Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 45

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65
Part 66Part 67Part 68Part 69Part 70
Part 71Part 72Part 73Part 74Part 75
Part 76Part 77Part 78Part 79Part 80
Part 81Part 82Part 83Part 84Part 85
Part 86Part 87Part 88Part 89Part 90
Part 91Part 92Part 93Part 94Part 95
Part 96Part 97Part 98Part 99Part 100
Part 101Part 102Part 103Tamat

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 45 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 44

Wanita? tanyakan pada wanita apa mau mereka. Tak ada yang mengerti tentang keinginan mereka. Coba saja mungkin dari sekian banyak laki-laki ada yang mengalami hal yang aneh ketika berhadapan dengan seorang wanita. Wanita itu indah, coba saja buka pakaiannya pasti indah, lha wong tidak dibuka saja kadang sangat indah apalagi dibuka.

Wanita kadang sulit dipahami, itulah dia makannya wanita itu misterius tapi kalau sudah ada maunya harus dituruti. Benteng pertahanan laki-laki adalah wanita dan senjata paling mematikan untuk laki-laki adalah wanita.

Coba lihat saja sejarah-sejarah, contohnya saja Napoleon bertekuk lutut dihadapan Cleopatra, padahal Napoleon bisa saja menaklukan semua wanita di Prancis. Satu laki-laki bisa menaklukan banyak perempuan tapi satu laki-laki itu juga pasti takluk terhadap satu perempuan.

Lihat saja, laki-laki bujang nyari uang banyak akhirnya untuk nikah dan untuk semua wanitanya. Seandainya uangnya kebanyakan pasti buat beli mobil seporet, rumah mewah, motor keLen tapi apa hanya dengan itu saja hidup laki-laki lengkap? Pasti harus ada wanita kalau ndak istri ya cewek seksi yang ikut nunggangi mobil seporet, menghiasi rumah mewah, dan juga meluk si laki-laki ketika ngendarai motor kerennya.

Hidup laki-laki ndak akan lengkap tanpa wanita, namanya juga HP butuh flip cover-lah. ah bodoh ah, itu hanya pendapatku saja jadi jangan di bahas lagi, pendapat yang tidak ada relevansinya sama sekali, tidak signifikan.

Terus kenapa aku harus mengutarakan pendapatku? Arya… arya… bikin bingung saja. Tapi, kenapa wanita susah dimengerti? Contohnya saja laki-laki ketemu sama ceweknya yang lagi ngambek gara-gara menstruasi atau habis dimarahi ortu atau dimarahi dosen.

Cowok : sayang kenapa?

Cewek : ndak papa!

Cowok : cerita sama aku dong sayang, mungkin bisa meringankan beban pikiranmu

Cewek : aku bilang ndak papa ya ndak papa, kamu itu malah bikin bete

Cowok : maaf sayang, aku Cuma pengen kamu tersenyum

Cewek : yang bikin aku ndak bisa senyum itu kamu selalu tanya-tanya terus

Cowok : iya deh, aku diem sekarang

Cowok kemudian diam tak berani bertanya kepada si cewek

Cewek : kamu itu gimana to? Malah diem! Aku tuh lagi sedih habis dimarahi Ibu tadi, bukannya menghibur malah diem saja, dasar nyebelin! Ndak peka!

Cowok hanya mampu bengong seperti di tengah laut, ketimpa pesawat jet, di sapu ombak, di tabrak titanik, kebentur karang, diseret hiu, di setrum ubur-ubur, dilahap paus kemudian disemburkan keluar, terombang ambing lagi ditengah laut dan terakhir dihantam meteor!

Nah loh! Gimana coba kalau begitu? Apa coba yang harus aku lakukan? Mengungkapkan perasaanku sama dosen judes itu? Iya kalau suka, kalau ndak? Dari percakapan tadi, jujur saja aku menangkap sinyal kalau dia suka sama aku, tapi candaanya di belakang bikin ngedrop saja.

Kembali memulai dari awal lagi? Emang kaset diputer ulang? Udah nancepin paku di kayu kamu cabut, ya jelaslah ada lubangnya. Kalau mau tutupin itu lubang, dia yang harusnya nutupin bukannya aku yang harus mengungkapkan kan? Emang aku cowok apapun? Dasar dosen judes!

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, memang seharusnya aku yang ngomong duluan ke Bu Dian. Tapi dia mintanya semuanya diperbaiki dulu dari awal. Memang Nagasaki dan Hirosima, habis di bom atom langsung dibangun lagi.

Iya sich dibangun lagi, tapi coba lihat imbas radiasi nuklir yang mengenai orang-orang disekitarnya. Gen mereka berubah, bayi dalam kandungan lahir cacat, yang masih hidup tidak bisa menikah karena gen sudah berubah ditakutkan anak yang lahir dari pernikahannya cacat permanen.

