Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 52

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 52 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 51

Sudut pandang orang ketiga….

Nguuuueeeeeng…. Nguuuueeeeeng…. Nguuuueeeeeng….

Tug, lagune disetel sing apik ben yen tibo opo kecekel awake dewe ketok sangar (Tug (tugiyo), lagunya diputar yang bagus biar ketika kita jatuh atau tertangkap, kita kelihatan sangar) ucap dewo di mikrophone yang didengarkan oleh ketiga orang yang lain

Iya tug, yang bagus, yang menghentak ucap aris

kalau bisa lagunya dream theater tug, okay ucap wongso

sebentar bro, susah ini ucap tugiyo yang mencoba mengambil Smartphone di saku jaketnya, kemudian di hubungkan ke colokan mikrophone (pokoknya gitulah ane juga bingung, masalahnya nubie bukan mata-mata). Dan…

Selamat malam duhai kekasih
sebutlah namaku menjelang tidurmu
bawalah aku dalam mimpi yang indah
di malam yang dingin sesunyi ini

Selamat malam duhai kekasih
aku sebut namamu
menjelang tidurku
agar kau hadir dalam mimpi indahku di peraduan yang sepi ini

Reff :
Gelisah hatiku karena kau jauh dariku
tak lelap tidurku karena terbalut rindu
adakah rindu didalam hatimu
seperti diriku merindukanmu

WASYU,CELENG, BAJINGAN, KEMIN, KOPET! (ANJING, BABI HUTAN, BAJINGAN, ANAK BABI HUTAN, KOPET!) teriak mereka bertiga setelah lagu diputar dan bait pertama lagu di dengarkan

Sori bro, salah bawa Smartphone pas berangkat, punyae simbok ucap tugiyo membela diri

JEMBUT! Lagune ike nurjanah saja bro, malah lebih bagus, aku sering onani mbayangin mbak ike dengan senyum manis mengemut kontolku ucap dewo

MATAMU! teriak mereka bertiga

Ganti-ganti! ucap aris

lagunya satu thok, ini lagu pacarannya mbok sama pake dulu bro, maklum ya bro ucap tugiyo

Tugiyo koplak! teriak wongso di mikrophone

IYO! teriak mereka bertiga, jelaslah koplak mereka geng koplak

Ngueeeeeeeeeeeeeeeng! Dua buah motor melaju dengan kecepatan tinggi menuju bukit komodo. Meninggalkan sebuah mobil yang berada di belakangnya. Diringi lagu evie tamala yang terus berputar dan berputar.

Tampak sedikit kewalahan mobil itu meladeni keliaran dua pembalap di depannya. Mobil terus membuntuti setiap pergerakan dari kedua motor didepannya. Hingga sebuah jalan yang dilewati oleh ketiga kendaraan bermotor itu menanjak. Mendeti jalan yang yang disebelah kanannya adalah sebuah jurang yag curam.

leng, ning buriku tapi ati-ati yo (babi hutan, ke belekangku tapi hati-hati ya) ucap wongso kepada dewo melalui mikrophone

oke, nyante wae su (Oke, santai wai njing) ucap dewo kepada wongso

rodo ngiwo ojo terlalu nengen ngko keno awakmu (agak ke kiri jangan terlalu ke kana nanti kena kamunya) balas wongso

Roger wong, kasih aba-aba yo ucap dewo kepada wongso

Ya jelas to ndeeeeeeeeeees ndes ucap wongso

Ketika jalan mulai menanjak, tampak kecepatan dari ketiga kendaraan itu sedikit melambat. Motor 2 yang ditunggangi dewo dan aris melambat. Di arahkannya motor 2 ke belakang motor 1 sedikit ke kiri, mobil tetap membuntuti dengan jaral semakin dekat. Dan tepat ketika itu mobil mengambil posisi sedikit ke kanan.

