Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 70

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 70 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 69

Masa bodoh,kalau cinta, dunia milik kami berdua yang lain harus bayar uang sewa. Tak terasa perjalananku akhirnya sampai di gerabang perumahan ELITE, dengan santai satpam keluar dari posnya dan langsung mengijinkan aku masuk.

Sesampainya di depan rumah bu dian kumatikan motorku, bu dian kemudian turun tapi sebelumnya mengecup leherku. Dengan cepat bu dian membuka pintu gerbang rumahnya, aku memandangnya dengan takjub akan kecantikan wanita ini.

Mas.. dimasukin… ucapnya,

eh… aku pulang saja ade…. kan udah malam balasku, tiba-tiba dia jongkok menutupkan wajahnya di lipatan lututnya

Sudah sana pulang… pergi saja! Ndak usah kembali lagi ucapnya yang sangat terlihat marah, apakah ini maksud dari kata-kata tadi kalau mas bareng ade, ade mau pulang. Dasar laki-laki kurang peka terhadap perempuan.

Aku sebenarnya bingung juga, masa aku tidur dirumah dosenku. Tanpa pikir panjang aku nyalakan motorku dan kujalankan. Aku arahkan motorku ke dalam rumah bu dian, kulihat dian kembali berdiri dan tersenyum kepadaku.

Setelah masuk ke dalam aku segera aku turun dari motor dan kutarik pintu gerbang rumahnya dengan posisi dian masih di luar. Hanya kepalaku yang terlihat dari luar.

Maaf mbak mau nyari siapa? Ini sudah malam mbak… nyonya lagi tidur ucapku

Mas, apaan sih! Bukain pintunya… jawabnya sambil kedua tanganya menarik gagang pintu gerbang rumahnya

mbak tolong, nyonya sudah tidur, nanti kalau keganggu saya bisa dipecat mbak…godaku

maaaaaaaaaassss… eng eng eng… ucapnya sambil memukul-mukul pintu gerbangnya, kulihat dia sedikit akan menangis

iya… iya silahkan masuk ucapku dengan membuka pintu gerbang rumahnya

Dengan pipi yang mencembung, dian masuk. Wajahnya tampak sedikit judes ketika itu, marah mungkin karena ku goda. Segera aku tutup dan berbalik kerahnya, kulepas helmku dan mendekati wanita yang berdiri dihadapanku.

“jangan marah… ntar tambah cantik lho godaku dari belakangnya

berarti kalau senyum tambah jelek? ucapnya yang berbalik ke arahku

ndak juga, kalau marah tambah cantik berarti kalau senyum tambakh semakin cantik rayuku

iiih… gombal… dasar jelek! ucapnya

beneran jelek? balasku, dian hanya menjawab dengan gelengan kepalanya

peluk ucapnya

Aku maju dan kemudian memeluknya… ditariknya tanganku, dengan bergandengan kami berjalan menuju pintu rumahnya. Setelah pintu terbuka, dian kemudian masuk dan melepaskan gandengan tangannya. Dian berdiri didalam rumah dengan kedua tangan bertautan memandangku, kadang kakinya berjinjit-jinjit.

Selamat datang, sekarang ini rumah mas ucapnya sambil menunduk, aku letakan helmku di kursi teras rumahnya

permisi bu, saya mau bimbingan boleh? godaku kembali

iiih… mas… bercanda mulu! ucapnya yang kemudian bersedekap dan membuang muka

bimbingan cinta maksudnya lanjutku

heem… ucapnya dengan kedua tangan kembali bertautan dibelakang tubuhnya

Aku kemudian masuk dan kututup pintu rumahnya. Dian kemudian maju dan meraih kedua tanganku. Menariku masuk ke dalam kamarnya yang gelap. Ditinggalkannya aku tepat di pintu kamarnya. Dian kemudian masuk dan menyalakan kamarnya, aku begitu terkejut ketika lampu telah menyala. Benar-benar terkejut ketika melihatnya.

mas… mas kenapa? ucap dian

eh… ini? ucapku dengan hati yang menganga heran, aku melihat ke arah dian yang menautkan kedua tanganya di belakang tubuhnya. Kepalanya tertunduk dengan bibir yang tersungging ke atas

Ya seperti yang mas lihat hi hi … ucapnya sambil tersenyum nakal

Aku melangkah ke tengah kamarnya, dan kemudian berputar melihat semua dinding yang membuatku terkejut. Semuanya memang benar-benar membuatku sangat terkejut.

ini ketika aku masih bayi

ketika SD…

ini ketika aku SMP…

ini ketika aku bersama koplak ketika SMA

aku bersama kakek dan nenek

aku bersama om dan tante

aku bersama pak dhe dan bu dhe

aku bersama teman-teman kuliahku

Aku sendirian yang jelas itu adalah aku ketika sudah kuliah

kenapa semua foto-fotoku dia punya? bathinku

Ade… dari mana ade dapat foto-foto ini semua? ucapku

dari efbe ucapnya sambil tersenyum

Aku kembali memutar tubuhuku melihar semua foto-fotoku yang menempel di dinding kamarnya, semuanya sejak aku bayi hingga aku kuliah. Menempel teratur dan rapi didalam dinding kamar dian, Dian Rahmawati. Ah, memang benar aku mengupload semua foto-fotoku ke dalam jejaring soial tersebut. Benar-benar hal gila yang pernah aku lihat…

apakah benar ade yang melakukan ini semua ucapku sambil memegang kedua lengannya

huum… jawabnya,

Aku langsung memeluk tubuhnya, tubuh yang selama selalu mengaggumiku. Bahkan aku sebagai lelaki yang mengaguminya tidak pernah melakukan hal segila ini. aku memeluknya dengan sangat erat, seakan ingin aku remas tubuhnya dengan pelukanku.

seperti itulah ade, mas

seandainya mas tahu, sejak ade bertemu mas pertama kali di semester lima… semenjak itu ade tidak bisa melepaskan pikiran ade ke mas, sekalipun ade pernah terlena dengan felix untuk kedua kalinya, foto-foto itu tidak pernah sekalipun lepas dari dinding kamar ade.

