Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 44

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 44 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 43

Namun ketika hari keempat, atau tepatnya kemarin mbak ela menemui mbak echa. Mbak ela kemudian menceritakan semuanya, semua tentanng suaminya yang sering ke rumah kontrakannya. Di awal mbak echa kaget dan marah, namun kemudian mbak ela memohon untuk didengarkan terlebih dahulu.

Suami mbak echa memang selama ini selalu melakukan perjalanan dinas, namun ada satu hari dalam satu minggu tepatnya di hari ketiga atau rabu suami mbak echa ijin dinas tapi berbelok ke rumah mbak ela. Awalnya memang mbak ela mengenal suami mbak echa ketika main kerumah mbak echa, namun ternyata suami mbak echa mendekati mbak ela. Dan mbak ela jatuh dalam pelukannya.

Hingga beberapa hari ini, suami mbak echa mulai meninggalkan mbak ela. Dengan seribu alasan suami mbak echa meminta untuk menghentikan hubungan ini yang akhirnya diketahui adanya kemungkinan kepuasan bermain dengan mbak echa. Mbak ela tidak terima karena keperawanannya sudah direnggut dan ditinggalkan begitu saja.

Ya karena, mamah sayang sama mami dan mami itu partner kerja mamah, ya mamah ajak sekalian

enak kan mih? ucap mbak echa

iiih mamah ngajaknya telat sich hi hi hi ucap mbak ela, aku hanya menggeleng-geleng kepala

terus kedepannya? ucapku

Ya, aku mau berbagi sama mami kok pah, jadi biarkan suami mamah punya dua istri dan biar kelabakan dia dirumah nanti ucap mbak echa

Ternyata dibalik ke-liar-annya tersembunyi rasa belas kasihan dan persaudaraan. Sedikit aku menyesal membuatnya menjadi sedikit liar seperti ini. hanya yang aku takutkan jika mereka seliar seperti tante ima.

Mah, mih, apa kalian akan mencari laki-laki lain setelahku? ucapku

Ndak! ucap mereka serempak

kok? ucapku

sudah cukup sama papah ucap mbak echa

Iya pih ucap mbak ela

sudah saatnya kembali ke normal life lagi ucap mbak echa

iya cukup papih saja ucap mbak ela

Aku sedikit tertegun dengan ucapan mereka, normal life. Ibu, ah kenapa semuanya harus terjadi? Selang beberapa saat kami berpisah dan aku kembali kerumah. Dalam perjalanan kata-kata mbak echa dan mbak ela terngiang-ngiang di telingaku dan otakku.

Normal life? Can I? Entah aku mampu atau tidak ketika aku harus kembali ke kehidupan normalku. Sesampainya dirumah ibu hanya tersenyum melihat wajah lelahku, dan menyuruhku kembali ke kamar dan tidur.

Centung… Bu Dian

From : Bu Dian
Besok jam 8 ingat, jangan terlambat!

To : Bu Dian
Iya bu…

Hanya itu yang aku kirimkan, tak ada balasan dari Bu Dian. Aku akhirnya terlelap dalam lelahnya malam yang berselimutkan sisa kenikmatan dari dua wanita berkerudung. Tiba-tiba ibu masuk dan hanya mengecup keningku dan mengucapkan selamat malam.

Pagi hari, aktifitas seperti biasa. Ayah libur dan Ibu menyiapkan makan pagi. Kubisikan kepada Ibu kalau hari ini adalah hari terakhir PKL-ku jadi tidak perlu minuman kuat. Ibu hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.

Aku kemudian berangkat ke tempat PKL, tepat pukul 07:55 aku masuk ke ruangan mbak echa. Disana sudah ada bu dian menunggu, mereka tampak asyik bercanda. Tak ada yang istimewa dari penarikannku hari ini. cukup sedikit obrolan dari kami bertiga.

Setelah selesai, aku kemudian pamit dengan mbak echa yang tersenyum sedikit nakal ke arahku. Tak lupa aku pamit ke teman-teman QC, oh mbak ela dia juga tersenyum nakal kepadaku. Akhirnya aku pulang bersama Bu Dian diantar oleh mbak echa hingga tempat parkir. Setelahnya aku pulang, sedikit bisikan dari mbak echa.

itunya dijaga, sama dian aja pah, dia cantik lho ucap mbak echa

hadeeeehh…. ucapku dan tepuk jidat

kalian ngapain kok bisik-bisik? ucap Bu Dian

ndak ada yan, Cuma kangen saja sama arya kan sudah selesai PKL-nya hi hi hi ucap mbak echa

Ternyata kamu macari echa ya Ar? ucap Bu Dian

ndak bu ndak, ndak berani saya bu ucapku

Akhirya aku pulang, tapi ku arahkan motorku ke kosan mbak erlina. Sesampainya disana aku langsung membuka pintu kamar kos mbak erlina. Kulihat mbak erlina sedang sibuk mengetik sesuatu di laptopnya.

