Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 49

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 49 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 48

Sebuah cerita pencarian dan penantian seorang wanita….

Bocah itu dengan gagah berani menyelamatkan aku, menyelamatkan tubuhku dan mahkotaku. Menyelematkan aku dari ketiga teman yang baru aku kenal dari dunia maya. Aku datang ke daerah ini karena ingin melepas kepenatan dengan membolos sekolah dan seorang dari mereka yang dihajar menawarkan kepadaku untuk menemaniku tapi hal yang tidak disangka terjadi.

Namun bocah itu menyelamatkanku. Dia benar-benar seorang laki-laki bagiku. Walau umurnya masih bocah, dan dia beberapa tahun dibawahku. Seorang bocah, entah dia kelas berapa namun yang jelas dia masih SMP sedangkan aku kelas 3 SMA. Dia menghajar tiga orang teman yang baru aku kenal.

Kulitku gelap tapi sebenarnya kulitku putih dan bocah itu juga yang mengetahui pertama kali. kulit luar yang tak tertutup oleh pakaian memang gelap menjurus ke hitam namun yang tertutup pakaian putih.

Maklumlah, aku suka sekali bermain panas-panasan diluar dan membuatku menjadi gelap menjurus ke hitam. Aku lebih suka memotong rambutku seperti pria dan sedikit tomboy walaupun terpaksa. Bagaimana bocah itu bisa tahu warna kulitku sebenarnya? Itu karena ketika aku mencincingkan lengan seragamku, tampak belang dan bocah itu langsung nyletuk dengan lugunya.

Terakhir aku melihatnya sedang berlari mengejar bis dimana aku berada. Dia tersenyum dan terus melambai, aku mendengar teriakannya bertanya akan namaku. Aku menjawabnya tapi terlihat gerakan bahunya keatas tidak mendengarku.

Sudahlah yang penting aku tahu namanya, jika nanti aku bertemu dengan dia lagi aku pasti akan mengatakannya dan aku yakin dia ingat kepadaku. Setelah perpisahan dengan bocah itu aku terus memperbaiki diriku. Karena dia satu-satunya lelaki yang memujiku dan satu-satunya lelaki yang berani berbicara jujur. Jujur? Jelas, dari kata-kata yang dia sampaikan kepadaku tampak polos dan lugu.

Kata-kata bocah itu selalu teringat dikepalaku membuat aku ingin selalu memperbaiki diriku. Aku terus memperbaiki diriku selepas aku lulus SMA, penampilanku semakin menarik banyak laki-laki ketika kuliahku menginjak semester 7.

Tapi maaf? Aku tidak tertarik dengan mata-mata itu yang hanya ingin menelanjangiku. Aku kuliah di Universitas Sabarin, dengan tujuan aku bisa bertemu atau menemukan bocah itu. Karena universitas ini berada di daerah dimana aku bertemu dengan bocah itu.

Selepas aku kuliah, aku langsung mendaftarkan diri untuk mendapatkan beasiswa S2. Dan pencarian satria itu, aku hentikan. Aku kuliah S2 di jerman, disana aku bertemu dengan kakak kelasku. Dulu dia tidak pernah meliriku namun sekarang dia meliriku. Nama panggilannya Felix. Usahanya mendekatiku sangat keras hingga aku jatuh dalam pelukannya dan membuatku seakan lupa akan bocah itu. Entah sekarang dia seperti apa?

Aku menjalani hubungan dengan felix dengan sangat baik, hubungan itu berjalan kurang lebih 1 tahun setelah aku mendarat di jerman. Tapi tak disangka setelah berbulan-bulan aku menjalani dengannya aku memergokinya sedang melakukan hubungan dengan sahabatku sendiri. Aku meminta putus, dan dia mengiyakan dengan beberapa keluhan kepadaku.

Aku yang tidak mau disentuh, aku yang jaim dan lain sebagainya. Aku menangis… Apakah untuk mendapatkan laki-laki aku harus menyerahkan semuanya? Tidak, aku tidak akan memberikan kepada lelaki yang belum tentu menjadi suamiku.