Mati kalian, setelah ini aku pepet kalian ke kiri dan matilah kalian ha ha ha

tembak mereka bro! ucap seorang lelaki dalam mobil

tembak? Aku tidak bawa pistol tahu sendiri kan aku pelupa ucap seorang lagi yang berada disampingnya

Dasar ******, kalau mereka ditembak kan pasti mereka lebih empuk lagi ucap lelaki yan menyopir itu

Lha kamu bawa? ucap lelaki disampingnya

ndak bawa he he he ucap lelaki yang menyetir

Sama saja, lalinan (pelupa) ucap lelaki disampingnya

banting kiri, pepet yang terdekat ucap lelaki yang tidak mengemudi

Brak…. sebuah tabrakan kecil mengenai motor 2. Citttt… ngueeeeng…. motor 2 sempat kehilangan kendali namun dengan keahlian dewo menunggangi kuda besi itu,motor dapat kembali ke jalur. Wongso yang berada di Motor 1 melihat kejadian itu dari spion melambatkan motornya.

WASUUUU! (WANJIIING!) teriak dewo memaki yang baru saja terjadi

DIGAS! OJO NGALON! WONG! (TARIK GAS! JANGAN MELAMBAT!) teriak dewo kepada wongso melalui mikrophonenya

Ati-ati ndes, aku durung duwe anak (Hati-hati ndes, aku belum punya anak) ucap aris yang memeluk tubuh dewi erat

Sama bro, cita-cita anakku 8, 5 pemain inti 3 cadangan ucap dewo

Emange futsal! teriak aris dan tugiyo dari mikrophone

Dasar koplak! teriak wongso

Setelah terjadi tabrakan posisi sekarang menjadi seperti yang koplak inginkan. Motor 1 berada di depan, motor 2 dibelakangnya dan agak masuk kekiri sedangkan mobil berada dikanan belakang motor 2.

Kecepatan dari tiga kendaraan bermotor itu sangat cepat, layaknya pembalap yang suda diakui mereka melibas jalan dengan santainya. Mata pengemudi motor 1 melihat sesuatu yang sudah ditunggi. Bibirnya tersenyum, dan sedikit terkekeh.

Tiga temannya yang mendengar kekehan wongso seakan tahu apa yang dipikirkan wongso. Tepat di depan kedua motor tersebut, ada sebuah tikungan yang berbelok ke kiri dengan sebelah kanan jalan adala sebuah jurang yang dalam.

Siapkan semuanya! ucap wongso

Roger! teriak tiga orang yang mendengar wongso dari mikrophone

Dua orang, tugiyo meraih tas yang berada dipunggungnya beitu juga aris. Dengan cepat mereka mengambil kantong plastik besar yang berisi sesuatu berwarna hitam. Masing-masing tugiyo dan aris memegang dua buah kantong plastik besar.

Dan tepat ketika mendekati belokan, mobil melaju di kanan mereka tepatnya dibelakang motor 2. Dan dengan laju dipercepat dan posisi mobil mencoba menyalip dari kanan motor 1 dan 2, mereka mulai masuk ke belokan.

Sekarang! Teriak wongso di mikrophone

Dilemparkannya kantong plastik itu ke depan mobil yang membuntuti mereka. Walau sebenarnya sangat berat karena terpaan angin dan juga posisi mereka sedang berkendara dengan laju yang sangat cepat. Dan pyukkk… pyukkk empat kantong plastik jatuh di depan mobil.

Apa itu?! teriak seorang lelaki dalam mobil

Ciiiiiiiiiiitttt…. mobil mencoba mengerem namun sayang, terlambat. Seketika dua motor didepannya berbelok ke kiri, mobil melaju disebelah kanan. Mobil melaju diatas aspal yang berlumurkan oli, walaupun mencoba untuk mengerem tapi laju roda mobil terpeleset oleh oli.

Sebenarnya mereka bisa saja berhenti tapi ruang berhenti mereka sangat sempit. Mobil yang terlebih dahulu terpeleset oleh oli direm mendadak, tapi setelahnya mobil tetap melaju tanpa kendali. Mobil menabrak pembatas jalan, pembatas antara jalan dan jurang.