Siapapun itu yang mendekati ade, semenjak ade menemukan mas kembali… foto itulah yang selalu mengingatkan ade akan hati yang dulu selalu menyanjung ade, menggandeng tangan ade. Ade tidak peduli tentang status mas tidak pernah peduli, sekalipun ade adalah dosen mas. Ade tetap cinta mas ucapnya sambil memelukku erat

terima kasih hiks hiks terima kasih… maafkan aku yang selalu menyakitimu… maaf hiks…. ucapku dengan dian dalam pelukanku. Kenapa aku yang menangis, hufth…

maafin ade juga ya mas.. jawabnya

hiks… tapi mas ndak nyangka kalau ade bisa seperti ini… jawabku sambil melepas pelukanku dan menatap kedua matanya yang juga mengalirkan air mata dipipinya

“sebenarnya ade mau nunjukin ke mas waktu mas dikejar-kejar sama orang-orang kemarin, tapi masnya ndak mau owk hiks… ucapnya

iya maafin mas ya adeku sayang… mas ndak akan jauh lagi, mas akan selalu dekat dengan ade ucapku

heem… harus… harus dekat terus ucapnya yang kembali kami berpelukan lagi

sudah jangan menangis lagi mas… ternyata mas lebih cengeng daripada ade hi hi hi ucapnya dalam pelukanku

ade yang bikin mas cengeng… hiks hiks hiks seneng banget mas… ucapku sambil melepaskan pelukanku dan memandangnya

Kami berdua berpandangan dan saling melempar senyum. Tak satupun dari kami melepaskan pandangan dari mata masing-masing. Benar-benar sesuatu yang membahagiakan, seperti orang baru menikah saja. Ku betet hidung mancungnya sambil aku goyang ke kanan dan kekiri. Dia hanya membalasku dengan senyuman dan saking gemasnya aku dengan dian aku menggoyangnya terlalu keras.

iih…sakhhheet mas… ucapnya dengan suara cempreng

habis gemas lihat ade…

ade… ade… ade… ade… ucapku

Dalem (iya) maaaaas… balasnya sambil tersenyum

Kami berpandangan lagi entah apa yang akan kami lakukan setelah ini…

bobo yuk mas, ade ngantuk… ucapnya

heem… balasku

Aku kemudian beranjak keluar dari kamarnya…

mas mau kemana? ucapnya

bobo diluar… balasku dengan wajah polosku

bobo sini, bareng adeeeee… ucapnya manja sekali

t… tt….tapi kan anu itu… ucapku, sambil melihat wajahnya yang jengkel

i.. iya bobo sini… ucapku, Dengan gugup dan kebingungan aku berjalan menuju tempat tidur daripada semakin membantahnya bisa-bisa dia ngambek lagi.

mau tidur pakai jaket mas? ucap dian sedikit menggodaku

ya seadanya saja balasku yang sekarang berada di samping tempat tidur menghadap ke tembok. Aku lepas jaketku dan hanya mengenakan kaos lengan pendek berwarna hitam

ni mas, pakai ini ucapnya, aku kemudian berbalik seektika itu, kuraih celana pendek yang diberikannya.

Dian kemudian berbal menuju ke arah almari pakiannya, entah kenapa bisa ada celana pendek disini. Dian kini berdiri tepat didepan almari pakaian, posisiku tepat disamping almari pakaiannya.

Tiba-tiba saja aku melamun memandang tubuhnya, dian yang entah kapan melepas jaket kaosnya itu terlihat sangat seksi sekali. Tubuhnya seperti halnya spanish-guitar patah, kenapa patah? Jelas karena kalau tidak patah leher dian pasti panang seperti jerapah. Segera aku berbalik lagi menghadap ke tembok dan bingung mau berganti celana dimana.

ganti disini saja mas ndak papa ucapnya memecah keheningan

eh… iya, ndak papa disini? ucapku

memang kenapa? balasnya

eh… iya… ucapku dengan gugup dan kebingungan,

Aku masih kebingungan dengan keadaan ini, bisa-bisa dedek arya bangun dan siap untuk perang. Aduh bagaimana ini? oke dia pacarku, oke dia kekasihku, oke aku sudah menyatakan cinta kepadanya tapi kan tidak langsung seperti ini.

apa dian ingin memberikan sesuatu kepadaku dengan perlakuan yang hangat darinya ini? aduh tidak, tidak aku belum siap. Belum siap? Aku kan sudah berpengalaman, tapi hmmm… bagaimana ini? Aku menghadap ke arah tembok di dekat tempat tidur yang penuh dengan per didalamnya. Aku kemudian lepas jeansku, sambil melirik-lirik kebelakang, dan segera aku pakai celana pendek dari dian. sret… sret… sret…

kalau sudah ganti mas bobo dulu ndak papa, ade mau cuci muka dulu, biar tambah cantik hi hi hi ucapnya, aku menoleh ke arahnya

ndak cuci juga sudah cantik balasku

iya sekali dua kali, kalau berkali-kali, mas mau ade jadi jelek? balasnya

benar juga ya, huum… ucapku

bener ade kan weeek…

dah mas bobo dulu saja, ade mau cuci muka dulu ucapnya sambil melet dan masuk ke kamar mandi yang juga berada didalam kamar mandi

eh iya… balasku memandang dian masuk ke kamar mandi,

Aku kebingungan dan benar-benar kebingungan dengan posisiku sekarang. Tidur dimana? Aduh aku jadi bingung, kalau sama cewek lain saja bisa langsung brak brik bruk tapi kalau dengan dian aku malah yang kebingungan. Aku benar-benar bingung…

