Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 64

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 64 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 63

Ku arahkan motorku dengan sangat cepat melintasi jalanan di perbukitan. Sedikit rasa kesal yang aku lampiaskan pada gas motorku, kesal karena niat baikku untuk meminta maaf malah mendapat kemarahan darinya. Dengan menekuk-nekuk motorku, akhirnya aku sampai di warung wongso. Sambil berjalan ke rumah wongso yang berada dibelakang warungnya aku membuka kembali Smartphoneku, ada beberapa panggilan tak terjawab yang masuk.

Tapi masa bodohlah, ayah mbak ara lebih penting sekalipun dulu dia pernah akan memperkosa ibuku. walaupun seperti itu, mbak ara sudah bercerita banyak kepadaku mengenai ayahnya, yups sebuah kesalahan yan gbisa diperbaiki. Aku kemudian duduk di teras rumah wongso, selang beberapa saat wongso membawakan minuman dingin yang disebut dengan es teh, sebanyak jumlah koplak.

Tak perlu aku ceritakan satu persatu bagaimana koplak datang. Yang jelas mereka datang dengan wajah yang sangat serius, senyum kebengisan yang aku lihat dari wajah mereka. setelah semuanya berkumpul dan duduk bersama, kami… ingat tanpa dira yang masih entah dimana.

Ayo ngomong! ucap karyo

oke… begini… ucapku dengan pandangan menyebar keseluruh manusia yang berada disekitarku saat ini. setelah aku selesai bercerita sepertiga luas alas kali tinggi sama dengan volume, tanpa menceritakan kejadian di cermin darat rembulan.

nton… ucap dewo

okay, brother…

ar, jujur saja informasi yang kamu dapat lebih cepat dariku bahkan lebih komplit. Sekarang begini, jika dari cerita kamu memang benar tidak ada kemungkinan mereka akan melakukan pertemuan besar yang ada hanya mencoba menyingkirkan ayah mbak ara.

Dan, apakah kamu ada informasi yang lain ar? Mungkin mengenai gelagat ayahmu atau bagaimana? tanya anton dan aku hanya menggelengkan kepala karena memang aku belum ingin menceritakan kejadian di danau

bagaimana rencanamu nton? ucap tugiyo

kita belum bisa memastikan rencananya seperti apa, kita saja belum tahu berapa orang yang akan membawa sibuku atau ayah mbak ara ucap anton

buat kemungkinan saja, kalau rencana dadakan ndak bagus tuh ucap wongso

okay sebentar, rokok su… ucap anton

Kami semua memandang anton dengan serius, dia memikirkan semua penjelasanku…

Bajingan! Kalau lihat aku jangan kaya gitu su! Emange aku penjahat! ucap anton tiba-tiba

memang, penjahat kelamin ucap hermawan

Ya, betul ucap udin

owalah diiiiin din, disekolahkan tinggi-tinggi Cuma bisa bilang ya betul ya betul terus dari kemarin ucapku

mikir utang paling ucap aris menimpali

ya betul ucap udin

Ciiiiiiiiiit…. klek… semua pandangan mengarah pada mobil yang baru saja datang. Pintu depan terbuka dan keluarlah makhluk luar angkasa

ASUUUUUUU! teriak kami bersama-sama

Ya dira keluar dengan menggunakan kemben ketat memperlihatkan buah dada sintetisnya dan juga celana legging yang sangat ketat. Dan yang membuat kami terperangah adalah bagian selangkangannya sudah rata tak ada tonjolan seperti empunya kami.

halo ganteeeeeeeng muach…. mau dira servis? Satu-satu ya? Tenang saja dira kuat kok kalau Cuma koplak hhi hi hi ucap dira sambil berjalan layaknya berada di atas catwalk

TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK! ucap kamu bersama-sama membuat kamu terjatuh dari duduk kami

iiih… sebel deh ucap dira sambil melengos layaknya seorang wanita

paling yang doyan kamu yang ndak kenal sama kamu dir ucap joko

aku mending sama pacarku, satu ronde tak apalah daripada sama kamu ucap parjo

bodo amat weeeeekkkk….

bu… minum hangat, dan sehat ucap dira ke ibu wongso

owalah leeeee le(naaaak nak), dulu kamu itu lele sekarang kok malah jadi kolam lele ucap ibu wongso sambil geleng-geleng diikuti gelak tawa kami

Dira, ya ampuuuuun ucap asmi yang keluar dari pintu warung belakang tepat dibelakang ibunya wongso

eh asmi, halo cantik ucap dira mendekat ke asmi

iiih… punya kamu kok segitu terus, mau kaya aku ndak as ucap dira sambil meraba payudara asmi dan membusungkan dadanya

apaan sih kamu! ucap asmi

Tiba-tiba…

Bro… aku ada rencana! ucap anton keras membuyarkan semua canda kami

ini hanya rencana awal, jika ada informasi tambahan kita bisa memperbaikinya. He he he… beruntung kita punya dira ucap anton, kamipun tersenyum melihatnya

begini… ucap anton kemudian menceritakan rencananya

MANTAB! teriak kami bersama

iiih pasti deh akyu… ucap dira yang masih bersama asmi

cantik mau dong ya? nanti ndak cantik lagi lho kalau ndak mau? ucap dewo

iiih sebel deh, giliran rencana kaya gini dirayu, kalau pas ndak ada rencana di cuekin iiih sebel sebel sebel ucap dira sambil bersedekap dan membelakangi kami

jangan gitu dong dira cantik, ini kan demi kebaikan bersama ya ya ya ucap wongso yang merangkul dira dan mentowel pipinya

iiih sebel deh… ucap dira yang ngambek

mas wongso! Apaan sih! Ibuuuuuuuuuuuuuuuu mas wongso godain dira! teriak asmi yang tiba-tiba keluar dari warung

Lempar pakai panci saja As! balas ibu wongso

jangan-jangan… ucap wongso sambil meminta ampun ke asmi

HA HA HA HA teriak kami bersama begitu pula dira, yah kami tahu dira hanya pura-pura saja tidak mau

Lama tak jumpa membuat kami rindu untuk bercengkrama kembali. Kami berkumpul beberapa piring dan gelas sudah berserakan di dekat kami. walaupun begitu kami tidak meninggalkan tanggung jawab kami untuk mencuci dan kadang kala membantu warung ketika pengunjung tambah ramai.

Kebersamaan kami membuat kami lupa akan waktu, waktu mulali merangkak menuju malam hari. Waktu pula yang memisahkan kami semua, hingga akhirnya kami satu per satu pamit ke ibunya wongso.

Pokoknya hati-hati, ndak usah ngebut! ucap ibunya wongso

Iya ibuuuuu… teriak kami

Kami pulang hingga sampai pada tempat dimana kami biasa untuk tidur dan bercengkrama bersama keluarga. Dan aku? Masih sepi karena aku tahu ayah tak akan pulang, mungkin dia sedang menyusun rencana.

Kini aku berada didalam kamarku, didalam kar penuh dengan memori kenangan bersama ibu tapi sekarang ibu sedang berada jauh disana. Aku berganti pakaian dan kemudian merebahkan tubuhku, tangan kiriku memegan guling dan tangan kananku memegang Smartphone. Kubuka pesan BBM yang masuk dari dia, dian. tak kubalas dan hanya aku baca. Tiba-tiba…

From : Bu Dian
Kenapa ndak dibalas? Saking puasnya diservis terus ndak bisa balas BBM ya?
(tak kubalas, hanya aku baca)

From : Bu Dian
Dasar bocah!

To : Bu Dian
Iya saya tahu, ndak perlu bu dian bilang saya juga tahu kalau saya itu bocah

From : Bu Dian
Bagus kalau sudah sadar diri!

