Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 30

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 30 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 29

Pagi menyapaku dengan sangat ramah, tampak sedikit sinar sang surya masuk ke dalam kamarku. Aku beranjak dari tempat tidurku dan kemudian bangkit, kudapati kepalaku penuh dengan perban yang di balutkan oleh tante malam tadi. Aku duduk di tepi ranjang, meliuk-liukkan tubuhku hingga berbunyi kretek kretek. Kusapu ruangan kamarku, pandanganku arah pada sebuah tumpukan kertas di meja komputerku.

TA!… Bu Dian… bodoh bodoh bodoh! teriak bathinku

Segera aku bangkit dan melepas celana panjangku dan kuganti dengan celana pendek. Aku turun ke lantai bawah, mencoba menemukan kehangatan akan senyum Ibu setelah semalam aku hanya mampu memandang seorang wanita yang menangisi kekasihnya. Wajahnya selalu terbayang di pikiranku saat ini. aku menuruni tangga kamar menuju lantai bawah.

Mandi sayang… ucap Ibu yang tampak terlihat kepalanya saja dengan senyuman manis di bibirnya yang kemudian masuk lagi

Kok ndak ditutup? ucapku ketika di depan pintu kamar mandi, kulihat tubuh telanjanng Ibu dari bagian belakang

Ya Sudah Ibu tutup… ucap Ibu sembari tanganya menarik daun pintu kamar mandi, tubuh telanjangnya sangat indah. Dengan cepat aku mencegahnya.

he he he ndak usah Bu… ucapku sambil tertawa cengengesan, Ibu kemudian tersenyum kepadaku dan membelakangiku lagi. Aku lepas kaos dan celana pendekku beserta celana dalamku. Aku kemudian masuk ke dalam dan langsung kupeluk Ibu. Ibu kemudian mematikan showernya.

Kok Dimatikan? ucapku

Lukamu belum kering sayang

eh.. itu yang dibawah apa sich? Kok ndorong-ndorong pantat Ibu? ucap Ibu. Aku tetap memeluk Ibu, kuletakan kepalaku di bahu kanannya. Terasa hangat dan aku terlupa akan semua rasa sakit yang aku rasakan.

Mau mandi dulu atau… ucap Ibu

Ingin peluk Ibu… ucapku pelan

Hmmm… beneran Cuma peluk saja? ucap Ibu

Heem… ucapku

Ibu kemudian menoleh kebelakang, tangan kanannya kemudian mendorong bagian belakang kepalaku dengan lembut. Kami berciuman dengan sangat lembut, tanganku semakin erat memeluknya. Tangan kiri Ibu kemudian mengarahkan tangan kiriku ke susu kiri Ibu. Lalu ke gerakan jari-jari dan telapak tanganku meremas susu kirinya itu.

Jangan pikirkan dia, apa kamu tidak kasihan dengan Ibu?

kamu berpelukan dengan seorang wanita tapi pikiran kamu ke wanita lain ucap Ibu

Eh… maaf bu, kenapa Ibu bisa tahu? ucapku

Hi hi hi, aku Ibumu nak, aku tahu segalanya

Sekarang, Ibu dan kamu disini, dan tak boleh ada orang lain ucap Ibu

Iya hmmm slurpp…. ucapku kemudian melanjutkan kembali ciuman kami. Wajah Bu Dian kini semakin lama semakin menghilang, kehangatan dan kasih sayang Ibu membuatku kembali di masa aku tidak pernah mengenalnya.

Tangan kananku mulai bergerak ke arah susu kananya dan memainkan puting susu Ibu. Tangan kanan Ibu masih di kepalaku dan tangan kirinya memegangi tangan kiriku dan kadang memberika isyarat untuk menekan lebih keras pada susu kirinya. Tangan kananku kemudian bergerak ke selangkangan ibu, kucari klitorisnya dan kumainkan secara perlahan.

Ergghhhh… sayanghhh… owghh… terusshhhh shhhhh arghhhhh ahhhhh desahnya. Kuciumi leher Ibu dengan dan kujilati dengan lembut. Remasan susu kirinya terus aku lakukan, ciumanku semakin turun dan semakin turun. Hingga pada bongkahan pantatnta kedua tanganku meremasnya.

Ergghhhh… sayang… mau di apain? ucap Ibu yang menoleh ke belakang. Ku arahkan tanganku dan sedikit aku tekan punggungnya, Ibu yang mengerti maksudku kemudian menungging dan bertumpu pada bak mandi. Aku membuka bongkahan pantat itu dan ku masukan lidahku ke dalam vagina Ibu. Kujilati dengan lembut dan terkadang kasar, klitorisnya menjadi sasaran lidahku.

