Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 35

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 35 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 34

Buktinya dia langsung pergi gitu saja, itu tandanya karena dia merasa jengkel pada dirinya sendiri ndak bisa mijitin kamu nempel-nempel kamu hi hi hi ucpa mbak erlina

Sok tahu ucapku

Bukannya sok tahu ar, hanya saja dia masih menjaga hubungan Dosen-Mahasiswa dengan kamu. Coba saja kalau kamu sudah lulus, bisa lebih nekat dari aku dia itu ucap mbak erlina

Iya bener tuh kata mbaknya ucap asmi tiba-tiba datang dari dalam warung

setuju ndak mas? ucap Asmi kepada Wongso

Aku selalu setuju apapun pendapat kamu sayang ucap wongso

Kalian itu erghhhh…. ucapku yang kemudian ditertawakan oleh mereka semua.

Memang ada benarnya kata mbak erlina, tapi mau bagaimana lagi. Sekalipun aku harus maju ada pak felix disana. Masa bodoh ah!. Aku kemudian memperkenalkan mbak erlina kepada wongso dan asmi, ya maklumlah kelupaan. Selang beberapa saat anton datang, lalu aku,wongso dan anton beserta mbak erlina masuk ke dalam rumah.

Asmi tetap berada di warung membantu Ibu wongso. Setelah kami berkumpul di dalam rumah wongso, aku kemudian menjelaskan kepada Anton begitupula mbak erlina. Kuperlihatkan dua video rekaman, yang pertama video rekaman yang menjebak KS sebagai pembunuh rekan kerja Ayahku, yang kedua video rekaman serah terima uang yang direkam oleh mbak erlina.

Aku kemudian meminta anton untuk merahasiakan identitas mbak erlina kepada siapapun, Anton pun mengiyakan.

Hufth… Video ini belum bisa dijadikan barang bukti ucap anton

Kenapa? ucap wongso

Kamu bisa lihat, semua di video ketika penyerahan uang tersebut? Semua gambar tampak buram, wajah mereka tidak bisa kellihatan. Memang kita bisa menebak-nebak siapa saja mereka, namun tanpa adanya bukti kita akan kalah di persidangan. Rekan kerjaku mengatakan kepadaku bahwa pentolannya ada 5 orang.

Jika kita berpaku pada video ini, jumlah orang jika kita jumlahkan jumlahnya hanya 4 orang. Ar, sebelum KS atau Ayah mbaknya ini meninggal kami sudah mengorek beberapa informasi dari KS, KS mengatakan bahwa jumlah mereka ada 5.

Waktu itu kami mengintrogasinya di dalam kantor, namun untuk keterangan siapa-siapa saja 5 orang itu belum sempar dikatakan oleh KS. Kami memberinya waktu istirahat saat itu dikantor namun KS ijin untuk pulang dan disitulah kami kecolongan Ar. Kami tidak mengawal KS sama sekali, dan terjadilah pembunuhan itu

Bisa di bilang, pembunuh KS sudah berada di dalam rumah KS sebelumnya. Menurut penuturan KS pula kami tahu jika semua keluarga KS sudah di ungsikan keluar pulau. Kami juga tidak tahu menahu mengenai mbak erlina adalah anak dari KS. Untuk saat ini kita harus mencari bukti tambahan dan saksi. Apakah mbak mau menjadi saksi suatu saat nanti? jelas Anton

Aku mau, tapi tidak untuk sekarang. Aku tidak ingin berakhir seperti Ayahku ucap mbak erlina

Oke, aku akan tetap merahasiakan identitas mbak kepada semua orang tak terkecuali tim dan pimpinanku. Ar… Wong… jika kalian mendapatkan informasi tambahan lagi, segera hubungi aku. Kita akan susun rencana setelahnya ucap Anton

Siap Ndan! ucap kami serentak

Perbincangan kami menemui titik akhir, dimana kita harus mengumpulkan bukti lagi. Karena bukti kita masih kurang. Mbak erlina tampak bahagia karena banyak yang membantunya untuk membalas perlakuan Ayahku dan om Nico terhadap Ayahnya.

Mbak erlina pun berjanji jika nanti dia mendapatkan bukti lain akan segera di sampaikan kepada kami. Kami akhiri perbincangan kami dengan canda dan gurau bersama hingga larut malam. Segera aku antarkan mbak erlina pulang kekosnya. Tepat di depan kosnya, ku matikan mesin REVIA.

