Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 65

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 65 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 64

iya, aku adalah salah satu dari lima orang termasuk ayah dari si arya, namun beberapa tahun terakhir aku sudah tidak dilibatkan dalam aksi mereka karena aku dicurigai berkhianat. Bapak tidak menyangka akan bertemu dengan kalian semua ditambah lagi anggota IN ucap pak Media

Ya, inilah kami. em… maaf… apakah bapak punya informasi penting lainnya pak? ucap anton tanpa memberi jeda kepada pak Media. Satu persatu teman kami mulai menyulut sebatang dunhill dan meminum kopi instan 98 degrees sambil memperhatikan dan mendengarkan anton yang mulai mengintrogasi.

Yang bapak tahu, mereka akan mengadakan pertemuan dengan bandar-bandar besar di bulan kedua. Tapi sebelumnya ada pertemuan kecil di danau perumahan ELITE, bapak mendengar mereka diintai.

Mereka kemudian menuduhku mengintai mereka tapi bapak membantahnya, dan mulai dari saat itu mereka mulai memandangku dengan sangat sinis, dan dimalam ini aku sudah mengira aku akan disingkirkan olehnya. Bapak sebenarnya bisa saja lari, namun jika bapak lari keluarga bapak akan menjadi sasaran mereka ucap pak Media

Ada yang mengintai?ucap anton dan semua sahabatku melihat kearahku

Iya… aku yang disana ucapku sambil mengangkat tanganku

Eh… jadi kamu orangnya? Bagaimana kamu bisa tahu keberadaan mereka? ucap pak Media

aku memiliki email dan Smartphone KS yang mati dibunuh karena ingin bersaksi. Maka dari itu aku tahu apa rencana mereka ucapku santai

Bugh… plak… bugh… plak… bugh… plak… bugh… plak… bugh…

Ampuuuun bro… ampuuuun iya aku salah ndak ngajak kalian tapi itu berbahaya, aku hanya butuh informasi pertemuan besar mereka ampun brother ucapku sambil mringkuk mendapat pukulan ringan dari koplak

Anjing kamu, nanti kalau kamu ditembak bagaimana? Kalau kamu ketangkap bagaimana? ucap anton

mikir to ar mikiiiiiiiiiiir! Kamu ndak bisa menyelesaikan dengan sendirian bodoh! ******! Asu! Bajingan ucap wongso

wajah ganteng tapi gegabahan, asu tenan kamu ar! bentak aris dan begitu pula yang lainnya menganiayaku satu persatu

ya, betul… ucap udin

bahasa alien lagi ucap hermawan

asu kabeh (anjing semua), sakit tahu ucapku sambil memegang pinggulku

makanya kalau mau beraksi ajak-ajak, kalau K.O kan bisa bareng-bareng! bentak tugiyo

iya iya, besok aku beraksi bareng lagi ucapku

Jadi benar kamu ar, bapak sudah menduga. Karena memang ara pernah bercerita semua tentang kamu. dan apakah benar yang menghancurkan tukang adalah…. ucap pak Media terhenti

ouh… itu kami Cuma mainan kembang api pak ucap wongso

tapi ndak mau naik keatas kembang apinya ucap tugiyo

nungsep kemarin kalau ndak salah kembang apinya ucap aris

Haaaaaaaassssh… akhirnya mereka berkurang juga, sekarang mereka Cuma bertiga ucap pak Media menghela nafas panjang sambil kepalanya menengadah ke atas

Apakah bapak bisa menceritakan kepada kami, tentang pertemuan besar itu? Dan tentunya dimana lokasinya ucap anton yang tiba-tiba menyela

Pak, kalau mau cerita sama anton buat perjanjian dulu! Awas kalau dia main game sendiri ucap parjo yang masih mengipasi dewo

eh… maksudnya? ucap pak Media

Maksudnya, saya tidak boleh beraksi sendirian dengan IN, dan harus melibatkan nyawa mereka. karena kami koplak tidak pernah menjadi kedua, harus yang pertama jelas anton

Kemudian secara bertahap, pak media mulai menceritakan semuanya dari awal. Tak perlu pindah tempat kemana atau dimana cukup disini, dibukit orang utan. Tentang pertemuan besar dengan bandar-bandar, dan juga lokasi tempat pertemuan diceritakan semua oleh pak Media.

