Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 51

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 51 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 50

Setelahnya kami berpisah, aku segera kembali ke rektorat mengambil REVIA. Dengan langkah cepat dan wajah seriusku aku melangkah dengan tergesa-gesa. Namun, semua itu terhenti ketika aku bertemu dengannya, dengan bu dian.

kami bertemu ketika aku berjalan menuju rektorat. Kami saling bertatapan, tak ada orang disekitar kami. aku kemudian menunduk tak berani aku melihatnya. Kemudian aku melangkah mencoba melewatinya.

“Bolehkah aku melihat senyummu?” ucapnya tiba-tiba, membuat aku berhenti tepat disampingnya. Aku kemudian menoleh dan tersenyum kepadanya, dia memandangku denga senyuman indahnya.

“terima kasih…” ucapnya kembali menghadap ke depan

“Sama-sama…” ucapku dengan pelan kurahkan pandanganku ke depan

“Jangan jauh…” ucapnya pelan

“Aku tidak tahu… Maaf…” jawabku sambil melanjutkan langkahku

“Apakah bocah SMP itu masih menyimpan perasaanya sampai saat ini?” ucapnya

“aku tak tahu…” ucapku menghentikan langkahku dan kemudian melanjutkannya lagi

Tak ada kata-kata lagi dari kami berdua, aku menoleh kebelakang sambil berjalan. Saat aku tahu dia akan menoleh kebelakang, aku mengarahkan kembali pandanganku kedepan.

“Hati-hati…” teriaknya, aku mengangkat tangan kananku dan mengacungkan jempol

“Maafkan aku, aku benar-benar belum siap berhadapan denganmu. Maafkan aku…” bathinku

Di atas REVIA pun aku termenu sesaat menyaksikan bu dian yang kutemui baru saja. Lama aku termenung hingga melamun, dengan pikiranku masih berputar-putar di sekitar bu dian. sesaat kemudian aku tersadar dan aku tepk-tepuk kedua pipiku. Segera aku bergerak menuju ke warung wongso

13:30 Waktu setempat

Wongso sudah berada di warungnya, tak ada tegur sapa diantara kami. Pandangan mata kami berdua ketika berhadapan sudah cukup mengatakan bahwa akan ada “death game” malam ini. tapi entah apa rencanaku, aku benar-benar tidak tahu. Aku duduk termenung di depan rumah wongso yang berada di belakang warungnya. Dengan langkah santai wongso memberiku sebungkus rokok dunhill dan segelas teh hangat.

“Rileks, we will make it brother!” ucapnya dengan senyuman dan dia kembali di tempat pencucian piring

13:40 Waktu Setempat

Karyo, parjo, tugiyo, karyo datang dengan dua motor. Tanpa ada pembicaraan mereka langsung duduk di lantai ada juga yang duduk di kursi. Kami semua diam menungu kehadiran yang lain. Tak ada tegur sapa diantara kami, awalnya mereka tersenyum namun wajah mereka kembali datar ketika melihat raut mukaku.

Wongso kembali datang membawa empat gelas minuman hangat untuk mereka berempat dan kembali lagi ke dalam warung membantu Ibunya, disitu tampak asmi sedang berada di dalam warung. Tapi ada rasa keengganan untuk menyapa kami ketika melihat wajah seriusku dan juga yang lain

13 : 50 Waktu Setempat

hermawan, dewo, aris, anton, joko, sudira datang mereka melihat kami berlima sudah berada di rumah wongso. Tanpa ada tegur sapa kam semua berdiam diri menunggu 14:00. Dengan tanggap, wongso langsung membawakan minuman untuk mereka berenam yang baru saja datang.

14:00 Waktu Setempat

Kami ber 12 sudah berkumpul lengkap, 12 orang anggota geng koplak yang sedari dulu tidak ernah mempunyai ketua geng. Hanya mempunyai pengawas, Tante Asih dan Ibu wongso yang selalu mengetahui apa yang akan kami lakukan.

“Bicara di dalam, dan tidak boleh ramai” ucap Ibu wongso yang berdiri di pintu belakang warung

Dengan segera kami masuk ke dalam rumah wongso. Tanpa harus mengatur posisi duduk, ada yang duduk di kursi, di lantai , ada juga yang tiduran di paha teman yang lain. Keheningan antara kami mulai menyelimuti, hanya kepulan asap rokok yang berbicara. Setelah beberapa dari kami mematikan rokok.

