Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 56

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 56 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 55

Aku hanya tersenyum dan tiba-tiba ibu menciumku. Aku dan ibu kemudian bercumbu di ruang TV, tidak sampai main karena jujur saja habis tenagaku. Kami saling berpelukan dan aku juga meremas susunya. kami bercumbu di depan TV hingga ayah kembali banggun dari tidurnya. Kami berdua bersikap biasa saja. Ayah kemudian pamit keluar. Mungkin besok aku akan bermain lebih keras lagi.

Aku dan ibu kemudian kembali ke kamar masing-masinng untuk menghindari permainan selanjutnya. Aku masuk ke dalam kamar dan duduk didepan komputerku. Lama aku termenung memikirkan apa yang selanjutnya aku lakukan. Kubuka email dari om nico tapi juga tidak ada kabar berita. Aku bersandar sambil menguap di meja komputerku. Ku tumpuk kedua tanganku di meja komputerku dan kubenamkan wajahku ke dalamnya.

Sial tak ada informasi, dan aku harus menuggu hingga malam tahun baru, tapi apa yang harus aku lakukan besok? bathinku

Aku angkat wajahku dan kulihat kalung monel dengan gantungan cincin. Kuraih kalung itu, mencoba mengingat siapa pemilik kalung ini sebenarnya. Aku jadi ingat dengan kalung pemberian nenek mahesawati, kuambil kalung milik nenek. Ku letakan berjajar kedua kalung itu.

ini punya nenek, ini punya siapa? ucapku sendirian

Ku ambil kalung nenek dan kuletakan ditempat dimana aku menyembunyikannya bersama Smartphone KS. Ku pandangi kalung monel itu kembali, dan terus mencoba mengingatnya. Kuputar-putar kalung itu, terus aku putar-putar dihadapan kedua mata ini. Lalu aku lingkarkan kalung itu di pergelangan tanganku, jadi aku pakai seperti gelang. Dan…

Ah… ternyata ini… bathinku yang kemudian tersenyum sendiri teringat akan pemilik kalung ini

Sudahlah… mungkin hanya akan menjadi kenangan saja ucapku perlahan. Kuletakan kalung itu di dalam saku dompetku dan kemudian kembali ke kasur empuk dan terlelap dalam lelahnya malam

Mungkin sebagian manusia memiliki masa lalu yang indah
Mungkin sebagian manusia memiliki masa lalu yang buruk
masa lalu adalah sebuah catatan kenangan
Namun masa lalu adalah sebuah kenangan
Itulah mengapa kita bisa dihari ini
Itu juga karena masa lalu
Esok adalah sebuah misteri yang tak pernah kita ketahui
Misteri yang belum pernah kita hadapi
Hari ini, ya hari ini lakukan yang terbaik agar esok tidak menjadi buruk
Aku yakin esok selalu indah
‚Äč
Pagi menjelang, aku kemudian mandi bergegas menuju kampus. Mencari informasi tambahan mengenai kuliahku, mungkin saja ada mungkin saja tidak. Hitung-hitung sebagai mahasiswa aku tetap harus berangkat, walau sebenarnya kampus sedang dalam masa liburan akhir tahun.

Tapi toh disana ada penjaga juga, bahkan dosen dan karyawannya masih berangkat. Alasan lain aku ke kampus adalah ibu menyuruhku mengantarnya ke tante ratna, jadi mau ndak mau ya ke kampus. Sebelum pergi keluar rumah ibu memberikan ciuman mesra, lama kami berciuman seakan aku tidak ingin ke kampus.

Namanya juga anak muda, jiwa muda dapat sesuatu yang indah pasti hawa didalam diri tidak mau lepas. Tapi mau tidak mau harus berakhir juga, karena ibu memintaku untuk segera mengantarnya ke rumah tante ratna.

Aku mengantarkan ibu terlebih dahulu ke rumah tante ratna, di rumah tante ratna cukup aman menurut penilaianku jadi kalau ada apa-apa diluar sana, ibu tetap aman. Kupacu REVIA dengan penuh kobaran semangat yang melempem.