Ada apa? Minta jatah? ucap mbak erlina tiba-tiba dengan nada sinis

Eh… aku sedikit terkejut kemudian tersenyum manis kepadanya

jenguk mbak… ucapku yang kemudian duduk dibelakangnya. Suasana kali ini tampak lebih horor jadi aku tidak berani menyentuhnya

Ada nasi? ucapku

Ada, itu ucapnya sambil menunjuk rice cooker dikamarnya, aku kemudian berdiri dan mengambil nasi dua piring lalu kubawa ke dapur. Dengan berbekal pengetahuan yang diajarkan wongso, aku masak nasi goreng dan kemudian aku bawa ke kamar mbak erlin.

Makan dulu ucapku sambil meletakan nasi goreng di sampingnya

Iya makasih ucapnya ketus

Aku tidak meghiraukannya dan kemudian memakan habis nasi goreng. Setelahnya ku duduk di depan kamar kos mbak erlina dan menyulut dunhill. Satu bayang dunhill telah menjadi asap dan abu, tinggal filter saja yang masih utuh.

Aku pulang dulu ucapku

Ndak minta jatah? ucap mbak erlin ketus

Aku bukan koruptor ucapku yang langsung meninggalkan kamar kosnya

Jangan berlagak ucap mbak erlin yang masih bisa aku dengar, aku kemudian menoleh dan melempar senyum kearahnya

Ill keep my promise and show you that ill make him dying

And to keep my promise… i dont need your body to keep it, just your smile as my big sister ucapku yang langsung meninggalkan mbak erlina. Aku pacu motorku dan kembali kerumah.

From : erlina
Come back, ill give it to you
Maafin aku…

To : erlina
Ndak perlu minta maaf mbak
Aku sudah pernah bilangkan, kalau sebenarnya untuk membalaskan dendammu
Mbak tidak perlu memberikan milik mbak

From : erlina
Cepetan sini pokoknya

To : erlina
Aku dah di rumah mbak, capek seharian PKL

From : erlina
Sekarang pokoknya kapanpun kamu mau
Aku siap, ndak perlu satu minggu sekali, seminggu 7 kali pun ndak papa

To : erlina
Ingat mbak, no love
I see something wrong from your eyes
Istirahat dulu mbak, jangan keseringan nanti mbak jatuh cinta ma aku bagaimana? He he he

From : erlina
Itulah kamu
Tapi bukan berarti kamu tidak main ke kosku

To : erlina
Iya aku bakal main, tapi ndak harus gitu, okay?

From : erlina
Okay, but if i want it
Kamu harus kasih hi hi hi

To : erlina
Okay 🙂

Shot through the heart and your too blame, you give love a bad name. Ringtone Smartphoneku. Bu Dian

Halo bu

Ingat janji kamu?

Eh… iya bu

Besok malam, jemput aku

tidak bu, kita ketemu saja di tempat tujuan

eh… baiklah, ketemu di tempat biasa

eh dimana? Kok biasa bu?

Di taman yang waktu itu

Owhh.. yang Cuma sebentar saja itu bu disana

eh.. iya, maaf

ndak papa bu, santai saja bu, okay bu jam berapa?

jam 7

iya bu tuuuuuuut bu dian menutup telepon dan Kleeek… Ibu masuk ke kamarku.

cerita ayo… ucap ibu yang kemudian duduk di sampingku

iya ibuuuu…. ucapku. Kuceritakan kejadian di hotel, mbak erlina dan janji dengan bu dian.

hi hi hi main bertiga kamu sayang? Capek pastinyaaaaaaaaaaaaaah ucap ibu sambil mencubit jengkel

adaow sakit bu ucapku sambil mengelus-eslu tanganku

ya sudah, makan malam dulu sayang ucap Ibu

oh iya, kamu harus temui dian, pokoknya temui dia ucap ibu dengan wajagh seriusnya

iya bu…. ucapku mengiyakan

Detik berdetak, menit berjalan dan jam pun berganti. Hingga akhirnya malam pertemuan aku dengan dosen judesku menghampiri. Aku pamit kepada ibu, Ayah? Main perempuan mungkin. Hingga akhirnya aku sampai di tempat ketemuan. Aku duduk di ujung bangku taman yang panjang, dengan sekaleng minuman dan dunhill yang terbakar di tanganku.

