Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 74

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 74 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 73

anta, sebenarnya terpukul ketika dia diharuskan menjauh. Dia bernasib sama denganku yang dihajar oleh body guard perempuan yang kami cintai. Tapi selang beberapa hari, rani menelepon anta dan menjelaskan semuanya. Dan rani kemudian menyuruh anta agar bersikap biasa-biasa saja, rani cinta anta, ar. Anta bercerita kepadaku mengenai rani yang diselamatkan seseorang tapi dia tik tahu siapa orang itu, dan malam ini aku tahu bahwa itu kamu ar

aku akan pulang kampung seperti halnya anta, aku dan anta sadar kalau ada bahaya dibelakang kedua perempuan yang kami cintai. Anta hanya mendapat informasi dari rani agar menunggu kabar selanjutnya jika situasi amaUcap rino

begitu saja, kamu pulang kampung saja, pura-pura patah hati ucap wongso

iiih jangan patah hati sama dira saja gimana? Hi hi hi ucap dira

hee dira nganggur tuh ucap dewo

oh lha gondes, ojo ndul! (oh lha gondes, jangan ndul) ucap anton

iiih anton nyebelin deh, lumayan tuh kelihatanya barangnya gedhe ndak seperti tadi tubuhnya aja yang gedhe, barangnya segedhe sosis siap saji uuh ucap dira

rasa ayam apa sapi dir? ucap dewo diakhiri gelak tawa kami

ya sudah, kamu sekarang pulang saja no. Dan selalu ingat pesanku, jika kamu ingin bersama Eri, jaga perasaanmu dan sekali saja kamu menyakiti eri… ucapku kemudian diam sejenak melihat koplak

TAK HAJAR KOWE (TAK HAJAR KAMU!) ucap kami bersamaan

eh… iya… iya jangan galak-galak gitu ucap rino ketakutan

Perbincangan dengan rino pun selesai, dia kemudian ijin untuk pulang ke kos dan mempersiapkan diri untuk kepulangannya kerumah besok. Dalam bathinku aku bersyukur memiliki adik Eri dan calon adik ipar rino, karena jika dilihat dari sudut pandangku rino cukup baik untuk Eri. Selepas kepergian Rino, suasana menjadi hening kembali. Tak ada percakapan diantara kami, semua menunggu aku untuk berbicara. Satu batang dunhill aku sulut dan…

Mereka akan membantai keluargaku setelah pertemuan besar di bulan kedua yang aku tidak tahu kapan itu ucapku, mereka terdiam sejenak

bagaimana setelah kejadian malam ini mereka akhirnya melakukan tindakan brutal ucap wongso

aku tidak tahu…. kematian aspal belum mereka ketahui… arghhhhhhh aku benar-benar bingung bro… ucapku

Ar, peretemuannya bulan kedua pada hari ketiga belas ucap anton

eh… kami terkejut dan melihat anton

kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa tahu kan? ucap anton, kami semua mengagguk

dasar koplak, aku pegang Smartphone aspal, nih ucap anton memperlihatkan Smartphone sungsang

jika dlihat dari multichat di BBM, antara ayahmu, nico, aspal, dan tukang aku bisa menyimpulkan mereka tidak akan membantai keluargamu dalam waktu dekat. Didalam chatnya juga terdapat keinginan aspal agar segera membantai keluargamu setelah kematian tukang, itu karena keluargamu yang selama ini mereka khawatirkan keberadaannya. Tapi aku tidak mengerti kenapa ayahmu menolaknya tak ada keterangan di chat-nya jelas anton

itu karena mereka kemungkinan tahu kalau keluargaku masih memiliki pengaruh kuat di daerah ini. dari penuturan Eri dan apa yang aku dengar ketika pertemuan mereka didanau. Ayah dan om nico memiliki rencana lain, sekalipun aspal dan tukang masih hidup mereka akan tetap disingkirkan. Juga dengan kolega-kolega mereka, termasuk bandar-bandar besar dan mengambil alih nahkoda dari bandar-bandar tersebut dan juga kolega-kolega mereka. Mereka ingin menguasai semuanya

setelah mereka berdua menguasai semuanya, maka mereka akan memiliki kuasa atas semuanya. Pejabat-pejabat, aparat-aparat kemanan dan semuanya yang melakukan hal-hal buruk akan diancam oleh mereka jika tidak menuruti mereka. dan disitulah, mereka akan menghabisi keluargaku. Jika semua orang yang ada didaerah ini menuruti kuasa mereka, pengaruh sebesar apapun dari keluargaku terutama kakekku tidak akan pernah berguna lagi. Tak akan ada penyelidikan, kalau semua pimpinan di daerah ini yang korup, kartunya mereka pegang. Bisa apa mereka? hanya dimanfaatkan oleh ayah dan om nico jelasku

berarti Cuma satu hal yang bisa kita lakukan… hari ketiga belas bulan kedua, hidup mati kita dan keindahan daerah ini ucap dewo

benar, Change it or die… ucap anton

well thats right… ucap wongso

together? ucap dira yang berdiri dan menjulurkan tangannya ditengah-tengah kami

Kami semua tersenyum dan ikut berdiri berputar, menumpuka tangan kami…

KOPLAK! Teriak kami

Malam semakin larut, setelah semua percakapan kami berakhir kami memutuskan pulang. Anton, mengatakan kepada kami, akan memberi kabar yang lain. Karena secara diplomatis dan penjelasan paling bagus hanya anton. Anton kemudian menyuruh wongso untuk mengantarku pulang tapi sebelumnya.

