Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 76

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 76 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 75

sebuah pandangan yang seakan mengobrak-abrik perasaanku, mencoba menelusuri semua kebohongan-kebohonganku. Ku pejamkan mata dan kembali kubuka untuk berani berkata-kata.

cobalah kamu ingat, aku keluar juga untuk mencari informasi. Bukan untuk yang lain, dan aku selalu kembali lagi ditempat ini. kamu pernah bilang padaku untuk tidak membatasiku berkumpul dengan sahabat-sahabatku da… belaku yang terpotong kembali

aku tahu itu semua, tapi setiap kali kamu pergi sekalipun itu hanya sebentar saja, aku selalu merasa gagal… ucapnya kembali

tolonglah… buat aku benar-benar berarti bagimu… lanjutnya kembali

Aku gugup, aku gelisah dengan situasi ini. apakah aku harus melakukannya dengannya saat ini? aku gugup tak tahu harus berbuat apa. Dia terlalu indah bagiku. Tanpa sadar aku merasakan elusan di bagian dedek arya, dedek arya bangun tanpa komando dan tanpa mengerti akan perasaanku saat ini.

laki-laki muda kalah dengan sebuah argumen dari seoranng wanita, itulah yang terjadi saat ini. bibirnya sudah menempel dibibirku, hanya diam. Nafasku menjadi nafas seorang pemburu.

Bibirnya maju perlahan, bibir kami semakin menempel. Secara refleks kepalaku sedikit miring, lidahnya keluar membuka bibirku dengan tanganku masih berada diatas dadanya. Ah, lebih besar, lebih lembut, lebih kencang itulah yang dikatakan oleh perasaanku. Perasaan yang mengatakan kepadaku bahwa yang sekarang aku pegang adalah yang terindah. Apakah benar itu semua?

mmmmhhhhh…. mmmmmmh… mmmmhh…..

Desahan dari bibir kami berdua yang sedang bersatu satu sama lain. Tubuhnya mendorongku hingga aku rebah ditempat tidur. Setiap kali tanganku mencoba untuk lari dari tempat itu, selalu saja tangannya mengembalikan tanganku ke tempat semula.

Tak kuasa apa yang ada ditanganku membuatku meremas secara perlahan susu itu, susu yang masih terbungkus tank-top hitam. Tangannya semakin terasa mengelus dan sedikit meremas dedek arya. tak seperti yang pertama namun perasaanku campur aduk.

Ketikan tangannya menekan dan menggesek-gesek dedek arya yang masih berada didalam celana membuat sang dedek arya kehilangan kendali. Terlalu lembut, terlalu nikmat dengan apa yang dian perbuat kepadaku.

Tubuhku membalik tubuhnya perlahan, kini dian berada dibawahku, satu tanganku bergerak mengelus rambutnya ke atas dan satu tanganku masih aktif meremas susunya. ah, kami berciuman layaknya orang sedang bercinta. Kuarahkan ciumanku ke keningnya dan kupandang matanya.

besok lagi kalau bobo, jangan pakai BH ucapku dengan senyuman, membuat suasana mereda seketika

eh… mmmmmmhhhh mmmmmmhhhhh…. desahnya

Sambil berciuman, kuangkat tubuhnya dan kurapikan posisinya seperti ketika kita mau tidur. Aku tetap berada diatasnya dan dian berada dibawahku.

lepasin to… ucapnya manja

ntar kalau lihat gimana? Ntar malah ndak aku tutup lagi ucapku

tanpa menunggu jawabanku, dian malah menarik kaosku dan memaksaku melepas kaos. Senyuman nakal dari bibirnya membuatku membalas perbuatannya. Kulepas tank-topnya dan alamaaaaaaak sebenarnya ini ukuran berapa? Dengan segera mengalihkan perhatian mataku, aku kembali mecium bibirnya.

Kulingkarkan tanganku untuk melepas pengait BH dibelakang punggungnya dan kuloloskan BH dian. kini kami berdua hanya memiliki pengaman di alat vital kami. ku dudukan dian dihadapanku, kembali kami berciuman. Kusatukan keningku dan tatapanku kebawah, kesusunya.

lihat apa hayo? ucapnya, suasana menjadi tenang kembali

ini apa? ucapku sambil mengelus susu dian disekitar putingnya

ndak tahu, waktu lahir belum punya tapi setelah dewasa ada sendiri ucapnya kemudian tangannya menaikan daguku

buat kamu…. pelan

sekarang? ucapku

terserah kamu, asal kamu tidak ragu lagi…. aku mau… ucapnya

beneran? Sudah siap? ucapku, kepalanya menggeleng sedikit

hmmm… gitu kok mancing-mancing? ucapku

lha kamu perginya selalu lama, bikin ndak enak hati. Sekarang pokoknya…. ucapnya

pokoknya apa? ucapku

harus dibelai, kalau ndak dibelai aku minta belaian laki-laki lain ancamnya

diginiin? ucapku sambil meremas pelan susunya dengan tangan kananku

uffffthh… heem… balasnya

lha itunya? ucapku, dengan tangan kiriku memegang pinggangnya, dan jempol tanganku memijit-mijit perutnya tepat diatas vaginanya