Sudah lama? ucap seorang wanita

Eh…

Barusan bu… ucapku sambil menoleh ke asal suara itu

Perempuan dengan rambut terurai dan kaos sedikit ketatnya dihiasi celana jeans legging dan tas kecil yang menggantung di bahunya. Bu Dian, dia tampak anggun malam ini. bu dian kemudian duduk di ujung bangku yang berlawanan denganku. Jarak kami jauh, dan sesekali aku melirik ke arah bu dian.

Ar… ucapnya setelah kami berdiam diri sebentar

iya bu.. ucapku sambil menoleh dan tersenyum kepadanya

engg… kemarin nilai PKL kamu A dari perusahaan ucapnya

Owh iya bu, beruntung berarti saya bu kan jarang ada yang dapat nilai A jawabku

Enak ya PKL di tempat Echa? ucapnya

Enak bu, ya sudah ada beberapa yang kenal disana, ada dua orang adik kelasku namanya encus dan yanto bu ucapku, buat apa aku menyebutkan nama mereka

owh… rame dong disana? ucapnya

Iya.. ucapku singkat. Percakapan basa-basi ini membuatku sedikit tidak sabaran

maaf bu, boleh saya bertanya? ucapku sambil memiringkan duduku menghadap ke arahnya

Eh.. iya ucap Bu Dian, kedua tangannya diletakan di sebelah paha luarnya, dijadikan tumpuan tubuhnya. Bu dian kemudian menoleh ke arahku.

Maaf bu, sebenarnya pertemuan kita ini untuk membahas apa ya bu? Dilihat dari sudut pandang manapun kelihatannya bu dian tidak perlu bertemu dengan saya bu, karena ibu adalah dosen saya dan juga sudah mempunyai tunangan, istilah orangn dulu ora ilok (ndak bagus) bu ucapku

Eh… karena.. ucap bu Dian

apa bu? ucapku

Ayo katakan sesuatu kepadaku bu? Katakan apa yang ada didalam hati dan pikiranmu agar aku tidak selalu menebak bathinku sambil memandangnya penuh harap

ya karena, kamu mahasiswaku dan aku sebagai dosen kamu tidak ingin mahasiswaku jauh dari aku saja. Nanti dikira aku dosen killer ehem… ucapnya sambil memandang bulan tak sempurna itu

Jawaban formal yang benar-benar tidak aku sukai, ngomong saja ngapa? bathinku

Owh.. ucapku kembali duduk menghadap ke depan melihat bulan tak sempurna itu, hening sesaat

Bu, jika memang itu alasannya kita tidak perlu bertemu seperti ini, tidak enakan sama pak felix ucapku

Aku dan dia sudah selesai Ar, kenapa juga kamu merasa tidak enak dengan dia? ucapku

Aku meoleh ke arahnya dengan mulut terbuka. Seperti orang terhipnotis aku memandangnya dengan tatapan kosong

Hei biasa sajalah, kenapa kamu itu? ucapnya

Eh.. aku kembali sadar dan sedikit salah tingkah

Ya kaget saja, padahal waktu nglamar bu dian kan romantis banget ucapku sekenanya dan kembali memandang bulan tak sempurna itu

Namannya juga ndak cocok ucapnya. Suasana kembali hening dan angin kembali berbicara di sela-sela perbincangan kami berdua

Bu.. ucapku sambil kembali menoleh ke arahnya, dia hanya menjawab dengan anggukan tanpa menoleh ke arahku seakan tahu aku menoleh kearahnya. Senyumannya memandang bulan tak sempurna itu tampak bersinar

Bisa kita pulang? ucapku

Eh kenapa? ucapnya

karena sudah tidak ada yang kita bicarakan lagi ucapku

eh… masih ada ar ucapnya

Apa? Mbak diah? Iya? ucapku, dia hanya mengangguk

jika alasan ibu tidak ingin jauh dari mahasiswanya, ibu tidak perlu membahas masalah pacar mahasiswanya kan? Dan itu sangat tidak relevan dan valid, jika dianalisis secara kuantitatif (analisa berdasarkan jumlah) tidak akan ketemu bu ucapku santai dan sok kimia

sok kimia kamu itu ucapnya, aku hanya diam menunggu jawaban

Ya kan aku harus tahu, paling tidak itu tidak mengganggu TA kamu ucapnya menghindar