Tidaaaaaaaaaaaaaak!teriak dua orang lelaki di dalam mobil

Ciiiiiiiiiiit brakkk…. nguuuuunggg…. brak brak brak………………. DHUARR DHUARRR DHUAAAAAARRRRR. Sebuah ledakan besar. Dari bawah jurang mewarnai gelapnya langit, api tampak berkobar. Mereka yang semula berkecepatan tinggi berhenti dan berbalik untuk menyaksikan kobaran api. Empat orang pemuda tampak tersenyum puas atas hasil kerja mereka.

bro kenapa orang-orang itu terjun ke jurang? ucap dewo

cari suasana baru kali jawab wongso

cari wangsit, mau pasang nomor togel sambung aris

bawalah aku dalam mimpi yang indah
di malam yang dingin sesunyi ini

Pateni! (Matikan!) teriak ketiga orang itu kepada seorang temannya bernama tugiyo yang sedang asyik berjoged mendengarkan lagu evie tamala.

Ngueeeeeeeeeeeeengggg…… Ngueeeeeeeeeeeeengggg…… Ngueeeeeeeeeeeeengggg……

Motor 3 dan 4, diikuti sebuah mobil dengan 2 orang berada di dalamnya. Mobil melaju dengan cepat, mengikutii du amotor yang tampak liat meyusuri jalan. Jalan menanjak dilewatinya dengan kecepatan yang sangat tinggi.

isih adoh Yo,karyo? (masih jauh Yo karyo) tanya hermawan di mikrophone

sabar bro, sedelok ngkas ucap karyo

kontolku gathel (kontolku gatal) ucap hermawan

matamu! Situasi kaya gini ngomong kontol ucap karyo

biar ndak stress bro ha ha ha, aba-abane ya ucap hermawan

oke bro ucap karyo

Kedua motor melaju dengan cepat diikuti oleh mobil dibelakangnya. Jalan kemudian menjadi datar, hingga kecepatan ketiga kendaraan bermotor itu melebihi kecepatan batas.

tak puterin lagu biar ndak tegang ucap parjo

oke bro! ucap hermawan, joko, karyo bersamaan.

Mama … bolo-bolo, Papa … bolo-bolo
Nenek … bolo-bolo, Kakek … bolo-bolo
Mama bolo Papa bolo, Nenek bolo Kakek bolo, Semua bolo

Cantiknya memang cantik, Manisnya memang manis
Teman-teman semua suka

Mama sayang aku, Papa sayang aku
Nenek apalagi, Kakek juga sayang aku

Wajah yang cantik siapa yang punya
Wajah yang manis siapa yang punya
Anak mama anak papa semua

KENTHIR! ucap mereka bertiga kepada parjo

lagu penyemangat bro ha ha ha ucap parjo membela diri

Penyemangat gundulmu! Lagu anak-anak disituasi seperti ini ucap hermawan

masa kecil kurang bahagia si parjo ucap joko

bar iki, diantemi wae parjo, setuju?! (setelah ini dihajar saja parjo) ucap karyo

Setuju! teriak hermawan dan joko

Jangan bro, ini artis idolaku bro, tina toon muach pokokmen ucap parjo

wah parah ini orang ucap karyo

HA HA HA HA HA tawa mereka berempat, gelak tawa dalam situasi mencekam

Bertiga kendaraan bermotor itu saling memperbanyak rpm. Motor 3 dan 4 masih tetap berada didepam mobil yang terus membuntutinya. Tak heran jika dua motor itu bisa dengan mudah dan gampang mempertahankan posisi mereka. Ya, karena mereka sudah hafal betul mengenai jalanan di bukit ini.