Arghhhh.. sayang…. Arya…. itil Ibu owghhh… rasanya enakhh orghhh….

terushhh sssshhhhh terushhhh jilati sedot sayangkuhhh owghhhh… mainkan itil Ibu owghhhhh racaunya

Dengan memiringkan kepalaku aku menjilati klitorisnya dan jariku masuk dan mulai mengocok vagina Ibu. Vagina Ibu pertama terasa keset tapi lama kelamaan sedikit licin. Membuat jariku dapat keluar masuk dengan lebih mudah lagi.

Aryaaaaaaaaaaaaaaaaaa…. arghhhhh… nakal kamuwhhh erghhhhh…aishhhh arghhh ofthhh…

Terussshhh nakkh buat Ibu keluarhhhh owghhhh… nikmath sayanghhh… erghhhh….

jilati itil ibu nakhhhh sedothh arghhhh lebiiiih erghhhh kencenghhhhh erghhhhh….racaunya kembali. Aku semakin cepat mengocok dan jilatan serta sedotanku semakin liar. Tubuh Ibu bergoyang dan melengking bahkan kadang Ibu mengapit kan pahanya. Tapi dengan tangan kiriku aku bisa menahan paha Ibu agar tidak mengapit.

Aryaaaa…. IBU KELUAAAAAAAAAR ARHHHHHHH teriak Ibu. Kepalanya disandarkan pada tangannya, lututnya menjadi rapuh dan jatuh kelantai secara perlahan. Lalu aku beranjak di samping Ibu dan memluknya dari belakang. Kuciumi punggungnya dengan sangat lembut.

Ayo sayang, kamu sudah kepengen kan? ucap Ibu

Heem… ucapku yang kemudian memposisikan diriku di belakang Ibu

Dengan posisi Ibu yang masih sama dengan sebelumnya, aku mencoba memasukan batang dede arya ke dalam vagina Ibu. Perlahan tapi pasti dengan bantuan sisa cairan yang masih berada di dalam vaginanya, dedek Arya bisa masuk dengan lancar. Kubenamkan sejenak dedek arya di dalam vagina Ibu.

Erghhh… sayaaaangghhhh emmmmmmhhh… tambah besar ya sayang? ucap Ibu

Punyah Ibu ehmmmm yang tambah sempit jawabku. Aku mulai menggoyang pinggulku perlahan, kunikmati setiap sensasi dari jepitan vagina dan dinding dalam vaginanya.

emmmmh… pelan-pelan saja sayang… Ibu ingin lama sama kamuwhhh…

kangenhh… erghhhh… emmmmmhhhhh ucap Ibu

Arya juga pengeh lama sama Ibu, kangen Ibu banget… ucapku kepada Ibu

Pelan aku menggoyang dengan kedua tangan ini memegang pada pinggang Ibu kadang kedua tanganku meremas bongkahan indah pantat Ibu. Aku terus menggoyangnya pelan tapi perasaan kalut dalam diriku membuat aku semakin bernafsu. Aku teringat akan semua kejadian itu, hatiku terasa sakit. Aku tidak ingin kehilangan wanita untuk kedua kalinya, aku tidak ingin kehilangan ibu.

Ibu, aku menyayangimu arghhhh…. aku ingin selalu bermasamh Ibu owghhh…. aku ingin slalu bersamamu bu hiks hiks… racauku dengan tersu menggoyang semakin cepat pinggulku, kupeluk Ibu dan denga erat dan terus menggoyang pinggulku

Argh… nak… Ibu akan selaluh bersmamuwh owghh… emmmmmhhh…. luapkan emosimuwh…

Masukan lebih dalamhhh owghhh… kontol hebathhh erghhhh…. terusssshhhh… racau Ibu

Aku arghhhh aku mau Ibu… selalu bersamamuwh owgh…. aku suka ibu owghhhh… kontolkuwh enakhhh di dalam ahhh tempikh ibu owghhh…

arghhh… ibu aku ingin Ibu selaluwhhhhh arghhhhhhhhhh racauku

ahhhhhhhhhhhhhhhhh…. desah keras Ibu

Crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot crooot

Kurasakan cairan hangat Ibu bersatu dengan cairan hangat dari dedek arya. Kupeluk manja Ibu dengan sangat erat. Air mataku melelh di pipiku. Ibu kemudian melepaskan diri dari pelukanku, membalikan badan dan duduk dihadapanku, dipeluknya aku sangat erat.

Sudah, ndak perlu nangis gitu to ucap Ibu

hiks hiks hiks pokoknya Arya sama Ibu terus saja… ucapku

Iya… iya, Ibu bersihkan dulu dedek arya kamu ini ucap Ibu, kepalanya kemudian turun kebawah mengulum dan menjilati dedek arya dengan lembut. Terasa hangat dan lembut, mulut dan lidah Ibu.