aku harus memberitahu keluargaku mengenai ini semua, karena keluargaku merencanakan liburan. Aku harus segera menyuruh mereka berangkat ucapku

ya benar juga katamu ar, tapi tenang ar. Selama ini IN juga melindungi keluargamu jadi kamu tidak perlu khawatir berlebihan ucap anton

iya bener tuh kata anton, yang penting acara kita jangan sampai diganggu oleh anak buahmu nton ucap dewo

bener tuh, ntar ndak dapat jatah kan biasanya dira yang ada didepan hi hi hi ucap dira

kontol saja pikiranmu dir ucap wongso

sudah tenang saja, mereka hanya akan memback-up kita ketika kita butuh bantuan. Sampai sejauh ini aku masih memegang janjiku untuk tidak mengikutkan mereka. sudah lama bukan kita tidak pernah bersama, tapi jujur saja sebenarnya ini semua jauh dari permainan masa kecil kita. Ini seharusnya bukan kita yang menangani tapi mau bagaimana lagi, aku bagian dari koplak dan aku tahu bagaimana egoisnya, keras kepalanya koplak dan itulah yang aku suka ucap anton

Kami pun tersenyum, kemudian tertawa seakan teringat pertama kali kami bertemu. Pertama kali kami berkumpul, dan pertama kali kami berkelahi. Semuanya akhirnya bubar jalan, aku meminta ijin terlebih dahulu ke asmi istri wongso agar mengijinkan wongso mengantarku di tengah malam ini. akhirnya diperbolehkan, dan kami melanjutkan perjalanan…

untung Ar, tadi kamu mintain ijin. Bisa-bisa aku ndak dapat jatah dari asmi nanti… ucap wongso yang memboncengkan aku

iya bro, aku juga sudah ngrasain bagaimana punya cewek. Oh ya aku tak telp ibuku dulu yo, pelan-pelan saja ucapku

seeeepz! ucap wongso, sambil aku membonceng aku menelepon ibu

Halo sayang, kok belum tidur?

Arya mau ke tempat ibu sekarang, ibu dimana? Ada yang penting

penting apa? Ibu dirumah kakek ini juga semua masih begadang, ngobrol belum pada tidur

Siapa saja?

semuanya, adik kakek juga disini, tante asih dan semuanya…

arya kesitu, tunggu arya…

lho ada apa sayang?

Sudah nanti saja bu, dah ya bu

iya iya tuuut

Setelah telepon aku tutup, wongso langsun menarik gas yang ada ditangannya. Motor melaju lebih kencang, kuperhatikan jam pada Smartphoneku menunjukan pukul 00:30 pagi. Tubuhku sebenarnya sudah merasa lelah, aku juga yakin wongso mengalami hal yang sama. Dari mata wongso juga sangat terlihat kalau dia sangat kelelahan.

Wong, maaf ya merepotkan. Ngantukkan kamu? ucapku

Ha ha ha ha… matamu! Sudah tahu aku ngantuk, masih ditanya tapi ya mbok jangan kaya gitu to suuuuu su! teriaknya sambil tertawa

Kami tertawa terbahak-bahak selama perjalanan melewati malam ini. malam yang dingin penuh dengan kengerian dalam hatiku, sekilas bayangan dian melintas dalam benakku. Ingin rasanya aku memelukknya malam ini dan mencium aroma rambutnya. Tanpa terasa perjalanan telah usai, aku dan wongso masuk ke dalam rumah kakek yang disambut dengan ibu. ibu tersenyum pada kami berdua dan mempersilahkan kami masuk. Satu persatu aku dan wongso salim ke keluarga besarku ini, tak terlihat adik-adikku karena mungkin sudah pada tidur.