Bangunan memang bisa dibangun lagi woi! Tapi efek yang ditimbulkan sulit untuk diperbaiki woi! Dosen judes woi! Aku memang suka sama kamu, tapi kamunya itu judes, jutek minta ampun! Dian judes, dian jutek, dian jelek, dian jengkelin, dian dian dian dian dian kamu cantik aku suka. Argh!

Pagi menjelang, aku beranjak dari tempat tidurku. Tak ada yang dapat aku lakukan hari ini, karena harus menunggu teman sekampusku selesai PPL. Ya aku jurusan murni dan jurusan pendidikan biasanya harus menyelsaikan PPL-nya terlebih dahulu. KKN akan dimula secara bersamaan ya anak murni ya anak pendidikan. Untuk hari ini biasa setor cerita sama Ibu, biasa di ruang TV. Ayah? Kerjalah dinas ke lokalisasi mungkin.

hi hi hi… berarti hmmmm…. ucap Ibu

Apa bu? ucapku

Kamu jatahnya dikurangi ya sayang? ucap Ibu

lho kok begitu? ucapku

Sekarang ini kamu kan sedang memulai dari awal, jadi satu minggu sekali saja sama ibu ya? ucap Ibu dengan tersenyum

kan aku pengennya setiap hari ucapku

Iya kalau kamu ndak lagi pdkt sama cewek, lha ini kan kamu lagi pdkt sama dian. Dia suka lho sama kamu, dan Ibu juga sukaa sama dian hi hi hi ucap ibu

Cewek judes sekaligus membingungkan kaya gitu di pdkt-in bu bu ucapku

tapi kamu suka kan? ucap Ibu

suka sih suka, tapi kalau membayangkan dia jadi pacar atau istri aku, hancur duniaku ucapku

Cup cup cup… ucap Ibu

pengen? ucap Ibu

Heem… ucapku

besok lusa saja ya, nunggu isinya penuh lagi hi hi hi ucap ibu

yah, ibu kok gitu, kan pengen ucapku

kan ada erlina ucap ibu

lebih baik aku dirumah saja bu ucapku

Tapi jangan perkosa ibu, kalau kamu maksa ibu ndak akan ada untuk hari selanjutnya. Dan tidak boleh merangsang ibu, awas! Kalau hari ini, itu masuk ke dalam ibu, selesai! ucap dengan sedikit membentak. Seketika itu pula dedek arya menciut memilih untuk bertekuk lutu kepada vaginawatinya

iya bu iya… arya janji ibuku sayang dindaku sayang ucapku

nah begitu sayang cup ucap ibu dengan kecupan di bibirku. Ibu kemudian meninggalkan aku sendiri di ruang TV. centung. BBM. Bu Dian

From : Bu Dian
Hai, arya yang cemburu sama dosennya
(Ergh sok akrab ni si judes!)

To : Bu Dian
Maaf, arya sedang main keluar
Dia tidak bisa diganggu

From : Bu Dian
Ngambek ar?

To : Bu Dian
Ndak level ngambek sama dosen bu?

From : Bu Dian
Kok bu?

To : Bu Dian
Lha kan situ ibu-ibu?

From : Bu Dian
Huh! Aku belum punya anak tahu

To : Bu Dian
Ya kali saja sudah punya, terus dititipin sama mertuanya

From : Bu Dian
Kamu itu, huh!

To : Bu Dian
He he he

From : Bu Dian
Besok bimbingan, satu minggu satu kali bimbingan
Sambil menunggu KKN, jam 9 ingat, jam 9!

To : Bu Dian
Tapi bu, kan ini masih libur, istirahat dulu lah bu

From : Bu Dian
Ndak ada tapi-tapian,Atau ndak aku ACC TA kamu

To : Bu Dian
Iya, bu iya akan saya jalankan

From : Bu Dian
Bagus, mahasiswa itu nurut sama dosennya

To : Bu Dian
Iya bu iya, saya nurut

Bener-bener memang ini dosen, kalau saja semalam ibu ndak dateng. Pasti dia ndak bakal sok akrab sama aku, dan aku bakal lebih enjoy lagi hari ini. enjoy dengan ibu, kentang banget hari ini. hufttt…. tiba-tiba

Ibu apaan sih, kembalikan bu ucapku meminta Smartphoneku yang di rebut ibu

Anak baik diam! ucap ibu, seakan dihipnotis aku diam

ihirrrr… akrab sama dosennya ya ucap Ibu

Akrab apaan bu? Judes kaya gitu di akrabin ucapku sinis

Ya sudah, jangan ngambek gitu, kalau ngambek gitu tandanya kamu itu sayang, cinta sama dian ucap Ibu

ah ibu, bikin bete saja ucapku sambil bangkit mencoba meraih kembali Smartphoneku

eit ndak bisa-ndak bisa ha ha ha ucap ibu sambil berlari menjauhiku

Aku berlari mengejar ibu di dapur, layaknya adik dan kakak kami main kejar-kejaran. Senyum mengembang, tawa meledak diantara kami. seakan-akan tak pernah ada kejadian buruk terjadi diantara kami. aku melihatnya seperti halnya seorang anak melihat seorang ibu.