Hei tembak mereka! ucap supir mobil itu kepada temannya

oke ucap seorang yang kemudian membuka kaca pintu, diarahkannya moncong pistol ke arah dua motor didepannya. Dhuaaarrrrr….. Pyar…..! kaca spion kanan pada motor 4 terkena tembakan untungnya tidak mengenai mereka.

woi ada pistol! Bergoyang! teriak hermawan, seketika itu motor 3 dan 4 bergerak zigzag dengan kecepatan yang tinggi

DHUUUUUARRRR… DHUAARRRRRR… dua tembakan meleset

balang jok sing nembak!(lempar sesuatu jok ke arah yang nembak) ucap hermawan, tanpa berbicara joko merogoh saku jaketnya dan jaket hermawan

Makan nih! ucap joko

Prak! Brughhh…

Arghhhh! Sialan ucap si penembak yang kemudan masuk, pistol yang di gunakannya pun jatuh

ada apa? ucap pengemudi

Tanganku dilempar sesuatu sial, memar sedikit ucap penembak

tenang saja, setelah ini kita lempar mayat mereka he he he ucap pengemudi

kita lempar ke wadah makanan anjing ha ha ha ucap penembak

Sebuah teriakan ……wuuuuuuuuu…. terdengar dari mulut karyo. Menandakan sebuah pemandangan jalan yang sudah mereka tunggu. Walau sebenarnya itu adalah jalan lurus biasa tapi tampaknya karyo hafal betul mengenai apa yang akan ada beberapa ratus meter didepan mereka.

Siapkan! teriak karyo

Roger! ucap mereka bertiga, parjo dan joko menambil sebuah tabung dalam tasnya

Seketika itu, motor 4 mendekati motor tiga dan bergerak menyamping kanan. Posisi motor 3 dan 4 berada di depan dengan jarak antar kedua motor melebar. Tanpa disadari oleh pengemudi, Mobil yang di kendarainya berada di tengah dengan posisi berada dibelakang motor 3 dan 4.

Sekarang! ucap karyo

Dengan segera parjo dan joko membuka isi tabung dan menarik katup penutupnya. Gerombolan asap keluar dari tabung itu, sangat banyak sekali. Hingga mobil dibelakangnya tak bisa melihat apa yang ada didepannya. Asap masih keluar terus menerus dan mobil tetap dengan kecepatan yang sama mencoba mengejar mereka.

Hingga asap sudah tidak keluar dari tabung itu, motor 3 berbelok ke arah kiri sesuai arah jalan dan motor 4 bergerak ke arah kenan melawan arus. Untungnya jalanan bukit komodo sepi, jadi resiko motor 4 mengalami tabrakan dengan kendaraan dari lawan arah adalah nol. Dan….

CIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT… BRAAAAAKKKK!

Mobil yang diawal tidak bisa melihat tiba-tiba menabrak sebuah monumen pemisah jalan. Ya, jalan didepan mobil ini bercabang, satu ke arah kiri sesuai arus jalan sedangkan yang kekanan melawan arus. Mobil tidak menyadari bahwa mereka berada ditengah-tengah kedua arus jalan tersebut.

Ketika asap telah berhenti, baru mobil itu menyadari bahwa mereka berada ditengah-tengah jalan yang akan membelah. Mereka berusaha menghentikan mobil namun sayang, jarak mereka terlalu dekat dengan sebuah monumen besar pembelah jalan itu.

Hingga akhirnya mobil itu menabrak monumen dan mobil ringsek tidak karuan. Dua orang yang berada di dalamnya… missing their soul. Motro 3 dan 4 kembali memutar dan melihat mobil yang menabrak itu dari belakang mobil dengan jarak yang sangat jauh.

Ya mereka melihat sebuah mobil ringsek dan dengan asap sedikit mengepul dari mobil, dan DHUAAAAARRRRRRR…. sebuah ledakan yang disaksikan empat orang dengan posisi berada di atas motornya.

Tadi yang kamu lempar apa jok? ucap hermawan yang disampingnya ada karyo dan parjo

Hape ucap joko

Hapemu? ucap hermawan

bukan, hape kamu ucap joko santai, seketika hermawan merogoh saku jaketnya

KAMPRET KOWE JOK! (KAMPRET KAMU JOK!) teriak hermawan ke joko

Sori bro ha ha ha ha ucap joko yang kemudian tertawa bersama karyo dan parjo, walau kehilangan Hape hermawan juga ikut tertawa…

HA HA HA HA HA….