Setelah aku putus dengan felix, aku menjalani hidup dengan penuh semangat. Dan itulah yang membuat aku kembali teringat kepada bocah satria itu. Kuliah S2 tepat 2 tahun aku selesaikan. Selalu tepat waktu, untuk S1 aku menghabiskan kuliahku selama 3,5 tahun sebagai mahasiswa berprestasi jadi wajar jika aku mendapatkan beasiswa.

Sekembalinya aku ke negara asalku, dan kembali ke universitas sabarin. Aku langsung diangkat menjadi dosen. Dan belum mengajar saja aku sudah mendapat label killer, ya karena ada yang pernah menjadi adik kelasku dan mereka tahu betapa judesnya aku.

Berita itu terus menyebar hingga ke adik-adik kelas yang baru saja masuk. Ketika itu pertama kalinya aku mengajar, aku melihat sesosok laki-laki yang mengingatkan aku pada bocah itu. Setelah salam dari mahasiswa, aku kemudian memperkenalkan diriku.

Aku memang penasaran dengan laki-laki itu, hingga aku meraih daftar hadir mahasiswa dan aku cek satu-satu kehadirannya. Kubaca namana dan aku langsung melihat mahasiswa tanpa melihat nama dibawahnya. Satu persatu aku baca hingga di nomor presensi 32.

Eh… Arya… bathinku

Arya Mahesa Wocaksono! ucapku dengan nada keras

Hadir bu ucap seorang laki-laki yang duduk didepan. Sambil tersenyum kepadaku, tapi aku hanya kembali membaca nama mahasiswa berikutnya. Tak kubalas senyuman itu, senyuman yang dulu pernah menyelamatkan aku.

Sekalipun aku tak membalasnya, namun hati ini seakan berteriak sangat bahagia. Sangat-sangat bahagia, sebenarnya aku ingin membalasnya. Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan kepadanya tentang kejadian 6 tahun yang lalu. Tapi apakah dia akan mengingatku? Ditengah-tengah kuliah ketika semua mengerjakan tugas, aku terus memandangnya berharap dia memandangku kembali.

Dan benar dia memandangku, aku tersenyum kepadanya dan dia membalasnya, iiiiih seneng sekali rasanya. Arya… aryaa… dia pasti mengingatku. Pasti ingat hi hi hi senaaaaaaaaang sekali rasanya. Tapi ternyata dia tidak ingat, dia lupa.

Bahkan ketika kuliah selesai pun dia tidak menemuiku atau apalah sekalipun aku sempat melemparkan senyum kepadanya ketika perkuliahan selesai. Apa memang dia telah melupakan aku?

Setelah pertemuan pertama dengannya, aku semakin bersemangat mengajar. Aku akan berusaha untuk mencoba membuatnya ingat kepadaku sekalipun dia sudah melupakanku. Dialah satriaku, semaksimal mungkin aku akan berusaha membuatnya ingat.

Pernah waktu itu aku bertemu dengannya di toko pakaian, dia tampak sangat lucu ketika mengetahui kalau aku, dosennya, yang sedang mengajak bicara dari belakang. Walau di awal tampak agak kaku, begitupula aku, aku mencoba lebih lembut lagi. Aku akhirnya bisa membawanya menemaniku berbelanja.

Aku mencoba mengorek tentang dirinya agar aku yakin bahwa dia adalah bocah itu. Dan benar dia adalah bocah yang menyelamatkan aku waktu itu. Tapi jawaban yang aku harapkan tidak seperti seharusnya. Dia tidak mengetahui siapa gadis itu, wajar itu semua salahku karena aku saat itu tidak sempat memperkenalkan diriku. Tapi dengan cerita dia membuat aku semakin ingin sekali bersamanya, bersama satria penolongku.

Arya ganteeeeng…. begitu teriakku di dalam mobil setelah berpisah dengannya, betapa bahagianya hatiku

Sesampainya aku dirumah, aku mencari tahu keberadaanya. Pertama dari Fish Boat (FB), kucoba mencari namanya tapi tak ketemu. Aku sedikit menyerah tapi tiba-tiba ada ide muncul dikepalaku. Aku melakukan pencarian arya dari teman-teman kuliahnya. Semua nama mahasiswa di kelasnya aku search , dan dari semua temannya hanya satu yang menggunakan nama asli.

