Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 53

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 53 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 52

Sudah tenang saja, anton sudah mengatakan semuanya. Itulah sebabnya om heri mau datang malam ini untuk mengoperasi. Dia sudah pulang sebelum kalian datang, dan tadi anton juga sudah bercerita mengenai apa yang kalian lakukan

Ingat kalian harus terus menyembunyikan identitas kalian. Jangan sampai ketahuan, dan kamu arya, hati-hati karena kamu paling dekat dengan mereka… ucap tante asih

Iya tan, hufffttttthh… tante sudah tahu semua mengenai dia? ucapku

Ketika kamu SD, tante sudah tahu kelakuannya… Aku tidak ingin mbak diah menderita lagi

untuk tindakanmu malam ini dan seterusnya, tante akan mendukungmu ucap tante

Paling dekat? Dekat dengan siapa? tanya rani

Kamu belum cerita siapa kamu ar? ucap tante asih dan ku jawab menggeleng

Ran… Yang tadi kamu bakar… ucapku dengan senyuman

eh… iya kak… ucapnya

Satu komplotan dengan Ayahku, dan aku juga pasti akan menyingkirkan ayahku sendiri seperti kamu ucapku

Eh… tapi kakak tidak perlu melakukan hal yang rani lakukan tadi ucapnya tertunduk

Mungkin kamu melihat langsung penderitaan Ibu kamu, tapi aku tidak aku mengetahuinya dari sudut pandangku sebagai seorang anak, dan sudah ada beberapa yang menderita karenanya, dan aku tidak ingin itu semua berlanjut. Mungkin aku perlu belajar untuk lebih tegas lagi seperti kamu tadi ucapku, rani tersenyum memandangku

Wah masalah keluarga ini, kayaknya kita ndak perlu tahu… kita mau cari semoking areya, ada ndak tan? ucap hermawan

Di atap gedung, dan ingat puntungnya dibuang ke sampah kalau tidak, besok OB akan tante usulkan untuk libur ucap tante sambil menunjukan arah menuju ke atap gedung

lha? Apa kaitanya dengan kita tan? ucap dewo

Kalian yang akan menggantikannya ucap tante asih dengan pandangan yang sangat tajam

Hiiiiii… takuuuuut…. nanti dibersihkan bro, dulu rumah satu komplek sekarang satu rumah sakit ngeriiii… ganas ucap udin

Apa tadi yang kamu bilang?! bentak tante asih

lari bro… ucap wongso yang langsung lari dan diikuti oleh teman koplak yang lain. Kini tinggal aku, tante dan rani

Ran, nanti setelah ibu sedikit baikan. Akan tante bawa kerumah tante dan kamu juga tinggal bersama tante ya, masalah nanti kebutuhan kamu akan tante penuhi, okay? ucap tante asih

hiks terima kasih tanteee…. huuuuu… huuuuu… ndak nyangka akan bertemu keluarga sebaik ini hiks hiks hiks ucap rani sambil memeluk tante

sudah, kamu katanya dah jadi adiknya arya, berarti kan keponakan tante ucap tante asih

Iya tuh, lagian si arman anak pertama tante yang masih SD kan pengen banget punya kakak perempuan ucapku

heem nanti kamu mainnya sama anak-anak tante ya ran ucap tante asih

Heem… ucap rani yang memandang tante asih sembari mengusap air matanya

Sudah, kamu sekarang boleh menemani Ibu kamu ya, tuh kasihan ibu kamu sendirian, tapi jangan diabangunin ya, biarkan ibu kamu istirahat ucap tante asih

iya, tan… ucap rani cipika-cipiki dan kemudian berdiri

Makasih kakak ehem.. cup ucap rani yang berjalan dan mengecup keningku yang sedang duduk di lantai

iya ngeng cengeng… ucapku, rani hanya menoleh tersenyum dan tetap berjalan ke arah ruang kamar ibunya

Setelahnya hanya tinggal aku dan tante asih. Tante memandangku dengan tatapan lembutnya, aku hanya menaikan bahuku. Tante kemudian tersenyum dan melambaikan tangannya agar aku mendekat. Aku pun mendekat kearahnya dan duduk dilantai membelakanginya, bersandar pada bangku tempat duduk tante asih. Aku duduk dengan kedua kakiku kutekuk ke atas.

