Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 77

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 77 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 76

Sifatnya yang kadang manja membuatku seakan menjadi seorang lelaki yang lebih dewasa darinya yang harus memnuhi semua keinginannya, memberitahukan kepada dia mana yang salah dan mana yang benar.

Ya, itu terjadi ketika dia bermanja-manjaan kepadaku tapi ketika dia memanggilku dengan sebuta kamu-aku terlihat sekali dia mencoba mengajakku untuk menjadi temannya, sahabatnya yang bisa saling berbagi satu sama lain.

Berbeda lagi ketika dia menjadi seorang dosen di kampus, penuh dengan kewibawaan terhadap seorang mahasiswa. Memberikan masukan dan memberikan nasehat kepadaku. Ah, apa mungkin itu dia sengaja melakukan hal itu semua agar aku bisa mulai berpikir dewasa? Ya, dilihat dari manapun aku tampak masih seperti anak kecil, seorang bocah yang masih labil emosinya.

aku tadi ketemu felix… ucapnya dengan mata terpejam

ouwh… jawabku dengan perasaan sedikit terbakar

ketemuan? lanjutku sambil mengelus kepalanya

tidak, tadi dia ke ruangku pas lagi ngobrol sama erna jawabnya

dia kan sudah punya pacar… jawabku

iya, aku sudah tahu… ucapnya

terus kenapa dia datang ketempatmu? selidikku

Cuma main pengen ketemu sama teman-teman dosen, katanya… jawabnya masih terpejam dan memeluk bantal kecil

eh… terus? selidikku

kenapa? cemburu? jawabnya

eh, ya ndak gitu kan aku Cuma nanya saja jawabku mengelak

nanya apa cemburu? Kok nadanya seperti itu? balasnya

iya, aku cemburu… jawabku tegas

terus kalau cemburu mau ngapain? ucapnya dengan wajah datar, matanya masih terpejam

tergantung dia ngapain sama kamu balasku

kalau semisal dia ngajak pergi aku, terus ngajak makan siang bagaimana? ucapnya membuatku semakin panas

kok kamu gitu? Kenapa ndak ngabari aku tadi? jawabku dengan nada sedikit marah dan membuatku menghentikan elusan pada kepalanya

aku kan bilang semisal yang, elus lagi… jawabnya

aku hajar dia… jawabku santai tanpa melanjutkan mengelus kepalanya. Matanya terbuka dan membalikan tubuhnya memandang ke atas, ke arah wajahku. Diraihnya tanganku untuk mengelus kepalanya kembali, dengan sedikit malas aku mengelus kepalanya lagi

hal itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah memperparahnya. Kenapa kamu tidak mengatakan kepadaku untuk tidak jalan dengan cowok lain atau menasehtiku. Kamu laki-lakiku seharusnya kamu bisa menjawab dengan kelaki-lakianmu, itu semua hanya permisalan namun kamu sudah menaikan emosi kamu sendiri…. elus lagi jelasnya santai dan kemudian memiringkan tubuhnya kembali dan memeluk guling.

Aku terdiam sejenak, memang aku terlalu berburuk sangka padahal itu sebenarnya hanya sebuah permisalan. Permisalan yang dibuat dian adalah permisalan yang belum terjadi, dan aku yakin tidak akan terjadi. Tanganku berhenti sejenak diatas kepalanya dan kupadanngi wajahnya yang sedikit ngambek karena jawabanku.