Ade, mas kekamar mandi belakang dulu ya teriakku mendekat ke pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca buram

mmmm…. myah…. balasnya

Kleeek….

masmmm mau nglokohk? ucapnya dengan kepala keluar dari pintu kamar mandi sambil menggosok gigi, aku hanya mengangguk melihat wanita cantik ini

nantifffhhhh… ucapnya dengan semburan busa pasta gigi, aku langsung mundur menghindarinya

mmaaffff… ucapnya yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi kembali, setelahnya dian keluar lagi dengan sedikit busa di bibirnya

mau ngrokok, nanti pas mau bobo gosok gigi dulu sama cuci muka, ade nggak suka bau rokok ucapnya dengan wajah ngambeknya

iya… ade…. iyaaaaa… ucapku

jangan lama-lama, ade dah ngantuk wajah ngambeknya semakin menjadi

iya ade, iyaaaa…. ucapku sambil membetet hidungnya, kami berdua kemudian tersenyum

Dian kembali ke dalam kamar mandi dan aku berjalan keluar kamar dian. Ketika hendak keluar dari kamar dian aku lihat poto aku dan ibu. seketika itu, aku berpikir mengenai kepura-puraan ibu sebelumnya. Apa ketika ibu berpura-pura jadi pacarku, dian sudah tahu ya? ah masa bodoh lah, aku ke dapur dan membuat minuman hangat.

Sebuah tatanan dapur khas wanita yang benar-benar rapi. Setiap botol bertuliskan isi dari botol tersbut, gula, garam, merica dan lain-lain. Tak sulit bagiku untuk membuat teh hangat ketika didapurnya, hampir sama dengan Ibu ketika dirumah semuanya diberi label agar tidak tertukar.

Dan yang jelas semua berwarna pink, putih dan warna-warna muda. Argh, dasar wanita semua harus terlihat cerah, secerah cinta dan senyum kaum hawa. Segelas teh hangat aku buat dan segera aku ke pekarangan rumah dan menyulut dunhill yang sudah aku ambil dari jaketku.

Kupandangi pekarangan rumah dian yang lumayan luas ini, aku benar-bnear tidak menyangka kalau aku akan bersamanya malam ini. Untuk kedua kalinya bersama perempuan dengan kulit gelap ketika itu. sebatang dunhill telah menemani lamunanku, kesekeliling dengan hembusan asap dari bibirku dan…

ssssshhhhhhh…….

what? Ternyata celana yang aku pakai berwarna pink? Berarti ini adalah celana dian?kenapa aku tidak menyadarinya sedari tadi? Tapi bagus juga, tak apalah hanya dian yang tahu kalau preman pakai celana dalam pink he he he he bathinku

Tak kusangka celana yang aku pakai bermodel celana boxer. Lucu juga warna pink. Sebatang dunhill masih menemaniku walau dirinya telah berubah menjadi setengah abu. Teh hangat buatan sendiri memang terasa enak tapi lebih enak mungkin jika dian yang membuatnya. Hmmm… pikiranku semakin menerawang dari setiap detik pertemuanku dengannya.

Oh iya? kenapa dia marah-marah ya waktu itu? tanyakan ke hati? Aduuuh… aku jug abingung jika harus menanyakan ke hati, hatiku sudah diambil olehnya masa aku ambil lagi. Aku angkat segelas teh hangat itu, dan…

MAAAAS! Bobo sudah malam! Ade sudah ngantuk! teriak dian dari dalam rumahnya

uhuk uhuk uhuk uhuk…. iya huk huk iya sebentar huk huk huk… ucapku terkejut dan tersedak oleh minumanku

cepetaaaaaaaan! BOBO! teriaknya dengan nada lebi keras dan sepertinya dia marah

uhk uhuk iya ade iya… ini sudah selesai ucapku

Sial, rokok masih 1 centimeter sudah diteriaki. Segera aku menghisap rokok itu hingga habis dan kuteguk minuman itu langsung. Aku beranjak dari tempatku duduk dan segera ke dapur dan kuletakan di tempat cucian.

Kalau gosok gigi ada di dapur, di bifet sebelah kanan gula, kalau cuci muka pakai sabun muka ade saja! teriaknya keras kelihatan sekali judesnya

iya… ade… iya… balasku dengan langkah cepat mengambil sikat gigi

cepetaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaan! Ade sudah ngantuk! teriaknya kembali dari dalam kamar

iya… ade… iya… balasku dengan segera aku ke kamar mandi

Gosok gigi… srk srk srk srksr k… kuluk kuluk kulul ah…..

Cuci muka, tangan, kaki… blup blup blup blup…. ahhhh….

Aku ambil handuk kecil yang sudah nangkring di gantungan kamar mandi. Dan aku usap muka sekaligus memngeringkan tangan dan kakiku. Segera aku ke kamar lagi, kulihat sepi dan hanya aku dengan gemericik air di kamar mandi.

Oh iya aku belum menceritakan tata letak kamar dian, ketika masuk ke dalam kamar dian disebelah kiri pojok ada kamar mandi. Tepat di depan pintu kamar mandi kurang lebih 2 meter ada tempat tidur yang bagian untuk kepala sejajar dengan pintu kamar mandi.

Bagian kiri dari pintu masuk kamar, ada dua buah almari pakaian. Sedangkan didepan pintu masuk kamar berjarak kurang lebih 3 meter lebih ada sebuah meja rias yang disebelahnya ada sebuah almari kecil. Disebelah kanan pintu masuk agak ketengah ada sofa dan TV dalam ruangan yang pada dinding sebelah kanan dihiasi oleh jendela dengan gorden pink berumbai-rumbai bunga.

Dengan garuk-garuk kepala sebenarnya aku ingin keluar dari kamar ini, tapi kalau aku keluar kamar pasti akan di hajar oleh omelan sang dewi ini. Daripada perang dunia, aku segera berjalan menuju ke arah sepring bet. Aku tidur disebelah kanan dengan tubuh miring ke arah kamar mandi.