Ar… ucapnya

ya tan… balasku

hati-hati, dia terlalu berbahaya… ucapnya

mungkin tan, tapi aku sudah tahu kebusukannya dan karena kebusukannya juga aku lahir ucapku

Ibumu cerita semuanya? ucapnya

Heem… dari awal hingga akhir ucapku

Kakekmu sebenarnya tidak setuju dengan pernikahan Ibumu tapi karena itu janji kakek buyutmu ya kakekmu mau bagaimana lagi, walau kakekmu tahu itu hanya akal-akalan keluarga ayahmu. Karena kakek menghormati kakek buyut dari ayahmu dan kakek buyut dari ibumu, kakekmu mau. Tapi ternyata laki-laki itu busuk sekali, kakek tahu setelah beberapa tahun ayahmu mulai menjabat ucap tante

aku sudah tahu, dan tante jangan salahkan kakek wicak dan nenek mahesa, mereka juga sama menderitanya karena ulah bajingan itu ucapku

Kamu kok tahu kakek dan nenek dari ayahmu? ucapnya

Aku mencarinya dan mereka menceritakan semua. Mereka ahhhh… setelah bercerita meninggal di pelukanku ucapku

Eh… jadi kamu sudah melakukan pencarian…

hati-hati, dan jaga keluarga ini ar… semua bergantung padamu ucap tante

Eh… maksud tante? ucapku

Kita semua sudah tahu akan gerak-gerik Ayahmu, lambat laun dia pasti akan menyingkirkan keluarga kita. Semua sebenarnya sudah berusaha untuk menjatuhkan ayahmu tapi akar dia terlalu kuat jika dihadapi dengan face to face. Harapan kami ya kamu, karena dia tidak pernah tahu kamu ucap tante

hmmm… aku pasti bisa menghancurkannya… ucapku

kami selalu akan mendoakan dan mendukungmu, jaga ibu kamu ya?… ucap tante, aku hanya mengangguk pelan

Keheningan dari kami berdua…

bagaimana dian? ucap tante

Eh… aku hanya menunduk di sela-sela kakiku yang tertekuk

hari minggu malam, sekitar pukul 22:00 dia duduk diruang tunggu pasien lantai bawah…ucap tante

Eh…. aku terkejut dan menoleh ke arahnya

***

Malam ini aku mendapat shift jaga malam. Tepat dihari minggu, aku selalu berjalan-jalan memutari rumah sakit untuk sekedar menghilangkan penat dan kantuk. Tepat diruang tunggu lantai bawah aku melihat seorang wanita yang sudah tidak asing lagi bagiku. Dia Dian, dosen dari keponakanku.

Dia duduk terus menatap ke arah mesin penjual makanan dan minuman. Aku berdiri disampingnya dengan jarak beberapa bangku kursi. Dia memandangku sebentar dan kemudian menoleh kembali ke arah mesin itu.

bagaimana… ucapnya memecah keheningan

jika mesin itu rusak mbak, padahal ada seorang pembeli sangat menginginkannya? ucap dian, aku sedikit terkejut ingin aku mendekat kearahnya namun aku tahan sebentar

cari yang lain… hanya itu yang terucap dari bibirku, dan sedikit aku meliriknya

haruskan seperti itu? ucapnya tanpa menoleh sedkitpun

tidak juga, bisa juga kan dibeli dan diperbaiki ucapku

jika kerusakannya sangat parah… ucapnya

aku tidak mengerti maksudmu yan, sangat tidak mengerti… ucapku heran, kemudian kami diam. Dari pandangan matanya aku bisa melihat sesuatu yang dia lihat. Aku kemudian tersenyum sendiri.

huffffthhh… hela nafas panjang dian, yang kemudian dia berdiri memandangku

terima kasih ucapnya sembari membungkukan badan dan meninggalkanku

Hei…. ucapku memanggilnya….

