Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 50

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 50 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 49

Bibirku melumat bibirnya, hanya desahan tersumbat yang aku dengar dari bibirnya. Perlahan kedua tanganku turun dengan bibirku masih melumat bibirnya. Kusingkap keatas kaosnya dengan perlahan. Terlihatlah payudara indah yang masih terbungkus BH, kubenamkan wajahku di antara kedua buah payudaranya. Kugesek-gesekan wajahku diantaranya.

Mainkan susu mbak, sayang ehhhh…. emmmmhhhhh…. ucap mbak erlina

Kedua tanganku menarik BH-nya ke atas, tersembulah payudara indah milik mbak erlin. Segera aku kulum puting susu mbak erlin secara bergantian dengan remasan pada kedua buah. Mbak erlin mendesah sedikit keras. Tak aku pedulikan jika ada teman kosnya mendengar.

Arghhh… mmmmmhhh terus jilat sedot yang kuat… remas yang kuaaaathhhhh ahhhhh… racaunya

dengan penuh nafsu, pandangan mataku menjadi pandangan mata yang tak biasanya. Aku memandang tubuh wanita ini seperti memandang mangsa yang harus segera aku terkam. Kusingkap roknya, kulorotkan celana dalam mbak erlina.

Dan kulempar celanda dalamnya, langsung kudaratkan bibrku di vagina mbak erlin. Dengan jari tengah kananku masuk ke dalam vaginanya. Lidahku bermain-main di klitorisnya sedangkan jariku mengocok vaginanya. Tangan kiriku mencoba melepas celana dalamku sendiri dan toeeeeeeenggg.

Sebenarnya aku sedang tidak mood tapi kalau dikasih ndak papa kakak ucap dedek arya

Mainkan memek mbak sesukamu sayang owhhh… kocok teruussshhhhh kocok lebih kuat… sedot itil mbak lebih kuat lagi… puaskan dirimu owh sayangkuwhhhhhh erghhhhh…. nikmat sekali sayanghhhh… racaunya

Ouuuuuuuuuuwhhhh nikmat sayanghhhhhhh… errrghhhhhh… pas sekali jilatanmu owhhh jarimu menyentuh owhhhh pas sekalihhhhhh owhhhh emmmmmhhhhh… teruuuusssssshhhhh…. racaunya

Arghhh aryaaaa…. mbak mau keluar…. essshhhhhhh…. aaaaaahhhhhhhhh racaunya

Seketika itu cairan hangat keluar dari vagina mbak erlina. Tubuhnya melengking ke atas dan mengejang beberapa kali. pandanganku buram akan kesadaran, kulihat mbak erlin sedang menghela nafas panjang untuk beristirahat. Sejenak, dia kemudian mencoba bangkit tapi aku langsung mengangkangi tubuhnya tepat diatas payudaranya. Tubuhnya kembali ambruk.

Kulum mbak kulum kontolku… aku ingin kontolku dikulum mbak… paksaku

Dengan pandangan yang sipit menandakan dia tersenyum kepadaku. Langsung dilahapnya dedek arya dengan rakusnya. Dijilatinya dari pangkal dedek arya menuju lubang pipis dedek arya. sangat nikmat, aku benar-benar menikmati kulumannya.

Menikmati kegilaanku yang diselubungi kegundahan hatiku. Kulumannya sangat keras ketika menyedot batang dedek arya. walau tak masuk keseluruhan ke dalam mulutnya tapi aku sangat menikmatinya.

owhhh mbak enak sekali mbak, nikmat sekali bibiru owhhhh… racauku

Ketika mbak erlin mengeluarkan dedek arya dari mulutnya dan hendak menjilatinya. Kutarik batang dedek arya dan kuposisikan tubuhku diantara selangkanganya. Kuarahkan dedek arya ke vaginanya.

Arhhh hangat sekali… enaaak sekali memekmu mbak owghhhhh… racauku

Egh… pelan ughhh… emmmmmhhh…

iya erhhhhh… terus lebih dalam lagi… entot memek mbak kamu ini adiku… kamu suka memek mbak kamu kan adikku sayang… owhhh… racaunya, aku hanya memejamkan mata dan menikmati setiap nanometer dedek arya masuk kedalam vagina mbak erlina

owhh…. kontolku keenakan di memekmu mbakku sayang… owghhh… kontolku masuk ke memekmu, aku manu ngenthu memekmu keras… racauku

iya, entot memeku yang keras, entot memek mbakmu ini, aku akan berikan kepuasan pada kontol kamu, kontol adikku… owhhhh… ayo goyang yang keras, entot yang keras…arhhhhh aaaaaaaaaa…. racaunya dan diakhiri sedikit teriakan ketika aku mulai menghujam keras vaginanya

Aku pompa vagina indah itu dengan sangat keras. Tak ada dalam pikiranku untuk berpindah dari posisi ini. Yang aku inginkan hanya memompa vagina mbak erlina.