Kleeeeeek….

Oh mas sudah masuk, ade kira masih ngrokok ucapnya

Deg… aku langsung sedikit membenamkan mukaku ke bantal..

Bugh… duing duingh duing…. sebuah benda keras menghantam ke kasur sepring bet ini. masih terasa goyangan pegas dalam kasur ini.

Mas ada apa? Hayooooo…. ucapnya

iiih… jangan ditutup terus mukanyaaa maaaaaaaaaaas ucapnya manja

mmmmm… mmmm mmmmm mmmmm jawabku

ih ndak denger, ndak tahu ucapnya

Aku membuka mukaku dan langsung dihadapanku sudah ada wajah dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Senyumnya manis, senyuman itu tidur menyamping menghadapku. Aku membalasnya tanpa berani melihat pada bagian bawah.

ada apa mas? tanya dian

eh… celana.. ucapku gugup

celana? Celana apa? tanyanya, aduuuuh… slah ngomong aku

ini, celana mas ndak ada yang warna selain pink? tanyaku mengalihkan pembicaraan

ndak ada, ada putih sama hitam tapi lagi dicuci, oooooo…. pasti bukan itu yang mau mas tanyakan kan? jawabnya, dengan jari memainkan ujung hidungku

itu kok yang mau mas tanyainmmmmm ucapku kembali membenamkan mukaku ke bantal

iiiih… buka! paksanya

iya iya ade… ugh… balasku, dan aku angkat wajahku kembali dan tepat dihadapanku sekarang dian sedang duduk dengan kaki berssimpuh. Aduh…

adeeee…. pakai celana dong ucapku yang memandang selangkagan yang hanya ditutup celana dalam itu, dan segera kualihkan pandanganku ke arah wajahnya

ndak ada celana mas, tuh kan mas pakai yang lain lagi dicuci balasnya santai

eh… ya sudah cepetan tidur ucapku segera mengakhiri pembicaraan dan membalikan badanku menghadap ke tembok

huh… ternyata ade jelek ya? ya sudah pacarin itu tembok! ucapnya judes kurasakan gerakan yang membuat kasur bergoyang, segera aku berbalik dan seketika itu wajah dian sudah didepanku

auch… sakit ade… ucapku hidungku dibetet

Kami saling berpandangan sebentar, tak kusangka sekarang aku satu ranjang dengan dosenku. Aku memang seharusnya berterima kasih dengan penulisku karena memposisikan aku seperti sekarang ini. seandainya bisa juga, tolong dimatikan juga semua karakter yang membuat aku pusing tanpa aku harus berlelah-lelah mengurusi mereka.

hatching…. sialan ada yang ngomongin nubie down hill

Aku memandangnya sekali lagi lebih dalam ke matanya. Kutelusupkan tangan kananku diantara leher dan kasur, sedang tangan kiriku menarik tubuhnya mendekat. Tanganya memelukku dan sekarang terasa sangat kenyal didadaku. Kepalanya tepat menghadap ke leherku.

endus endus ada bau vagina… apa?! Tidak jadi, kalau ini seijin dari kakak dedek arya

ade, mas boleh tanya ucapku sambil memeluknya

apa? ucapnya

itu ada foto mas sama ibu, apa ade suda tahu kalau ibu adalah ibunya mas waktu, ibu ngaku pacarnya mas? ucapku, kemudian tubuh dian berbalik membelakangiku, kupeluk perutnya dan didekapnya kedua tanganku oleh tangan kirinya

belum, Ade tahu itu setelah ade mengantar mas pulang, ade kembali ke rumah sakit. Disitu ade ngobrol sama tantenya mas. Pas mas nganter ade pulang, ade nyari-nyari di efbe mas, ketemu tante asih dan disitu ada foto mas dan mama. Jadi ade sebenarnya lega juga waktu itu jawabnya

tapi kenapa waktu itu… ucapku dipotong olehnya

ya, pura-pura aja hi hi hi tapi ya cemburu sih balasnya, aku hanya tersenyum mendengar jawabannya

terus… mmmm ucapku sedikit bingung memulainya

apaaaa? balasnya lembut

waktu marah-marah? tanyaku, kuberanikan diriku untuk bertanya

auuuuuuuhcccc…. teriaku karena tanganku diangkat dan digigitnya

mas itu, sejak mas ngomong yang ini itu dan buat ade nangis, terus mas pergi gitu saja. Ade itu kangen berat sama mas, mas sih ndak tahu rasanya. Dan tiba-tiba mas datang pas tahun baru, selain jengkel juga seneng banget mas bisa berduaan dengan mas.

Tapi setelahnya mas pergi, jadinya ade jengkel. Pengen ngobrol sama mas, tapi mas ndak pernah hubungi ade lagi. Pas mas hubungi ade ya seneng tapi kalau seneng pasti respon mas jadi kaku dan hilang lagi.

Makanya ade marah-marah, tapi maafin ade waktu itu kelewatan mas… namanya juga kangen… mas jahat! ucapnya sambil mendekap erat tanganku. Mendengar jawaban itu seperti orang bodoh yang tidak mau mengerti mengenai orang lain.

iya, maafin mas ya, sekarang mas sudah sama ade balasku

Tanganku diraihnya, dibukanya telapak tanganku dan diletakannya di buah dadanya, susunya… Antara ego dan nafsu akhirnya logikaku mencoba bertahan.

please… fix me ucapku

eh… but… jawabnya

selama mas bersama ade, mas pasti bisa ucapku

maaf, ade hanya berpikir dengan jalan itu mas bisa bersama ade terus. Maafin ade… tapi mas jangan main lagi diluar ya, janji sama ade ucapnya

janji, mas pasti bisa selama dengan ade… I Love you ucapku lirih

mee to honey jawabnya

yeah, i like that name honey balasku

Aku memeluknya dalam tidur lelapku. Aku mencium wangi rambutnya dalam tidur lelapku. Aku merasakan hangatnya dalam tidur lelapku.