Kakek.. ucapku kepada kakek

sudah lama kakek ndak ketemu kamu, baik-baikah? balasnya

baik kek ucapku

nek… ucapku dan langsung dipeluk dan dicium pipi kiri dan kananku oleh nenek

ciyeee jomblo sekarang pacarnya cowok ya? ucap tante ratna

lho bu? Pemain sinteron kok disini? ucapku ketika salim dengan tante ratna

awas kami mblo ugh ucapnya

auch! Sakit tan, kejam banget sama cowok ganteng kaya aku ucapku smabil mencium tangan tante ratna dan suaminya

lha pacarnya mana? Kok malah cowok yang diajak jangan-jangan kamu? tanya bu dhe ika

apaan sih budhe itu huh! ucapku ketika mencium tangannya. Ketika di pakdhe andi aku langsung dipeluknya erat

Setelah salim dengan semua anggota keluarga dan juga adik kakekku dan keluarganya…

Kleeek….

Lho sama wongso ya ar? ucap tante asih yang keluar dari kamar

Wadiyah… ucap wongso yang langsung melompak ke arahku, dan aku tangkap tubuhnya

apa wong? ucap tante asih

eh ndak tan… endak… arya yang ngajak, saya ndak ikut-ikutan pokoknya kalau suruh nyapu halama rumah satu komplek, arya saja, aku ndak ikut-ikutan tan ucap wongso

ndak satu komplek tenang saja wong, Cuma satu kota saja, gimana? ucap tante asih

HAAAAH! teriakku bersama wongso, mereka semua terbahak-bahak mendengar jawaban kami berdua

Sejenak kami saling tanya kabar, setelah sejenak itu kami kemudian hening karena tawaku yang terhenti. Wongso berada dibelakangku juga menghentikan tawanya. Semua pandangan tertuju kearahku dan…

aku ke depan dulu ar ucap wongso, dan hanya aku jawab dengan acungan jempol

Arya mohon, segeralah berangkat liburan sampai arya menyelsaikan masalah ini ucapku dengan tatapan tajam menyapu semua yang berada di dalam ruang keluarga

Ada apa sayang? ucap Ibu

Ayah… ucapku lirih dan semua mendengarkanku, pandangan mereka semua seakan mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan semua tentnag ayahku

akan ada pertemuan ayah dengan beberapa orang dan itu tidak lama lagi, setelah pertemuan itu. kita akan dibantainya, jadi arya mohon untuk segera berangkat dan jangan kembali selama arya belum memberi kabar. Arya akan menyelesaikannya bersama sahabat-sahabat arya, sudah cukup baginya untuk bertualang dan saat arya mengehentikannya… ucapku

Arya tidak ingin kehilangan keluarga yang arya cintai, jadi arya mohon… ucapku

kamu tidak bisa menyelesaikannya sendirian ar, terlalu berbahaya ucap Ibu

benar kata ibu sayang, lebih baik serahkan semuanya kepada pihak aparat keamanan ucap nenek

tidak… mereka sudah mengakar, bisa jadi laporan kita menjadi bumerang bagi kita sendiri ucapku

Apa yang telah kamu lakukan malam ini? kenapa Eri bisa bersamamu? ucap tante asih tiba-tiba keluar dari tema pembicaraan. Pandangannya heran penuh dengan pertanyaan..

aku… ucapku tersenyum

Perlahan dan pasti, aku menceritakan ketika mengambil eri dari dalam rumahnya. Cerita mengenai pembantaian yang akan dilakukan oleh ayah. Dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah kematian si aspal. Ibu tampak terkejut mendengar ceritaku dan langsung memelukku, tangisnya pecah. Tak ada yang mampu mengungkapkan pendapat mereka, pak dhe, buhde, tante-tante dan om-omku pun semua diam.

jika masih tetap disini, dan ternyata arya gagal… maka semua yang berkaitan dengan kakek akan habis ucapku dalam pelukan ibu

ini semua salahku, jika saja dulu aku tidak menerimanya daam keluarga ini. mungkin semua ini tidak akan terjadi ucap kakek memecah keheningan

Seharusnya kakek tidak berbicara seperti itu, karena dia arya juga ada walau… ucap nenek terpotong

Emmm…. maaf kakek, nenek, pak dhe, budhe, om, tante… menyela walau sebenarnya saya tidak boleh menyela…

saya harap yang terjadi biarlah terjadi, tinggal bagaimana menyelesaikannya. Tidak sepantasnya menyalahkan masa lalu, karena jika kejadian di masa lampau tidak terjadi. Mungkin sekarang Ibu saya sudah menjadi abu… ucap wongso dari belakang, membuat semuanya memandang ke arah wongso

eh… ar… aku kedepan lagi,maaf maaf ucap wongso sambil merogoh saku jaketku mengambil rokok dan ngacir begitu saja

benar apa kata nenek dan wongso, mungkin arya lahir dengan cara yang salah. Tapi arya lahir untuk kita semua, untuk menyelamatkan kita semua. Jadi jangan salahkan arya, karena arya juga diah jadi lebih bahagia hiks ucap Ibu dengan memandang ke kakek, sembari mengelus-elus kepalaku