Aku kenthu kamu mbak, aku kenthu memekmu, owgghhhhh memekmu enak mbak, kontolku keenakan owhhh… yahh…. enak sekali owhhhh…. racauku

Arhhhh entot lebih keras sayangku… memeku owh untukmu aryaaa… owhh… entot lebih keras lagi… entot mbak ini, mbak mu butuh kontol kamu owh… racaunya

iya… aku entot kamu mbak… ucapku

Gelombang permainan dedek arya dan vagina mbak arya semakin keras, semakin panas. Tubuhku tidak terkontrol, aku semakin memompanya dengan sangat keras.

mbak aku mau keluar…. rracauku

sama-sama, aku juga, keluarhhhh kan di memek mbakmu… aku ingin merasakan pejuhhhhhmuuuhhhh owhhh…. racaunya

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Dan seketika itu dedek arya menghujam sangat keras ke dalam vagina mbak erlina. spermaku tumpah kedalam vagina itu. Tubuh mbak erlina melengking, aku ambruk dan memeluknya. Tubuh mbak erlina mengejang sejadi-jadinya. Kupeluk dengan sangat erat.

terima kasih mbak… ucapku

sama-sama… balasnya. Hanya itu yang terakhir aku dengar, Kesadaranku mulai hilang dan ku tertidur di dalam dekapan mbak erlina.

Sayup-sayup aku merasakan elusan lembut di kepalaku. Aku membuka mataku, mbak erlina tersenyum kepadaku dengan ramah. Aku pun tersenyum kepadanya. Aku tertidur dengan kepala di pangkuannya, dengan tubuh telanjangku dan juga tubuh telanjang mbak elrina.

tidurlah, aku akan menjagamu… ucapnya, aku kemudian membenamkan wajahku di perutnya

na… na… naaaa… na… naaa…. alunan lagu Sutike dane di nyanyikan oleh mbak erlina, walau hanya dengan nada na na na tapi membuatku teringat akan ibu.

mbak… ucapku

Hmmm… balasnya, hening sesaat seperti mengisyaratkan bahwa aku ingin ditanya olehnya

kamu kenapa? ucap mbak erlina

Kuceritakan pertemuanku dengan bu dian dan semua detail yang aku sampaikan kepadanya, tapi tidak persetubuhanku dengan Ibu.

Seharusnya kamu tidak perlu mengatakannya… ucapnya

aku tidak bisa membohonginya… balasku

karena kamu mencintainya bukan? ucapnya

iya… balasku pelan

Aku kagum kepadamu ar, sejak pertama kali aku melihatmu, pertama kali kita bisa bercengkrama, kamu adalah sosok laki-laki yang sangat ideal bagi kamu perempuan. ganteng, bersih dan ceria serta jujur…

Dan dian sangat beruntung karena dia dicintai olehmu… lanjutnya

tapi aku terlalu ko… ucapku menghentikan ucapanku sendiri

Aku juga, sama sepertimu kan ar? ucapnya

tapi.. aku tak mampu melanjutkan

jangan pernah berpikir kamu akan jauh darinya, dia pasti akan memilih bersamamu apapun resikonya…

dan kamu jangan pernah berpikir mencari penggantinya, karena hanya akan ada rasa sesal dihatimu…. ar, jujur saja aku juga menginginkanmu, aku sempat jatuh cinta kepadamu… ucapnya, yang langsung kulingkarkan tangan kiriku pinggangnya

ketika aku merasakan cinta kepadamu, aku marah, dan pada saat aku marah kamu datang dan aku tidak menggubrismu, bahkan waktu itu aku jutek kan hi hi hi… ucapnya aku hanya menganggukan kepala

tapi kamu bukan buatku, ketika cinta itu datang aku menyapanya dan menyuruhnya untuk pulang. Ketika rasa sayang itu datang aku menyapanya dan mempersilahkannya untuk menetap. Karena cukup bagiku sayang kepadamu, karena aku memiliki Alan dan dia mau menerimaku apa adanya.