Im happy… ucapnya

aku lebih bahagia lagi balasku

***

Di dalam sebuah rumah yang masuk dalam kategori mewah. Dua orang laki-laki sedang bercengkrama dengan seorang wanita setengah baya yang sangat cantik telanjang di bawah mereka. satu tangannya memegang penis dari seorang laki-laki tersebut dan mulutnya mengulum batang kemaluan yang satunya. Wanita yang bertelanjang dan memamkai sebuah ikat leher layaknya seekor biantang piaraan.

setelah pertemuan besar besok kita akan menguasai semuanya ucap laki-laki tambun tesebut

tapi keluargamu itu bisa menjadi penghalang ucap lelaki gempal

ah itu beres, nanti setelah pertemuan itu aku akan menghabisi mereka semua, tepat setelah mereka pulang liburan ucap laki-laki tambun

anak istrimu? ucap laki-laki gempal

aku akan menghabisi mereka juga ha ha ha jawab lelaki tambun itu

ha ha ha… memang rencana yang sempurna, bagaimana dengan wanita menyakitkan itu? ucap seorang lelaki gempal

kita akan lempar mereka bersama anak mereka, dan kita akan menikmati mereka juga jawab lelaki tambun

ingat, kalau kita bisa menguasai para bandar-bandar besar, kita juga bisa menguasai daerah ini. dan aparat keamanan yang keparat dan juga para pejabat tak akan berkutik. Sekali mereka tidak melindungi kita, kita bantai.

Akan kita buat daerah ini menjadi kekuasaan kita dan akan kita buat daerah ini sebagai negara meksikano kecil. We are the bos ha ha ha ha ucap lelaki tambun itu diikuti tawa lelaki gempal

Pandangan wanita berikat leher itu seakan tak percaya dengan apa rencana lelaki yang telah memperbudaknya. Dalam hatinya ingin sekali berteriak minta tolong dan lapor ke aparat keamanan tapi apa dayanya, bisa saja mereka telah disusupi oleh komplotan dari kedua laki-laki ini. Hanya terbesit sebuah harapan kepada seorang pemuda yang pernah menemuinya. Berharap dia bisa menghentikan aksi kedua laki-laki tersebut.

Kriiing kriiing kriiing….

ya halo jawab lelaki tambun

mungkin aku akan menikmati darah segar terlebih dahulu, kalian dapat sisa bagaimana? ucap seseorang dari telepon

Ha ha ha ha… yang penting masih sempit saja no problemo ucap lelaki tambun

ha ha ha ha ha… oke… oke… aku akan menjemputnya dulu, sampai jumpa tiga minggu lagi ucap lelaki dari dalam telepon. Tuuut.

bagaimana dengan orang itu? ucap lelaki gempal

kita akan habisi dia juga, hanya kita berdua yang akan berkuasa jawab lelaki tambun

HA HA HA HA HA HA HA HA HA HA… tawa kedua orang lelaki yang mengiris hati seorang wanita yang diperbudaknya.

———–

Matahari mulai merambat naik, memberi hari baru kepada siapa saja yang menyambutnya dengan senyum dan tawa. Sinarnya mulai memasuki dari lubang-lubang kecil rumah yang aku tinggali ini. kepalaku terasa sangat berat untuk bangun, kucoba membuka mata.

Segera aku duduk, ku garuk-garuk kepalak sambil sesekali menguap. Kulihat wanita yang semalam bersamaku tidak ada lagi disampingku. Kupandangi sekali lagi kamar yang menjadi tempat aku tidur ini. perasaan bangga tapi juga malu ketika harus melihat kembali foto-foto kenangan yang pernah aku unggah ke jejaring sosial.

Tawa dan senyum difoto itu membuatku teringat akan masa-masa indah tanpa ada yang harus dipermasalahkan. Kulirik jam dinding yang menempel indah di kamar ini, jam dinding bertuliskan arya pada titik pusat jam dinding. Aku hanya tersenyum melihat tulisan itu tapi…

Sial sudah jam 10, aduh kenapa tidak dibangunkan bathinku

Aku melangkah ke luar kamar dengan mengucek-ucek mataku tanpa melepaskan garukan di kepalaku. Langkahku terhenti ketika sampai didapur melihat seorang wanita memakai tang-top putih dan hanya bercelana dalam. Wanita itu sedang asyik meracik sayur dan bumbu untuk dimasak, tampak anggun sekali. Tak kusangka aku akan mempunyai seorang wanita secantik bersamaku.

hoaaaaaaaaam…. aku menguap

ih, mas sudah bangun ya? ucapnya tersenyum kepadaku

bu dian kenapa ndak bangunkan aku ucapku, kulihat wanita itu kembali ke aktifitasnya dan tak ada jawaban darinya

bu diaaaaan… ditanya malah diem saja to ucapku, tak ada respon darinya sama sekali.

Apa ada yang salah dengan apa yang aku ucapkan? Kenapa wannita ini malah diam dan wajahnya sedikit cemberut? Aku berpikir sambil melangkah mendekatinya, semakin dekat aku baru sadar.

