Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 29

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58Part 59Part 60
Part 61Part 62Part 63Part 64Part 65

Cerita Sex Dewasa Cinta Yang Liar Part 29 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Cinta Yang Liar Part 28

Sudut pandang orang ketiga

Polisi berdatanngan mereka mendapat laporan dari pengunjung yang diusir oleh para berandalan ini. Beberapa polisi kemudian meminta keterangan kepada pihak cafe, terutama eko. Beberapa polisi yang lain memasukkan satu persatu berandalan itu dalam mobil tahanan, khusus untuk berandalan yang masih bisa berdiri. Berandalah-berandalan yang sudah tak berdaya, akhirnya dipanggilkan ambulan terutama lucas, paijo dan ilman begitu pula felix.

Sayang kamu bawa mobil kamu saja, nanti susul aku, aku tidak apa ucap felix

tapi bagaimana dengan kamu? ucap Dian

Aku tidak apa-apa, sudah tenang saja ucap felix

Ibu, bernama Bu Dian? ucap seorang polisi

Iya, pak ucap Dian. Kemudian terjadi interogasi kepada Dian

baiklah jika nanti kami membutuhkan Ibu sebagai saksi, Ibu Dian siap? ucap polisi itu

ya saya siap ucap Dian. Setelah semuanya dimintai keterangan, polisi-polisi itu mulai pergi satu-persatu, terkecuali satu mobil ambulan.

Arya… ucap seorang perawat wanita yang keluar dari mobil ambulan tersebut yang melihat sebuah motor yang dikenalinnya

Kamu disini dulu saja dik, saya mau kedalam cafe, tidak usah kemana-mana, nanti saya akan tanggung jawab ke atasan ucap wanita tersebut sambil membawa perlengkapan medic-nya

Dian, kemudian menghampiri Sudira dan Eko, kemudian perawat tersebut juga menghampirinya. Di obatinya luka dira oleh perawat tersebut. Dira hanya diam dan sedikit ketakutan dengan wajah wanita yang sedang merawatnya itu. Tak berani dia mengaduh ketika cairan alkohol menyentuh lukanya.

Kamu itu ndak berubah-ubah! ucap wanita tersebut

he he he tante cantik maafin dira gih ucap dira

sudah ayo masuk, ada yang harus tante selesaikan di dalam ucap wanita tersebut

eh tante jangan marah-marah dunkz hi hi hi ucap dira yang langsung terdiam ketika pandangan tajam layaknya elang yang akan menyambar mangsanya tertuju padanya. Dira langsung merunduk dan tak berani berbuat apa-apa. Kemudian dipapahnya sudira yang mendapatkan luka pada tubuhnya oleh perawat tersebut dan juga eko ke dalam cafe diikuti Dian. Hingga didalam cafe.

ARYAAAAA! KELUAR! ATAU MENYAPU HALAMAN! teriak wanita tersebut dengan kedua tangan berpinggang. Wanita cantik keturunan jepang itu membuat Dian kaget karena wanita itu tahu tentang seorang lelaki yang dikenalnya, Arya.

Sudut pandang orang ketiga selesai

Aku yang sedari tadi bersembunyi di bagian dalam cafe, sangat terkejut dengan teriakan tersebut. Teriakan hukuman ketika aku masih kecil, ini adalah suara yang akau kenal. Dengan perlahan aku keluar dari persembunyianku.

TANTE?! ucapku kaget

Kamu itu ya sudah dibilang jangan berkelahi lagi masih saja berkelahi, kamu juga wongso, kalian juga, erghhhh…. ucap tanteku, tante Asih, tante Asih adalah seorang kepala perawat dirumah sakit terkenal didaerah kami karena prestasinya yang cemerlang.

Dia adalah anak dari adik kakekku, intinya dia adalah sepupu Ibuku. tante asih mendekat kearahku, cubitan pada tanganku yang tidak terluka beberapa kali aku dapatkan.