Ku lihat teman-teman dari mahasiswa itu dan kucek satu-satu. Ada lebih dari 2000 teman aku cek hingga ke seorang teman dengan nama Zi K0PL4k A12J4 MW, dengan Profil picture sebuah tulisan KOPLAK. Kubuka album.

DASAR NYEBELIIIIIIIIIIIN! teriakku sambil menunjuk-nunjuk wajah seorang lelaki di layar monitor

Kutatap senyuma itu, tak henti-hentinya aku memandang wajah itu. Kadang aku menunduk dan malu sendiri ketika harus menatap mata itu. Hampir semalaman kerjaku hanya membuka foto-foto si bocah itu, dari foto pertama hingga terakhir dan kuulangi hingga aku tertidur. Arya…..

Ini adalah kedua kalinya aku masuk ke kelas arya kembali, seperti halnya dosen yang lain. Setiap tugas harus dikumpulkan, namun tiba-tiba saja bocah itu mendatangiku dan mengatakan kepadaku kalau tugasnya tertinggal di rumah. Aku sebenarnya tidak tega tapi mau tidak mau aku menyuruhnya keluar.

Setelah dia keluar konsentrasiku menjadi pecah, hatiku gundah, tak ada semangat untuk mengajar dikelas ketika seorang lelaki yang aku idamkan tidak berada didepanku. Selepasnya perkuliahan selesai bocah itu mengejarku, aku sangat senang sekali.

Walau balasan yang dia dapat adalah kejudesanku dan rasa angkuhku, bagaimana tidak aku tidak ingin dibilang dosen pilih kasih atau dosen yang tidak adil. Hingga dia menawarkan untuk mengumpulkan tugas ke rumah. Senang? Pastilah! Hi hi hi hi hi hi, tapi aku sedikit jual mahal agar tidak dikira dosen gampangan.

Maaf saya sibuk jika harus menunggu tugas kamu sampai nanti sore ucapku sambil berlalu, dia tidak menyerah dan terus mengejarku.

Bu, akan saya kumpulkan ke rumah Ibu, saya mohon bu… ucapnya sambil membungkukan tubuhnya dihadapannku, Aku hanya berlalu, dia terus mengejarnya dan mengejarnya, hingga…

Oke saya tunggu nanti malam jam 7 malam, ingat jam 7 malam, lebih 1 detik saya tidak akan menerima tugasmu dan nilai kamu E ucapku dengan nada judes,

Maaf sebelumnya bu, Boleh saya meminta nomor HP Ibu, jika nanti saya kesasar Bu? ucapnya,

Kamu lihat alamat saya di data jurusan, memangnya kamu tidak punya mata? kata-kata pedas sepedas cabai setan menhujam mukanya

Iya bu, maaf, jika Ibu tidak keberatan memberikan nomor HP Ibu langsung ucapnya dengan wajah takut dan menunduk kebawah

Dasar mahasiswa tidak tahu etika kata-kata pedas keluar kembali dari mulutku, walau akhirnya aku memberikan nomor HP-ku

Malam menjelag aku terus menantinya. Waktu berjalan sangat lama. Aku benar-benar merasakan cemas, apakah dia akan datang atau tidak? Akhirnya dia datang walau sempat kesasar juga. Aku sengaja memakai pakaian seksi dihadapanya, apakah dia masih sama dengan ketika dia menjadi bocah? Dan ya, dia menunduk dihadapanku karena pakaianku.

Aku sebenarnya tersinggung namun bahagia, bahagia karena dia masih sama seperti dulu dan bahagia aku mendapatkan kaosnya. Kebahagiaan demi kebahagiaan aku dapatkan hingga akhirnya aku benar-benar dekat dengannya.

Sosok seorang satria aku dapati darinya ketika itu,dia menyelamatkanku kembali dari tangan Lucas. Entah siapa lucas, padahal dia selalu mengejek kejelekanku di awal kuliah. Dia selalu mendekatiku tapi tak ku gubris.

Dasar cowok tak tahu diri, sukurin! Akhirnya arya menjatuhkannya. Cup… aku memberanikan diriku mengecup pipinya setelah kejadian dengan lucas, dia tampak kikuk, grogi, lucu banget deh pokoknya hi hi hi.