maaf… jawabku pelan dan mulai megelus kepalanya lagi

kamu laki-lakiku, dan jika hal itu terjadi… dan kamu mengetahuinya dengan mata kepalamu sendiri, apakah benar dengan datang ke tempat makan dan menggebrak meja lalu menghajar felix ditempat itu? apa kamu mau menjadi seorang lucas? mendengar jawaban itu aku terdiam

atau jika seandainya kamu mengetahui hal itu dari teman kamu atau mengetahuinya dariku atau mengetahuinya dari pesan singkat di Smartphoneku… apakah kamu akan mendatangi felix atau mungkin memarahiku semarah-marahnya dan lalu mendatangi felix lalu menghajarnya? jelasnya

kenapa diam? lanjutnya bertanya kepadaku

maaf mungkin aku tadi menjawab dengan emosi, padahal itu hanya sebuah permisalan… jawabku datar

permisalan atau bukan, itu menandakan personal kamu. permisalan atau bukan itu semuanya bisa terjadi. Permisalan atau bukan, kamu adalah lelakiku… aku tidak ingin kamu menjadi sangat arogan dalam kehidupamu ketika bersamaku jelasnya

apa cinta akan selalu membuatmu buta akan sebuah pertanyaan? Cobalah bertanya, bukan maksudku untuk meminta kebebasan dari kamu ketika diluar sana tapi cobalah untuk menggunakan logikamu dan berpikir.

Berprasangkalah sebaik mungkin terhadap seseorang sebelum kamu menemukan bukti yang konkrit, bukankah selama ini kamu juga melakukannya?…. Ayahmu… jelasnya, aku semakin terdiam tanpa menggerakan tanganku.

Kata-katanya seakan menamparku, ingin rasanya marah ketika dia berbicara seperti itu. tapi memang benar, selama ini aku tidak menyukai ayah sebelumnya tapi setelah semua bukti aku dapatkan aku baru mulai tidak menyukainya.

kamu adalah lelakiku, selamanya menjadi lelakiku… aku ingin kamu menjadi pemilik rumah ini bersamaku, saling melegkapi dan saling berbagi. Marah adalah hal yang biasa, selam kita mencoba untuk bertanya dan menghargai jawaban dari masing-masing. Jika memang ada yang salah, kita perbaiki bersama, tap ingat… ucapnya

eh… aku sedikit terkejut mendengar perkataan dian yang mengeras ketika mengatakan kata tapi ingat. Matanya terbuka dan melihat kesamping tanpa melihatku

jika kamu melakukan satu kesalahan saja dengan bermain dengan wanita lain. Aku tidak akan membalas perbuatanmu, hanya akan mengakhiri hidupku didepanmu… jelasnya

mungkin aku bocah sampai sekarangpun aku masih bocah. Bahkan kamu sendiri pernah bilang aku masih seperti bocah… he he he jawabku, dian berbalik memandangku

kenapa kamu malah tertawa? tanyanya

karena aku sudah kehabisan kata-kata jika melawanmu. Maafkan atas jawabanku, dan jika semua permisalan yang kamu buat benar-benar terjadi ketika kita sudah bersama… aku akan melakukan apa yang kamu lakukan jika aku melakukan perbuatan bodoh ucapku

Mata kami saling berpandangan, tak ada kata-kata terucap…

jadilah lelakiku selamanya, jadilah pemimpinku… aku sangat mencintaimu… ucapnya lirih

dan kamu juga, jadilah wanitaku, jadilah ratu dalam kehidupanku… aku juga sangat mencintaimu ucapku membalas

Tubuhku ditariknya lembut dengan tangan kanannya, membungkuk dan bibirku bersentuhan dengan bibirnya. Lembut tanpa perkataan apapun, mungkin setelah ini aku memang harus lebih hati-hati dalam mengendalikan emosiku, mengendalikan perkataanku.

Karena lawanku adalah seorang dosen yang selalu mengerti krakteristik dari mahasiswanya. Dia tahu semua tentang aku, sedangkan aku masih buram tentang dirinya. Yang aku tahu dian sangat mencintaiku, begitu pula aku.

Dengan manja dian memintaku untuk kembali mengelus kepalanya hingga dia tertidur. nafasnya menjadi sangat teratur seketika itu, kulihat wajahnya tampak lelah. Punggungku rebah ke sandaran sofa dan ikut tertidur bersamanya dengan wanita yang aku cintai berada dipangkuanku.