To : Bu Dian
Iya bu, selamat malam
Selamat beristirahat

From : Bu Dian
Oooo… gitu ya?
Memang bocah aneh! Sudah skripsi ndak selesai-selesai, sukanya anu-anu saja!

To : Bu Dian
Bu dian kenapa to? Dari tadi pagi marah-marah sama saya terus?

Cublak cublak suweng… ringtone HP. Bu Dian. mau tidak mau aku angkat

Kamu tersinggung? Bagus kalau begitu, tersinggung dong, marah!
Bu maaf, saya tidak tahu alasan bu dian kenapa marah-marah ke saya

aku kan dah bilang kamu menggangguku tadi pagi, dan itu tidak bisa dimaafkan. Aku benar-benar kesal dengan keberadaan kamu tadi pagi, sudah skripsi ndak pernah diurus sukanya haya senang-senang saja! dasar bocah! (sangat keras, terduduk dan satu tanganku mengusap wajahku)

Aku benar-benar kesal dengan kamu, kenapa juga aku harus membimbing bocah seperti kamu! Dasar bocah tak bisa tahu dirinya sendiri! Kamu itu bocah yang ergh… kenapa harus ada bocah seperti kamu! kenapa kamu tidak bimbingan dengan yang lain? Kenapa harus dengan aku? Aku benar-benar tidak ingin bertemu kamu lag… eh (aku terperanjat ketika mendengar kata-kata terakhir itu)

terima kasih sudah mengatakan sebenarnya bu, anggap bocah itu…
tunggu dulu mak… (ucapnya mencoba memotong pembicaraanku tapi aku terus berbicara di telepon)

lupa akan janji-janjinya, anggap bocah itu sudah mati dan bu dan tidak perlu lagi bertemu dengan bocah itu. Akan aku usahakan bocah ini akan sesegera mungkin menjauhi bu dian, agar bu dian tidak merasa kesal dan terganggu lagi. Mohon maaf atas kesalahan sejak pertama kali bertemu bu dian dan hingga hari ini. terima kasih banyak

sebentar, aku… tuuuuuut….
Segera aku buka aplikasi BBM, ada panggilan masuk dan langsung aku tolak. Ku cari nama Bu Dian dan.. Delete Bu Dian? Cancel…. Delete? Delete… dan tentunya juga dengan nomor kontak personnya juga.

Aku sudah muak denganmu yan benar-benar muak! Aku letakan Smartphoneku dan ku buat dalam mode diam, kuletakan di meja komputerku dan kusambungkan dengan charger. Aku berjalan menuju arah saklar lampu dan kumatikan. Tampak sekali LCD dari Smartphoneku berkedip-kedip pertanda ada panggilan masuk.

Tak kuhiraukan. Segera aku langkahkan kakiku dan kurebahkan tubuhku dalam tidurku. Itukah yang dia mau? Itukah yang dia inginkan? Mungkin memang dalam hidupku hanya butuh satu masalah saja, tidak lebih dan tidak kurang dan itu adalah Ayahku, Dian? mungkin harus segera diselesaikan!

Pagi menjelang kudapati beberapa panggilan di Smartphoneku. Hanya ku lihat dan kuabaikan, segera ku mandi dan kupersiapkan diriku untuk nanti malam. Setelah semuanya siap dan sudah sarapan mie instan pagi ini, aku persiapkan barang yang perlu aku bawa.

Tapi sebelumnya biasa megang Smartphone dan juga teh tarik di depan TV. kubrowsing sebuah website ternama dan kulihat foto-foto di forum IGO yang buat refreshing mata karena beberapa hari ini tidak dapat jatah.

Do mikado eska eskado eskado bea beo. Ringtone hp. Mbak ara.

