Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 63

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 63 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 62

Tiba-tiba didepanku terlihat seorang kakek sedang memboncengkan kayu-kayu bakar yang diikat di belakang kursi kecil sepeda kerbaunya (istilah sepedha onthel didaerah ini). kakek itu kehilangan keseimbangan sehingga kayu-kayu itu jatuh dan berserakan.

Segera aku hentikan laju motorku dan ku berlari membantu kakek itu untuk menata kembali kayu-kayunya. Sejenak kulihat mata kakek itu menyipit dan tersenyum kepadaku, dia kemudian duduk dipinggir jalan sambil mengibaskan topi yang dikenakannya. Aku kemudian duduk disampingnya.

terima kasih ya nak ucap kakek tersebut

iya kek sama-sama, kakek merokok? ucapku sambil menawarkan dunhill yang tinggal beberapa batang

ha ha kalau rokok kaya gitu, 1 menit habis nak, kakek biasanya rokoknya ini ucap kakek tersebur menunjukan rokok tingwe (linting dewe alias racikan sendiri) yang kemudian menyulutnya satu batang

wah kalau saya gih mboten kulino kalihan rokok niku mbah (ya tidak terbiasa dengan rokok itu kek) ucapku sambil menyulut dunhill mild

ha ha ha ha… sedang jalan-jalan nak? ucap kakek tersebut

iya kek, nyari angin ucapku

angin kok dicari, memang dirumah ndak ada angin nak? ucap kakek tersebut

ya ada kek, maksudnya ya pengen jalan-jalan saja cari suasana baru ucapku

Nak, kakek tidak tahu siapa kamu, tapi kakek tahu kamu orang baik. Ada sebuah beban yang sangat berat dipundakmu maka selesaikanlah dan… sudah hampir siang hari kakek mau pergi dulu sudah ditunggu istri kakek untuk memasak ucap kakek itu

dan apa kek? ucapku melihat kakek itu berdiri dan menaiki sepedanya, aku pun ikut berdiri dan berada dibelakang kakek itu

wajar jika manusia pernah berbuat kesalahan, seperti halnya kakek juga pernah berbuat kesalahan, tapi apa salahnya keluar dan memperbaikinya. Selalu ada kesempatan bagi setiap manusia untuk meperbaikinya, dan satu hal lagi nak… kalau menolong orang jangan pilih-pilih ucap kakek itu kemudian menjauh dari pandanganku sedangkan aku masih tertegun dengan ucapan kakek

KAKEEEEEEEEK TERIMA KASIH teriakku yang baru tersadar setelah kakek itu mengayuh sepeda kerbaunya menjauh dan hanya lambaian tangan kirinya yang menjawabnya

Apakah benar jika aku meperbaikinya dia akan mau menerimaku? Ah terlalu naif jika aku berpikiran seperti itu, dan terlalu bodoh bagiku jika aku harus kembali kepadanya. Aku sudah terlalu sering menyakitinya. Kakeeeeek kakek, baru saja ketemu sudah bisa baca situasiku.

Apa jangan-jangan dia dukun? Ha ha ha ha… kulanjutkan perjalananku hingga tak sadar REVIA berbelok ke arah kampus tercintaku ini, tampak sepi dan lenggang. Hanya ada beberapa motor yang terparkir di tempat parkir.

Aku kemudian berjalan menyusuri tempatku menuntut ilmu, hingga akhnya aku sampai di depan kanto tata usaha fakultas. kulihat papan pengumuman disana, kubaca satu persatu informasi mengenai lomba, bea siswa dan beberapa informasi mengenai perkuliahan. Ketika aku menggeser kakiku untuk membaca pengumuman yang berada di pojok papan informasi.