Hingga aku bisa memeluk ibu dan meraih kembali Smartphoneku. Ibu kemudian membetet hidungku dengan gemas, aku hanya menjulurkan lidahku ke arah ibu. setelah lelah bermain kejar-kejaran di dalam rumah, aku dan ibu beristirahat di ruang TV kembali. Kebahagiaan terpancar di wajah kamu berdua. Kepalaku rebah di paha Ibu dan ibu membersihkan telingaku.

iiih jorok banget, masa ada tempat pembuangan sampah di telinga? ucap Ibu

Yeee… itu bukan tempat pembuangan sampah bu, tapi rest area buat kotoran ucapku

emang mau mudik, pakai rest area segala hi hi hi ucapnya

paling bu, kotorannya lagi mudik ke telingaku nanti kalau arus balik paling hilang sendiri he he he balasku

kamu itu jorok ucap Ibu

makanya bu dibersihin doooong balasku, tiba-tiba

aw… Ibu apaan sih? protesku yang tiba-tiba tangan ibu meremas dedek arya

Lho kok tidur, padahal ibu sudah nempel-nempelin susu ibu dikepalamu lho ucap ibu menggodaku

jangan-jangan kamu… sudah ndak suka perempuan??? lanjutnya

ndak tahu bu, seneng saja hari ini bisa bercanda dan tidak melulu membicarakan masalah berbau ex ex ex ucapku

Berarti kita mendekati kehidupan normal lagi sayang ehemmm… ucap ibu santai

mungkin bu, tapi bu… ucapku

We will back to normal, dear ucap Ibuku, aku hanya tersenyum dengan pandangan ke arah TV

After hes gone ucapku

Yupz thats right ucap Ibu

Kami bercanda seperti biasanya, tak ada dalam pikiranku untuk menghunuskan dedek arya ke dalam tubuh ibu. Entah kenapa kali ini tampak berbeda, apakah karena pertemuan semalam dengan bu dian? Padahal jika aku memutar balikan waktu, seminggu yang lalu kami melakukannya dengan sangat ganas di dekat ayah.

Namun kali ini aku merasakan hal yan berbeda. Mungkin memang adanya bu dian merubah segalanya. Aku pun terlelap dalam pangkuan ibuku hingga siang hari. Tepat pukul 13:00 aku bangun dan tak kudapati ibu di sofa. Aku kemudian bangkit dan kembali ke kamar, kulihat ibu sedang membersihkan pekarangan rumah.

Selepasnya aku berganti pakaian, ingin rasanya keluar main. Aku turun dan menghampiri ibu di pekarangan belakang rumah.

Aku mau main ke wongso bu ucapku sambil mencium pipinya

Iya hati-hati ucap Ibu

Ingat, ndak usah main-main lagi sama cewek lho, kasihan tuh yang didalem bisa pingsan tujuh turunan ucap Ibu

yee ibu bisa saja, aku berangkat dulu bu ucapku

Iya sayang, hati-hati pelan-pelan saja bawa motornya ucap ibu

oke ibu ucapku

Dengan REVIA aku kembali ke jalanan daerahku. Kuhirup udara panas di daerahku yang bercampur dengan karbon dioksida dan karbon monoksida serta sedikit oksigen. Sudah jelaskan kenapa sekarang udara menjadi kotor? Banyak pohon yang ditebangi, industri dimana-mana menggusur zona hijau..

Ditambah lagi makin banyaknya motor dan mobil yang berlalu lalang, memang sih ndak bisa disalahkan karena kita semua butuh transportasi yang memadai. Lama aku mengendarai motor, hingga akhirnya aku sampai di dekat warung wongso.

Kulhat mobil yang tidak asing lagi bagiku, tapi sayang ingatanku buruk. Kuparkir motorku di depan warung wongso dan masuk ke dalam tanpa menoleh ke kanan dan kekiri.

Kulonuwun (permisi) teriakku dan semua pelanggan menoleh ke arahku

O… lha wong edan (orang gila) pelan kenapa? memangnya di goa, teriak-teriak ucap wongso

Ya menawane (mungkin saja) kamu budeg wong ucapku

Lihat telingaku masih normal ucap wongso sambil memperlihatkan telinganya

Iya itu, dasar orang katrok! ucap seorang wanita di belakangku, aku menoleh ke arah belakang

Huh, mau katrok atau ndak, bukan urusan situ kali ucapku, wongso hanya bengong melihat perdebatan kami

Ya memang bukan urusan aku, tapi mbok yaho tahu sopan santun kenapa, dasar preman takut setan ucap Bu Dian, aku tak menggubris kata-kata dari si judes ini

Bue (ibu)… lama tak jumpa bu ucapku sambil menghampiri ibunya wongso, segera aku mencium tangan ibunya wongso. Disitu juga ada asmi yang sedang membantu ibunya wongso berjualan.

