Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 46

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 46 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 45

Setelah beberapa bulan aku tidak ke cafe ini, tampak perubahan besar-besaran ada di dalam cafe. Kami mencari tempat yang lebih nyaman, tepatnya dekat dengan kolam ikan. Pelayan pun datang dan menawarkan kami makanan, kami sudah tampak akrab dengan pelayan-pelayan disini maklumlah 2 kejadian perkelahian melibatkan aku dan dian di dalamnya. Pelayan tersebut kemudian pergi setelah kami menulis pesanan kami.

Kok celingak-celinguk, nyari apa? Lihatin cewek ya? Dasar ndak sopan! Sudah ada cewek di depannya masih nyari yang lain ucapnya

ndak begitu dian, dosenku…

Cuma mencoba lebih waspada saja, kalau tiba-tiba ada yang menggebrak meja dan nyiram mukaku lagi, perih masalahnya he he he ucapku

iiiih apaan sich kamu itu awas! ucapnya aku hanya tertawa cengengesan melihatnya mencoba mencubit tanganku.

Sedikitnya kami bercanda walau aku masih tetap menganggap ada batas diantara kami berdua, maklumlah dia kan dosen aku. Setiap kali aku melihat wajahnya, hati ini merasa sangat nyaman sekali. Indah benar makhluk yang ada didepanku ini.

Pelayan kemudian datang, membawakan makanan pesanan kami dan juga minuman. Kami berdua kemudian makan, tapi nakalnya mataku ini selalu saja mencoba mencuri pandang wajah indahnya.

Kalau makan ya makan, ndak usah lihat kemana-mana? Ndak pernah lihat cewek cantik ya? ucapnya

Hmmm… siapa yang lihatin kamu, aku Cuma lihatin tuh air mancur dibelakang kamu yan, bagus sekali ucapku dengan sedikit makanan di dalam mulutku

owh gitu ya? Ya sudah ucap bu dian yang kemudian menggeser tempat duduknya

lho kok pindah? ucapku

dah sekarang lihatin saja itu ari mancur sepuasnya, katanya bagus ucapnya

Eh… mati kutu dah aku

Aku kemudian melanjutkan makanku lagi, dengan bu dian berada di sampingku. Tapi mata ini seperti kena tarikan magnet yang sangat kuat membuat bola mata ini tak henti-hentinya bergeser kesamping untuk sekedar melihatnya makan. Dia tampak sangat cuek sekali, setiap kali makan dia melihat ke depan tanpa melirikku.

Apa lagi sekarang? Ada air mancur dibelakangku? ucapnya tanpa sedikit melihat ke arahku

Eh… ndak, ada bidadari ucapku santai dan kemudian melanjutkan makan lagi. Kulirik dia memandangku dengan senyuman dan melanjutkan makan lagi.

Iiiiiih…. sebel banget deh, kok bisa-bisanya ya ndak main ke kos mbaknya, ndak ngabari gimana gitu, eh tahu-tahunya makan malam bareng sama cewek dasar adik laki kurang ajar! ucap seorang wanita di belakangku, kami berdua menoleh ke arah suara itu

Mbak erlin… ucapku, sedikit kulirik bu dian dia hanya tersenyum kemudian melanjutkan makannya lagi. Terlukis sebuah gambaran ketidak sukaan ketika mbak erlin datang.

Duduk sini ahh…. sayang, duduk di sebelahku sini ucap mbak erlina kepada seorang laki-laki dibelakangnya

kenalin ar, pacar aku… ucapnya

Alan… ucap pacar mbak erlina

Arya… ucapku

Mbak, kenalin pacar aku ucap mbak erlin ke bu dian

Dian… ucap bu dian

Alan… ucap alan

kok mbak ada disini? ucapku

Yeee… terserah aku dong, kan aku lagi pacaran emang kamu? Ndak jelas hi hi hi ucap mbak erlin

ndak jelas gimana? ucapku

ndak tahu dech… ucap mbak erlina

Kulihat raut wajah bu diah semakin suntuk, tak ada guratan senyum yang terlukis di wajahnya kembali. Beberapa kali mbak erlina mencoba untuk mengajak bu dian berbicara pun dijawabnya secukupnya saja. Benar-benar terlihat judes sekali. Tapi bu dian tetap melempar senyum ke arah mbak erlina dan alan walau senyum yang sangat terpaksa.