eh.. mmmmmngggg… katanya sakit… ucapnya manja

kamu itu aneh, kalau tadi aku kepancing beneran gimana? ucapku, sambil mengelus sekitar payudaranya dengan punggung jariku

erghhh… ya siap jadi bapak mmmmhhh ucapnya dengan desahan kecil dari bibirnya

aku siap, tapi kamu siap sakit? ucapku dibalasnya dengan gelengan kepala menandakan dia belum siap

bobo yuk… ucapku

heem… tapi… balasnya

apa? tanyaku

dipeluk sama digituin ucapnya

iya sayangku, adeku sayang… balasku

Aku tidur disebelah kirinya, tubuhnya miring menghadap ke tubuhku. Kutarik selimut untuk menutupi tubuh kami. ku sejajarkan kepalaku dengannya agar kami bisa tetap saling berciuman.

Kini aku sudah tidak sungkan lagi untuk meremas susu yang lebih besar dari semua wanita yang pernah mengajakku tidur bersama, bahkan ibuku sendiri. belaian pada susunya dibalasnya dengan elusan halus di dedek arya.

kenapa? ucapku

besar banget, kalau masuk…. muat? tanyanya

mau dicoba? balasku

entar kalau sakit? balasnya kembali

kita masih punya banyak waktu, aku yakin kita pasti benar-benar akan bersama ucapku menenagkan dirinya

heem…. balasnya

Kami kembali berciuman dan saling meraba satu sama lain. Bahkan aku yang sudah bertempur tadi siang masih selalu membelai sesuatu yang indah ini. Yang indah daripada yang lain dengan bibir terus melumat bibirnya.

Kesadaranku masih bisa aku kontrol, tapi gerakan bibir dian mulai berhenti kulihat matanya terpejam dan alunan nafasnya tenang. Dian telah tertidur, kukecup keningnya dan aku duduk dan sekali lagi aku buka selimut perlahan melihat apa yang aku eslu-elus tadi.

beruntungnya aku… bathinku, kupandang wajah yang telah terlelap

aku pasti akan menemanimu hingga akhir nafas kita ucapku pelan disamping telinganya

Kutarik selimut untuk menutupi tubuh kami berdua, kuposisikan dadaku sejajar dengan kepalanya. Tangan kananku meremas dan mengelus lembut susunya. kuselipkan tangan kiriku diantara disela-sela lehernya. Hingga akhirnya kesadaranku mulai hilangan tertidur berselimutkan malam.

terima kasih…. sayup-sayup aku dengar suara dian namun aku sudah tidak sanggup lagi membuka mata…

***

Alunan melody udara dingin dengan hiasan kicauan burung di pagi hari. Pagi dimana masih terlihat gelap seperti malam. Kulihat jam dinding yang semakin menertawakan aku untuk semua masalah-masalah yang semakin dekat dengan akhir. Good Ending atau bad ending, huft mata ini masih rabun untuk memikirkan akhir dari perjalananku.

Kuraba tempat tidur disebelah kiriku tapi tak ada tubuh yang semalam setengah telanjang dalam pelukanku. Segera aku bangkit dan beranjak ke kamar mandi luar, karena memang aku tidak pernah masuk kedalam kamar mandi dalam kamar dian.

kupakai kaos dan celana pendekku, terdengar suara gemercik air yang terdengar di dalam kamar mandi dalam. Setelah dari kamar mandipun aku masih mendapati dian berada didalam kamar mandi, segera ak melaksanakan kewajibanku dan kemudian tidur lagi dengan posisi miring membelakangi kamar mandi.

Kleeek… terdengar langkah dian mendekatiku

sayaaaang, sudah jam setengah enam. Masa tidur lagi? Ntar rejekinya dipatok ayam lho bisik dian pelan

masih ngantuk… ucapku sambil memejamkan mata

sekali-kali ngampus sayang ketemu sama dosennya gitu… ucap dian

males ah, dosennya judes enakan dirumah sama pacar candaku masih mememjamkan mata

dosennya judes banget ya sayang? Sampe ndak mau ketemu sama dosennya? ucap dian sambil memelukku

ndak mau… ucapku sedikit manja

bangun, mandi sambil menunggu sarapan atauuuuuuu… hmmm… ntar malam bobo sambil ngelus-elus bantal saja ya… ucap dian langsung meninggalkan aku. WHAT! Bantal????

Aku segera bangun namun sudah tak kudapati dian di dalam kamar. segera bangkit dan berjalan kembali lagi ke dalam kamar mandi yang dingin sebagai syarat agar malam nanti tidak memeluk bantal ataupun guling.

