Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 71

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 71 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 70

Ternyata punya pacar tidak selamanya di penjara. Nyatanya aku masih bisa main sama teman-temanku, mungkin dian sadar kalau aku juga butuh sahabat untuk berbagi. Argh, begitu beruntungnya aku. Tapi kenapa tiba-tiba ya? nantilah aku telepon lagi, ku save nomor dian. Ku arahkan motorku ke arah warung wongso, disana sudah ada anton dan dewo.

WEIDIYAAAAAN (GILA) dah punya pacar nih ucap dewo

mas arya, peluk aku dong… ku pengen dipeluk ucap anton dengan gaya cewek

iya sayang aku peluk sini, ARYA CINTA DIAN! timpal dewo dan kemudian sedikit berteriak meneriakan apa yang pernah aku teriakan di depan warung

Ah, matamu su (njing)… biasa saja kali bro, kalian kan juga sudah punya. Masa aku ndak boleh punya? ucapku sambil berjalan menuju ke arah mereka

tapi lebay-nya itu lho ha ha ha ha balas wongso yang keluar dari warung karena mendengar keramaian

Mas, dimasukin saja ah… masuk mas… goda dewo

gundulmu, emang aku seperti kamu leng (leng = celeng = babi hutan) balasku

Oooooo lha bocah! Apa ndak ada kata-kata yang sopan lagi heh! teriak ibu wongso dari dalam warung yang mendorong wongso kedepan

AMPUUUUUUUN NDORO PUTRI! ucap kami bersamaan

kalian ngomong ndak sopan lagi ibuk giles pakai ulekan! ucap ibu wongso

inggih (iya) ndoro putri balas kami, setelahnya ibu wongso masuk ke dalam rumah

Kami kemudian ngobrol, senampan teh panas diantarkan oleh asmi satu persatu mulali meningkatkan gas pemicu pemanasan global. Canda dan gurau kami berbalas dari masing-masing. Beberapa koplak tidak bisa datang karena mungkin banyak kesibukan, keberuntunganku saja bisa bertemu mereka bertiga. Dewo tiba-tiba melakukan foto selfie dengan memperlihatkan kami bertiga bersamanya.

ngapain selfie? Kaya ababil saja kamu wo ucap wongso

alah, sekali-kali kenapa? ucap dewo yang kemudian sibuk dengan Smartphonenya

Lha kamu kenapa nton? Pakai ngrekam suara kita segala? Mau kamu laporin ke teman-teman kamu? tanyaku

enggak ini lebih darurat daripada temen, penting bro ucap anton yang kemudian sibuk dengan Smartphonenya juga

Selang beberapa saat mereka memasukan Smartphonenya. Tiba-tiba aku teringat akan kata-kata ayah kembali, dan…

bro, ada yang janggal tadi waktu aku ketemu sama ayahku ucapku, kemudian aku menceritakan percakapanku dengan ayahku ketika mengambil barang dirumah

ada yang aneh memang, apa mungkin pertemuannya akan diajukan? ucap anton

lha ada kabar dari si buku? ucapku

kalau dari sibuku belum ada, dia ada ditempat yang aman. Sedangkan ara, sudah aku posisikan untuk melakukan aktifitasnya seperti biasa dan tentunya aku suruh dia pasang wajah sedih setiap harinya. Tidak boleh bercanda ataupun memperlihatkan perasaan biasa-biasa saja atas ketidak adanya ayah angkatnya itu ucap anton

wah keren juga kamu nton, sampai segitunya menyetting orang ucap wongso

kalau tidak begitu, ara bisa saja diculik. Kemarin ara didatangi seseorang ucap anton

si siapa nton? ucapku

hantukah? ucap dewo

dewa mabuk! Ini serius ucap wongso

aku tidak tahu jelasnya, ketika itu ara bercerita kalau dia didatangi orang yang tidak dikenal. Menanyakan ayah angkatnya itu, tapi karena dari awal sudah aku atur. Ara menunjukan perasaan sedihnya, bahkan menurut penuturan ara, lelaki itu sangat percaya dengan aktingnya.