Eh… mbak dian, sudah jadian ya sama arya ucap mbak erlina

belum, dia mahasiswaku ucapnya

kan ndak papa, mahasiswa sama dosen, benar ndak sayang? ucap mbak erlina

kelihatannya ndak mungkin ucap bu dian sembari melihat kearahku penuh arti

Aku malah kebingungan dengan tatapan matanya. Kenapa tatapan mata itu memperlihatkan sesuatu tuntutan. Tuntutan agar aku yang menjawabnya. Aku tak mampu memandang mata indah itu, aku benar-benar belum mampu. Aku hanya tertunduk dan menghabiskan makanku.

Mbak erlina dan alan tampak berbisik-bisik sesuatu dan kemudian tertawa cekikikan sendiri melihat tingkah polah kami berdua. Pesanan mbak erlina datang dan makanku sudah selesai, seperti biasa dunhill.

ndak usah merokok ucap bu dian sambil mencabut rokok di bibirku dan langsung di buang. Diraihnya dunhill sebungkus dan korek api yang ada di meja, diremah dan hilang sudah. Aku hanya melongo menyaksikan kejadian pembunuhan rokok dan peremasan sebungkus dunhill itu. Aku tidak mampu protes karena dari matanya dapat aku tangkap ketidak nyamanan dia berada disini.

tuh, perhatian tanda sayang lho ar ucap mbak erlina

Eh… mbak erlina, sudah deh kasihan dian ucapku

Lho kok dian? Wah dah jadian niiiiih ucap mbak erlina

Kelhatanya sich sudah jadian sayang ucap alan

Kulihat bu dian hanya diam saja tidak memandang ke arahku. Pandangannya dibuang ke arah kolam ikan yang berisi ikan koi. Aku sedikit salah tingkah dengan sikap bu dian ditambah lagi mbak erlina dan alan yang selalu saja mencandai aku dan bu dian.

Lambat laun setelah suasana hening sesaat, bu dian akhirnya bisa memulai pembicaraan kembali dengan sikapnya yang tidak judes lagi. Kadang kakiku di injak oleh mbak erlina ketika bu dian sudah mulai bercanda dengan kami, tapi ingat judesnya masih ada.

Dah malam pulang yuk ar ucap bu dian

Eh iya…

mbak, mas aku pulang dulu ya ucapku kepada mbak erlina dan alan

oke, hati-hati ya ar dijagain lho dian ucap mbak erlina

dijaga, dianter sampai rumah ucap alan

iya.. iya… ucapku

Setelah membayar aku kemudian memboncengkan bu dian pulang. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulut kami. jujur saja aku menjadi merasa bersalah dengan suasana ini. tapi jika dilihat lagi, kami bertemu dengan mbak erlin dan alan juga tidak disengaja. Hingga akhirnya aku melwati pos satpam perumahan ELITE, tiba-tiba bu dian memelukku dengan sangat erat.

Pelan saja ucapnya, aku kemudian menurunkan laju REVIA

Maaf… ucapnya

buat apa bu? ucapku

Sikapku tadi ketika erlina datang ucapnya

Dian ndak salah kok, aku yang salah, kalau saja tidak di cafe itu mungkin ndak akan ketemu mereka ucapku

Aku ndak suka ucapnya

Eh… aku sedikit terkejut dengan kata-katanya, REVIA berhenti tepat di depan rumahnya dan bu dian masih memelukku. aku tak mampu berkata-kata.

Aku ndak suka kalau kita sedang makan diganggu cewek ucapnya terasa mulutnya di benamkan di bahu kananku

Pokoknya malam minggu besok keluar makan lagi, di tempat lain ucapnya

Eh… aku ndak tahu tempat lainnya yan ucapku

Pokoknya makan ditempat lain, Cuma aku sama kamu titik, aku ndak mau di cafe itu lagi, pokoknya ndak mau, ndak mau ketemu sama orang yang dikenal ucapnya yang kini terlihat manja dengan suara serak seakan mau menangis

Eh iya… minggu depan kita makan ditempat lain, iya aku bayarin lagi pokoknya ucapku

Heem… ucapnya kemudian turun

Janji ya? ucapnya tepat di sampingku, aku mengangguk pelan dan tersenyum kepadanya

Tiba-tiba, dibukanya helmku olehnya. Seperti orang terhipnotis dan cup… pipi kananku di kecupnya. Aku tersenyum mendapatkan kecupan manisnya kembali. Dipakaikannya helmku kembali dan dia melangkah menuju ke gerbang pintu.