Malam harinya, makan bersama seperti biasa dan berbincang selama aku menyuapinya.

bagaimana kamu tahu aku terluka? ucapku

Felix… nyam nyam nyam jawabnya datar

berarti benar dia datang ke ruanganmu? ucapku dan dia mengangguk

dia datang mampir ke ruanganku, karena memang selama ini ada keperluan ke luar kota. Ya hanya say hai saja, tapi setelahnya dia cerita kalau tadi ketemu sama mahasiswa bimbinganku ucapnya setelah menelan makan

Iya tadi aku ketemu sama pak felix di auditorium setelah dihajar habis ucapku

besok hati-hati yah nyam nyam nyam air air hug… jawabnya

makanya kalau mau ngomong ditelan dulu ucapku

glek glek glek… aaaah… yang ngajak ngomong siapa tadi? protesnya

iya, maaf… huh dasar bu dosen ucapku

apa? Dosen apa? Judes? Gitu? ucapnya

eh eh eh ada pesawat terbang diluar ucapku yang berdiri dan menuju tempat cucian

iiih dasar cowok nyebelin ucapnya sambil bersedekap dan membuang muka

ck ck ck ck… aku menggelengkan kepala sambil memandangnya

apa?! bentaknya

walau muka dibuang, tapi tetap saja kelihatan… mmm… ucapku yang kuhentikan

kelihatan apa? jawabnya

jelek weeeeeeeeeeeeeeek…. jawabku sembari lari ke arah ruang TV

ARYAAAAAAAA JELEEEEEEEEEEEEK! teriaknya sambil mengejarku

Ah, Dian, dian kamu membuat hari-hariku semakin indah bersamamu. Sikapmu membuatku semakin tunduk kepada hatimu. Seandainya dari dulu aku tahu bahwa kamu cewek SMA itu, mungkin aku akan mendatangimu dan mengatakan cintaku terlebih dahulu. Tapi semua berjalan sesuai dengan jalannya aku menemukanmu setelah aku bertualang…

….

dipijit punggungnya? ucapnya yang kini berada diatas punggungku

Aku tengkurap di atas sepring bed kamar dian. dian duduk diatasku dan memijit punggungku

heem… enak ya dipijit ade ucapnya

iiih… nyebelin, ade ndak pernah dipijit sama mas ucapnya

kan dielus-elus tiap malam, sampe tidur lagi jawabku

iya iyaaaa… dasar cowok ganteng… balasnya, sambil mengucek-ucek rambutku. Sebenarnya hanya menakan punggungku saja dengan jari-jarinya, sudah cukup membuatku rileks. Ya, hanya itu yang dilakukan dian kadang pula tanganku dipijatnya, hmmm enak benar punya cewek dian.

diginiin enak ndak… ucapnya

eh… heem… he he he hanya itu yang bisa aku ucapkan ketika dian menyentuhkan susunya kepunggungku, beberapa kali dian juga mencium tengkuk leherku

Heem… apanyah? bisiknya di telingaku, aliran nafasnya membuat darahku berdesir

pijatanyah yang… jawabku

yang mana? balasnya lagi

dipunggung yang…jawabku dengan nada tertahan

enak dipijit pake itu ya yang? ucapnya

heemhhh… balasku

heem apanya yang? Dipijit pakai apa sih yang kok keenakan kaya gitu? godanya

pakai itunya ade balasku sekenanya

itu apa? Yang jelas dong… jawabnya

payudara ade… ucapku lantang

payudara itu apaan sih yang? godanya

suh…susu… jawabku tertahan karena tubuhku ditekan kebawah oleh tubuhnya

iiih mahasiswaku jorok deh… balasnya

dosennyah yang mulaihhh ufthhh… ade bangun, mas ndak bisa nafas nih… ucapku, dan diang bangun duduk disebelah tubuhku, aku membalikan tubuhku dan memandangnya sebentar

makasih adeku sayang, yuk bobo saja… ucapku

dieluussss tapi… jawabnya manja

Kami berbaring bersampingan, tubuhku menghadap ketubuhnya begitu pula tubuh dian miring menghadapku. Wajah kami berpandangan sejenak dan kucium bibirnya perlahan. Nafas kami kembali bersatu, tangannya meraih tanganku dan diarahkannya ke susunya.

tubuhnya masih berbalut dengan tank-top dan celana dalam tanpa bra. Kuelus lembut susu dian, matanya terpejam. Tangan dian mulai bergerak menuju ke dedek arya yang berbalutkan celana dalam.

