Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 31

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 31 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 30

Aku kemudian bangkit dan keluar dari ruangan tak kulihat lagi Bu Dian di tempat duduk itu. Kuangkat kakiku menuju ke atap gedung. Kurogoh sakuku dan kupandangi pemandangan kota dari atas gedung. Tampak semua bangunan terlihat sangat kecil dan mungil.

Kamu itu harusnya jujur pada dirimu sendiri, bukannya malah bersikap aneh seperti itu! ucap tante asih dari belakangku, aku menoleh sebentar kemudian membuang pandanganku ke pemandangan itu lagi

Tante tahu kamu sukakan sama Dian? ucap Tante Asih

Jujurlah Ar, tidak ada salahnya ucap tante asih

Tante, dia terlalu tua untukku dan tentunya tante masih ingat kejadian yang menimpa om heri? ucapku

Eh…

Iya aku masih ingat ucap tante Asih

Om heri sudah bertunangan dengan kekasihnya, dan tante tahu sendiri mereka harus berpisah karena ada lelaki lain yang menyatakan cintanya kepada kekasih om heri

Jika tante memaksaku, berarti tante senang dengan apa yang dialami oleh om heri ucapku

Beda, saaaaangat berbeda…

Kekasihnya bukan wanita baik-baik, dan tante sudah tahu itu, tante pernah mengingatkan om kamu namun dia tetap bersikeras, ketika itu semua terjadi, tante dan keluarga cukup senang walau kami semua tahu Om kamu merasakan patah hati yang mendalam. Tapi lihat sisi baiknya, dia kemudian tahu siapa kekasihnya dan mendapat istri yang lebih, lebih baik dari kekasihnya yang dulu

Dan perlu kamu ketahui, kekasihnya yang dulu itu pernah minta balikan lho, tapi om heri tidak mau karena istrinya lebih dari mantannya itu ucap tante Asih

Kasus Dian berbeda, di dalam hatinya… ucap tante asih terpotong

di dalam hatinya apa tante? ucapku penasaran

ehem… tante tersenyum kepadaku

di dalam hatinya ada cinta yang hanya bisa di temukan oleh orang yang benar-benar dia harapkan ucap tante asih seakan-akan mengalihkan kata-katanya

Semua juga tahu itu tante, dan orang itu adalah pak felix

Arya tidak perlu ikut campur urusan mereka merusak hubungan dengan orang lain adalah salah, titik, lanjutku

Eh… tante terkejut dengan ucapanku

Terserah kamu Ar, tapi yang jelas, cinta itu tidak bisa dipaksakan dan harus jujur, cinta harus mencari wadah yang sesuai ucap tante, aku hanya memandangnya dan kembali memandang pemandangan itu lagi

Erghhh… Ibu? Ah kenapa aku teringat Ibu, cinta kita, wadah kita? Aaargghhhhhh… tidak sesuai tapi untuk saat ini aku tidak ingin pergi dari Ibu. Bu Dian? Bodoh Ah! bathinku

Bagaimana semalam? Apakah dian terlihat sangat cemburu ketika Ibu kamu mengaku pacar kamu ucapnya

Heeeh… ternyata itu taktik Ibu dan tante? Ndak tahu tan ucapku

Kalau dari penuturan Ibu kamu, Dian tampaknya sangat cemburu ucapnya

kenapa harus cemburu, lha wong dia sudah punya pak felix ucapku santai

AAAAAAAAAAAAAAAAUUUWWWWW! teriakku karena mendapat cubitan dari ante

DASAR LELAKI EGOIS! TIDAK PEKA!

tante mau turun lagi huh ucap tante judes meninggalkan aku

Eh tan. Kabar ilman, paijo dan lucas, gimana? ucapku mengehntikan langkahnya. Tante kemudian berbalik memandangku

Banyak tulang yang patah dan dapat dipastikan dia tidak akan bisa bergerak senormal mungkin seperti sekarang ini, polisi akan menahan mereka setelah keluar dari RS karena ada beberapa kasus kekerasan yang melibatkan mereka bertiga ucap tante

Lho memangnya mereka satu komplotan? Setahuku hanya ilman dan paijo yang saru hati ucapku

Dari penuturan polisi, mereka itu komplotan dan sudah melakukan beberapa kejahatan, lha kalian itu koplak masa ndak tahu mengenai ini?ucap tante