DASAR ANAK NAKAL! SUDAH DIBILANG BERAPA KALI?! Bentak tante asih yang masih saja mencubitku

ampun tante… ampun… ampuuuuun ucapku dengan darah yang mengering di kepalaku

MASSS! Hiks hiks hiks hiks teriak asmi tiba-tiba, yang dibelakangnya diikuti pacar-pacar sahabat-sahabatku. Mereka satu persatu memberi hukuman kepada pacarnya masing-masing, aku hanya tersenyum iri kepada mereka. Walau begitu, mereka tidak bisa menahan tangisnya. Bagaimana ya kalau saja ada seorang cewek yang menagisi aku setelah berkelahi seperti ini?

sudah dibilang jangan berkelahi lagi, kamu itu lho hiks hiks hiks ucap asmi

lihat sendiri kan aku ndak apa-apa ucap wongso santai

ndak papa gimana? Itu cat merah dikepala kamu, hiks hiks hiks ucap asmi sambil memeluk wongso

aduh duh duh duh… pelan-pelan sayang ucap wongso

dah mana tak obati dulu, kalian ndak usah kelihatanya kalian baik-baik saja ucap tante asih yang beranjak ke arah wongso dan mengobatinya.

iya bulik, kita ndak papa, mereka berdua saja bulik yang sok jago ucap aris. Kulihat mereka malah berpacaran dihadapanku, sialan. Coba bayangkan perasaan kalian ketika sedang sakit dan tak ada pacar tapi malah melihat orang pacaran, sakit , sakit hiks hiks hiks he he he.

kamu ndak papa Ar? ucap Bu Dian yang tanpa aku sadari ternyata duduk di sampingku

Eh…

ndak papa… ucapku. Kemudian Bu Dian mengambil kapas yang dibasahi oleh sedikit alkohol. ketika tangan itu mencoba menyentuh kenngku yang terluka, aku memundurkan kepalaku

ndak usah bu, biar tante asih saja, ibu pulang saja dulu ndak papa kok ucapku. Tampak sekali wajah khawatir Bu Dian terhadapku tapi aku mengacuhkannya. Diremasnya kapas itu dengan sedikit menahan tangis, tampak sekali matanya berkaca-kaca ketika aku sedikit meliriknya. Bodoh ah!

Ar, biarkan aku membasuh lukamu ar, aku mohon…ucap Bu Dian

Bu, biar tante asih saja, Ibu tidak usah repot, okay? ucapku yang tersenyum ke arahnya. Wajahnya tampak bertambah kecewa dengan sikapku, kaca-kaca di matanya bertambah tebal.

Dah, sekarang giliran si bandel ini ucap tante asih yang berjalan kearahku

iya itu bulik buandele minta ampun ucap anton

Kamu juga sama saja! Kalian juga! Bandel semua! bentak tante asih, membuat mereka semua bersembunyi di balik tubuh pacarnya masing-masing

Harus dihukum kalian semua! bentak bulik

jangan bulik kasihan ucap asmi pacar wongso, yang kemudian diikuti beberapa pembelaan dari pacar mereka masing. Bulik hanya mendengus kesal dan berjalan ke arahku.

Lha kamu siapanya arya? Kok dari tadi nempel arya terus? ucap tante asih

teman dekatnya tan… ucap Bu Dian

Dosenku Bu… ucapku dengan senyum

ini yang benar apa? Teman dekat atau dosen? ucap tante asih

Doseeeeeeeeen buliiiiik ucap sahabat-sahabatku dengan serempak, seakan-akan tahu isi hatiku. Kulirik Bu Dian tampak terdiam dan kaget, wajahnya sedikit tertunduk air matanya tampak menetes di tangnya yang menggenggam di atas pahanya.

