Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 67

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 67 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 66

Setelah berganti pakaian, selang beberapa saat aku dengar kamar mandi terbuka dan ku intip dari pintu kamarku. Ibu berjalan keluar mengenakan kaos ketat dan celana payet, ibu melirik keatas dan terseyum kepadaku.

Benar-benar seksi wanita ini. Ibu berlalu dan masuk kedalam kamar, aku keluar dari kamar kulihat ayah masih terbius dengan tidurnya. Aku kembali kekamarku dan saatnya untuk tidur.

Pagi menjelang, tepat jam 04.30 aku terbangun dari tidurku. Seluruh tubuhku terasa sangat pegal dan jam dinding di dinding seakan menertawakanku dengan detak detiknya. Kuelus keras leherku yang terasa sangat pegal,

tak lama kemudian aku bangkit dan turun kebawah kulihat ibu sudah berada didapur sedangkan dengkuran masih terdengar dari ayahku. Ibu menoleh kearahku dan tersenyum kepadaku sambil menggenggam gelas air putih.

pagi ibuku sayang… hoaaaam…. ucapku sembari memeluk ibu dari belakang

iiih pagi-pagi kok sudah main peluk, ibu mau minum dulu ucapnya, melihat ibu kemudian menenggak pil kedalam mulutnya

pagi-pagi sudah minum obat to bu ucapku

ini jamu, biar kamu ndak jadi bapak dari adikmu sayang… ucap ibu

heh… fyuuuuh… aku terkejut kemudian lega

hi hi hi kalau mau jadi bapak ya ndak papa, nanti sehabis kamu kenthu ibu, ibu ndak minum ini lagi ucap ibu

iiiiibuuuuuuuu… ucapku manja

iya… iya… ibu kan sudah bilang kalau rajin minum jamu biar tambah singset dan menggairahkan buat kamyuuh sayanghhh mmmmm cuuuuup… ucap ibu yang berbalik kemudian mencium bibirku

bu hari ini acara ibu apa? tanyaku

hmm… paling ya apa ya, Cuma main ke tetangga sebelah karena tetangga ada yang hajatan ucapnya dengan memandang ke atas sambil satu jarinya mengetuk-ngetuk dagunya

tapi jangan pakai pakaian ini lho bu ucapku dengan nada cemburu, ibu pagi ini memakai kaos lengan panjang hanya saja bahunya dan sebagian dadanya terlihat. Kaosnya sangat ketat pada bagian tubuhnya sehingga payudaranya sangat menonjol apalagi putingnya kelihatan banget kalau ibu ndak pakai BH.

Tapi pada bagian lengannya begitu longgar, huft ditambah ibu memakai celana yang bisa dikatakan celana dalam. So sexy!

hi hihi cemburu nih yeee…. hi hi hi ya enggaklah, ibu pakai pakaian kaya gini juga kalau ada kamu saja, ntar kalau dia bangun, ibu juga langsung ganti pakaian yang lain. Malas banget ibu makai pakaian seksi kaya gini tapi dia yang lihat rugi, ibu kan beli online Cuma buat kamu sayang hi hi hi ucap ibu menggodaku

hmm… berarti boleh arya buka dong… ucapku

berani? Sudah pagi lho ntar ndak selesai-selesai kalau ibu mau-mau saja… ucap ibu

ntar saja lah… oh ya bu, itu manusia kok ngorok mulu? ucapku

ya iyalah ngorok, dikasih obat mau tadi malam kamu teriakpun juga ndak masalah dia ndak bakalan bangun. Mungkin dia akan bangun nanti siang hi hi hi ucap ibu

arya mau mandi dulu bu ucapku

mandi sendiri atau dimandiin sayang? ucap ibu

butuh jawaban bu? ucapku tersenyum dan mengecup bibirnya

Jadilah pagi ini aku dimandikan ibu, punggungku digosoknya dengan payudara yang besar ini. Bahkan dedek arya mendapat servis tangan dari ibu. begitupula sebaliknya, aku juga memberika servis pada ibu tapi semuanya masih dalam batasan memandikan tidak sampai salah satu dari kami mengalami orgasme.

Setelahnya, aku dan ibu keluar dari kamar mandi tepat ketika kami berada didepan pintu ayah terbangun dengan sangat berat dan mungkin bisa dikatakan belum sadar sepenuhnya. Ibu langsung jalan dengan santai menuju kamar tamu, sedangkan aku kembali ke kamarku. Entah kenapa ibu masuk ke kamar tamu.