Bahkan ara sempat menangis dan memohon kepada lelaki itu untuk menemukan ayahnya. Setelah itu semua terjadi tidak ada lagi gerak-gerik mencurigakan yang terjadi pada ara. Kami yang merasa kecolongan karena tidak mengawasi ara merasa lega dan sekarang ara aman, karena kita sudah mengirim empat orang secara bergantian untuk mengawasi ara ucap anton

oia cat, ada kabar dari rani? ucap wongso

belum ada kabar, ada sebuah pesan yang dikirimkan ke Smartphone ayahku dan ibuku membacanya ucapku kemudian menceritakan isi dari pesan yang masuk. Semua kemudian hening dan terdiam.

darah dan sisanya… ucap wongso

kalau minum darah ndak mungkin ya? mereka kan bukan drakula, masa iya minum darah mereka… hiii ngeri dah, gimana ngrasainnya ucap dewo. Anton tiba-tiba terhenyak dan memukul bahu dewo yang sedang mengankat gelas berisi teh hangat

makasih wo! teriak anton

uhuk wasu celeng! Alon-alon (pelan-pelan) to ndes! ucap dewo yang tehnya tupah kemana-mana

kamu menemukan sesuatu ton? ucapku dan wongso bersamaan

begini, maksud dari darah dan sisa adalah mungkin eri akan diambil dulu keperawanannya dan sisanya akan dilemparkan ke ayah arya dan temannya itu ucap anton

Membuat mataku terbelalak seakan tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Kami semuanya terdiam tidak tahu harus berbuat apa, tak ada pesan dari rani ataupun telepon darinya. Bagaimana mungkin kami bisa mencegah itu semua jika tak ada satu orang pun diantara kami yang mengetahui keberadaan Eri.

Aku kirimkan pesan ke rani mungkin saja akan ada jawaban dari rani. Tapi lama kami menunggu sambil mengobrol kesana kemari pun juga tidak ada balasan dari rani. Seperti kapal bajak laut tanpa kompas tak tahu harus berbuat apa.

ah, sudahlah itu hanya perkiraan saja. Kalau ada yang tidak beres pastinya rani akan telepon kita kan? Ucap dewo menenangkan kami semua

benar juga ya, kenapa juga kita seperti orang ling-lung ha… hahaha… ucap wongso

iya ya… ha….. hahaha ucapku

dasar ketawa nggak ikhlas kalian ha ha ha ha ucap anton

Kami kembali ke asal kami, masa bodoh dengan urusan yang tidak jelas sama sekali. Kami kembali ngobrol menemani malam yang sudah semakin dingin. Canda gurau selalu bersama kami walau kami tahu dalam hati masing-masing dari kami semua sedang dalam kebingungan.

Lawakan dewo, selalu dibalas dengan lelucon dari anton, aku pun tak mau kalah dengan mereka berdua. Apalagi wongso yang juga tidak mau ketinggalan.

Tringting…. ringtone sms

From : Dian Angel Rahmawati
Mas pulang sudah malam,
lama sekali ngumpulnya

To : Dian Angel Rahmawati
Iya ade, bentar gih

From : Dian Angel Rahmawati
CEPET!

Langsug kubalas sekenannya, widih ini cewek ternyata galak juga. Baru saja sampai di warung wongso jam delapan malam. Kumpul baru satu setengah jam sudah disuruh pulang, bagaimana nanti kalau dia jadi istriku? Bisa jadi aku ndak bisa keluar-keluar? Haduuuuuuuh tapi tak apalah kalau ndak boleh keluar, mending tak masuki saja si dian kalau sudah aku nikahi. Senyum cengengesan karena membaca sms dan membayangkan hal yang lain membuat aku dibully oleh mereka berempat.