Ah, memang wanita sehebat apapaun karirnya tetap saja mereka tidak pernah melupakan tempat yang membuat mereka bertambah cantik, dapur. Kulihat dian sedang asyik membuat sarapan pagi, ketika dian menoleh matanya melotot menyuruhku untuk segera mandi. Ah, segaaaaaaaaaaaaaaaar dan dingin.

Seluruh tubu sudah bersih, dan sudah berpakaian lengkap untuk berangkat ke kemapus. Dapur? Jelas untuk menemui dian, kudapati dirinya sedang menyiapkan makan pagi untuk kami berdua. Kudekati dian dan kupeluk dari belakang tubuhnya. Sedikit aku senggol bagian susunya.

kok ndak pakai BH? ucapku nyleneh dipagi ini

iiih katanya ndak boleh pakai, sekarang malah diprotes? Apa sih maumu hmmmm ucapnya judes

yeee kalau bobo saja sayaaaang, kalau keseharian gini ya dipakai. Ntar kalau banyak yang sadar kamunya ndak pakai, ndak terima akunya! ucapku sedikit keras

kalau ndak terima terus mau diapain orangnya? tanyanya

ya gitu deh, paling banter ya UGD ucapku sombong

ndak boleh gitu sayang, iya ade pakai deh. dipakaikan ya? ucapnya manja

iiih pacarku udah gede minta dipakaikan baju ejekku

mau ndak? Kalau ndak mau ya sudah ucapnya sambil melepas pelukanku dan berjalan menuju kamar. dian berjalan dengan senyuman mengejek, dia tahu kalau aku pasti tidak akan menolaknya.

mau…. mau…. ah godaan yang tidak bisa ditolak, mungkin sebagian besar laki-laki pasti tidak akan menolak ketika harus memakaikan baju pacarnya (benarkan?)

Setelah setengah telanjang didalam kamar, dian melotot melihatku yang terkesima dengan keindahan payudara ah susunya itu. Dijewernya telingaku karena terlalu lama tidak memakaikan baju ke tubuhnya. Canda tawa kami bersama didalam kamar membuat hubungan kami semakin hangat.

Makan pagi bersama dian, dan yang jelas aku selalu menyuapinya karena memang sikap manjanya tidak bisa aku tolak. Menolak menyuapi dian? sama saja menolak mendapat hadiah. Setelahnya aku berangkat, dian menggunakan mobil dan aku menggunakan REVIA-ku, pacar lamaku.

ndak bareng mas sekalian? tawarku yang sebenarnya aku tahu jawaban dian

ade pakai mobil saja ucapnya

boleh ndak kalau mas bareng? godaku

eh… mmmm…. ucapnya

iya, iya… sudah, ade berangkat dulu. Nanti mas yang tutup pintu gerbangnya ucapku, kulilhat dian berdiri mematung disamping pintu mobil yang terbuk, kemudian menoleh kearahku

mas lulus dulu ya, ade takut kalau mereka tahu kebersamaan kita. Nanti akan ada pembicaraan miring mas, nanti mereka mengira ade mempermudah kuliah mas ucapnya, kudekati dian

cup… iya mas tahu, mas kan masih mahasiswanya ade jadi memang seharusnya kalau dikampus ade bersikap seprofesional mungkin. Jadi kangen sama judesnya dosen mas yang cantik itu he he he ucapku, yang langsung berjalan mundur ketika tangan dian mencoba mecubitku

Ke kampus? Ya kini adalah jalan kemana aku harus mencari informasi detail dikampus. Dian berangkat terlebih dahulu menggunakan mobilnya sedangkan aku menyusul dengan menggunakan REVIA. Sesampainya dikampus aku berjalan-jalan memutari kampus, sesekali aku bertemu dian yang sedang bersama bu erna.

Well, sikap kami layaknya seorang mahasiswa dengan dosen. Aku suka dengan wajahnya ketika bertemu aku, judes hi hi hi tapi kalau dirumah brrrrrrr harus angkat sana-sini si dianya. Universitasku memang luas, jika harus memutari universitas ini harus menggunakan motor.

Ku pilih dengan menggunakan kedua kakiku menuju ke kampus/ fakultas rani. Dengan bergaya seperti mahasiswa baru, aku duduk-duduk di taman bersama dengan mahasiswa-mahasiswi yang lain. Dan ketika kupasang eraphone di telingaku…

eh… kenapa mereka ada disini? Apa yang mereka lakukan disini? bathinku ketika mata ini melihat sesosok dua orang yang sudah tidak asing lagi dimataku

Aku bersikap cuek dengan memainkan Smartphoneku, tak kuhiraukan mereka berdua. Ya, mereka adalah orang yang pernah menabrakku ketika aku berada di TKP kematian KS. Pikiranku semakin tidak tenang, ingin rasanya aku membuntuti mereka tapi jika itu aku lakukan bisa membuat kecurigaan terhadapa mereka.