Bu,erghhhh… aku pengen peluk Ibu mmmmmhhh ucapku. Ibu kemudian bangkit dan memandangku, membuka luas kedua tanganya. Kupeluk dengan lembut tubuhnya.

Dengan Ibu aku tidak pernah merasakan pedih ucapku

Karena aku Ibumu

Sudah, kamu jangan khawatir dengan Ibu ucapnya lembut

Ibu kemudian membasuh semua tubuhku, diguyurnya tubuhku dengan air. Aku dan Ibu mandi bersama, teringat masa kecilku ketika itu. Sentuhan-sentuhan halus dan hangat pada tubuhku menghilangkan dinginya air yang membasahi tubuhku. Selesai mandi aku kemudian makan bersama Ibu, benar-benar suasana romantis, terkadang aku sudah tidak dapat membedakan dia Ibuku atau pacarku.

Didepan televisi, setelah kami makan bersama, aku hanya termangu melihat layar hitam televisi yang tidak menampakan gambar. Ibu kemudian membawakan aku teh hangat dan duduk disebelahku. Disandarkannya kepala Ibu di bahu kiriku.

semakin bertambah umur seseorang akan semakin tua dan semakin dewasa dirinya, pahit manisnya kehidupan akan berjalan seiring dengan bertambahnya umur

Semua yang kamu alami adalah sebuah awal pendewasaan kamu nak, tak ada cinta yang tidak membawa sakit hati, karena semua cinta pasti membawa sedikit benih rasa sakit agar kamu tahu makna cinta yang sebenarnya ucap Ibu

Apa harus sakit dahulu agar mengerti cinta? ucapku

orang yang pernah merasakan sakit pasti bisa lebih menata hatinya ucap Ibu. Ibu kemudian bangkit dan memegang kepalaku dipandangnya kedua mataku

Kamu mencintai Ibu dan Ibu juga mncintai kamu nak, tapi hubungan ini tidak dapat berlangsung lama, Ibu sudah pernah mengatakannya kepadamu dan kamu tahu bahwa ini harus berakhir ucap Ibu

Hmmm… gumamku yang tak bisa melanjutkan kata-kata, kupandangi senyuman Ibu yang dilemparnya kearahku. Kusatukan keningku dengan kening Ibu.

Kita akan kembali ke tatanan seharusnya bu, tapi bukan dalam waktu sekarang dan Arya harap Ibu tidak membahas ini lagi sebelum waktu itu semakin dekat

Ibu boleh memberiku nasehat tapi bukan yang berkaitan dengan kita berdua, Arya ingin semuanya sesuai dengan waktu yang akan datang tersebut ucapku. Ibu memandangku dengan tatapan mata yang teduh

nak, Ibu akan selalu mencintaimu, hingga ada waktu yang tepat untuk kembali menjadi seperti dulu lagi dan kamu harus berjanji untuk tetap melindungi Ibu ucap Ibu

Arya janji ucapku. Kami kemudian berciuman mesra, saling melumat dan menyedot bibir masing-masing.

Bu, Arya masih bisa bobo sama Ibu kan? ucapku cengengesan

ini anak iiiiiiiiiiiiiiih nakal amat, ntar malam kalau dia belum pulang ucap Ibu dengan nada bercanda sambil mebetet hidungku

Ibu tidak ingin kamu kehilangan masa mudamu seperti Ibu, maka Ibu akan tetap bersamamu sampai ada seorang wanita mau menggantikan posisi ibu…

As your lover ucap Ibu lembut

And i will let you go, till that girl come to you…ucapku mengiyakan. Dalam hening kami berpelukan, kurasakan lembut wangi tubuhnya dalam dekapanku.

Kamu ndak jenguk pak felix? ucap Ibu. Selepas kami berpelukan.

Ndak, males… ucapku

Dian ya? ucap Ibu yang tahu alasan kenapa aku malas menjenguk pak felix

tuh sudah tahu ucap Ibu

Ya ndak gitu to ya, katanya dulu pengen jadi ksatria pelindung, masa ksatria gampang sakit hati? ucap Ibu

Yang namanya ksatria, harus punya hati yang kuat dan lapang, okay? ucap Ibu, aku hanya tersenyum aku kemudian bangkit dan ke kamar untuk berganti pakaian. Segera aku sambar perlengkapan tempurku. Segera aku turun dan pamit dengan Ibu.

Ingat, wanita itu inginnya dimengerti kalau kamu tidak menginginkan wanita itu ya tidak usah kamu mengerti keinginannya, tapi kalau kamu menginginkan dia kamu harus mencoba mengerti keinginannya dan bersikaplah sewajarnya jangan terlalu dingin sama wanita, okay?

ucap Ibu sembari memberikan ciuman hangat pada bibirku kubalas ciumannya, lalu Ibu meberikan aku buah tangan untuk pak felix dan segera aku berangkat menuju rumah sakit.