Walau aku tahu yang kita lakukan salah, tapi sejak pertama kali kita melakukannya dan betapa heroiknya kamu menolongku. bahkan hingga saat ini aku tidak menolaknya ketika kamu menginginkannya

dan dihari ini pun, aku memberikannya kepadamu bukan untuk janjimu kepadaku. Karena aku melihatmu jatuh dan tak ingin kamu berlama-lama didalamnya. Banyak yang membutuhkanmu selain aku, jika kamu jatuh dan tak ingin bangkit mungkin akan ada beberapa orang lagi yang menyusul ayahku ucapnya. Aku kemudian bangkit dan duduk disampingya, membelakanginya. Dia bersandar pada punggungku.

tapi mbak, aku tak bisa lagi melangkah… ucapku, kemudian kedua tanganya melingkar diperutku

Janji adalah hutang dan aku harap kamu melunasinya. Dan aku tahu, kau pasti juga punya janji dengan yang lain walau aku tidak tahu kepada siapa kamu berjanji ucapanya mengingatkan aku pada Pak Koco, Tante War, mbak ara dan Ibu serta kedua orang yang meninggal dalam pelukanku, Kakek Wicak dan Nenek Mahesa.

Maafkan aku hiks hiks hiks… ucapku

Menangislah, seorang kesatria pun butuh untuk mengeluarkan air mata tanpa harus meninggalkan tanggung jawabnya. Menangislah karena seorang kesatria juga butuh untuk mengeluh… dan butuh cinta… ucapnya yang kemudian tubuhnya bergeser ke sampingku dan dibenamkannya wajahku di dadanya.

na… na… naaaa… na… naaa…. alunan lagu Sutike dane di nyanyikan lagi oleh mbak erlina

Setiap orang mempunyai masa lalu yang buruk, bukan berarti dia selamanya akan menjadi buruk. Dia bisa mengubahnya dengan tekad yang kuat pasti bisa berubah.

na… na… naaaa… na… naaa….

Sekalipun tak ada Alan bersamaku, aku tidak akan mau memilikimu… karena hati tidak dipaksakan… jangan sekali-kali kamu berpikir untuk memilikiku ar, aku tidak ingin…, aku terhenyak sesaat ketika aku mendengar kata-kata itu, ya aku memang pernah ingin bersamanya ketika aku merasakan sakit darinya bahkan saat inipun perasaanku menginginkan dia sebagai pasanganku

na… na… naaaa… na… naaa….

kembalilah ke jalan kesatriamu adikku sayang, disana ada seorang putri sedang menantimu… aku akan selalu ada untukmu, disampingmu sebagai seorang kakak yang selalu mendukung adiknya… ya, seorang kakak perempuan seperti yang kamu katakan kepadaku dan no love between you and me, hanya rasa sayang seorang kakak perempuan kepada adiknya yang seorang kesatria…

Yakinlah pada jalanmu… lanjutnya

Mbak, bagaimana jika dia tidak memilihku, jujur saja aku tidak pantas untuknya… ucapku

pantas dan tidak pantas bukan dari pandangan satu pihak…pantas dan tidak pantas adalah kamu yang menjalaninya, jika kamu mau berubah, jika kamu mau menjalaninya kamu pasti bisa… ucapnya

na… na… naaaa… na… naaa….

tapi aku belum bisa… ucapku lirih

Semua butuh waktu, tidurlah adikku sayang, ksatriaku, ksatria semua orang-orang yang tertindas… tidurlah, agar esok kamu bisa bangkit dan mulai melangkah lagi, banyak yang membutuhkanmu… jangan jatuh hanya karena satu masalah, jangan….

jika permaisuri itu memilih yang lain, akan ada permaisuri yang lain akan datang kepadamu… tak mungkin dalam jalanmu tak ada permaisuri, pasti ada entah dia atau yang lainnya… tidurlah sayangku, adikku, ksatriaku… ucapnya

na… na… naaaa… na… naaa….

Aku berharap dia tidak memilihku tapi aku berharap dia memilihku hiks… lirihku, dengan air mata mengalir di pipiku

tak ada yang tahu…. balasnya, sayup-sayup kudengar, mata ini kemudian terpejam dan terlelap. Entah esok aku akan menjadi apa…

na… na… naaaa… na… naaa….

na… na… naaaa… na… naaa….

