen sama kamu” jawabnya sembari memelukku

“iiih… bu dosen kangen sama mahasiswanya ya?” godaku

“eng… iya bodoh, jelek” ucapnya dengan sedikit pukulan di dadaku

“yuk maem, sudah mas siapkan tuh” ucapku

“eh, he’em disuapin ya?” ucapnya, aku mengangguk. Aku berbalik dan meninggalkannya, tanganku ditariknya

“Ada apa?” ucapku

“penat… bukain bajunya….” ucapnya manja

“yeee… makan kok sambil buka-bukaan. Nanti malam sayangku” ucapku

“emooooh bukain!” paksanya penuh dengan kemanjaan

Aku mendekatinya dan kubuka blazernya, ku katakan kepadanya untuk tetap memakai baju beseta rok selututnya. Ku rayu dia agar mau, karena jujur saja aku kangen dengan dian yang selalu berada dihadapanku ketika aku bimbingan. Dengan senyuman indahnya, dian aku gandeng menuju ke dapur untuk makan bersama.

“Eh, mas masak sendiri?” ucapnya

“ndak, beli lah masa cowok masa sendiri” ucapku

“bohong, itu alat masak kenapa kotor semua hayo?” selidiknya

“he he he ketahuan, iya tadi masak, sebenarnya tadi sudah nekat mau keluar tapi anton menelepon untuk tetap stay sampai ada pemberitahuan selanjutnya” ucapku, kemudian aku menceritakan kepada dian juga mengenai ibu yang tiba-tiba bersama-sama ayahku dan bermalam bersama ayah dirumah. tapi untungnya ibu tidak kenapa-napa.

“jadi, mama tadi sama eee… ayahnya mas ya? kemarin?” ucap dian

“iya, tapi untunglah ndak papa, tadi sempat telepon ibu juga. Sekarang ibu sedang perjalanan menyusul keluarga yang lainnya” ucapku

“huft… ya udah ade maafin untuk yang keluar tadi, tapi awas kalau besok nekat lagi, huh! Cepetan suapi!” ancamnya

“iya, aaaaa….” ucapku, selang beberapa saat dian berhenti dan wajahnya kembali mewek

“lho kenapa?” ucapku penasaran

“kok enak banget, mas jahaaaaaaaaaaaaaaaaaaat! Eng eng eng” ucapnya sambil memukuli pundakku

“lho aduh… sudah, sudah, kenapa sih sayang… kan ndak papa kan?” belaku

“iya ndak papa, tapi masakan mas lebih enak dari ade, besok mas harus ajari ade…” ucapnya

“iya, iya ini juga belajar dari ibu sama ibunya wongso sayang” ucapku

“eng… ndak boleh lebih enak dari punya ade pokoknya… eng…” ucapnya sambil memberiku pukulan ringan di bahuku

“iya sayang, iya besok mas ajari deh, terus mas ndak masak lagi kecuali kalau ade lagi sibuk” ucapku sambil membetet hidungnya

Makan bersama dian, setelahnya aku bersantai bersama dian. Sore menjelang malam, setelah mandi kemudian nampak sekali wajah dian murung sekali, entah karena apa. Setelah semua bujuk rayuku, akhirnya dian mau mengatakannya.

“Ade, dapet mas….” ucapnya

“yaelah adeeeeeeee, kan ya ndak papa kan? Lha wong juga ndak dimasuki kok” ucapku santai

“tapi, kalau dapet kan ndak boleh diapa-apain?” ucapnya

“lha kan memang mas ndak ngapa-ngapain ade” ucapku santai

“ntar mas pengen enaknya sendiri, terus ade ndak diapa-apain gitu… iya kan?” ucapnya sambil membalikan tubuhnya. Kupeluk tubuhnya dari belakang.

“kita ndak usah ngapa-ngapain, yang penting bareng terus okay?” ucapku

Dian kemudian berbalik dan tersenyum kepadaku, kami berciuman. Kehidupanku setelah dian mengalami mendapatkan datang bulan sebenarnya tidak berubah seratu persen, aku masih bisa memeluk dan menciumnya walau tidak harus mengeluarkan spermaku keluar.

Hari-hari kedepanya aku lalui dengan menjadi Lelaki Rumah Tangga, santai dan menunggu berita. Setiap hari aku selalu mendapat informasi baru mengenai keberadaan ayahku dari anton. Anton juga telah meneliti tempat berkumpulnya ayah dan komplotannya.

Dian selalu menunjukan sikap manjanya yang selalu berlebihan ketika bersamaku dirumha, ya… terkadang juga dian selalu memperlihatkan bagaimana dewasanya dia ketimbang aku. Sudah tahukan bagaimana dia mempermainkan psikologisku ketika hanya memisalkan sesuatu hal sepele.