Laju motor REVIA bergerak dengan sangat cepat, gas kutarik hingga maksimal. Saking cepatnya sebuah motor SATRIYA dapat menyalipku dengan sangat mudah bahkan motor TOSYA roda tiga pun dapat dengan mudah melewatiku. Dan sampailah aku di depan sebuah RS terkenal di daerahku. Aku berhenti untuk menunggu sebuah keajaiban seperti halnya motor yang didepanku tadi.

Mas, cepetan! Woi panas ini! malah berhenti ucap seseorang pengendara di belakangku

Bentar pak, ini palangnya ndak mau naik ucapku santai

Lha ****** banget to mas, itu tombol ijo-nya dipencet mas, sampai kucing bertelur ndak bakalan mbuka mas kalau ndak dipencet! teriak pengendara itu lagi

Ndak tahu pak he he he, maklum wong ndeso ucapku, segera ku pencet tombol hijau itu dan terbukalah palang pintu parkir. Segera aku parkir motorku di tempat yang teduh agar kulit recia tetap kinclong dan mempesona

Mas! ucap seseorang di belakangku sambil menepuk bahuku, dan ternyata itu adalah pengendara yang tadi dibelakangku

Ada apa ya pak? ucapku

Ini karcisnya tadi ndak kamu ambil, gimana to mas-nya itu, ndeso-ndeso mas tapi jangan malu-maluin ucap bapaknya sambil menyerahkan karcis itu, akupun berterima kasih kepada bapaknya walau sedikit ada rasa malu

Sialan! Untuk ndak ada orang coba kalau di sini banyak orang bisa-bisa jadi bahan tertawaan, itu juga mau masuk parkir saja ada mesin yang otomatis segala ucapku, kalau diingat-ingat sewaktu aku ke gramedia dan bertemu budhe waktu itu ada tukang parkirnya di dalam box.

Dasar aku-nya saja yang ndeso mungkin. Segera aku berjalan ke arah pintu masuk utama rumah sakit dan kutanyakan kepada bagian administrasi mengenai pasien bernama Felix yang masuk tadi malam.

Ruang Hati nomor C-1-N-7-4 ucap mbaknya yang jaga

kok aneh bathinku

Ini dimana ya mbak, ada petunjuknya ucapku kepada mbaknya yang memakai kerudung putih dengan senyum yang manis

Petunjuknya di hati saya mas, mas-nya ke hati saya saja bagaimana? ucap mbaknya. Glodak, sial ternyata aku kena gombal

Waduh… ucapku sambil tepuk jidat mbaknya hanya tersenyum

hi hi hi… ruang lavender mas nomor…. nomor mas berapa? ucap mbaknya lagi

nomor apa mbak? Kalau nomor pacar saya, saya punya mbak, gimana? ucapku, seketika wajah mbaknya sedikit cemberut ke arahku. Walau secara de jure aku memang tidak mempunyai pacar tapi secara de facto aku punya pacar, Ibu.

nomor 69 mas, tuh ada petunjuknya ucap mbaknya jadi ketus. Langsung aku sodorkan tanganku ke arah mbaknya

Arya, Arya Mahesa Wicaksono, maaf jika membuat mbak marah, hanya saja saya bukan tipe orang yang suka bohong, tapi saya suka ketika mempunyai banyak teman atau sahabat ucapku dengan senyuman, disambutnya tanganku denga lembut

Erlina, Erlina Eka Pangestuti, memang kelihatannya mas lebih cocok jadi sahabat daripada pacar ehem ucapnya dengan senyum, ditariknya tanganku dan ditulisnya sebuah angka dan huruf di telapak tanganku

Invite ya mas hi hi hi ucapnya

Mbak, aku invite tapi janji dulu… ucapku

janji apa mas? tanyanya

sahabat selamanya, okay? No Love ucapku dengan santai

Okay, bestfriend with no love ucapnya. Aku kemudian beranjak dari tempat itu, sambil berjalan aku menginvite erlina di BBM-ku. Sial kenapa juga aku harus memperkenalkan diriku kepada erlin, arghhh masa bodoh yang penting aku sudah bilang sama dia kalau aku hanya ingin jadi sahabatnya.

Tapi aneh juga ya kenapa dia tiba-tiba ngegombal ke aku? Ah masa bodoh! Ku ikuti petunjuk arah keruang lavender, mungkin karena ndesonya aku jadi aku tidak memanfaatkan lift yang tersedia, hanya mengikuti petunjuk ke kanan ke kiri naik tangga dan lain sebagainya. Terdengan sebuah bunyi pukulan pada Smartphoneku, kubuka. Erlina. Sambil berjalan mengikuti petunjuk arah, aku memainkan Smartphoneku.