Dibukanya gembok gerbang itu dan kemudian berdiri di depannya memandangku dengan senyum sambil kedua tangannya dibelakang. Tersadar akan waktu yang semakin malam.

Aku pulang dulu yan ucapku

Heem… ucapnya sambil menganggukan kepala

hati-hati ya ar, ndak usah ngebut ucapnya sambil tangannya men-dadah-iku

iya,… ucapku sembari menganggukan kepala dan tersenyum kepadanya

Kuputar revia dan kutarik gas motorku. Semakin aku menjauh kulihat dari spion motorku dia masih berada di depan pintu gerbangnya dan memandangku. Hingga revia membelok, hilang sudah bidadari itu. Dalam perjalanan menuju rumah, aku tersenyum-senyum sendiri dengan sikap manjanya.

Kalau saja dia istriku dan manja seperti itu, wow seklai pastinya hari-hariku. Sesampainya dirumah, aku menemui ibuku dan ku ajak Ibu ke kamar lalu menceritakan semua yang terjadi. Ayah, lagi nonton TV bro.

berarti banyakin puasa ini ya? ucap Ibu sambil menunjukan ke arah susunya

kenapa kaitanya sama itu to bu? ucapku

biar kamu itu, fokus, kan ibu sudah bilang bagaimana kita mau kembali seperti dulu kalau kamu ndak bisa melupakan ini ucap ibu

Ibu adalah ibu kamu, dan ibu berharap kamu juga mempunyai istri sayang tapi ingat jangan kamu terkam dian sebelum waktunya, awas! ucap ibu

Kalau ndak dapat jatah dan ada kesempatan ya diterkam saja bu he he he ucapku

Adaaaaaaaaaaow… pukulan ringan dikepalaku

ndak boleh, Ibu suka sama dian dan kamu ndak boleh sekali-kali menyentuhnya, ingat itu! Harus tepat pada waktunya ucap Ibu

Aku tersenyum melihat kesungguhan kalimat ibu. mungkin dianlah yang bisa menghentikan kegilaanku saat ini. tapi bagaimana caranya? Aku juga belum tahu.

Ibu akan selalu mendukungmu selama kamu dengan dian, dan setelahnya ibu akan jadi ibu kamu, okay? I want thebest for you son ucapnya

I hope i can let you go someday ucapku

you can! I promise ucapnya

Akhirnya ibu meninggalkan kamarku dengan wajah bahagia. Tapi aku bisa melihat sesuatu yang mengganjal di hatinya. Dian, kamu bisa menghentikan kegilaan aku dan ibu tapi apakah kamu bisa menerimaku seandainya kamu tahu semuanya? Centung, Bu dian

From : Bu Dian
Makasih malam ini,
Ingat janjimu ya 🙂

To : Bu Dian
Sama-sama bu,
Pasti aku ingat 🙂

Hari-hariku semakin indah dengan kehadiran bu dian saat ini. Entah sesaat atau selamanya aku juga belum tahu. Sikap manjanya yang terakhir itu membuatku seakan-akan menjadi laki-laki yang hebat dan gagah.

Ibu pun semakin mendukungku, walau aku tidak mengatakan kepada ibu jika memang suatu saat nanti ada seorang wanita yang ingin bersamaku, aku akan mengatakan rahasiaku. Aku tidak suka berbohong. Dian dan Ibu, aku harap bisa menjadi menantu dan ibu mertua yang akur.

Bimbingan dengan bu dian tampak sedikit berbeda dengan minggu lalu. Senyumya selalu terlukis ketika memberitahukan kesalah-kesalahan di tugas Akhirku. Di sini aku tetap memanggilnya dengan sebutan bu, dikampus harus ada formalitas juga kan?.