Yeee… kita kan udah berhenti ugal-ugalan didaerah, kan pada sibuk sama kesibukan masing-masing, ditambah lagi satpam dari rumah sakit selalu mengawasi kita semua he he he ucapku

ya iyalah, kalau kalian tidak tante awasi bisa-bisa kalian tambah urakan, ya sudah tante turun ucap tante yang kini menghilang dari pandanganku

Ilman da paijo serta lucas, aku tidak pernah tahu mengenai sepak terjang mereka. Bu Dian? Memang benar apa kata tante mengenai wajah cemburu Bu Dian. Apalagi tadi selama kami mengobrol Bu Dian selalu menanyakan tentang pacarku yang tidak lain adalah Ibu.

Memang aneh ketika seorang wanita yang sudah dilamar menanyakan hubungan lelaki lain dengan pacarnya. Apa aku memang kurang peka? Tapi aku tidak mungkin mengungkapkan apa yang seharusnya aku ungkapkan, bisa perang dunia ke 3, ditambah lagi pak felix kenal baik dengan Om Heri. Bodoh Ah! Pulang.

Ketika aku berada di tempat parkir, tepatnya di dalam tempat parkir. Aku berjalan seorang diri menju motorku. Aku sedikit terhenyak dan berdiam diri sejenak manakala di samping motorku, duduk dan bersandar seorang wanita, Bu Dian.

Dia hanya tersenyum kepadaku, kedua tangannya memgang helm SNI. Kulanjutkan langkahku ke arah motorku, mau bagaimana lagi, seandainya aku menghindar pun juga tidak bisa. Ketika aku sudah berada tepat disamping motorku.

Kenapa? ucap Bu Dian

Kenapa Ibu disini? ucapku

Tadi aku minta ijin untuk pulang sama tante kamu, dia menyuruhku untuk minta tolong kamu mengantarkan aku, kalau bisa? ucapnya kepadaku dengan sedikit senyuman

Lha mobil Ibu? ucapku

Itu mobil Felix, jadi aku diantar kamu saja? ucapnya berubah menjadi datar

saya masih ada urusan Bu ucapku

Sebenarnya tadi aku mau pulang pakai mobil felix tapi kepalaku pusing belum tidur semalaman, ya sudah ndak papa kalau tidak boleh ucapnya sambil beranjak dari motorku

Hmmm… mungkin sebentar lagi aku akan di opname di Rumah sakit ini ucapnya kembali membuat aku terhenyak. Bu Dian menakutiku jika ketika dia mengendarai mobil itu dia akan tertidur dan begitulah

Kenapa ndak pakai taksi saja bu? Daripada nanti opname, aku punya kenalan taksi ucapku. Bu Dian berbalik degan wajahnya berubah menjadi wajah jengkel karena aku selalu bisa membalik pernyataan-pernyataannya.

Bu Dian memakai helmnya dan berjalan ke arahku, lalu langsung naik di jok belakang motorku. Aku yang malah jadi kebingungan karena sikapnya, kedua pipinya kemudian menggelembung seakan sangat jengkel kepadaku.

Bu, bisa turun saya itu ada urusan ucapku walau sebenarnya tidak ada. Bu Dian ya diam saja dan memandang ke arah depannya tanpa menghiarukanku. Arghhhh….. ini wanita bikin kesal saja. Aku kemudian menaiki si motok REVIA kesayanganku untuk ketiga kalinya bersama Bu Dian

Segera aku nyalakan mesin motor kesayanganku ini. aku mundurkan secara perlahan karena berat motorku menjadi bertambah dengan kehadiran Dosen Judesku ini. segera kutarik gas motorku, baru beberapa meter keluar dari tempat parkit dan hegh… pelukan erat dari Bu Dian mendekap tubuhku sangat erat.

aku tak mempedulikannya karena jika aku membuat perkara di RS bisa-bisa jadi bahan makian orang-orang. Dalam perjalanan menuju tempat Bu Dian.

Ndak usah cepat-cepat ucap Bu Dian. Segera aku berhenti di pinggir jalan.