Hm… okay, sip pak… mungkin kami harus menunggu ucap anton

ya, sekaligus melihat respon mereka mengenai anak buah mereka yang jatuh ke jurang ucapku

sekarang terserah pada kalian, bapak akan selalu mendukung kalian… ucap pak Media

Dan satu hal lagi… tapi aku ingin berbicara dengan arya saja, boleh? ucap pak Media, dan semua rekanku mengangguk

Aku dan pak Media kemudian berjalan ke tempat yang agak jauh dari koplak

Ar, bapak ingin bercerita, mungkin kamu sudah tahu rencana pertemuan besar mereka. tapi apakah kamu tahu kalau keluargamu menjadi sasaran mereka? ucapnya

aku sudah tahu, mereka membicarakannya ketika di danau ucapku

Ada sebuah alasan besar kenapa ayahmu ingin menghancurkan keluargamu ucap pak Media

Alasan? ucapku

Ya, ini semua karena wanita ucapnya

Maksud bapak? ucapku

Dulu ayahmu menyukai seorang wanita dan juga nicolas sahabat ayahmu. Tapi cinta itu ternyata tidak berbalas sama sekali, kedua wanita itu memilih menjadi istri-istri dari adik nenekmu. Selain lebih mapan, adik nenekmu lebih perhatian dan juga baik hati tidak seperti mahesa dan nico yang sejak kuliah sudah terlihat sangat kasar ucapnya

adik nenek? Yang mana? ucapku

Kamu lupa ya? Dulu kamu sering diajak jalan-jalan ke pantai waktu kamu masih SD. Mungkin kamu sudah lupa, tapi bapak tidak pernah melupakan itu. Dia begitu baik kepadamu padahal dia bukan saudara kandung dari nenekmu melainkan adik angkat ibumu, namanya Tian Tharno. Kakekmu itu masih sangat muda waktu itu jika dibandingkan ayahmu mungkin terpaut 2-3 tahun lebih tua kakekmu ucap pak Media

Eh… kakek Tian, iya aku ingat pak. Dia yang membelikan aku motor kesayanganku, REVIA, tapi aku tidak pernah tahu keberadaan kakek sekarang. Setiap kali aku bertanya mengenai kakek tian ke Ibu dan keluarga mereka selalu menjawab kakek sekarang berada diluar kota bersama kedua nenekku ucapku

Jelas kamu tidak tahu karena sebenarnya, dia sudah meninggal dunia ucap pak Media

Eh… tidak mungkin pak, beberapa tahun lalu aku baru saja bertemu ucapku

Memang benar tapi setelahnya dia mati dibunuh oleh… kamu tahu sendiri siapa ucap

Eh… Ayah.. HAH! teriakku keras

Kakekmu tahu semua tentang mahesa, ketika ayahmu datang bersama pak wicak dan bu mahesa. Pak tian, kakekmu itu sebenarnya sudah tahu niat busuk dari ayahmu. Pak tian kemudian mencari tahu mengenai lamaran dan perjodohan itu, hasilnya hanyalah rekayasa saja. Kakek tian memberitahukan kepada pak warno (kakek arya/ ayah dari diah) tapi semuanya sudah terlambat apalagi ibumu sudah mengandungmu karena dipaksa memuaskan nafsu ayahmu.

Setelah kejadian itu, pak warno menyuruh pak tian untuk pergi dari daerah ini bersama kedua istrinya, ya karena kakekmu tahu mengenai perjalanan asmara adik iparnya itu. Hanya sekali saat itu, dia pulang dan mengajakmu bermain bersama om-tante (anak dari pak tian) kamu yang hampir seumuran dengan kamu.

hingga akhirnya beberapa tahun lalu dia kembali ke daerah ini, pak tian membangun sebuah perumahan yang diberi nama perumahan ELITE. Selama pembangunan perumahan, semua berjalan biasa-biasa saja karena pak tian mengira semuanya sudah berakhir dan ayahmu melupakan kejadian mengenai percintaan masa lalunya.

Tapi ternyata tidak, mahesa mendekati pak tian dengan embel-embel bisnis. Pak tian sebenarnya tahu itu hanya tipu muslihat mahesa tapi malang, ketika pak tian sudah mulai bergerak untuk menjatuhkan mahesa dia terbunuh terlebih dahulu cerita pak Media

Setelah terbunuh, dia dibuang entah kemana. Aku tidak berada di sana saat itu. Dan sebagai gantinya Kaiman dijadikan kambing hitam, dan membuat dia dijadi budak ayahmu dan komplotannya. Tentang kedua nenekmu atau istri dari adik nenekmu, menghilang dan aku tidak tahu dimana mereka.