Lho As, ndak kuliah? ucapku

Kan habis PKL Ar, kamu sendiri? ucap asmi

sama saja, habis PKL, seneng deh PKL sudah selesai, nilai sudah keluar dan juga ndak perlu ketemu DE-PE-EL ku lagi, seneng bangeeeeeeeeeet rasanya ndak ketemu DE-PE-EL ku lagi As ucapku dengan suara menekan pada kata DPL

Lho ar, DPL kamu itu kan… kan… kan…. ucap wongso yang aku lihat menggerakan bola matanya ke arah bu dian

ada apa kamu wong? DE-PE-EL-ku itu kan dah ndak ada urusan sama aku lagi ucapku

Enak saja, aku bisa rubah nilai kamu sekarang juga! Huh! ucap bu dian yang sekarang tampak lebih judes, tanpa menghiraukannya aku langsung ambil makanan

makan dulu ahhhhh… ucapku santai. Wongso, asmi dan ibunya wongso tampak terheran-heran melihat sikap kami berdua.

Aku makan di teras rumah kamu saja wong, takut makan disini, ada yang nggigit nanti ucapku langsung ngeloyor ke belakang warung. Belakang warung wongso adalah rumahnya.

Arya! teriak bu dian membuat seisi warung bengong, tapi aku tidak menggubrisnya sama sekali

Aku kini duduk di teras rumah wongso. Wongso kemudian menyusulku begitupula asmi, diikuti bu dian dengan wajah judes dan wajah jengkelnya. Wongso kemudian duduk di sebelahku, Asmi duduk bersebelahan di hadapanku dan wongso.

Ngomong apa kamu tadi hm! ucap bu dian yang berdiri di kananku sambil memegang tangan kananku

bu ini aku lagi makan bu, ndak boleh diganggu ucapku yang tadinya mulutku sudah siap melahap makanan disendok yang aku angkat

tadi kamu bilang apa? Siapa yang ngegigit kamu?! ucap bu dian

lha ibu merasa mau menggigit tidak? ucapku santai

Tidak! ucapnya

Ya sudah ibu tenang, duduk, dan nikmati hidangan di warung ibunya wongso, bereskan ucapku dengan suara datar dan diplomatis

Awwwww….. teriakku, kaget karena tiba-tiba tanganku digigit bu dian dan semua makanan di sendokku tumpah

Rasain! ucapnya judes yang kemudian duduk di sebelah asmi

Sebentar, sebentar ada apa dengan bu dian dan kamu ar? Kok sekarang tampak berbeda? ucap wongso

Heem kok akrab banget sekarang? ucap asmi

Akrab sama dosenku ini, ndak lah, kasihan dosennya, mahsiswanya kan bukan levelnya dosen ucapku sambil makan

Orang seperti arya jangan di akrab-i, bisa-bisa makanan sewarung habis nanti wong ucap Bu dian yang tampak mulai bisa membaur dengan wongso dan asmi

Ada apa to bu? ucap asmi

Tanya saja sama mahasiswa yang suka bohongin cewek ucap bu dian

Eh, bu kok aku pembohong? ucapku, pandangan wongso dan asmi ke arahku

Iyalah, nyatanya, yang kamu akui sebagai pacar bukan pacar kamu kan? ucapnya, pandangan wongso dan asmi ke arah bu dian

Yeee… kapan saya mengakui kalau saya punya pacar, coba diingat-ingat lagi, kapan saya melakukan klaim kalau aku punya pacar? ucapku pandangan wongso dan asmi ke arahku

Eh… ya pokoknya kamu bohong sama aku ucap bu dian dengan wajah cemberutnya namun tetap cantik, dan pandangan wongso dan asmi ke arah bu dian

Dosen sukanya kok ngeles, kasihan mahasiswanya kalau begitu itu, ndak valid ucapku, kini pandangan wongso dan asmi kembali ke arahku

Emang penelitian, pakai valid segala ucapnya, kembali lagi pandangan wongso dan asmi ke arah bu dian

ya kan mahasiswa butuh pembelajaran yang valid, kalau yang disampaikan dosen ndak valid bagaimana nasib mereka di dunia kerja ucapku, lagi pandangan wongso dan asmi ke arahku

Dasar Mahasiswa ndak tahu terima kasih ucap bu dian, dan lagi pandangan wongso dan asmi ke arah bu dian

Sudah-sudah tenang, bisa kita bicarakan pelan-pelan kan? ucap wongso

Bu dian, biarkan arya makan dulu

Ar, jangan diteruskan lagi ndak baik makan sambil berbicara ucap asmi

Kulihat wongso hanya menaikan bahunya ketika memandang asmi. Begitupula asmi, entah kenapa hubunganku dengan bu dian malah seperti musuh besar ketika bertemu. Sekalipun begitu. Aku sering mencuri-curi pandang ke arah bu dian. Kadang pandangan kami bertemu dan kami saling melempar senyum.