Hingga pagi menjelang aku dibangunkan oleh mbak erlina. Segera aku mandi dan mebersihkan diri, senyum dan canda mewarnai pagi ini. pakaianku sudah kering dan sudah disetrika oleh mbak erlina. Seperti tidak ada yang pernah terjadi, mbak erlina terus menyemangatiku.

Kami bercanda dan bergurau layaknya kakak dan adik, main game dikomputer bersama, nonton TV bareng hingga jalan-jalan sore bersama. Akhirnya malam tiba, aku pulang kerumah.

Hai…!Adikku! teriaknya di pintu gerbang kos ketika aku sudah ditepi jalan

Keep Fight for me and the other! ucapnya dengan senyuman

Ill do it sist, my beautifull big sister teriakku,

Kalau mau begini ke mbakmu ini saja ya teriaknya sambil menunjukan jempol kejepit disela jarinya.

Dasar mbakku ha ha ha teriakku. Aku kemudian memacu REVIA dengan senyuman. Ya, aku harus terus melangkah, ada permaisuri lain tak perlu menangisi satu pintu walau itu adalah pintu emas. Aku masih punya pintu yang lain walau pintu itu bukan pintu emas.

Ibu duduk bersandar pada sandaran samping kursi, Kemudian Ibu bangkit dan duduk tegap memandangku. Aku terseyum dan ibu membalasnya. Dia berdiri, menggandeng tanganku menuju ke dapur.

makan dulu sayang… ucap Ibu dengan wajah sumringah

iya… ucapku walau dalam perut yang kenyang, kulahap habis secepatnya agar aku bisa langsung istirahat.

Sudah bu, arya mau istirahat dulu… ucapku

Tidak mau mengobrol sama Ibu? ucapnya

Besok saja bu ucapku tersenyum kepadanya, ibu mengangguk dan tersenyum kepadaku

Kurebahkan tubuhku dikamarku. Tak ada pikiran dalam diriku untuk menuntaskan masalahku dengan Ayah. Sejenak hanya ingin beristirahat, terlalu lelah tubuh ini. aku kemudian bangkit dan mengganti pakaianku dengan kaos dan celana kolor. Segera aku rebah dan kutarik selimut. Kleeek… Kubuka sedikit mataku dan Ibu berjalan ke arahku.

Oh… bu… ucapku bangkit

Tidurlah, tak usah bangun kamu pasti lelah… ucap Ibu dengan kedua tangan mendorongku agar rebah kembali. Ibu kemudian masuk dalam selimutku dan membelakangiku, ditariknya tangaku untuk memeluknya

Jika kamu ingin sayang… ucap Ibu sambil mengarahkan tanganku ke payudaranya

tidak bu, Ibu tenang saja… ucapku

Erlina ya? ucap Ibu

iya tapi bukan aku yang meminta, dia menemukanku di taman dan membawaku ke kosnya… ucap Ibu

Maafkan ibu, jika saja waktu itu tidak terjadi mungkin kamu akan bersamanya sekarang dan tak ada lagi perasaan bersalah dalam hatimu ucap Ibu

Arya sudah katakan sebelumnya, Ibu tenang saja… Arya akan menjalani sisa hidup ini dengan penuh keceriaan dan tentunya menyelesaikan apa yang arya sudah mulai… ucapku

Tapi… ucap Ibu

Ibu tenang saja, seandainya bukan dia yang menemani sisa hidupku aku akan menemukan yang lainnya dan kita bisa menghentikan ini semua… ucapku sambil memeluk erat tubuhnya

Percaya pada anakmu ini bu… ucapku

I Believe in you… ucap ibu lirih

Thanks… balasku

Tangan ibu semakin mendekap tanganku dan aku semakin memeluknya erat. kami terdur bersama dan melewati malam ini bersama. Entah esok apa yang akan terjadi, entah….

Pagi hari menjelang, aku terbangun tanpa Ibu disampingku. Segera aku mandi dan bersih-bersih tampak ibu sedang mendendangkan lagu di dapur. Ku sapa dengan senyum dan dibalasnya dengan senyuman. Makan pagi bersama Ibu tanpa Ayah sangat menyenangkan.