maafkan kakek… tapi jika kamu melakukannya sendiri, semuanya terlalu berbahaya. Maafkan kakek pula karena tidak bisa mencegah ini semua terjadi ucap kakek

tapi arya mohon dengan amat sangat agar acara liburannya dipercepat, agar semuanya bisa dalam kondisi aman. Keluar negeri saja saran arya, agar mereka sulit mendeteksi keberadaan kakek dan semuanya. Jujur saja arya tidak tahu apa yang dilakukan oleh mereka setelah mendengar berita kematian salah satu komplotannya tapi arya yakin mereka tidak akan segegabah itu, jadi untuk menghindari mereka melakukan hal yang gegabah, arya memohon untuk segera berlibur ucapku

tapi bagaimana dengan kamu? ucap pak deh andi

apa kamu memang benar-benar bisa menyelesaikan semuanya? ucap tante asih

kamu ikut asaj mblo ucap tante asih

iya ar, berbahaya jika kamu terus disini ucap bu dhe

kita semua pindah daerah saja dan mulai membangun kehidupan baru ucap suami tante asih

benar, mungkin itu jalan yang terbaik ucap om heri

tidak… aku tidak akan pergi begitu saja, aku tidak akan mengingkari janjiku kepada kakek wicaksono dan nenek mahesawati ucapkku membuat semuanya kembali terdiam. Kakek memandangku begitu tajam.

mereka sudah meninggal kek, meninggal dalam pelukan cucunya. Mereka selalu menanti kehadiranku, dan baru ketika aku dewasa aku kembali bisa menemuinya namun hanya sesaat. Dan setelah sesaat itu pulalah mereka tiada ucapku

Terjadi perdebatan panjang diantara kami semua. Mulai dari pakdhe dan om-omku yang memutuskan untuk tinggal dan membantuku. Tap aku menolaknya karena merekamempunyai budhe dan tante yan masih membutuhkan mereka. kakek nampak kehabisan kata-kata ketika melawan keegoisanku, dan berhenti menentang pendapatku.

baiklah, kita semua akan berangkat secepatnya. Dan menunggu kabar dari arya. jika tidak ada kabar dari arya, kita akan pindah tempat tinggal ucap kakek

terima kasih kek, arya akan berusaha semaksimal mungkin dan arya yakin bahwa semuanya akan bisa arya selelsaikan dengan sempurna ucapku

Tak ada lagi tante ratna dan bu dhe ika yang menggodaku. Semua diam dan menyetujuinya, terakhir aku memohon kepada mereka agar benar-benar pergi dari tempat ini agar aku tidak terus mengkhawatirkan mereka. dan mereka semua menyetujuinya.

Arya, iku ibu ke kamar dulu, ibumau bicara ucap ibu mengajakku masuk kedalam kamar. pintu kemudian ditutup ibu, ibu kemudian mengambil kotak yang berisi music box

ini hadiah buat dian, ibu membelikannya buat kalian berdua ucap ibu

eh… terima kasih bu ucapku

Ibu kemudian memelukku dan mencium bibirku, secara reflek aku membalasnya

Ingat, ibu masih kekasihmu selama bajingan itu belum lenyap ucap ibu

Iya bu, arya akan selalu ingat ucapku

Love you beb ucap ibu

love you too beb balasku

Kami kemudian keluar dari kamar dan menuju ruang keluarga kembali…

Semuanya, tolong percaya pada arya dan doakan arya. dia datang satu paket dengan arya, dia adalah pemusnah dan arya adalah obatnya, anggap saja seperti itu ucapku tersenyum kepada mereka

Ibu dan tante asih kemudian mengantarkan aku keluar menemui wongso yang sudah terlelap dalam tidurnya. Dengan sedikit ketegaan aku membangunkannya, tampak matanya merah karena lelah. Aku dan wongso kemudianmelanjutkan perjalanan kembali, sebelum berangkat ibu dan tante asih titip salam kepada dian. aku mengiyakannya dan langsung kami perjalanan menuju kerumah dian. sesampainya dirumah dian, tepat didepan rumahnya.

Kamu yakin bisa pulang wong? ucapku khawatir

apapun akan aku lakukan, karena tadi pagi aku dapat BJ dari asmi, malam ini pasti akan lebih hot! ucap wongso

Kereeeeeen! balasku

Kulihat wongso langsung memacu motornya dan aku membuka pintu gerbang rumah. Perlahan aku menutup dan berjalan ke arah pintu rumah, takut jika dian terbangun. Kubuka pintu pelan-pelan, tapi memang dasarnya pintu mau dibuka pelan malah menimbulkan suara yang sangat keras, krieeeeet…

Ergh… mas sudah pulang ugh hoaaaaam…. ucap dian terbangun dari tidur di kursi tamu

ade, bobo saja ucapku sambil menutup pintu dan melepas jaketku

Dian yang bangun dengan tanktop hitam yang digantung dengan tali kedil dibahunya serta celana payet yang sangat ketat. Dian mendekatiku, dan memelukku dengan sangat erat. tangisnya pecah saat itu juga, aku tak kuasa melihat dian yang begtiu setia menantiku di ruang tamu. Kupeluk tubuhnya erat.