Hei Ar, berjuanglah, Dosen kamu itu pasti bisa kamu dapatkan ucap mbak erlina

Iya… iya.. tapi ndak mbak ucapku

kalau kamu menyerah begitu saja, berarti kamu juga menyerah pada janjimu kepadaku

Ya sudah cepet pulang sana dah malam ucap mbak erlina

Oke mbak ucapku. Sembari menyalakan mesin motor REVIA.

Ar… ucap mbak erlina

Iya mbak, ada apa? ucapku menoleh ke arahnya

Seandainya saja kita bertemu dari awal, dan aku mengenalmu terlebih dahulu. Mungkin aku akan sangat bahagia ucap mbak erlina

Hm hm hm… mbak erlinaaaaaaaaaaaa ucapku yang mengerti maksud perkataanya

Iya No Love, tapi tolong sayangi aku jangan jadikan aku hanya sebagai wanita sementaramu ucapnya. Kulepas Helmku dan Kupandangi wajahnya, kuambil sebatang dunhill dan kusulut

hufthhh…

Mbak… ucapku

Iya Ar… balasnya

Aku sayang mbak sebagai seorang sahabat dan juga sebagai seorang kakak perempuanku. Sebenarnya aku juga tidak ingin melakukan hubungan seperti yang sudah-sudah kita lakukan. Seandainya saja mbak tidak memberiku hadiah pun aku akan tetap membantu mbak ucapku

Karena aku merasakan kehilangan juga seperti mbak, kehilangan Kakek dan Nenekku, Orang tua Ayahku yang harus menderita karena ulah Ayahku. Aku ingin menyingkirkannya bukan membunuhnya, karena aku ingin dia juga merasakan apa yang di rasakan oleh kakek dan nenek lanjutku

Eh…

Ssssshh…. Hmmmmmssshhhhhh…

Ternyata Dian lebih beruntung daripada aku, padahal dia juga cocok sebagai kakak perempuanmu ucapnya

Maksud mbak ucapku

Ya dia beruntung karena dia memiliki seorang lelaki yang mencintainya sebagai seorang wanita bukan seorang kakak perempuannya. Dan orang itu adalah kamu ucapnya

Halah mbak itu mengada-ada ucapku

Cara mata kamu memandangnya ketika dia keluar dari warung wongso. Cara kamu memperlakukannya ketika dia mau naik taksi. Itu adalah perlakuan seorang lelaki yang mencintainya jelas mbak erlina

Dasar peramal ndak lulus ha ha ha candaku. Tiba-tiba mbak erlina melangkah menuju ke arahku

Mungkin aku terlambat, namun dengan aku sebagai sahabat dan juga seorang kakak perempuan bagimu memang sedikit membuatku kecewa namun aku tidak bisa memaksakan kehendakku. Kamu ada untuk aku karena Ayahku, dan aku ada untuk kamu karena janjimu.

Aku akan menikmati masa-masa sampai kamu menepati janjimu Ar, dan aku akan doakan kamu bisa bersama Dian ucapnya tepat di depan wajahku dengan tangannya memegang lengan tanganku yang memegang rokok

Kamu tidak perlu menyesal atas apa yang telah terjadi, karena aku akan menikmati masa-masa itu. Berjanjilah kepadaku bahwa kamu akan menepati janjimu dan lindungilah aku ucapnya

Eh… pasti mbak, aku berjanji… mmm ucapku terhenti karena mulutku tersumbat oleh bibirnya. Hanya sebentar namun cara dia menciumku berbeda dari sebelumnya, aku dapat merasakannya.

Hati-hati pulangnya ya Arya nyebeliiiiiiiiiin ucapnya sembari berlari masuk ke kosnya.

dasar kakakku yang aneh! teriakku.

Segera aku nyalakan mesin motorku. Dalam perjalanan pulang aku merenungkan perkataan mbak erlina. Sesampainya dirumah, keadaan masih sepi hanya ada aku sebagai penghuni tunggal rumahku. Kurebahkan tubuhku di kasur kenyamananku. Kuraih Smartphoneku dan ku buka BBM.

Semua karena kesalahankuโ€‹

Begitulah status Bu Dian

To : Bu Dian
Bu Dian, saya mohon maaf atas sikap teman saya tadi ya bu
Mohon di maafkan.

From : Bu Dian
Ya Ar, ndak papa
Lagi ngapain?

To : Bu Dian
Terima kasih Bu
Lagi mau tidur bu

From : Bu Dian
Ow… met bobo ya

To : Bu Dian
Iya Bu, terima kasih
Bu Dian juga ya, met istirahat

From : Bu Dian
Iya Arya, terima kasih ๐Ÿ™‚

Sebuah pesan singkat masuk ke dalam Smartphoneku, bukan BBM namun Short Message Service. Sebuah perpesanan tua yang sudah jarang digunakan. Bu Dian.