Hari menunjukan pagi hari, aku turun bersiap-siap untuk sarapan dan main dihari ini. ibu sudah siap menyambutku di meja makan sedangkan ayah?

dia tidur lagi tadi sayang, mungkin mimpi kalah judi hi hi hi ucap ibu santai

ouh… lha ibu kok tadi masuk ke kamar tamu? Ndak ke kamar ibu? ucapku

iiih kamu, ibu kan nyimpen pakaian khusus kamu di kamar tamu bukan di kamar ibu, bisa-bisa nanti ibu disuruh melayani dia! Ndak mau… kontol punya dia ndak pantes masuk ke tempik ibu hi hi hi ucap ibu

tapi punya arya pantes ndak bu? godaku sambil mengelus paha ibu

ndak… ndak pantes kalau ndak sering hi hi hi ucap ibu

berarti harus sering-sering ya bu? ucapku

heem hi hi hi ucap ibu

Kami kemudian bercanda hingga matahari sudah mulai memanas, tepat pukul jam 08.30 aku keluar rumah begitu pula dengan ibu yang kemudian main kerumah tetangga. Jujur saja payudara besar ibu tampak sangat apa ya? Kecil atau datar? Ketika aku tanyakan kepada ibu, ibu memakai korset agar tidak mengundang nafsu. Ah… pintar sekali wanitaku ini dalam mejaga miliku he he he…

Diatas bebek berwarna merah dengan sedikit hitam di bodinya aku melaju dengan kecepatan penuh. Penuh? Mungkin bisa dikatakan seperti itu. Aku mencari suasana baru karena ibu sedang sibuk dengan tetangga sebelah rumah. Daripada cokli dikamar karena nunggu ibu mending hang out sajalah.

Ku putar-putar motorku disekitar kampus, entah kenapa hatiku walau terasa sedikit sakit karena hal kemarin tetap saja aku ingin melihatnya. Mulut bohonng tapi hati tidak, tubuhku mengikuti kata hatiku.

Hingga akhirnya aku berada di kampus, sudah mulai sedikit ramai jika di bandingkan kemarin. Ya karena mungkin ini mendekati akhir dari liburan, jadi banyak yang sudah mulai berdatangan dan sok pintar sehingga main ke kampus.

Woi bro… lama tak jumpa! teriak seorang dengan tangan melambai, Rahman.

woi kang, dari mana saja? Baru kelihatan? teriakku kepada rahman yang disampingnya ada dua cewek. Kayaknya aku kenal dengan mereka.

he he he biasa bro… nih lihat ucapnya sembari memeluk dan bola matanya bergoyang ke kanan dan kekiri

Hai ar, lama ya ndak jumpa? ucap cewek disamping kanan rahman

pasti lupa tuh ucap seorang lagi yang disamping kiri rahman

bentar-bentar… aku benar-benar lupa… maaf ya ucapku

yaelah… bro… bro… sama cewek cantik dan seksi kaya gini kok lupa, ana sama lestar bro… ucap rahman

ana? Lestari? Bentar… ucapku sambil mengingat

temen kos ajeng ar, kamu sih ndak pernah main ke kos jadinya lupa ucap ana

iya sombong mentang-mentang dah mau lulus ucap lestari

oh iya iya lupa lest, an maklum ndak pernah ketemu sama kalian berdua, tapi kok… hmmm… ucapku sambil mengelus-elus daguku dan langsung aku tarik si rahman menjauhi mereka

kang, itu kenapa dua cewek sama kamu? ucapku

yaelah, itu baru dua brother, belum yang dirumah baru ane… si Dwi sama septian terus ina mereka berlima akur kok kalau dirumah ane. Ditambah lagi mama ane, jadi tambah hot dirumah baru ane ucap rahman

maksudmu? ucapku

ya gimana ya ar, kalau Cuma mama ane ndak bisa ar menuhin kebutuhan kokon ane, eh ane ingat mereka berlima ane ajak aja kerumah baru ane dan ane suruh tinggal disitu mereka mau. Ssstt.. mereka selain butuh uang sudah tergila-gila sama kokon ane ar. Tapi saat itu… ucap rahman

tapi apa? ucapku

tapi mereka akhirnya tahu mengenai hubungan ane dan mama. Awalnya mereka terkejut but you know! Aku punya enam istri broooooo… ha ha ha ha entar yang ane resmikan lima yang satu ndak bisa he he he he ucap rahman santai

kamu benar-benar …. mantabz dah! ucapku tak bisa menyalahkannya, aku juga pernah merasakan tubuh ibunya

Aku dan rahman kemudian berjalan-jalan ke kampus bersama lestari dan ana. Mereka tampak mesra sekali, yang membuatku sedikit heran adalah kedua perempuan itu tampak akrab dan akur sekali. Rahman sudah tidak memikirkan mengenai skripsinya lagi, dia sangat beruntung dosbingnya perempuan dan tergila-gila dengan kokon-nya.

Bagaimana dengan aku? Masa bodohlah. Rahman seperti halnya guide yang memperkenalkan kampusnya kepada ana dan lestari sedangkan aku disini adalah obat nyamuk, benar-benar obat nyamuk apalagi setipa kepulan asapku berada disekitar mereka.

kami kemudian duduk-duduk ditaman fakultas di bawah pohon yang rindang. Rahman menjauhiku karena… dasar ndak tahu tempat! Walau Cuma kissing sih. Aku duduk di bawah pohon yang sangat rindang dengan suasana menjadi semakin membuatku merasakan ngantuk dengan hembusan-hembusan angin yang sepoi-sepoi.