***

Aku belari dengan motor 250 CC dengan seorang wanita bersamaku memeluk tubuhku. Sedikit gugp dan ketakutan akan hadirnya mobil yang mencoba membunuhku. Jalanan gelap aku susuri, sebuah jalan di bukit bacusa (badak bercula satu).

Dengan kecepatan yang stabil aku masih bisa bergerak depan mobil dibelakangku. Teriakan dan makian kepala orang yang keluar dari jendela mobilnya tak bisa aku dengar. Dari spion motorku ini aku bisa melihat bagaimana orang yang berada dibelakangku sangat ingin kematianku dan juga rani, wanita yang berada dibelakangku.

Jalan semakin menanjak, kutahu jalan ini pernah aku susuri ketika masih SMA bersama koplak. Jalana yang lama kelamaan akan menjadi sangat sempit, dan juga menyeramkan karena kanan-kirinya berupa belahan bukit. Ya, jalan yang akan aku susuri adalah jalan yang membelah bukit dimana kanan dan kirinya hampir seperti tembok yang menjulang tinggi.

Motor 250 CC ini semakin aku pacu dengan cepat, hingga pada jalan yang lurus kulihat seorang laki-laki dengan motor bebeknya mengacungkan jempol ke arahku. Aku tak tahu siapa dia yang jelas dia tersenyum kepadaku. Hingga motorku melaju dengan cepat melewati lelaki itu.

Jalan menjadi semakin gelap tanpa ada penerengan jalan disini. Walau begitu aku masih hapal jalan-jalan disini. Tepat didepanku sebuah tikungan yang berbelok ke kanan yang sedikit tajam dengan jalan sedikit menanjak landai.

Sesuai dengan rencana, Motorku sedikit aku lambatkan sehingga mobil dibelakangku akan berada di kananku. Dan ya, mobil itu mulai mencoba menyalipku dari kanan. Posisi mobil sudah berada di kanan belakangku, tampaknya mobil itu menginginkan aku hidup-hidup. DOR DOR DOR… suara tembakan dari mobil kulihat tembakan itu diarahkan ke atas.

berhenti! ucap tukang dari belakang mobil,

Tiiiiiiiiin tiiiiiiiiiiiiiiiin… bunyi klaskson dari mobil dibelakangku

Arya, aku takut… ucap rani yang terdengar pelan

Peluk aku lebih erat, kita akan selamat! teriakku

Tepat ketika tikungan ke kanan tajam, kupacu motorku. Dan…

THIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN THIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN….. CIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIT BRAAAAAAAAAAAKKKKK….

Sebuah truk dengan bemper baja yang monyong kedepan melaju di samping kananku. Mobil yang berada dibelakangku kehilangan kendali. Tampak sebelum terjadi tabrakan, dari spion kulihat tukang mencoba membanting mobilnya ke kiri tapi terlambat. Truk dengan lampu yang tidak menyala ini, sudah terlebih dahulu menghantam dan mendorong dengan sangat keras mobil yag ditunggangi tukang.

Hingga ringsek mobil itu tak berbentuk tergencet antara truk dan dinding jalan, aku kemudian mengerem motorku dan berputar balik. Tampak pak wan keluar dari truk tanpa plat nomor itu dan berjalan melewati mobil yang ringsek. Aku segera mengejarnya, dan kudekati pak wan. Seorang lelaki datang dengan motor bebeknya. Kami berada agak jauh dari mobil yang ringsek itu.