Kulihat senyuman-senyuman indah itu seakan membius nadiku dan membuat seluruh tubuhku kaku dan membeku. Hanya leherku saja yang dapat bergerak dan mengangguk-angguk setiap ucapannya. Ada apa ini? kemarin aku begitu sangat kecewa dengannya tapi kenapa sekarang malah seperti ini. wanita ini jangan-jangan jelmaan medusa? Atau dia adalah dewi kecantikan yunani? Hanya itu pikiran yang terlntas di otakku hingga bimbingan selesai dan aku disadarkan oleh kata-kata indahnya.

Arya, sudah… ucapnya lembut

Eh.. eh iya bu sudah, terima kasih

Saya mohon undur diri dulu ucapku

Iya, jangan lupa besok ya, ingat janjimu ucapnya

Iya yan, eh bu dian… ucapku

Hingga di rumahpun aku masih tidak bisa menyangka sikapnya yang sekarang sangat begitu anggun dan menyentuh hatiku. Ibu duduk disampingku dan tersenyum ke arahku. Aku bercerita mengenai semua yang aku lalui hari demi hari walau sebenarnya aku seudah menceritakannya. Dan yang terbaru adalah perasaanku ketika bimbingan tadi.

Jujur saja ibu suka sekali dengan dian dan kasihan sama kamu ucap Ibu

maksud ibu? ucapku

Suka sama dian, tapi kasihan itu kamu tuh, ndak keluar-keluar pasti sakit ya? ucap Ibu

Ibu sich ndak mau kasih ucapku sambil memeluknya

Ibu ndak enak sama dian, sayang. Ibu wanita, dian juga, ibu ndak mau melukai hatinya walau dia tidak pernah mengetahuinya. Ibu hanya ingin kamu benar-benar bisa meraih hatinya dan bisa melupakan kegilaan kita. Itu yang ibu harapkan ucapnya

Ya bu, tapi entah arya bisa atau tidak. Akan arya usahakan yang terbaik ucapku dengan pikiran mengawang ke arah yang tidak menentu

hei, jangan melamun sayang. Tenang kita pasti bisa melaluinya ucap Ibu

Kupandangi wajah Ibu sejenak, wajah yang meneduhkanku. Aku pun tersenyum kepadanya, dibalasnya senyumanku dengan senyuman indahnya. Hening sesaat yang hanya dihiasi oleh senyuman kami berdua.

Tiba-tiba ibu mencubit kedua pipiku dan mengecup kedua pipiku secara bergantian lalu dibetetnya hidungku dengan sangat keras. Aku mengaduh kesakitan, Ibu langsung berlari menjauhiku. Kami saling kejar-kejaran dan tertawa terbahak-bahak seakan-akan tak terjad sesuatu yang salah diantara kami berdua.

Hubunganku dengan mbak erlina pun seperti biasanya namun untuk kali ini tidak ada jatah kepadaku. Aku sempat kebingungan menahan kentang di dedek arya, bagaimana tidak? Jaminan 2 orang wanita yang akan selalu membuang kentang dari dedek arya semuanya tidak bisa hingga aku berangkat KKN.

Ibu tidak ingin melakukannya karena tidak ingn mengganggu pikiranku, agar aku benar-benar bisa mendapatkan hati dian tanpa harus memikirkan hubungan gelapku dengan Ibu. Mbak erlina? Mungkin memang dia harapanku satu-satunya tapi pacarnya mendapatkan tugas untuk di daerahku.

Lengkap sudah, tak mungkin aku ke kos mbak erlina hanya untuk minta jatah karena dari penuturan mbak erlina pacarnya selalu berada di kos.

Mbak echa atau mbak ela? Mungkin bisa tapi bisa gila kalau aku terus-terusan main bertiga. Bisa copot semua tulangku. Kalaupun main dengan mbak echa pastinya dia akan mengajak mbak ela tapi bisa saja aku mengondisikan agar aku hanya dengan mbak ela atau mbak echa saja.

Aarghh… tidaklah, terlalu beresiko dengan mereka berdua ditambah lagi sekarang mbak ela serumah dengan mbak echa. Mbak ela sudah menjadi istri kedua suami mbak echa namun hanya secara de facto untuk secara de jure akan disahkan ke depannya. De facto? Nikah siri, de jure? Nikah sah yang diakui oleh negara yang semakin amburadul ini.

Ciiiiiiiiiiiit… aku terperangah melihat seorang wanita yang sedang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya. Wanita itu memakai kaos lengan panjang yang dulu pernah dia minta, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan dada yang membusung itu.