Kecepatan pengendara sepeda onthelpun tak bisa aku lewati ha ha ha. Sesampainya dikampus hanya ada informasi mengenai beasiswa di tata usaha fakultas. dan tak ada yang menarik selain informasi bea siswa. Selepas aku membaca informasi di tata usaha fakultas aku berjalan santai menuju warung yang biasa aku makan bersama rahman. Melewati gedung kuliah tercintaku, yang sebentar lagi aku tinggalkan.

ahman…. bagaimana kabarnya? bathinku. Segera aku kirimkan BBM ke rahma menanyakan kabarnya sesampainya aku di warung. Aku duduk membelakangi pintu masuk warung

Sewu kutho uwis tak lewati, sewu ati wes tak takoni (1000 kota sudah aku lewati, 1000 hati sudah aku tanyai). Ringtone Hpku. Rahman

Woi ar, gimana kabarnya?

Lha kamu itu gimana, kalau aku baik-baik saja kang

Ane mah oke-oke saja ar

lagi dimana kok tidak pernah kelihatan di kampus

jangan bilang-bilang ya, ane sekarang pindah rumah, beberapa hari yang lalu mama ane bertengkar sama papa

HEH! Lha terus nasib kamu bagaimana?

tenang, ini lagi sidang, mama sudah ndak tahan sama perlakuan papa. Papa saja malah santai menanggapinya, dia malah senang asal pembagian hartanya 50:50

lha kamu kan belum kerja kang

Tenang brooooo… ane kan masih anaknya, dan aku dapat bagian dari papa ane

ouwh… emang masalah apa sih kang kok bisa sampai pisah?

Bajingan dia itu, waktu kemarin kapan aku lupa dia bawa cewek-ceweknya

terus?

ya ane sebenarnya dah tahu masalah kejiwaan papa ane, tapi ya ane kan diem. Kemarin ane titipin motor ane ke temen ane, terus pulang dan sembunyi dikamar. Papap ane ndak tahu kalau ane dirumah, ane intip dan ente tahu ar, dia benar-benar gila dan bajingan ar

kok bisa

ya bisa lah ar, dia main sama cewek-ceweknya dan mama ane diiket di depan mereka. Apa ndak gila itu (benar-benar gila nico)

be be beneran itu kang?

beneran, makanya sekarang ane sama mama ane, honey moon bro ha ha ha (Dasar ini orang ndak ada sedihnya atau apa gitu)

honey moon?

Ya kan ane dah pernah cerita ar, yang jelas sekarang ane dah ndak mau tahu urusan tuh bajingan. Kalau mati pun sukurin ha ha ha ha (jadi tenang dengarnya, kalau saja suatu saat nanti aku harus melakukan hal yang terjadi pada tukang pada ayah rahman)

hati-hati lho kang

Tenang, ndak ada yang tahu keberadaan kita ar. Oia masalah kuliah, ane sudah hampir skripsi ar

WEW cepet banget kang

Biasa… ane jatah tuh dosen eh ketagihan jadinya ya aku gampang lulus ar ha ha ha (Sialan nih orang ndak ada matinya tuh kontol)

Sialan kamu kang

Ha ha ha ha…. sudah dulu ar, nanti kalau suasana sudah reda ane kabari keberadaanku

okay kang

Tepuk jidat dah. Benar-benar orang tanpa beban hidup. Kumasukan telepon ke dalam saku jaketku.
Sejenak aku berpikir mengenai sepak terjang rahman yang notabene lebih dulu ketimbang aku.

Tapi dilihat dari manapun dia tidak pernah terlihat mengalami kegalauan, kecuali ketika putus dengan ajeng dan pertama kali dengan ibunya. Selepas kedua kejadian itu eh malah dia dapet keberuntungan terus. Rahman juga sudah tahu mengenai kelakuan buruk ayahnya, ya itu baguslah kalau saja nanti akan terjadi sesuatu pada ayahnya aku tidak perlu sungkan lagi.