Halo mbak

ar, ayahku sudah memastikan kalau ayah akan dijemput oleh empat orang dalam satu mobil. Dan sebenarnya itu adalah permintaan ayah

Hm… mbak, apakah mbak menceritakan aku kepada ayah mbak?

eh… maaf ar, iya karena aku benar-benar butuh pertolonganmu

ndak papa kok mbak santai saja, okay kalau begitu pastikan ayah mbak hanya satu mobil tidak lebih (aku tersenyum manis, karena ini sesuai dengan rencana)

tapi kalau seandainya yang datang lebih dari satu mobil ar, bagaimana?

tenang… mbak, everything will be fine

eh… terima kasih ar

oia, apa alasan ayah mbak meminta satu mobil

ayahku mengatakan kalau itu hanya untuk keamanan saja agar tidak dicurigai, ayahku juga mengatakan kepada mereka kalau dirinya sedang dimata-matai, ayahku mengatakan itu agar mereka percaya dan mau

bagus, good reason, mbak tenang saja okay

iya ar, terima kasih

sama-sama, dah dulu ya mbak, aku mau berangkat

heem tuuuut

Segera setelah telepon dari mbak ara aku langsung menuju ke garasi dan kukeluarkan REVIA. Pelan tapi pasti akhirnya aku sampai di tempat wongso, sudah ada beberapa sahabatku yang berada disana. Sambil menunggu waktu malam tiba, satu persatu dari koplak akhirnya berkumpul.

Setelah semua berkumpul aku kemudian menceritakan mengenai telepon dari mbak ara, yups senyum indah melekat di bibir kami. tepat pukul 17:00, mbak ara memberi kabar mengenai waktu ketika ayahnya akan dijemput. Dan setelah kabar dari mbak ara, kami langsung beranjak dari tempat kami dan mulai bersiap-siap.

pokoknya hati-hati begitu ucapan ibunya wongso yang kami balas dengan anggukan

18:30
Kami semua berangkat ke pos masing-masing. Kami terbagi dalam dua kelompok, satu kelompok menggunakan sepeda motor bebek hitam, pinjaman dari anton yaitu aku, wongso, dewo dan anton. Aku sebagai rider dan wongso memboncengku, di motor satunya lagi dewo rider dan anton yang membonceng. Sedangkan sisanya berada di mobil pick up hitam. Menyamar? Pastilah!

19:00
Kami berangkat menuju lokasi yang akan menjadi tempat perkara. Mbak ara kemudian mengirimkan sms yang memberitahukan kepada kami ciri-ciri mobil dan plat nomor yang menjemput ayahnya. Sebuah mobi sedan berwarna merah dengan plat nomor YES 1234 OH.

20:00
Kami sudah dipos masing-masing, aku bersama ketiga rekanku berada di semak-semak jalan masuk bukit orang utan.

20:30
Sebuah mobil dengan ciri-ciri yang sama melintas didepan kami.

roger danuarta, mobil sudah lewat ucap anton dalam mikropon yang ditujukan kepada mobil pickup

diterima! balas karyo

Setelah sedan itu melaju dan jarak terlihat jauh, kami kemudian keluar dari persembunyian kami dan mengikuti dari jarak kejauhan agar tidak dicurigai. Setelah beberapa saat, dari jauh mata memandang mobil yang ditunggangi oleh ayah mbak ara berhenti sejenak, karena mobil pick up sudah berada di depan dan berjalan lambat menunggu kedatangan mereka.

Dari kejauhan aku melihat dua buah kepala keluar dari pintu depan mobil dan tidak marah. Aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi di mobil bak terbuka itu, jujur saja tidak begitu terlihat jelas tapi yang jelas masih masuk dalam rencana.

Perlahan tapi pasti aku kemudian mendekat ke arah mobil sedan tersebut, kini aku berada sedikit lebih dekat dengan mobil sedan yang menjadi target kami. Dan yang jelas rencana tetaplah rencana karena kelakuan koplak yang berada di atas mobil pick up benar-benar diluar ekspektasi kami berempat.