14: 15 Waktu Setempat

“Aku butuh bantuan kalian” ucapku tanpa ada jawaban dari mereka

“ssssshhhhhh huuuuuuuuuuuffttthhh… tapi ini bisa jadi pertemuan terakhir kita jika kita gagal dan ini taruhannya nyawa” ucapku

“Bisa ke poinnya langsung?” ucap Anton

“Eh… okay…” ucapku yang kemudian menceritakan mengenai Rani dan kejadian tadi pagi, serta kenyataan siapa rani.

“Begini, malam ini aku ingin menjemput Rani. Dirumahnya, jam 8 malam Ayahnya keluar rumah dan aku sudah mengondisikan Rani agar terus memberiku informasi keberadaan Ayahnya. Namun ini memiliki resiko yang tinggi, jika saja tiba-tiba Ayah rani atau tukang tiba-tiba pulang kita akan ketahuan. Atau bisa saja kita harus berhadapan dengan para penjaga ayahnya yang berada dirumah, aku belum tahu pastinya” ucapku

“Apa yang kamu butuhkan?” ucap Aris

“Jika ada dari kalian yang bisa membawa mobil yang mampu membawa Ibu rani, aku berterima kasih” ucapku

“Ada, terus” ucap Dewo

“Aku tidak tahu…” ucapku sambil memgang kepalaku dengan kedua tanganku

“ada berapa penjaga dirumah rani?” ucap Aris

“Setahuku, tadi ada empat orang yang menjada ayah rani. Dan mereka tadi menggunakan 3 mobil. Hanya itu yang aku tahu…” ucapku

“okey, 1 mobil dan 5 motor berkecepatan 250 CC mungkin itu yang kita butuhkan…” ucap Karyo

“Maksud kamu?” ucapku

“1 mobil untuk pengangkut Ibu dari rani, 5 motor untuk menghadang 3 mobil tersebut, ini hanya untuk berjaga-jaga seandainya aksi kita ketahuan… dan…” ucap karyo

“jika kita harus berhadapan dengan para penjaga atau ayah rani sendiri dirumahnya, kita harus memastikan tak ada orang lain yang tahu. Karena mungkin saja kita malam ini akan menjadi pembunuh” ucap udin melanjutkan, aku kemudian menundukan kepala

“hei ar, jika kita semua tertangkap menurutku tidak apa-apa… tapi sebisa mungkin hanya beberapa dari kita, jangan semuanya dan terutama kamu ar, masih ada banyak misi dalam hidupmu. Dan kamu harus melanjutkan perjuangan kita yang jika nanrti tertangkap” ucap anton

“ton, tapi… arghhh… aku benar-benar bingung… disisi lain aku tidak ingin mengorbankan kalian…” ucapku

“Tapi, ada seorang dari koplak yang rela mati-matian mengorbankan hidupnya untuk menolong kami semua…” ucap wongso

“tapi wong… arghhhh… ” ucapku

“Sudah, kita berkumpul pukul 18:30, persiapan, jangan lupa penyamaran agar kita tidak diketahui. Masalah motor aku ada…” ucap anton

“Semuanya kita bergerak malam nanti jam 18:30 mulai dari rumah wongso, dan kita akan atur semuanya. Tidak boleh telat sebisa mungkin on-time! Dan aku akan menyusun rencana…” ucap anton

“Aku percayakan kepadamu ton…” ucap joko, dan kemudian semua memandang anton yang notabene adalah anggoya IN

“jangan katakan ini kepada anggotamu, tak akan indah masa muda kita jika dibantu oleh anggotamu” ucap hermawan

“betul, sekali-kali kita melakukan hal besar… inilah koplak” ujar parjo

“yo’i bro…” ucap tugiyo

“iiiih…. seneng deh lihat si gantengku pada serius hi hi hi” ucap sudira

“pasti, sekali-kali aku ingin menikmati masa-masa indah bersama kalian, tak akan ada yang indah jika tak bersama kalian. Dan lagi, dengan anggota IN, aku tidak bisa menikmatinya he he he” ucap anton

“tunggu dulu, aku…” ucapku

“wes ora usah dipikir, ngko edan kowe, wes koplak tambah edan ha ha ha (sudah tidak usah dipikir, nanti gila kamu, sudah koplak tambah dila ha ha ha)” ucap dewo

“jangan pernah tanyakan kesiapan koplak, jika kamu bertanya kami akan mengurangi satu anggota koplak yaitu kamu, ar…” ucap Udin dengan pandangan serius

“terima kasih” ucapku sambil memandang mereka satu-satu

Kami kemudian bubar, mempersiapkan diri untuk nanti malam. Sedangkan aku tetap berada di rumah wongso. Setelah semua bubar hanya aku sendiri berada di ruang tamu, wongso kembali membantu ibunya di warung.