Ar… ucap seorang yang tiba-tiba duduk di sampingku, membuatku terkejut hingga rokokku jatuh

eh… ucapku sedikit terkejut, aku menoleh kearahnya sembari mengambil rokokku yang masih setengah batang

Owh… bu dian, bagaimana kabar ibu? baik-baik kah? ucapku kembali duduk

baik, bagaimana kabar kamu? balasnya

baik tapi sedikit ngantuk saja ucapku

Hening…

Ar, ayo makan… teriak dari sudut taman

yoa bro! ucapku melambaikan tangan ke arahnya sembari berdiri

saya mau makan dulu bu ucapku

Rahmaaaan… arya ditinggal saja, sedang bimbingan teriak kecil bu dian

iya bu dian yang cantiiiiiiiiiiiik…. teriak rahman dengan acungan jempol

makasiiiiiiiiiiiiih… balas bu dian,

dasar sok imut bathinku

siapa yang mau bimbingan bu? ucapku

kamu… balasnya, sambil menarik tanganku hingga aku terduduk. Ku matikan rokokku dan kunyalakan lagi sebatang.

Kami hanya diam… tak ada sepatah kata dari kami terucap. Perlahan lingkungan taman fakultas mulai sepi.

Ada yang nyari bu ucapku sambil menunjuk ke arah seorang lelaki yang tersenyum dan berjalan ke arah kami berdua

Yan… ayo makan, dah ditunggu sama teman-teman ucap anda yang kian dekat langkahnya menuju kearah kami

kalian dulu saja ndak papa, ntar aku susul ucap bu dian

makan dulu saja bu, kasihan lambungnya nanti mag lho ucapku kemudian berdiri

diajak makan saja mas kasihan bu dian tadi bilang belum makan lanjutku

iya ini, dosen kamu itu paling susah kalau disuruh makan ucap Anda

nanti saja aku susul nda ucap bu dian mengelak

lha ibu mau sama siapa disini kan bimbingannya sudah selesai? ucapku santai

eh.. bu dian memandangku dengan wajah kecewa

Bu dian kemudian berdiri…

ayo makan, lagian ngapain disini juga lama-lama ucapnya judes mungkin karena ada sesuatu yang mengecewakan disini

nah… gitu, ayo… ucap anda dengan mengulurkan satu tangannya dan digapainya oleh bu dian

Ar… ucap anda tepat didepanku dan bu dian

ya mas balasku

tolong…. ucapnya penuh dengan maksud dan tujuan, dapat aku lihat dari matanya yang memandangku tajam

jangan buat dian bersedih… aku tidak tahu apa hubunganmu dengan dian tapi yang jelas jangan buat dia bersedih. Setiap ada kamu, riangnya selalu berubah menjadi kesedihan, aku tidak ingin menjadi sedih. Jadi aku mohon… ucap anda membuatku tertegun

anda apa-apaan sih kamu? sudah ayo makan ucap bu dian yang mulai melangkahkan kakiku

tunggu yan, biar semuanya jelas ucap anda, membuat langkah bu dian terhenti

biarkan aku membahagiakannya dengan apa yang aku bisa ar… dan aku mohon keluarlah dari kehidupan dian, agar dia bisa kembali bahagia ucap anda menyadarkan akan semua kesalahan yang aku buat kepada bu dian

Nda, sudah hentikan, kamu tidak perlu membicarakan hal itu didepan arya ucap bu dian

Aku sudah lelah yan dengan kamu yang selalu bersedih, benar-benar lelah. Cobalah dalam satu hari saja kamu tersenyum bahagia dan jalan satu-satunya adalah arya menghiang dari kehidupanmu ucap anda, aku masih tertunduk dan tersenyum

Eh.. ucap bu dian

Ar, aku mencintai dian dan menyayanginya… aku mohon dengan sangat, biarkan aku membahagiakannya… ucap anda tenang dengan pandangan datar kearahku, senyumku menjadi kosong.

Aku melangkah mendekati mereka, tak perlu berlangkah-langkah hanya cukup satu langkah. Satu langkah saja aku sudah berada disamping Anda dengan posisi menghadap kebelakangnya. Satu tanganku menepuk pundaknya dan menggenggam lembut pundak laki-laki ini.

Maaf… ucapku pelan membuat pertengkaran mereka terhenti

bukan maksudku merusak hubungan kalian… maaf… aku hanya seorang mahasiswa yang menuntut ilmu dan kelak bisa mencari pekerjaan seperti kalian berdua ucapku

ar… sudah kamu jangan… ucap bu dian terpotong

Setelah semuanya selesai aku pasti akan pergi, dan akan aku doakan yang terbaik untuk kalian berdua. Kalian tahu, kalian adalah pasangan yang sangat cocok, mungkin dulu ketika aku masih kecil aku pernah menyukai seorang perempuan yang selalu aku harapkan untuk hadir dalam mimpiku.