Mbok, nasinysa satu ucapku kepada ibu penjaga warung, biasa kalau manggil seenaknya saja aku. Kadang mbok, mak, ibu dan lain sebagainya

Pakai lauk ndak? Apa Cuma nasi putih le (nak) balas simbok

Ya pakailah, masa putihan emang lagi puasa candaku

Ya mungkin saja nasi lauk piring canda ibu warung

emang kuda lumping, cepetan mak dah laper ucapku, langsung ibu penjaga warung mengambilkan aku makanan

lha temen kamu yang arab itu kok ndak pernah kelihatan ucap ibu warung

indehoi mak balasku

dolanan (mainan) apa itu? ucap ibu warung

yaelah masa indehoi ndak tahu mak ucapku

indehoi itu ssst ssst ssst sst bisik anak perempuannya yang membantu jualan ibu warung, aku hanya cengengesan

LHO LHO LHO dah nikah itu anak? tanya ibu warung

belum ucapkku

Lho gimana to kok sudah gituan, ndak boleh to ya balas ibu warung yang berjalan mengantar makanan ke arahku

namanya juga anak muda mak balas anak ibu warung

anak jaman sekarang ck ck ck ck ucap ibu warung geleng-geleng, aku hanya senyum meringis saja

lha minumnya mana mak? ucapku

tuh kobokan (air bekas cuci) balasnya sambil lalu

Emangnya sini buto (monster)

es teh mbak ucapku kepada anak ibu warung

Selang beberapa saat minuman pun datang. Sedikit aku meminumnya dan kemudian mulai makan. Dengan sangat lahap aku memakan makananku.

Kalau makan pelan-pelan ar ucap seorang wanita di belakangku, aku menoleh ke arahnya dan kutikuti gerakannya hingga dia duduk didepanku

Eh… mmmslamat pagi bu….mmmm ucapku yang kemudian menundukan kepalaku. Tak ada kata-kata keluar dari mulut kami berdua, dia hanya memandangku memperhatikan aku ketika makan. Aku sama sekali tak berani memandangnya. Setelah selesai makan…

Bagaimana kabar kamu? ucapnya, aku angkat wajahku dan memandangnya. Kulihat wajah wanita ini sekarang menjadi sangat datar kepadaku, tak ada lagi wajah sayu ataupun sendu

baik-baik saja bu, bagaimana kabar bu dian? ucapku mencoba tersenyum walau kemudian menunduk lagi

baik balasnya, biasa dan datar

Nda, makan sini saja enak kok ucapnya memangggil seseorang

Disini ya yan, okey ucap lelaki itu yang kemudian masuk dan menghampiri kami berdua

Kenalkan ini mahasiswaku, arya ucap bu dian kepada lelaki itu

Anda ucap lelaki itu, yang kemudian aku tahu namanya Anda

Arya balasku, entah kenapa bathinku serasa sesak ketika melihat seorang laki-laki berkulit putih dan tinggi ini. rambutnya kaku dengan model potongan cepak.

saya lanjutkan maka saya dulu bu ucapku

iya silahkan

Sini nda, duduk sebelahku tapi pesan dulu, aku ndak makan ucap bu dian

okey yan ucap lelaki itu

Aku hanya mampu menunduk, kadang aku mencoba mencuri pandang ke arah bu dian. tapi dia sibuk dengan Smartphonenya. Tak ada percakapan antara kami berdua, tampak sepi ketika kami berhadapan. Anda, lelaki yang bersamanya tampaknya selalu tersenyum kepada bu dian.

entah mengapa sekarang aku merasakan berada di posisi bu dian ketika aku mengacuhkannya. Rasanya seperti tertikam sangat dalam. Ah, masa bodohlah aku sudah putuskan untuk mundur. Makanan mereka pun datang, mereka tampak mengobrol dengan sangat akrba dihadapanku.

Sialan, kenapa juga mereka duduk dihadapanku, mau aku hajar atau bagaimana itu laki. Hei! Kenapa aku cemburu? Terserah bu dian mau ngapain kan? Feel free arya… feel free….