Aku percaya pada mereka namun aku masih tidak tega jika harus melibatkan mereka tapi sudah tidak ada lagi yang bisa membantuku kecuali mereka. Hingga maa ini terlelap dan tak tahu apa yang akan terjadi.

18:00 Waktu setempat

Aku terbangun, dan aku sudah mendapati mereka semua berada di rumah wongso. Mereka semua berpenampilan serba hitam, dengan jaket hitam, sarung tangan hingga sepatu cat warna hitam. Anton kemudian melemparkan pakaian kepadaku, dan segera aku berganti pakaian di kamar wongso. Kulihat sebuah BBM dari Rani,

From : Rani
Ayah akan keluar jam 8

To : Rani
Ada yang jaga rumahmu?

From : Rani
Tidak ada, biasanya mereka semua pergi bersama ayah

To : Rani
Oke, rileks and believe me, okay?!

From : Rani
Okay 🙂

18:15 Waktu Setempat

“Aku mendapat BBM dari rani, ada kemungkinan mereka semua keluar. Oia, rumah rani ada diperumahan Arwah (Asri Ramai Mewah) jadi ada penjaga” ucapku, anton memandangku dan mengangguk

“okey, kita mulai, karena ada kemungkinan rumah tanpa penjagaan…” ucap anton

“dengarkan koplak…” ucap anton kembali

“siaaaaaaaaaap!” teriak kami bersamaan

“Diluar sudah ada mobil, aku, sudira dan udin akan berada didalam mobil membawa Ibu dari rani. Dan ada 5 motor, motor 1 wongso akan bersama tugiyo, motor 2 aris bersama dewo, motor 3 parjo dengan karyo, motor 4 hermawan dan joko, dan motor 5 kamu sendiri ar, kamu akan memboncengkan rani”

“Plan A, Jika nanti ternyata rumah ada penjaga, maka kita akan mengobrak-abrik rumah rani dan ingat kill them all, no matter what!”

“Plan B, jika mereka keluar semua, kita bisa langsung mengambilnya dan membawanya ke rumah sakit, dan kita harus kembali kerumah mereka memancing mereka berlima untuk mengikuti permainan kita”

“Plan C, jika kita ketahuan sebisa mungkin kita lakukan permainan kita di jalan raya, untuk membuat mereka menghembuskan nafas terakhir” lanjut anton

“permainan seperti apa?” ucapku

“motor 1 dan motor 2 menuju bukit komodo, motor 3 dan 4 menuju bukit cendrawasih, dan kamu arya menuju bukit bacusa. Ingat jika plan A dan B semuanya gagal terus kita ketahuan entah ketahuan seperti apa, sebisa mungkin pancing mereka semua jangan buat kericuhan disekitar perumahan, karena bisa jadi warga akan keluar dan semua rencana kita gagal,Plan C adalah rencana di jalan, mengerti?!” ucap Anton

“mengerti!” teriak kami

“Le, di ombe! Eling, yen nulungi wong kudu sak rampunge ojo sampe mandek ning tengah-tengah (nak, di minum! Ingat, kalau menolong orang harus sampai selesai jangan sampai berhenti di tengah-tengah)” ucap Ibu wongso sambil meletakan minuman hangat

“Siap!” ucap kami serempak

“Dir, satpamnya aku serahkan kepadamu, ini” ucap anton sambil melemparkan sesuatu entah apa itu. Kami berangkat sesuai dengan posisi yang telah dijelaskan oleh anton.

“Ar, aku sudah menghubungi pak wan…”ucap wongso

“oh… berarti dia?” ucapku, kemudian wongso berbisik kepadaku

“okay…” ucapku

“sayang-sayangku jangan lupa bawa tasnya ya” ucap sudira

“Weeeeeeeeeeeek…” ucap kami serempak

“iiih jual mahal deh kalau sama sudira… sebel” ucap dira di akhiri gelak tawa kami

Bagaimana nanti?! Who’s know… kami berangkat tepat pukul 19:00 dan sampai di depan gerbang perumahan mewah tepat 19:30 Waktu setempat

Sebuah rencana yang secara garis besar sudah aku ceritakan tapi bagaimana nantinya aku tidak tahu. Yang aku tahu, kami berangkat untuk membunuh beberapa orang. Mungkin aku bisa disamakan dengan Ayahku tapi biarlah orang yang menilai aku tidak peduli. Saat ini, sekarang ini yang aku tahu hanya menolong rani dan ibunya.

Kami sekarang berada tidak jauh dari pos satpam perumahan arwah. Mobil Apanza hitam berada di depan kami bersembilan yang membawa motor 250 CC, berpakaian serba hitam. Dengan membawa mikropon untuk bisa saling berhubungan satu dengan yang lainnya, kami bercakap-cakap.