Mau dosen mau pacar mau teman dekat, kamu bantu tante membersihkan luka Arya ucap tante

Eh… ucapku

Ah… iya tan… ucap Bu Dian, yang kemudian wajahnya berubah sumringah. Diusapnya sedikit air mata itu dengan tangannya. Dengan perlahan dibersikannya luka-lukaku dengan perlahan dan hati-hati

Aduh duh… rintihku

eh maaf maaf… sakit? ucap Bu Dian yang nampak sedih ketika aku mengaduh

eh pelan-pelan bu ucapku

i… i… iya.. ucap Bu Dian dengan wajah sumringahnya. Entah kenapa dia jadi tambah senang ketika membasuh lukaku. Dengan bantuan tante lukaku kemudian di obati olehnya.

sudah…

sebentar… ucap tante, yang kemudian berjalan keluar dan menelepon seseorang sambil memandangku dan menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian dia kembali duduk disampingku.

dah kamu rebahan dulu… ucap tante

rebahan disini saja ar ucap bu dian menawarkan pahanya

tidak di tante saja jawabku dan membuat kecewa bu dian. Aku kemudian rebah di paha tante.

dasar anak manja! ucap tante

biarin kali, kan enak dimanja he he he ucapku cengengesan

aku pijit ar ucap Bu dian

ndak usah bu, ndak papa kok aku jawabku menolak

kamu itu bagaimana jarang-jarang ada dosen mau memijiti mahasiswanya, kamu itu aneh ucap tante asih

aku sering lihat kok tan, jadi ya ndak perlu dipijit tan ucapku

heh,Dimana? ucap tante

Dirumah tante asih, kalau om lagi mijiti kaki tante, itu kan dosen yang mijiti MANTAN mahasiswinya yang sudah jadi istrinya he he he ucapku

dasar! ucap tante asih. Tiba-tiba perhatian kami semua tertuju pada pasangan yang sangat romantis.

Dira sayang, koko akan menjadi pejantan kamu dan akan melindungi kamu, kamu jangan berkelahi lagi ya sayang ucap eko

Ich koko romantis dech dira jadi tambah sayang sama koko, sini dira cium dulu ucap dira yang tertutup taplak meja pada bagian tubuhnya. Kami yang melihatnya merasa mau muntah walau secara penampilan dira memang sudah sama persis dengan seorang cewek tapi kami semua tahu asal muasal Dira.

Kadang tingkah mereka berdua membuat kami terbahak-bahak dan mau muntah tapi dua insan itu seakan tidak peduli dengan keberadaan kami.

Eh… kenapa kalian? Iri ya? ucap Dira

Babar blas ora su! (sama sekali tidak njing!) ucap Aris

Kalau iri bilang saja, preman takut sama tante asih hih weeek ucap dira yang langsung terdiam dan memasukan kepalanya ke dalam pelukan eko. Jelas saja, tatapan mata tante asih sangat tajam ke arah kami.

ya, kita memang takut dengan tante asih, karena dialah yang selalu mengobati kami dan juga yang memberi hukuman kami menyapu halaman, entah halaman siapa saja yang sudah kami bersihkan karena ulah kami.

Sebenarnya kamu pacarnya Arya atau hanya seorang teman? tanya tante pelan kepada Bu Dian. Bu Dian diam tak bisa menjawab pertanyaan itu, aku juga tidak begitu mempedulikan jawab Bu Dian

Ya Sudah, tak perlu dijawab mbak

Aku tantenya Arya, dari adik kakeknya, jadi kamu tidak perlu grogi, Arya dan teman-temannya memang suka berkelahi sejak SMA. Tante selalu dibuat pusing mereka karena tante satu-satunya keluarga Arya yang bekerja di kesehatan yang dekat dengan Arya. Adik tante sebenarnya dokter tapi dia dinasnya diluar kota ucap Tante. Aku hanya mendengarkan cerita tante.