Posisi sekarang, pick-up, mobil sedan dengan jarak kurang lebih 1-2 meter dan dibelakang mobil sedan ada 2 motor bebek dengan jarak kurang lebih 3 meter dari mobil sedan. Aku, wongso, anton, dewo hanya bisa tepuk jidat didalam hati melihat tingkah laku mereka yang di pick-up. Pantas saja dua orang body guard tidak marah, setelah aku mendekat dan mobil pick-up diterangi oleh lampu jalan.

Aseeeek goyang yo a… e…. a… e…. a… e…. a… e…. a… e…. teriak parjo sambil mengangkat botol minuman keras, tapi aku tahu dia tidak mabuk

Terlihat dira sedang bergoyang dengan lincah dan bahagia, menari berjoged ditengah-tengah kerumunan koplak yang lain. Laju mobil bak terbuka (pick up) pun bergoyang ke kanan kekiri seakan-akan memperlihatkan pengemudi yang mabuk.

Sudira, SUka menjadI waRriA, sedang menari dengan celana hot-pants serta atasan berupa pakaian yang ketat seperti bra spot yang memperlihatkan separo payudara sintetisnya. Kedua orang body guard yang berada di jok depan mobil sedan bukannya marah, tapi mengeluarkan kepala sambil menggoda Sudira.

Buka dong mbaaaaaaaaaaaaaaak teriak pengemudi sedan

yang bawah juga donng, aseeeeeeeeeeeek goyang terus teriak laki-laki di pintu depan sebelah kiri sedan

Goyang teruuuuuuuuuuuus! teriak udin dan hermawan sambil duduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya

edan, kalian ucap anton di mikropon yang terdengar samar dan kalah dengan suara dangdut dari tape recorder tua yang memutar lagu

tenang saja bro… lebih edan lebih koplak brother ha ha ha balas karyo pengemudi mobil pick up

Kini mobil pick up terus berjalan zig zag, tak ada protes dari mobil sedan dibelakangnya. Mobil pick up yang berjalan zig-zag membuat mobil sedan setidaknya terpengaruh dan ikut membuntuti pergerakan mobil pick-up. Kini mobil sedan tersebut berjalan tepat ditengah jalan dan 2 motor bebek hitam berada tepat dibelakang mobil sedan.

Tak diperkirakan, kedua orang yang berada dijok belakang ikut keluar bahkan membuka pintu kaca mobil belakang dan duduk di pintu mobil. Satu tangan dari masing-masing orang yang duduk di jok belakang berada diatap mobil sedan dan satu tangan dari masing-masing mereka menari-nari diatas udara mengikuti goyangan dira. Dari sinar lampu merah pick-up dan juga sinar lampu depan sedan yang terpantul dan menerobos ke dalam sedan dapat terlihat ada satu orang yang berada di jok belakang.

Ternyata lebih mudah ucap anton dari mikrophone

Yo, nton… kamu kiri apa kanan? ucap wongso

kiri saja nton, lebih enak kayaknya ucap dewo

kita kanan cat balas wongso, padahal di kanan kami adalah jurang

oye… ucapku

Dengan tarian dari Sudira yang semakin menggila, bahkan kadang menarik-narik BH bagian bawah. Mencoba memperlihatkan payudaraya kepada pengemudi sedan dan temannya. Membuat semua body guar teralihkan fokusnya. Aku bergerak ke kanan, dewo bergerak ke kiri.

di alonke sithik bro mobilmu (dipelankan sedikit bro mobilmu) ucap dewo kepada karyo

diterima balas karyo

Mobil pick up, kemudian melambat tanpa disadari mobil sedan itupun mengikuti.

Sekarang! teriak anton di mikrophone

Dua motor bebek melaju dengan kecepatan penuh.

BUGH… BUGH…

HEI APA YANG KALIAN… BUGH…. BUGH teriak pengemudi yang sempat akan menengok kebelakang menyadari apa yang kami lakukan

Ciiiittttt….. Brak! BRAKKK! Ciiiiiiiiiiiit….