Ayang… kenapa ndak bangunin mas? tanyaku yang berjarak kurang lebih satu meter darinya

Seketika itu wanita yang sedang asyik dengan acara masaknya melepaskan semua yang dia pegang dan berbalik kearahku sambil tersenyum lebar. Dia kemudian melompat kearahku, digantungkannya kedua tangannya ke leherku. Jelas sekali sekarang terlihat tank-top berenda pada bagian atasnya.

habis tadi ayang tidurnya lelap sekali ucap dian kepadaku

ya kan dibangunin subuh dong yang ucapku

Suka deh dipanggil ayang sama mas ucapnya, aku tersenyum dan kukecup keningnya

awas kalau tidak dikampus jangan panggil ade dengan sebutan itu ucapnya

iya… iya… ayang, adeku jawabku

ugh… bau sana, mandi dulu sayang… bauk ucapnya sambil memundurkan kepalanya dan menutup hidungnya

yee… bau bau gini ayang juga suka kan? ucapku

emang kalau sudah sayang, sudah cinta terus ndak mandi gitu? ucapnya

iya adeku sayang iya ucapku

Sekali lagi aku mengecup keningnya dan melepaskan pelukanku. Dian tersenyum dan kembali ke aktifitasnya sedangkan aku segera mandi. Tak kuhiraukan semua peralatan mandi dikamar mandi ini, semua aku pakai toh ini semua punya dian. ndak papalah bekas wanita cantik, lumayan. Kupakai kembali pakaianku dan keluar kamar mandi.

mas kaosnya diganti, di almari yang sebelah kiri sudah ada ucapnya dari dapur sambil menata makanan

ndak usah yang, ntar dikasih warna pink lagi weeeek ledekku

yeee dilihat dulu sana, masa pakai kaos kotor terus ucapnya

daripada ade, pakai itu-itu terus. Ndak paka celana lagi ucapku

nggak suka ade pakai begini? ucapnya

eh… suka sih tapi… kenapa dari semalam ndak pakai celana? ucapku

biasanya ade kalau dirumah juga ndak pernah pakai weeeek… dan biar mas betah dirumah ucapnya dengan wajah memerah dan membuang muka

heeh gitu saja ucapku spontan sambil berlalu dan menuju ke kamar

Aku membuka almari pakaian yang ditunjukan kepada dian. dan aku terkejut untuk kedua kalinya, kaos-kaos yang diletakan di hanger semuanya sama persis dengan kaos-kaos miliku juga sebuah celana jeans yang menggantung di hanger.

Semua kaos berwarna gelap, dan hanya sedikit corak pada kaos-kaos yangmenggantung. Celana jeans model cutbray berwarna abus-abu dan gelap. Ketika aku melihat kaos-kaos ini membuatku kembali ke masa-masa sebelum bertemu dian. aku pakai salah satunya dan kupakai celana jeans.

mas… ucap dian dari belakang membuatku terkejut

copot… ade nganggetin saja ucapku

yeee… mas saja yang lebay, ni celana dalamnya. Celana dalam mas dimasukan ke mesin cuci ucapnya

eh… aku menerima celana dalam yang masih berbungkus

itu ukurannya ada dua, ade kan ndak tahu ukurannya mas jadi tadi pagi ade belikan dua ukuran ucapnya

kenapa ndak bangunin mas saja, kasihan ade kan pasti malu beli celana dalam cowok ucapku

biasa saja kali… weeekk…. cepetan ganti, terus maem. Ndak usah pakai celana jeans panjang kenapa, itu ada celana jeans pendek kan ucapnya mengecup pipiku dan berputar meninggalkanku, pandanganku terus kearahnya hingga dian menghilang dibalik pintu

Setelah aku berganti pakaian, kubawa pakaian kotorku. Dian yang sudah menungguku sambil melihat televisi menunjukan letak mesin cuci. Setelahnya aku makan bersama dian, wanita ini memang dari atas kebawah mencoba memancing syahwatku.

Mungkin memang dia ingin melakukannya denganku, atau dian hanya ingin memancingku? Semalam aku sudah bisa menolaknya tapi kalau setiap hari seperti ini, huft semoga bisa semoga bisa. Aku ingin menikmatinya nanti kalau semuanya sudah selesai dan dia sah menjadi miliku. Kalau bisa?!

maem… aaak… ucap dian sambil mengambilkan sesuap nasi dan diarahkannya kemulutku

Ketika aku berganti menyuapinya dian malah tidak mau. Huh malah seperti anak kecil saja kalau begini. Aku hanya bisa mengikuti permainannya. Hingga selesai makan dian membersihkan dan aku membantunya sambil kita bercanda kesana kemari.

Kadang aku usapkan busa sabun ke pipinya, dian pun juga membalasnya. Jika di masukan ke guiness book of record mungkin ini adalah acara mencuci piring yang sangat lama walau akhirnya selesai juga.

Sambil nonton TV dian duduk minta dipeluk olehku yang duduk bersandar disofa depan TV

yang, anda gimana? tanyaku sambil menciumi rambutnya

hi hi hi… sok jago dia yang, sayang juga aneh dibilangin gitu sama anda malah ugh! ucapnya

auch… sakit sayang… jawabku

ade kan sudah tahu dia sebelumnya, ade sama anda kan cuma teman. Anda sendiri yang pdkt, kalau ade sudah bilang sama dia kalau kita cuma teman. Semenjak ngajak makan, ade selalu tidak mau tapi dianya selalu memaksa.

Lagi pula anda itu sudah pernah punya hubungan sama mbak erna, mbak erna sendiri yang bilang. Pas kemarin anda bilang gitu ke mas, setelahnya ade semprot anda mengenai hubungan dia sama mbak erna. Eh, dia-nya langsung kaya orang bloon gitu, dan akhirnya dia mengakuinya mas. Dan satu lagi… ucap dian sambil beranjak kemudian duduk, didekatkannya wajahnya ke wajahku

stay close! ucapnya dengan wajah judesnya

eh… i… iya… ade wajahnya kaya gitu, mas takut nih jawabku

hi hi hi biarin weeeek… ucapnya

Seharian aku bersama dian, mulali bercanda dan bergurau bersamanya. Ternyata di balik wajah judesnya tersimpan sifat manja yang tak kalah dengan seorang anak kecil. Benar-benar kewalahan aku dibuatnya.