Semua berjalan dengan normal, hingga felix datang kembali ke kehidupanku. Menawarkan kepadaku keseriusannya. Aku bingung, arya dan felix, hingga akhirnya aku mendekat ke felix karena dorongan erna dan teman dosenku. Aku lupakan arya, entah kenapa aku bisa melupakannya. Kejadian ketika felix melamarku dihadapannya, senyuman itu membuat aku terluka.

Mungkin luka yang aku rasakan tidak sebanding dengan luka yang dia rasakan. Akhirnya dia menjauh, hatiku menangis setiap kali melhatnya. Dan aku lebih terluka lagi ketika orang yang aku campakan adalah penolongku untuk ketiga kalinya. Hingga aku mengetahui arya memilik pacar, dan itu juga membuatku sangat terluka. Mungkin ini ganjaran dari perbuatanku.

Aku mencoba mendekatinya kembali mendesak ketua jurusanku untuk menempatkan aku sebagai dosen pembimbing lapangan untuk PKL arya. Selama arya PKL aku putuskan hubunganku dengan felix. Dia tidak menerima keputusan sepihakku ini tapi aku tetap bersikeukeuh untuk putus dengannya.

Dia terus mengejarku tak henti-hentnya dia mengejarku dan aku tidak menghiraukannya. Pernah saat itu aku datang ke warung teman arya dan bertemu arya yang datang bersama seorang wanita. Jengkel, marah tapi aku tidak bisa itu hak dia karena aku telah mencampakannya.

Hingga suatu malam di tempat dimana dia pertama kali mengajakku ketempat yang romantis. Tempat dimana dia aku acuhkan. Disitu sebuah kenyataan aku peroleh, pacarnya adalah ibunya yang berpura-pura. Dan kenyataan itu aku peroleh dari ibunya langsung yang datang ke tempat itu.

Setelah pertemuan itu hubunganku membaik, aku merasa aku sudah dekat dengannya. Dan aku sudah menentukan waktu untuk mengatakan kepadanya tentang masa itu. Masa dimana aku bertemu dengannya pertama kali. tapi felix mengubah semuanya, dia yang terus menerus memaksaku agar kembali padanya membuat aku semakin jengkel hingga.

Di ruang jurusan, hari dimana Arya akan mengajukan bimbingan felix datang. Kata-katanya membuat aku kesal, ketika aku hendak beranjak pergi dari ruangan dia menarikku dan mendorongku. Didaratkannya bibirnya di bibirku dan disaat itu Arya membuka pintu…

***

Kenapa? hanya itu yang terucap dari mulutku, dengan posisi duduk bersimpuh, kedua tanganku menumpu tubuhku bagian depan. Cerita sekilas cerita yang sama sekali tidak aku hiraukan

hiks hiks hiks maafkan aku ar…

felix yang memaksaku, bukan maksudku untuk menyakitimu ucap bu dian

Kenapa? kenapa baru sekarang aku menemukanmu? ucapku pelan

Eh…

Ar… hiks hiks hiks ucapnya dengan isak tangis

KENAPA AKU HARUS TAHU KALAU GADIS ITU ADALAH KAMU! KENAPA BARU SEKARANG?! ARGHHHHHHHHHHH…! hash hash hash teriakku, membuat bu dian terdiam dan terkejut

ssssshhhhhh huuuufffffffffffffffffff hela nafasku

seandainya kamu datang lebih awal, dan mengatakannya lebih awal mungkin aku tidak akan sekotor seperti sekarang ini ucapku

Aku tidak pantas untukmu… lanjutku, yang kemudian berdiri melangkah kearahnya, dengan mengambil kaleng minuman yang masih tergeletak di bangku taman

Ar… maafkan aku hiks hiks hiks aku mohon jangan pergi lagi ar hiks hiks hiks ucapnya kembali, aku kemudian duduk disampingnya dengap posisi berlawanan. Kakiku aku tekuk

aku tidak pantas untukmu ucapku sekali lagi

Kenpa hiks hiks hiks apakah karena kejadian aku dengan felix ar ucapnya yang mengarahkan padangannya kesamping, ke arahku. Aku masih memandang jauh kedepan (kearah belakang bu dian)

semenjak kejadian itu, aku terus menantimu di halte bis tempat kita berpisah setiap kali aku pulang sekolah hingga aku lulus SMP. Berharap aku bisa bertemu denganmu. Namun yang aku tunggu tak kunjung tiba.