Tapi karena kebodohanku mungkin perempuan itu sudah enggan datang lagi kedalam mimpiku, mungkin itu adalah jawaban yang terbaik untuk harapanku ucapku, Aku melangkahkan kakiku ke arah bu dian, dan kini aku tepat dihadapan bu dian. kedua tanganku masuk dalam saku celana jeansku, tubuhku sedikit membungkuk

Bu, Maafkan saya, arya mahesa wicaksono… yang selama ini selalu membuat hati bu dian sakit. Bukannya aku terlalu gede rasa jika disukai oleh dosen secantik bu dian, tapi selama ini akulah yang lebih sering menyakiti bu dian. bukan bu dian yang menyakitiku.

Setelah semua yang telah terjadi, saya sadar tentang diri saya. Saya bukan apa-apa disini, dan bukan siapa-siapa. Bu dian dengan Anda adalah pasangan yang serasi, sama-sama seorang pekerja keras dan berdedikasi untuk pendidikan.

Akhirnya setelah semua pertanyaan berdiskusi di otak saya, saya telah menemukan jawabannya. Ibu butuh kebahagiaan dan kebahagiaan itu adalah Anda. Ingatlah bu, saya bukan orang yang bersih, Anda lebih bersih

Lupakan bocah itu, anggap bocah itu sudah mati. Ibu memiliki masa depan yang lebih cerah bersama dengan lelaki yang memang pantas untuk ibu. kembalilah tersenyum kepada semua orang seperti halnya ketika ibu mulai mengajar, mungkin saat itu semua menganggap ibu menakutkan tapi mereka suka cara ibu mengajar dan selalu paham atas apa yang ibu ajarkan.

Percayalah bu, Anda adalah masa depan ibu yang cerah, jangan berhenti melangkah karena masa lalu ibu. Bocah itu akan menjalani kehidupannya sendiri begitu pula dengan ibu, walaupun ibu dan bocah itu memiliki kenangan.

Tapi, lilhatlah, ibu tidak bisa dan bocah itu juga tidak bisa… Bocah itu sudah memiliki kehidupan sendiri yang tidak ada satu orang pun menghentikannya… berbahagialah Lanjutku

Mas, tolong jaga bu dian… agar mas anda lebih tenang, beberapa bulan lagi aku akan mengajukan cuti sekaligus pindah universitas agar kalian bisa lebih tenang dalam menjalani hubungan kalian. Mohon maaf jika selama ini membuat kalian berdua selalu bertengkar ucapku memandangnya tertunduk, aku kemudian berbalik dan melangkah

terima kasih ar… aku akan selalu mengingatmu… ucap anda, kau menoleh sebentar dan tersenyum kepada Anda

Aku berjalan menjauhi mereka namun tiba-tiba, bu dian berjalan mendahuluiku dan berdiri di depanku.

mulai sekarang dan seterusnya… aku akan membencimu ar, pasti aku akan membencimu ucap bu dian

memang sepantasnya ibu membenci saya ucapku dengan tersenyum

Ibu dian kemudian berbalik dan berjalan cepat menjauhiku, aku tak tahu apa yang dilakukan anda dibelakang sana. Aku berbelok mengambil jalan yang tidak dilalui bu dian, agar aku semakin bisa menjauh.

Dalam langkahku aku, gumpalan daging lunak didalam kepalaku terus berputar. Ya, mungkin ini yang terbaik. Tak perlu mengharap jika itu tidak mungkin, tak perlu bersedih akan perempuan, tak perlu memikirkan senyumannya lagi, tak perlu memikirkan janji bodohku di masa lalu.

Aku adalah aku yang sekarang, tak perlu merubah sesuatu dari diriku yang sekarang. Jika memang aku harus jatuh tersungkur dan hancur karena hidup yang aku pilih itu adalah resiko dari kehidupanku. Jika aku harus menangis karena pilihan jalanku dan terperosok jauh dalam lubang jal yang aku pilih itu adalah sesuatu yang harus aku rasakan.

Jika suatu saat setelah semua urusanku selesai dan ibu memutuskan untuk menghentikan semua, aku akan menerimanya. Jika mbak erlina yang selalu menyayangiku sebagai adiknya juga ikut pergi mungkin itu adalah jawaban dari kebodohanku.

Aku adalah aku yang sekarang , yang telah memilih jalan yang salah. Entah kapan aku akan berjalan dijalan yang benar, entah kapan aku akan memperbaiki semua. Jika aku harus hidup sendiri karena kebodohanku di masa ini yang telah aku beli, ya karena itu adalah hal yang seharusnya aku bayar.

Tak akan pernah menyesali dan akan terus aku jalani walau pedih dan sedih, walau gerah menjadi amarah, walau indah menjadi gundah, aku akan menjalaninya.