Bu, tolong ndak usah peluk saya Bu, bagaimana kalau ketahuan sama pak felix?ucapku

Bagaimana kalau ketahuan sama mbak diah? ucap Bu Dian

Erghhhhh…. ditanya malah kembali nanya, segera aku tancap gas kembali. Semakin aku meningkatkan laju REVIA semakin erat pula Bu Dian memelukku. Akhirnya aku mengalah, motorku pun melaju dengan kecepatan lambat kurang lebih 40Km/jam. Kurasakan pelukan Bu Dian tetap erat seperti sebelumnya, bibirnya digesek-gesekan pada bahu kananku.

Bu… Sudah… jangan… ucapku

Aku ngantuk, aku mau tidur, jika tidak pegangan nanti kalau jatuh bagaimana? ucap Bu Dian dengan seribu alasannya

tinggal opname saja bu… ucapku

Kenapa ndak pukulin sekalian saja aku disini? Biar cepet opname dan kamu tidak perlu susah-susah mengantarkan aku ucapnya

Huft… iya iya, boleh peluk Bu Dosenku yang manis dan cantik, yang erat ya, biar ndak jatuh ucapku

nah, gitukan lebih baik ucapnya

Entah mengapa pelukan Dosenku ini membuatku merasa nyaman, pelukan darinya berbeda dengan pelukan wanita lain. Dikecupnya bahu kananku dengan lembut membuatku semakin merasa nyaman, walau sebenarnya ada sebuah kegundahan dalam hatiku.

Bagaimana dengan pak felix? Masa bodoh ah! Apa Bu Dian tidak sadar? Seandainya saja dia bersamaku pun belum tentu dia bisa menerima kenyataan yang sudah aku alami. Belum hilang kesemrawautan dalam pikiranku, tiba-tiba pelukannya menjadi melemah, kurasakan tubuhnya menjadi sedikit terdorong kebelakang. Kuhentikan laju REVIA, sejenak kutengok kebelakang.

Dia benar-benar tertidur ucapku pelan

Kujalankan REVIA sayang dengan lebih pelan, tangan kiriku kuposisikan ke belakang tubuhnya. Untuk berjaga-jaga seandainya dia terjengkang. Kedua tangannya sudah tidak bisa memelukku erat. Namun kembali kurasakan kedua tangannya memeluk tubuhku dengan eratnya

Terima kasih… ucapnya lembut

Sama-sama… balasku

Dasar manja… ucapku pelan yang ternyata di dengar olehku dan mencubit sedikit perutku

Selama perjalanan tak ada percakapan dari kami berdua. Hanya kekhawtiranku jika saja dia terjatuh. Semakin rasa khawatirku bertambah semakin Kupeluk tubuhnya dengan tangan kirku dengan eratnya. Perjalan masih sangat jauh, namun aku perasaan nayaman ini tidak membuatku lelah.

Sesampainya di depan pintu gerbang Perumahan ELITE, seorang satpam mengacungkan jempolnya ke arahku entah apa maksudnya. Aku anggukan kepalaku dan hanya tersenyum kepada pak satpam,dengan tetap pada kecepatan yang sama sampailah aku di depan rumah Bu Dian. Belum aku mengatakan apa-apa, slah satu tanganya lepas dari pelukanku.

Aku ngantuk ucapnya sambil menengadahkan tangannya yang dengan kunci diatasnya

Maksudnya? ucapku

Bukakan ucapnya

huft…iya Bu Dosen ucapku kemudian men-standar-kan REVIA, mengambil kunci dan membukakan pintu gerbang. Bu Dian masih duduk di jok motorku dengan kepala di letakan diatas tumpukan tangannya yang bersandar pada kepala REVIA. Helmnya ditaruhnya di spion kanan REVIA.

Sudah Bu ucapku berjalan kearah Bu Dian sembari membawa kunci itu kembali, Bu Dian kemudian bangkit dan tetap duduk di jok REVIA

Aku capek ndak bisa jalan ucapnya santai

terus? ucapku

capeeeek ndak kuaaaaaaaat jalan aryaaaaaa ucapnya bernada sok manja. Iiih…

Aku hanya bisa jongkok di samping REVIA, bingung dengan sikap Bu Dian. Kenapa juga ini Dosen judes jadi manja di hadapanku? Bikin orang susah saja huft… daripada aku kelamaan di tempat ini mungkin aku harus segera mengambil tindakan, lagian aku sudah mulai kesal dengan sikapnya.