Hingga Rani mengirimkan BBM yang isinya Ayah telah pergi. Sejenak kami menungguk 3 mobil keluar, dan aku mengatakan kepada koplak bahwa mobil itu yang aku lihat tadi pagi.

Setelah mobil itu keluar, melewati kami dan menjauh anton keluar memastika semuanya aman. Kemudian sudira dengan pakaian seksi berwarna hitam dengan belahan dada yang wah menggiyurkan berjalan berlenggak lenggok ke arah pos satpam. Tak tahu apa yang dilakukan oleh sudira karena memang terlalu jauh jarah kami, kira-kira 100 meter dari pos satpam.

Yang terlihat adalah sudira berada di antara dua satpam, dan tiba-tiba kepala kedua satpam itu tampak menunduk ke daerah dada sudira. Dan tiba-tiba satpam sudah tidak tampak lagi, sudira kemudian keluar dan melambaikan tangan. Tanda untuk kami segera menuju kearahnya, kami semua kemudian bergerak secara serempak menuju arah sudira. tampak sudira sedikit kesal ketika hendak masuk ke dalam mobil.

iiih… tuh satpam ganas deh, masa puting dira digigit hi hi hi ucap dira ketika membuka pintu mobil

sudah cepat masuk woi! ucap anton

iya ndak sabaran sih, ntar dira kasih servis deh he he he ucap dira

hueeeeeeeeeeeeek… ucap kami serempak

Terlihat satpam tidak sadarkan diri, entah apa yang dilakukan sudira. Yang jelas, setelah menggigit puting dira mereka pingsan. Bodohlah, segera kami bergerak menuju ke rumah rani. Mobil melaju terlebih dahulu dan berputar berhenti di sebrang jalan. Agar lebih mudah untuk bergerak terlebih dahulu. Segera aku menelepon rani, rani segera keluar dan membukakan pintu gerbang.

Ayo cepat! teriakku kepada teman-temanku, masing-masing ada yang tinggal di motor dan yang membonceng turun masuk kerumah rani kecuali aku. Aku ikut masuk ke dalam.

Segera kami masuk kedalam rumah rani. Kami angkat tubuh ibu rani dari dalam kamar menuju mobil. Rani tampak sedikit cemas dengan aksi kami, tapi disela-selanya aku menenangkan rani. Ibu rani tampak menangis tapi kami berusaha menenangkannya. Tak ada kata-kata yang terucap diantara kami selama kami beraksi. Talk less do more!

hati-hati… ucapku yang membopong ibu rani bersama tugiyo, aris, joko

ran, kamu ke mobil buka pintu mobilnya cepat ucapku, Setelahnya kami segera membopong ibu dan memasukannya ke dalam mobil.

terima kasih nak… ucap ibu rani

sudah ibu tenang saja, malam ini ibu akan sembuh ucapku

yoi bu ucap anton

segera kembali ke posisi sayang ucap sudira

cepat kalian kembali ucap udin

terus aku bagaimana ar? ucap rani

kamu bonceng aku ucapku

Segera kami bergerak cepat ke arah motor kami. rani berjalan di belakangku dan kuserahkan helm yang sudah aku bawa sebelumnya. Kunyalakan motor 250 CC, dan Ketika hendak menarik gas terdengar teriakan dari belakang. Kami menoleh kebelakang, sebuah mobil bergerak yang semula lambat bertambah sedikit cepat.

Hai berhenti! teriak seorang yang kepalanya keluar dari pintu depan mobil, tukang ayah rani

rani kembali atau ibu kamu akan mati! teriaknya

Ayo ar, cepat jalan! teriak wongso yang sudah menarik gas motornya,

Ar itu Ayah ucap rani yang sudah dibelakangku, segera aku menarik gas motorku

wes to lhek dang nyikep (sudah to segera peluk aku) ucapku, rani kemudian memeluk tubuhku dan kutarik gas motor dan berputar melewati median jalan

Berhenti atau kubunuh kalian ucap tukang yang semakin mendekat, kulihat sekilas ada dua mobil dibelakang motor tukang.

Kaca mobil anton terbuka….

PLAN C ucap anton

Kami kemudian berhenti menunggu ketiga mobil itu bergerak memutar sedangkan mobil anton sudah terlebih dahulu bergerak menjauh. Ketika 3 mobil dibelakang kami mendekat kami tarik gas dan melaju menjauh. Dengan posisi kami melaju, tugiyo sedikit membalikan badannya ke belakang.