Pakiannya tidak terbuka seperti sebelum-sebelumnya, ya tahu sediri kan lagi M tapi setelah M juga pakaian mengundang dedek arya bangun. Sudah tidak sungkan bagiku untuk menyentuh barang pribadinya, ya walaupun ada sedikit rasa… gimana ya menjelaskannya.

Ah, dian… dian…. seandainya hari-hariku adalah kanvas putih yang sangat bersih mungkin dian adalah cat yang selalu mencoret-coret kanvasku. Suka sekali ketika aku bisa menggodanya hingga menangis jengkel, ya terkadang itu perlu kan? Walau sebenarnya hanya bercanda dan dian tahu itu tapi tetap saja wanita itu bisa menangis. Sehabis menangis? Biasalah harus dilayani bak ratu kerajaan.

Hingga pada pagi hari tepatnya H-2 sebelum kejadian, aku mendapatkan pesan dari anton agar malam ini kumpul bersama di warung wongso. Semua geng koplak akan ikut didalamnya. Di malam hari ketika aku hendak berkumpul dengan koplak.

“Ade, mas nanti malam mau keluar kumpul sama koplak, membahas untuk besok malam” ucapku ketika aku dan dian sedang santai bersantai bersama di depan ruang televisi

“eh, mas hati-hati besok mas…” ucapnya

“iya, sekarang mas keluar dulu ya…” ucapku tersenyum kepadanya

“he’eh… jangan lama-lama, kalau sudah selesai kabari ade…” ucapnya

“iya, adeku sayang…” ucapnya, aku peluk dia dan kukecup keningnya. Kami berpelukan lama sekali hingga kami terhanyut dalam kemesaraan ini.

Malam hari, aku berangkat menuju ke warung wongso dengan pacar lamaku, REVIA. Ku kendarai REVIA dengan cepat dan tangkas hingga aku sampai di warung wongso. Kami bertemu setelah sekian lama tidak pernah berkumpul, seperti merasa tidak pernah berkumpul puluhan tahun.

berlebihan ya? begitulah koplak, apalagi semua dari koplak sudah memiliki pasangan masing-masing. Seperti dipenjara tapi juga dilayani didalam penjaranya, mungkin itu istilah yang tepat untuk koplak bukan suami-suami takut istri lho. Setelah semua berkumpul, kemudian kami yang sebelumnya berkumpul di depan rumah wongso mulai masuk ke dalam rumah.

Tampak anton sangat sibuk menyiapkan semua perlengkapan untuk menjelaskan kepada kami, sebuah proyektor yang dihubungkan dengan komputer lipatnya. Anton berdiri didepan kami, semua nampak terhenyak ketika anton menyapukan pandangan ke arah kami semua.

Anton dengan tampang seriusnya menyuruh kami untuk diam dan mendengarkan apa yang akan dia katakan kepada kami semua. Tidak ada yang berani memotong perkataannya, karena wajahnya tampak sangat serius, lebih serius dari sebelum-sebelumnya.

Menjadi sangat aneh ketika itu, tak ada canda tawa dari kami ketika berkumpul. Anton kemudian menjelaskan secara detail mengenai tempat atau lokasi berkumpulnya ayah beserta komplotannya.

Penjelasan dimulai dari foto yang dia peroleh dari tempatk perkara akan terjadi kejadian. Foto-foto memperlihatkan sebuah pemadangan gedung yang bisa dibilang tua tapi sebenarnya masih baru, menurut penjelasan anton itu adalah gedung yang baru selesai dibangun namun belum dihuni sama sekali. Dikelilingi oleh kebun-kebun singkong, ada pula pohon sengon yang tumbuh disitu.

Tampak sekali lingkungan sekitar gedung masih rindang dengan tanaman-tanaman, yupz anton mengatakan kita akan masuk melewati kebun belakang gedung yang masih rimbun ini. Anton kemudian menjelaskan kepada kami, mengenai gedung yang terdiri dari 3 lantai, luas bangungan cukup luas.

Dari penuturan anton ini hanya perkiraan karena ketika anton berada di lokasi, sudah ada beberapa orang yang berjaga-jaga ditempat itu. sehingga untuk masuk anton mengalami kesulitan, bahkan utnuk mengambil gambar anton hanya menggunakan sebuah kamera kecil yang berada didalam karungnya.

Ya itulah mengapa gambar yang ditampilkan sedikit miring sana-mring sini.