Segera aku bangkit dan duduk di depannya, kulepas helmku, aku tarik kedua tangannya ke bahuku. Kemudian kedua tanganku meraih kedua pahanya dengan perlahan aku gendong Bu Dian di punggungku.

Ughhh… berathhh… ucapku

aku ndak gendut-gendut amat kali hoaaam ucapnya pelan

Iya langsing… ucapku sambil membopongnya menuju kursi depan pintu masuk rumahnya. Sesampainya di kursi tersebut, aku dudukan Bu Dian dan aku kemudian duduk sebentar di lantai tepat dibawahnya.

Terima kasih Ar Hoaaaam… ucapnya

Sama-sama Bu ucapku sambil menoleh kebelakang

Ar… ucapnya

Iya Bu… balasku

Aku ingin kita jalan-jalan lagi ucapnya

Besok Bu Setelah PKL jawabku sekenanya

Janji ya? ucapnya

Ya… kalau ingat Bu ucapku

Aku akan mengingatkanmu Ar ucapnya

Iya Bu iya… ucapku dengan nada jengkel

Ar… ucapnya

Iya Ada apa lagi Bu? ucapnya

Aku yakin Mbak Diah bukan pacarmu ucapnya

Huft… kenapa dibahas lagi bu? ucapku.

Saya mau pulang dulu Bu sudah sore? ucapku sembari aku berdiri sambil membalikan badanku ke arahnya untuk pamit kepadanya. Kan ndak enak masa pamit ke seseorang ndak menatap mukanya. Ketika posisiku sedang dalam posisi membungkuk. Cup… sebuah kecupan di pipi kananku membuatku sedikit bengong, namun langsung ku raih kesadaranku dan wajahku tetap aku buat datar.

Seharusnya Bu Dian tahu posisi Bu Dian, Tolong pikirkan perasaan pak felix bu ucapku

Itu hanya ucapan terima kasih apa salah? ucap Bu Dian santai menanggapi pernyataanku

Eh… hmmm… saya pamit pulang dulu Bu ucapku, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bu Dian

Hati-hati ya Ar ucapnya

Iya Bu… ucapku, sambil meninggalkannya

Ku tunggangi motorku kembali menuju jalan pulang, kulihat Bu Dian berdiri dan Men-dadahi-ku dengan tangan kananya. Senyuman indah itu dilemparkannya untukku namun urung aku untuk menangkap senyuman itu. Aku hanya menganggukan kepalaku dan kemudian mempercepat laju motorku.

Sesampainya dirumah kudapati Ayahku sudah berada di rumah, bagiku ini adalah suasana yang suram. Ayah hanya menanyaiku mengenai perban dikepalaku, kujawab sekenanya dan dia tidak begitu menghiraukannya.

Ayah kemudian menuju ke pekarangan rumah dengan memawa segelas minuman di tangan kirinya. Segera aku menghampiri Ibu di dapur dan aku sedikit bercerita kepadanya, dia hanya tersenyum mendengar ceritaku. Kukecup bibirnya dan aku kemudian berlari ke kamarku.

Hari-hari berikutnya aku isi dengan berangkat kekampus untuk mengurusi PKL. Membuat surat permohonan PKL ke industri yang terkait dengan jurusanku. Semua teman-temanku pun sama, setelah aku mendapatkan tempat PKL aku mengajukan DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) untuk PKL-ku.

Setiap mahasiswa yang mengajukan PKL tidak langsung mendapatkan DPL, ini semua tergantung pada perusahaan/ instansi memberikan jawaban. Ada yang berkelompok ada juga yang individu, dan aku memilih untuk individu karena kebanyakan teman-teman kelasku memilih untuk PKL sendiri. Ketika setiap mahasiswa sudah mendapatkan jawaban maka akan langsung diberikan DPL keesokan harinya.

Hari berikutnya aku ke kampus untuk mengetahui DPL-ku. Segera aku berlari dari tempat parkir menuju ke gedung jurusan untuk menemui Tata Usaha meminta surat pengantar dari jurusan yang nantinya aku serahkan ke perusahaan tempakku PKL. Pegawi TU kemudian memberikan dua buah amplop yang ditumpuk

Mas, itu yang atas perusahaan dan yang bawah untuk DPL-nya ya ucap pegawai TU

Iya Bu ucapku sembari meninggalkan TU, aku melangkah ke ruang Dosen. Kulihat amplop yang berisi surat pengantar untuk perusahaan, tercantum nama sebuah PT dan tertulis benar. Ku balik dan ku baca nama DPL,

Yth. Dian Rahmawati
Selaku Dosen Pembimbing Lapangan

Arghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh…. Kenapa Nama itu lagi!