Sudah selesaiiiii… nyam… kenyaaaaang ucapku

Bayar dulu tuh ucap bu dian

Ya jelaslah, aku kan punya uang ucapku santai

Kirain mau hutang ucap bu dian

Kembali wongso dan asmi hanya geleng-geleng kepala dengan pertengkaran kami. tak ada satupun dari mereka yang bisa menyela pertengkaran kami.

MANDEK MANDEK! Wis tuo kok yo do padu wae (BERHENTI BERHENTI! Sudah tua kok ya adu mulut terus) ucap ibunya wongso yang datang tiba-tiba dan mendaratkan jeweran di telingaku

Bu dian, maafkan arya ya, arya memang sukanya kalau berbicara suka kelepasan ucap ibunya wongso ke bu dian

Oh iya bu ndak papa, ya saya sudah tahu kalau arya itu seperti itu ucap bu dian

Eh.. ndak.. ucapku terpotong karena tangan wongso membekap mulutku

Ar, kalau kamu adu mulut lagi, ibu suruh kamu nyuci piring sampai malam nanti ucap ibunya wongso dan membuatku tidak berkutik sama sekali

Kulihat Bu Dian tersenyum manis, dan kemudian tertawa yang tertutup oleh tangan kananku. Aku tahu jika dia sedang menertawakanku. Aku hanya diam, membuang muka namun mata ini tak sanggup jika tidak meliriknya sebentar saja.

Mungkin seperti lagu lama yang di aransemen ulang oleh MUSE, cant take my eyes off you. Wajahnya, senyumnya, judesnya, juteknya, jengkelinnya membuat perasaanku menjadi satu. Apa itu? Kalian pasti sudah tahu. Akhirnya aku tidak berani lagi mendebat atau mengejek bu dian, kami berempat berbincang sederhana. Hingga akhirnya bu dian pulang.

Ar, jangan lupa besok bimbingan ucap bu dian

iya bu, besok akan saya bawakan TA saya ke ibu ucapku

Ya sudah, wong, as aku pulang dulu ucapnya yang kemudian masuk ke warung dan pamitan kepada ibu wongso. Asmi kemudian kembali lagi ke warung membantu ibu wongso. Dengan dunhill bersamaku dan wongso kami duduk bersama di depan rumahnya

Kemarin saja kamu formal sama bu dian, sekarang kok kaya anjing sama kucing? ucap wongso

Ndak tahulah wong, aku juga bingung sama itu cewek ucapku

kamu suka sama dia kan ar? ucapnya, dan aku hanya mengangguk

Ya sudah, dekati saja kenapa ambil pusing ucapnya

bukannya ambil pusing, dia dosen dan sudah kerja, lagian dia sudah bilang sama aku kalau aku bukan levelnya ucapku

di mulut kan ar? Bukan di hatinya ucapnya

maksudmu? ucapku

Iya dia bilangnya di mulutnya saja kan, kalau dilihat dari sikapnya, kelihatannya hatinya menginginkan sang pangeran ini ha ha ha ucapnya

bodoh ah, pusing, mending mikir kapan cepet lulus

Lha kamu, sekarang kuliah ikut adik tingkat? ucapku

Ya iyalah, kan aku cuti satu tahun ar ucapnya

Perbincangan demi perbincangan menemani kami hingga malam. Seperti biasa, ketika warung ramai aku jug aikut membantu kalau warung lenggang aku dan wongso kembali mengobrol. Hingga warung wongso tutup dan wongso mulai mengantar asmi pulang akupun juga ikut angkat kaki dari warung wongso.

Sesampainya dirumah, aku melihat ibu di depan TV senyumnya masih tetap sama. Kami bercanda bersama. Tiba-tiba…

akukan sudah bilang, Pokoknya kita berempat saja, buku bisa hancurkan kita

setelah kita berempat bertemu, kita akan singkirkan buku

Aku dan ibu berpandangan mendengar teriakan keras ayah dari pekarangan rumah. Ibu kemudian menyilangkan jari telunjuknya di bibirnya. Aku hanya diam sejenak dan mulai mendengarkan percakapan ayah. Namun, percakapan berikutnya tidak membahas mengenai penyingkiran buku.

Tenang saja, buku tidak bakalan tahu, kita akan bagi menjadi empat saja, nanti aku atur

Kamu tenang saja reng, kamu ndak usah takut kaya ngelihat setan saja kamu itu

Setelahnya Ayah menutup telepon dan beranjak dari pekarangan rumah. Ayah menyapaku seperlunya saja dan kemudian masuk kamar, tidur. Ibu membisikan kepadaku untuk segera istirahat dan tidak membahas apa yang baru saja didengar.

Karena jika membahas sekarang Ayah bisa saja tahu mengenasi aku sebagai pemegang Smartphone KS. Aku akhirnya kembali ke kamarku, ku buka Smartphoneku dan tak ada pesan BBM. Email om nico juga nihil. Aku kemudian beristirahat menanti pagi.