Aku Arya Mahesa Wicaksono akan mengakhiri kisah sedih yang telah dibuat oleh Ayahku. Harus segera aku akhiri agar cerita tentang kehidupanku segera menemukan jawaban yang pasti. Jawaban tentang apa yang akan aku lakukan setelah ini semua selesai.

Aku akan memperbaiki hidupku tapi entah kapan tapi yang jelas bukan denganmu, itu yang aku tahu. Aku akan menertawakan kebodohanku entah kapan yang jelas itu juga bukan denganmu, itu yang aku tahu. Hanya itu yang aku tahu sampai saat ini, entah…

Langkahku akhirnya sampai di sebuah warung makan langgananku, disana ada bos besar dengan dua calon istrinya, Rahman.

Mak, nasi rames pakai telur sama ayam goreng ditaruh dipiring kasih sendok sama garpu plus sambalnya. Minumnya es teh manis, harus manis pakai ditaruh di gelas plus sendok buat ngaduk ucapku kepada si mbok warung

Ediyan! Makan ya pakai piring, minum ya pakai gelas, gitu juga disebutin to mas-mas ucap mbok warung

Yeeee simbok protes mulu, namanya juga langganan ucapku, sambil duduk di kursi makan

biasa mbok lagi stress mungkin ha ha ha ha balas rahman yang duduuk didepanku

dasar PK! Diem aja kamu kang ucapku dengan wajah nyengir

ha ha ha ha… makanya kecebong dikeluarin, kalau terlalu lama jadi kodok tuh ha ha ha ha canda rahman

maksud kamu? tanyaku yang tidak mengerti

emang kamu mau, pas malam pertama yang keluar bukan cebong tapi kodok? Bisa-bisa istri kamu histeris ha ha ha ucap rahman yang akhirnya aku mengerti

Sialan kamu kang ucapku

Sudah ndak usah ditiru si item ini! kamu jalani hidup kamu sesuai jalannya ucap simbok warung sambil meletekan makanan yang aku pesan

Terima kasih simbok yang cantik yang telah membelaku ucapku dengawajah terpukau

Halah… ucap si mbok meninggalkan aku

makanya ar cari pacar, jangan jomblo terus yah ucap ana

heem, ndak enak lho… kalau sudah punya pacar kan ada yang elus-elus hi hi hi ucap lestari

bodoh… aku makan dulu ucapku

Kami terlibat obrolan-obrolan berat, hingga waktu menjelang gelap. Tak ada bosannyaami bercerita satu sama lain, apalagi yang diceritakan rahman adalah mengenai seks, seks dan seks. Dia tidak risih ketika bercerita mengenai hal itu, ditambah lagi ana dan lestari malah semakin menghangatkan suasana.

Aku sendiri sampai menjadi bingung dan lebih banyak diamnya ketika mereka bercerita mengenai trisum, bahkan sampai orgy gila bener. Dan yang jelas tanpa penguatpun rahman bisa meladeni mereka berenam seklaigus.

Geleng-geleng kepala mendengar itu semua, bahkan cerita ketika lima orang cewek rahman mengetahui persetubuhan rahman dengan ibunya diceritakan semua. Awalnya mereka tidak bisa menerima tapi karena sudah terlanjur cinta (katanya) akhirnya mereka menerima juga.

dah ah kang, kamu cerita semuanya berbau kecebong terus, aku mau cabut dulu dah sore ucapku

oke, besok kapan-kapan main ke rumah ane ucap rahman

ngapain? Ngrekam kalian? ucapku

ntar kamu diiket terus nyaksiin kita main hi hi hi ucap ana

heem.. hi hi hi ucap lestari

ediyan… kamu mau buat aku kena prostat apa? ucapku sedikit judes

ha ha ha ha tawa mereka bertiga

Akhirnya kami berpisah, seperti hari-hari sebelumnya. Rahman, lelaki yang selama ini aku kenal dan sekarang malah lebih bagus nasibnya ketimbang aku. Punya enam istri lagi, yah walau satu istri tidak bisa diresmikan. Setelah pikiranku membandingkan aku dengan rahman, otakku kembali kosong tanpa pikiran sama sekali.

Hingga aku sampai dirumah dan kembali menjadi seorang anak bagi ayah dan ibuku. Didalam ibu menemani ayah yang sedang nonton televisi, aku hampiri mereka berdua mencium tangan mereka.

Aku membersikan diriku dan kemudian membuat teh, kubawa ke pekarangan rumah dan duduk dibawah pohon. Ibu kemudian datang menghampiriku dan duduk disampingku. Senyumnya memang meluluh lantakan ketegangan dalam diriku. Dengan lembut ibu menarik kepalaku dan dirrebahkannya di dadanya.