Bahkan anak-anak dari pak tian tidak ada yang tahu keberadaanya. Sebenarnya pak warno sudah tahu mengetahui semua itu namun tak kuasa melawan karena beberapa hal yang membahayakan keluarganya. ucap pak Media

dan alasan kenapa ayahmu mengadakan pertemuan di perumahan elite adalah daerah itu dulu adalah tempat kenang-kenangan bagi ayahmu dan nico sebelum akhirnya dibangun perumahan. Sekarang perumahan itu berpindah tangan ke nenekmu, itu juga karena usaha keras dari nenekmu merebut kembali milik adiknya yang hampir saja jatuh ketangan ayahmu ucap pak MEdia

HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! BAJINGAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAN! teriakku sekerasnya, hingga aku tertunduk lesu. Menjatuhkan kedua tanganku ke tanah dan memukul-mukul bumi tempatku berpijak. Hingga akhirnya aku duduk bersimpuh dan memandang ke langit

Semua koplak melihat kearahku, mengerti akan kesedihanku. Mereka tahu akan posisiku saat ini, mungkin ada sesuatu yang sangat mengganjal dihatiku dan mereka bisa memahaminya. Ditambah lagi semua kegilaan ini dikarenakan oleh Ayahku. Dengan tubuh yang lesu aku berdiri dan bergerak kearah mereka, bersama dengan pak Media yang menemani langkahku.

Keep Smile Cat! We always by your side ucap udin

Weidian, alien berbicara bahasa inggris bro ucap wongso

tumben-tumbenan bisa ngomong ha ha ha ucap anton

MATAMU SU! umpat udin

Aku tak bisa menahan gelak tawa akibat percakapan mereka. mereka selalu ada ketika aku bersedih, selalu ada ketika aku kesulitan. Well, they are my best friend, forever. Tak henti mereka membuat aku tertawa terbahak-bahak, membuat aku melupakan sejenak permasalahanku. Setelah tawa bersama dan kegilaan bersama.

Oia, pak Media, sebaiknya anda bersama kami untuk sementara sampai semua permasalahan menjadi reda ucap anton

Bapak terserah kalian, tapi tolong beritahukan kepada anak bapak kalau bapak diselamatkan oleh kalian ucap pak Media

Siiipz! Pak… tenang saja ucap anton

Arya, bapak ucapkan terima kasih banyak, sekali lagi terima kasih banyak atas bantuannya… ucap pak Media

Semuanya pasti akan baik-baik saja pak, pasti ucapku

yoi pasti pak ucap parjo

selalu baik-baik saja ucap wongso

Pasti baik ucap aris

Tidak pernah akan kata selain, baik ucap tugiyo

Setuju ucap hermawan, udin, karyo, anton, sudira,

Mimi cucu hyuk…. tiba-tiba dewo berucap

HA HA HA HA HA HA tawa kami bersama

Setelah malam ini, aku kembali ke khidupan semula. Pak Media, ayah dari mbak ara disembunyikan oleh anton dan IN. Aku kembali dirumahku yang sepi tanpa ada sesuatu didalamnya. Sesampainya di kamar, dadaku masih terasa sekali sesak karena takut jika ayahku mencurigai yang telah terjadi.

Apakah dia akan menaruh kecurigaan kepadaku? Atau dia akan menganggap yang terjadi adalah karena kesalahan anak buahnya yang mabuk setelah menjalankan misi? Semoga saja, dan aku berharap kalau Ayah beserta komplotannya mengira itu adalah murni kecelakaan karena kecerobohan dari anak buahnya sendiri.

Kurebahkan tubuhku malam ini di kamarku, hingga mata terlelap. Pikiranku melayang mengingat kejadian pagi tadi, mungkin aku memang harus segera mengambil tindakan agar aku bisa fokus pada satu masalah. Dengan rasa sedikit malas, aku membuka beberapa SMS yang masuk kedalam Smartphoneku, ku sentuh lama dan kupilih pilihan hapus semua tanpa melihat isinya. Selang beberapa menit, mataku tertutup dan tenggelam dalam lautan lelah dengan kadar garam kantuk yang sangat pekat.