Pagi menjelang, aku pun segera beranjak dari tempat ternyaman di seluruh dunia. Ku lipat selimut putih yang tebal pemberian Ibu dan kurapikan hamparan sprei agar terlihat lebih rapi. Segera aku melakukan aktifitasku seperti biasa, hingga aku berkumpul di meja makan bersama keluarga.

Ayah, Ibu dan aku, indah bukan. Indah, dari penglihatan semua yang memandang walau sebenarnya banyak misteri yang tersembunyi di dalamnya. Seperti kedondong, halus namun rasanya masam di dalamnya. Mungkin aku akan memilih durian, walau dari luar tampak buruk tapi di dalamnya manis dan banyak yang mencari.

Ngeeeeeeeeeeeeeeeng… sekarang aku sudah berada di atas si bodi montok REVIA. Melaju dengan kecepatan optimum, dimana semua motor menyalipku dengan mudahnya. Kunikmati putaran demi putaran roda menuju kampus tercintaku.

Akhirnya dengan iringan hembusan angin pagi aku sampai di kampusku tepat pukul setengah sembilan pagi. Segera aku melangkah cepat menuj jurusan dimana seorang wanita cantik nan judes sudah menungguku disana.

Mas, Arya! teriak pegawai TU yang aku lihat sedang mengorbol dengan seseorang di pintu masuk TU. Segera aku memindahkan halauan kakiku menuju TU dan wanita tersebut masuk ke dalam TU

Iya bu, ada apa? ucapku ketika masuk TU dan wanita itu tampak sibuk mencari sesuatu

Ini ada kiriman dari tepat mas Arya PKL ucapnya sembari menyodorkan sebuah amplop

Apa ini bu? ucapku

nilai mungkin ucapnya

Owh… ya bu terima kasih ucapku, agak sedikit bingung juga ketika mendapati amplop berisi nilai dikirimkan ke jurusan. Aneh, biasanya sudah ada nilainya ketika penarikan.

Aku melangkah keluar dan kemudian ku buka amplop tersebut. Betapa kagetnya aku melihat sepuluh uang berwarna merah sedang berpelukan di dalam amplop. Ada sebuah surat di dalamnya.

To : Arya

Makasih ya papah, itu uang lembur papah ketika analisa di lab. Bukan apa-apa lho pah Cuma uang saku dari perusahaan. Ingat pah, itu adalah uang lembur kerja di lab, bukan lembur di rumah mamah. Kalau lembur di rumah mamah, bayarannya bukan uang lho pah masalahnya kalau papah dibayar pakae uang nanti marah-marah hi hi hi. Kalau mau bayaran kerja lembur di rumah mamah, dateng saja pah kerumah, memek mamah siap kok menjadi bayarannya, asal papah sendiri saja yah yang datang hi hi hi.

Dari,

Mamah Echa muachhhhhh

Tepuk jidat akunya, hanya bisa menggeleng-geleng kepala setelah membaca surat dari mbak echa. Segera aku sobek-sobek menjadi kecil ketika tak ada orang di sekitarku, takutnya kalau ada orang yang melihat dikira lagi patah hati.

Kubuang sobekan itu ke dalam tong sampah. Masih terngiang dalam ingatanku sebuah pertempuran dahsyat di laboratorium dan rumah mbak echa, dan hanya bisa membuatku geleng-geleng kepala. Sambil mengingat aku melangkah menuju ke ruang dosen.

Tok tok tok tok….

Masuk… ucap wanita di dalam, aku pun masuk setelah suara itu menghilang

Bu Dian… ucapku

Owh, silahkan duduk ucapnya

Terima kasih bu

Maaf bu sesuai dengan instruksi dari ibu untuk bimbingan tugas akhir, ini Tugas Akhir saya mohon bimbingannya ucapku

Owh TA ya? Memang aku menginstruksikan untuk bimbingan hari ini? ucapnya

Maaf bu, kemarin yang di BBM, ibu menyuruh saya untuk bimbingan ucapku

Memang benar saya? Ada buktinya? Saya ndak merasa tuh ucap bu dian yang judesnya mulai kelihatan

maaf bu, saya tidak mungkin salah baca, ibu mengrimkan bbm ke saya untuk bimbingan dan bukti percakapan masih ada bu ucapku mencoba membela diri

Saya tidak merasa mengirimkan bbm ke kamu ar ucapnya

Eh… ya sudah saya mohon maaf, kalau begitu saya undur diri dulu dan maaf mengganggu waktu ibu ucapku sambil berdiri dan sedikit membungkukan badan. Tanganku pun bergerak meraih tumpukan kertas bertuliskan Tugas Akhir itu.

Sudah, sudah… kamu duduk lagi saja, karena kamu sudah disini ya bimbingan saja ucapnya sambil tersenyum mengejekku yang ditutupi tangan kirinya

Tidak usah saja bu, ndak enak mengganggu ibu ucapku

DU…. DUK! ucapnya sedikit membentak

I… iya bu… ucapku yang kemudian duduk dihadapanya kembali

Dasar cewek judes, jutek nyebelin seenaknya saja mempermainkan aku, belum tahu apa berapa cewek yang sudah aku lumpuhkan! Dasar coba saja kamu tahu kehebatanku, aku pasti…. bertekuk lutut dihadapanmu cantik hiks hiks hiks bathinku

Kulihat bu dian membolak-balikan tugas akhirku. Tampak wajahnya yang serius membaca tugas akhirku membuat aku terhipnotis dengan mulutku sedikit terbuka. Wajahnya, keanggunannya, kenapa baru kali ini aku bisa melihatnya?