Sreeeek… kakiku mengenai sesuatu di lantai

eh… kunci siapa ini? bathinku dan kuambil sebuah kunci

Kuamati kunci tersebut dan kulihat merek sebuah produsen sebuah kendaraan bermotor. Jika dilihat dari bentuknya ini bukan sebuah kunci motor, aku masukan dalam saku jaketku. Kulangkahkan kakiku menuju setiap gedung di fakultasku ini.

melihat kesekeliling kampus yang tak bernyawa ini, sepi dan sepi hanya suara beberapa orang pegawai dan karyawan di fakultas ini yang terdengar samar. Lelah rasanya kaki ini berjalan, kusulut dunhill agar dia menemaniku kembali ke REVIA. Ketika aku berada disamping gedung Tata usaha, kudengar sebuah percakapan dan aku berhenti disamping gedung tata usaha.

yuk, makan bareng ucap seorang lelaki

iya bentar… duluan saja, nanti aku susul jawab seorang wanita

oke, aku tunggu di warung depan tempat parkir ya ucap seorang lelaki lain

cepetan lho jangan lama-lama ucap seorang wanita dengan suara yang lain menambahi agar wanita yang diajaknya segera menyusul

iya… iya bentar… ucap wanita yang diajak

Kudengar suara langkah wanita yang mondar-mandir didepan gedung Tata Usaha tapi aku tetap berada ditempatkuk berdiri. Hingga suara derap langkahnya menghilang, aku kemudian melangkah keluar dari samping gedung tata usaha menuju ke depan gedung.

Tak kulihat lagi wanita yang suaranya baru aku dengar. Kulanjutkan langkahku menuju ke arah tempat parkir fakultas melewati depan gedung tata usaha. Kulihat seorang wanita sedang sibuk mencari sesuatu, tampak sekali dia sedang kebingungan. Kadang dia sedikit berjongkok dan melihat ke bawah mobil dengan harapan menemukan benda yang dia cari. Kudekati perlahan wanita tersebut tanpa menimbulkan suara.

Sedang mencari ini bu? ucapku pelan mengagetkan wanita tersebut, dia kemudian berdiri dan berbalik menghadap ke arahku

Arya… eh mas… ucap bu dian sedikit terkejut dengan kehadiranku

iya mas, sedang nyari kunci kok bisa di mas? ucapnya wajahnya kemballi datar setelahnya

aku tadi menemukannya di depan papan informasi TU kok bu ucapku

terima kasih balasnya datar

Sama-sama, saya undur diri dulu bu jawabku sembari melangkah meninggalkannya

kok berangkat ke kampus? tanyanya menghentikan langkahku

Jalan-jalan bosan dirumah bu, anak-anak juga sedang piknik sendiri-sendiri balasku

Oh… ucapnya yang sedikit tersenyum kepadaku

Entah mengapa kaki ini serasa berat meninggalkan wanita ini.

Sudah ditunggu lho bu, kasihan cowoknya nunggu ibu di warung ucapku dengan jempol tanganku menunjukan arah dimana dia sedang ditunggu. Sekejap aku baru tersadar akan nada suaraku yang, gimana ya….

eh.. iya… ucapnya sambil mengulurkan tangan kepadaku, aku malah kebingungan sendiri kenapa harus berjabat tangan?

eh… iya bu ucapku bergerak maju sembari mengulurkan tanganku meraih tangannya

terima kasih sudah menemukan kunci mobilku ucapnya sambil sedikit meremas tanganku lembut

sama-sama bu balasku

aku pergi dulu mas ucapnya, aku hanya menggguk dan..

Tiba-tiba tangaku ditariknya, kepalanya menunduk. Ditempelkannya punggung tanganku di pipinya.

Deg… deg… deg… deg deg deg deg deg deg deg deg deg deg deg deg deg deg deg

Jantungku serasa mau keluar dari dada ini, dan berlari mencari air minum. Berlari mencari tempat teduh dengan semilir angin yang sepoi-sepoi agar bisa mengeringkan keringat yang keluar. Tanganku… tanganku… di tempelkan di pipinya… di pipi… arghh…. tanganku kaku, tak bisa aku gerakan ketika punggung tanganku menempel di pipinya… setelah terlepas dari pipinya pun tanganku masih kaku… kenapa ada apa ini? aku sedang di daerah tropis tapi kenapa tanganku membeku?

aku maem dulu ya mas, mas hati-hati pulangnya ucap bu dian

i… i… ya… ucapku sambil memandangnya berjalan pergi meninggalkanku, tubuhnya tak memperlihatkan sedikitpun keseksian namun caranya berjalan membuatku gila!