sesekali aku melakukan selfie agar aku bisa memperhatikan pergerakan mereka. kulihat mereka menuju kantin kampus rani. Aku pun berjalan menuju ke kantin mengikuti mereka dengan gaya Ababil sambil mengenakan Smartphone kesayanganku.

bu, mie goreng satu sama es teh ya bu teriakku kepada ibu kantin yang tidak aku begitu kenal

ya, mas sebentar ucap ibu kantin, kulirik kedua pria itu sedang memesan makanan di kantin sebelahnya. Oh ya, kantin dikampus rani sama dengan dikampusku hampir mirip dengan pujasera jadi ada 5 kantin dalam satu tempat

Dan beruntungnya aku, karena mereka melihi tempat duduk yang bersebelahan dengan mejaku. Aku makan ditemani beberapa mahasiswa yang tidak aku kenal, wajar saja aku bukan salah satu mahasiswa dari fakultas rani. Ku matikan earphoneku berharap akan mendapat sedikit informasi dari yang ku dengar.

mas ini ucap perempuan yang membantu ibu kantin

makasih mbak ucapku

masnya bukan dari fakultas sini ya? ucapnya, sedikit gugup aku ketika ditanya

eh, iya mbak aku dari fakultas sebelah. Kesini main mbak, sekalian nunggu teman berangkat kuliah mau mengembalikan flashdisk ucapku

ooooh pantesan ndak pernah lihat, ya walaupun banyak mahasiswa yang makan disini tapi mas kelihatan asing gitu, ya udah mas silahkan dinikmati ucap mbak nya

terima kasih mbak balasku

Segera aku melahap mie instan ini, tak begitu lapar sebenarnya setelah makan pagi bersama dian. kumakan pelan-pelan sambil memainkan game di Smartphoneku, itung-itung juga untuk mendengarkan percakapan mereka berdua. Aku pelankan makanku tapi orang disebelahku tidak bercakap-cakap, ah percuma kayaknya kalau aku harus menunggu. Tapi…

kita sudah memutari univ ini tapi tetap tidak ada tanda-tanda anak bos, apalagi dikampus yang pertama tadi kita juga tidak menemukannya ucap lelaki 1

mungkin mereka sudah bersembunyi disuatu tempat. Oia, kamu masih ingat pacar anak sibos tukang yang digebuki di univ yang diceritakan oleh kawan kita? ucap lelaki 2

iya aku ingat, anak itu masih terlihat beberapa hari ketika si anak perempuan bos tukang menghilang. Beberapa kawan kita juga sudah mengobrak-abrik kosnya tapi tidak ada tanda-tanda kalau paarnya itu menyembunyikan anak bos tukang ucap lelaki 1

bagaimana dengan pacar anak si bos aspal? Apa ada tanda-tanda dia menyembunyikannya? ucap lelaki 2

juga tidak, dia masih terlihat. Bahkan sempat dari kawan kita ada yang menyamar sebagai paman dari ana si bos aspal. Tapi anak itu tidak tahu mengenai anak si bos aspal, dia sudah menyerah untuk mendekatinya karena tidak ingin mati ucap lelaki 1

ha ha ha ya jelaslah… tapi sayang mereka berdua sudah menghilang padahal enak tuh bisa di makan rame-rame. Mungkin kita harus pulang segera untuk memberitahukan kepada bos mengenai kondisi kampus ucap lelaki 2

Kemudian mereka berdua diam, aku habiskan makanku dan pergi dari tempat itu. dengan gaya ababilku berjalan santai menuju fakultasku. Sebenarnya aku sudah sangat bersyukur mengenai apa yang dilakukan oleh anta dan rino, mereka ternyata seorang yang bisa sangat dipercaya.

Dengan rokok, dunhill sebatang ditangan kananku aku melewati jalan universitas yang lumayan ramai. Tiba-tiba saja ada mobil berhenti didepanku, pintu terbuka dan sebuah pistol mengarah kepadaku. Orang yang berada didalamnya melambaikan tangan menyuruhku segera masuk kedalam mobil.

Ah, sial jika aku lari akan terlihat kalau akku terlibat. Aku berjalan dengan rasa takut menuju ke dalam mobil. Tak ada yang mengajakku berbicara, ada dua orang yang berada disampingku mereka yang tadi berada di kantin dan dua orang lagi berada di jok depan, aku belum mengetahui wajah mereka sebelumnya. Mobil kemudian bergerak menuju tempat sepi disudut taman rektorat.