Ada apa? ucap ibu

biasa… ucapku yang kuteruskan cerita mengenai bu dian

Sudah… ibu sudah tidak akan memaksamu untuk bersama dian, kamu jalani hidup kamu. jika memang ada yang bisa menghentikan ini semua ibu akan berhenti jika belum ada, entah kapan semua ini akan berakhir. Yang jelas, ibu tidak akan meninggalkanmu dalam kesendirian ucap ibu

terima kasih bu… ucap ibu

sayang… kamu lagi kepengen ya? ucap ibu

eh… ndak juga ucapku

oh… masalahnya ibu lagi dapet hi hi hi nanti kalau tiba-tiba kepengen pakai ini saja yah ucap ibu sambil mengangkat kepalaku dan menunjukan belahan dadanya

heem… ucapku

ayah bagaimana? lanjutku bertanya

tidak ada yang istimewa, kerjanya hari ini hanya tidur dan tidur saja. Ibu saja dianggap sebagai pembantu saja untuk menyiapkan makan, minum dan lain-lain, kerjanya hanya tidur makan saja hari ini ucap ibu

kalau ada informasi arya diberitahu ya bu, arya peen banget semuanya selesai ucapku

ibu juga sama… balas ibu

Ibu kemudian mengelus-elus kepalaku kembali yang rebah di dadanya….

oh iya nak, ibu lupa… tadi pagi waktu kamu sudah berangkat. Ibu kan ke tetangga terus ada yang ketinggalan ibu balik lagi, nah pas balik itu pas ada pesan masuk di Smartphone ayahmu. Pas bunyi gitu ibu ambil dan ibu buka lok-skrin-nya, diatasnya itu ada notifikasi kan naik terus. Ibu baca itu mengenai pertemuan bulan kedua besok ucap ibu, aku terperanjat

apa itu bu? ucapku mendesak ibu

itu.. coba ibu ingat…

Hesa, kayanya untuk bulan kedua
Aku ambil dulu milikku
Nanti sisanya kalian berdua
Sudah pengen ngrasain darah ni he he he he

Begitu bunyinya sayang ucap Ibu

Eh… bentar bu, itu dari siapa? ucapku

ibu ndak ingat sayang, pas notifikasinya mulai terlihat ibu Cuma baca isinya saja, ndak jelas siapa yang ngirim, ndak fokus sayang… adakah yang berbahaya sayang? ucap ibu

aku juga masih bingung bu, nanti arya pikirkan lagi ucapkku sambil merebahkan kepalaku di dada ibu dan menerima elusan kembali

besok, ibu yang ngantar kamu saja ya. ibu sudah bilang sama ayah kamu ucap ibu

heem… balasku

Dalam hening pikiranku terus berputar mengenai siapa pengirim pesan itu dan apa maksdu dari pesan itu. Kenapa ketika dia menyebut darah diakhir pesan haru ada kata tertawa selengekan? Apakah pembunuhan? Tapi kenapa jika pembunuhan harus ada kata sisa?

akh… aku jadi pusing memikirkan apa yang sebenarnya maksud dari pesan itu. Lama aku bersama ibu kemudian terdengar panggilan ayah, ibu segera masuk begitupula dengan aku. Aku langsung menuju kamarku sembari melihat ibu masuk kedalam kamar bersama ayah. Aku rebahkan tubuhku diatas kasur empuk ini.

Satu masalahku tentnag wanita sudah selesai. Dan sekarang masalahku hanya satu… Ayahku, Romoku… sebentar lagi aku akan mengakhiri perjalananmu…

Pagi menjelang aku terbangun dari lelap tidurku. Jam berdetak menunjukan pukul 08:00, aneh baru kali ini tidak dibangunkan ibu. Mungkin ibu tahu jika tubuh ini terlalu lelah, ku langkahkan kakiku menuju ke lantai bawah tak ada satupun orang disana.

Segera ku mencuci mukaku dan menggosok gigiku sekaligus buang air kecil, ugh mantabz! Sekeluarnya aku dari kamar mandi kudapati ibu sedang berjalan masuk dari lorong rumahku.

Sudah bangun sayang? Ibu dari mengantar ayahmu keluar dari rumah ucap ibu

baru saja, kok ibu ndak bangunkan arya? ucapku

karena kamu kelihatan terlalu nyenyak dan ibu tahu kamu sedang capek jadi ya ibu tidak bangunkan kamu sayang ucap ibu yang berjalan kearahku kemudianmendaratkan ciuman dan pelukan

maem ya? ucap ibu aku mengangguk, kemudian mengikuti ibu dari belakang menuju dapur

Makan pagi bersama ibu di depan televisi, menontoon acara anak-anak yang membuat kami terpingkal-pingkal. Kalau dilihat sebenarnya ini film dewasa karena di komik keluaran pertama masih berbau hal-hal yang sedikit porno, tapi setelahnya di komik kedua menjurus ke anak-anak tapi masih sedikit dewasa.