Malah ndak mengganggu bu, selalu ada support bu, makannya saya hampir selesai dan bisa meninggalkan univ secepatnya ucapku

Eh.. bu dian kini menundukan kepala

Lebih baik kita pulang bu, karena sudah tidak ada yang kita bicarakan lagi ucapku sedikit kesal

Masih ada ar, masih itu… aku mau minta.. ucapnya terpotong

Lho kok pada diem saja? ucap seorang wanita dari belakang kami da tidak begtu asing bagiku. Aku kemudian menoleh ke belakang dengan wajah kaget begitu pula Bu Dian, Ibu.

Mbak Diah… eh itu mbak… maaf kalau.. ucap Bu Dian yang sedikit ketakutan

Eh… kenapa kok? ucapku sedikit kaget

Sudah jangan kaget begitu dong kalian, kaya lihat setan saja ucap Ibu

Ibu kemudian melangkah berputar ke arahku, tepat di depanku di daratkannya kecupan di keningku dengan jari menyilang di bibirku. Kulirik Bu Dian, wajahnya tampak seidkit berbeda. Ibu kemudian duduk disampingku, menghadap ke Bu Dian dan sedikit bersandar di lenganku.

Aku hanya diam tak bisa bicara karena ibu sudah mengisyaratkan aku untuk diam. Ibu memakai kaos lengan panjang tanpa belahan di lehernya yang longgar, dan rok hingga dibawah lutut serta tas dengan tali panjang yang menggantung di bahunya.

Kenapa yan? ucap Ibu

Eh ndak papa kok mbak ucap bu dian

Wajahnya kok beda, tadi kelihatan senang waktu ketemu arya ucap Ibu

Maaf mbak… sebenarnya aku Cuma mau ngobrol sama arya bukan maksud aku.. ucap bu dian

Ngobrol apa ngobrol? Kok berduaan? Disini lagi, romantis banget ucap Ibu

Maaf mbak bukan maksudku untuk merusak hubungan mbak dengan arya.. ucap bu dian, tampak dari samping ibu hanya tersenyum melihat tingkah bu dian

mmm… mungkin sebaiknya aku pulang mbak, maaf sekali lagi mbak ucap Bu Dian

Bu Dian lalu berdiri dan sedikit membungkukan badan ke arah Ibu, aku melihatnya hanya sedikit aneh saja dengan tingkahnya. Ibu dengan sedikit menggeser duduknya menarik tangan bu dian. Dengan senyuman khas Ibu, ditariknya dengan lembut tangan bu dian hingga dia duduk kembali.

Sudah ndak papa, disini dulu, kamu takut aku putus sama arya ya yan? Gara-gara kamu ketemuan? ucap Ibu

Eh.. bu dian yang kini duduk hanya mengangguk

Aku tidak bakalan putus sama arya yan ucap Ibu, bu dian hanya tersenyum dan mengangguk walau tidak memandang ibu

Karena aku punya hubungan lebih dari seorang pacar ucap Ibu

Eh, berarti mbak diyah sudah…? ucap Bu Dian dengan isyarat tangan yang memperlihatkan gerakan memasukan cincin ke jari manis kiri

ehm ehm ehm ehm ibu tertawa tertahan, Bu Dian hanya terheran-heran. Tiba-tiba, ibu bangkit dan duduk di dekat bu dian

Rambut kamu itu sering disisir ya yan, jelek kalau begini ini

terus, lipstiknya ndak usah tebal-tebal ya sayang ucap Ibu yang berlagak seperti tukang rias

Eh mbak. ucap bu dian

Kenapa? aku dulu sudah pengen banget punya anak cewek, tapi ya mau bagaimana lagi, setelah arya lahir, ayahnya ndak mau punya anak lagi ucap Ibu yang masih sibuk menata rambut bu dian

Jadi… mbak itu.. ucap Bu Dian

Apa? Pacarnya? Makasih lho ya sudah panggil mbak, jadi merasa lebih muda lagi ucap Ibu santai sambil kedua tangannya memainkan pipi Bu Dian