Kamu tahu ini? ucap lelaki 3 dari depan menunjukan dua foto yang bersampingan

eh,… aku terkejut dan terdiam penuh rasa takut

Bugh… bogem mentah mendarat dipipi kiriku

ngomong kenal tidak? ucap lelaki 2

ke… kenal pak ucapku

dimana dia? ucap lelaki 3

tidak tahu pak, saya cu… Cuma kenal di KKN pak setelah KKN tidak pernah ketemu lagi ucapku

Bugh… bogem mentah mendarat di pipi kananku

bohong kamu ya? katanya kamu tadi mau mengembalikan flasdisk, jawab jujur… kamu ingin bertemu dengan salah satu wanit ini kan? ucap lelaki 1

bukan, aku mau bertemu temanku tapi cowok… pak beneran pak… sumpah ucapku dengan raut takut. Tiba-tiba lelaki 4 yang menyetir mobil mengacungkan pistol kearahku

kita bisa bunuh kamu disini, dan membuang mayatmu disini juga. Jawab jujur! Kita sudah tahu semua teman KKN kedua wanita ini dan mereka semua bilang juga tidak tahu, pasti kamu tahu mengenai mereka berdua ucap lelaki 4

beneran pak saya ndak tahu pak, setelah KKN ndak pernah kontak-kontakan lagi. Karena aku takut dimarahi pacarku pak, kalau ketemuan sama cewek pak yakin pak sumpah beneran… ucapku memasang raut wajah takut

argh sialan, bagaimana ini? kita habisi dia saja? ucap lelaki 2

******! Kamu mau mati sekarang? bentak lelaki 3 kepada lelaki 2

oh… iya aku lupa… ucap lelaki 2

argh kampret, cewek berwajah cina itu juga tidak tahu menahu keberadaan dua wanita ini. siapa sebenarnya arghhhh! Hei hajar saja dia! Dan kamu ingat berani kamu lapor polisi, akan kami habisi kamu dan teman-temanmu! bentak lelaki 3

iya pak, saya ndak akan lapor pak. Saya Cuma mau kuliah saja pak dan lulus ucapku ketakutan

Sreeet… brughh… bugh bugh bugh…

Dikeluarkannya aku dari mobil dan dihajar habis-habisan. Empat bogem mentah mendarat di wajahku, aku kemudian meringkuk dan habislah punggungku dihajar oleh mereka berdua. Diludahinya aku dan kemudian ditinggalkannya aku sendirian.

Aneh juga mereka menghajarku, apa mereka menghajarku hanya sebagai syarat kalau mereka pura-pura tidak mengenalku. Tubuhku tampak pegal semua, aku paksakan tubuhku untuk rebah berbaring menghadap ke atas. kudengar suara laju mobil menghilang dari telingaku.

Hash hash hash… sial kenapa mereka bisa tiba-tiba datang menjemputku tadi, apa mungkin karena melihatku di kampus rani? Ah, sial… tanganku meraba ke kantong jaket yang aku kenakan. Ah, dunhill mungkin ini memang saat yang tepat untuk melepas penat di paru-paruku.

Aku tidak mau memaksakan tubuhku untuk bergerak, mungkin orang yang melihatku sekarang akan merasa aneh dan mengira aku orang gila yang tidur diatas paving. Setengah batang dunhill telah terbakar, kuraba-raba saku jaketku yang satunya.

Smartphone kesayanganku masih bisa dinyalakan dan untungnya mereka tidak menyita atau merebut Smartphoneku. Bisa jadi mereka tahu semua gerak-gerikku, apalagi aku tidak pernah hafal nomor rani dan eri. Bagaimana coba kalau Smartphoneku disita dan rani menghubungiku. Untung kan Smartphoneku tidak di rebut mereka. touch… touch… touch… touch… touch… dan seterusnya, ku kirim sebuah pesan BBM ke anton.

To : Anton Awan Kinton
Empat orang datang kekampus,
Mereka mencari rani dan eri

Setelah sebuah pesan kukirim ke anton, aku masih rebah diatas paving yang lumayan teduh. Untungnya saja mereka mereka memilh tempat yang enak untukku dihajar.

Tek kotek kotek, anak ayam… Ringtone

Bagaimana kamu bisa tahu?

Asu (Anjing), tanya keadaan dulu kenapa?

Lho? Lha emang kamu kenapa bro?

Tadi aku diciduk sama mereka, dan disekap untungnya ndak dibunuh, mereka tahu aku teman KKN-nya. Sekarang aku sedang terbaring lemas habis dihajar oleh mereka

hufth… untunglah kamu Cuma dihajar. Tapi dilihat dari pergerakan mereka, mereka berjalan hati-hati

matamu! Sebenarnya aku mau dibunuh tadi, salah satu dari mereka tahu siapa aku

yang penting kamu ndak mati kan? Ha ha haha Ya sudah, biar anggotaku sekarang yang mengitari kampusmu

ati-ati bro…

oke, oh iya, ada informasi. Dari anggotaku ada yang melihat ayahmu naik mobil sama wanita. Jadi hati-hati bro…

Eh, okay

Pastilah Tante wardani, istri pak koco… ah kapan aku bisa membebaskan mereka dari belenggu perbudakan ayahku dan om nico. Bagaimana caranya agar aku bisa menyelesaikannya dengan cepat? Setelah satu batang dunhill menjadi asap dan tertinggal filter, Aku paksakan tubuhku untuk bangkit dan mulai berdiri secara perlahan.