Film Shan-cin ini memang membuat aku terpingkal-pingkal bersama ibu padahal biasanya film ini diputar dihari minggu tapi tidak tahu kenapa dihari sabtu ini ada film kartun ini.

eh bu, kalau dikomiknya dulu arya pernah baca sedikit agak parno lho bu? ucapku kepada ibu

masa? ucap ibu

beneraN, ada beberapa adegan yang dikomik yang menggambarkan hal-hal dewasa. Waktu itu kalau ndak salah ayah sama ibunya lagi gituan pas malam hari eh si shan-cin bangun terus lihat, bilang mama-papa aku ikutan gulat, kalau ndak salah begitu dialognya ucapku

tapi kalau ibu lihat juga ndak terlalu parno ucap ibu

kalau di komik volume keduanya sudah lebih mendingan, yang ditayangkan ditelevisi kan dipilih-pilih yang sesuai anak-anak bu ucapku

ouh… tapi ibu suuka sayang,lucu banget hi hi hi ucap ibu

ngomong-ngomong kamu ndak jalan-jalan atau tongkrong sama koplak atau teman kuliah kamu sayang lanjut ibu

ah ndak malas, koplak ada acara sendiri sama pacarnya. Kalau teman kuliah paling masih sibuk masalah skripsi balasku

lha skripsi kamu bagaimana? ucap ibu

belum tahu kelanjutannya, ibu tahu sendiri kejadian kemarin. Kalaupun harus mengulang dari awal dengan dosen yang berbeda, arya sudah siap ucapku

Hmmm… tapi sayangkan, penelitan kamu kan sudah selesai? ucap ibu

ndak papa bu,daripada menambah persoalan. Lebih baik seperti ini dulu, menyelesaikan satu masalah lagi, lagi pula arya juga belum menemukan jawaban dari sms yang kemarin. Kalau saja arya tahu siapa pengirimnya pasti arya sudah bisa menemukan jawabannya ucap ku

benar juga ya, hmmm… apa perlu nanti kalau ayahmu pulang ibu buka Smartphone ayah kamu? ucap ibu

ndak usah bu, terlalu beresiko balasku

kamu tenang ya sayang, jangan gegabah lagi. Jalani dengan perlahan, semua pasti ada jawabannya ucap ibu

iya bu… eh bu, ibu sudah dengar cerita aku tentang rahman belum? ucapku

rahman? anaknya karima itu ya? bagaimana kabarnya? ucap ibu

punya enam calon bu, tapi yang satu ndak bakal bisa diresmikan ucapku

kok bisa? tanya ibu

yang lima itu teman kos ajeng, sedangkan yang satu ya tante ima sendiri. Yang lima sudah tahu mengenai hubungan rahman dan tante ima ucapku

kalau ibu disuruh menjalani seperti itu ibu ndak bisa, kenapa ima bisa ya? kalau kamu sayang? ucap ibu

tergantung ibu, tapi mungkin itu akan sulit bu… kalau tante ima itu semua dikarenakan om nico ucap ku

memang akan sulit, maka dari itu jika nanti telah datang waktunya kita benar-benar harus bisa menjadi seharusnya ya sayang. Kita harus bisa saling mendukung balas ibu

jika ibu bisa, arya bisa jawabku

Siiiipz! balas ibu

Kamu tadi sudah mandi apa belum? tanya ibu tiba-tiba

belum, tadi Cuma cuci muka sama gosok gigi kok bu balasku

iiiih jorok! Mandi dulu sana, bau tahu ucap ibu

bau-bau gini ibu juga suka weeeeek…. balasku

MANDI! perintah ibu

iya, iya bu…. balasku yang kemudian berdiri dan melangkah ke belakang rumah mengambil handuk

Aku lanjutkan langkahku menuju ke kamar mandi dan segera untuk mandi daripada mendapatkan celoteh dari ibu. ah, segar… benar-benar segar berada didalam kamar mandi. Suasana dingin karena bak mandi yang dipenuhi air, aku langsung jongkok di sebuah lubang pembuangan.

Sekilas pertanyaan dalam kepalaku mulai berputar lagi meminta jawaban dariku. Entah apa sebenarnya maksud dari notifikasi di Smartphone ayah, apakah akan ada kejadian lain lagi setelah notifikasi itu? Entahlah… semua jawaban hanya ada didalam Smartphone ayahku, tapi jika harus menunggu ayah kembali pulang kayaknya tidak mungkin sekali.

Ini malam minggu, malam dimana besoknya adalah hari libur. Ayah tidak mungkin pulang kerumah dengan sangat cepat, kemungkinan besar dia sedang bermain-main di luar sana. Bagaiamana kabar tante wardani ya? apakah dia masih dijadikan budak oleh mereka berdua? Apakah dia akan terus dimainkan diluar seperti yang aku lihat waktu itu?

Dok dok dok….