FUCK YOU! teriak tugiyo dengan mengacungkan jari tengah tangan kanannya

Kejar mereka! teriak tukang kepada dua mobil dibelakangnya

ingat arah tujuan kalian pergi ucap anton di mikrophone kami

roger danuarta bro! ucapku

Kelima motor melaju dengan cepat, diiikuti 3 mobil dibelakang kami. Malam jam 8 jalanan sedikit ramai ditengah kota. Anton mennginsturksikan untuk bergerak melingkar melewati kota seperti pada rencana kami. Kami melewati jalur lingkar kota, anton berada jauh di depan kami sedangkan kami 10 orang berada di belakangnya. 3 mobil yang berjajar dibelakang kami terus mendekat.

pisah formasi! teriak wongso dengan gerak tangannya, 2-2-1.

Motor 1 dan 2 menepi ke kiri, motor 3 dan 4 tetap ke kanan sedangkan motor 5, aku tetap di tengah. Posisi sekarang adalah posisi arah jalan ke bukit yang kita rencanakan. Sebuah mobil mendekati motor 1 dan 2 tampak tugiyo dan aris sedikit berdiri dan mengejek mobil dibelakangnya dengan menepuk-nepuk bokongnya. Mobil itu terpancing dan mengikuti motor 1 dan 2 yang berbelok ke kiri, entah apa yang terjadi.

Motor 3 dan 4 juga didekati oleh sebuah mobil tepat di belakangnya, parjo dan joko tampak membalikan badan kebelakang dserta diacungkannya jari tengah kearah mobil itu dan akhirnya mobil itu ikut terpancing dan berbelok ke kanan, menghilang dari pandanganku.

Sekarang yang tersisa hanyalah aku dan rani dengan satu motorku, menuju bukit bacusa. Tapi sial, mobil anton didepan jauh berhenti karena ada truk yang sedang mencoba berputar padahal jalan menuju bukit bacusa ada di sebelah kanan setelah truk itu.

Brak… ciiiit mobil dibelakangku sedikit menabrak bagian belakangku. Rani hanya terdiam dan memelukku semakin erat. Aku sedikit mengerem dan membanting setri ke arah kiri, dari kejauhan mobil anton bisa memaksa truk untuk berhenti dan membiarkan anton melewatinya.

Karena posisi truk yang masih melintang membuatku tak bisa berbelok ke kanan menuju bukit bacusa. Hanya bisa melewatinya saja diikuti oleh mobil dibelakangku. Aku masih melaju dengan cepat didepan mobil yang mengejarku.

Sial bathinku

Tiba-tiba sebuah mobil berada di sebelah kiriku mencoba menghempaskan aku dengan bodi sampingnya. Dengan cepat aku menggoyang motorku ke arah kanan dan dia mendahuluiku. Tampaknya mobil itu tidak mempedulikan aku, dia mengejar mobil anton. Kulihat sebuah tanda plang berputar balik, tanda bahwa didepan ada median yang bisa aku gunakan untuk berputar dan menuju ke bukit bacusa. Kutarik gas lebih dalam segera aku berada disamping mobil itu, terlihat tukang sedang serius mengyetir mobilnya mengejar mobil anton.

Ran…! teriakku

Apa?! balasnya

Acungkan jari tengahmu ke arah mobil itu! ucapku

Cepat! teriakku

Segera aku mendekati mobil itu dari arah kanannya, dan brak kutendang spion kanan mobil itu. Tampak tukang sangat terkejut dan menoleh kearahku, dan tepat pada saat dia menoleh ke arahku. Rani mengacungkan jari tengahnya kearah tukang. Tukang seketika itu menggoyang mobilnya mencoba menjatuhkan aku, tapi dengan cepat aku mennggoyang motorku ke kanan untuk menghindari sentuhan bodi.

KAMU BAJINGAAAAAN! KONTOL KECIL! SUKA ONANI! BAJINGAN GILA TEMPIIIK! teriak rani yang sebenarnya diluar dugaanku karena dia bisa mengatakan hal kotor seperti itu

BAJINGAN! terdengar teriakkan tukang, segera dia mengarahkan mobilnya mengejarku

Ya, sesuai rencanaku. Aku kemudian menancap gas lebih dalam, dan dengan cepat aku banting setir ke arah kanan. Ciiiiiiitttt… dan posisi motorku sekarang berlawanan dengan posisi mobil. Mobil itu tampak mengeram mendadak dan mencoba memutar arah.

cuiiiihh… rani meludah kearah mobil itu dan segera aku tancap gas. Yupz, mobil itu mengikutiku di belakangku. Saatnya menuju keara bukit bacusa

Bersambung