Arya ini sejak kecil paling dimanja oleh pakdhe, om serta tante-tantenya karena dia cucu pertama. Nakalnya minta ampun jelas tante

Argh… tante masa cerita-cerita seperti itu ke dosenku ucapku

Mungkin saja Dosen kamu itu perlu tahu keluarga kamu, Ar ucap tante

Eh… e… e… ucap Bu Dian

Kok grogi? Sudah dibilang santai saja dengan tante, okay? ucap tante

Sejenak kemudian kami mulai saling melempar canda, gurau, dan juga banyolan. Kami bisa tertawa dalam suasana apapun, sekalipun dalam suasana genting. Ya itulah kami KOPLAK. Akhirnya kami memutuskan pulang, tampak eko dan dira masih berpacaran layaknya suami istri.

biar aku yang antar kamu ar ucap Bu Dian pelan ke arahku

Sudah, Ibu ke RS saja jenguk pak felix ucapku datar

pokonya aku yang mengantarkan kamu! ucapnya sedikit membentak dan memaksa. Semua orang di dalam cafe terkejut dengan ucapan Bu Dian tak terkecuali tante asih. Tante asih tidak berkomentar apa-apa, tatapan matanya menjadi sangat teduh ke arah Bu Dian.

Sudah Ar, nanti motor kamu aku yang bawa saja dan aku titipkan dirumah wongso ucap tugiyo. Tampak wajah Bu Dian kembali sumringah. Kau sudah tidak bisa berkutik lagi.

Tante kemudian pulang terlebih dahulu dengan menggunakan ambulan. Satu persatu dari kami pulang, aku kemudian membuka pintu belakang mobil Bu Dian dan duduk di belakang. Bu Dian yang sudah berada di depan, menengok ke belakang.

Ar, kamu duduk di depan saja, ndak papa kok ucap Bu Dian

Dibelakang saja Bu ucapku. Sedikit kekecewaan dari raut wajahnya, kemudian mobil berjalan menuju ke alamat rumahku. Selama perjalan kehening disekitar kami, aku hanya melihat keluar kaca jendela mobil.

Ar… ucap Bu Dian

Hm… ucapku

maafkan aku… ucapnya

Ibu tidak salah.. ucapku

Terima kasih untuk malam ini… ucapnya

sama-sama.. ucapku

Ar, kejadian malam itu, aku… ucapnya

maaf bu, aku ingin istirahat bu, saya mohon agar saya bisa rehat sejenak ucapku mencoba menghindari percakapan dengannya

Eh… maaf.. istirahatlah ucapnya

Terima kasih ucapku. Keheningan kembali datang diantara kami, kulihat pohon-pohon itu berjalan mundur meninggalkan kami. Tiyang-tiyang lampu jalan juga menjauhi kami seakan-akan mereka bergerak mundur menjauhi kami.

Sesekali aku melirik di kaca tengah mobil, kulihat Bu Dian selalu menyempatkan menatapku dan kadang tatapan kami bertemu di kaca itu. Dia tersenyum kearahku namun aku menanggapinya dengan dingin dan tak ada senyum di bibirku.

Lelah menyelimutiku dan kadang membuatku terkantuk-kantuk. Malam semakin gelap, kulihat jam digital di mobil menunjukan pukul 23:30. Akhirya sampailah aku didepan rumahku, didepan sana ada seorang wanita dengan kaos hitam longgar tanpa belahan dada, kaos itu mentupi hingga sikunya. Celana krem sedikit ketat menutupi hingga dibawah lututnya, Ibuku.

Terima kasih Bu.. ucapku

Sama-sama… ucap Bu Dian. Kemudian Bu Dian turun dan berlari kearah pintu mobil yang aku buka. Ketika berpapasan dengan Ibu, Bu Dian melempar senyum. Ibu dan Bu Dian kemudain membantuku keluar dari mobil.