Aku masih memandangnya dengan tanganku tetap pada posisi kaku terangkat, seperti posisiku sewaktu arghh!

oia mas, dia hanya teman… ucapnya berbalik sebentar kemudian meninggalkan aku menjauh-menjauh tapi kenapa semakin dia jauh aku merasa semakin dekat? Aku hanya mengangguk walaupun dia tidak melihat anggukanku. Tapi terkadang dia menoleh ke arah samping mencoba melihatku yang berada di belakangnya walau tidak membalikan tubuhnya.

Akhirnya dia menghilang melewati tempat parkir dimana REVIA berada. Setelah hilangnya wanita itu, aku tersadar atas kebingunganku. Ada apa ini? aku bingung benar-benar bingung… dalam kebingungan aku berjalan menuju ke tempat parkir.

Segera aku nyalakan REVIA dan keluar dari tempat parkir, kulihat seorang wanita sedang duduk bersama dua orang lelaki dan satu orang perempuan. dia menoleh ke arahku ketika aku keluar dan hendak menyebrang jalan. Tak ada senyum tapi tatapn mata itu menuju kearahku. Aku beranikan diriku tersenyum kepadanya namun tak ada balasan hingga akhirnya aku meninggalkannya.

Waktu menjelang malam dan aku masih sendiri di rumah ini. Ibu tidak pulang, sedangkan Ayahku tak tahu dimana. Dalam renungan keheningan diiringi waktu yang merambat menuju tengah malam, pikiranku kosong.

Seakan semuanya menjadi buntu, wanita itu kadang hadir kadang hilang, kadang membawaku terbang kadang membawaku terjatuh. Kenapa selalu wanita itu yang hadir dalam setiap situasi burukku? Lamunanku membawaku kedalam dunia lelapku, namun tiba-tiba…

Can you take me higher?… (Creed). Ringtone HP. Mbak Ara

Halo mbak huaaaammhhhh nyam nyam nyam….

Ar, kamu dimana? Aku ingin bertemu

Eh… kenapa mbak? Ada apa? Ini sudah terlalu larut untuk ketemuan

hiks hiks hiks ar, tolong ayahku….

Eh… (Aku terkejut ketika mendengar mbak ara tiba-tiba menangis, aku terbangun dan duduk dikasur nyamanku)

Ar… Ayah Ar hiks hiks hiks

sudah mbak tenang dulu, kalau mbak menangis mbak ndak bakalan bisa cerita, jadi tolong mbak tidak menangis dulu

heem hiks slurp…. (Sejenak kami dalam keheningan, kudengar tangisan mbak ara sudah mereda)

Okay mbak sekarang mbak cerita, pelan dan santai tidak perlu menangis

iya…. huffffffftthhhh (terdengar suara tarikan nafas panjang mbak ara)

pelan ya mbak…

heem ar…. hufthh…. begini ar, aku minta tolong selamatkan ayahku dia tadi hiks hiks hiks (aduuuh nangis lagi)

Kalau mbak terus nangis, dan mbak ndak cerita secara pelan-pelan, aku tidak mau tolong

iya, maaf jangan marah ar, aku kan cewek kalau dalam suasana seperti ini kan juga bingung

iya cerita sekarang…

begini ar, tadi ayah dapat telepon dari ayahmu, katanya akan ada pertemuan besok lusa malam

Lho kan hanya pertemuan mbak?

iya tapi kan bisa saja ayahku di habisi disana

Hm… (aku benar-benar bingung dengan situasi ini, jika harus menubruk mereka bersamaan)

apakah mbak tahu dimana pertemuannya?

di bukit orang utan, Ayahku bercerita kalau dia akan di jemput oleh body guard ayahmu (tidak, tidak mungkin pertemuannya diajukan jika dilihat lagi dari percakapan sewaktu di danau. Eh… tapi kenapa harus body guardnya yang menjemput? )

Mbak, adakah informasi lain dari ayah mbak?

