Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 60

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 60 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 59

Kulepas semua pakaian tebal yang menempel di tubuhku, hanya kaos yang aku sisakan. Selang beberapa menit, bu dian masuk dan menutup pintu samping rumahnya. Menggunakan kaos longgar tanpa lengan dan celana ketat hingga menutupi lututnya.

Kamu ndak papa? ucap bu dian yang berjongkok didepanku

Hash hash hash hash hash ndak papa bu ucapku

Kenapa bisa ada orang yang mengejarmu? Kamu habis apa? ucap bu dian

Hash hash hash hash hash ceritanya panjang, boleh saya minta minum bu? ucapku

Eh iya… maaf aku ambilkan dulu ucapnya bangkit melangkah meninggalkan aku

Itu bisa diminum bu? Hash hash hash ucapku sambil menujuk ke dispenser

Eh bisa ucap bu dian, aku langsung bangkit dengan cepat aku masukan mulutku ke kran air dingin dan langsung aku buka.

Glek glek glek Glek glek glek Glek glek glek…

Pelan mas… ucap bu dian

Glek glek glek Glek glek glek Glek glek glek… masih dalam posisi menyeruput dan mengacungkan jempol

Seakan seperti mengalami musim kemarau 100 tahun yang di guyur oleh badai air. Keringat-keringat yang mengalir di leherku menandakan mereka sudah bosan bersamaku. Hembusan angin membuatku merasakan sejuk.

Hash hash hash hash… hufth… selamat…

terima kasih bu telah menyelamatkan hidupku ucapku sambil duduk bersimpuh dengan kedua tangan mencengkram lututku

Hash hash hash hash hash hash hhhhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaasssssh….

Istirahatlah, aku buatkan teh hangat ya mas? ucap bu dian

Eh… i… iya bu terima kasih hash hash hash hash has ucapku sedikit heran dengan kata-kata yang baru saja dia ucapkan

Nafasku masih tersengal-sengal, kucoba menstabilkannya. Kupejamkan mata ini, mencoba menginngat apa yang terjadi. Terdengar suara ting-ting-ting tanda bu dian sedang mengaduk sesuatu di dapur sana. Rasa takut, gelisah, kantuk, lelah sedikit bosan dan mulai pergi, yang ada sekarang hanyalah rasa aman ketika dekat bersamanya.

Selang beberapa menit, aku sudah kembali tenang walau nafasku masih belum bisa teratur. Aku bangkit dan menuju dapur dimana bu dian berada, dengan langkah gontai dan kepala terasa sedikit pusing karena terbentur paving. Kulihat tatapan matanya adalah tatapan mata seseorang yang sedang megkhawatirkan sesuatu.

Matanya terus melihat ke arah gelas dengan air yang terus berputar itu. Rambutnya begitu panjang hingga menyentuh pinggulnya, baru kali ini aku bisa melihat rambut panjang bu dian atau memang aku tidak pernah memperhatikannya sama sekali? Sedikit aku terkesima oleh pemandangan itu namun paru-paru ini minta untuk diisi kembali dengan asap dunhill.

Bu, saya tak kebelakang boleh? ucapku

Eh… iya, silahkan mas ucap bu dian, aku mengangguk dan tersenyum.

Entah ada yang aneh dari kata-katanya tapi belum bisa aku temukan dalam kondisi seperti ini. pikiranku masih diselimuti kegelisahan dan kekhawatiran namun aku masih bisa tenang bersamanya. Aku kemudian melangkah menuju halaman belakang rumah bu dian. ku buka pintu belakang rumahnya, terlihat sebuah sedikit tanah lapang berhiaskan rumput jepang dengan kolam ikan yang airnya terus mengalir ke atas karena bantuan pompa.

Tepat disamping pintu ada sebuah kursi dan meja. Aku kemudian duduk di lantai bawah, ku ambil Smartphone dan dunhill. Kusulut sebatang dunhill… fyuuuuh…. beberapa semburan asap membuatku sedikit tenang malam ini. Smartphoneku, ingin akku membukannya, membuka rekaman video yang baru saja aku rekam tapi aku urungkan takut jika Bu Dian mengetahuinya.

Rasa sayange… rasa rasa sayange. (buat reader jangan sampe lupa lagu negara kita). Ringtone HP. Ayah.