Di Gedung jurusanku tercinta, gedung dimana aku mengurus segala administrasi mengenai kuliahku. Aku terpaku dan jengkel dengan kenyataan yang tertulis di amplop kedua. Amplop yang berada di tanganku sekarang.

Ingin rasanya aku berteriak, kenpa? Kenapa aku tidak bisa lepas dari nama wanita ini? Arghhhhh….. semuanya menjadi sangat kacau bagiku, pasti akan ada pertanyaan ini itu dan lain sebagainya. Aku benar-benar ingin lepas tapi tidak bisa. Segera aku berbalik ke bagian tata usaha jurusanku.

“Bu maaf, kenapa DPL saya sama dengan dosbing TA saya, apa ndak bisa ganti yang lain?” ucapku kepada pegawai TU

“Itu yang menentukan kan ketua jurusan (Kajur), ya tanya sama kajurnya saja mas” ucapnya

“Kalau ganti bisa ndak bu?” ucapku

“ndak bisa” ucap seorang wanita di belakangku, aku segera menoleh ke belakang. Ah sial, Bu Dian.

“Eh…” Aku terkejut dengan kehadiran Bu Dian

“Kenapa? Kan malah kamu lebih gampangkan? Selain mengurusi PKL, kamu juga bisa mengurusi TA kamu dan ndak perlu susah-susah nyari-nyari dosen” ucapnya judes dan langsung meninggalkan aku menuju ruangannya

“Benar tuh kata mbak Dian, kamu itu dikasih enak malah ndak mau” ucap pegawai TU. Dengan langkah gontai aku menuju ke ruangan

“Selamat siang Bu…” ucapku kepada Bu Dian

“Siang!” ucapnya sedikit keras

“Duduk!” ucapnya, aku kemudian duduk dihadapannya

“Bu, ini saya mau menyerahkan Surat Pengantar PKL saya” ucapnya

“Sudah tahu, kenapa kamu mau minta ganti segala? Kenapa?” ucapnya

“Ya itu kan… anu… bu… emmm” ucapku gelagapan. Kleeeeeeek… masuklah Bu Erna

“Eh, Arya, bimbingan TA Ar?” ucap Bu Erna

“Tidak, bu ini mau PKL, mau menyerahkan surat pengantar PKL ke DPL” ucapku

“Owh… asyik dong dapat Bu Dian lagi” ucapnya. Aku Cuma menunduk

“Kamu itu diajak bicara malah bicara sama orang lain!” ucap Bu Dian kepadaku

“Eh… itu… anu… ini…. ” ucapku gelagapan

“Yan, jangan kasar-kasar sama arya kalau kamu ndak mau biar aku saja jadi DPL-nya hi hi hi, kamu mu ndak Ar?” ucapnya sambil meletakan tas dan menata buku-buku

“mau bu, mau” ucapku langsung menjawab pernyataan bu Erna

“Owh… gitu iya? Kenapa ndak ganti dosbing sekalian saja, kalau perlu ganti universitasnya sekalian” ucap Bu Dian judes sekali. Aku hanya menunduk tak bisa berkata-kata.

“Wah ar, ada yang ndak ikhlas, Bu erna takut ndak jadi aja ya hi hi hi , dah dian sayang” ucap Bu Erna meninggalkan ruangan tanpa digurbis oleh Bu Dian, ruangan menjadi hening sesaat

“Kenapa kamu mau ganti DPL?!” ucap Bu Dian

“Jawab!” ucap Bu Dian sedikit membentak, aku benar-benar mulai jengkel dengan Dosenku ini. kenapa masalah sepele seperti ini saja aku bisa kena marah?