Sms dari pacar tuh…. ucap dewo

baru Lejom bro, maklum ha ha ha ucap wongso

apaan lejom? ucap anton

lepas jomblo ha ha ha ucap wongso diikuti gelak tawa mereka berdua

ah sialan kalian, memangnya kalian ndak pernah ngrasain apa? ucapku

ya pernah sih, malahan waktu itu si asmi ck ck ck… sssstttt… aku lagi BAB saja ditungguin di depan pintu. Risih sebenarnya tapi mau bagaimana lagi? ucap wongso berbisik

beneran itu wong? Saking cintanya sama kamu ya wong tanyaku dan wongso menganggukan kepala

Parah lagi si dewi bro… sssstttt…. kemanapun aku pergi harus ngirim foto aku bareng sama teman-teman. Bahkan kalau aku lagi keluar daerah, semua harus aku foto dengan sudut pandang yang berbeda. Takutnya kalau foto perjalanan sebelumnya aku kirim ulang ucap dewo

hah?! Kamu kan bisa foto beberapa tempat dengan sudut pandang yang berbeda? ucapku

aku dulu mikir kaya gitu buat bohongin dia, tapi setelah ketemu isi Smartphone di geledah semua bro. Dilihat detail gambar, kalau ndak ada gambar yang sama gimana coba? Aku pernah gitu satu kali dan yah… ngambek satu minggu bro si dewi, bahkan aku datang kerumahnya saja malah dikasih fotonya dia, dianya masuk ke kamar.

terus kalau aku pulang karena jengkel, dia bakalan marah lebih lama! Gila nggak?! ucap dewo

berarti nasib kita sama… si anti juga seperti itu, tapi bedanya aku harus rekam suara percakapan kalian per jamnya dan aku kirimkan via email. Kalau sudah bareng, ndak boleh lepas gandengan. Mau BAB saja aku senasib sama wongso ucap anton

tapi kalian betah? tanyaku keheranan

YA BETAHLAH BRO! NAMANYA JUGA CINTA! ucap mereka bertiga serempak

kalau ndak ada asmi mungkin sama halnya aku ndak ada koplak. Bisa hancur masa depanku, dia yang selalu mendampingiku bro. Seandainya tidak ada dia, mana mungkin warung ini bisa jalan. Kalian tahu semenjak kebakaran itu fisik ibu sedikit melemah, tapi asmi yang menyediakan semua kebutuhan ibu.

Dari mandi sampai BAB saja asmi yang ngurus, dari sakit menjadi sehat juga asmi yang ngurus. Jadinya ya, aku termasuk suami-suami takut istri tapi ya tidak sepenuhnya takut, karena aku juga laki-laki. Asmi paling takut kalau aku marah… ucap wongso

kalau aku, kalau ndak ada anti ya, duniaku bisa-bisa hambar. Seposesifnya dia, tetap saja dia yang number one. Karena jarang ada cewek seperti anti yang mau menerima segala kekuranganku semenjak SMA.

Kalian tahu sendiri kan aku dari keluarga yang biasa-biasa saja, dan yang paling aku suka dia hanya dandan kalau ada aku walau sebenarnya ndak dandan pun dia tetap cantik. Pernah aku mengintainya, ada beberapa cowok mendekatinya lebih tajir dari aku, dia nolak.

Bahkan kalau keluar ketika ndak bareng aku dandanannya biasa saja, tapi kalau pas ada aku wuiiiiih…. cuantiknya, setiap kali selesai jalan-jalan langsung aku tubruk ugh.. mangsatbz! ucap anton

kalau aku, dewiiii engkaulah… pujaan hatiku huoooooo…. seorang dewo tanpa dewi, well goodbye my life… kenapa aku bisa berhenti dari kebiasaan minumku, karena dewi. Kenapa aku tidak sebrutal dulu juga karena kamu yang mempertemukan aku dengan dewi ar, dia itu ugh… aku selalu bertekuk lutut dihadapannya.