Aku terkejut melihat nama dilayar Smartphoneku. Pikiranku menjadi keruh dan sangat keruh ketika melihat nama itu. Nama yang selalu membuatku marah, nama yang membakar emosiku. Sebentar aku melihatnya dan tak ada ide yang masuk ke dalam otakku. Hingga nada ringtone itu berhenti aku tetap tidak mengangkatnya. Kemudian panggilan kedua dari ayah datang lagi menghampiriku untuk kedua kalinya.

bagaimana ini? eh… eh… oh iya, pura-pura bangun tidur bathinku, aku pun tersenyum

Hallohh siapah nihh?

Arya, ini Romo, kamu dimana? Sedang apa?

Hoaaaammmmm… Romo… hoaaammmm… dikos teman romo ughhh… nyam… nyamm…. ada apa romo?

kamu lagi tidur?

tepatnya bangun tidur mo, tadi begadang ndak kuat… ini juga bareng sama temen-temen hoaaaaaaaaammmhh…

Oh ya sudah, romo kira kamu diluar

iya romo, arya mau tidur lagi gih… ngantuk bangethhh hufthh…

Ya sudah, kamu tidur lagi saja

iya hoaaaam romo tuuuuuuuut…..

Hufth… aman…. aku kembali terduduk dan bersandar pada kursi halaman belakang bu dian, kuselonjorkan kakiku. Aku pandangi langit, dan aku berharap semoga saja telepon barusan membuat romo yakin kalau aku benar-benar tertidur dikos temanku. Langit seakan tersenyum kepadaku saat ini, tersenyum atas keberhasilanku selamat dari kematian. Bintang-bintang melambaikan tangannya menandakan sebuah kebahagiaan atas keberhasilanku.

Ehem… mas ini tehnya ucap bu dian yang diawali dengan berdehem, membuatku sedikit terkejut dengan kehadirannya tanpa suara itu. Bu dia kemudian menyerahkan teh hangat itu dan duduk bersimpuh disampingku dan menghadap ke arahku. Aku menoleh ke arahnya, memandang wanita tersebut. Wajahnya begitu datar dan kekhawatiran tergambar di wajahnya.

Oh, iya bu terima kasih ucapku, kuraih teh hangat, segera aku sruput minuman hangat dari bu dian. Rasa hangat mulai menguasai dadaku, seakan mengatakan inilah yang aku butuhkan.

aaahh… mantab bu ucapku, dengan senyum ke arahnya.

Egh… aku sedikit terkejut, tiba-tiba bu dian duduk disampingku pandangan matanya mengahadap ke arah yang sama dengan pandangan mataku. Pandangan menatap ke teras belakang rumahnya.

Bu… ucapku mencoba menolak ketika tangan bu dian merangkul lengan kiriku, dan dipeluknya erat. kepalanya bersandar ke bahuku.

Kenapa? apakah tidak boleh mas? ucapnya hening sesaat

dulu bocah itu juga melakukan seperti ini dan aku tidak melarangnya… lanjutnya dan pelukan bu dian semakin erat, ah aku kalah.

B… bb… boleh kok bu, iya dulu bocah itu memang memeluk bahu kanan bu dian ucapku teringat ketika masa itu aku menunggu bus bersama bu dian.

Aku hanya terdiam disampingnya dengan tangan kananku memegang teh hangat sedangkan tangan kiriku kaku tak bisa bergerak merasakan kehangatan dari wanita disampingku. Bak seekor bateng yang diikat kuat pada sebuah pohonn besar dan tak bisa bergerak ataupun berlari.

Rasa lelah, mulai menjalar lagi ditambah dengan rasa dingin dan kantuk mulai menyapaku. Namun perasaan hangat berjalan dengan riang dari kiri tubuhku, seakan membuat semuanya tertunduk dan menyapa kehadiaran perasaan ini.

Mas… ucapnya pelan

Eh… iya bu ucapku dan baru tersadar kalau bu dian memanggilku dengan sebutan mas

hati-hati ucapnya pelan tanpa menoleh kearahku

Iya bu… mmm…. bu ucapku

iya… jawabnya

dipanggil arya saja ndak papa kok bu, biasanya juga arya manggilnya ucapku sambil meletakan gelas teh hangat itu

bocah itu memanggilku dengan sebutan mbake-nya aku juga tidak pernah melarangnya ucapnya pelan, dan aku semakin terpojok dalam suasana ini

bu, kenapa harus bocah itu yang selalu menjadi alasan? ucapku

hemmmmm… hmmmm desahnya melepaskan pelukan dan kemudian duduk memeluk kedua kakinya, dagunya diletakan di salah satu lututnya.

tanyakan saja pada bocah itu, kenapa aku selalu menyebutnya… dia sudah berjanji kepadaku ucap bu dian dengan mata terpejam seakan mengingat kejadian dimasa lampau.