From : Erlina
PING!

To : Erlina
Ya mbak

From : Erlina
Cuma ngecek beneran kamu ndak yang invite aku

To : Erlina
Fotonya dilihat tuh mbak, foto siapa, masa aku bohong

From : Erlina
Hi hi… iya dech percaya

To : Erlina
Hadeeeeh…

From : Erlina
Met jalan-jalan muter-muter ya

To : Erlina
Owh aku dikerjai nich ceritanya?

From : Erlina
Salah sendiri ndak pake lift he he he

To : Erlina
Awas kalau ketemu

From : Erlina
Hi hi… :p

Braaakkkkk…..

Aaaa….. teriak seorang wanita memakai jas putih yang hampir terjatuh. Dengan cepat aku raih punggungnya dengan tangan kananku, buah tangan dan Smartphone sementara aku tidurn di lantai alias jatuh. Wajah nan Ayu rambut panjang terurai dengan kaca mata menghiasi wajah manisnya. Segera aku bangkitkan tubuhnya.

Maaf… maaf mbak… maaf…. ucapku sambil membungkuk-bungkuk di hadapannya

Masnya itu kalau jalan hati-hati kenapa? ucap wanita tersebut. Aku hanya tersenyum memandangnya dengan senyum cengengesanku

Ndak ada yang kurang kan mbak? ucapku

Kalau kurang memangnya mau ganti rugi? ucap wanita tersebut

Ya ndak juga mbak, saya minta maaf sebesar-besarnya jika pakaian mbak kotor atau apa saya siap menanggung resikonya ucapku dengan tersenyum dengan sedikit cengengesan

Okay, ganti rugi makan siang , bagaimana? ucap mbaknya. Kulihat sepintas pakaiannya, jas lab putih dengan celana kain hitam panjang dihiasi sepatu hitam berhak tidaj terlalu tinggi.

Waduh…

Masa, saya yang orang biasa seperti ini harus ganti rugi makan siang mbak, yang ada mbak dokter yang traktir saya ucapku

hi hi hi… sudah mas tenag saja

Emmm…. mas-nya itu tadi yang bikin gara-gara di pintu masuk parkir ya? ucap mbaknya dokter, yang kemudian membuat suasana semakin akrab

gara-gara ditempat parkir? Bukan mbak, mbaknya salah lihat mungkin ucapku, mau garuk-garuk kepala juga susah masih ada perbannya.

Lha tadi bikin antrian panjang, ya kan? yang ndak mencet tombol hij… ucap mbaknya dokter terpotong. Langsung saja aku mendekat dan menyilangkan jariku di bibirnya, entah keberanian dari mana tapi itu hanya sekedar reflek

Sssssttt… jangan keras-keras mbak ntar saya bisa jadi komedian disini ucapku

ini tangan ngapain sich nyampe sini ucapnya

eh… maaf maaf reflek mbak, mbaknya dokter sich keras-keras ucapku

mbaknya dokter-mbaknya dokter, apa ndak bisa baca name text-ku? ucapnya

AS-MA-RA ME-DI-TA

iya mbak asmara, maaf kalau saya lancang, maaf maaf ucapku

Panggil saja aku Ara, kamu mau kemana? ucap Ara

Mau ke ruang lavender nomor 69 mbak, mbak dokterkan disini? Pasti tahu dong ucapnya

Iya masih di lantai atas, kenapa kamu ndak naik lift saja dari bawah kan malah cepet ucap mbak Asra

Dikerjai sama mbaknya yang dibawah owk, jadi ya jalan kaki saja mbak biar sehat he he he ucapku

Pantes! ucapnya

Pantes kenapa mbak? ucapku

Pantes kalau kamu itu ndeso, ada lift kok ndak dipake, ada tombol kok ya ndak dipencet ucap mbak Asra

Sudah dech mbak jangan di ingatkan lagi, saya jadi malu, lagian mbak Ara kok tahu kalau saya tadi bikin huru-hara di tempat parkir? ucapku

Aku tadi yang membonceng bapaknya, yang neriaki kamu… eh ngomong-ngomong siapa nama kamu? ucapmbaknya

Arya mbak ucapku sembari menyodorkan tanganku dan disambut olehnya

ya sudah mbak kalau begitu, sebelumnya saya minta maaf, saya mau melanjutkan perjalanan dulu

tapi mbaknya ndak bohongkan kalau levender diruang atas? ucapku

kalau bohong cari aku, nanti aku akan traktir makan siang sepuasnya ucapnya

eh.. gimana cara nyari mbak? ucapku lugu

ni kartu namaku ucapnya sembari menyodorkan kartu namanya, kenapa hari ini aku dapat kenalan cewek? Double lagi? Bodoh ah!