Ar…

Ar…

Aryaaaa….. ucapnya dengan nada sedikit keras

Eh eh iya bu dian, maaf bu maaf melamun ucapku

Kenapa belum pernah lilhat cewek cantik ya? Sampek ngelamun begitu? Ngelamun apa kamu? ucapnya

Eh ndak bu ndak, hanya agak sedikit capek saja ucapku

kenapa? capek bertengkar sama cewek judes dan jutek ya kemarin di warung? ucapnya

Bukan itu bukan bu, ibu salah lihat orang mungkiin elakku

Ya ndak mungkin salah lihat… wong aku melihatnya pake mata kepala saya sendiri ucapnya

Aku hanya mampu terdiam dan menunduk. Benar-benar sial hari ini, kenapa juga kemarin aku harus bertengkar dengannya. Dia kan dosenku yang seharusnya aku hormati, tapi dia wanita yang buat aku bingung. Benar-benar sial yang aku rasakan, tak berani aku melihat apalagi memandangnya. Hanya melihat kedua pahaku sendiri yang berbalutkan celana jeans.

Kenapa diam? Kok ndak kaya kemarin, menggebu-gebu bales setiap omonganku? ucapnya dan aku hanya diam saja

Ini TA, diperbaiki lagi, penulisan banyak yang salah. Apa ndak bisa ngetik? Masa mahasiswa S1 ndak bisa ngetik? Payah! ucapnya

Iya bu maaf… akan segera saya perbaiki ucapku tanpa ada keberanian membalas omongannya

Tanganku kemudian meraih tugas akhir yang diserahkan kepadaku. Tanpa melihat wajahnya sedikit pun aku letakan tugas akhirku di atas pahaku. Suasana hening dan tak ada tegur sapa antara kami berdua.

Sudah? ucapnya

iya bu sudah terima kasih atas bimbingannya ucapku

kalau sudah tidak ada lagi, kamu bisa meninggalkan ruangan ucapnya. Namun kaki ini tidak bisa beranjak dari tempat duduk, pikiranku kacau balau entah kenapa aku tidak ingin meninggalkan tempat ini, entah mengapa aku masih ingin bersamanya

kok ndak pergi? Masih betah berhadapan sama cewek judes? ucapnya, aku hanya terdiam dan kemudian….

Maaf bu, boleh bertanya? ucapku memberanikan diri

Apa? Tanya tinggal nanya kok susah to? ucapnya

eh… terima kasih bu..mmmm ucapku terhenti

Apa? Cepetan! ucapnya dengan sejuta judes dan jutek di tiap kata-katanya

iya bu iya, sabar bu…

Ibu kalau malam minggu suka berpergian tidak? ucapku

Memang apa urusan kamu? ucapnya

Maaf bu saya hanya tanya, kalau menyinggung perasaan ibu, saya mohon maaf ucapku

ndak, kalau malam minggu dirumah saja, memang kenapa?! ucapnya

ini bu saya dapat uang saku dari perusahaan, kalau ibu berkenan saya ingin mengajak makan malam ucapku semakin berani

oh…. hanya itu yang aku dengar darinya dan tak ada lanjutan

Sudah dulu, aku mau mengajar sudah ditunggu mahasiswa-mahasiswaku yang ganteng-ganteng ucapnya sambil berdiri dan membawa buku yang dipeluknya

Eh… iya bu maaf, kalau tadi saya lancang ucapku sambil memandang bu dian melangkah mendekari pintu

Klek… suara daun pintu

Jam setengan delapan aku tunggu, dirumah ucapnya tanpa memandangku dan langsung melangkah pergi

YES! teriakku sedikit keras

SSStttt.. diam, ini jurusan ucapnya yang tiba-tiba membuka pintu

Eh… maaf bu ucapku kembali tertunduk

Dalam heningku aku hanya bisa tersenyum dan masih duduk di ruangan dosenku ini. kudengar suara langkah kakinya menjauh diiringi tawa cekikikan. Aku pun sedikit tersenyum dengan tingkahku dihadapannya.

Aku kemudian bangkit dan berjalan menuju tempat parkir. Biasanya siang-siang seperti ini aku makan bersama dengan Rahman, tapi dia masih PKL dan selesainya 3 hari sebelum pemberangkatan PKL.

Sampai dirumah aku bercerita kepada ibuku mengenai sikap bu dian. Ibu hanya tertawa dan menertawakanku berkali-kali. Ibu heran kepadaku kenapa aku bisa seberaninya seperti hari ini. ibu semakin menertawakanku ketika aku bercerita kejadian di warung wongso.