Ada, Ayahku pernah bercerita mengenai pertemuan besar dengan beberapa orang tetapi ayahku bilang kalau pertemuan itu tidak di bukit orang utan

Sebentar mbak berarti…

iya ar, kemungkinan ayahku akan disingkirkan di bukit itu hiks

kenapa Ayah mbak tidak menolak?

tidak bisa ar, terlalu membahayakan keluarga besar jika menolak, karena akan terlalu memperlihatkan kalau ayah mengkhianati mereka ditambah lagi salah satu dari mereka sudah mati

Okay mbak, jika besok lusa malam, masih ada waktu yang penting terus update informasi ke aku mbak, agar aku bisa menyusun rencana

iya ar, terima kasih, apapun maumu aku akan penuhi asalkan selamatkan ayahku ar

sudah mbak sudah… mbak istirahat dulu saja ya

heem terima kasih ar tuuuuuuuuuut…

Mereka sudah mulai gegabah dengan keadaan sekarang, apalagi setelah acara pengintaianku diketahui oleh mereka walaupun mereka tidak tahu tentang siapa aku pada saat itu. Analisaku mengenai Ayah mbak ara atau si buku adalah dia akan dihabisi karena mungkin komplotan ayah curiga dengannya.

Tidak mungkin pertemuan dengan penjahat-penjahat besar bisa dimaju mundurkan dengan seenaknya, tapi bisa juga kalau dimajukan karena mungkin kejadian malam tahun baru itu. Tapi hei! Bukit orang utan… bukit dimana jalanan mendaki tak ada tempat untuk bisa berkumpul ataupun bertemu disana.

Bukit orang utan hanya sebuah bukit dengan hutan liarnya dan pemukiman warga yang sangat jarang, tidak mungkin mereka berada disana. Atau adakah tempat yang cocok untuk pertemuan besar? Besok pagi aku harus kesana, setelahnya mungkin aku butuh bantuan koplak, masa bodoh mereka masih piknik atau tidak.

Setelah pemikiran panjang mengantarkan aku ke dalam alam bawah sadarku dan kini aku benar-benar tidak sadarkan diriku dan terlelap dalam senandung malam.

Pagi menjelang, aku segera bersiap-siap untuk melihat medan yang akan digunakan oleh komplotan ayah. Seingatku tak ada yang istimewa di bukit orang utan hanya pemandangan indah saja, pas untuk selpi dan berfoto-foto saja. Segera aku panaskan REVIA sambil menyulut sebatang dunhill di tangan kiriku, sedangkan tangan kananku membuka update status BBM.

Status Bu Dian
Kemarin bedakku luntur gara-gara tangan

Bedak? Luntur? Apakah karena tanganku menempel di pipinya? Entah rasa penasaran yang besar membuat aku memberanikan diriku meneleponnya dengan posisi nangkring di atas REVIA yang menyala. Ku cari kontak bu dian, dengan jempol sudah siap menyentuh gagang telepon berwarna hijau, sentuh tidak sentuh tidak sentuh tidak sentuh tidak sentuh!

Tuuuut tuuuut tuuuut… klek….

Halo Ar (Ar, tumben dia panggil aku ar biasanya mas)

Pagi bu dian…

Pagi, tumben telepon ada apa? Bimbingan? (judes amat sih ni cewek!)

Eh ndak bu cuma anu…

anu kenapa? anumu ndak diservis? Terus mau cari tempat servisan yang lain lagi buat anumu biar kemana-mana bisa servis terus iya? (Ini kenapa sih cewek! Telepon baik-baik malah nyolot! Oke aku tahu, aku memang kotor tapi ndak usah judes kenapa)

Ndak bu, Cuma mau minta maaf saja, kalau kemarin tanganku buat bedak bu dian luntur

Terus?! (jawabnya dengan nada sedikit keras, membuat aku semakin ndak betah telepon namun aku mencoba untuk tetap tenang)

saya minta maaf untuk kejadian kemarin bu, mohon maaf, tolong dimaafkan (dasar akunya saja yang mungkin ke ge-eran masalah bedaknya, mungkin saja dia mengusap pakai tangannya sendiri, bodoh kamu ar!)