“SSSShhhhh… Hufttttt….” kuhela nafas yang panjang

“Maaf Bu, jika saya membuat Bu Dian marah, hanya saja saya ingin mencari pengalaman baru dengan dosen yang lainnya, karena TA saya sudah bersama Bu Dian dan agar tidak terjadi kesalah pahaman yang berkelanjutan lagi”

“Di tambah saya merasa tidak enak sama pak felix, itu alasan saya bu, mohon maaf jika ada kata-kata yang salah” ucapku datar

“Eh…”dia terkejut, tatapan matanya memperlihatkan kekecewaan. Kupandangi sejenak mata itu dan kemudian aku menunduk

“Kamu dengan saya saja, nanti akan saya jenguk jika sudah ada surat turun dari jurusan. Sudah kamu langsung ke Perusahaan tempat kamu PKL saja. Agar kamu secepatnya bisa memulai PKL kamu” ucapnya datar tanpa memandangku dan membuka amplop dariku

“Sudah sana jangan malah duduk dihadapan saya” ucapnya

“DPL-nya ganti tidak bu?” ucapku

“Tidak” ucapnya sambil membaca surat itu.

“Saya pamit dulu bu” ucapku kemudian bangkit

“Hati-hati” ucapnya tanpa memandangku

“Iya bu” balasku yang kemudian meninggalkan ruangan dosen

Setiap hal yang aku rasakan ketika dekat dengannya adalah sesuatu yang berbeda kadang hangat kadang dingin. Mungkin memang salahku ketika aku harus bersikap masa bodoh terhadapnya, tapi mau bagaimana lagi? Aku juga tidak bisa terlalu jauh dalam berhubungan dengannya.

Aku tahu posisiku, sekalipun aku pernah menyayanginya. setiap kali aku mencoba untuk jauh, setiap itu pula dia datang entah dari mana, mungkin dia makhluk dari planet lain yang bisa membaca pikiranku. Sebuah bunyi pukulan dari Smartphoneku. Bu Dian.

From : Bu Dian
Aku DPL-mu karena kamu punya janji denganku
Selamat PKL, semoga bisa menjadikan pengalaman baru untuk kamu

To : Bu Dian
Terima kasih Bu

Segra aku melangkah ke warung yang biasanya aku tongkrong bersama Rahman. Namun sekarang aku hanya sendiri. Apa aku harus benar-benar cari pacar saja ya? Biar bisa menjauhi Dosen Judesku ini? tapi kalaupun harus mencari pacar, kasihan itu cewek kalau hanya untuk mainan saja.

Setelah makan, sebentar aku nongkrong lama di warung. Ku buka file-file dalam folder semprotku dan aku menonton dengan khitmad, tak kuhiraukan orang yang berlalu lalang dihadapanku. Toh mereka juga tidak tahu aku sedang menonton apa.

Birahiku muali naik karena tak ada pelampiasan langsung saja aku pulang dan menuju tempat parkir. Baru saja aku menaiki REVIA kesayanganku dan memakai helm, Kulihat Bu Dian sedang berjalan dengan memakai kaos lengan panjang.

“itukan, kaosku” bathinku

Seketika itu pula Bu Dian memandangku dan melempar senyum kearahku, dia berdiri menghadap ke arahku. Tangannya men-dadahi-ku, aku hanya tersenyum sambil menganggukan kepalaku. Segera kutarik kebelakang motorku dan meninggalkan tempat parkir.ku arahkan REVIA menuju jalan pulang.

Matahari yang bersinar seudah merasa sangat lelah hingga sinarnya terasa sangat berwarna kuning seperti halnya pagi hari tadi. Jalanan mulai ramai dengan para pekerja pabrik yang sudah mulai membawa keringatnya kembali kerumah.

Para pedagang kaki lima pun mulai tampak mendirikan gubuk-gubuk kecil tempat beristirahat dan menunggu pelanggan setelah lelah mengelilingi kota. Aku melaju diantara mereka yang tampak memikul beban hidupnya. Ada yang tersenyum ada pulan yang mengrenyitkan dahinya karena keramaian jalanan daerah ini. Sampailah aku dirumah dengan sedikit lelah pada tubuhku.

Kulangkahkan kakiku menuju ke dalam rumah, kutemukan Ayahku dengan secangkir minuman entah itu kopi atau teh. Kukecup tangannya dan dia kemudian meninggalkanku menuju pekarangan rumah dengan asap yang berterbangan dari mulutnya. Kuletakan tas di sofa ruang keluarga, Kuhampiri Ibu yang masih asyik dengan pekerjaan mencuci piringnya. Kupeluk Ibu dari belakang.