wah kalau berobat sama mbak gratis ya he he he ucapku

iya dech, di awal ya tapi nanti kebelakangnya bayar dobel ucapnya dengan senyum mengejekku

sama aja mbak, mending aku berobat ke dokter lain ucapku

Hi hi hi kamu lucu juga, itu kenapa kepala pakai perban? tanya mbak Ara

Biasa mbak, cowok, ber… an… tem ucapku semakin pelan dan mengeja karena mabak ara tiba-tiba dia mendekat dan membenarkan perban di atas kepalaku. Aroma wangi parfum semerbak masuk kehidungku

Besok lagi ndak usah berkelahi lagi Ar ucapnya

Eh… iya mbak, terima kasih ucapku

Ya sudah, cepat sana ke lavender, kasihan yang nungguin kamu entar ucapnya

Oke, mbak, duluan ya mbak ucapku, segera aku melangkah kembali menuju tangga padahal dan kemudian menaikinya, memang lebih enak menaiki tubuh wanita ketimbang menaiki tangga eh… kenapa aku punya pikiran kotor? He he he… sampailah aku pada ruang lavender no 69.

bener-bener gila ini yang buat rumah sakit, luas banget, bikin pegel saja bathinku berkeluh kesah. Kubuka kartu nama mbak ara, dan aku kemudian sms mbak ara.

To : Ara
Mbak, terima kasih, mbaknya dokter bener

From : Ara
Iyalah Aryaaaa,
Oia, besok-besok lagi kalau sudah dikasih tahu sama yang lebih tahu
Naik lift, sudah dibilangin lantai atas masih saja naik tangga, ndeso!

To : Ara
Iya iya, aku Ndeso….

From : Ara
Marah nih ya?

To : Ara
Ndak juga, kalau marah sama mbak bisa di tikam sama pacar mbak

From : Ara
Paling pacarku ndak berani sama kamu ar
Dia ndak jago berkelahi kaya kamu yang doyan berkelahi

To : Ara
KDL he hehe

From : Ara
Apaan tuh?

To : Ara
Kasihan Dech Loe ha ha ha 😀
Gimana nanti kalau ada preman yang ngegodain mbak coba?
Masa pacar mbak diem aja? :p

From : Ara
Awas kamu kalau ketemu lagi!

To : Ara
Tenang saja mbak, mbak ndak bakal ketemu sama aku lagi kok :p

From : Ara
Oh ya?!
AWAS KAMU POKOKNYA!

To : Ara
Serem he he he
Met aktifitas mbak 🙂

From : Ara
Okay, sama-sama Ar 🙂

Setelah bersms ria dengan mbak ara, segera aku membuka pintu kamar itu, tak ada seorang pun disitu kecuali pak felix yang berbaring dan sedang asyik main game di Smartphoneya.

Pak Felix… ucapku

Oh… Hai Ar, apa kabar? Bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja? ucap pak felix

seharusnya yang tanya begitu kan saya pak, kan saya yang jenguk bapak ucapku, sambil meletakan buah tangan dari Ibu

Oh iya, ya beginilah Ar, ada beberapa tulangku yang patah sewaktu di injak-injak kemarin, kamu bagaiman? Makasih buat buah tanganya ucap pak felix

Sudah biasa pak, tenang saja. Iya pak sama-sama ucap pak felix, tak kulihat Bu Dian disana, tampak sepi namun aku enggan menanyakan keberadaanya. Aku kemudian duduk di kursi di sebelah kiri pak felix, membelakangi pintu masuk. Lama kami bercakap mengenai kejadian semalam dan juga perkuliahan di semester depan. Canda dan gurau menghiasi pembicaraan kami berdua.

Bugh… pukulah ringan dibahuku

Ngapain kamu disini Ar? ucap seorang laki-laki di belakangku, aku menoleh

Lho, Om Heri? Bukanya om heri ada di luar kota? ucapku kepada Om heri, adik tante asih

Aku pindah dinas ucap om heri

Kata tante asih, di luar kota ucapku

Ya Tantemu itu belum tahu, Seharusnya bulan depan aku pindahnya tapi karena sudah kangen rumah, om mendesak pihak kedinasan untuk mempercepat kepindahanku, jadi tante asih kaget tadi waktu om her disini ucap om heri

Bagaimana keadaanmu Lix? ucap Om Her ke pak felix

Ya beginilah mas, kalau tidak ada Arya sama teman-temannya mungkin sudah lebih parah lagi mas ucap pak felix

Arya ini hadeeeeeh… kakak kelasnya saja sampe nangis-nangis dikerjai sama dia, nakal memang anak ini ucap Om Heri

Lho kalian sudah saling kenal? ucapku

Felix itu adik kelas SMA om her, jadi ya kenal

Dan jangan berkelahi lagi! ucap om her sedikit membentak, aku hanya tersenyum cengengesan di hadapannya.