Ah, lagi-lagi Ingatanku kembali kepada janji itu tapi jujur saja ku belum bisa menepati janji itu. Janji seorang bocah kepada seorang wanita dewasa yang diselamatkannya. Bocah yang lugu dan polos yang berbicara semaunya sendiri tanpa melihat situasi serta kondisi waktu itu. Bocah yang dengan santainya bergembira karena ada seorang wanita yang berjalan disebelahnya.

Tapi bu… aku sudah mengatakan kepada bu dian kalau aku…. ucapku terhenti.

dan aku jujur akan semua itu… lanjutku

apakah bocah itu masih tetap sama? ucapnya

aku tidak tahu yang jelas di…ucapku terpotong

Dia ada didalam dirimu dan itu adalah kamu ucap bu dian membuat aku hanya tertegun dan diam. Kutarik kakiku hingga menekuk, kedua tanganku aku pangkukan di lututku. Ketika aku mencoba memegang keningku dengan tangan kananku

Auch… ucapku kesakitan karena tak ingat jika keningku terluka

Eh… sebentar mas, jangan disentuh lagi ucapnya yang langsung bangkit dan berlari ke dalam. Aku hanya mampu memandang dengan pandangan kosong melihat dia begitu sangat khawatir. Selang beberapa menit bu dian keluar dari balik pintu belakang rumahnya dan langsung duduk bersimpuh di hadapanku dan mengusapkan kapas yang telah dibasahi.

ouch… pelan bu ucapku megaduh, dan baru aku tahu itu adalah alkohol yang membasahi kapas itu

eh… maaf, masih sakit? ucap bu dian

heem… ucapku, tanpa bisa aku menolak perlakuan bu dian

Dengan penuh kelembutan dia mengusap luka pada keningku. Luka pada kening yang sangat dekat dengan rambutku. Kulihat matanya sedikit berkaca-kaca ketika melihat lukaku, seakan ada kekhawatiran yang sangat besar didalam mata itu.

Bu… sudah bu, sudah ndak papa tenang saja ucapku pelan

kamu… hati-hati kenapa sich? Aku kan selalu bilang kepadamu mas! Agar hati-hati! Sekarang lihat kamu terluka tadi juga di kejar-kejar orang bersenjata… mana ada orang yang melihat itu semua bisa tenang? ucap bu dian agak sedikit keras, matanya berkaca tapi tak ada air mata yang keluar. Dahinya mengrenyit, seakan aku kembali ke masa itu, dan aku tersenyum sendiri dihadapannya.

tenag bu, saya masih hidup… ucapku pelan membuat bu dian terkejut seakan dia mengingat sesuatu

kamu masih tetap sama, itu juga yang dikatakan olehnya ucapnya, dibuangnya kapas itu, kedua tangannya kemudian bersedekap dan bibirnya maju. Bu dian kemudian beranjak dan duduk disebelah kiriku lagi. Diraihnya dengan keras tangan kiriku, dipeluknya erat.

Sama? Ah, lagi-lagi bocah itu, lagi-lagi bocah itu. Bocah yang ngomong dengan seenaknya saja setelah maut menghilang. Seperti saat ini bocah itu juga mengatakan hal yang sama kepada wanita yang sama. Ingatan-ingatan yang selalu kembali ke dalam pikiranku, ingatan-ingatan yang bangkit layaknya mayat hidup yang mulai menggerogoti pikiranku.

Bu… ucapku pelan

Hmmm…. jawabnya

Bolehkan aku menginap satu malam ini saja sampai esok hari? ucapku

Heem… balasnya

terima kasih… ucapku

Tak ada kata-kata lagi terucap dari mulut kami berdua. Hanya memandang langit yang warnanya berubah-ubah karena letusan kembang api yang masih terus terbang di langit. Walau tak terlihat, namun cahayanya masih bisa kami lihat.

Langit kini tersenyum sangat lebar, menjadi saksi kebersamaanku setelah rembulan. Bintang-bintang, walau cahayanya redup karena cahaya kembang api tapi tak bisa mereka sembunyikan cahahayanya ketika melihatku bersama wanita ini. Kulirik wajah wanita ayu ini, dia tampak lelah dan ngantuk.

Bu dian sudah ngantuk? tanyaku

belum balasnya yang semakin erat memeluk tanganku

tapi wajahnya sudah kelihatan ngantuk bu balasku

aku ngantuk kalau kamu ngantuk jawabnya terlihat judes, kuselonjorkan kaki kiriku dan kutekuk kaki kananku. Kurebahkan pipi kananku di lutut kananku, kupandang wajah wanita ayu yang selalu membuang wajahnya ketika aku memandangnya.