Tapi menjadi cerita sendiri bagiku yang selama ini belum pernah sama sekali merasakan memiliki pacar. Itulah kenapa wanita selalu menyembunyikan sifat aslinya ketika dia bersama lelaki yang bukan miliknya. Wanita penuh misteri? Mungkin benar apa kata Bon Jovi, Shes Mystery dalam album yang Crush.

Maaaaaaaaas, gatel… ucapnya manja sambil mengangkat tangannya mendekatkan ke arahku yang duduk memeluknya

lha terus? balasku

garukin… ucapnya

jaded (manja)… balasku lirih

ndak suka? ucapnya sambil tanganku menggaruk pelan kulit yang selalu membuat tanganku terpeleset

ndak nyangka saja ade manja banget he he he padahal kalau dikampus hiiiii ucapku

oooo jadi kalau dikampus njengkelin gitu iya? heem… gitu? ucapnya dengan nada super judesnya

ndak judes kok, tapi banyak he he he ucapku

Langsung saja aku ditimpanya dengan bantal, tak berani aku membalasnya. Hanya mampu meringkuk di atas sofa. Dian, dian… Dari mau mengambil minum saja harus digendong, mau mandi harus digendong sampai ke dalam kamar mandi tapi akunya langsung keluar. Gatal saja, dia ndak mau garuk sendiri, minta digarukin. Hadeeeeeeh… dosenku dosenku.

Ade punya plestesien juga to? ucapku ketika kami bersantai didepan TV kembali

huum… kan ade suka game, tapi ya ndak suka-suka banget. Cuma buat refreshing saja, sekarang ndak mau main lagi. Dah ada yang bisa buat refreshing ucapnya

huh? Emangnya apa? ucapku

mas… kalau mas disini ade ndak perlu ngegame lagi hi hi hi ucapnya

Akhirnya aku main game pe-es juga bareng dian. dia duduk disofa atas tepat dibelakangku dan aku duduk dibawahnya. Kami main balapan sembari menikmati waktu kebersamaan bersamanya.

tadi mama telepon ucap dian

mama? tanyaku heran

ibunya mas ucapnya

ke Smartphone mas? balasku sambil kepalaku mendongak ke atas

ndak, ke telepon rumah ade. Mama bilang kalau mama sekarang sama tante ratna ucapnya mendekatkan wajahnya ke wjahku

eh… mas akan telepon ibu dulu, boleh? ucapku berbalik ke arahnya

ya boleh lah, masa ade nglarang mas buat nelepon mama. Tapi ingat lho… ucapnya sambil menggoyang jari telunjuk tangannya

heem… jawabku sambil tersenyum

Aku kemudian menelepon ibu dari telepon rumah dian. untung saja aku menyimpan nomor telepon tante ratna di Smartphoneku.

halo

tan, ni arya. ibu ada?

eh kamu mblo… mbak arya telelpon

halo

ibu, ibu dirumah tante ratna?

eh sayangnya ibu, iya kemarin setelah kamu keluar rumah. Ibu beres-beres terus berangkat ke tante ratna

owh… egh… (Dian memelukku dari belakang)

ada apa sayang?

ndak papa kok bu, ibu kok tahu nomor dian?

ehem… ehem… sudah ndak pakai kata bu nih? Dah jadian ya? hi hi hi…

yeee ibu ditanya malah ndak jawab

ya bisa dong, kan tinggal tanya developernya. Kan punya nenek kamu, lagian perumahan dian itu belum sepenuhnya selesai jadi gampang nyari tahunya. Pasti lagi dipeluk sama dian ya? (dian menarik pundakku dan menempelkan kupingnya)

iya, mah… hi hi hi (Dian menjawab)

eh sini.. sini ibu mau ngobrol lagi sama dian, mumpung kamunya ada disitu

apaan sih ibu (direbutnya telepon dan dian berdiri didepanku tangannya meraih tanganku agar memeluknya)

iya mah (dian)

jagain arya ya, bilang sama arya, ndak usah pulang kerumah kalau perlu rumahnya sekarang di rumah kamu ya sayang

iya mah, mas arya juga denger kok. Mah, mama bicara sama mas arya saja ya

iya, sayang

halo bu, tapi ibu ndak papa kan? (dian berbalik dan bersandar di meja telepon memandanngku sambil tersenyum, tanganku meremas tangannya)

ndak papa, ibu sudah sama tante ratna. Jaga dian ya

iya bu, tapi bu kalau arya dirumah dian apa dia tidak curiga?

sudah kamu tenang saja, ibu sudah telepon ke dia kalau arya akan kos demi memperlancar penelitiannya. Dan ingat kamu harus selalu hati-hati

ya bu

ya sudah, ibu mau bantu tante kamu dulu

iya bu

dah sayang

dah ibu tuuuut

Langsung saja dian memelukku, ada sedikit getir ketika mendengar suara ibu. rasanya aku ingin kembali tapi jika aku kembali tak akan ada perubahan dalam hidupku. Sekarang dianlah yang akan menjadi pendampingku dan ibu adalah ibu suri dikerajaanku. Dan aku harus segera menyelesaikan masalahku. Aku peluk dian dengan erat karena memang dialah waktu yang menghentikan semua kegilaanku

mas kelihatannya ada yang mas sembunyikan dari ade? ucap dian melepas pelukanku dan memandang kedua mataku

belum saatnya kamu tahu yang, nanti mas akan cerita tapi mas mau pulang dulu sore ini ambil pakaian dan beberapa file yang memang mas harus bawa ucapku

iya, mungkin belum saatnya ade tahu. Tapi mas, mas harus hati-hati, karena… sejak mas dikejar-kejar oleh orang-orang itu ade mulai khawatir kalau mas terlibat sesuatu ucapnya

ya, memang terlibat sesuatu tapi tenang saja ade, mas ndak papa, karena mereka tidak pernah tahu jatidiri mas. Yang penting mas akan selalu hati-hati karena skripsi mas belum selesai ntar di judesi lagi sama dosen mas candaku

iya… mmm… dosen mas kaya apa sih? tanyanya

cantik…. tapi…. ucapku

tapi apa? balasnya

judesnya minta ampun huh… dimarahin terus mas kalau bimbingan ucapku, sambil melirik ke arah matanya

oh gitu ya… hmmm… ya ya ya… cantik ya mas? Mmm… mas jangan kepincut sama dosen mas ya… ucapnya. Lho?