Dielus dedek arya dari bawah ke atas, dan ugh… membuatku sedikit mendesah. Elusan lembutku kembali mengelus susu dian, kuarahkan tanganku ke puting dian yang aku rasakan menonjol dan kumainkan dengan jari tanganku.

mas… emmmmhhhh… erghhh…. masssshhhhh…. desahnya,

Reflek tubuh dian bergerak ketika aku memainkan putingnya, dian bearing dan menghadap keatas. Tangannya menarik tubuhku, walau sebenarnya tidak ditarikpun aku tetap bergerak ke atas dian. ku posisikan mengangkangi dian, tangannya masih mengelus-elus dedek arya yang sudah tegang tanpa syarat.

Ciuman kami masih beradu dengan lembut, tanganku masih bergreliya dan memainkan kedua puting dian. desahannya semakin terdengar walau bibirya tertutup oleh bibirku. Matanya terbuka, wajahnya berubah merah ketika melihatku memandangnya.

Permainan tanganku semakin menjadi-jadi dan remasan-remasan lembut disusunya serta permainan jariku di puting susunya. pikiranku masih bisa aku kontrol, kutarik bibirku dan kukecup keningnya.

Bobo yuk dah malam ucapku sambil menggeser tubuhku kesamping kanannya, tapi dian menggelengkan kepala lalu ditariknya kepalaku, kami kembali melumat bibir

bukain tank-top ade… ucapnya lirih disela-sela kami berciuman

Lepas ciuman kami, dia duduk didepanku yang kini duduk dan aku tarik tank-topnya hingga terlepas dian kini hanya memakai celana dalam. Kepalanya menoleh kebelakang, wajahnya semakin memerah bibirnya kusambut dengan bibirku.

Tanganku mulai memainkan susu dan puitngnya kembali. Tangan dian menelusup masuk diantar tubuh kami, mengelus dan kadang meremas dedek arya. suasana semakin panas, aku terbawa oleh nafsuku sendiri. tangan kananku perlahan mengelus perutnya yang ramping dan semakin kebawah masuk ke dalam celana dalam dian. jariku langsung menjelajah mencari butiran kecil milik dian.

Arghh…. mas emmmmhhh…. geli erghhhh…. mas… ade sayang mas…. mmmhhhh ade cinta masssshhh… erghhh…. desahnya

mas juga sayang mmmmmmhhhhh slurpppp….. mas cinta sama adehhh mmmhhhh…. ucapku

Tangan dian kini bukan hanya meremas, namun sudah menarik dedek arya untuk keluar dari celana dalam walau sebagian dari dedek aryamasih tertutup oleh celana dalam. Tangan kiriku memainkan putingnya, bibirku melumat bibirnya sedangkan tangan kananku memainkan klitorisnya.

Dian melepas ciumannya dan bersandar seluruhnya ketubuhku, tangannya melepas dedek arya. dian hanya bisa mendesah dan mendesah. Klitorisnya aku mainkan semakin menggila.