Ciiiittt… klak… trap trap…

Woi cat, tumben banget ke kampus ucap seorang yang menepuk bahuku, tak lain dia adalah wongso

eh… mbak dian, pa kabar mbak? Pacarnya ya? ucap wongso dengan tangan kiri tetap dibahuku dan tangan kanannya bersalaman dengan mereka berdua. Sambil berkenalan dengan anda.

ni lagi makan siang ucap bu dian

Sial! Jawab bu jawab siapa dia? Pacar kamu atau buka?! Arghhhh! bathinku membuat aku semakin tertunduk

Hei ******! Kamu itu sudah memutuskan untuk mundur, kenapa malah emosi! bathinku yang lain memarahiku

Cepet cat! Habiskan kalau perlu piringnya sekalian! ucap wongso

emang kuda lumping jawabku judes

kalau jawab biasa sajalah, ndak usah pake emosi cat ha ha ha ha ucap wongso terbahak

emang mau kemana? tanyaku

biasa, nongkrong balas wongso

kok kamu tahu aku disini ucapku

bau kamu jarak satu kilo tercium apalagi bau kamu yang lagi emosi ha ha ha ha canda wongso

Aku hanya diam saja, bu dian yang aku lirik tak sedikitpun tertarik dengan percakapanku dengan wongso. Dia nampak lebih asyik dengan teman barunya itu. Wongso yang semula mencandaiku kini lebih memilih diam dan menungguku. Segera aku selesaikan makan siangku ini dan membayar.

Nah gitu habis makan langsung bayar ha ha ha canda wongso

Ayo dah ditungu ma koplak ucap wongso

iya.. iya… balasku

bu dian, pak anda, saya pammit dulu ucapku kepada mereka berdua

iya mas, hati-hati ucap anda, bu dian tidak membalas kata-kataku

Aku kemudian melangkah menuju wongso. Kuletakan tangan kiriku di bahu wongso dan berjalan dibelakangnya. Sedikti canda kami berdua ketika menuju pintu keluar warung.

Ar… ucap bu dian

Eh… aku menoleh ke belakang

Hati-hati… lanjutnya

Langsung Aku tersenyum dan mengangguk ke arahnya. Sedikit dia melirikku namun dialihkan pandangannya ke makanan dan ke Anda lagi. Aku dan wongso kemudian berboncengan untuk menuju ke tempat parkir mengambil motorku.

Entah, kenapa kata-kata itu yang selalu aku tunggu. Hanya dua kata hati-hati dan itu sudah membuatku nyaman dalam melangkah, ada apa sebenarnya aku ini? apakah aku ingin membuatnya kembali lebih sakit dari biasanya? Atau masih adakah kesempatan untukku dan dia kembali bersama? Setibanya di tempat parkir, wongso malah tertawa ngakak.

Ha ha ha ha ha kamu kelihatan cupu cat tadi ejek wongso di atas motornya tepat disampingku yang juga sudah naik di motorku

woi bocah aneh! Ada apa to sebenernya? Katanya ngajak kumpul ucapku

Siapa juga yang ngajak kumpul? Pakai nalar dong bro, ini masih siang anak-anak mana mungkin ada waktu longgar apalagi ini menjelang akhir tahun ucap wongso

Lha maksud kamu tadi ngajak aku keluar cepat-cepat waktu makan mmmm ucapku terpotong ketika wongso menyumpalkan sebatang rokok ke mulutku

aku tadi berangkat ke kampus, ke jurusan ngurus nilai, waktu pulang ditempat parkir ada motor kamu. Aku langsung punya piling kalau kamu pasti ke warung makan langgananmu. Aku terus kesana jalan kaki fyuuuhhhhh ucap wongso sambil menyemburkan asap dunhill-nya

lha tadi kamu pakai motor ucapku sambil menyulut api rokokku

Ya jelaslah, aku tadi pas sudah dekat lihat mbak dian masuk. Terus sedikit melongok ke dalam ada kamu ucap wongso