Dengan hiasan celana legging, dia tetap anggun walau kaos lengan panjang itu terlihat sangat klowor. Ya, malam ini adalah malam minggu dimana aku kembali apel ke rumah dosen judes dan jutekku ini. Dia tersenyum ke arahku dan langsung naik delakangku.

Ayo mas, jalan ucapnya

yee… emang tukang ojek pake mas segala ucapku sedikit nyleneh

Mas Arya, ayo jalan-jalan ucapnya kembali membuatku sedikit grogi

Eh… i.. iya ucapku, benar-benar berbeda dari hari-hari sebelumnya

ndak usah grogi gitu dong mas aryaaaaaa…. ucapnya dengan nada manja

he he he aku hanya mampu tersenyum dan cengengesan saja

Malam ini aku mengajaknya makan di warung emperan, maklum untuk urusan makan di cafe lagi malas. Malas uangnya he he he, walaupun aku mempunyai uang ratusan juta di kamarku namun aku tidak ingin menggunakannya jika harus keluar dengan yang tersayang.

Setelahnya aku mengajaknya ke tempat dimana aku bertemu dengannya sebelum ini. Kami duduk di bangku yang sama dengan waktu itu, namun yang berbeda kali ini adalah aku dan bu dian duduk bersebelahan di tengah-tengah bangku bukan diujung yang berlawanan seperti waktu itu.

Tak berani aku mengeluarkan kotak putih bertuliskan dunhill yang biasa menemaniku. Aku bersandar dan dia duduk tegap, kulihat rambut lurus yang beraroma wangi ini dari belakang.

Bulannya indah ya ar? ucapnya

Iya bu eh yan, bulan purnama ucapku yang kemudian bangkit dengan posisi tegap disamping kanannya

banyak wanita sangat suka di samakan dengan rembulan itu ucapnya

jangan mau kalau disamakan dengan bulan ucapku sekenanya

Dasar ndak romantis balasnya

bukannya ndak romantis, itu bulan sudah di injak-injak Neil Amstrong, emang mau disamakan dengan jejak kaki neil amstrong? ucapku

Kan banyak bukti kalau dia tidak pernah mendarat di bulan ucapnya

Iya, memang banyak bukti kalau ekspedisi dia ke bulan itu masih dalam kategori misteri. Tapi kan setelahnya banyak astronot yang sudah menginjakan kaki di bulan ucapku

Dasar kamu itu cowok ndak ada romantisnya sama sekali balasnya kelihatan judes

Mana mungkin bidadari disamakan dengan bulan, yang ada sama dengan cahaya indahnya ucapku yang langsung melengoskan kepalaku ke arah kanan. Sedikit aku meliriknya dan dia melihat kearahku dengan tersenyum manis

Memang ada bidadari ya disini? ucapnya

Ada tapi dia-nya ndak sadar ucapku sekenanya. Ku benamkan wajahku di antara kedua pahaku

Kamu kenapa to? Kaya orang salting? Grogi ya deket sama cewek cantik? ucapnya, aku menoleh ke arahnya dan tersenyum

memang ada cewek cantik disini? ucapku

iiih… ucapnya dengan menyikutku

bodoh, ndak tahu lanjutya

adanya bidadari ucapku pelan yang kemudian bersandar lagi

awwwww…. sakit tahu ucapku yang tiba-tiba saja tangan kanannya mencubit paha kiriku

Kulihat dia tersenyum tersipu, kedua tangannya disatukan untuk menyangga dahunya. Senyumnya semakin indah dengan hiasan cahaya bulan yang jatuh di wajahnya. Apakah benar dia bidadari? Ataukah mahadewi seperti lagu band lawas? Atau jangan-jangan dia adalah seorang pembunuh dan penakluk?

Ya aku sudah mengiranya dia adalah bidadari sekaligus mahadewi seperti lagu yang pernah aku dengarkan. Dia juga seorang pembunuh dan penakluk……. hatiku. Aku kembali duduk tegap disampingnya, sedikit aku menoleh ke arahnya. Ah ternyata memang benar, senyumannya adalah bius untuk hatiku dan tatapan matanya adalah pedang yang siap menghunus hatiku jika aku jauh darinya.