Ketika SMA aku mulai mencarimu walau sebenarnya aku tahu itu mustahil karena aku tahu kamu bukan dari daerah sini tapi aku pernah melihatmu di universitas di jurusan yang sekarang aku menuntut ilmu tapi kamu menghilang karena ketika itu hujan deras sekali. Aku mencoba mendekati tapi kamu sudah tidak ada ditempat itu. Sssshhhh huuuuuuuuuuuftthhhh… ucapku

kau juga mencariku ar…. ucapnya

Setiap pulang sekolah aku selalu ke universitas berharap bisa menemukanmu. Itulah mengapa aku masuk ke jurusan yang sekarang ini, berharap bisa bertemu denganmu tapi tidak ku temukan. Tak ada yang pernah tahu pencarianku, bahkan orang terdekatku tak ada yang pernah tahu tentang pencarianku.

Hingga kamu datang dengan penampilan yang sangat berbeda, sebagai dosen dan aku mahasiswanya. Pertama kali aku melihatmu, aku merasakan hal yang aneh. Seakan-akan aku pernah melihatmu tapi aku menepisnya karena kamu yang dulu sangat berbeda dengan kamu yang sekarang lanjutku

Maafkan aku tidak mengatakannya sejak awal, tapi hiks hiks apakah kamu mau memaafkan aku ar ucapku, aku terdiam sejenak

Ar… ucapnya dengan masih memandangku tapi aku tidak memandangnya

Kamu mengaharapkan aku? Kamu inginkan aku? ucapku yang menoleh kearahnya, dia hanya mengangguk dengan sedikit senyum penuh harap

aku tidak pantas untukmu ucapku yang kemudian menoleh kearah depanku

Apa maksudmu?! Apakah karena aku telah melakukan hal bodoh dihadapanmu ar? ucapnya pelan dengan wajah tertunduk

Aku terlalu kotor untukmu… ucapku pelan dengan wajah tertunduk dan kedua tanganku berada di kedua lututku

Apakah hanya karena aku tidak mengatakan sejak awal kamu menilai diriku sekotor itu ar? Apakah aku yang dipaksa felix membuatmu menilaiku sekotor itu ar? Aku terus mencarimu tapi kenapa ketika aku menemukanmu… kamu ingin pergi lagi? Apakah karena aku yang terus menyakitimu? ucapnya, tak ada jawaban dariku

Aku… ucapku

Aku apa ar? ucapnya

aku apa? lanjutnya mendesakku

Mbake-nya… aku terlalu kotor untukmu mbak… ucapku pelan

aku tidak mengerti maksudmu ar hiks jika memang kamu tidak meng… ucapnya terpotong olehku

Aku telah… ucapku memotong ucapannya

Tak kuceritakan secara detail perjalanan hidupku. Hanya menceritakan sebuah kejadian demi kejadian yang aku alami terutama masalah berhubungan dengan wanita. Kuceritakan tentang aku yang telah berhubungan dengan tante ima, ibu dari sahabatku kemudian mbak maya seorang wanita yang telah merawatku selama pencarian kakek dan nenek dari ayahku walau tak kuceritakan kenapa aku harus mencari kakek dan nenek dari ayahku.

Kulanjutkan lagi tentang aku berhubungan dengan mbak echa, teman yang dia kenal semasa kuliah dan juga mbak ela supervisorku serta seorang wanita setengah baya bernama tante War. Dan yang terakhir kuceritakan adalah mbak erlina dan ajeng, yang menyerahkan mahkotanya untukku. Kuceritaka setiap bagian secara garis besarnya saja.

tidak… hiks tidak kamu pasti… ucapnya terpotong

dan yang pertama dan paling awal, yang pertama sebelum tante ima dan yang lainnya, yang memberiku rasa tentang wanita adalah… ucapku memotong

ibuku… ibuku sendiri, diah ayu pitaloka….ucapku pelan sambil kepalaku tertunduk diantara kedua tanganku yang bertumpu pada lutuuku yang menekuk

Tidak… hiks tidak mungkin kamu melakukan itu semua… hiks… TIDAK MUNGKIN! KAMU PASTI BOHONG!