Setelahnya aku pergi ke kampus untuk mencari informasi-informasi yan mungkin terlewatkan. Dari kejauhan ku lihat Bu Dian sedang berjalan dengan bu erna, segera aku menghindar agar tidak terjadi kontak dengannya. Kulihat wajahnya sedikit sayu dan kelelahan. Tak ada pancaran judes ataupun semangat, maafkan aku dian, maaf…

Setelah aku tahu tidak ada informasi, aku ambil motorku dan berjalan-jalan di sudut taman rektorat. Tempat yang adem dan enak buat nongkrong. Di tambah lagi, taman ini berada jauh dari jurusanku sehingga tidak memungkinkan bertemunya aku dengan bu dian.

Taman ini berada di depan rektorat dan hari ini sangat sepi biasanya ramai tapi mungkin karena sudah memasuki minggu tenang. Hanya aku dan REVIA yang berada di tempat parkir belakang rektorat.

Baru saja nongkrong, sudah pengen kebelakang. Segera aku berlari ke kamar mandi, sambil mendunhill aku BAB ha ha ha. Kamar mandi terletak dibelakang gedung rektorat, persisnya dekat tempat parkir. Lama aku berada didalam 2 batang dunhill melayang.

Huft sial kenapa juga susah keluarnya keluhku.

Setelah operasi sesar di kamar mandi aku hendak berjalan menuju taman kembali. Tapi ketika baru saja aku akan berbelok di sudut gedung, kulihat beberapa orang sudah berada di tempat nongkrongku. Segera aku memundurkan tubuhku dan mengintip.

Tampak Anta yang terjatuh dengan sedikit luka, Rani menangis memegangi anta dan empat orang berbaju hitam dengan tubuh kekar yang tak dapat aku lihat jelas wajahnya karena membelakangiku. Satu lagi dibelakang empat orang berbaju hitam itu tampak lelaki tua yang sedang bersedekap tapi juga tidak terlihat wajahnya.

Tiba-tiba laki-laki itu menendang anta dan berteriak-teriak menyuruh anta untuk segera pergi. Anta kemudian diseret dan akhirnya pergi walau sebenarnya tampak sangat jelas dia tidak ingin meninggalkan rani.

Tapi rani berteriak agar anta segera pergi, setelahnya lelaki tua itu menampar wajah rani dan memarahinya. Entah apa yang di katakan lelaki tua itu tidak begitu jelas, dan ketika mereka berbalik. Mataku terbuka lebar dan melotot kearah lelaki tersebut. Segera aku tarik tubuhku bersembunyi dibalik tembok.

itu… itu tukang, bagaimana dia bisa bersama rani dan anta bathinku, segera aku lepaskan jaketku dan kututupi wajahku, kulihat 3 mobil melaju melewati bagian belakang gedung. Setelah 3 mobil itu menghilang, aku bangkit dan kulihat rani masih menagis dan duduk di bangku. Aku mendekatinya…

Ran… ucapku

Eh… dia terkejut akan kehadiranku dan menoleh ke arahku

Kamu ar… ucapnya, aku kemudian dudukdi sampingnya

iya…

Aku melihat semuanya dan maaf jika aku hanya diam… ucapku

Kamu lihat ya, hiks ucapnya sedikit parau dan tersengal

tolong bilang sama dia, agar tidak mendekatiku lagi… ucapnya

Apa karena bajingan tua tadi? ucapku sedikit emosi

Eh… kamu tidak tahu apa-apa ar, lebih baik kamu menjauhi sekarang atau kamu akan dihajarnya dan juga anta, segera menjauhiku atau bukan hanya dihajar mungkin kamu bisa dibunuhnya ucapnya

Aku sulit mati cu he he he ucapku dengan canda

Aku tidak main-main ar, segera pergi atau kalau dia menemukanmu bersamaku dia akan membunuhmu ucapnya

Ran… ucapku

Cepat pergi! bentaknya, aku hanya menoleh ke arahnya dan tersenyum

Aku tahu siapa dia? Aku tahu apa yang telah dia lakukan… ucapku sambil mengambil sebatang dunhill