Bu… ucapku pelan

Ngomong terus ucapnya

Eh… boleh tanya lagi? ucapku, walau takut aku memberanikan diriku

APA? balasnya tanpa menoleh sedikitpun

Anda itu siapa? ucapku

bukan urusanmu balasnya jutek

Eh… maaf… ucapku sedikit kecewa dengan jawabannya, kenapa juga aku harus menanyakan hal itu kepada wanita yang tidak akan aku pilih

Aku ngantuk bu, boleh aku tidur di sini? ucapku

Eh… jangan, disini dingin, dikamar belakang saja atau dikamarku ucapnya yang kemudian memandangku dengan rasa khawatir

Ndak usah bu, tubuhku kotor tidur disini juga sudah cukup atau kalau diperbolehkan, aku tidur diruang tamu saja ucapku

Dikamar saja nanti kamu sakit ucapnya sedikit membentak

ndak bu, di ruang tamu saja ucapku yang kemudian bangkit berdiri dan diikuti oleh bu dian

ya sudah, tapi jangan ngrokok di ruang tamu ucapnya

iya… bu balasku

Aku kemudian melangkah masuk kedalam rumah. Diraihnya kembali tangan kiriku yang tadinya sudah terlepas dari pelukannya. Masih saja dan terus memeluk tangan kiriku. Kami berjalan beriringan seperti layaknya seorang kekasih. Namun hati ini masih sangat tidak tega ketika harus hidup bersamanya.

bu, tangan ibu dilepas dulu ya… ndak enak ucapku

sama siapa? ucap bu dian

E… ndak tahu bu ucapku sambil berjalan ke arah ruang tamu, mendengar jawabanku kemudian melepaskan pelukan ditanganku

Aku kemudian duduk di sofa panjang ruang tamu bu dian yang berada disebelah pintu masuk rumahnya, sedangkan bu dian duduk di kursi depanku. Posisi yang sama seperti saat aku pertama kali kerumahnya.

Beneran sudah ngantuk mas? ucap bu dian, argh mas kata-kata ini selalu saja membuatku bertanya-tanya. Ketika tadi dia terkejut dan kemudian aku membuka kacamataku, dia masih menyebutku dengan sebutan arya, kenapa sekarang jadi mas?

Sebenarnya belum bu, tapi tadi di luar agak dingin. Kasihan bu dian nanti kalau sakit ucapku

Aku sudah biasa, malah pernah aku ditinggal sendirian malam-malam sama cowok yang ndak tanggung jawab, udah buat nangis bukannya didiemin malah ditinggal gitu saja ucapnya

DUAGH! Rasanya seperti ditampar dengan tongkat kasti

E… e…. itukan anu bu, suasananya eeeeee itu ucapku kebingungan

Kulihat matanya ketika memandangku tak ada senyum yang terlukis dibibirnya. Kakinya di tumpuk dengan tangan kanannya yang bertumpu pada lututnya menyangga dagunya sedang tangan kirinya di simpannya diatara lekukan perut dan pahanya.

Aku tidak habis pikir kenapa juga pada saat itu aku meninggalkannya dan tidak menemaninya pulang. Tapi jika waktu itu aku terus bersamanya pastinya aku akan merasa malu, sekarang pun aku hanya mampu melihat wajahnya sebentar.

Dalam hening dia terus menatapku dengan datar. Kemudian dia bangkit dan melangkah ke arah belakang. Entah apa yang dia lakukan. Kemudian bu dian kembali lagi dengan membawa teh hangat dan asbak.

Minum mas, dan kalau mau merokok ndak papa ucap bu dian, sembari meletakan gelas berisi teh hangat dan asbak itu. Tanpa memandangku dia kemudian berbalik lagi untuk menuju kebelakang

Bu, beneran boleh ngrokok? ucapku ketika bu dian baru akan melangkah

Iya ndak papa mas tapi jendelanya dibuka sedikit biar ndak sumpek di dalam ucap bu dian berbalik sebentar dan kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke belakang

Aku membuka jendela ruang tamu bu dian dan ku buka sedikit. Model jendela yang kuncinya ada dibagian bawah jendela. Sedikit kusibak gorden jendela tampak sepi dan sedikit ada suara riuh keramaian tahun baru yang samar.

Tahun baru bersama dengan wanita ini memang indah, mungkin. Namun lama sekali tak kulihat batang hidung wanita bak bidadari ini. setelah dua batang rokokku habis dan suasana penuh asap di ruang tamu mulai penuh dengan kabut asap. Teh hangat pun sudah mulai habis, beberapa menit berselang setelah suasana kabut asap tidak lagi berlarian di ruang tamu, bu dian datang.