Jalanku pincang, punggungku linu seperti seorang tua yang sedang sakit pinggang. Aku berjalan menuju ke kamar mandi auditorium yang dekat dengan rektorat dan membasuh lukaku. Sial, kenapa juga pas diwajah ada luka, bisa tambah ndak ganteng aku.

Sejenak aku beristirahat duduk di depan auditorium tersebut. Ah, universitasku dan universitas dimana ibuku berada. Aku disini juga karena aku melihat dian yan pernah aku lihat waktu itu.

kulihat sekilas seoran lelaki yang aku kenal, ya itu adalah anda sedang bersama seorang wanita disisinya berjalan berdampingan. Tangan anda sedang menggandeng tangan wanita itu. gila, cepat banget dia dapat gebetan baru. Ah, namanya juga seorang laki-laki, mati satu tumbuh seribu.

kaget ya? ucap seorang lelaki dari belakangku, aku menoleh kearah suara itu

eh, pak felix… gimana kabar pak felix kok ndak pernah kelihatan? ucapku sembari mencoba berdiri dan menyalaminya

im fine… sudah santai saja, ucap pak memegang pundakku dan duduk disampingku

lho wajahmu kenapa? berantem lagi? Wah wah kamu itu ndak ada kapoknya sejak kejadian waktu itu? ucap pak felix

alah pak namanya juga anak muda, masih labil jawabku sekenanya

kamu itu ada-ada saja… ucap pak felix yang kemudian mengeluarkan sebungkus rokok berwarna merah, Djarum Super

kok baru kelihatan pak? ucapku

ngisi pelatihan diluar kampus, mungkin tahun ajaran baru nanti sudah bisa mulai ngajar lagi ucap pak felix dengan hembusan asap keluar dari mulutnya

kamu kaget ya lihat anda jalan sama cewek lain? ucap pak felix membuatku heran karena seakan dia tahu semuanya

kenal saja tidak pak… jawabku sekenanya

masa ndak kenal? Bukannya setelah dian tidak jadi sama aku, anda yang pedekate sama dian? kamu ndak tahu? ucapnya yang kelihatannya berpura-pura tidak tahu menahu tentang semua yang terjadi

bu dian kan dosen pak, itu urusanya bu dian. bukan urusan saya, saya kan Cuma mahasiswa ucapku

arya… arya… hufffffffffthhhh…. deburan asap keluar dari bibirnya

entah mengapa aku merasa kalau dian itu suka sama kamu, walau aku tidak tahu keseluruhannya. Waktu aku melamar dian di taman waktu itu dan kamu ada disitu, raut wajah dian langsung berubah dan pasti kamu juga merasakannya

anda, dia laki-laki sainganku juga ketika aku mendekati dian untuk kedua kalinya. Aku dulu pernah pacaran sama dian pas study diluar negeri tapi putus gara-gara aku selingkuh. Balik ke negeri sini, mencoba memperbaiki ada anda menjadi sainganku tapi anda mundur ketika tahu aku yang menjadi sainganku.

Tapi sejalan dengan waktu aku sendiri yang kalah tidak bisa menaklukan dian, aku tidak tahu apa alasannya tapi kelihatannya alasannya adalah kamu

anda mental ditolak sama dian, dia cerita ke aku, dan dia juga cerita waktu itu dia secara terang-terangan ngomong ke kamu agar kamu menjauhi dian. mungkin dia merasa sama seperti yang aku rasakan, ketika ada kamu dian selalu berubah.

tapi waktu itu aku membuang jauh pemikiran itu, ya karena kamu mahasiswanya… ucap pak felix dengan gumpalan asap keluar dari mulutnya

ah pak felix bisa saja… ucapku

aku juga tidak tahu ar, tapi seandainya saja dia menyukaimu dan kamu juga memiliki perasaan yang sama… jaga dia ar, aku tidak tahu tentang perasaan dian ke kamu tapi yang jelas ada sesuatu yang membuat dia tertarik kepadamu ucap pak felix sedikit membuatku terdiam

ha ha ha ha sudah jangan kamu pikirkan ar, kamu lulus dulu saja kerja baru pedekate sama dian. pasti dia mau, karena…. dian bukan wanita sembarangan, itu yang aku tahu. Pacarnya saja pasti tidak akan berani menyentuhnya sampai pacarnya menikahinya, mungkin karena aku nakal ya ar dan aku lelaki yang suka bertualang.