Apalagi hiks hiks hiks kalau dia sudah buka baju dan celananya, aku… aku hiks hiks hiks ndak tahan ucap dewo dengan gaya orang menangis

Benarkah yang mereka katakan tentang pacar-pacarnya?

hei ar, kita itu seperti hewan liar… kamu masih ingatkan bagaimana kita dulu? Nah mereka pacar-pacar kita adalah pawang kita. Coba kamu lihat si hermawan, berapa kali dia ganti-ganti pacar? Kalau dia tidak ketemu sama Hermi, jomblo dia. Cuma hermi yang bisa menjinakan hermawan. Seperti halnya aku, anton dan dewo ucap wongso

dan satu hal lagi cat, aku memang dari dulu senang ketika kamu dekat dengan dian. karena dian yang akan menjinakan keganasanmu diluar, aku ndak pengen kamu membabi buta kaya dulu lagi ar ucap anton

benar tuh cat, coba dian suruh telanjang mungkin kamu akan menemukan sesuatu didalamnya ha ha ha ucap dewo

dasar ngeres! ucap anton dan wongso

Aku tersenyum melihat mereka, aku sendiri juga sudah mulai merasakan hal yang sama seperti mereka. preman-preman yang takut pada istrinya, tapi jika dilihat dari pernyataan mereka bukan takut dalam artian sebenarnya.

Takut karena memang mereka ingin selalu bersama dengan pasangan mereka. sama halnya pasangan mereka takut akan kehilangan mereka.

oke bro,terima kasih buat share-nya… mau pulang dulu ucapku

mau pulang ke dian? betul kan? ucap wongso

iya, kok tahu? ucapku

lha itu tas segede trailer kamu bawa ha ha ha

aku juga pulang dulu ucap anton

aku juga, sudah ada warning nih ucap dewo

maaaas, tanganku gatel, garukin! ucap asmi dari dalam

iya dindaku… ucap wongso yang langsung mendekati asmi kedalam warung, sambil mengacungkan jempol dan mempersilahkan kami pulang

Kami melihat itu hanya tersenyum, teringat ketika dian memintaku menggarukan kakinya yang gatal. Aku kemudian berpisah dengan koplak menuju rumah, dalam perjalanan aku senyum-senyum sendiri mengingat cerita mereka. tak terasa aku telah sampai di rumah dian. aku masukan motor dan masuk ke dalam rumah, maklum sudah punya kunci serepnya.

adeeee… teriakku pelan memanggil ketika menutup pintu depan. Tak ada balasan dari dalam, aku kembali melangkah ke dalam rumah kudapati dian sedang menonton televisi

kok diem de? ucapku sambil berlutut bersandar pada bagian samping sofa dimana dian berada didepanku

ndak usah pulang sekalian saja! ucap dian

eh… waduh dia marah bathinku

maaf-maaf namanya juga kumpul-kumpul, dah lama ndak kumpul sayang. Senyum dong sayang ucapku merayu

iiih… sudah dikasih waktu buat main malah pulangnya malam, jelek jelek jelek ucapnya sambil mencubit lenganku

ouch… sakiiit ade… balasku pelan

awas kalau besok-besok lagi pulang larut malam. Maem dulu mas ucapnya sambil berdiri menuju ke dapur.

Aku tersenyum ketika melihat tingkah dian. wanita dengan tank-top hitam dan celana payet berwarna hitam tapi ada yang aneh hmmm… aku mencoba mengamati lebih detail lagi. Akhirnya aku menemukannya, kenapa dadanya sekarang tampak lebih besar ya? hmmm… apa perlu aku menanyakannya? Aku kemudian ke dapur dan makan malam bersama dian.

ade tuh dah lapar, mas disuruh main maksudnya biar ade bisa masakin mas. Malah mas pulangnya malam banget ucap dian

he he he maaf ndak tahu… ucapku

besok besok lagi kalau main dibatesi, mas sudah punya pacar. Dan pulangnya harus kesini, pokoknya kesini ucapnya dengan wajah ngambek

uke… jawabku cengengesan

Kenapa sekarang aku seperti memiliki istri ya? padahal belum juga disahkan oleh KUA. Tapi tak apalah, semua pasti ada jalan kedepannya. Aku tidak ingin tergesa-gesa seperti koplak yang lain. Aku sudah pernah merasakannya dan untuk yang satu ini, nanti dulu.