KAMU MENGATAKAN ITU SEMUA AGAR AKU BERHENTI MENGHARAPKANMU, AGAR KAMU BISA BERSAMA YANG LAIN BUKAN?! AGAR KAMU BISA BERSAMA ERLINA BUKAN! KAMU PEMBOHOOOOOOOOOOONG! teriaknya dengan wajah penuh linangan air mata, aku sedikit menggeser bola mataku ke arah wanita tersebut, wajahnya tertunduk dengan posisi tubuh masih sama seperti sebelumnya

Hei… ucapku pelan sambil menoleh kearahnya, dia kemudian seara perlahan menoleh kearahku

Lihat mataku… ucapku dengan sedikit air mata mengalir di pipiku, dia kemudian melihat kedalam mataku

Apakah aku pernah bohong kepadamu? ucapku datar dengan suara sedikit parau, dia hanya menggelengkan kepala. Aku kemudian tersenyum kepadanya dan bangkit berdiri

kamu mau kemana? Kamu mau pergi lagi? Hiks hiks ucapnya pelan

Aku tidak pantas untukmu, aku terlalu kotor. Pikirkanlah lagi perasaanmu kepadaku, pikirkanlah… Felix lebih bersih daripada aku, felix lebih indah daripada manusia kotor seperti aku…

sssshhhhh huuuuuuuuftttt…. hiks… aku tak ingin kamu menderita karena perbuatanku ucapku yang sempat terisak namun kucoba untuk kutahan

kamu boh… ucapnya terpotong

Aku sudah katakan semua kepadamu, dan aku tidak berbohong Dian! Dian rahmawati! ucapku sedikit keras

jika kamu bertanya bagaimana perasaanku kepadamu saat ini, masih…

masih sama dengan saat aku pertama kali melihatmu, apa yang dulu aku katakan kepadamu adalah nyata dan jujur tapi dengan keadaanku seperti sekarang ini hanya akan membuat hidupmu penuh bayang-bayang gelap masa laluku, aku tidak ingin jika kamu bersamaku…

kamu menderita karenanya, aku mungkin bisa berhenti tapi kesalahan di masa laluku pasti akan muncul dan membuatmu sedih, aku tidak ingin melihatmu sedih lagi… lanjutku

dengan kamu meninggalkanku lagi… itu lebih membuatku lebih sedih lagi… ucapnya

… pikirkanlah kembali perasaanmu… tentang manusia kotor sepertiku yang kamu inginkan, apakah aku pantas denganmu… ucapku pelan

apakah kamu akan pergi lagi? Menjauhiku lagi? Dan menganggapku tidak ada lagi hiks hiks ucapnya pelan

tidak… aku akan selalu ada ketika kamu ingin melihatku, apapun yang terjadi setelahnya, entah apa pilihanmu, jika kamu menginginkan aku ada aku akan datang, jika kamu mengingnkanku hilang aku akan hilang dari hidupmu… tapi untuk selalu bersamamu, aku… tidak mampu…

Kamu bidadari yang turun dengan keindahan dan warna yang putih dan bersih, sedangkan aku manusia kotor… maafkan aku… aku tidak mampu… ucapku yang kemudian melangkahkan kaki beranjak pergi dari tempat ini

berjanjilah kepadaku… ucapnya

aku tak sanggup… ucapku yang membuat langkahku terhenti

berjanjilah hiks apapun pilihanku tentang yang akan terjadi nanti… kamu tetap arya seperti yang aku kenal pertama kali tanpa ada kesalahan yang telah kamu perbuat… ucapnya

Jika aku mampu… ucapku kemudian beranjak pergi

Ar… ucapnya menghentikan langkahku

Apakah bocah SMP itu benar-benar jujur kepadaku saat itu? ucapnya

hiks hiks hiks dia jujur… karena gadis kusam itu yang pertama kali memberikan senyum indah kepadanya hiks ucapku sedikit terisak

sssssshhhhh huuuuuuuuuuuuftttt… hela nafasku

pikirkanlah lagi, jangan kamu memilih yang buruk dan kotor untuk masa depamu ucapku dan beranjak pergi

aku akan memilih sesuai hati nuraniku, dan akan kukatakan kepadamu ucapnya yang pelan dan kemudian diterpa angin dan hilang. Aku tak tahu apa yang terjadi kepadanya setelah pertemuan ini. aku meninggalkannya dengan air mata mengalir di pipinya tanpa mampu menghapus kesedihannya.