Eh bukan, berati mbak itu ibunya arya? ucap bu dian yang tidak mempedulikan ibu merias wajahnya itu

iya sayangku hi .. jawab ibu dengan sedikit terkekeh-kekeh

maaf mbak, eh tante.. ucap bu dian

ndak papa lho dipanggil mbak hi hi hi, seneng banget masih ada yang melihat aku sebagai gadis muda ucap ibu terkekeh

iiih kamu itu cantik banget cup cup ucap ibu yang kemudian mencium pipi kanan dan kiri bu dian

eh iya mba… eh tante terima kasih ucap bu dian

Ya sudah aku pulang dulu yan cup cup cup ucap ibu yang kemudian menciumi pipi kiri, kanan dan kenning bu dian

Sayang, pacarmu ini mau pulang dulu hi hi hi cup ucap Ibu yang kemudian mengecup keningku

Ibu apaan sih ucapku

dadah… ingat ar, jangan pulang malam kasihan dian ucap Ibu yang kemudian melangkah, tampak sebuah taksi sudah menunggu ibu. Dan setelahnya ibu naik taksi dan kemudian menghilang hanya tinggal kami berdua. Kami berdua tampak seperti orang yang terkena permainan tommy rafael (master hipnotis) memandang ibu dari awal hingga dia menghilang.

Kembali kami berdua disini, ditempat yang masih sama seperti sebelumnya. Dengan hiasan sinar rembulan malam bersama kami. kulirik wajah bu dian tampak sedikit tersenyum. Raut wajahnya 180 derajat berubah total jika dibandingkan sewaktu ibu hadir di awal tadi.

Kenapa juga Ibu membongkar identitasnya, kalau begini kan jadi susah, aku ndak punya alasan lagi kalau ada apa-apa ke depannya.

ternyata benar seperti yang aku duga… ehem.. ucapnya sambil tersenyum yang masih memandang bulan tak sempurna itu

Benar apanya bu? ucapku sedikit menoleh ke arahnya

tante diah bukan pacar kamu kan, tapi bolehkah aku tahu.. emmm..

kenapa tante diah mengaku sebagai pacar kamu? ucap bu dian

itulah ibuku, dia selalu mengaku sebagai pacar aku bu setiap kali ada seorang cewek kerumah bersamaku, hanya untuk melihat keseriusan dari si cewek ucapku

maksudnya? ucap bu dian

ya, maksudnya kalau memang serius mau jadi mantunya ya harus berani face to face sama ibu, bicara ke ibu gitu ucapku yang mengingat kata-kata ibu, dimana ibu pernah berkata padaku jika aku punya pacar. Pacarku harus berhadapan dengan ibu dan berbicara langsung dengannya perihal hubungannya dengan aku.

oh… begitu, tapi ibumu cantik dan menyenangkan ya? ucapnya

iya. jawabku singkat

Seandainya saja aku punya ibu seperti tante diah, hmmm… pasti menyenangkan ucapnya

Eh..

Bu, sudah saja lebih baik kita pulang, karena kelihatannya sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan dan akan saya usahakan TA saya cepat selesai, agar mahasiswa ibu ini tidak membuat ibu pusing lagi ucapku menyela

Can we..

Re-Starting all over again? ucapnya tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaanku

Eh… maksud ibu apa? ucapku

Ya kembali memulai dari awal lagi ucapnya

Apa yang dimulai dari awal lagi bu?TA-nya? Jangan bu… kan TA saya sudah benar semua tinggal bimbingan dan ujian ucapku

bukan TA, ar.. ucapnya

terus apa bu? ucapku

Aku ingin kita seperti awal lagi ar, seperti ketika kita pertama kali bekerja sama mengerjakan Karya tulis ilmiah hingga kita bisa makan malam bersama, dan…

Aku harap kamu bisa melupakan semua kejadian setelah makan malam itu ucapnya yang kemudian berdiri dan bergerak kearahku

Cup.. ciuman mendarat di pipi kiriku tapi tidak membuatku kaku seperti dulu lagi, kemudian Bu Dian melangkah bergerak meninggalkan aku

jujur saja bu, aku tidak mengerti bu… ucapku, bu dian lalu berbalik dan memandang ke arahku

Suatu saat kamu akan mengerti, tapi bukan sekarang. Aku ingin memperbaiki hubungan kita agar semuanya baik dari awal ar, dan aku berharap kamu bisa kembali seperti dulu lagi. Agar tidak terjadi kesalah pahaman lagi, dan.. ucapnya terpotong, Bu Dian menghela nafas yang panjang

Dan apa bu? ucapku

Dan… aku harap kita bisa selalu membicarakan apapun itu jika suatu saat terjadi kesalah pahaman ucapnya

Bu Dian… Bu Dian… Ibu itu aneh sekali ucapku

Maksud kamu? ucapnya

Bu, coba ibu ingat-ingat lagi, kita itu dosen dan mahasiswa bu, sampai kapanpun juga seperti itu, kenapa juga kita harus memperbaiki hubungan kita, membicarakan kesalah pahaman dan lain-lain. Kalau kita pacaran terus balikan mungkin itu bisa kita lakukan, sedangkan saat ini saya bukan apa-apanya bu dian, kenapa harus seserius itu bu?