Sayang, kamu tidak apa-apa? Apa yang sakit? ucap Ibu dengan nada sok ABG, ya memang dari caranya berdandan Ibu tampak lebih muda 10 tahu dari usianya, tampak lebih muda lho

Ah… I… ucapku terpotong karena tangan Ibu yang bergaya membasuh mulutku padahal tidak ada kotoran di mulutku

Sudah jangan banyak bicara, tadi Ibu kamu telepon katanya kamu berkelahi, jadi aku langsung kerumah kamu sayang, aku kan khawatir, aku tidak bisa tidur kalau kamu kenapa-napa sayang

Oia Ibu kamu sudah tidur capek nunggu kamu, Ayah kamu sedang keluar dinas ucap ibu

Eh… aku kaget dengan sikap Ibu, kulirik bu Dian nampak sedikit terkejut dan bingung

Terus dia siapa sayang? Kamu kok jahat sekali jalan bareng cewek lain ucap Ibu dengan wajah cemberut dengan memukul pelan lenganku. Jujur aku jadi bingung, ada apa dengan Ibu? Apa dia ingin rahasianya denganku terbongkar?

maaf, mm..mbak siapanya ar.. arya? ucap Bu Dian dengan wajah sedikit kebingungan, apalagi aku malah tambah bingung kenapa Bu Dian memanggil Ibu dengan sebutan mbak? Ibu kemudian mengulurkan tangannya yang kemudian di raih oleh Bu Dian

Diah, Pacarnya Arya, dan kamu jangan sekali kali merebut arya dariku ya

kami baru jadian 1 minggu ini ucap Ibu dengan wajah judesnya. Kuaget setengah mati ketika Ibu mengatakan hal itu. Kulirik Bu Dian, raut wajahnya penuh dengan kekecewaan

Saya dian, sa… sa… saya

Dosennya… ucapnya pelan sambil menunduk dan disaat Bu Dian menundukan kepalanya Ibu mengerlingkan matanya ke arahku

Saya mohon maaf mbak, ini semua terjadi karena Arya mencoba menyelamatkan aku ucap Bu Dian

Owh ya sudah ndak papa, pacarku ini memang baik hati kok, aku sangaaaaaaaaaaaat beruntung mendapatkannya ucap ibu

Iya, mbak sangat beruntung…

beruntung sekali… ucap Bu Dian yang nada suaranya menjadi sangat pelan.

emm… kalau begitu saya pulang dulu mbak

dan Arya, maaf telah melibatkanmu dan terima kasih telah menolongku untuk kedua kalinya ucap Bu Dian , dari matanya terlihat mencoba sedikit untuk tegar

lho kedua kalinya? Emang kamu pernah nolong dia sebelumnya sayang? ucap Ibu

Pernah waktu itu ucapku

Oooo… jadi dulu sayang pernah jalan bareng sama Dian, sayang jahat dech nggak cerita sama aku ucap Ibuku manja dengan wajah cemberutnya dan lagak ABG-nya

eh.. ya nanti aku ceritakan ucapku

eh… begini mbak waktu itu kita cuma merayakan keberhasilan karya ilmiah kita kok ucap Bu Dian

Oooo…. ucap Ibu dengan manja dan tatapan yang dibuat-buat seakan-akan dia cemburu pada Bu Dian

mmm… selamat ya Ar, punya pacar seperti mbak Diah, cantik ehem… ucap Bu Dian dengan senyumannya, mengulurkan tangannya menyalami kami berua, aku dan Ibu kemudian menyalaminya. Kemudian Bu Dian masuk kedalam mobilnya.

mari mbak… ucap Bu Dian

iya hati-hati dian ucap Ibu mengantarkan kepergian Bu Dian. Entah apa yang akan dirasakan Bu Dian saat ini. sesaat kemudian mobil Bu Dian menghilang diujung jalan sana.

KAMU ITU JANGAN BERKELAHI MASIH SAJA BERKELAHI! bentak Ibu sambil mencubitku

Aduh… aduh Ibu… sakit… ucapku. Tapi kemudian Ibu mengecup pipiku

Kamu tahu? ucap Ibu sembari memapahku masuk kedalam rumah

Apa? ucap Ibu

Dia suka sama kamu ucap Ibu

Sok Tahu kamu, cinta ucapku

Ibu adalah wanita dan begitu juga dia, Ibu bisa merasakan kekecewaannya ketika Ibu bilang Ibu pacar kamu ucap Ibu

Eh… bodoh ah… ucapku

Tapi ngomong-ngomong, Ibu memang masih muda ya? ucap Ibu

Kok Bisa bu? ucapku

Lha nyatanya, Dian percaya saja kalau Ibu ini pacarmu ucap Ibu

memang Ibu masih muda, kan Ibu pacarku ucapku sambil aku mengecup bibirnya

Ayah dirumah? ucapku

Dinas hi hi hi pengen ya? ucap Ibu. Aku hanya mengangguk.