WASYU! (ANJING!) teriakku dan wongso bersamaan

Mobil sedan yang dikendarai oleh bodyguard ayahku, dengan keempat orang bodyguard memperlihatkan kepala mereka. motor bebek bergerak dengan cepat kesamping kanan kiri mobil sedan tersebut, anton dan wongso yang sudah mempersiapkan pemukul memukul kepala dua orang yang dibelakang hingga tubuh bagian atas mereka rebah di atap mobil sedan.

Dua orang yang didepan menyadari kedua temannya terjatuh, tapi terlambat ketika mereka hendak memasukan kepala mereka sudah terlebih dulu terkena pukulan dari anton dan wongso. Mobil sedan kehilangan kendali dan menabrak motor bebek yang aku kendarai sejurus kemudian mobil pick-up berhenti dan sehingga setelah menabrak motor bebekku, mobil sedan tersebut menabrak pick-up. Aku sempat kehilangan kendali akan motorku dan dengan sigap aku rem tepat didepanku pagar pembatas antara jalan dan jurang.

hampir saja… hufthhh ucapku

duh gusti duh gusti… aku rung metengi asmi, ojo nyemplung sek (ya tuhan ya tuhan, aku belum menghamili asmi jangan jatuh dulu) ucap wongso yang memelukku denga erta

HA HA HA HA HA HA teriak koplak di atas pick-up melihatku dan wongso berpelukan

Dasar pasangan homo ucap karyo

AH MATAMU SU (NJING) teriakku

BAJINGAN, KANCANE MEH MATI MALAH DIGUYU! (Temannya mau mati malah ditertawakan) teriak wongso

Jalanan tampak sepi, tak ada seorang yang berani malam-malam melewati bukit orang utan. Dengan langkah cepat tanpa menunggu, kami semua kemudian mendekati mobil sedan tersebut. Tampak seseoran keluar dari pintu belakang sedan, sehingga satu orang bodyguard terjatuh ke jalan.

Orang setengah baya yang aku selalu ingat akan wajahnya kini berdiri, didepannya tergeletak tubuh body guard yang tidak sadarkan diri.

terima kasih ar… ucap lelaki setengah baya tersebut atau lebih dikenal sebagai si buku

Aku hanya tersenyum dan berjalan ke arahnya menepuk bahunya. Aku bersama koplak kemudian memasukan kembali tubuh yang kehilangan kesadaran itu ke dalam sedan. Anton kemudian menyupir sedan tersebut, dan si buku ikut ke rombongan pick-up. Tak ada lagi lagu dangdut yang menyertai perjalanan kami.

tanyakan sama bapaknya, kemana tujuannya? ucap anton,

hutan setelah pemukiman warga balas karyo

Mobil melaju dengan cepat dan sampailah kami semua ditanah lapang, kecuali dewo yang malah terlihat membalas pesan masuk ke Smartphonenya sehingga dia terlambat dibelakang. Setelah ditempat itu, kami semua turun begitu pula dengan si buku. Sibuku hanya diam, ketika kami semua berdiri didepan mobil sedan yang masih menyala lampu depannya.

bagaimana dengan mereka, bisa saja kita ketahuan kalau misi mereka gagal ucap aris

aku sudah pikirkan itu semua, tenang saja tapi memang ada kemungkinan mereka akan tahu kalau sibuku masih hidup ucap anton

Asal identitas kita tidak diketahui oleh mereka itu bagus ucap wongso

kita habisi mereka disini saja ucapku

tidak terlalu beresiko ucap udin, dan membuat kami semua melongo

Tumben bisa ngomong din? ucap parjo yang menggenggam botol minuman keras

Ah, MATAMU! balas udin

benar kata udin, terlalu beresiko jika kita menghabii mereka disini dan ini akan memperlihatkan bahwa bapaknya memang benar-benar berhubungan dengan pihak lain. Mereka akan berpikir kalau rencana mereka bocor karena bapaknya, itu membahayakan keluarga dari si bapak ucap anton membuat kami manggut-manggut

Ciiiiiiit…. Dewo datang, langsung berjalan ke arah parjo

Njaluk wedange, aku ngelak (minta minumnya, aku haus) ucap dewo yang langsung menyerobot botol tersebut dan berjalan ke arah mobil sedan

Wo… jangan aduh… ucap parjo menepuk jidatnya, ketika melihat dewo menenggak sebotol minuman keras.