Jiwa petualangku yang membuatku tidak betah dengan dian waktu itu, dan akhirnya aku pergi dari dian. tapi waktu itu aku menyesal, namanya kesempatan kedua itu pasti ada tapi tidak akan pernah sama dengan kesempatan yang pertama ucap pak felix semakin membuatku tertegun

ha ha ha ha aku ini ngomong apa ya ar, ya sudah aku mau pergi dulu dan ingat ya ar… kalau kamu jadi sama dian, kamu tidak akan pernah menyesal… ucap pak felix

pak, ngimpi kali ya pak kalau mahasiswa bisa pacaran dengan dosennya? ucapku santai

mimpi itu cita-cita, kan kamu tahu sendiri semua berawal dari mimpi atau khayalan kita. Kalau ndak punya mimpi berarti orang itu mati ha ha ha lha kamu suka sama dian ndak? ucapnya

ya kalau bu diannya mau sama saya, saya mau pak… gila apa cowok nolak cewek kaya bu dian ucapku cengengesan

ha ha ha ha… ya sudah aku pergi dulu, mau ke luar kota lagi ini tadi mampir ke auditorium jalan-jalan melepas kangen sama universitas, sudah berbulan-bulan ndak pernah pulang ha ha ha oh iya, kurangi kesukaanmu berkelahi ar…bahaya tahu ucap pak felix sambil berdiri

okay pak ucapku, kulihat pak felix kemudian berjalan menuju ke rektorat dan disana ada seorang wanita yang berjalan kearahnya. Kulihat mereka tampak mesra, ah ternyata dia sudah dapat wanita lagi.

Argh sialan, tubuhku rasanya sakit semua. Kalau seperti ini, lebi baik aku segera pulang kerumah dian. istirahat dan tidur, ah benar juga aku juga bisa merokok dibelakang rumah. Mumpung ndak ada dian dirumah, jadi aku bisa bebas.

Aku segera melangkah menuju ke tempat parkir kampusku yang berada nun jauh dari auditorium. Ya walaupun jauh aku memilih jalan melingkar dengan tujuan agar aku tidak bertemu dengan orang-orang yang aku kenal, setelah sampai di tempat parkir segera aku melaju dan pergi dari kampus.

Dalam perjalanan aku kemudian teringat akan kata-kata orang yang baru saja memukuliku. Ah, wanita cina, ajeng. Semoga saja ajeng tidak diapa-apakan, tapi kalau dari pembicaraan mereka menurutku ajeng baik-baik saja.

apa aku harus menemuinya ya? waduh, bisa jadi perang dunia ketiga kalau dian tahu aku menemui ajeng. Mending tidak usah sajalah, anton ya anton, aku hubungi dia saja mengenai ajeng. sesampainya aku dirumah dian, segera aku masuk.

Rumah dalam keadaan sepi tanpa penghuni. Aku buat segelas teh hangat dan duduk dipekarangan rumah ditemani dua batang dunhill. Segera aku menghubungi anton untuk menanyakan keadaan ajeng. menurut penuturan anton ajeng dalam kondisi baik-baik saja.

Tak ada yang berubah dari ajeng, dari sesama anggota IN yang memberikan informasi ke anton. Ternyata, ajeng ditemui oleh orang-orang suruhan ayah hanya sebentar dan setelahnya ajeng dibuntuti oleh orang-orang tersebut selama beberapa hari. Namun setelahnya orang-orang suruhan ayah tidak lagi membuntuti ajeng karena keseharian ajeng hanya ngampus-ngampus dan ngampus.

Lega rasanya mendengar ajeng tidak apa-apa, ah ajeng tubuhmu berlumurkan air danau. WhaT! Hei sadar arya, sadar ada dian dipikaran kamu. mau tidur sama guling kamu arya? ah daripada berpik yang tidak-tidak mending aku cuci muka dan tidur siang.

Kubungkus dua batang filter dunhill dan kubuang ditempat sampah agar dian tidak tahu kalau aku merokok dirumah. Segera aku mencuci muka dan menggosok gigiku.

Ngiiiiiik…… bruuuummmmm….. psfttt…. ngiiiiik… suara pintu gerbang terbuka, tidak lama kemudian suara mobil masuk ke dalam rumah dan mati diikuti suara gerbang yang terutup. Aku keluar dari kamar mandi, beridiri di dekat sofa depan TV, kudengar suara langkah kaki cepat menunju ke dalam rumah. Kleeeek….

maaaaaaaaaaaaaas…. ucap dian berjalan cepat kearahku

sudah dibilangin jangan berkelahi lagi, kenapa masih juga suka berkelahi! Ini wajah kenapa? iiihhhh cepetan duduk… ucap dian memegang wajahku sejurus kemudian ditariknya tubuhku dan duduk di sofa. secepat kilat dian mengambil kotak peralatan obat.

sudahlah kan cuma luka kecil ndak papa kok, tenaaaang… ucapku santai

ndak papa-ndak papa, aku itu khawatir tahu gak sih kamu itu, dasar cowok sukanya main kekerasan! bentak dian yang berjalan kearahku

eh… iya maaf, bukan berkelahi. Ini hasil dari penelusuran informasi ke kampus rani sayang ucapku merayu

diam… ucapnya sambil berlutut dihadapanku dan membuka kotak obat

Kulihat dengan telaten dian mengobatiku, setiap goresan luka di wajahku di obatinya dengan lembut. Terasa sakit dan perih memang namun tak membuat mataku beralih melihat wajahnya yang tampak sangat khawatir. Aku tersenyum namun wajah dian masih juga terus serius, jadi merasa bersalah.