***

aku kemudian mengatakan sesuatu kepadanya, dan maafkan tante jika akan ada hasil yang ya bisa buruk bisa juga baik, tapi tante tidak tahu selebihnya… ucap tante

Apakah dia menceritakan tentang aku? ucapku

ya, hanya saja tidak semuanya ada yang dia sembunyikan dari cerita tentang kamu ucap tante

Aku terlalu kotor untuknya… ucapku

Makanya pakai deterjen, direndam dan dibersihkan… ucap tante dengan canda

Semua tergantung kalian berdua

Sudah, tante mau menemani rani. Pagi nanti, jika ibu rani sudah siuman akan langsung tante bawa kerumah. Administrasinya sudah tante palsukan jadi kamu tenang saja, pihak rumah sakit sudah tante atur ucapnya sambil meninggalkan aku

Atur? ucapku

kan ada om kamu, tante, dan pak dhe Anas sahabat pak dhemu, jadi everything will be fine, urus tuh cinta kamu hi hi hi ucapnya, aku hanya memandang tante asih berlalu

Aku menerawang ke atas kembali, setelah semua aku lalui hari ini nampaknya akan menjadi sangat rumit hubunganku dengan bu dian. masa bodohlah, seandainya tidak ada dia pun langit masih biru dan daun pun masih hijau kecuali yang sudah layu atau mati.

Aku bangkit dengan langkah yang malas ke arah atap gedung. Dalam langkah ingatanku kembali ke masa-masa dimana semua masih indah, masa-masa dimana semua masih lugu. Masa dimana aku bersama mereka kembali koplak, rasanya aku ingin sekali kembali ke masa SMA.

Weh weh weh… surem banget wajahmu ar? ucap udin

Sini dira peluk biar ndak surem lagi? ucap dira sambil membuka kedua tangannya

O… lha kenthir (Gila), teman sendiri mau diembat juga?! ucap dewo

Hayah, sudah bro, yang surem itu juga siapa

Rokok! ucapku dengan gerak tangan meminta rokok.

Wongso dan anton yang kemudan berdiri dan melangkah menjauh dari rombongan melambaikan tangan mengajakku untuk mengobrol. Dia kemudian duduk di lantai atap kgedung. Aku menyusulnya, entah apa yang akan dia katakan kepadaku.

Sini ar, aku mau bicara dulu ucap anton

Ada apa? ucapku sembari duduk di depan mereka berdua

Bagaimana rani? ucap anton

Dia akan tinggal bersama tante asih, dan aktifitas sebagai mahasiswinya untuk sementara di tinggalkan dulu. Lagian ini libur semester 7, besok semester 8, rani hanya tinggal bimbingan. Jadi tidak masalah jika dia tidak bimbingan terlebih dahulu, dia bisa bimbingan kalau situasinya sudah mulai reda dan tenang.

Masalah registrasi kuliah di semester genap (8) akan diurus oleh tanteku, jadi sekarang rani dipingit ucapku

baguslah kalau begitu…

Oia ar, bagaimana ayahmu? ucap anton

Iya bagaimana dengan dia? ucap wongso

Sementara ini, selama Ayahku dirumah tidak ada percakapakan atau pergerakan yang mencurigakan. Rumah baginya hanya terminal pemberhentian bus sementara, habis masuk rumah 1-2 jam kemudian keluar lagi ucapku

Lha ibumu ndak papa ar? Ucap wongso

Ibu, begitu juga aku malah lebih bahagia ketika dia tidak ada dirumah ucapku

Ada informasi tambahan? ucap anton

Tidak ada nton, mungkin kita menunggu reaksi mereka setelah kematian tukang ucapku

benar, kita tunggu saja… ucap anton

Ton… ucapku, dia menoleh kearahku

Jangan beritahukan ke teman-temanmu mengenai aksi kita, aku tidak ingin IN mengambil bagian dari kesenanganku yang berbahaya ini ucapku