mas… ugh… mmmmm…. ade rasanya mau… pipis, erghh… mas sudah mas… sudhhhhhahhhhhh mas… sudhhhhaaaahhhh… ade mau piphhhhhpis ucapnya namun aku tidak menanggapinya

wajah ade memerah…. cup…. ucapku sambil mengecup pipinya

mashh…. mashh…. mashh sudhhhaaaah ade mau erghhhhh…. egh egh egh egh ucapnya kemudian sedikit terasa cairan hangat dari vaginanya. Nafasnya tersengal dan pinggulnya sedikit terangkat keatas. Kupeluk perutnya dan kuciumi lehernya, menunggunya beristirahat sejenak. Tak kusangka dengan memainkan klitorisnya, dian bisa mencapai orgasmenya

mashhh… ade sayang mashhh…. ucapnya berbalik ke arahku dan langsung menciumku

Ditariknya tubuhku dan kini aku berada diatasnya. Ketika tubuhku berada diatasnya aku tahan dengan kedua tangan dan lututku. Tiba-tiba saja tangan dian menarik celana dalamku dan kini dedek arya mengagantung tegang diatas selangkangannya. Di remas, dan dielusnya.

mas… ucapnya dengan mata memandangku, aku tahu maksud arti dari pandangan itu tapi argh….

be beneran de? ucapku dan diajawabnya dengan anggukan

Aku turun dari tubuh dian, dian menarik celana dalamnya sendiri hingga kini dian telanjang oval dihadapanku. Kuposisikan tubuhku diantara pahanya yang terbuka. Kupandang sejenak dian dengan wajahnya yang memerah, dian tersenyum manja, argh entah manja atau malu… aku tidak tahu.

Aku membungkuku dan kucium dian, kupastikan sekali lagi dan jawaban dian masih sama. Aku kembali diposisiku dan kuarahkan dedek arya ke dalam liang vaginanya yang masih tampak bersih. Kumainkan sejenak klitoris dian, kedua tangan dian menutupi wajahnya.

kuarahkan kepala dedek arya, ketika tepat di pintu vaginanya aku membungkuk dan kutarik tangan dian agar memandangku. Sedikit kudorong…

arghh… pelan masshhh sakiiiiiiiiiiittthhh sakiiiiit mas sakiiiiiittt…. sakiit bangettthhh rintihnya, aku berhenti, baru juga kepala masuk. Tiba-tiba terdengar tangis dian…

hiks sakit banget mas hiks hiks hiks… ucapnya, Aku yang kebingungan melihat kejadian ini seketika itu pula rasa ibaku muncul, logikaku kembali menguasaiku. Segera kucabut, aku duduk disamping dian dan kukecup keningnya.

sudah ade, bobo saja yuk… ajakku dengan senyum kepadanya

tapi… maafin ade, tadi beneran sakit banget…hiks tangisnya

iya, mas minta maaf tadi kelewatan… bobo aja yuk ajakku kembali

tapi mas, hiks mas ndak papa?… ucapnya, aku hanya mengangguk penuh senyum walaupun sedikit perasaan kentang didalam otakku

ngomong sama ade, ade harus ngapain biar mas… tapi kalau diituin lagi hiks ade belum siap, tadi sakit banget hiks… punya mas sih gede banget… ucapnya

kok tahu gede banget, hayo… godaku

eh itu iiiih… hiks hiks… ya pernah lihat, erna pernah lihatin video di Smartphonenya ucapnya sedikit terkejut. Ah, bu erna ternyata dia juga suka nonton seperti itu pantas saja waktu itu sempat menggodaku

ya sudah, bobo saja mas ndak papa kok, yuk… ajakkku

ndak mauuuuu… ade harus ngapain, tapi kalau itu… ucapnya diakhiri dengan gelengan kepala

ya… itu aduh… ndak usah saja, bobo saja… rayuku

ade mau mati saja… balasny sambil membalikan tubuhnya, membelakangiku

ayo dong jangan ngambek, sayang… rayuku, aneh juga rasanya, aku yang kentang kenapa dia yang malah marah?

ade mau mati saja besok hiks ucapnya

ya sudah… mmm… dikocokin aja dek tapi jangan kasar, yah… rayuku, dian langsung berbalik dan duduk dihadapanku.