Ya, dimaafin, aku juga bingung kenapa juga kemarin bisa kaya gitu, bikin bedak luntur saja (tenang ar, tenaaaang!)

iya bu iya, maaf ya bu, dan mohon maaf menyita waktu ibu, saya undur diri dulu bu

mau mundur? Habis itu maju lagi gitu? Lagi diservis ya anu-nya! (suaranya sedikit keras)

terima kasih bu… mohon maaf mengganggu saya undur diri dulu tuuuuuut

Tanpa menunggu peresetujuan darinya aku langsung menutup telepon. Hufth… kamu itu kenapa to ya ya? Kemarin saja manjanya minta ampun, kalau memang ndak mau salim ya sudah kenapa salim?
Kalau tahu bedak kamu luntur ya ndak usah salim kan bisa… hufth… mungkin dia lagi M jadinya judesnya setengah mati.

Tanpa undangan ka buatku kecewa (tenda biru). Ringtone HP. Bu Dian. aku terkejut dia menelepon balik.

halo bu

kok ditutup?

saya kan sudah ijin tadi bu

sudah tergesa-gesa mau servis anumu ya? (suaranya tampak judes sekali, argh!)

….. (aku hanya diam)

kenapa kok diam? Sudah ndak betah?

,,,,, (aku terdiam)

lagi servis ya?

bu….

apa

Bu dian kenapa? kok kelihatanya sedang tidak senang?

Memang, terus kenapa? kamu juga sudah tahu pagi-pagi waktunya berangkat kerja kenapa kamu malah telepon? Itu namanya mengganggu!

Iya bu saya salah, maka dari itu saya tadi menutup teleponnya takut mengganggu ibu

terus kalau kamu menutup telepon, semua urusan sudah selesai begitu? Kamu tahu tidak kalau gara-gara kamu telepon saya jadi terlambat?

iya bu maaf…

memang maaf menyelesaikan masalah?

tidak bu…

Kenapa? kok ngomongnya cuma sekecap-sekecap saja? Lagi diservis ya? Enak ya diservis sambil ganggu orang yang lagi mau kerja

Eh… (Aku terdiam, emosiku memuncak)

Dasar bocah! (Sudah cukup!)

Iya bu saya memang bocah, saya hanya bermaksud meminta maaf karena kejadian kemarin, itu juga ibu yang menempelkan tangan ibu sehingga bedak bu dian luntur, saya disini menelepon ibu hanya untuk meminta maaf saja bu, dan mengkonfirmasi apakah benar karena kejadian kemarin jujur saja saya tidak bermaksud mengganggu bu dian

jadi kamu menyalahkan saya begitu? Dasar bocah…

… (aku terdiam tak tahu apa yang akan aku katakan)

kenapa diam lagi diservis ya?

bu, jika saya mengganggu ibu, kan ibu tidak perlu menelepon saya

Kamu itu sudah ganggu, terus aku harus menyalahkan siapa?

bu, sebenarnya salah saya apa bu? Kenapa ibu tiba-tiba marah kepada saya

banyak, kamu kesalahan kamu itu banyak sekali! Dan aku paling tidak suka dengan orang yang berbuat kesalahan terlalu banyak!

… (aku tidak habis pikir wanita yang malam itu menyelamatkan nyawaku sekarang malah memarahiku habis-habisan)

kenapa diam?! Sudah skripsi tidak selesai-selesai! Mengganggu orang dipagi hari! Suka servis disembarang tempat lagi!

terima kasih bu… tuuuuut…

Ku diamkan telepon pintarku, kumasukan dalam saku celana. Hanya tak ingin tahu kalau ada telepon masuk. Servis disembarang tempat? Yang terpenting servisku bukan di bengkel abal-abal, semuanya sudah tersertifikasi ISO, masa bodoh sama kamu yan, mau ngomong apa terserah!