Istirahat dulu nanti Ibu temani, besok masih panjang waktunya ucap Ibu

kok Ibu tadi berlagak sebagai pacar Arya didepan bu Dian? ucap ku

Tante Asih telepon Ibu, dan dia menceritakan kepada Ibu semua, jadi ya Ibu akting saja

Dah lekas istirahat ucap Ibu

***

Sudut pandang orang ketiga

Mobil itu berjalan dengan sangat cepat menuju rumah sakit. Menuju ke tempat lelaki yang telah memasangkan cincin di jari manis sang pengemudi. Namun ketika mobil itu berhenti di tempat parkir mobil RS. Sang pengemudi itu menangis, entah menangis karena apa.

Tangisnya pecah memecah kesunyian tempat parkir RS tersebut. Hingga akhirnya diusapnya tangis itu dan menemui lelaki yang telah melamarnya. Dia melangkah mencoba untuk tersenyum dan melupakan semua yang telah terjadi, sebuah kenyataan pahit yang dia dapatkan. Didepan kamar lelakinya itu dia berdiam sejenak.

ini semua juga karena kesalahanku desah pelan bibirnya

Wanita tersebut masuk kedalam ruangan opname dengan label VIP yang disana telah berbaring felix. Felix nampak sekali tidur dengan sangat pulas, beberapa perban dililitkan ke kepala dan tangan felix. Tampak Asih, Tante Arya berada di sana untuk mengecek keadaan felix.

Asih ternsenyum kepada Dian dan begitu pula dian membalas senyuman itu. Didekatinya dian, kemudian memberikan informasi medic mengenai kesehatan felix bahwa felix baik-baik saja dan hanya mendapatkan luka ringan.

Asih kemudian meninggalkan Dian sendirian di kamar VIP, dengan wajah sendunya Dian melihat ke arah Felix yang terbaring dengan lelapnya. Air matanya kembali turun mengalir membasahi pipinya, entah karena felix yang terbaring atau sikap Arya kepadanya. Siapa yang tahu isi hati? Mungkin kedalaman laut kita pasti tahu tapi kedalaman hati?

Lama dia berdiam disamping felix membuatnya sedikit mengantuk. Dengan rasa kantuk Dian kemudian berjalan ke ruang tunggu pasien yang sepi dimana dia menemukan sebuah mesin penjual minuman dan makanan kering. Dimasukannya beberapa koin didalamnya, diambilnya sebuah kaleng kopi dan snack ringan. Dian kemudian duduk di sebuah bangku panjang ruang tunggu pasien.

Sendirian? ucap Asih yang tiba-tiba datang dari belakang

Eh… iya tante ucap Dian

Tidak usah panggil aku tante, mbak saja umur kita hanya berbeda sedikit, aku dan arya hanya terpaut 11 tahun ucap asih. Sedikit kaget dian mendengarnya

Sudah jangan kaget gitu, Arya memang cucu pertama dari pakdheku atau kakek arya ucap asih yang kemudian memandang Dian, Dian tampak menunduk dengan wajah sedihnya ketika mendengar nama lelaki tersebut

oia nama kamu siapa? ucap asih

Dian tan eh mbak ucap Dian sembari memandang Asih sebentar saja. Asih hanya tersenyum manis kepada Dian, Dian kemudian menundukan wajahnya kembali. Asih kemudian mengalihkan pandanganya ke arah meja resepsionis.