Jam berapa? ucapnya

Jam sembilan ucapku

owh… ucapnya sedikit menggerakan kakinya, teringat aku akan masa dimana wanita ini meminta cepat pulang. Aku kemudian bangkit dan duduk di tanah tepat dihadapannya dengan memeluk kedua kaki yang kutekuk didepanku .

ada apa? ucapku

ndak papa? Kok kamu malah duduk di bawah? ucapnya

agar kamu ndak cepet-cept pulang ucapku

Kamu itu aneh, bagaimana caraku bisa pulang coba? Kesini saja sama kamu ucapnya tersenyum

Bisa saja kamu sms taksi ucapku dengan tatapan mata datar ke arahnya

Ada apa siiiiiih ucapny sambil mentowel hidungku

Aku serasa De javu ucapku

Eh… ehem…. dia hanya tersenyum manis ke arahku

kok malah tersenyum, memangnya kamu tahu maksudku? ucapku

Ya tahulah, ndak aku ndak akan pulang sebelum kamu mengajak pulang ucapnya

Kalau pulang besok pagi? ucapku

siapa takut? ucapnya

ha ha, ndak, ntar aku dimarahi sama ibuku ucapku

Kamu itu aneh ya, seharusnya kamu takutnya sama ibu aku ucapnya

ya itu salah satunya, tapi lebih takut sama ibuku ucapku

Lho kok bisa? ucapnya

Ibu menyuruhku menjaga kamu…. ucapku

Selalu.. lanjutku dengan suara pelan dan kubenamkan

terima kasih… ucapnya yang kutahu dia mendekatkan wajahnya kearahku karena aku sedikit mengangkat wajahku dan meliriknya.

eh… sama-sama ucapku kaget ketika aku mengangkat wajahku, karena wajahnya tepat di depan wajahku. Lama sekali aku memandang wajahnya, baru kali ini wajah bidadari sangat dekat dengan wajahku.

yan, aku…. ucapku tertahan, ingin rasanya aku meneruskan kata-kataku namun semuanya tertahan. Lidahku seakan-akan terpaku di dalam mulutku

Apa? bisiknya pelan namun terdengar, hening sesaat. Tatapan mata kami saling beradu, hembusan angin malam menemani kami berdua

eeeeeee…. grogi, terperangah akan kecantikan bidadari ini

kamu mau bilang, kalau aku suka sama aku? Iya kan? ucapnya tiba-tiba, seketika itu aku terkejut dan ketika hendak menganggukan kepala tangan kanannya mencubit pipi kiriku

ada mahasiswa suka sama dosennya ni hi hi hi

ndak level ah hi hi hi ucapnya dengan senyum mengejek

Siapa juga yang suka sama dosen weeeeeek…. ucapku lalu menjulurkan lidah ke arahnya

terus mau bilang apa? desaknya

itu rambut sering disisir, terus lipstiknya jangan ketebalan balasku sambil berdiri dan menepuk-nepuk pantatku membersihkan tanah yang menempel

ih! serunya dengan menonjokan pukulan ringan ke perutku, dia langsung berdiri dihadapanku dengan kepala mendongak ke atas dan kedua tangan berpinggang, maklum diakan lebih pendek dariku.

Apa? Berani membalas? ucapnya seakan-akan membiusku.

Sial baru kali ini ada wanita yang membuatku kaku seperti ini ucap bathin ini dengan tatapan mata kearahnya tanpa sedetik pun aku melepaskan pandangan ini.

awwwwwwwwwwwwww….sakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit teriakku yang tidak sadar dia sudah menggigit lengan kananku, dia langsung berlari menjauhiku

preman di gigit kok sakit weeeeeeeeeeeek ledeknya

awas kamu ya! ucapku sembari berlari mengejarnya

Walau aku bisa mengejarnya dan menangkapnya, aku tetap saja tidak ingin melakukannya. Tak ingin momen indah kejar-kejaran ini terlewatkan begitu saja. Kami tertawa dan saling melontarkan ejekan.

eits ndak kena, ndak kena ucapnya yang berhasil menghindariku

awas ya! ucapku

Seperti anak kecil yang berlari dan beramin tangkap-tangkapan. Seperti dua bocah yang tak pernah ingin mengakhiri permainanan. Namun nafasnya tak seperti ketika masih kecil yang selalu bertambah kuat setiap kali teman mainnya mendekat. Dan…

kena kamu! ucapku dengan kedua tangan memeluk perutnya dari belakang

Bidadari ini hanya diam ketika kedua tangan ini memeluk perutnya semakin erat. tubuhnya secara perlahan bersandar ke tubuhku. Kedua tangannya kemudian menggenggam tanganku. Hangat, begitu hangat membuat perasaan ini semakin nyaman.