Lha apa maksudnya kamu ngajak aku cepat-cepat ucapku

yeee harusnya kamu berterima kasih sama aku, kalau kelamaan didalam bisa-bisa seisi warung kamu bakar, apalagi mbak dian bawa laki lain. Panas tuh hati kamu ha ha ha ha ucap wongso

Ah sialan kamu wong ucapku

begini ar, aku ndak tahu posisi kalian berdua seperti apa tapi paling tidak ketika aku melihat sebentar ketika mbak dian sudah di dalam aku lihat kamu salah tingkah, makanya aku jemput kamu ucap wongso

eh bentar-bentar… dari tadi kamu manggil bu dian pakai sebutan mbak? ucapku

Cemburu nih yeee. Ha ha ha…

dia sendiri kok nyuruh aku manggil mbak, waktu dia main ke warung, bahkan koplak sekarang kalau manggil juga pakai sebutan mbak kecuali kamu jadian sama dia, mungkin aku akan manggil namanya saja ucap wongso santai

ndak mungkin wong… dia dosen ucapku

Dulu aku juga berpikir sama dengan kamu ar ucapnya

maksud kamu? ucapku melihat wongso menghidupkan mesin motornya yang sudah mati

Aku dulu berpikir aku tidak mungkin menerobos api yang membakar rumahku untuk menyelamatkan ibuku. tapi ada laki-laki seumuranku yang tiba-tiba saja berlari masuk ke dalam rumahku itu dan membawa ibuku dengan susah payah… ucap wongso yang memandangku tajam

Fyuuuuuuuuuuuuh…. disemburkannya asap dunhill ke arahku

itu beda wong…. ucapku

sama saja cat, ketika aku berpikiran tidak mungkin ada orang lain yang berpikiran mungkin berarti semua itu mungkin untuk dilewati. Dan ketika kamu berpikiran bahwa itu mustahil dan orang lain berpikiran ada jalan, berarti ada jalan. Jangan terpaku pada pikiranmu, kotor itu bisa dibersihkan asalkan kamu mau

Aku pulang dulu cat, Cuma satu pesanku ucap wongso, yang membuat aku hanya bisa melihatnya memundurkan motornya

apa? balasku

JOMBLO JANGAN DIPELIHARA! Ha ha ha ha teriak wongso yang kemudian meninggalkan aku

KAKEKANE KOWE WONG! balasku berteriak (kakekane merupakan makian dan sudah dijelaskan didepan kalau nubie juga bingung artinya apa)

Pandanganku mengikuti wongso pergi menjauhiku. Sejenak aku merenung di tempat parkir. Beginilah cinta deritanya tiada akhir. shit! Im not that pig. Sialan itu tipatkai kenapa juga kamu harus menderita karena dewi siapa itu ah lupa aku namanya.

Aku bukan dia, dan aku pasti akan mendapatkan cintaku. Memang bukan dian, tapi pasti ada lagi yang lainnya. Masa bodohlah, segera aku ke rumah tante ratna untuk menjemput ibu. dalam perjalananku kerumah tante aku masih terbawa kata-kata wongso. Ketika seseorang berpikir mungkin dan kamu tidak, maka pasti ada kemungkinan

bu, ayo pulang ucapku yang masuk ke rumah tante ratna dengan santainya tanpa mengetuk pintu dan langsung nyelonong masuk

yee… enak saja ntar siapa yang nemenin tante? ucap tante ratna yang lagi ngobrol dengan ibu

kan ada om dan anak-anak manja ini ucapku sambil menunjuk ke anak-anak tante

om keluar kota, ibumu aku pinjam, kamu dirumah sendirian sana

kan sudah biasa jomblo hi hi hi ucap tante ratna dengan menunjukan jari kelingking

arhhh! Tante sukanya ngejek ah ucapku duduk di hadapan mereka

Sudah… sudah… sayang, ibu sama tante dulu ya? kasihan ndak ada yang nemenin ucap ibu