Glek glek glek glek glek glek glek glek glek… dewo meminum habis sebotol minuman tersebut dan bersandar disamping pintu depan mobil dengan kaca terbuka tersebut

Aduh… hanya itu ucap parjo

kenapa jo? ucapku

itu minuman belum tak ganti isinya, masih cong yang (minuman keras) ucap parjo

HAH! WADUH! teriak kami bersamaan dan menepuk jidat bersama-sama

hyuk… hyuk… oh bulan… datanglah padaku huoooo… ooooo… dewo meracau mabuk

waduh, ngurusi orang gila ini ucap karyo

Kriiiiiiiiiing…. kriiiiiiiiing… suara ringtone telepon masuk dari dalam mobil

Eh… yayang telepon, mana teleponnya ucap dewo yang sudah mabuk tersebut memasukan setengah badannya ke dalam mobil

CELENG (BABI HUTAN) dewo ditarik bro ucap anton

Terlambat… sekalipun kami sudah menarik dewo keluar tapi telepon sudah diangkat oleh dewo. Mau bagaimana lagi, akhirnya aku dan anton mendekatkan kuping ketelepon yang diangkat dewo. Dewo dengan santai membalas setiap pembicaraan dari dalam telepon.

Haliyoooooo… sayangku…. ucap dewo

Sayang-sayang gundulmu! Kalian sedang apa! Sudah beres atau belum? teriak seseorang dari dalam telepon

beres? Sebentar ya sayang, tak tanyakan duyu.. hyuk… sudah beres belum hei… sudah ya? Oh iya sudah ya? hyuk… beres ketes ketes ucap dewo yang sempat bertanya kepada kami semua dan kami hanya mengangguk

Kamu mabuk? ucap seorang dari dalam telepon

mabuk hyuk… ndak mabuk Cuma sedikit mimi hyuk… biar enyaaaaaaaaaaaaaaaaaaak… biar ndak stlessssss… hyuk… mimik cucu he he he he ucap dewo

Argh! Cepat kembali! ucap seseorang dari dalam telepon yang sedikit kesal

kembali kepadamu? Oh cintaku… hyuk cintaku…. hyuk… ucap dewo yang mulai tak sadarkan diri

ARGH! Dasar bodoh! Cepat kembali! teriak seseorang dari dalam telepon

bodoh? Kamu yang bodoh hyuk… aku mah pintar SMA aku ranking satu hyuk dari belakang bodoh hyuk… balas dewo

AKAN AKU HUKUM KALIAN, CEPAT KEMBALI! teriak seseorang kemudian menutup telepon

Dewo kemudian hampir terjatuh dan aku tangkap tubuhnya. Aku dan anton serta wongso kemudian saling berpandangan. Koplak yang lainpun tahu kalau ada rencana busuku didalamnya. Kami segera angkut dewo dan kami tidurkan di bak terbuka mobil.

Anton kemudian memutarkan mobil tersebut dan berjalan ke arah pulang, aku dan wongso serta karyo membuntuti dengan kedua motor bebek. Setelah sudah agak jauh dari tempat kami berkumpul tadi anton, kemudian keluar dengan pintu mobil masih terbuka. Anton tampak masih mengotak-atik sesuatu karena tubuhya sebagian berada didalam mobil. Tiba-tiba mobil berjalan anton langsung menarik tubuhnya dan….

Ngeeeng….