Kan malah lebih baik, ibu sebagai dosen saya dan saya sebagai mahasiswa ibu, masing-masing dari kita menjalani kehidupan kita masing-masing. Hubungan dosen dan mahasiswa kita lanjutkan secara normal, dan tidak per.. ucapku terpotong

mungkin di awal kita memulai kita dosen dan mahasiswa tapi kita tidak tahu di akhir ucapnya yang kemudian berbalik membelakangiku

Bersikaplah lebih dewasa lagi ar, karena aku yakin kita bisa membuat semuanya lebih baik lagi lanjutnya

Ibu suka sama saya? ucapku dengan PD-nya

kamu jadi laki-laki pede sekali ar, memang kalau aku menemui seperti ini, aku suka sama kamu? ucapnya sambil membalikan badannya lagi. Aku menjawab dengan mengangkat bahuku

Dasar cowok! Pikirannya pendek! ucapnya sambil membentak dan diakhiri senyuman

Lha terus? Kenapa juga waktu itu ibu selalu menanyakan mbak diah, mbak diah terus? ucapku

Ya ndak tahulah kan aku Cuma pengen tahu saja, memang kalau cewek tanya ke cowok masalah pacarnya berarti cewek itu suka sama cowok yang ditanya? ucapnya

Ah… bingung aku bu bu.. ucapku

Makanya kalau mikir jangan kejauhan ucapnya

Mending aku ngobrol sama mbak erlin, lebih jelas dan tidak membingungkan ucapku

Eh…”

Owh… sekarang erlin yang akan kamu majukan kalau nanti aku ngeganggu kamu? ucapnya

Ndak, dia sudah aku anggap kakak perempuanku ucapku sambil membuang muka

Trap trap trap… cup… aku langsung menoleh kembali ke arah bu dian yang kini sudah melangkah berbalik meninggalkan aku

Aku hanya berharap setelah ini sesuai dengan harapanku ucapnya meninggalkan aku

Semoga saja tidak ada acara lamaran segala ucapku yang kemudian berdiri dan membelanginya, kini posisi aku dan budian saling membelakangi

cemburu ya? Hi hi hi kamu suka sama aku ar? ucapnya

he he ngapain juga cemburu, mahasiswa cemburu kok sama dosen, kasihan dosennya, mahasiswa kan bukan levelnya dosen ucapku

Hmmm… kalau cemburu bilang saja kenapa? ucap bu dian

Dosennya mungkin yang cemburu, nanya-nanya mbak diah, eh… terus langsung pulang waktu ada mbak erlin. Lagian ngapain coba dosen ngajak ketemuan mahasiswanya? ucapku

Hmm… wah iya ya, apa mungkin dosennya cemburu ya? Kayaknya ndak deh, kan tadi ada yang bilang kasihan dosennya kalau cemburu, ndak level ucapnya

ergghhhh… sudah bu, aku kalah, aku mau pulang dulu ucapku

Hm… yang kalah berarti yang cemburu ucapnya, aku diam mematung sesaat

Aku dengan seketika membalikan badanku dan kulihat bu dian sudah melangkah jauh meninggalkan aku. Kulihat langkah anggunnya meninggalkan aku. Cara melangkah yang sangat indah sekali, mungkin ada sedikit ingatan akan lagu pop jadul.

Lihat cara dia berjala oh mengagumkan oh mengagumkan
Ikutilah jalan pikirannya oh mengesankan oh mengesankan
Ingin sekali kutunjukkan betapa berarti senyumnya untukku

Ikutilah gerak jarinya, kau kan terkesan kau kan terkesan
Dengarlah dia bernyanyi, Kau kan terharu lalu membisu
Ingin sekali kukatakan, Betapa berarti tingkahnya bagiku

Karna aku slalu pasti mengagumi dengan hati
Di setiap jengkal indahnya, di setiap jengkal buruknya
Karna aku slalu pasti mengikuti lewat mimpi
Di setiap sudut terangnya, di setiap sudut gelapnya​

Bersambung