Kesenanganmu? Kesenangan kita kali ucap wongso dan anton bersamaan

Eh… aku terkejut dengan jawaban mereka, anton kemudian berdiri

Tenang bro, selama masih ada koplak, biarkan koplak yang menanganinya. Untuk rencana, kita bisa mengaturnya, selama kita masih punya keberanian terutama berani mati. Well… koplak will handle it ucap anton sembari melangkah pergi menuju ke kerumunan koplak yang lain, aku hanya memandangnya dengan tersenyum kecil

Cat… ucap wongso, aku menoleh ke arahnya

Kemarin dian ke warung, dia mengobrol denganku… ucap wongso

Eh… aku hanya tertunduk

Sudahlah… aku sudah tidak ingin mendengarnya lagi ucapku

tapi dia mendengarkan aku tentang seorang lelaki yang bukan apa-apa sekarang menjadi apa-apa untuk sahabat-sahabatnya ucap wongso

Ah…. terserah kamu mau cerita apa wong, aku sudah tidak peduli lagi ucapku, sembari menyulut dunhill dan melepaskan asapnya ke arah langit

Terserah kamu juga cat, mau mendengar atau tidak…

Dia hanya bertanya kepadaku, tentang seorang lelaki, tentang masa lalunya, dan kemudian aku bercerita mengenai 11 orang yang egois! ucapnya dengan sedikit mengeraskan suaranya ketika mengatakan 11 orang egois

Keras kepala ucap dewo

sok jago ucap karyo

Pemarah ucap udin

suka menang sendiri ucap anton

Suka membully ucap tugiyo

Suka menindas ucap joko

Suka menghina ucap parjo

Suka memaksa ciiiin ucap dira

dan tak mau menerima pendapat orang lain ucap aris, ucap mereka secara bergantian dan aku hanya menoleh kearah mereka

tapi disatukan oleh satu orang, yang kemudian jumlah mereka menjadi 12 orang. sebenarnya ketika mereka menjadi satu belum ada namanya, hingga ketika ke-12 orang ini bersatu dan sedang berkumpul untuk sekedar nongkrong di nasi kucing.

Tiba-tiba, sekelompok orang menamai diri mereka geng tato dengan jumlah lebih dari 20 orang, mengobrak-abrik nasi kucing tempat ke-12 orang itu nongkrong. Tapi dengan santai ke-12 orang itu menghajar mereka dan menjadikan mereka bahan banyolan di hadapan semua orang.

hingga ada orang yag berteriak, matur suwun geng koplak dan mulai saat itu, semua mengenal yang namanya geng koplak ucapnya aku hanya tersenyum kecil kepada wongso

dan ketika itu aku menceritakan bagaimana satu orang yang menyatukan ke-11 orang lainnya itu menolong ibuku dari kebakaran ucap wongso

bahkan mengambil BPKB dan STNK serta motor kakeknya untuk membayar biaya rumah sakit adikku ucap anton

Ada lho, yang ngambil perhiasan ibunya Cuma buat nglunasi utang bapakku ucap joko

Bahkan sampai berdarah-darah nolongin adik perempuanku yang hampir diperkosa sama geng kemarin sore ucap dewo

dan sialnya lelaki itu juga bantu nglunasi hutang ibuku di lintah darat, andai saja ndak dilunasi mungkin udah ndak punya rumah aku ucap karyo

ada juga yang setiap hari ngurusin kambing-kambingku ketika aku nungguin ibuku dirumah sakit, eh ditambah lagi pas keluar dari rumah sakit dan mau bayar, sudah lunas semua biayanya ucap aris

Bahkan ada yang bantu modal ibu dan bapakku buat jualan, agar aku bisa nglanjutin sekolah dan ndak perlu kerja ucap udin

ada juga yang nolongin aku waktu aku dijebak cin sama mata keranjang, untung waktu itu ndak jadi mati cin, dibuang coba di tengah hutan, untung tuh ada yang nyariin aku setelah 2 hari aku ndak kelihatan ucap sudira