If the moon, embarrassed to shine tonight
and hiding behind the clouds night
I will break the clouds
so that the light accompany your sleep tonight
Goodnight and have a nice dream :)โ€‹

Aku hanya tersenyum dan tak mampu membalas smsnya. Kupandangi pesan singkat itu hingga lelah mata ini memandang dan terlelap dalam lelahnya malam.

The sun just want to rise
If you wake up from your sleep
Our earth need the sun
Like all those people need your smile
So please, wake up now ๐Ÿ™‚
โ€‹
Sebuah sms aku kirimkan ke nomor Bu Dian tepat pukul 04:00. Aku memang sengaja mengirimkannya lebih awal, dengan tujuan membalas sms dari Bu Dian malam tadi. Tujuan yang lainnya ya sangat jelas karena isi smsku tentang matahari terbit, akan terlihat bodoh jika aku mengirimkannya setelah matahari terbit. Kriiik… kriiik…. kriiik… bunyi ringtone sms. Bu Dian.

From : Bu Dian
Apa benar matahari menungguku untuk bangun?
Apa benar semua orang membutuhkan senyumanku?

To : Bu Dian
He he he…
Kalau asumsi saya benar bu

From : Bu Dian
Apakah semua orang itu termasuk yang mengirimkan sms kepadaku?
(Waduh mati aku…)

To : Bu Dian
Semua orang Bu, dan pastinya saya juga menunggu senyum ramah Bu Dian ketika bimbingan

From : Bu Dian
Jadi hanya pada saat bimbingan ya, okey
Terima kasih
(Aduh koplak jaya aku ini)

To : Bu Dian
Maaf Bu jika Ibu tersinggung dengan sms saya
Kalau menurut saya, setiap ketemu sama semua orang Bu Dian tersenyum

From : Bu Dian
Owh…
Okay and thak you ๐Ÿ™‚

To : Bu Dian
You are welcome

Haduuuuh… untung saja. Kenapa juga aku harus membalas sms bu dian coba? Bikin masalah baru saja. Aku kembali rebahan di kasur empukku, menatap langit-langit kamarku. Semua sangat indah jika saja cara Ayah dalam mendapatkan Ibu tidak harus dengan cara kotor. Jika saja Ayah adalah og yang baik dan membahagiakan orang tuanya dan juga keluarganya, mungkin aku tidak akan melangkah sejauh ini.

Ibu, tante ima, mbak maya, mbak erlina, arghhh… kenapa aku merasa seperti seorang penjahat. Tapi dari kesemuanya bukan keinginanku, semuanya keinginan mereka, untuk Ibu, mungkin aku sedikit memaksanya namun seharusnya semua bisa dikendalikan jika saja Ayah tidak acuh terhadap ibu, jika saja Ayah tidak membuat hati Ibu mendendam kepadanya.

Akankah semua ini berakhir? Kapan waktu itu datang? Mungkin aku hanya bisa berpaku pada sebuah kalimat JALANIN DULU SAJA, aku yakin aku bisa mengakhirinya. Dan aku terlelap dalam tidurku sejenak. Tepat pukul 05:00 Aku terbangun dan Segera aku bangkit menuju kamar mandi dilantai bawah. Ketika aku berada di tangga kulihat Ibuku sedang memasak di dapur.

Lho Ibu kapan datang? ucapku

Tadi jam setengah lima sayang, kamu baru bangun ya? ucap Ibu

Iya bu, lha bareng sama dia bu? ucapku

Ndak, dia paling pulang nanti malam? ucap Ibu. Setelah mendapat jawaban tentang keamanan rumah, Aku berjalan mendekati Ibu dan memeluknya dari belakang. Kucium tengkuk leher jenjang itu.

Sssshhhh… hmmmm…. ingat hari ini kamu PKL sayang ucap Ibu

Ibu kalau pergi suka lama-lama, sudah ndak kangen sama Arya bu? ucapku

Bukannya begitu nak, kalau kamu keseringan kan juga ndak baik ucap Ibu

Iya… Iya…

Oia bu aku mau cerita boleh kan? ucapku

Cerita apaan? ucap Ibu

Lalu kuceritakan sebuah cerita tentang mbak erlina dan apa yang aku lakukan dengan mbak erlina. Tentang darah dan tentang semua mengenai KS. Ibu yang di awal memasak kemudian bersandat di dadaku sambil memeluk kedua tanganku yang melingkar di perut langsingnya. Dan juga sedikit certa mengenai mbak maya yang aku temui di kucingan.

Bersambung