Indah ya bulannya? ucapnya pelan dengan pandangan matanya ke arah purnama itu

iya.. ucapku yang tanpa aku sadari aku memeluknya dan menghadap ke bulan

Perlahan kepalanya mulai bersandar di leherku, dan kemudian pipinya rebah di bahu kananku. Leher kananya terlihat sangat indah. Semakin kaku tubuh ini, semakin tak bisa melepaskan pelukan ini. kuarahkan bola mataku kebawah matanya mulai terpejam.

Tubuhnya perlahan mulai bergoyang, tangan kanannya meraih belakang kepalaku agar menunduk dan bibirku rebah di leher kanannya. Tak berani aku mengecupnya, tak berani aku menciumnya terlalu indah, terlalu indah. Momen ini berlalu sangat lama, bahkan lelah tubuh ini menyangga tubuhnya pun tak terasa. Setelah lama dalam posisi ini, dia kemudian berbalik dan memandangku.

Terima kasih…ucapnya dengan tatapan mata yang menyipit dan senyuman di bibirnya

heg… semakin terbuai aku

Tubuhnya melekat di tubuhku, tangannya melingkar di hingga di belakang punggungku. Hangat dan erat aku rasakan, kedua tangan ini kemudian melingkar di punggungnya. Kepalaku menunduk, bibir ini tepat di kepalanya. Aroma wangi rambutnya, aroma wangi parfum dari tubuhnya menusuk hidungku.

Jaga aku ya… ucapnya pelan

ya… balasku

terima kasih… ucapnya

aku… ucapku tertahan

Apa?! Mau bilang suka sama aku? Sayang sama aku ya? ucapnya tiba-tiba saja mendongakan kepala dan memandangku dengan wajah mengejeknya

eh… i… ucapku tertahan

mahasiswa kok bilang sayang sama dosen weeeeeeeeeeeeek… iiiiiiiiiiiiih ucapnya mengejek dan membetet hidungku

aduh sakit tahu ucapku

sakit ya sakit, tapi kok tanganya ndak lepas? ucapnya

Eh… maaf ucapku langsung aku tarik kedua tanganku

hi hi hi… pulang yuk dah malam ar ucapnya dan tersenyum ke arahku

Iya… jawabku tersenyum kepadanya

Dengan ditemani cahaya purnama, aku menagntarnya pulang. Pelukan erat tubuhnya di belakangku semakinn membuat revia berjalan perlahan. Tak ada sepatah katapun terucap dari bibirnya, dan tak ada sepatah kata pun keluar dari bibirku.

Kami berdua tahu, momen ini adalah momen indah tak salah kan jika harus diam? Laju REVIA semakin mendekat ke rumahnya, tapi ketika melewati pos satpam dia melepaskan pelukannya. Setelahnya? Semakin erat saja pelukan tubuhnya.

Terimakasih malam ini, cup… ucapnya sembari memberikan kecupan di pipi kananku

iya sama-sama… ucapku

Aku pulang dulu dian lanjutku

iya hati-hati… balasnya

Kuputar balik motorku, kulihat di masih berdiri melihatku dari kaca spion. Ingin rasanya aku tidak pulang danb tetap bersamanya malam ini. Tapi nanti kalau dia sudah menjadi istriku, ngimpi kali yeee he he he.

Dengan hati berbunga-bunga aku pulang kerumah. Dalam perjalanan aku mendapati mobil yang tidak asing lagi, Ayah. Segera ku arahkan motorku membuntutinya hingga mobil itu berhenti dan dengan jarak yang jauh aku turun.

Kulihat Ayah turun dan pintu depan terbuka, om nico. Beberapa saat kemudian seorang wanita yang tak asing lagi bagiku, tante war dari pintu belakang turun dengan pakaian yang sangat seksi. Di taman itu, setidaknya ada 3 orang pemuda yang sedang nongkrong. Dan… tak tega rasanya aku menceritakannya.

Bersambung