Love hurts
Love scars
Love wounds and marks
Any heart not tough or strong enough
To take a lot of pain, take a lot of pain
Love is like a cloud, it holds a lot of rain
Love hurts,

Ooo-oo love hurts
I’m young,
I know,
But even so
I know a thing or two, I learned from you
I really learned a lot, really learned a lot
Love is like a flame, it burns you when it’s hot
Love hurts,

Ooo-oo love hurts
Some fools think
Of happiness, blissfulness, togetherness
Some fools fool themselves, I guess
They’re not foolin’ me
I know it isn’t true I know it isn’t true
Love is just a lie made to make you blue
Love hurts,

Ooo-oo love hurts
Ooo-oo love hurts

I know it isn’t true
I know it isn’t true

Love is just a lie made to make you blue
Love hurts,

Ooo-oo love hurts
Ooo-oo, love hurts, ooo-oo
Love hurt by nazareth
‚Äč
Truth is a pain, meskipun kamu menginginkan sebuah keindahan. Tapi apakah setiap manusia memiliki hati yang berani untuk mengungkapkan truth, kebenaran tentang hidupnya. Aku tidak pernah tahu mengenai sebuah rasa sakit setelah kebenaran terungkap, yang aku tahu hanya apapun kebenaran itu, bagaimana kehidupanku, aku harus mengatakan kebenaran itu.

Kebenaran tentang jati diriku. Aku tidak peduli jika aku harus merasakan rasa sakit seumur hidupku karena kebenaran yang telah aku ucapkan, ya hanya kepada orang-orang yang benar aku cintai dan sayangi, aku selalu mengatakan kejujuran. Karena aku tidak ingin mereka menangis karenaku, walau sejujurnya mereka menangis karena kebenaran yang aku ungkapkan.

Lebih baik menderita seumur hidupku daripada aku hidup dalam kebohongan. Well, its me…. arya, manusia yang lahir karena kekejaman seorang lelaki terhadap seorang perempuan. manusia yang menikmati potongan kecil keindahan namun terperosok jauh kedalam lubang keindahan itu.

Lubang yang menghubungkan keindagan dengan kegelapan. Love hurt? Ya menyakitkan karena aku memilih jalan yang salah untuk mendapatkan cinta itu. Mungkin akan indah dan menyenangkan jika aku… ahhh bodohlah…

Sebuah lagu Dont Give Up dari White lion menemani perjalanan pulangku. Hingga dirumah, aku rebahkan tubuhku. Air mata mengalir membasahi pipiku. Hingga aku terlelap dalam lelahnya malam. Pagi hari, dirumahku yang seharusnya hanya aku sendiri kini telah duduk seorang wanita disampingku. Ya, dia Ibuku, dia hanya diam sejak Ibu melihatku turun dari kamar. seakan tahu kesedihanku.

Bu… ucapku

Iya… balasnya

aku telah… ucapku, menceritakan pertemuanku dengan dian

jadi dian gadis SMA waktu itu? Dan kamu selama ini mencarinya sayang? Wah… indah banget sayang ucap Ibu, tapi tak kuhiraukan dan wajahku semakin tertunduk. Ibu yang semula mencoba menghangatkan suasana kembali diam

dan aku… ucapku menceritakan kembali kejadian dengan dian, kukatakan kepada ibu tentang semua yang telah aku ceritakan kepada dian. Ibu kini hanya terdiam dan aku memandangnya, kudekati tubuhnya dan kupeluk tubuhnya dari samping. Kucium tengkuknya…

Arya sudah hentikan…ucapnya dengan nada sedikit keras

Maaf bu… ucapku, kulepaskan pelukanku dan aku beranjak menuju ke kamarku

Maafkan Ibu, seandainya dulu Ibu tidak menyeretmu mungkin kamu sudah bersama dian saat ini ucap Ibu

Arya yang salah bu, kenapa arya juga tidak menghentikannya… semua telah terjadi seandainya semuanya meninggalkan arya itu sudah menjadi resiko untuk arya… Ibu tenang saja ya ucapku mencoba tersenyum ketika aku berada ditengah-tengah tangga.