Pak wan terima kasih ucapku, motor bebek dengan seorang lelaki itu mendekat

Sudah kewajiban saya membantu den arya ucapnya

Ar,aku pinjam korekmu ucap rani yan kemudian turun, mengalihkan perhatianku dan kedua orang lelaki dihadapanku

Buat apa? ucapku

Sudah… pinjami aku ucapnya kemudian ku beri korek apiku

Terlihat sebuah cairan mengalir mendekati tempat kami berada. Rani kemudian mendekati cairan itu dan menyalakan korek api. Seketika, api merambat melalui korek itu dan kemudian berlari kembali kearahku. Kami berempat kemudian bergerak menjauh dan DHUAAAAAAAAAAAARRRR…. sebuah kembang api besar membakar mobil dan truk itu,

MATI KAMU BAJINGAAAAAAAAAAAAAAAAN! Teriak Rani

Sudah ran… ucapku

hiks hiks hiks… terima kasih ar, terima kasih ucapnya sambil memelukku di belakang motor

Masih bersama kobaran api….

pak truknya?ucapku kepada pak wan

Sudah den wicak, tenang… saya bisa beli lagi ucap lelaki itu

Eh… tapi… ucapku sedikit kaget mendengar nama kakekku

Sudah, ndak papa, truk itu belum setimpal dengan apa yang sudah dilakukan tuan wicak kepada saya. Apalagi saya membantu cucu dari orang yang berarti bagi saya, den arya, tapi saya lebih suka memanggil anda den wicak ucap lelaki itu

perkenalkan den, ini anak saya, namanya Warnadi ucap pak wan

oh iya, saya… ucapku terpotong

Den Wicak, pokoknya saya manggil aden dengan nama kakek aden ucap mas war

terima kasih, saya sangat berterima kasih ucapku

Jadi Mas War itu yang tadi dipinggir jalan itu ya? ucapku kepada mas war anak dari pak wan

Iya, tadi sore bapak nelpon aku mas, katanya akan ada pertarungan lumayan besar mas. Makanya aku nemenin bapak, sekalian ngikuti rencana temannya mas yang namanya siapa tadi pak? ucap mas war kepada pak wan

Wongso, anak pemilik warung makan itu lho den ucap pak wan

owh… pantes dia tadi bilang ke aku pak, mas ucapku kepada mereka berdua

Kami terlibat perbincangan sebentar, yang kemudian kami berpisah. Pak wan pulang dan sebelum pulang pak wan memasang sebuah tanda di tengah jalan yang berjarak kurang lebih 200 meter dari tabrakan ADA KECELAKAAN HATI-HATI. Setelahnya kupacu motorku ke arah rumah sakit, dalam perjalanan dengan laju lambat.

Ar… ucap rani

Hmmm… ucapku

Terima kasih ucapnya

tenang cu… sekarang kamu bersembunyi dulu ya cu he he he ucapku

dasar kakek-kakek ha ha ha hiks terima kasih pokoknya ucapnya

iya… iya jangan nangis, toko dah pada tutup ndak ada yang jual tisu ucapku

nyebelin kamu itu

ar, mulai sekarang kamu adalah kakakku ucapnya

kakek sajalah biar keren balasku

Kak arya.. ehem… asyiik punya kakak ucapnya

tapi ingat, aku pengen punya adik ipar bernama anta ucapku

Siap kakakku pasti ucapnya semakin erat memelukku

Hingga aku masuk ke dalam jalur lingkar, dan menuju kearah rumah sakit. Tampak segerombolan koplak berada di samping jalan. Aku berhenti dan tersenyum kepada mereka, mereka pun membalasnya.

Wongso dengan santai melempar sekaleng minuma bertuliskan pasir hijau. Aku turun dan duduk memutar bersama mereka, dalam keheningan dan senyum-senyum sendiri. Tiba-tiba kami tertawa sangat keras bersama-sama.