ya kalau dia mau sama mas bagaimana? ucapku

kan judes, kalau ade kan enggak. Pokoknya awas kalau mas main dibelakang ade, apalagi sama dosen mas itu ucapnya

ade itu ada-ada saja ucapku sambil menyentuhkan hidungku kehidungnya

Menjelang pukul 18:00, aku segera pulang dan diantar dian hingga ke gerbang pintu. Berbeda dengan dian didalam rumah, ketika dia keluar rumah dia tampak lebih anggun dengan pakaian longgarnya dan celana legging.

Kata hati-hati selalu terucap dari bibirnya dan sungguh membuatku sangat nyaman. Aku jalankan REVIA menuju ke rumahku, hingga aku tepat didepan rumah sudah ada mobil ayah yang terparkir di garasi. Pintu rumah terbuka, dan aku segera masuk ke dalam.

Romo.. ucapku menghampiri ayah yang sedang sibuk menata pakaian di dalam kamarnya dan salim tentunya

Oh, kamu. ndak ikut ibu kamu liburan besok? ucap ayahku

ndak mo, aku mau ngekos di temanku. Penelitianku ada yang ndak beres ucapku

ya, ibu sudah kasih tahu. Ibumu di rumah tante ratna tadi romo yang mengantar jawabnya

kapan romo akan berangkat? ucapku

mungkin minggu depan, beberapa hari ini romo akan mengurusi pekerjaan romo dulu sebelum perjalanan dinas romo ucapnya

ya mo, setelah penelitian selesai arya balik ke rumah lagi. Paling juga seminggu sekali arya pulang. Kalau romo? ucapku

ndak usah kembali juga ndak papa. Rumah ini hanya akan jadi kenangan. Romo ndak akan pulang sampai urusan romo selesai ucapnya

maksud romo, jadi kenangan? ucapku

kamu akan tahu sendiri suatu saat nanti jawab romo

ya sudah arya mau menata barang arya ucapku, tanpa menghiraukan jawaban dari ayahku

Sambil melangkah menuju kamarku, ingatanku terbawa ke waktu bersetubuh dengan ibu. semua tempat dirumah sudah aku coba dan aku ciprati dengan cairan kenikmatan kami berdua. Tapi mungkin tak akan ada lagi semua itu.

setiap langkah menaiki tangga, pikiranku masih berputar pada keindahan tubuh ibu. hingga di dalam kamarpun aku duduk dan memandang seisi kamarku. Hatiku berkecamuk dengan semua hal yang pernah terjadi, di kamar ini lah semua berawal. Ah, memang semuanya harus berakhir.

Segera aku mengemasi beberapa pakaianku yang akan aku kugunakan dirumah dian, wlaau sebenarnya tidak perlu karena disana sudah lengkap. Kunyalakan komputerku dan aku pindahkan file-file penting yang aku butuhkan, dan tentunya menghapus semua history dari komputerku.

Tidak lupa aku mengambil Smartphone KS dan juga kalung dari nenek mahesawati. Setelah semua beres aku duduk kembali di samping kamarku, kulihat sekelilingku dengan tangan masuk dalam saku jaketku. Ketika tangan kiriku memegang sesuatu yang berada di saku jaket, kutarik keluar dan kulihat. Aku hanya tersenyum…

mungkin suatu saat nanti… bathinku

Aku kembali berjalan keluar kamarku dan menghampiri ayahku. Wajahnya masih tetap sama, wajah tak peduli kepadaku. Apalagi kalau ada ibu, sama saja tidak ada kepedulian sedkitpun. Segera aku berpamitand dan keluar dari rumah ini. rumah yang akan menjadi kenangan. Aku jalankan REVIA menjauhi rumahku. Tiba-tiba dalam benakku kembali bergejolak karena teringat perkataan ayahku.

kamu akan tahu sendiri suatu saat nanti

Apa mungkin memang waktunya sudah semakin dekat? Apakah mungkin? Ah kenapa aku jadi gugup seperti ini. kenapa juga rani belum memberitahuku mengenai eri? Dalam perjalanan pulang kerumah baruku, pikiranku berkecamuk kesana kemari.

Aku hentikan motorku dan mengrim bbm ke dian tapi sial, aku belum invite ulang BBM-nya setelah emosi saat itu. aku cari sms dan nomor telepon dari history Hpku. Sudahlah mungkin aku harus segera pulang. Ketika hendak menarik gas motor.

Forever and one, i will miss you… (helloween). Ringtone. Nomor tidak diketahui.

Halo

mas…

oh ade, kirain siapa

makanya kalau marah-marah jangan hapus semua nomor sama kontak BBM. Huh!

iya… iya… maafin mas, jangan marah dong

huum

ada apa de?

mas kalau main ma koplak ndak papa, tapi inget ya

iya, mas ingat… tapi kenapa disuruh main sama koplak?

ade ndak mau rumah penuh asap rokok, terakhir mas rokok di ruang tamu waktu itu. baunya ndak karuan

pengertian banget siiiih

Hm… gimana ya, kalau saja bisa ya ndak usah ngrokok

eh… iya, iya mas maen saja. Masalah rokok dibahas kapan-kapan yah

pulangnya jangan malam-malam dan kalau pulang langsung pulang saja ndak usah mampir-mampir!

eh… iya, langsung pulang kok. Oia Ade mas invite lagi dong bbm-nya

ndak mau! Invite saja sendiri weeeeek…. dadah sayang

iya sayangku tuuuut

Bersambung