Aku semakin jengkel dengan sikap ibu yang menertawakanku, bukan jengkel karena marah tapi jengkel karena ditertawakan terus-terusan. Ibu hanya menyarankan kepadaku agar aku lebih memakai perasaan ketika bertemu dengan bu dian. Ya mungkin itu yang akan aku aplikasikan besok malam minggu.

bu… boleh? ucapku sambil memeluknya dan mengusap-usapkan kepalaku di susunya

yeee… ndak dulu sayang, kan minggu kemarin sudah rapel banyak sekali, setiap hari lagi ucap ibu

ya kan, kemarin ibu sendiri yang kasih ucapku

hi hi hi selama kamu pdkt pokoknya kamu harus bisa mengalihkan perhatian kamu dari ini ucap ibu sambil menunjuk susunya

kenapa? ucapku

Agar kamu bisa lebih fokus lagi, ndak selengekan kaya gini, okay dear? ucap ibu sambil tersenyum manis kepadaku. Aku pun tersenyum melihat kesungguhan ibu yang mendukungku

Okay mom ucapku

Hari berganti waktupun berlalu, tak ada kesibukan yang berarti bagiku. Hanya membenarkan beberapa kesalahan di tugas akhirku. Akhirnya Malam minggu tiba, aku kemudian bersiap menuju ke rumah bu dian.

Tampak Ibu dengan mengepalkan tangannya keatas, dengan senyum manisnya yang khas memberiku semangat. Dengan aroma wangi parfum KAPAK aku menuju kerumah bu dian. Sesampainya disana, baru saja motorku bernti tiba-tiba pintu gerbang rumahnya terbuka.

Ndak usah dimatikan ucapnya sambil mengunci pintu gerbang rumahnya.

Setelahnya bu dian langsung melangkah ke arahku, tanpa bicara bu dian langsung membonceng di belakangku. Aku hanya diam melihatnya takjub dengan keindahan wanita yang baru saja melintas dihadapanku yang sekarnag sudah dibelakangku.

Bagaimana tidak? Wanita dengan pakaian yang menutupi sikunya, tidak ketat hanya saja memperlihatkan dada yang membusung tapi tanpa ada belahan dada pada pakaian yang dikenakannya. Pada bagian perutnya pakaiannya tampak sangat longgar tidak sedikitpun memperlihatkan bentuk perutnya.

Bagian bawah dihiasi oleh celana jeans legging dengan sepatu karet hitam, mungkin sepatu karet maklumlah malam hari tidak begitu jelas. Dengan helm putihnya menghiasi kepalanya. Ya begitulah ciri-ciri wanita yang baru saja melintas di hadapanku, sekarang? Sudah aku bilang di belakangku kan tadi?

Ayo jalan, malah bengong ucapnya

Eh… iya bu ucapku

Sekali lagi kamu panggil aku dengan kata bu atau mbak di depan, aku turun, lebih baik tidur saja drumah ucapnya

Eh.. iya bu eh mbak eh dian ucapku agak sedikit gugup entah kenapa aku merasakan hal yang sama terulang lagi seperti ketika aku pertama kali bersamanya

Jalan! ucapnya

sssssshhhhh huffffffffth…. hela nafasku mencoba menenangkan tubuhku yang seakan menggigil

iya iya… sabar, kaya naik tukang ojek saja ucapku sedikit mencoba mengakrabinya

marah niiiiih? ucapnya

Endak marah yan diaaaaan ucapku

hi hi hi hi… tawanya

kok malah ketawa? ucapku

berani sekali kamu manggil nama aku, aku itu dosen kamu lho hi hi hi ucapnya

Eh… terus gimana tadi minta dipanggil nama sekarang… argghhh bingung aku ucapku

iya iya dipanggil dian saja ndak papa mas aryaaaa ucapnya

dah ayo jalan sudah lapar nungguin kamu ni lanjutnya

Oke siap! ucapku yang langsung menarik gas ditangan kananku

Eh bentar ucapnya, membuat aku mengeram mendadak ciit…. dan dada yang membusung itu langsung menghantam punggungku

Aduh, pelan kenapa? cari kesempatan ya? ucapnya

Yeee siapa yang nyari kesempatan, kamu ngomongnya juga mendadak tadi ucapku

iiiih… sama cewek ndak mau ngalah ucapnya sambil mencubit punggungku

Adaaaaaaaaaow… iya, iya maaf ucapkku

hi hi hi, kita mau makan dimana? ucapnya

Di cafe miliknya pacarnya dira, yang dulu itu ucapku

Oke, yuk jalan ucapnya

REVIA berjalan dengan dua orang yang menunggangi, satu orang sedang dalam suasana hati yang bahagia yang satunya entahlah, namanya juga cewek susah dimengerti isi hatinya. Jalan malam aku telusuri dan akhirnya aku sampai di cafe milik eko pacar sudira alias suka jadi waria.

Bersambung