Diciumnya bibirku dan tangannya mulai meraih batang dedek arya. aku kemudian menggeser dudukku dan bersandar, kedua pahaku terbuka dan dian diantara keduanya. Tubuhnya telanjang, susunya yang sekal masih ranum ndak turun sedikitpun, dan itu ough… bulu-bulu halusnya, aku pengen ngiler.

Dian mengocoknya dengan lembut, aku angkat tubuhku dan kudekati wajahnya. Kuangkat dagunya, Kucium bibirnya sekali lagi, kurasakan tangnnya masih mengocok lembut dedek arya.

mas…desahnya

hmmm…. ucapku

besar banget… apa semua laki-laki besarnya seperti ini? ucapnya polos

lha kan ade sudah pernah lihat di video? ucapku

eh… kan ade langsung tutup wajah waktu itu, tapi ya lihat sedikit… jawabnya

hiiii…. he he he… beda-beda adeku ughhhh sudah de… ucapku

eh kenapa mas? Sakit? Maaf… maafin ade mas ucapnya

iya,ugh… ucapku sambil meniup-niup dedek arya

maafin ade, ndak tahu harus gimana hiks… ucapnya dengan tangis lagi

sudah jangan nangis, dah ndak papa, mungkin karena keset jadinya sakit… punya lotion? ucapku, dian mengangguk

kalau minyak zaitun gimana? Ade punya… tawarnya

ya dikasih itu saja biar mas ndak terasa sakit ucapku, sekejap dian mengambil minyak zaitun , setelahnya kulumuri tangannya dengan minyak itu. kuarahkan kembali tangannya untuk mengocok dedek arya.

Dian mulai kembali mengocok dedek arya, argh… kocokan belum pernah membuatku keluar kecuali dengan variasi bibir dan susu. Lama sekali dian mengocok dedek arya, tapi dedek arya bukannya semakin menegang tapi malah semakin layu perlahan tertunduk lemas.

Kupegang tangan dian yang mengocok dedek arya, tapi pandanganku tidak benar-benar memandangnya tapi memandang yang lain.

Sudah bobok yuk ajakku, tapi wajahnya malah bertambah sedih, air matanya keluar perlahan. Aku jadi bingung, hufth… aku kecup keningnya.

Sudah kapan-kapan lagi sayang, mas ndak papa beneran selama mas sama ade, mas akan menunggu momen terindah kita, okay? ucapku

hiks… mas bobo… cepetan! ucapnya dengan setengah menjerit

Melihat wajahnya yang serius aku kemudian memundurkan tubuhku, tidak beraring namun kembali bersandar. Tangan kiri dian mengusap air matanya, perlahan dian mulai menggerakan tangannya, kucoba meresapi setiap gerakan tangnnya. Kupejamkan mata ini membayangkan dian sedang menggoyang pinggulnya dengan tubuhnya yang putih nan indah itu. namun…

ouchh…. arghhh… ade sudah ucapku sedikit berteriak. Tak menyangka dian akan mengulum kemaluanku, dian terkejut dan melepaskan kulumannya

kok ade kulum? Tadi sakit mungkin kena gigi ade ucapku

eh… maaf mas, ade Cuma mau nyoba saja. jangan marah… ade sudah bingung ucapnya, matanya tampak berkaca-kaca

eh… sudah bobo saja, besok masih ada waktu. Besok ade kan berangkat ke kampus ini sudah malam ucapku, namun dian menggelengkan kepalanya

ajari… ucapnya dengan wajah yang hampir mewek. Ah, sial kalau begini aku kelihatan sekali seperti pemain yang ulung

beneran? ucapku, dian mengangguk

hufth… pakai feeling ade saja yang penting jangan kena gigi, pelan-pelan saja ucapku dan dian mengangguk

mas rebahan lagi, tutup matanya… ade malu… ucapnya manja. Aku turuti kemauannya dan kembali rebah sembari menutup mataku

Perlahan aku rasakan , bibir dian mulai menyentuh kepala dedek arya. sedikit aku buka mataku dan kulihat bibir dian secara perlahan melumat dan mengulum kepala dedek arya terlebih dahulu.