“Kenapa kangen ya?” Ucap Ibu

“Ibu tidak kangen sama Arya?” ucapku

“Ya Kangen to ya” ucap Ibu

“Bu…” ucapku dengan kedua tanganku hinggap di susunya, mungkin karena efek dari film yang baru aku tonton di warung tadi

“erghhh… Iya…” balasnya

“pengen…” ucapnya

“Pengan apa? Yang jelas” ucap Ibu

“Bu, pengen dikulum” ucapku

“Apanya?” ucap Ibu

“Kontol Arya, ya bu” ucapku dengan nada manja dan memohon. Ibu kemudian berbalik ke arahku dan mengecup bibirku.

“Sudah lama Ibu pengen denger kamu minta tanpa harus Ibu yang memulai sayang” ucap Ibu kemudian berjongkok di hadapanku. Ibu lalu membuka resleting celanaku dan menurunkannya sedikit bersama celana dalamku. Di elus-elusnya batang dedek arya dengan kedua tangannya

“DI kamar saja bu, nanti…” ucapku terpotong

“Ssssttt… ” desis Ibu dengan menyilangkan jarinya di bibirnya.

Ibu kemudian mengulum dedek arya dengan lembutnya. Kuluman disertai permainan lidahnya membuatku semakin bernafsu, jari-jari manisnya bermain-main di bawah buah zakarku membuat ku semakin tegang dan meledak-ledak. Dan yang membuatku semakin menjadi-jadi adalah permainan lidahnya dilubang pipisku, membuat sensasi yang sangat berbeda.

“Argh… bu enak banget… ehmmmmm… terus bu….” desahku pelan

“mmmm… mmm… slurppp…. enak ya sayang… buat kamu Ibu kasih yang paling enak… mmm slurp….” desah pelan Ibu sambil mengulum dan menjilati lubang pipis dedek arya.

“Arghhh… Bu mau keluar, Arya mau keluarhhh… ssshhhh….” desahku pelan

“Keluarkan sayang mmmm…. slurp…. mmmm….” ucap Ibu sembari mengulum dedek arya

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Dan ditelannya spermaku tanpa bersisa, membuat pemandangan yang indah bagiku. Segera Ibu membersihkan sisa-sisa sperma yang masih tersisa dengan bibir indahnya.

“Nimaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaassss!” teriak Ayahku dari pekarangan rumah.

Segera Ibu menyelesaikan kulumannya dan aku segera menarik kembali celanaku dan duduk di kursi meja makan. Ku dekatkan posisi dudukku hingga mepet dengan meja makan. Ibu kemudian berdiri dan berkumur di tempat cucian piring.

“Nimaaaaaasss” teriak Ayahku semakin dekat

“Ada apa kang mas? Kok teriak-teriak?” ucap Ibu lembut

“Buatkan aku teh lagi, dipanggil dari tadi tidak ada jawaban” ucap Ayahku

“Ya namanya juga lagi bersih-bersih, iya nanti nimas antarkan” ucap Ibu

“Kamu Arya, mandi dulu atau bantu Ibumu jangan Cuma malas-malasan di meja dapur” ucap Ayahku.

Aku hanya menoleh sedikit dan tersenyum mengangguk ke arah Ayahku. Posisiku memanng tidak menguntungkan resleting celanaku belum aku tutup dan sedikit menjepit-jepit dedek arya, perihnya. Ayah kemudian kembali ke pekarangan rumah, beberapa menit kemudian disusul Ibu yang membawa teh hangat.

Sekembalinya Ibu, Ibu kemudian berada di tempat seperti semula. Segera aku hampiri Ibu dengan posisi dedek arya tegang mengarah kearahnya. Segera aku peluk Ibu dan kucium lehernya, tangan kananku kemudian turun keselaangkangan Ibu.

“Sudah Basah ya bu” ucapku

“kamu erghhh tadi bikin ibu horni sayang emmmhhhh…” ucap Ibu. Aku tersenyum dan kusingkap rok selutut Ibu hingga pinggangnya.

Kuturunkan celana dalam Ibu, kaki kananya diangkat sehingga sekarang celana dalam Ibu tersangkut di paha kirinya. Sedikit kuangkat kaki kirinya dan kumajukan bibirku, kubuka bibir vagina Ibuku dengan tangan kananku. Kujulurkan lidahku dan kumainkan di bibir vaginanya.