Sudah ndak boleh nangis lagi ucapku

hiks hiks hiks ade itu taku kalau mas kenapa-napa hiks ucapnya

nyatanya mas sudah pulang dan ndak papa kan? ucapku

jahat… besok-besok lagi jangan membahayakan diri mas, nanti ade sama siapa? ucapnya melepas pelukan dan memukul ringan ke dadaku

ouch… he he he, yang jelas mas pergi untuk kembali. Dan pergi dalam waktu yang sangat cepat, ya sayang… ade kan sudah tahu semuanya, jadi mas harap ade mmm… ucapku terpotong karena jari telunjuknya menyilang di bibirku

ade akan selalu mendukung mas, apapun yang terjadi. Jika mas kenapa-napa, maka ade juga akan ikut mas kemanapun mas pergi ucapnya

Tangannya melingkar di leherku, tubuhnya merapat, kakinya berjinjit. Bibir kami bersentuhan, lidah kami keluar saling bertemu. Kupeluk pingganngta erat, kurasakan sesuatu yang berbeda darinya tapi apa aku tidak tahu.

bobo yuk… ucapku pelan

heem… balasnya, ketika hendak aku gandeng berjalan menuju kamar

gendooooong… ucapnya manja

yeee udah gedhe minta gendong, ayo adeku sayang… ucapku sambil memainkan hidungnya

belakang mas ucapnya,

heem… ucapku yang kemudian membalikan tubuh dan menurunkan punggungku. Kuangkat tubuh wanita kesayanganku ini, walau cukup berat

mas, nengok coba… ucap dian, ketika aku menengok kebelakang tiba-tiba kepala dian maju dan mencium bibirku. Satu tangannya menghalangi kepalaku agar tidak menengok kedepan lagi

nanti mas nabrak sayag mmmmmmfftthhhh… ucapku

biar romantis hi hi hi mmmmmfffthhh mmmffffthhhh… ucapny

Kugendong dibelakang sembari berciuman, setibanya dikamar tepatnya di pinggir tempat tidur, dian mendorong tubuhnya hingga aku jatuh telengkup dan dian diatasku. Dian memelukku dengan sangat erat. terasa aneh memang, benar-benar ada yang aneh.

ada apa mas? ucapnya

ehh enggak kok ndak ada apa-apa ucapnya

ade paling nggak suka sama cowok yang ndak bertersu terang sama kekasihnya ucap dian

ya ade bangun dulu, mas mau bagaimana ngomongnya kalau begini ucapku, sembari membenarkan tidurku. Kini aku dan dian tidur berdampingan dan saling mengahadap.

apa mas? ucapnya

Cuma berat saja tadi kok de ucapku

bohong, ada yang lain pasti? Hayoo apa coba? ucapnya, aku yang sadar akan keanehan langsung tengkurap dan menutupkan wajahku di bantal

mmmmm…. mmmmm….. mmmmmm ucapku dengan kepala masuk kedalam bantal

iiih apaan sih mas? Ayo bangun-bangun! Mas sukanya gitu ucap dian, aku angkat kepalaku dan tidur menyamping

apa? ucap dian

eeee…. eeee…. itu…. ucapku

apa? ucap dian

susu ade kok tambah besar? ucapku malu-malu

iiih mas lihatnya kemana-mana deh ucap dian sambil menutup buah dada yang tertutup tanktop dengan kedua tangannya

yeee… katanya suruh jujur balasku

hi hi hi… kan setiap hari pake korset biar kelihatan kecil, biar yang tahu ukuran sebenarnya mas saja ucap dian

sudah yuk bobo ucapku

mas… ucapnya pelan dan memandang mataku dengan tajam, tanpa penolakan tanganku diarahkannya ke susunya. kepalanya maju dan mencium bibirku.

ARGHHHH! APA INI??! TEGANGAN TINGGI…. TOLOOOOOOOONG AKU MAU MUNTAH! teriak dedek arya

Tanganku secara reflek meremas sebuah susu dian yang ternyata jika dibandingkan dengan milik ibu lebih besar darinya. Aku terbawa nafsu karena memang dari kejadian dengan Eri tadi belum bisa sepenuhnya hilang. Tapi sialnya, apa mungkin karena aku mencoba bertahan dari wanita yang aku cintai membuat aku tak bisa mengendalikan dedek arya? entah kenapa dan mengapa, ciuman dan remasan satu susunya sudah membuatku semakin menuju puncak. Langsung aku tarik dian hingga dia berada diatasku, bibirnya aku sumpal dengan bibirku dan kupeku erat.