Sudah mas, ndak papa, ponakanmu ini orang hebat mas bela pak felix

tuh denger kata pak felix om he he he ucapku dengan sedikit sombong

Kami kemudian melanjutkan percakapan kami. Om her menceritakan mengenai rumah sakit luar kota dan betapa kangennya dirinya dengan rumah. Akhirnya dia pindah dinas agar bisa lebih dekat denhi gan Ayah Ibunya atau adik dari kakekku. Lama kami mengobrol akhirnya waktu menunjukan pukul 11:30. Aku kemudian keluar sebentar untuk menyulut rokok.

Di atap gedung saja Ar, di sana smoking areanya ucap Om Her, aku hanya mengangguk mengiyakan, aku keluar menuju tangga ke atap gedung. Baru beberapa langkah menuju tangga tersebut muncul wanita yang sudah tidak asing lagi dengannya, Tante Asih dan juga Dosen judes, Bu Dian yang membawa air mineral.

Walau di awal perkuliahanku dia tampak judes, setelah banyak yang dilalui dan melibatkan aku dan dia pandangannya menjadi pandangan yang teduh kepadaku. Bodoh Ah!

Tan… te…. he he he ucapku ketika berhadapan dengan mereka berdua

APA! bentaknya

ndak papa tante… ucapku lirih

Sekarang bersihkan lantai ini dan harus bersih! ucap tante tiba-tiba menghukumku

Lho tan, kan ada tukang bersih-bersih disini, dan mereka dibayar untuk itu, kenapa harus aku? ucapku

Membantah? Berani membantah sekarang? ucap tante asih

ndak tan, Arya ndak berani membantah tante ucapku

Hi hi hi… Bu Dian mengejekku

Iya Ar, kamu bersihkan , lagian tante kamu tadi sudah minta ijin ke Pak Dhe, kalau nanti Arya kesini suruh ngepel lantai, gitu ucap lelaki yang berada dibelakang tante asih dan bu dian. Pak Dhe Anas, sahabat dari Pak Dhe Andi merupakan kepala rumah sakit ini atau bisa dibilang direktur utama rumah sakit.

Pak Dhe Anas, memang beneran begitu pak dhe? ucapku

Iya…! bentak tante asih

Ya ndak juga, tapi kalau hukuman karena berkelahi diijinkan kok ucap pak dhe Anas yang langsung berjalan meninggalkan kami bertiga. Jelaslah Pak Dhe Anas tahu kelakuanku, dia sahabat pakdhe andi sejak kecil dan tahu bagaimana kecilku hingga besarku.

Argghhh… Hmmmm…. gerutuku

Dah, mulai dibersihkan, Dian, kamu jaga Arya, kalau nanti dia tidak serius membersihkannya kasih tahu mbak, biar seluruh rumah sakit dia yang mengepel, aku akan periksa Felix dulu ucap tante yang kemudian meninggalkan kami berdua.

iya mbak ucap Bu Dian. Di hadapanku berdiri seorang wanita yang pernah membuatku terbang tinggi walau akhirnya sayapku patah dan terjatuh dihadapanya.

selamat siang bu… ucapku

siang Arya ehem… ucapnya dengan senyuman lembut. Aku pamit melangkah menuju ruang tukang bersih-bersih atau lebih kerennya dipanggil OB. Setelah menjelaskan kepada OB-OB disana aku diambilkan alat pembersih.

Aku kemudian kembali ke tempat Bu Dian berada, Bu Dian hanya duduk manis menatapku yang sedang membungkuk membersihkan lantai. Entah mimpi apa semalam aku hingga bisa menjadi seorang OB di rumah sakit. Tapi anehnya kenapa Bu Dian sekarang tampak dekat dengan tante asih?

Yang itu belum Ar… ucap Bu Dian sambil menunjuk lantai dibawah kursi

iya Bu… ucapku pelan dan datar

Aku segera memmbersihkan yang ditunjuk oleh Bu Dian, dengan cepat aku bersihkan. Tubuh yang masih terasa sakit tapi tak aku hiraukan dan tetap mebersihkan lantai hingga sudut-sudut sempit yang tidak terjangkau.

Mungkin aku memang mempunyai keahlian tukang bersih-bersih. Saat aku membersihkan lantai, sedikit aku melirik ke arah bu dian. Dia sedang membuka air mineralnya kemudian dituangkan sedikit ke alas sepatunya. Di injakannya sepatu itu di depannya agak jauh, dan jelas akan terstempel sebuah tanda sesuai dengan bentuk alas kakinya.