“Arghhh… sayang… emhhhh…. pelan sayang…. nikmat sekali… lidahmuhhh sangat lembut” ucap Ibuku

“slurrpp… untuk slurpp… ibu, akan kuberikan slurrpp yang paling nikmathh….” ucapku seraya menjilati vaginanya

Jilatan lembutku bermain dibibir vaginanya. Klitorisnya tak luput dari jilatan lidahku. Kadang lidahku bermain-main di klitorisnya, telunjuk jari kananku kumasukan perlahan dan sedikit aku tekuk. Aku maju mundurkan jari telunjukku dan membuat ibu mengelinjang nikmat.

“Pelan sayaang… kocokanmuhh terlaluhhh sssh keras.. nanti ayahmuh tahu ssssh” desah manja dan pelan Ibu. Namun tak kugubris dan aku terus menjilat dan mengcokan jari kananku di dalam vagina Ibuku.

“erghh,,,, mmmm shhhhh ibu hampi sampaihhh sssssshhhhh sayang emmmhhh….” desah Ibu

Tiba-tiba saja tubuh ibu mengejang beberapa kali, kedua tangannya tiba-tiba memegang kepalaku denga sangat erat. kedua tangannya menahan kepalaku agar tetap berada di vaginanya. Kurasakan cairan hangat mengalir di jari tanganku dan sedikit di bibirku.

Setelah tubuh Ibu tidak mengejang, aku kemudian berdiri berhadapan dengan ibu. Kuangkat kaki kanannya, dengan sedikit membuka kedua kakiku aku arahkan dedek arya ke dalam vagina Ibu. Kedua tangan Ibu ditaruhnya dibahuku dan Ibu sedikit menjijitkan kedua kakinya. Bless… akhirnya masuk semua batangku dan aga sedikit linu dengan posisi berdiri ini. Aku mulai menggoyang…

“pelan sayanghhh… jangan sampai bunyinya terdengar oleh a….yah… muwh erghhhh…” desah pelan Ibuku. segera aku sumpal bibirnya dengan bibirku. Aku terus menggoyang dan menggoyang pinggulku.

“clek clek clek…” bunyi perpaduan alat kelamin kami berdua

“erghhh.. kontol arya masuk di tempik Ibu…” desah pelanku sembari melepas ciuman

“he’emmmmhhh… masuk dan penuh sekali sayanghhh… keras…. ouwhggghhhh… nikmat sayang terus…” ucap Ibu

“Sempith sekalih buwh… tempikmu enak sekali… arya ngenthu ibu owghh….” ucapku

“erghhh… sayang jorok ischhh… oufth… terushhh kenthu Ibu, goyang lebih kerashhh sayanghhh erghhhh…” racaunya dengan sangat pelan

“emmmhh… Ibu juga jorok arghh…. nikmat sekali Ibuku sayag…” ucapku pelan

Dengan posisi ini, dedek arya terasa sangat linu namun gesekan antara dinding vagina Ibu dnegan batang dedek arya tetap memberi kenikmatan bagiku. Begitupula Ibu, semakin memelukku dengan sangat eratnya. Bibirnya dijatuhkan ke bahu kiriku dan sedikit mengigit bahuku.

Aku semakin keras meggoyang, entah aku tidak tahu ayah mendengarnya atau tidak. Karena dari yang aku dengar ayah berbicara di telepon dengan seseorang.

“Emmmhh… Ibu mau keluarhhh…. erghhh…. lebih cepat lagi sayanghh….” ucap Ibu

“Aku ju bu ufthhh…. emmmmhhh…..” ucapku

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Seketika itu Ibu memelukkku dengan sangat erat. tubuhnya mengejang beberapa kali, kemudian pelukannya semakin erat. kaki kanannya aku turunkan, terdengar desaha lembut dari bibirnya. Kurasakan cairan hangat kami bertemu dan berkumpul bersama.

Lama kami berpelukan dengan posisi kaki Ibu masih sedikit berjinjit dan dedek arya berada di dalamnya. Dan Plup… dedek arya keluar dengan sendirinya, kedua kaki Ibu tidak berjinjit lagi.

“Nakal kamu ya hssshh hssh hsshh…” ucap Ibu dengan senyuma manjanya

“Sekali-kali Bu.. he he he” ucapku

“berkali-kali juga ndak papa sayang cup muachh…” ucapnya sembari memeberikan ciuman kepadaku.

Bersambung