mmmmm egh… egh …. egh…. egh…. mmmffttthhh… desahku

Kami terus berpelukan…

maafin mas de… ucapku tiba-tiba

kenapa mas? ucapnya

mas keluar.. balasku

keluar? Maksudnya? ucapnya

sperma mas keluar tadi habis megang susu ade ucapku

hah? Coba ade lihat ucap dian yang langsung turun dan melepas celana jensku.

iiih basah, tegang lagi ucap dian

mas, bukannya kalau secara pengetahuan habis keluar itu lanngsung lemas? ucap dian

ade, sudah ah… mas malu, mas mau mandi dulu saja ucapku

kalau mandi sekalian saja tidur sama guling! ucap dian

eh kok gitu sih, kan malu adeeeeucapku manja sambil mencoba memakai celana kembali

ade kemarin tidur pakai celana dalam, sekarang gantian mas. Kalau ndak mau ya sudah, tidur diluar sana, sama guling dan TA ndak ACC ucapnya yang kemudian tidur membelakangiku, sebuah tawaran yang harus????

iya, sayang iya mas gantian, tapi mas ndak jamin kalau nanti keluar lagi mas ndak tahu lho godaku,

cepetaaaaan bobo ade dipeluk! manjanya. Aku kemudian memeluknya dengan hanya memakai kaos dan celana dalam berbau khas sperma.

maafin mas ya, kalau ade bukan yang pertama ucapku lirih

jangan pernah membahas itu lagi, yang terpenting mas adalah yang pertama untuk ade dan seterusnya hingga akhir waktu…. peluk! ucapnya

dan ade adalah milik mas, ade ndak ingin mas melakukannya dengan wanita lain… sekarang mas punya ade, jadi mas jangan pernah sungkan ucapnya, ketika aku intip wajahnya tampak sedikit memerah karena malu

Ade ndak salah ngomong?godaku, tubuhnya berbalik dan mengangguk pelan tampak sekali dia sangat malu

Sudah bobo yuk, ade capek banget itu. ndak papa kan? ucapku

ade bakal nunggu sampai kita benar-benar siap ucapnya tersenyum, kemudian dian berbalik lagi membelakangiku

Kupeluk lebih erat lagi tubuhnya, tangan kiriku menelusup diantara lehernya dan bantal. Tangan kanan mengelus-elus kepalanya. Hingga akhirnya aku lelah dan terlelap dalam tidurku. Tak ada lanjutan akan kejadian tadi, karena dian sendiri sudah cukup lelah menanti kedatanganku begitupula aku. Argh, entah apa yang akan terjadi besok… apa mungkin komplotana ayah akan bertindak gegabah atau tidak? Aku tidak tahu…

***

Suasana dingin malam masih terasa di pagi yang mulai dihiasi oleh sinar matahari ini. tampak satu per satu tanaman mulai bernafas kembali membersihkan kotoran-kotoran udara. Embun-embun pagi mulai merangkak diatas daun.

Ya dingin, walaupu matahari sekarang mulai untuk menghangatkan suasana di daerah yang masih kental dengan budaya daerahnya. Kembali ke sebuah rumah yang terletak di daerah perumahan ELITE, sebuah rumah yang dihuni oleh dosen perempuan yang cantik mungkin itu kata yang pas untuk menggambarkan dirinya.

Manis? ya memang benar manis tak ada kata lain lagi. Di dalam kamar itu seorang laki-laki bernama Arya sedang tertidur sangat pulas, lelah karena malam yang mungkin melelahkan baginya.

Wanita itu terjaga karena alarm dari Smartphone kesayangannya, segera wanita itu meraih Smartphone dan mematikan alarm yang berbunyi lumayan keras. Wanita itu melepaskan tangan lelaki yang memeluknya, dia kemudian bangun dan duduk sambi merenggangkan ke dua tangannya. Mulutnya menganga lebar yang langsung ditutupinya dengan tangan kanannya. Kedua tangannya memaksa matanya untuk terbuka, dikucek-kucek, argh… walaupun sehabis bangun tetap saja dia tampak cantik dan manis. Ya, dia Dian pemilik rumah ini.

Dian duduk dengan kedua lutut tertekuk, direbahkannya kepalanya di atas lututnya miring memandang lelaki yang bernama arya. Dengkuran keras Arya tidak membuat dian terganggu, dian malah tersenyum ketika melihat tingkah bocah yang berumur 4 tahun dibawahnya. Dikecupnya kening lelaki itu dan dimainkannya hidung lelaki itu dengan jari telunjukny.

Senyumnya lebar melihat wajah polos dan lugu dari lelaki itu. dian tidak berlama-lama memandang wajah lelaki itu, segera dia menggeser tubuhnya turun dari ranjang. Diraihnya ikat rambut yang berada di meja kecil, sambil berdiri dan berjalan menuju kamar mandi dian mengikat rambutnya. Mencuci muka, melaksanakan kewajiban dan begitulah yang dian lakukan kesetiap harinya.