Ar… ini masih kotor… ucap Bu Dian. Dengan diam aku membersihkan lantai di depannya, ketika sudah bersih aku kembali ke lantai lain yang belum dibersihkan.

Ar, ini juga masih kotor… ucap Bu Dian menunjukan sebuah stempel alas sepatunya lagi didepannya yang baru saja aku bersihkan dengan jarak yang lebih dekat dengan bu dian dari sebelumnya.

Aku tidak menjawab atau apapun aku kembali ke tempat itu, dan membersihkannya lagi. Aku kemudian mebersihkan lantai yang lainnya lagi. Tapi Bu Dian sekali lagi melakukan hal yang sama dengan stempel alas kakinya semakin dekat dengannya.

Ketika aku memandangnya, dia membuang muka dan bergaya sambil bersiul-siul walau tidak ada bunyi yang keluar dari siulannya itu. Kejadian itu berulang hingga tujuh kali dan yang ketujuh, stempel alas kakinya itu berada tepat didepannya. Aku berdiri di depannya dan menatapnya, kini Bu Dian menatapku dengan lembut

Ndak boleh marah lho Ar, nanti dimarahi sama tantemu ucap Bu Dian santai. Aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi jika nama itu disebutkan. Aku bersihkan sebersih-bersihnya dan ketika aku berbalik ke tempat lain aku sedikit melirik ke arah Bu Dian, kulihat Bu Dian akan melakukan hal itu lagi.

Dengan cepat aku bergerak mendekatinya dan mencegahnya. Ku sandarkan lap pel itu dan aku pegang kedua sepatunya itu dengan kedua tanganku. Hingga kedua tanganku terinjak kakinya, dengan segera aku lepas sepatu di kakinya.

Kaki Ibu sakit ya? Arya pijat ucapku dengan nada datar tanpa memandangnya sama sekali. Entah darimana ide ini muncul yang jelas aku tidak mau dikerjai terus-terusan. Aku kemudian memijat-mijat ringan pada kakinya yang sebenarnya tidak terluka ataupun sakit. Sedikit aku melirik ke atas, wajahnya tampak sekali sumringah dan tidak ada penolakan.

Eh… dia terkejut dengan pijatan-pijatan kecilku

Mbak Diah beruntung ya punya pacar kamu, baik dan tidak gampang jengkel walau dikerjai habis-habisan ucap Bu Dian tiba-tiba

Iya… ucapku datar

Kalau boleh tahu, ketemu dimana? ucap Bu Dian

Di rumah ucapku

Deket rumah ya, wah asyik dong kalau ngapel ndak perlu jauh-jauh

Apa dia benar pacarmu Ar? ucapnya dengan nada penasarannya

Setiap hari saya bisa ngapel kok Bu

Seandainya iya, ada yang salah? Dan seandainya tidak, kenapa Bu? ucapku

Eh.. tidak apa-apa, hanya ingin tahu saja apa dia benar pacarmu atau tidak ucapnya, kemudian tatapan kami beradu

karena dia terlihat lebih tua darimu ucap Bu Dian

Kan Cinta tidak memandang usia ucapku dengan santai, dan aku kembali memijit kakinya

I… iya… 28 ya umurnya? ucap Bu Dian, mencoba menebak umur Ibu

Eh… muda banget ternyata Ibu dimata orang lain bathinku

Tidak tahu… ucapku yang kemudian memasangkan sepatunya kembali pada kakinya lalu bangkit

Sudah, kaki Ibu kalau sakit dipijitkan langsung saja tidak usah diinjak-injakan kelantai kasihan nanti yang membersihkan bu ucapku sambil memandang wajahnya yang menengadah memandangku. Ku angkat kakiku dan melangkah mengambil lap pel.

Apa dia benar pacarmu Ar? ucap Bu Dian

Apakah pada saat ujian skripsi nanti, ada pertanyaan seperti itu bu?

Seandainya dia bukan pacarku ataupun iya, itu juga tidak menguntungkan atau bahkan merugikan Ibu kan? ucapku sambil membalikan badan dan tersenyum kepadanya

eh… iya ucapnya sambil menunduk dan aku berjalan ke arah ruang OB

Tapi aku yakin dia bukan pacarmu… Ar ucap Bu Dian. Membuatku sedikit kaget, tertegun dan berhenti lalu kembali melangkah menuju ruang OB. Aku masuk dan di dalam ruang OB tidak ada seorang pun. Aku bersandar kemudian pada pintu tersebut hingga tubuh ini melorot jatuh ke bawah hingga kedua siku tanganku bertumpu pada lututku

Kenapa kamu sangat peduli padaku bu? Tapi setelah malam itu sikapmu memperlihatkan aku bukan orang yang pantas kamu pedulikan bathinku

Bersambung