Segera aku mengeluarkan motorku dan menutup pintu garasi. Kembali pada fokus masalah yang ada sekarang, ayah mbak ara atau mungkin lebi h dikenal sebagai si buku. Ku arahkan motorku menuju bukit orang utan untuk melakukan cek daerah, agar semua bisa dikondisikan pada saat ayah mbak ara di bawa.

Kususuri setiap jalanan bukit orang utan bahkan setiap pemukiman aku masuki hanya untuk melakukan cek keadaan. Jalan bukit orang utan di awali dengan jalan bertebing dengan jalanan yang tepat dipinggirnya adalah jurang, setelah 15 20 km dari jalan masuk bukit baru ditemui pemukiman warga.

Tak ada tanah lapang dan juga tempat pertemuan strategis didaerah ini. setiap kali aku masuk ke dalam pemukiman warga banyak mata yang memandangku dengan penuh senyuman dan anggukan, seakan mereka tak peduli kalau aku adalah orang asing disini.

Akupun membalas setiap senyuman yang mereka lemparkan kepadaku. Hingga akhirnya aku berhenti di sebuah warung pinggiran yang menjual lotek (buah-buahan + sambal kacang) dan juga pecel serta ada beberapa minuman yang dikenal sebagai es cao (es campur).

Jalan-jalan gih mas? ucap nenek penjual

inggih nek, jalan-jalan lihat-lihat pemandangan ucapku

Kami kemudian terlinat pembicaraan panjang lebar mengenai daerah ini

Kalau didaerah sini ya kalau malam mengerikan mas, tidak ada tempat buat kumpul-kumpul. Sekalipun ada ya dekat-dekat perumahan warga, kalau diluar itu tidak ada semuanya hanya hutan saja mas ucap nenek

Apa tidak ada tempat buat kumpul yang gimana ya nek, enak lah tanyaku

Ndak ada mas, kalau mas mau buat acara disini, bilang saja sama warga nanti akan dibukakan lahan ucap nenek

maksud nenek? tanyaku

ya lahan disekitar pemukiman warga yang ditumbuhi pohon-pohonan di bersihkan tapi tidak menebang pohon, jadi mas bisa kumpul-kumpul di bawah poho ucap nenek tersebut

berarti memang nihil jika ada pertemuan disini, yang ada hanya akhir dari si buku bathinku

ya sudah nek terima kasih, berapa saya habisnya? ucapku

3500 nak jawab nenek tersebut

ini, terima kasih ya nek saya pulang dulu ucapku

iya, hati-hati nak ucap nenek tersebut

Akhirnya aku pulang dengan keyakinan bahwa waktu pertemuan mereka tidak akan dimajukan. Dalam perjalanan pulang aku berhent, mengirimkan sms ke grup BBM, grup koplak. Sebenarnya ada pesan BBM masuk dan beberapa panggilan tak terjawab tapi aku acuhkan.

To : all member koplak
Kumpul
segera setelah pesan itu masuk, layar LCD-ku bergerak dengan cepat

Selang satu menit aku melihat layar LCD Smartphoneku

Aris
Ngupil dulu!

Sudira
Iiih arya gitu deh, pasti pas lagi asyik-asyiknya servis yayangku!

Anton
Siap 76!

Karyo
Kampret kamu cat, baru saja lagi buka BH!

Dewo
Memang anjing si cat!
Mau memasukan bola kok ya diganggu!

Parjo
Lha kampret, malah pada kenthu!

Tugiyo
Videone direkam ya, aku tak nonton ha ha ha

hermawan
aku telat, nembe nyusu!

udin
Bentar bro, masih banyak pembeli

Wongso
Kampret semua!
Segera datang, makan gratis!
Dan semua menjawab secara bergantian
ASEEEEEEEEEEK!

Wongso
MANUSIA GRATISAN!

Semua :
HA HA HA HA HA (y)

Bersambung