ade,kok tahu kalau mas terluka? ucapku mencoba merayu dengan panggilan mas-ade

dari felix… ucapnya judes

ketemu sama dia? ucapku

kenapa? cemburu? ucapnya masih terus mengobati lukaku

ndak, ngapain cemburur? balasku santai

beneran? ucapnya

iya beneran ndak suka kamu ketemu sama dia jawabku ngambek

itu namanya cemburu… berarti sayang dong sama dosennya godanya sedikit ada senyum, dengan membenahi kotak obat dan berdiri mengembalikan kota obat tersebut

ndak sayang… ucapku

terus kenapa dirumah ini? mending pergi saja sana! ucapnya dengan wajah marah ketika berbalik dan berdiri melihatku

aku sih ndak sayang sama kamu… Cuma cinta saja sama kamu jawabku santai sambil merebahkan punggungku bersandar pada sofa

Brughhh….

argh sakit sayaaaang…. rintih sakitku ketika dian tiba-tiba saja duduk di atas pahaku

cinta ya? ucapnya sambil senyum

heem… jawabku mengangkat tubuhku, mendekatkan wajahku ke wajahnya. Walau kealaku sedikit menengadah ketika itu.

jangan berkelahi lagi hiks hiks hiks… ucapnya sambil memeluk kepalaku, dan yuuut terbenam semua wajahku di dadanya

mmmm… mmmm… hah hah hah hah hah… ndak bisa nafas jawabku

sudah jangan nangis, selama urusanku belum selesai seperti yang aku ceritakan kepadamu. Mungkin aku masih tetap berkelahi, namu jika semuanya selesai aku pasti berhenti dari berkelahi kecuali kamu dalam bahaya jawabku

janji ya… ucapnya memandangku, kuhapus air matanya dengan kedua tanganku

sini ade peluk lagi… ucapnya

ndak bisa nafas ade jawabku

ndak suka ya? ucapnya sambil wajahnya sedikit mewek

suka… adeku suka apalagi dipeluk sama bu dosen ucapku dan tanpa dikomando kepalaku maju dan masuk kedalam gumpalan dada dian, setelahnya kumiringkan kepalaku dengan maksud untuk bernafas

Dielusnya kepalaku dengan lembut dan sambil bibir tertutupnya menyanyikan alunan lagu. Entah lagu apa tapi aku merasa tenang didekatnya. Kupeluk tubuhnya erat, dan tubuh kami bergoyang bersama.

maem dulu yuk, ade beli makan siang tadi di luar… ucapnya

Aku melepas pelukannya dan mengangguk pelan kearahnya. Aku hanya duduuk di sofa menunggu dian mengambil makan siang di mobil. Dian, kemudian masuk membawakan makan siang dan kami makan bersama.

seperti biasa dian selalu minta disuapi setiap makan, ah benar-benar wanita ini tidak membuatku bisa berkonsentrasi makan. Setiap berada di dalam rumah dian selalu melepas semua pakaiannya dan meninggalkan tank-top beserta celana dalam tipis.

Menyuapi penuh dengan pemandangan erotis bagiku hari ini, mataku tak pernah luput untuk melirik dada dan selangkangan dian. sebenarnya dian juga tahu kelakuan mataku, terkadang daguku diangkatnya dan dian tersenyum manis kepadaku. ah, godaan…. bertahan arya bertahaaaaan…

Masih pegal ndak? ucapnya bangkit sambil mengambil piring

sedikit ucapku meinum es teh buatannya

nanti malam aku pijitin, tapi nanti malam ya ucapnya sambil berlalu menuju dapur.

kenapa harus nanti malam? tanyaku selepas dian kembali dari dapur

ya… mmmm…. egh…. ucapnya sambil menjatuhkan tubuhnya disampingku yang berada disofa, kepalanya langsung rebah dipahaku. Diraihnya bantak kecil dan dipeluknya.

dielus-elus… ucapnya, sudah ketahuan kalau dia ingin bermanja-manjaan hari ini

yang mana? godaku

terserah, pokoknya pengen bobo dipangkuanmu ucapnya

terus masmu yang jelek ini bobo dimana? Kan lagi sakit ucapku

yeee… sakit kan karena perbuatan sendiri weeeeek… ucapnya

iyaa… iya, dah bobo dulu, kelihatan capek wajah kamu yang ucapku

Ah, dian memejamkan matanya. Terlihat sangat cantik, apapun yang dian lakukan dihadapanku selalu terlihat cantik. Entah bangun tidur, entah habis mandi, entahlah pokoknya apapun yang ada pada dirinya selalu terlihat indah dimataku.

Bersambung