“itu informasi lokasi yang bisa aku berikan kepada kalian dan ini desain dari gedung tersebut, aku kemarin meminta dari kontraktornya” ucap anton, yang kemudian duduk dan menyulut dunhill mild

“nyamar jadi petani nton?” ucap hermawan

“Bukan, tapi tukang rongsokan” ucap anton

“keren banget baru kali ini ada tukang rongsok bawaanya kamera” ucap dewo

“ah, sudah kembali ke topik pembicaraan!” bentak anton membuat kami semua duduk tegak kembali.

Dengan asap mengepul di dalam rumah wongso, udara semakin panas dan penat. Pandangan kami tampak sedikit kabur karena asap yang semakin pekat.

“Jendelone bukak su, iki nek dijar-jarke… awake dewe mati keracunan dhisik sak durunge mangkat perang (jendelane dibuka njing, ini kalau dbiarkan… kita bakalan mati keracunan dulu sebelum berangkat perang)” ucap wongso kepada dira

“iya sayangkyu… ganteng deh muach…” ucap dira

“halaaaaaaaaaah… ganjen!” ucap kami bersama-sama, tampak dira pede dengan

Kita ulangi lagi, Dengan asap mengepul di dalam rumah wongso, udara semakin panas dan penat. Pandangan kami tampak sedikit kabur karena asap yang semakin pekat. Namun udara mulai masuk kedalam rumah wongso setelah jendela mulai terbuka. Anton memulai pembicaraan dengan menjelaskan rencananya secara detail dan terperinci. Layaknya kita akan berangkat perang, tapi apa sebenarnya rencana anton? Semua tampak kebingungan dengan apa yag diucapkan anton.

“jujur ae (saja) aku bingung..” ucap udin polos

“hadeeeeh… celeng (babi hutan), gini gampange!” ucap anton

Yang kemudian menjelaskan secara gamblang dan kami akhirnya mengerti. Tapi anton juga menjelaskan pakaian-pakaian yang akan kita pakai. Dari jaket anti peluru, mikropon, pisayu belati, pistol? Tidak ada pistol diserahkan kepada kami, karena sulit bagi anton untuk membawa pistol sejumlah koplak, bisa dicurigai.

Penjelasan-penjelasan mengenai perlengkapan perang kami, walau sebenarnya kami tidak paham keseluruhannya tapi anton dengan telaten menejelaskan kepada kami fungsi masing-masing alat.

Setelah panjang lebar menjelaskan masalah, lokasi, rencana dan perengkapan akhirnya kami pusing juga. Padahal jika dilihat dari rencana sajalah, intinya Cuma bagaimana kita melumpuhkan penjaga yang didepan dan kemudian masuk.

Hanya itu, itu saja… nanti didalam kita bergerak dengan “mata tertutup” maka dari itu anton menyuruh kita berkelompok minimal 2-3 orang. sebentar kami nongkrong didepan rumah wongso, tampak ibu wongso menutup warung.

“bu, jangan ditutup dulu, mau buat minum buat anak-anak” ucap wongso

“Oh ya wes nang (sudah nak), nanti kamu tutup ibu sudah capek. Mi, asmi… kamu tidur sama ibu saja, pijetin ibu ya” ucap ibu wongso

“Inggih bu…” ucap asmi

Dengan masing-masing dari kami memegang segelas minuman hangat, sesekali dari mereka menepuk bahuku. Mereka mengerti akan kegelisahanku, mencoba menenangkannya. Asap Dunhil bertebaran kemana-mana, dira yang biasanya menggoda kami saja tidak berani berkata-kata.

“Besok kita akan mati ya? he he he” ucap Karyo

“may be yes, may be no he he he” ucap aris

“gimana kalau sekarang kita ngocok bareng-bareng?” ucap dewo

“dari pada ngocok bareng-bareng, sini dira emutin, atau mau pakai susu dira bisa lho” ucap dira melumerkan suasana

“Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha” tawa kami semua

Selang beberapa saat kemudian, satu demi satu dari kami pulang. Pulang menuju rumah para perempuannya. Sama halnya denganku, menuju ke tempat dimana aku selalu tinggal. REVIA melaju dengan cepat dengan dadaku berdegup dengan keras, gelisah akan besok malam.

Akankah semua selesai? Atau aku yang akan selesai? Masa bodoh dengan semua ini. ketika pikiranku kalut, wongso selalu menenangkanku begitupula koplak yang lain. Hah, aku tidak seharusnya melibatkan mereka semua.

Tapi setiap kali aku meminta mereka untuk tidak ikut campur bukannya senang malah mearahiku habis-habisan. Ya sudahlah, we are the winner, i believe!

Bersambung