Jika kamu menyuruh sesorang untuk membawa sebuah ember, kamu seharusnya mengatakan kepadanya isi dari ember itu

jangan hanya menyuruhnya saja, kasihan orang tersebut . seandainya orang itu tersandung dan kemudian cairan itu tumpah mengenai kakinya, bagaimana? Mungkin dia tidak akan kenapa-napa jika saja itu adalah air. Tapi bagaimana jika itu adalah air keras? Pasti orang itu kesakitan, padahal di awal orang itu sangat senang bisa menolongmu ucap Asih membuyarkan kesedihan Dian

Beritahukanlah sebelumnya, agar orang itu berhati-hati. Jika sedari awal kamu tidak memberitahukannya, pasti orang itu tidak akan berhati-hati

Begitupula dengan hati, jika kamu menyuruh orang untuk membawa hatimu, katakanlah kepadanya jika di dalam hatimu itu ada orang lain. Agar orang yang membawa hatimu itu lebih berhati-hati lagi untuk tidak jatuh hati kepadamu, begitu bukan seharusnya? ucap Asih

Eh… dian sedikit terkejut dengan perkataan Asih, dipandanginya Asih yang kemudian melempar senyum ke arah Dian

Karena jika hati sudah terluka, tidak ada satupun rumah sakit yang bisa mengobatinya. Hanya satu yang bisa mengobati sakit hati itu, KEJUJURAN DAN CINTA

Jadi, sebelum kamu berkata jujur kepada orang lain, jujurlah pada hatimu sendiri ucap Asih. Membuat mata ngantuk Dian terbelalak. Di pandanginya Asih yang kemudian bangkit meninggalkan Dian.

Mbak… ucap Dian

Iya… ucap Asih yang berbalik badan dengan kedua tangan masuk di sakunya

Apa jadinya jika cinta itu dipaksakan? ucap Dian. Asih tersenyum kemudian memandang ke arah mesin penjual minuman dan makanan.

Kamu lihat mesin itu? ucap Asih. Dian kemudian memandang mesin itu.

koin berapa yang kamu masukan di dalamnya? ucap asih

koin 1000 ucap Dian yang tidak mengerti maksud Asih

Coba kamu masukan koin 500 ke dalam mesin itu, bisakah? ucap Asih

Eh… tidak ucap Dian

Secara logikanya, koin 500 lebih tebal dan ringan ketimbang koin 1000. Dan pastilah koin 500 itu tidak dapat masuk di dalamnya, sekuat apapun usaha kamu hingga koin 500 itu masuk tetap saja kamu tidak akan mendapatkan minuman ringan ataupun snack

Sama halnya dengan cinta, kamu tidak akan bisa menikmatinya walau akhirnya munculah cinta karena terbiasa, tapi tetap saja akan ada sedikit penyesalan di dalamnya ucap Asih

Eh…

Mbak, Bagaimana jika mesin itu sudah dimiliki orang lain? ucap Dian

Apa kamu yakin? ucap Asih. Dian memandang Asih yang tersenyum kepadanya kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya

Kamu tahu kenapa seorang perempuan menjadi pacar ataupun milik seorang lelaki? ucap Asih. Dijawabnya dengan gelengan pelan kepala Dian

Karena lelaki tersebut berani mengatakan ataupun melakukan klaim dihadapan orang lain jika perempuan inilah pacarnya dan bukan orang lain atau perempuan itu sendiri yang mengatakannya

jika ada seorang lelaki belum mengatakan dengan lantang perepuan yang menjadi pacarnya, kamu jangan pernah percaya. Dan yang terpenting adalah jujur pada hatimu, karena hati yang penuh kejujuran akan membawamu ke kebahagiaan yang kekal ucap Asih yang tersenyum, kemudian dia melangkah meninggalkan Dian seorang diri di ruang tunggu. Dian hanya menerawang kejadian yang baru saja terjadi.

Ya, kamu belum mengatakannya kepadaku desah pelan suaranya

Sudut pandang ini selesai