Minum lagi mas, pasti mas hauskan? ucap bu dian yang meletakan segelas teh hangat untuk kedua kalinya. Diletakannya minuman hangat itu dengan tangan kirinya menutupi hidung dan mulutnya, menocab melarang asap rokokku masuk kedalamnya.

terima kas… ucapku terpotong

Maem dulu gih, mas pasti lapar ucap bu dian yang begitu perhatian kepadaku seakan ingin meluluhkan tembok maluku dan tahu saja dia kalau aku mulai lapar mulai lapar

Aku hanya tersenyum dan mengangguk kepadanya. Tak ada balasan senyum yang biasanya dia lempar ke aku. Segera kulahap mie kuah dengan telur serta sedikit sayuran yang ada didalamnya. Seakan-akan aku teringat cerita-cerita teman kuliahku ketika mereka main ke kos pacarnya selalu dilayani bak seorang raja.

Sedikit aku melirik wajahnya yang terus memandangku dengan datar, membuat aku salah tingkah. Setelah selesai makan, aku berniat untuk membawa mangkuk kotor tersebut ke dapur.

ndak usah mas, biar aku saja yang nyuci, mas istirahat saja ucap bu dian yang kemudian merebut mangkuk tersebut dan membawa gelas teh hangat pertama yang sudah habis

Aku hanya sanggup memandang wanita dengan kulit putih ini. tak berani aku merokok lagi diruangan tamu, bisa kena semprot karena ku tahu lamanya bu dian tidak ke ruang tamu pasti karena asap rokokku tadi. Aku kemudian merebahkan tubuhku kursi panjang ruang tamu. Tak kupedulikan lagi situasi sekarang ini karena aku terlalu lelah malam ini.

Capek mas? Bobo aja dulu nanti aku bangunkan ucap bu dian yang melangkah menuju ruang tamu dengan pandangan masih datar dan dingin

Eh… bu maaf, saya kira bu dian tadi langsung balik ke kamar untuk tidur ucapku sambil bangkit dan duduk lagi

Belum ngantuk. Mas bobo saja dulu, ndak papa kok ucapnya sambil duduk dengan kaki diangkat kekursi dan ditekuk terus dipeluknya. Dagunya diletakannya diantara kedua lutut yang ditekuk itu

ndak enak sama bu dian ucapku

ndak enak ya dikasih kecap apa MSG jawabnya ketus dna tak bisa aku membalasnya

Em…. bu… ucapku pelan

apa lagi? ucap bu dian

Eh… ndak jadi bu, maaf ucapku semakin salah tingkah

Kalau tanya yang jelas, jangan Cuma manggil! Dasar cowok nggak jelas balasnya ketus

hufffffftttthhhh…. hela nafasku

kok tadi pulang malam bu? Habis tahun baruan sama teman-teman ya bu? ucapku mencoba mengalihkan pembicaraan

Iya… kenapa? nggak boleh? Lagian ngapain nglarang-nglarang? Aku tadi sama anda ucapnya, entah kenapa membuatku semakin panas tapi tak bisa aku luapkan

he he he… ya untung saja bu dian pulang malam, kalau tidak mungkin aku sudah… ucapku terpotong

kalau ngomong dipikir! Ngomong yang positif jangan negatif terus! jawabnya ketus membuat aku semakin tak mau berbicara kepadanya lagi

Bu… saya ijin tidur dulu, dan terima kasih sudah mengijinkan saya menginap ucapku dengan penuh kekesalan karena semua pertanyaanku dijawabnya dengan ketus dan judes

Eh…. ya bobo saja mas, lagian dah mau pagi ucapnya sambil meletakan pipi kanannya di antara kedua lutut kakinya, pandangannya kemudian dibuang ke kiri

Aku kemudian merebahkan tubuhku lagi. Tak kuhiarauku keberadaannya, kenapa juga aku harus berbicara baik kepadanya? Iya, memang kamu menolongku tapi bukan berarti sejudes itu kan? Tadi aja meluk-meluk tanganku, ngomong kek kalau kangen! Dasar cewek judes! Hufttth…. maaf bu, aku masih belum bisa menerima diriku yang terlalu kotor ini.

Maafkan aku, dalam lelah hatiku menggerutu dan kemudian terlelap dalam tidurku. Kumiringkan tubuhku memunggunginya, Hingga benar-benar aku tak sadarkan diriku.

Bersambung