KOPLAAAAAAAAAK! HA HA HA HA HA…. ! teriak kami bersama-sama

HA HA HA HA… MAU HERMAWAN KONTOLE GATEL, OMONGKE DIRA BEN DIGARUKE (tadi hermawan kontolnya gatal, bilangkan dira biar digarukin) teriak karyo

Ah matamu! Malah diemut susah ngko ha ha ha (Malah di emut, susah nanti) balas hermawan

Lha joko malah geblek, moso Hapeku yang dibuat untuk melempar, kampret joko tuh ucap hermawan

masalahnya, kan sayang kalau hapeku, hapeku buat BBM-an sama pacarku. Lha kamu? Pacar sebelah rumah saja pakai hape wekekekekekekeke… ucap joko membalas

AH RAIMU (WAJAHMU) ha ha ha ha ucap hermawan di iringi gelak tawa kami bersama

Lha tugiyo malah jadi pecinta dangdut, sudah tahu situasi genting perang, malah muter evie tamala ucap wongso

Gila separo itu tugiyo dewo menimpali

Parah lagi parjo, lagunya tina toon… mama bolo bolo… gila ndak tuh? ucap karyo sambil gerak tubuhnya meledek parjo

sama gilanya hahaha uca aris diiringi gelak tawa kami semua

Woi, lha tadi hasilnya bagaimana? ucapku kepada mereka semua

NASI BAKAR HA HA HA HA ucap wongso, tugiyo, dewo dan aris yang kemudian mengacungkan jempol ke arahku

PEPES BAKAR HA HA HA HA ucap karyo, joko, parjo, dan hermawan yang kemudian mereka bersama-sama serta masing-masing dari mereka mengacungkan dua jempol kearahku

Lha kamu ar? ucap wongso dan dewo bersamaan

bandeng presto, tapi habis itu dibakar ucapku santai

HA HA HA HA HA… gelak tawa kami bersama…

Kakak-kakakku… ucap rani memecah keceriaan kami

hiks hiks hiks terima kasih hiks hiks hiks ucapnya yang berdiri sambil membungkuk ke arah kami bersembilan

WOI NANGIS MANEH (LAGI) TAK PERKOSA LHO ucap parjo

EH… rani sedikit kaget

Bercanda mbak ha ha ha, mana mungkin kita ngelakuin itu sama ih ih nya arya wekekekekekek ucap wongso

gundulmu, ini adikku ucapku

Adik ketemu gede? Wah bahaya arya… ha ha ha ha ucap dewo

Aku adiknya kak arya, terima kasih sekali lagi teman-teman kak Arya ucap rani kembali membungkuk kearah kami

hei… ucapku, serentak kami bersembilan mengacungkan jempol ke arah rani. Dia hanya mampu tersenyum dengan aliran air mata kebahagiaan

Hingga akhirnya kami menyudahi nongkrong sejenak ini karena telepon dari anton agar segera ke rumah sakit. Ku kabarkan kepadanya bahwa misi berhasil dan kami akan segera menuju ke rumah sakit. Laju pelan motor beriringan, diiringi dengan gelak tawa dan canda kami.

kadang ada yang memukul dan kemudian lari dengan motornya. Adapula yang ngegas-ngegas dengan tujuan manas-manasin temannya. Ya itulah koplak, aku sebenarnya juga tidak mengerti kenapa aku bisa bersama mereka.

Tidak pernah mengerti kenapa mereka bisa menjadi temanku. Teman yang lebih akrab dari seorang sahabat, entah mungkin nama lainnya adalah keluarga keduaku. Tak ada marah ataupun benci sekalipun ada masalah diantara kami.

Kak… ucap rani dibelakangku

Hmm… jawabku

terima kasih.. ucapnya

Sudahlah anggap saja ini sebagai hadiah persaudaraan kita ucapku

Heem… ucap rani sambil memelukku sangat erat

Rani, seorang gadis yang tampak berbeda dengan yang aku kenal ketika KKN. Dia yang sebelumnya selalu diam selama KKN, tertutup akan semua hal yang ada dalam dirinya. Sekarang sungguh tampak berbeda, dengan posisi memelukku pun dia mendendangkan lagu entah lagu apa.

Dia sudah berani mengejek temanku, mengatai mereka dengan berbaga macam hal yang sedikit parno. Tapi tanggapan dari teman-temanku tetaplah biasa, karena mereka tahu gadis ini sudah menjadi adikku dan pastinya adik mereka juga.