Eh… mandi kok lama sekali, ngapain hayo? Kalau mau dikeluarkan sini ibu keluarkan! teriak ibu dari luar kamar mandi

lagi BAB ibuuuuuuuuuuuuuu, kalau arya pengen keluarkan pasti juga minta tolong sama ibu balasku dari dalam kamar mandi

oh ya sudah, kalau dikamar mandi pikirannya jangan kemana-mana. Fokus sama mandinya, kalau pengen lihat punya perempuan diluar sini tinggal dibuka hi hi hi goda ibu

Ibuuuu…. arya lagi B-A-B, ya wajar dong kalau pikirannya kemana-mana. Yang ndak boleh itu kalau sedang B-A-B diajak bicara bu balasku

hi hi hi… iya, iya… lekas mandinya, ntar teh tarik panasnya jadi dingin tuh. Ibu sudah buatkan untuk kamu. ibu mau keluar dulu ke toko depan ya, kalau nanti mau keluar tunggu ibu pulang dulu ucap ibu

oke bu… balasku

ibu, pergi dulu teriak ibu

ya… balaskku

Terdengar suara langkah ibu menjauhi kamar mandi, terdengan sedikit ketika ibu membuka pintu depan rumah sebagai tanda ibu sudah tidak berada dirumah. Dalam posisi jongkok, pikiranku kembali melayang ke notifikasi Smartphone ayah.

Pengen darah dan kata sisa, hmmm… sebuah pernyataan yang aneh bukan. Darah dan sisa, ah masa bodoh ah, segera aku bangkit dari lubang pembuangan dan kemudian mandi. Setelahnya aku ke kamar berganti pakaian yang lebih bersih.

Namun ketika hendak pergi keluar dari kamar langkah terhenti ketika melihat sebuah kalung monel berliontin cincin monel itu. Ku pandang dengan sinis kalung itu dan segera aku tinggalkan.

Aku kembali ke depan TV dengan mneyeruput teh tarik, ku pindah-pindah chanel televisi untuk menemukan acara yang lebih bermutu lagi. Dengan sebatang dunhill dan segelas teh tarik aku menikmati acara kartun disiang hari, doreamon, walau sebenarnya sudah sering diputar. Selang beberapa saat kemudian ibu datang dan duduk disampingku.

beli apa bu? ucapku

tadi bayar hutang, kemarin setelah bantu-bantu tetangga ibu beli gula ditoko depan lupa bawa uang. Ini hari apa sih? Kok acaranya banyak acara anak-anak? ucap ibu

hari sabtu bu, biasa mungkin karena momen liburan sekolah. Kan acara TV ndak pernah terpengaruh libur kuliah ucapku

ya jelas dong, emang anak kuliahan pada suka acara kartun kaya gini kecuali kamu sayang hi hi hi balas ibu

ah ibu, ibu juga suka owk sama pilem kartun balasku

iya sih, buat hiburan hi hi ihi ucap ibu

Aku rebahkan kepalaku dipangkuan ibu, sambil menonton acara TV. tak terasa wwaktu melewati tengah hari, aku dan ibu masih berada di depan TV. hingga tepat jam 1 siang.

TING… TONG….

TING… TONG….

TING… TONG….

Ar, tamu itu, sana bukakan pintu? perintah ibu

hoaaam ngantuk bu balasku dengan berbagai alasan

kamu itu sayang hemmm…. awas ibu bukakan pintu dulu tamunya ucap ibu

Aku angkat kepalaku dari pangkuan ibu, ibu kemudian berjalan meninggalkan aku menuju pintu depan. Selang beberapa saat…

Arya… teriak ibu dari depan

Iya bu! balasku

ah apalagi sih bathinku, ketika hendak bangkit dari posisi PW-ku

Oh… ndak jadi, dah kamu disitu saja. Ini sudah kok teriak ibu

Yaelah ibu, Arya tiduran lagi balasku kembali merebahkan tubuhku di sofa……

……
……
……

Nguuuuuuuuuuuueeeeeeenggggg…….

Aku pacu REVIA dengan kecepatan penuh menuju tempat dimana aku merasakan cinta. Dimana pertama kali aku mendapatkan kecupan yang membuatku terngiang hingga saat ini, mungkin aku selalu menolak perasaan ini tapi sebenarnya hatiku tak bisa menolaknya.

Karena hati ini sudah mengucapkan janji yang tidak mungkin aku ingkari sendiri. Ku pacu motorku dnegan laju yang sangat cepat, tak aku pedulikan bahaya yang aku dapatkan ataupun bahaya yang aku timbulkan. Kenapa? kenapa aku selalu menyalahkan diriku sendiri? Padahal orang yang menginginkanku tidak pernah melihat kesalahan-kesalahanku, kenapa aku begitu egois.

Ciiiiiiiit…. sebuah deretan mobil panjang menghambat perjalananku…

Ah sial, kenapa haruS spada saat seperti ini? bathinku kesal

Pak ada apa to? tanyaku kepada seorang pengendara motor disebelahku

katanya sih ada truk yang muataNnya ambrol mas, karena kelebihan muatan. Sudah hampir setengah jam belum selesai-selesai mas jawab bapaknya

oh, ya pak balasku

aku harus menunggu, aku tidak bisa memutar balik dan mengambil jalan alternatif. Aku sudah terjepit ditengah deretan mobil ini bathinku, aku teringat akan apa yang terjadi dirumah barusan, telepon dari tante asih

Bersambung