Pagi hari…

ARGH! Sial aku kesiangan ucapku melihat jam di dinding menertawakanku karena aku bangun tepat jarum pendek diangka 10 dan jarum panjang diangka 12

Segeraaku melompat menyambut pagi yang telah terlewati. Cepat, itulah kata-kata yang tepat untuk pagi hari ini. Mandi, membuat mie instan, membuat teh hangat dengan keadaan hanya bercelana dalam yang aku kenakan sedari tadi setelah mandi.

Masa bodoh, tak ada orang dirumah! Aku terus beraktifitas, hingga akhirnya aku berlari menaiki tangga dengan dunhill berada ditangan kananku. Dengan masih bercelana dalam, aku membuka website dari kampusku, ku unduh sebuah format dokumen yang aku butuhkan.

Segera aku mengetik dan segera mencetaknya sesuai dengan format yang aku unduh. Dengan cepat pula aku memakai pakaianku sembari menunggu cetakan pada printerku.

Sial, sudah jam 11, argh! Harus lebih cepat lagi! ucapku kepada diriku sendiri

Segera ku sambar cetakan yang telah selesai, dan kuraih tas punggung yang selalu menemani kuliahku. Dengan sangat tergesa-gea aku mengeluarkan REVIA dan segera menutup pintu garasi. Ku kunci dan ngeeeeeeeeeeng! Secepat kilat motorku melayang, tak pernah ku menghentikannya, motorku melaju dengan kecepatan penuh.

Fyuh… akhirnya sampai juga ucapku lirih sambil melihat jam pada Smartphoneku menunjukan pukul 12.15 WIB

Semoga saja masih ada orangnya dan belum pulang, karena hari ini adalah hari yang sebenarnya jika dikatakan aktif juga belum aktif tapi pegawai dan karyawan tetap masuk. Biasanya kalau pulang mereka lebih awal, jadi kali ini aku berharap mereka semua belum pulang.

Aku melewati tempat parkir pegawai dan karyawan, untungnya saja masih penuh jadi bisa aku pastikan masih ada orang di gedung jurusan. Segera aku berlari ke gedung jurusan dimana aku biasa mengurus keperluan kuliahku. Sesampainya di dalam gedung jurusan aku kemudian melanjutkan langkahku menuju tempat tujuanku.

Tok… tok… tok… tok… tok…

iya masuk saja ucap seorang wanita dari dalam

Kleeeek…

selamat siang bu ucapku kepada wanita tersebut yang tak lain adalah bu dian

Eh… kamu ar, silahkan duduk… ucap bu dian sedikit gugup

Maaf bu, mengganggu waktunya saya kesini untuk menyerahkan ini ucapku sambil menyerahkan ketikan yang tadi pagi aku cetak dan kumasukan dalam stofmap

Apa ini? ucap bu dian

Hanya untuk mewujudkan keinginan bu dian saja ucapku sedikit santai, yang sebenarnya dalam hati aku sudah benar-benar muak dengan keadaan antara aku dan dia. Perlahan dia memutar stofmap yang aku berikan. Dengan bersandar pada kursinya, dibukanya dan dibacanya dengan sedikit menunduk sehingga aku sudah tidak dapat melihat matanya.

Sial, lama amat sih wanita ini baca, bukanya formatnya juga sudah sama dan isinyap pun sedikit kok lama sekali bathinku

Kleeeeeeek… pintu terbuka, aku menoleh ke arah pintu tersebut dan bu erna masuk

hiks… jahat kamu mas ucap bu dian tiba-tiba membuatku terkejut, aku menoleh ke arah bu dian tampak air mata menetes di pipinya. Aku terkejut atas responnya. Kenapa malah seperti ini? bukannya dia menginginkan aku untuk pergi kemarin?

lho, yan ada apa? ucap bu erna mendekat tepat disebelah bu dian, aku seperti orang ling-lung. Kulihat bu dian menyeka air matanya

Apa ini?! ucap keras bu erna, diambilnya kertas itu dan…

Kreeek kreeek kreeek srsrsrk srsrsrsk… kertas itu disobek dan kemudian di remas-remas, dilemparkannya ke mukaku