Braaaaaak…..

Nguuuuuuuuuuuung…

Braaaaaak…..

Braaaaaak…..

DHUAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRR!

Aku dan tiga orang temanku kemudian berdiri di atas jurang melihat kebawah jurang dimana sebuah mobil terbakar. Pemandangan yang lumayan indah untuk malam yang dingin ini. Aku dan mereka bertiga kembali ketempat kami berkumpul tadi.

Gimana? ucap parjo sambil mengipas-ngipas wajah dewo

Sip! ucap anton

untung saja ucap aris dan tugiyo

iya, kalau bukan karena dewa mabuk ini mungkin kita bakal buntu ucap udin

TUMBEN BISA NGOMONG YANG LAIN! teriak kami meneriaki udin

Celeng (babi hutan) umpat udin

Terima kasih… terima kasih… hiks hiks hiks… teriak seseorang yang berlutut di belakangku, kami semua kemudian berbalik dan melihat kearahnya.

Aku hanya mendekatinya dan mengangkat tubuhnya serta menahannya agar tidak kembali berlutut dihadapan kami. Laki-laki ini, laki-laki yang dulu pernah hampir memperkosa ibuku kini sedang menangis dihadapanku. Kupandangi lelaki setengah baya dengan wajah yang masih dihujani air mata ini.

Dimalam dingin dan sunyi hanya bertemankan koplak, dan seorang lelaki yang sedang berusaha menghentikan air matanya. Dan satu orang dari kami menghiasi malam ini dengan dengkuran keras setelah menenggak minuman yang mengandung ethanol langsung satu botol tanpa jeda.

Aku masih disini didepan lelaki setengah baya yang memberiku memori kebencian namun memori itu kini hilang entah kemana setelah aku melihat wajah penuh denan penyesalan ini. Beberapa sahabatku dibelakangku ada yang duduk di bak mobil pick-up ada juga yang duduk di motor.

Sudahlah pak, tenang… ucapku

jujur bapak tidak habis pikir ar, kamu adalah anak yang dulu hiks hiks maafkan saya… ucapnya

itu adalah masa lalu dimana bapak masih terperangkap didalamnya, dan aku yakin dulu itu juga tidak masuk dalam rencana bapak. Sudah pak tenang, berterima kasihlah pada mbak ara karena dia, aku jadi tersadar bahwa semua orang pernah berbuat kesalahan dan akan memperbaikinya ucapku, walau dalam bathinku masih bertentangan dengan apa yang aku ucapkan

terima kasih… terima kasih… jika tidak ada kalian mungkin aku sudah menjadi tubuh tak bernyawa ucapnya

Rokok pak? ucapku menawarkan sebungkus dunhill mild kepadanya

bapak ndak merokok ucapnya sambil mengusap air matanya

iiih bapak, sini… sini dira peluk biar ndak nangis lagi ucap dira mendekat

Hati-hati pak itu cowok yang berubah lho pak tapi batangnya sudah hilang ha ha ha ucap karyo yang diikuti gelak tawa kami

Eh… beneran? ucapnya

iya pak ucapku

iiih buka kartu deh, padahal mau dira rokok si bapaknya… ketahuan dulu hi hi hi ucap dira

edan kamu dir ucap udin

eh… udah berapa kali udin mengucap dengan bahasa manusia ucap wongso

matamu wong ucap udin sewot dan kami hanya bisa tertawa terbahak-bahak

Ar, sekali lagi aku minta maaf atas kejadian waktu itu ucapnya

Sudah pak, lupakan saja asal ndak mengulang kan beres pak ucapku

sudah, acara keluarganya sudah selesai kah? ucap anton, aku dan bapaknya mbak ara melihat kearah anton dan mengangguk

Maaf mengganggu, bapak adalah media pertama, benar kan? Saya anton anggota IN ucap anton sambil menyodorkan KTA-nya, membuat bapak mbak ara sedikit terkejut

Bersambung