Tak ada tegur sapa setelah pembicaran pagi hari tadi. Aku kemudian pergi keluar dan pamit dengan ibu, ibu hanya mampu tersenyum kecil kepadaku. Kupeluk tubuhnya dan kubisikan agar dia tetap tenang.

Setelahnya aku pergi keluar rumah, hingga REVIA kuhentikan disebuah taman. Aku duuk di lantai taman dan bersandar di sebuah bangku. Hingga panas matahari berlalu berganti panas sore hari. Tiba-tiba Langit mendung seakan mengerti kegelisahanku.

Tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik… tik…

Jjrrrssssssshhhhhh………

Tak kuhiraukan hujan yang mengguyur tubuhku. Masa bodoh dengan air ini, lama aku berdiam diri dengan wajah tertunduk. Tanpa menghiarukan sekitarku, Hingga air itu tidak mengenai tubuhku kembali.

Kugeser bola mataku ke kiri melihat sepasang sepatu putih berdekatan. Kuangkat wajahku dan kulihat seorang wanita dengan menggunakan rok putih dan berdiri memegang payung yang berada diatasku.

Pulang… ucap wanita itu

Tidak aku ingin disini ucapku

Pulang… kata wanita tersebut untuk kedua kalinya

Jangan paksa aku… ucapku, wanita tersebut kemudian berjongkok disampingku

aku tak tahu apa yang terjadi kepadamu namun hujan tak mampu menjawab semua kegelisahanmu… ucap wanita tersebut, aku hanya memandangnya dan kemudian tersenyum kepadanya. Ya, hujan tak mampu menjawab pertanyaanku, hanya mampu menghapus panas dikepalaku.

Aku kemudian berdiri dan berjalan menuju ke REVIA, diiringi oleh wanita tersebut. Perjalanan menuju pulang yang sebenarnya tak aku mengerti. Tapi aku tahu kemana arah tujuanku.

buka semua pakaianmu ucap wanita tersebut. Kini aku berada didalam kamar yang tidak asing lagi, aku melepas semua pakaianku dan duduk hanya dengan menggunakan celana dalam. Wanita itu kemudian mengambil pakaianku dan membawanya ke luar untuk dimasukan ke dalam mesin penggiling

Klek… pintu tertutup dan wanita itu menuju kearahku. Dia duduk didepanku dengan senyumannya. Merangkak maju ke arahku dan mendaratkan bibirnya. Tak mampu aku menolakny, ciuman disertai dengan pelukan dileherku.

Luapkan emosimu… ucap wanita tersebut,

Luapkan ke mbak.. lanjut ucapan wanita tersebut, mbak erlina.

mmmmhhhh… mmmm slurp slurp…. hah hah hah hah slurrrp slurrp slurrrp slurrrp aku hanya mengikuti apa yang harus aku lakukan

katakan yang kamu inginkan sekarang, kalau kamu ingin berkata kasar katakanlah sayangku, adikku owhhhh mmmmmhhhh… ucapnya yang kemudian kuciumi lehernya yang masih berbalut kerudung itu

aku pengen mbak… ucapku

pengen apa sayang… ucapnya

pengen itu mbak… ucapku

pengen apa yang jelas adikku sayang… ucapnya yang tak gubris sama sekali

arghhhhh… ayo katakan luapkan semuanya… ucapnya

aku pengen ngenthu mbak, pengen banget mbak… ucapku

pengen ngentot ya? Pengen masukin kontol kamu ke memek mbak kamu ini sayang? ucapnya

Iya aku pengen ngenthu mbak, pengen ngentot mbak, pengen masukin kontolkuke mbak, pengen arrghhhhhh… mmmmmhhhhhhh…. ucapku yang kemudian

ayo sayang, lakukan puaskan dirimu, keluarkan penatmu… ucap mbak erlin

Aku menubruknya, wanita yang masih menggunakan kerudung putih, kaos berwarna putih dan juga roknya yang berwarna putih. Aku mengangkangi pahanya, kedua tanganku meremas payudaranya yang masih terbungkus oleh kaos.

Bersambung