Setelah selesai makan malam, aku membantu dian memebersihkan meja makan dan piring dicuci. Aku kemudian ke kamar mandi karena perutku terasa sangat mulas, sedari pagi belum setor. Memang benar-benar enak kalau BAB, tapi sayang tidak ada rokok yang menemaniku. Lama aku didalam kamar mandi.

Maaaaaas ngapain sih lama banget didalam kamar mandi? ucap dian dari balik pintu

Sial! Kenapa nasibku sama seperti wongso dan anton bathinku

lagi BAB sayang, perut mas sakit ucapku

BAB lama, pasti sambil mainan Hape! ucap dian

ndak mainaaan, Hp mas ada di kantong jaket dilihat deh ucapku

cepetan! Ade ngantuk! bentak dian

iya sebentar balasku

Segera aku membersihkan diriku, muka, dan gosok gigi. Selama membersihkan diri, pikiranku terus melayang kenapa dian bertingkah seperti ini ya? mungkin karena memang aku harus diseperti inikan. Tak apalah, aku akan menikmatinya. Aku kemudian keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamar, kulihat dian mencembungkan pipinya didepan pintu kamar.

tanpa ngomong apa-apa dia langsung masuk ke kamar. sebenarnya wanita itu lebih dewasa atau lebih kekanak-kanakan ya? kenapa dia bisa semanja itu? dikamar aku langsung berganti celana dari balik pintu almari, kulihat dian sudah memejamkan mata dengan memeluk guling. Aku bergerak dibelakangnya dan memeluknya dari belakang.

met bobo sayang ucapku tanpa canggung

bodoh! ucapnya dan aku hanya tersenyum mendengarnya

mas… ucapnya

apa? balasku

mas ndak malu kan pacaran sama cewek yang lebih tua? ucapnya

ndak, memang kenapa? ucapku

ndak papa… hi hi ucapnya dengan tawa kecil

ade, apa ndak papa kalau mas tidur dirumah ade terus. Secara kita kan belum… ucapku tidak melanjutkan

ndak papa… ade ndak mau jauh lagi dari mas, dan ini salah satu cara agar ade bisa ngawasi mas… to fix you jawabnya

terima kasih… ucapku

Aku memeluknya dan kami terlelap dalam tidur. Aku merasa seperti seorang mahasiswa-mahasiswa lainnya, yang kadang tidur di kos-an pacarnya. Tidur dirumah pacarnya atas seijin orang tuanya, dilayani layaknya seorang suami. Hmmm… begitu beruntungnya aku.

Jika dilihat kembali, beberapa teman kuliahku juga ada yang seperti aku sekarang ini, tapi entahlah mereka memang sayang atau hanya mencari kehangatan. Tapi yang jelas aku disini, karena aku tidak ingin jauh darinya, aku ingin selalu dekat dengan dian. malaikatku…

Tepat pukul 04:30…

ade bangun yuk ucapku sambil menggoyang pelan tubuhnya

erghhh… jam berapa memangnya mas? Ergh.. hoaaam… jawabnya sambil menguap dengan punggung tangan kirinya menutupi mulutnya

eeee… jam setengah lima pagi, yuk bangun… ucapku

heem… sebentar uuuughhh… mmmm aaahhh… jawabnya

Setelahnya kami mencuci muka dan melakukan aktifitas yang seharusnya. Kira-kira satu jam setelah aku dan dian bangun, kami melakukan tea time bersama di pekarangan rumah, dimana aku duduk di bawah dan dian diatas tepat dibelakangku. Kami bercengkrama layaknya seorang suami dan istrinya, membicarakan hal yang tidak perlu dibicarakan.

Nothing else mateeer….. (Metallica). Ringtone.