Ada juga yang bayarin biaya operasi kakekku dan ayahku yang kecelakaan bersama waktu itu, ya walau akhirnya kakek meninggal tapi paling tidak aku masih bisa melihat ayahku sampai sekarang ucap tugiyo

Ada, waktu ruko ayahku dan ruko ayah hermawan terbakar ludes. Sudah ndak tahu mau kemana, ditambah lagi pake sama mboke semuanya ndak punya uang. Tapi tiba-tiba, selang satu minggu ruko itu sudah berdiri lagi di pasar besar ucap parjo

ya, aneh kan wong terbakar ludes, selang satu minggu ndak pernah tak lihat lagi. Eh dikasih tahu orang pasar, kalau rukoku dan ruko parjo dah siap untuk jualan. Barang dagangannya saja sudah lengkap didalam ucap hermawan mengiyakan parjo

Mereka semua yang berkerumun memandangku dengan senyum. Aku hanya mampu tersenyum lebar setelah semua yang aku lakukan telah diketahui mereka semua. Ya, waktu masih SMA aku menyembunyikannya sebelum aku baru berkumpul dengan mereka, baru saja berkumpul dan belum mempunyai nama.

Aku sudah menganggap mereka keluarga, karena mereka aku juga memiliki banyak teman. Kejadian itu semua sudah berlangsung sangat lama, dan ketika itu mereka belum tahu walau akhirnya mereka tahu.

itu catatan masa lalu br… ucapku

masa lalu dengan tinta emas bagi kami semua ucap wongso

Dia tidak hanya datang kepadaku, tapi ke mereka semua. Bertanya tentang laki-laki itu ucap wongs sambil berdiri

Dan kemarin dia ngabisin satu plastik besar tisu dirumahku, belum dibayar lagi? He he he he ucap udin

Hei… semua orang pernah melakukan hal yang salah, tapi apa salahnya jika dibenarkan. Dia memang tidak bercerita secara detail mengenai lelaki itu, tapi sebenarnya teman-temannya ada yang pernah melakukan itu. Tapi karena ada bidadari datang dalam hidup mereka, mereka berhenti karena tidak ingin membuat sakit bidadarinya

Ada yang berhenti mabok, ngedrugs, nyabu, ngesek-ngesek dan masih banyak lagi, semua mereka lakukan agar bidadari yang datang tidak pergi lagi lanjut wongso yang membungkuk dengan kedua telapak tangannya meremas lututnya. Wajahnya tepat didepan wajahku.

jika kamu merasa bersalah, jangan terlalu merendahkan diri kamu. Rendah hati boleh tapi rendah diri jangan. Bersikaplah sewajarnya kamu… ucap wongso meninggalkan aku dan berkumpul bersama mereka

Aku termenung dengan ucapan wongso, enta apa yang ada dipikiranku saat ini. kosong dan tak menentu. Dian, kenapa kamu datang lagi, apakah kamu benar-benar ingin tahu aku sebenarnya? Masa bodohlah, aku akan mencari permaisuriku yang sebenarnya jika itu bukan kamu.

Woi! Kumpul sini napa, biar kaya manusia ucap dewo dan karyo

Aku kemudian berdiri dan berjalan kearah mereka. Mereka tersenyum kepadaku, ada yang mengacungkan jempol, jari tengah, jempol kecepit dan aku hanya bisa tersenyum memandang mereka. Tak ada pembicaraan mengenai apa yang terjadi malam ini, apa yang terjadi dengan dian. yang ada kami bercanda semalam suntuk hingga pagi menjelang.

Rembulan itu menjadi teman kami selama berkumpul
Rembulan yang sama ketika aku bersamamu
Namun apalah dayaku
Aku terlalu kotor untukmu
Maafkan aku wahai rembulan terang, saksi bisuku
Saksi bisu tentang kisah cinta yang gelap

Bersambung