ya… ibu, lha terus aku dirumah sendirian ucapku manja

hiiii masa udah gede tatut sendilian ucap adikku dari tante ratna yang datang dan dipangku tante ratna

iya tuh sayang, udah gede takut sendirian padahal sudah biasa sendiri, kakakmu itu belum punya pacar sayang ucap tante ratna

belalti ndak laku ya mah balas anak tante

iya ndak laku, terus ndak ada yang mau sayang, kan kakak kamu itu manja setengah mati sama budhe hi hi hi ucap tante

apaan sih tante! Iiiihhh…. ucapku

sudah… sudah… kalian itu keponakan sama tante isinya bertengkar mulu

sayang, kalau kamu mau yang tidur sini saja bagaimana? ucap ibu

ndak bu, aku pulang, ntar aku jadi bahan bully tante jelek itu weeeeeeeeeeek ucapku sambil berlari ke belakang ibu

awas kamu ar! Gini-gini sudah laku ndak jomblo kaya kamu! Lagian seumuran kamu tantemu ini sudah punya pacar weeeeeeeeek ucap tante lagi-lagi aku kalah

iya siiiih tapi ada adegan sinetron tuh, he he he ucapku yang kemudian salim ke ibu dan lari keluar rumah tante

Awas kamu ar kalau ketangkep tak jitak kamu ucap tante ratna marah, kemudian menurunkan anaknya dan mencoba mengejarku. Ya karena waktu tante pacaran dengan pacar pertamanya ada adegan sinetron dimana tante mau mencoba bunuh diri ketika putus walau akhirnya datang seorang pahlawan ya suaminya sekarang. Pacar keduanya sekaligus yang menikahinya.

ndak bakal-ndak bakal weeeeeeeek ejekku yang kemudian menaiki revia dan melaju

hati-hati sayang ucap ibu yang aku balas dengan tanganku mendadahinya

Aku segera memacu laju REVIA dengan semangat kuadrat pangkat tiga tanpa di akar. Kadang pikiranku kembali ke wanita berambut panjang tanpa senyuman hari ini. otakku berputar kenapa dia tidak tersenyum sedikitpun kepadaku, malah sekarang bertambah dingin.

Inikah rasanya dicuekin? Inikah rasanya galau? Inikah rasanya Andilau (antara dilema dan galau)? Sialan kenapa juga aku mikirin dia, persetan dengan wanita itu. Apa aku itu tidak sadar kalau aku ini terlalu kotor untuk dia? Ayo ar, sadar ar… dia bidadari kamu hanya manusia biasa.

Arya… sudah tenang , pasti ada jalan cobalah untuk memaafkan dirimu dan kembalilah ke dian bathin terangku berbicara

Alah bro… ndak usah dipikirin bro, kalau emang dia ndak mau cari aja cewek lain, masih banyak bro yang bodinya lebih hot dari si judes itu bathin gelapku membalas

DIAM KALIAN SEMUA! Dasar terang dan gelap, pergi! Ngapain baru ngomong sekarang! Kemana kalian kemarin-kemarin! Sudah biarkan kakak yang memutuskan! ucap dedek arya

Sialan! Ini kenapa bathin ada empat? Bathinku, bathin terang, bathin gelap dan dedek arya? biasanya di film-film juga Cuma dua doang. Hufttthhhh….. bathinku

KAN KAMU SENDIRI YANG NGEBUAT! DODOL! ucap bathin terang, gelap dan dedearya bersamaan membentakku, membentak segala kebodohanku

Iya… iya cerewet kalian bertiga! bathinku

Ciiiiit…. sampailah aku di depan rumahku. Rumah yang penuh dengan kenangan indah, manis, pahit dan buruk. Aku harap setelahnya adalah kenangan yang indah. Segera aku masukan motorku ke dalam rumah, tak ada mobil ayah di dalam rumah. Aku masuk ke dalam rumah, dan duduk diruang TV. Merenung sesaat, sebenarnya hanya merenung dan melamun saja.

Bersambung