Kami berdua langsung menoleh ke dalam rumah.

mas angkat dulu ya? ucapku

heem… ade tunggu di sini saja jawabnya

Aku beranjak dan berjalan ke arah Smartphoneku yang tergeletak didepan TV. Kulihat sebuah nama yang semalam aku kirimi pesan. Rani. Aku mengangkat telepon rani dengan duduk disofa.

Halo ran …

kakak… hiks eriiii kak

ah… eri… eh eri… eri ke kenapa? (aku sedikit gugup)

hiks hiks hiks eri ini dibawa

maksunya bagaimana? Kamu jangan nangis dulu dong… ah… kakak jadi gugup

gimana mau tenang hiks eri ini lagi perjalanan pulang kerumahnya, kemarin sore aku telepon eri, kalau eri hiks dibawa pulang lagi kerumahnya

terus?

iiih kakak terus terus hiks hiks hiks eri itu dibawa pulang, mau digilir sama bapaknya plus anak buahnya hiks hiks

ka kamu ndak bercanda kan ran? Jangan bohong!

iiih kakak hiks beneran, eri kemarin aku telepon pakai nomor lain. Makanya rani telepon kakak sekarang. Semalam rani nyoba hubungi eri pakai nomor baru baru pagi ini ganti nomor lagi dan sms kakak baru masuk (dian datang dan duduk di sampingku, melihatku dengan serius)

oke… kapan kira-kira eri berada dirumah?

kemungkinan hari ini hiks hiks hiks

kamu jangan nangis dulu adik kecil, kalau kamu nangis terus kakak malah tambah galau (dian tiba-tiba memasang wajah ngambeknya dengan pipi yang mencembung)

kakak, hiks gimana ndak mau nangis hiks hiks hiks eri kak… eri hiks (aku tarik kepala dian dan aku rebahkan di dadaku, tangan kananku mengelus kepalanya)

okay gini, kamu telepon eri nanti siang. Kabari kakak, dan telepon kakak kamu secepatnya okay? Ndak usah sering ganti nomor biar kakak ndak bingung hubungi kamu, setelah ini kamu berikan nomor baru kamu ke kakak, sementara kamu gunakan nomor baru saja okay?

iya kak… hiks hiks hiks hiks pokoknya kakak bantu eri, rani ndak mau kehilangan eri kak hiks hiks

iya adik manis, sudah kamu tenang saja okay?

Iya kak, nanti rani kabari kakak hiks hiks hiks hiks lha ini kakak dimana? Kakak ndak pernah tanya-tanya kabar rani hiks jahat! Punya adik tapi ndak pernah diperhatikan

e… kakak kemarin ada masalah, sekarang kakak sudah punya pacar, ini sekarang kakak di rumah pacar kakak…

kakak sudah punya pacar hiks terus adiknya dilupakan gitu jahat… sudah jadian ndak bilang-bilang sama adiknya, kan rani juga perlu tahu cocok apa ndaknya hiks pokoknya rani ndak mau tahu, walaupun kakak sudah punya pacar, kakak harus selamatkan eri… hiks hiks hiks

iya maafin kakak ndak kasih kabar atau tanya-tanya kabar ke kamu, sebe… (teleponku direbut oleh dian, kemudian loudspeaker diaktifkan)

halo, ini rani ya?

eh.. ini siapa? Hiks hiks hiks

sudah jangan nangis dulu sayang… ini dian, maafin kakak kamu ya ndak pernah tanya kabar kamu

hiks hiks hiks ini pacarnya kakak ya?

iya…

mbak dian hiks ndak boleh rebut kak arya dari rani sama eri hiks hiks hiks

eh ndak rebut kak arya dari rani sama eri… kan kak arya ada untuk kalian juga kan? Ya mungkin kak arya baru sibuk kemarin jadi ndak bisa tanya-tanya kabar…

hiks hiks hiks iya mbak hiks hiks hiks… mbak dian, pokoknya itu kakak suruh nolong eri mbak, pokoknya harus hiks hiks hiks

iya iya pasti kok, nanti mbak yang bilang sama kakak kamu (kenapa jadi sok akrab begini mereka berdua?)