Eh… siapa kamu sebenarnya ar! bentaknya yang semula dia sangat terkejut

Apa kamu juga bagian dari mereka?! Kamu juga akan menjadi pemain di dalamnya?! Kalau begitu bunuh aku sekarang! lanjutnya

sssssttt… tenang ran… ucapku menenagkan dan tersenyum kepadanya

Kamu bisa saja bilang tenang tapi kamu pasti bagian dari mereka untuk memata-mataiku kan selama di KKN sampai sekarang?! bentaknya dengan penuh emosi, dia berdiri dan memaki-maki diriku. aku langsung bangkit dan meraih tubuhnya, kupeluk erat tubuhnya

tenanglah, aku bukan musuhmu… ucapku

hiks hiks hiks hiks aryaaaaaaaaaaaaa…… hiks hiks hiks… tolong aku tolong aku…. isak tangisnya sambil mendekapku erat

Sudah kamu tenang dulu ran, tenang, jika kamu tidak tenang bagaimana aku bisa menolongmu… ucapku

ikut aku, jika disini bisa saja mereka kembali… ucapku mengajak rani menuju tempat dimana tak ada orang yang bisa menemukan kami berdua.

kita mau kemana ar? ucapnya

Sudah ikut saja, aku ndak akan bunuh kamu kok, tenang ya cuuu…. ucapku sambil menarik tanganya, dan berjalan bersamanya menuju lantai 3 gedung kuliahku. Jelas sepi, mahasiswa tak ada yang berangkat. Aku memasuki salah satu kelas, dia duduk di bangku. Kutarik salah satu bangku dan duduk dihadapannya

“Oke sekarang ceritakan kepadaku…” ucapku dihadapan dia yang duduk di bangku

“hiks hiks hiks dia akan menjadikan aku sebagai wanita pemuas birahinya, dia dan juga teman-temannya” ucapnya membuat aku seperti disambar petir

“Eh… kamu bisa lari ran, larilah aku akan bantu kamu untuk lari…” ucapku dengan nada menekan

“Lari Ar? Segampang itu lari?” ucapnya

“ya kamu bisa lari ran, dan dia tidak akan menemukanmu. Kamu bisa meminta surat pindah kuliah dan aku akan membantu biaya kuliahmu” ucapku teringat akan uang ratusan juta di kamarku

“tidak bisa ar, aku tidak bisa meninggalkan Ibuku…” ucapnya pelan

“kamu bisa ajak…” ucapku

“Ibuku sedang sakit keras dan dia mau menolong Ibuku asal aku mau menjadi budak seksnya bersama teman-temannya. Aku menyetujuinya dan hanya itu jalan satu-satunya dan malam ini adalah malam penentuan untuk Ibu, aku harus melakukannya dan sebagai uang muka aku harus mau menyerahkan keperawananku kepadanya malam ini hiks hiks hiks” ucapnya

“Sudah kamu jangan pikirkan itu, aku punya uang cukup untuk operasi Ibumu, sekarang kamu harus lari terlebih dahulu” ucapku

“Tidak bisa, dia selalu berada dirumah setelah kepulangannya dari luar negeri. Selain rehat, dia juga mengawasiku. Jika aku pulang telat dia pasti akan mengahajarku habis-habisan didepan ibu” ucapnya

“Dirumah?” ucapku sedikit terkejut

“Ya, Dia Ayahku…” ucapnya, aku tertunduk dan ambruk ke belakang bersandar pada sandaran kursi

“Ibu adalah seorang wanita kaya raya, setelah Ayah kandungku meninggal. Semua warisan diserahkan ke Ibu, dan setelah dua tahun hidup sendiri Ibu bertemu dengannya. Mereka kemudian menikah, 6 bulan pertama tampak indah namun setelahnya dia menguasai semua harta ibu. dan membuat Ibu jatuh sakit, bukannya menolong malah memperparah kondisi Ibu hiks hiks hiks…”

“aku benar-benar sedih melihat kondisi ibu, aku memohon kepada ayahku untuk menolong Ibu. tapi kemudian dia mengajukan syarat itu, aku awalnya menolak tapi demi keselamatan Ibu aku menyetujuinya hiks hiks hiks…”ucapnya dengan isak tangis

“ARRRGHHHHHHHHHHHHH!” teriakku marah sambil berdiri dan menutupi wajahku dengan kedua tanganku

“dan malam ini, dia mengatakan kepadaku untuk menyerahkan keperawananku kepadanya. Setelahnya dia akan membiayai semua operasi ibu. Kamu tahu kan ketika aku telepon diluar posko, itu ayahku yang menelepon agar aku tidak main-main di KKN. Setelah malam nanti Ibu akan diberangkatkan operasi esok paginya. Dan jika aku tidak memenuhinya, ibu akan hiks hiks hiks.. jika tidak esok pagi kondisi ibu semakin parah dan…”

“Aku tidak ingin Ibu mati ar, dia harta satu-satunya bagiku hiks hiks hiks… tolong aku hiks hiks hiks aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, jika saja aku membawa ibu keluar rumah pasti aku dan ibu akan dibunuhnya hiks hiks…” ucapna diselingi isak tangis, kata Ibu membuat aku semakin membenci Ayahku dan teman-temanya. Ya, Ibu harataku satu-satunya.