Kak aris?! teriak rani ketika motor yang ditunggangi aris berada disampingku

Apa ran? ucap aris

Kakak ahli keris ya? ucap rani

Wah pasti arya yang kasih tahu ya, emang kenapa? ucap aris

iiih pasti itunya ikut bengkog-bengkong juga ya, ngeri deh… hiiiiiiiiiiiii weeeeeeeeeeeeeek ucap rani

awas kamu ya tak jewer kamu ucap aris dengan gaya orang tua yang hendak memukul

Lari kak arya, cepetan… ntar aku dipukul ucap rani

iya iya… ucapku yang langsung menancap gas menjauhi aris

Rani membuat kami semakin lengkap hari ini. candanya membuat kami terpingkal-pingkal, apalagi setelah aku memberitahukan sebutan sahabat-sahabatku. Aku masih dikejar-kejar oleh motor dewo dan aris, terlihat ugal-ugalan namun bahagia.

Bukan hanya aris, semua kena, aku juga. Ejekan-ejekan rani terus saja keluar sampai kita berada dirumah sakit. Kami langsung berjalan menuju lantai dimana anton, udin, dan sudira sudah menunggu. Dan jelaslah ada tante asih disana. Kami semua mendapat keterangan bahwa yang mengoperasi ibunya rani adalah Om Heri, adik tante asih yang sudah aku ceritakan sebelumnya.

berdiri, baris yang lurus! bentak tante asih, membuat kami terkejut setengah mati. Tanpa bisa membantah, kami langsung berbaris lurus satu barisan

Maju satu persatu! bentak tante asih

ini lagi, keluyuran malem-malem ucap tante asih sambil menjewer telinga anton. Anton mangaduh dan langsung berjalan kebelakang tante asih

ini lagi, cowok bukan cewek bukan, mau cari pelanggan ucap tante asih menjewer sudira

Awwwwww… tante jangan keras-keras nanti dira tambah ndak cantik lho ucap dira yang langsung terdiam ketika melihat mata tante asih melotot. Dia kemudian berjalan kebelakang anton

kalian ndak usah maju ucap tante asih yang kemudian berjalan kesamping kami semua

ini nakal

ini juga

apalagi ini

kamu juga

ini tambah nakal lagi

dasar ndak bisa di atur

nakal kok ndak ketulungan ergh!

kapan tobatnya!

tambah kamu lagi

ini juga ucap tante asih yang berjalan di samping kami semua, setiap kata-kata yang keluar dari tante asih disertai jeweran

ganas! ucapku pelan

Apa kamu bilang ar? bentak tante asih

ndak tan endak kok ucapku

modaro (mati kamu)ucap dewo

sudah-sudah, pokoknya kalian kalau sedang mengerjakan sesuatu….

hati-hati, tante tidak ingin kehilangan kalian ucap tante yang membuat kami semua terharu

tanteeeeeeee eeee eee eee ee… ucap kami serempak

apa?! Apa?! bentak tante sambil mengepalkan tangan ketika kami hendak memeluknya

hi hi hi hi ternyata kakak-kakakku takut sama tante ya hi hi hi ucap rani

kamu juga?! Cewek keluar malam-malam, mau jadi apa?! ucap tante asih sedikit membentak rani

SUKURIIIIIIIIIIIIIIIINNNN! ucap kami bersama-sama

anu tan anu aaaaa… kak arya yang ngajak tan aaaaaaaaaaaaaa rengek rani, kami semua tertawa melihat tingkah rani

Kami kemudian berkumpul, koplak semua duduk di lantai sedangkan tante asih duduk bersama rani di bangku. Tante memperkenalkan diri kepada rani dan kemudian mengatakan kepada kami jika operasi ibunya rani berhasil. Om heri menyarankan agar ibu rani menjalani rawat jalan.

tapi tan itu anu… ucapku

Bersambung