Dian kemudian duduk disamping Arya yang masih mendengkur, ingin rasanya dia membangunkan agar arya tidak lupa akan kewajibannya. Tapi melihat wajahnya yang tampak tenang dan membutuhkan banyak istirahat, dian hanya mengcup bibirnya sekejap.

Dasar cowok, kalau tidur pasti kelihatan aslinya hi hi hi, kamu memang benar-benar lucu Arya-ku ucapnya lirih walau bisa didengar tetap saja arya tidak bisa mendengarnya

bobo sana, dasar cowok bikin ugh… ucapnya dengan memandang wajah laki-laki tersebut.

Lama dian memandang arya, tiba-tiba saja air matanya menetes. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini, ditutupnya bibir manisnya menahan suara tangisnya. Segera dia keluar dari dalam kamar dan duduk di depan televisi.

maafkan aku ar… Maafkan aku hiks hiks hiks… aku tidak tahu apa kita bisa melewatinya hiks hiks hiks desah mulutnya

tidak, aku tidak boleh nangis, aku yakin pasti bisa melewatinya bersama arya desah kecilnya

Diusapnya kedua matanya, dan kembali berdiri. Apa sebenarnya yang ada dipikirannya? Ada apa dengan wanita ini?bukankah semua yang dia inginkan sudah ada didekatnya, ah entahlah tapi sekarang dia sudah berjalan menuju dapurnya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

Diambilnya dua gelas cangkir dan ditata bersebelahan, dipandanginya gelas lama sekali pandangan matanya memandang dua buah cgkir yang bersebelahan itu. Entah apa yang di dalam pikirannya, namun kemudian tiba-tiba saja dian tersenyum semakin lebar. Dia berbalik dan berlari kecil meuju kamarnya, dilihatnya arya masih tidur. Perlahan dia dekati wajah lelaki itu…

Aku percaya padamu… ucapnya pelan dan sedikit kecupan di kening arya

Ah, wanita memang membingungkan, penulis saja juga bingung mengenai wanita. Langkahnya kembali menuntunnya keluar kamar, dilihatnya jaket arya yang ada di lantai bawah dekat dengan kursi tamu. Hela nafas panjang dengan kepala menggeleng-geleng, mungkin dalam batinya berkata. dasar laki-laki sulit sekali untuk rapi. Tapi entahlah, diambilnya jaket arya.

Klotak… sebuah kotak jatuh dari jaket arya

hmmm… kenapa arya bawa seperti ini? ucapnya lirih sambil memutar-mutar kotak itu

Dengan jaket berada dilengannya, dian berjalan dan memutar-mutar kotak itu. Dibukanya perlahan tapi tak terdengar suara apapun. Dian kemudian tersenyum, aneh juga baginya ada seorang lelaki menyukai hal-hal klasik seperti ini.

apa buat aku ya? ucap dian, jari tangannya meraba pada bagian bawah kotak tersebut

eh ada chargernya juga, kotak musik yang aneh tapi apa iya ya kalau kotak musik pakai charger? Masa bodohlah ucapnya lirih

Diletakannya kotak musik itu di bifet dekat dengan ruang keluarga dan disambungkan dengan listrik. Ditekan tombol ON dan kotak musik itu memutar sebuah simpony lagu klasik.

Sambil mendengarkan alunan lagu klasik yang terus berputar, dian berjalan menuju dapur sembari meletakan jaket arya di mesin cuci. Dengan senyum mengembang, dian mulai membereskan dapurnya. Menanak nasi, memasak sayur untuk dimakan bersama lelaki kesayangannya.

Tehnya nanti saja deh, arya kan suka minuman hangat ucapnya pada dirinya sendiri sembari tersenyum terkekeh

Walau dia adalah seorang wanita karir yang bekerja sebagai seorang dosen, tetap saja dia melakukan pekerjaan rumahnya. Membersihkan rumah yang selalu diitnggalinya selama ini. sempurna? Mungkin tapi sempurna hanya bagi yang mencintainya dan memilikinya. Menyapu kembali seisi rumah, mengepel beberapa tempat yang kotor, melap kaca-kaca yang sudah mulai berdebu.

Walu keringat mengalir diwajahnya tetap tidak menghapus kecantikannya. Tanpa terasa waktu berjalan, menunggu sang lelakinya bangun. Setelah semua selesai wanita cantik ini menjatuhkan tubuhnya di sofa depan televeisi dengan pandangannya memandang sekeliling ruangan, melihat hasil kerjanya. Dipejamkan matanya sambil rebahan disofa.