“Ran…” ucapku pelan

“hiks hiks hiks… ya ar…” ucapnya

“Apakah dia selalu berada dirumah? Dan kapan dia akan mengambil mahkotamu?” ucapku datar dan memandang rani yang sedang tertunduk sambil menutupi wajahnya. Air matanya menetes di celana jeansnya

“Dia mengatakan kepadaku, tengah malam nanti setelah dia pulang dinas. Hari ini dia akan berada dirumah terus hingga nanti jam 8 malam biasanya dia akan keluar sebentar dan kemudian pulang jam 11an ar… kenapa kamu tanya-tan…” ucapnya terpotong

“Apakah dokternya selalu bisa melakukan operasi?” ucapku

“Aku tidak tahu, tapi pihak rumah sakit bisa mengusahakan karena dokternya dari derah ini juga. Ar, apa yang ingin kamu lakukan?” ucapnya

“di rumah sakit mana?” ucapku, tanpa menjawab pertanyaanya

“Rumah sakit pinggir kota kita ini ar” ucapnya, dan itu adalah rumah sakit tante asih

“Sebentar ran…” ucapku, menyulut dunhill dan mengambil Smartphoneku

Kutulis sebuah pesan di group BBM “KOPLAK” yang beranggotakan Karyo, parjo, tugiyo, wongso, hermawan, dewo, aris, anton, joko, karyo, sudira.

Kumpul jam 14:00, warung wongso!
Semua!
Need koplak help!

Selang satu menit aku melihat layar LCD Smartphoneku

Aris
Tak ngising sek (mau BAB dulu)

Sudira
Bentar, lagi disodok nih!

Anton
Huatching! Oke!

Karyo
Iyo cat, silitku gathel (iyo cat, anusku gatal)

Dewo
Wani piro? (berani berapa?)
Guyon ndes,oke (bercanda ndes)

Parjo
Iyo, jo nesu to (iya, jangan marah to)
Ha ha ha

Tugiyo
Makan-makan, oke

hermawan
kosek lagi bayar utang (bentar lagi bayar hutang)

udin
oke, mak’ku wis balik (oke, ibuku sudah pulang)

Wongso
Roger!
Kakek’ane, nek kumpul ngko ojo ngentek-ngenteke ndul, mbayar lho ha ha ha ha
(Sialan, kalau kumpul nanti jangan menghabis-habiskan ndul, ha ha ha ha)

Dan semua menjawab secara bergantian
MATAMU!

Aku :
Terima kasih semua, aku tunggu (y)

kutatap layar LCD itu dan membuatku tersenyum, entah apakah aku bisa menolong rani atau tidak. Tapi aku bisa mengandalkan mereka, pasti bisa.

“Ran, kamu pulang, nanti aku jemput ketika ayahmu pergi jam 8 malam. Setelah itu, aku antarkan ibumu ke rumah sakit dan mengoperasinya segera” ucapku

“Kamu gila ar, kamu bisa dibunuh…. n…. nya….” ucapnya sedikit melambar ketika melihat tatapan mataku tajam

“kamu cukup terima jadi, hubungi aku ketika ayahmu pergi dan berikan setiap informasi apapun ke aku” ucapku

“jika kamu ingin selamat dan hidup bersama anta… jika kamu ingin selamat dan merawat harta terindahmu, ibumu… percayakan pada kakek…” ucapku kembali tersenyum dengan mata menyipit

“aku ingin yang kamu ucapkan…” ucapnya sembari memelukku

“Pulanglah, dampingi ibumu, malam ini akan menjadi malam indah…” ucapku

“terima kasih…”

“Aku percaya kepadamu ar, walau aku tidak tahu kenapa kamu mau menolongku”ucapnya

“Aku akan mengatakannya, ketika kita semua sudah selesai” ucapku dan dia mengangguk

Bersambung