makasih mbak hiks hiks hiks

sudah jangan nangis ya, nanti manisnya hilang

huum mbak, mbak kok mau sama kak arya?

jelek sih jadinya mbak mau hi hi hi sudah pokoknya kamu tenangkan diri kamu ya, dan kasih kabar kakak kamu, okay?

huum mbak, kak arya emang jelek itu… mbak… rani mau minta tolong…

iya, minta tolong apa?

pukulin kakak yang keras! Hiks hiks hiks

ya ndak boleh dong, sudah kamu jangan nangis terus ya (aku hanya bisa melihat mereka berdua bercengkrama)

huum… mbak….

iya…

walau aku bukan adik kandung kak arya, aku juga disayang ya, pengen punya kakak perempuan hiks hiks hiks

eh… iya sayang

ya sudah kak, rani mau ganti nomor dulu, mungkin eri menghubungi rani hiks hiks hiks salam jitak buat kak arya mbak hiks hiks hiks jahat banget…

iya, sabar ya… nanti mbak yang ngomong sama kak arya…

huum tuuuut

Telepon ditutup, dian memandangku dengan tajam. Aku memandangnya sebentar kemudian rebah bersandar pada sofa. pandanganku ke atas, seakan tak percaya baru saja tadi malam aku membicarakannya dengan wongso, anton, dewo dan sekarang eri muncul kembali ke permukaan. Informasi yang kurang jelas membuatku semakin gelisah.

Ada apa to mas sebenarnya? ucap dian lembut

ahhhhh… aku bangkit dari bersandarku

rani, adalah teman KKN-ku, dan eri juga…

mereka berdua… ahhh… erghhhhhhh…. ucapku sambil menggosok-gosok rambutku bingung harus memulai dari mana

Dian bangkit dari duduknya dan bersimpuh dibawahku. Diapitkannya kedua lututku, dagunya direbahkan diatas kedua tangan yang sudah ditata diatas lututku. Pandangannya menusuk mataku, aku semakin terhanyut ke dalam senyum manisnya. kusatukan keningku dengan kepalanya.

mungkin sudah saatnya kamu tahu semuanya… ucapku

heem… balasnya tersenyum dengan mata menyipit

Aku harap kamu mau mengerti, hufttthhh…. ucapku

heem… balasnya kembali

ergh… ceritanya dari awal atau hanya tentang rani saja? balasku yang bingung harus menceritakan semuanya

terserah mas… ucapnya lembut dengan senyumannya

baiklah, akan mas ceritakan semua dari awal. Dari semua yang mas lakukan, dan tak akan mas tutupi lagi kisah kotor mas… ucapku

sssst… mau kotor atau tidak, itu adalah masa lalu… balasnya

Aku sebenarnya bingung memulai dari mana cerita bodohku ini, ini semua karena memang penulis yang memposisikan aku seperti sekarang ini. aku ceritakan bagaimana aku memulai cerita bodohku. Di awali dari hubunganku dengan ibu, yang aku ceritakan tidak sedetail dengan kejadian namun itu sudah membut dian tertunduk dan memperlihatkan wajah sedihnya.

Tak tega aku melanjutkan ceritaku namun dian memandangku kembali dan meremas tanganku untu melanjutkan apa yang seharusnya dia ketahui tentang diriku. Kulanjutkan ceritaku menuju ke saksi yang terbunuh bernama Kaiman Supraja, yang kemudian aku tahu dia adalah Ayah dari mbak erlina.

Cerita bagaimana dian memberiku petunjuk sewaktu aku sedang buntu dalam memecahkan teka-teki. Tante ima, Ibu dari Rahman juga memberiku petunjuk mengenai semua teka-teki ini yang disisi lain juga merupakan sahabat dari Ibuku.

Bersambung