Hmm… teh hangat? Mungkin asyik begitu bathinnya berkata

Dengan cepat Dian berdiri dan membuat teh hangat untuk dirinya sendiri. Dengan memegang cangkir panas berisi tehnya, dia berjalan hati-hati menuju sofa depan Televisi. Dengan segelas cangkir yang masih panas sambil meniupinya agar lekas dingin.

Dian menonton televisi yang acara entah memiliki nilai pendidikan atau tidak untuk anak-anak. Lipsing dan lipsing, itulah acara musik sekarang ini… untuk menunggu sang lelakinya bangun dari lelapnya tidur

***

ugh… hoaaaam….argghhhh…. aku terjaga dari tidurku, hei aku arya masih ingat kan?

APA?! Jam sepuluh? ucapku terkaget ketika pandangan rabunku menjadi sangat jelas terlihat

Aku segera melompat dari tempat tidurku, dan keluar dari kamar hanya mengenakan celana dalam. Ku buka pintu kamar, dan berhenti karena terdengar lagu klasik lirih dari luar kamar. langkahku perlahan dan kulihat dian sedang duduk dengan memegang kedua gelasnya sambil menonton televisi tanpa suara.

Kenapa ndak dibangunkan? ucapku berdiri di belakang sofa

Eh… sudah bangun? Sebentar, teh hangatnya belum siap ucap dian berdiri dan tersenyum kepadaku. Kubalas senyumannya dan duduk disofa, kulihat secangkir tehnya masih tersisa separuh berada diatas karpet

ini tehnya, diminum pelan-pelan sedikit panas itu ucapnya

srupuuut srupuuut….

manisnya pas banget ucapku

terima kasih, pinter deh memuji ucapnya sambil menarik pipiku

ouch…

oh ya, itu dari mana? Kok ada kotak musik? ucapku

dari jaket tadi di ruang tamu ucapnya smabil memegang teh hangat dengan kedua tangannya

oh ya lupa, semalam ketemu ibu dirumah kakek. Dan Ibu memberikan kotak itu sebagai hadiah untuk pemilik rumah iniucapku

benarkah? Nanti aku telepon mamah, mau ngucapin terima kasih ucapnya tersenyum kepadaku

Kami berdua kemudian diam menyaksikan sebuah tontonan tanpa suara. Mata melihat seorang wanita menyanyikan lagu yang kelihatannya keras namun yang terdengar adalah alunan musik dari kotak musik ibu. aku merasa berbeda pagi ini, kelihatan sekali dia tidak manja seperti hari-hari sebelumnya. Kulirik sedikit wajahnya yang masih memandang televisi.

kalau seperti ini kita lebih akrab ya? ucapku

hmm… akrab bagaimana? balas dian

nyatanya dari tadi kita ndak manggil mas-ade lagi jadi kelihatan labih akrab ucapku

eh… kamu sendiri bangun ndak manggil dengan sebutan ade, ya aku ndak manggil dengan sebutan mas balasnya tanpa memandangku

kamu marah aku tinggal semalaman? balasku

enggak… balasnya dengan senyum mengembang

terus kenapa? ada yang kamu pikirkan? ucapku

ada… balasnya singkat tanpa memandangku

apa? ucapku singkat sambil memandangnya, dia kemudian menoleh kearahku

kamu… cup… ucapnya sambil mengecup pipiku

terima kasiiiiiih…. enakan mana mas-ade atau begini saja? ucapku

terserah kamu… ucapnya

kelihatannya lagi ndak pengen manja ya? jadi ndak mau mas-ade? Kalau ndak mas-ade berarti ndak boleh manja lho… He he he he godaku, mendengar ucapanku dian meletakan cangkirnya dikarpet bawah

arghhh…. ndak mau, mau mas-ade, mau arya-dian, tapi harus ada kata sayangnya terus kalau manja ya terserah akunya mau manggilnya pakai apa ya pokoknya boleh ucapnya sambil memelukku dan menarik hidungku

Aewaew iyee saket ini hidihunghkhu… sudah sudah nanti ini tehnya tumphah… ucapku dengan kedua tangan terangkat ke atas

boleh manja ucapnya judes sambil kedua matanya terlihat mendelik kearahku

ndak boleh balasku sambil memandangnya, lidahku melet

boleeeeeeeh.. ucapnya dengan wajah semakin mendekat, terlihat wajahnya malah berubah manja

ndak boleh balasku lagi

ugh bau, mandi dulu, belum mandi besar lagi habis keluar semalem hiiiiiii ucapnya sambil mundur kebelakang, ketika bibirnya sudah sangat dekat dengan bibirku

iya ya, lagian juga, tadi ndak dibangunin balasku sambil meletekan cangkir di karpet

kamu kelihatan capeeek sayaaaaaangku balasnya sambil menarik pipiku

iiih genit deh, sakit tahu balas mengecup pipiku dan langsung lari menuju kamar mandi

biarin! Dasar jelek ucapnya

huuuuuu…. ucapku

Bersambung