Dasar mahasiswa tidak tahu diri! Sudah dibantu kesana-sini malah mengecewakan dosbing kamu! ucap bu erna dan aku masih terpaku dengan wajah bu dian yang menangis

Eh… aku… saya… Cuma… ucapku gugup

Keluar kamu! bentak bu erna

ta.. ta…. tapi bu… ucapku

keluar ya keluar! bentak bu erna kembali

Tanpa bisa membantah aku keluar dari ruang dosen tersebut. Aku tampak bingung dengan ekspresi wajah bu dian yang menjatuhkan air matanya. Aku jadi bersalah ketika otakku mengingat hal yang baru saja terjadi. Aku sangat ingat bagaimana dia marah kepadaku ditelepon waktu itu, dan membuatku menutup teleponnya.

Jelas saja, aku tidak ingin mendengar kata-kata bentakan dari dia lagi. Ingatanku kembali memutar sejalan dengan kaki melangkah menjauhi gedung jurusanku. Dengan tenang aku mulai mengingat setiap kejadian yang terjadi padaku adakah yang salah denganku.

Dimulai dari bagaimana dia merawatku setelah dikejar-kejar oleh body guard ayah, hingga telepon kemarin pagi. Dari telepon itu jelas dia sangat tidak menginginkanku tapi jujur saja semua yang terjadi di pagi hari bertolak belakang dengan kejadian malam itu. Tapi kenapa dia harus marah-marah kepadaku? Apa salahku? Haruskah aku mencari setiap kesalahanku kepadanya? Wanita-wanita kamu memang benar-benar sungguh membingungkan!

Dalam perjalanan pulang ku tengok Smartphoneku berkali-kali mungkin ada sms yang masuk. BBM? Jelas tidak mungkin aku sudah menghapus kontaknya. Sms? Jelas saja aku juga tidak pernah hapal nomor HP bu dian, bahkan semua sms di inboxku sudah aku hapus. Daripada bingung mikir cewek coba-coba lihat bokep sajalah di internet sudah lama aku tidak melihat film biru semenjak aku sudah tidak pernah bertemu dengan Rahman. sial, dia pasti sedang indehoi disana.

Sesampainya di warung internet, aku mendapatkan bilik yang berada dipojok sendiri dengan tulisan smoking area. Membuka-buka website-website yang yuhuuuuu enak dipandang mata. Maklumlah namanya juga warnet mau pakai internet positif? Kagak bakalan laku dah warnet kalau pakai blokir-blokiran, biasa pengalaman he he he.

Lama aku memilah dan memilih film favoritku dari jepang, banyak sekali yang aku download. Ku download tiga film berukuran 500 MB perfilmnya. Lumayan lama aku menunggu, sambil menunggu aku pesan ke operator warnet untuk memesan minuman hangat dan sebungkus rokok dunhill mild.

Selang beberapa menit setelah aku kembali ke bilik warnet, operator warnet datang memberikan aku minuman hangat dan sebungkus rokok. Sambil menguap, aku menunggu film yang ingin aku simpan dikomputer rumahku. Dan…

Ya halo bos, ada apa bos telepon siang? ucap seorang lelaki disamping bilikku

Oh, tenang bos, setelah aku selidiki kemarin ke tempat kecelakaan dan bertanya kepada polisi, kecelakaan murni kelalaian pengemudi bos karena ditemukan botol minuman keras di sekitar mobil yang terbakar lanjutnya, aku mendengarkan dengan seksama

benar bos, tidak ada kemungkinan kalau itu kecelakaan disebabkan oleh seseorang ucapnya

oke, oke bos, segera aku menuju ke tempat tujuan lanjutnya

Eh… apakah orang ini ada kaitannya dengan ayah? bathinku, aku menunggu sebentar menunggu momen yang tepat untuk mengintip laki-laki yang baru saja menelruma telepon

Ting tung… (bunyi billing yang ditutup)

Aku langsung berdiri secukupnya, kulihat seorang lelaki dengan postur tubuh yang lumayan tinggi. Berbaju hitam, kacamata hitam dan kesemuanya penampilan laki-laki ini sangat misterius. Tak berlama-lama aku mengintip dan langsung kembali ke posisiku semula. Berarti benar, dan dapat dipastikan ayah menganggap kematian anak buahnya sebagai kelalaian mereka sehingga terjadi kecelakaan.

Bersambung