Sensasi yang luar biasa, dosenku yang dulu judesnya minta ampun sekarang sudah berada ditengah-tengah paha telanjangku dan tentunya dengan tubuh telanjangnya. Kupejamkan mataku kembali, kurasakan bibirnya semakin dalam mengulum dedek arya.

memang masih terasa sedikit sakit ketika dian mengulum tapi tak sesakit diawal. Ah, pelan tapi pasti aku sudah bisa menikmatinya, sudah sangat terasa kalau dian sekarang sudah mulai bisa melakukannya. Ugh, terasa kini kulumannya memompa dedek arya.

kubuka mataku, kulihat dian sedang mencoba memuaskan dedek arya. perasaanku, nafsuku semakin terbakar melihat pemandangan itu. situasi yang sangat berbeda, membuatku terasa seperti berada dihamparan taman bunga.

Ade… uh… enak… enak banget… ugh… mas… mau keluar… mas ughh… adeeeee racauku

Refleks tanganku memegang kepalanya dan menahan kepalanya untuk tidak lepas dari dedek arya. dan crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot… spermaku keluar. Aku yang tersadar langsung melepaskan kedua tanganku dari kepala dian.

aku merasa bersalah, dian mencabut kulumannya dan memandangku dengan senyum, spermaku meleleh keluar dari sela-sela mulut dian. ku elus kepalanya perlahan, ketika tanganku mencoba mengelap sperma dimulutnya, tangan dian meahan.

Dian kemudian banngkit dan menuju kamar mandi, kulihat tubuh telanjangnya berjalan. Aku tak menyangka akan sejauh ini dengannya. Setelah beberapa saat, dian keluar dari kamar mandi dan aku menghampirinya. Kupeluk tubuhnya…

terima kasih sayang… terima kasih cintaku… maaf jika sejauh ini ucapku

ade cinta mas… Cuma itu yang dian ucapkan kepadaku

mas juga cinta ade… jawabku

Kupandang wajah layunya, dan ku cium bibir indahnya…

iiih… mas kok masih bangun? Bukannya habis keluar langsung lemas sebuah pertanyaan dari seorang wanita dewasa yang seharusnya tak dilontarkannya. Apa dian benar-benar polos mengenai hal ini?

ini tipe fighter, kalau lawan belum pingsan dia ndak akan lemas candaku

eh… aaaaaaaaa… ucapnya sambil menutup wajahnya, dan kemudian dijatuhkan ke dadaku

lho kenapa? ucapku, aku bingung melihat dian, ku dorong kedua pundaknya dengan tanganku agar aku bisa melihat

ade ngebayangin kalau… aaaaa… ucapnya langsung menjatuhkan kembali wajahnya yang tertutup tangannya ke dadaku, dan aku tahu maksudnya.

yeee kan masih lama, yuk bobo… ucapku, dian mengangguk dan mengiyakan

Dian membuka wajahnya, memandangku sejenak dan mengecup bibirku. Langsung dia berjalan menuju ke kamar dan berbaring, senyumnya selalu terlukis di wajanya. Kupandangi sejenak dian yang berbaring di atas tempat tidur, kupandangi seluruh tubuh indah itu.

ah, benar-benar sempurna bagiku bahkan jika dibandingkan dengan mmm selama aku bertualang sangat berbeda. natural dan murni indahnya. Susunya yang menurutku paling besar dari yang pernah aku lihat.

Kulitnya putih bersih, dan tubuhnya yang membentuk memperlihatkan keseksiannya. Kudeati tubuh yang tampak lelah tersebut dan dan kudekap dalam pelukanku. Kucium keningnya dan kutarik selimut untuk menutupi ketelanjangan kami berdua. Lelah malam menemani kami tertidur.

ini yang terhebat… ucap dedek arya

Bersambung